Hate love, part 1

Kau adalah siluet yang melengkapi perjalanan ini. Menghadirkan sebuah memori. Kau hadir di antara hitam dan putih. Aku pernah merasa bahagia yang melampaui batas ketika kau hadir dalam setiap memori indah yang lahir dari perjalanan singkat itu. Lalu, kebahagian itu sirna. Nyatanya, kebahagiaan itu hanya semu belaka dan justru semakin menyesakkan dan menggerogotiku. Kenyataan pahit itu membawaku ke dasar jurang yang gelap. Aku pun harus siap menerima kenyataan. Karena hidup bukan di daerah abu-abu. Hanya ada hitam dan putih.

Lantas kau hadir kembali menawarkan jingga yang sama seperti sebelumnya, mencoba menghilangkan daerah abu-abu yang kau ciptakan dalam kehidupanku. Lalu apa aku harus menerima dan percaya begitu saja? Hatiku meragu ketika kau hadir dalam wujud yang lebih nyata dan menatapku dengan kedua matamu yang sebiru samudera itu.

Apa aku harus memberi kesempatan kedua padamu dan kau akan kembali menemukan celah untuk menghancurkan ku lebih dalam lagi? Membangun kepercayaan atas cinta yang pernah kau lukai itu tidak mudah.
Atau..memang aku harus mengakui bahwa kau adalah bagian dari takdir yang diciptakan untuk menemani perjalanan dan cerita ini? Entah untuk menjadi sesuatu yang nyata atau daerah abu abu dalam kehidupanku selanjutnya?biarlah perjalanan ini dan perjalanan lainnya yg menentukannya.

~o~

BUKK

Pria itu tak sengaja menyenggol tubuh kecilku dan berhasil menjatuhkan handphone kesayanganku. Aku mendengus kesal sambil memunguti serpihan handphone ku itu tanpa sedikit melihat ke arah pria itu.

“Ah, aku minta maaf tapi aku sedang buru-buru kau bisa mengambil kartu namaku dan bisa menghubungi ku nanti.” Ucap pria itu tangan kanannya menyerahkan kartu kecil. Aku hanya menatapnya heran dengan tangan gemetar ku ambil kartu nama itu.

Aku berdiri. Pria itu tersenyum manis kearahku dan berlalu pergi begitu saja. Aku segera berlari menuju bus yang akan mengantarkan ku menuju kota tempat sahabat ku berada. Kota Sumedang. Itu tujuanku.

Aku mencari nomor yang sesuai dengan nomor di tiketku yang tertera di kursi bus itu. Ah gotcha!

Aku segera menyimpan tas ku dan segera duduk. Ternyata kursi disebelahku sudah diisi oleh seorang pemuda. Dan tunggu.. Orang itu? Ya! Orang yang tadi menjatuhkan handphone kesayanganku pemberian dari papa ku 1 tahun lalu.

Dia menoleh, “Hai..Ternyata kita dipertemukan lagi, Aku Darrel.”

“A..aku yupi. Cindy Yuvia.” Jawabku

“Mau kemana? Orang tua mu mana?.” Tanya nya, sepertinya dia gampang sekali akrab dengan orang baru.

“Aku mau ke Sumedang dan aku pergi sendirian.”

“Sumedang itu cukup jauh dari sini. Anak kecil seperti mu apa tidak takut pergi jauh sendirian?.”

“Anak kecil? Hei! Aku sudah 19 tahun dan sedang menikmati libur semester ku. Mengapa orang selalu menganggap ku anak kecil. ” Batinku

“Hmm..yupi kenapa kamu diam?” Tanya nya membuyarkan pikiranku.

“Ah ng..ngga,”

~o~

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dan sekarang aku berada di rumah sahabatku semasa SMA dulu. Si kutcher begitu aku memanggilnya. Nama aslinya Melvin. Dia tinggal di Sumedang bersama kakak nya. Mba Frieska.

Rencananya, aku ingin menikmati libur semester ku kali ini dengan berlibur di kota yang menyimpan keindahan dan ketenangan nya bersama sahabatku, Melvin. Kami sudah membuat rencana liburan bersama ini jauh dari sebelum aku mendapat libur. Melvin mengajak ku mengelilingi kota nya. Mulai dari rencana naik gunung, main di sungai, dan kami berencana tour ke pangandaran. Cukup menyenangkan bukan?

“Hoi yup! dibawah lagi ada tamu. Kita diajak mba fries buat makan siang dulu. Yuk turun.” Melvin membuat ku kaget. Bagaimana tidak dia masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung menepuk pundak ku dengan keras. Kebiasaan buruknya tidak pernah hilang.

“Kutcherr aaaa bisa gak sih gak usah ngagetin gituu!” Kesal ku padanya tangan ku dengan leluasa mencubit keras tangan nya.

“Eh eh bocah ya emang, cubit-cubit lagi. Cepet turun”

“Iya.” Ketus ku padanya.

Kami pun turun dan menuju ruang makan. Ku lihat mba Frieska dengan cekatan sedang menyiapkan makan siang. Dan tunggu-tunggu.. Ternyata tamu yang dimaksud oleh melvin itu ternyata adalah..

“Hai yupi kan ya? Ketemu lagi kita.” Ucap pria itu. Dia Darrel, orang yang kutemui di terminal tadi.

“Loh kalian udah saling kenal?” Tanya mb frieska. Melvin menatap ku dengan aneh.

“Iya fries tadi kita ketemu di terminal dan aku gak sengaja jatuhin hp nya.” Ucap Darrel.

~o~

Suara kokok ayam membuat ku terbangun dari mimpi indahku. Suara yang aku rindukan. Kenapa? Karena selama di Jakarta aku sama sekali tidak pernah mendengar suara kokok ayam di pagi hari. Aku segera bangun dan melakukan ritual pagi ku. Mandi-Membereskan tempat tidur-Sarapan.

“Mba kok Melvin gak ada? Kemana?” Tanya ku pada mba Frieska di sela-sela sarapan.

“Mama tiba-tiba sakit, jadi tadi subuh si kutcher pergi ke Garut. Belum ngabarin emang yup?” Ucap Mba Frieska

“Ke Garut? Pulang nya kapan mba? Belum ngabarin sih si kutcher, dia tau kali kalo aku belum bangun tadi”

“Gak tau juga pulang nya kapan, kalo lama sih nanti mba cariin paket tour deh ke pangandaran ya”

Aku hanya mengangguk. Setelah sarapan. Mba frieska pamit pergi ke butiknya yang berada di kota. Dan ya, tadi Melvin menelfon dan liburan kami terancam batal. Melvin bilang dia sudah mencarikan paket tour liburan ke pangandaran dan Mba Frieska bisa membantu ku katanya.

Antara kecewa, sedih, dan marah. Tak ada pilihan lain. Aku harus menerima usul Melvin untuk ikut paket tour ke pangandaran atau liburan ku akan hancur berantakan tanpa pergi kemana-mana dan hanya pulang ke Jakarta.

~o~

“Kasumedangan tour and travel,” aku membaca sebuah plang yang ukuran nya jauh lebih tinggi dari tubuhku.

“Kamu hati-hati ya yup, jangan lupa kabarin mba kalo udah sampe di Gunung kacapi nanti.” Pesan mba frieska padaku.

“Iya mba, Yupi pergi dulu ya” Aku melambaikan tangan ku pada mba frieska lewat celah jendela mobil yang sudah ku naiki.

Mobil itu melaju. Tempat wisata pertama yang akan ku kunjungi adalah Gunung Kacapi, letaknya tak jauh dari pusat kota Sumedang. Hanya butuh waktu 1,5 jam kami sudah sampai. Aku segera turun bersama para wisatawan lainnya. Kami akan menikmati indahnya gunung dengan menaiki mobil yang sudah pihak travel sewa.

Ditengah perjalanan dengan mobil itu. Tiba-tiba mobil itu berhenti mendadak, mogok.

“Yah pak kok bisa mogok sih kenapa gak di cek dulu sebelum jalan.” Ucap ku pada Bapak yang mengendarai mobil itu.

“Maaf neng, saya tidak tau kalo mobil ini akan mogok. Terpaksa saya harus membenarkan nya dulu.” Jawab Bapak itu.

“Berapa lama pak kira-kira?” Tanya seorang wisatawan, aku ingat nama nya  Mas Guntur tadi kami sempat mengobrol, ia bersama istrinya, Veranda. Datang jauh dari Manado untuk berbulan madu mendirikan tenda dan bermalam dikaki Gunung Kacapi ini.

“Sekitar 1 jam mas.” Jawab Bapak tadi.

Aku duduk diatas sebuah batu dan memainkan handphone baruku, yang kemarin dibelikan oleh Darrel. Tiba-tiba ada seorang pria mengulurkan tangannya. Itu Darrel.

Bagaimana bisa dia berada disini? Bukan kah kemarin ia bilang kalau dia akan pergi ke Yogyakarta untuk mengurusi bisnisnya.

Aku mendongkak kan kepala ku, menatapnya. Dia tersenyum, mata biru nya menatapku lekat-lekat. Aku sangat menyukai matanya yang sebiru samudera itu.

“Kalau kamu gak keberatan, kamu bisa ikut naik mobil ku dan kita bisa pergi ke kaki gunung kacapi ini. Kebetulan aku juga mau berkemah satu malam disini, yuk ikut aku aja.” Ucap Darrel padaku.

“Tapi nanti aku ngerepotin kamu Darrel..“ Jawabku. Dia terkekeh.

“Ngerepotin? Ngga sama sekali, malah aku seneng ada yang nemenin aku muncak kali ini. Ayo gadis kecil.”

~o~

Pemandangan di Gunung Kacapi ini memang sangat indah. Tanpa henti aku mengembangkan senyumku. Merentangkan tanganku. Lalu berbaring diatas indahnya rerumputan. Dari atas sini, aku bisa melihat kota Sumedang dengan jelas. Bangunan kota seperti miniatur di permainan monopoli yang sering aku mainkan dulu bersama si kutcher. Sunset, indahnya jingga di langit selalu membuatku terpana. Dari sini aku bisa menikmati itu dengan jelas.

Aku selalu menyukai jingga. Matahari. Dan Apapun yang berhubungan dengan warna jingga.

Darrel ikut merebahkan tubuhnya di sebelahku. Jujur, dia sangat terlihat tampan. Wajah yang putih, mata yang sebiru samudera, tubuh yang tinggi, dan tatanan rambut yang terlihat rapi. Membuatnya nyaris sempurna.

“Kamu suka sunset gadis kecil?” Tanya nya memecahkan keheningan.

“Hu’um aku suka banget.” Jawabku dengan mata yang berbinar.

“Apa orang tua mu tidak akan mengkhawatirkan mu, Jakarta-Sumedang kan cukup jauh”

“Aku udah biasa kok pergi travelling sendiri”

Kami kembali terdiam. Menikmati matahari yang akan segera tidur. Digantikan oleh bulan. Ah ya, selama dirumah Melvin kemarin, aku bisa tau kalo Darrel itu ternyata sahabat nya mba frieska. Dan Darrel merupakan pebisnis muda yang berbisnis dibidang hotel. Dia mempunyai banyak hotel dan villa di Bali,Lombok,Dan kota lain nya di Indonesia. Darrel sangat dekat dengan Mba Frieska dan keluarga Melvin. Tak ayal, kemarin ia sudah menganggap rumah Melvin seperti rumahnya sendiri. Karena ia sering berkunjung kesana.

“Udah gelap nih, bangun yup.”
“Ah iya,”

Ketika malam hari, aku merasa sangat kedinginan. Lebih dingin dari AC kamarku di Jakarta. Dan lebih hangat dari musim dingin di Jepang kala aku sedang berlibur bersama keluargaku. Tapi dinginnya angin pegunungan membuat tubuhku sedikit menggigil. Ditambah, kami tidak membuat api unggun dan hanya duduk di depan tenda. Aku sedang memikirkan nanti bagaimana aku bisa tidur karena hanya ada 1 tenda. Masa iya aku harus satu tenda dengan Darrel?

*Bersambung..

~o~o~

Nama aku Manda, ini cerbung pertamaku yang dipost diblog ini. Insyallah bakal update tepat waktu. Review ya :3 untuk kritik&Saran bisa dikirim lewat :

Twitter         : @Amanda_Zanuba
Instagram   : @Zkmnd_
Id line           : Amandazk11

Iklan

Satu tanggapan untuk “Hate love, part 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s