Minutes to Midnight : Waiting For The End

1

Peringatan: Dari beberapa segi Pengambilan kata yang digunakan (kasar), disarankan cerita ini untuk pembaca 17+.

 

“Mengapa kau selalu memakai pita merah itu?”. Namun, orang yang ditanya enggan menjawab.

“Akan kuceritakan padamu. nanti, setelah hari berganti”

Malam telah berlalu dan salah satu dari orang itu kemudian bangun dari tidurnya. Mungkin berat untuk diceritakan ? Maka dari itu dirinya tak mau menanyakan hal tersebut lagi pada orang itu. Tak pernah mendesak jika pagi itu ia tak juga mau menceritakan nya atau mengingkari janjinya semalam agar tidak marah atau pun menjadi bersikap lain. Tapi tetap saja dirinya masih sangat penasaran. Apalagi saat memperhatikan bahwa orang yang tengah tidur di ranjang itu tak pernah sekalipun melepas pita merah, tidak saat ia tidur bahkan saat sedang mandi.

Karena rasa penasaran yang tinggi, dirinya mulai mendekat kembali ke arah ranjang. Mendekatinya dari sisi ranjang sebelah kanan dan perlahan-lahan tangan nya mulai melonggarkan pita merah yang melilit di leher orang itu. Tangan nya sedikit gemetar karena takut ia bangun. Tampak tak menyadarinya. Ujung pita sudah ditangan nya. Melepaskan dan menarik pita merah itu dari leher.

Tiba-tiba. Ia melonjak kaget sembari mundur.

“Gelundung …”

Kepalanya terlepas dari lehernya saat pita ia lepaskan dan menggelinding di lantai. Tanpa darah. Semua bersih tampak tak terjadi apapun.

“KLIK!”

Terlihat televisi yang menyala dimatikan oleh seseorang yang telah berada di samping si penonton. Ia mengalihkan pandangan nya dari kaca televisi yang telah mati. Dengan tatapan bingung ia melihat orang tersebut. Dengan mengangkat sebelah alisnya dan ia berbicara menjawab.

“Sudah malam, jangan nonton film gituan, ah. Tidur gih, beberapa hari lagi kita harus pulang” ucapnya sambil meletakan kembali remote TV di meja.

“Yah kak, padahal baru seminggu kita di rumah nenek masa harus pulang cepet sih ?”

“Kakak tau, dek. Masa rumah kita ditinggal lama ? Kan gak baik”

Malam kian larut. Suasana hening dan hawa dingin menyeruak tak menjadi alasan bagi pemuda tanggung berusia 18 tahun ini untuk duduk di atas roftop rumah neneknya. Di samping rumah nenek ternyata terdapat sebuah rumah yang bisa dikatakan besar, namun terlihat sepi oleh penghuni. Tak terlalu menghiraukan nya. Ia mengeluarkan satu buah batang rokok dan mulai menyalakannya. Hisapan demi hisapan ia lakukan dengan teman setia diatas meja kecil tempatnya duduk, sebuah kopi hangat di tengah malam.

Dua batang rokok telah habis dan waktu juga sudah menunjukkan pukul Dua lebih. Ia menyapu pandangannya ke rumah-rumah tetangga neneknya. Banyak juga lampu rumah yang telah di matikan. Ini sudah larut malam dan hampir mendekati pagi, pasti penghuninya telah tertidur. Pemuda tersebut berdiri selama kurang lebih Lima menitan. Terlihat pandangannya ia menangkap sebuah objek yang membuatnya penasaran dan mencoba untuk memastikannya. Tak lama kemudian si pemuda terlihat tersenyum dan juga melambaikan tangan pada salah satu rumah.

Orang dibalik jendela rumah lain itu melambai-lambaikan tangan nya memberi isyarat untuk keluar sambil tangan nya menunjuk ke bawah. Halaman samping rumah. Si pemuda tersebut awalnya bingung akan maksud si pelambai tangan di rumah tetangga neneknya itu. Dengan senyuman, akhirnya si pemuda mau mengikuti ajakan. Dengan menyeruput kopinya terlebih dahulu ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan menuruni anak tangga.

Terlihat gadis manis berjalan ke arah pagar dimana si pemuda telah berdiri. Awalnya mereka hanya saling melempar senyuman…

“Jam segini belum tidur?” Tanya si pemuda dan dijawab dengan senyuman.

“Sudah satu minggu aku ada di rumah nenek, tapi kok aku baru liat ada orang di rumah kamu ya”

“Dan lagi, aku juga baru pertama kali ini lihat kamu” kembali hanya senyuman yang di dapat

Si pemuda akhirnya mengulurkan tangan nya melewati lubang pagar untuk mengajak berkenalan. Rasanya kurang etis aja ngobrol, saling tatap tapi tak tau nama satu sama lain.

“Erza…” Ucap si pemuda yang menyebut nama dirinya sebagai Erza.

Gadis tersebut menerima jabatan tangan Erza, “Sinka..”

Erza memanjat pohon dan menemui Sinka di balik pagar. Mereka duduk di atas rumput halaman rumah Sinka. Saling mengobrol menghilangkan sunyi nya malam. Terlihat Sinka mulai biasa saja terhadap Erza. Karena itu yang Erza rasakan bedanya saat pertama bertemu tadi yang ia anggap Sinka seorang yang gadis pendiam. Parasnya cantik. Pipinya menggemaskan dengan rambut berponi depan tapi kadang menyamping akibat angin.

Salah satu hal yang membuat Erza beberapa kali mengeritkan dahi saat berbicara dengan Sinka. Dari cara Sinka tertawa dan sesekali tubuhnya digoyang-goyangkan. Erza dibuat ingin tertawa oleh cara dan gaya Sinka, tapi disisi lain perasaan merinding juga sesekali Erza rasakan.

Dari obrolan nya, Erza mengetahui sebuah fakta dari Sinka. Dengan sendirinya Sinka berbicara bahwa dirinya suka bermain dengan boneka. Ya, gak ada yang aneh sih namanya juga perempuan. Wajar aja kalau Sinka suka dengan boneka. Sinka juga bercerita bahwa boneka nya dirumah rusak tapi dirinya dirumah tak mempunyai benang dan jarum untuk memperbaiki bonekanya yang rusak itu.

“Kayaknya nenek punya jarum sama benang deh” pikir Erza memikirkan omongan Sinka tentang boneka dia yang rusak tapi tak ada alat untuk memperbaikinya.

Sinka bercerita kembali bahwa ia mempunyai banyak boneka dirumah-Nya tapi, semuanya rusak. Ia pun memasang wajah bersedih. Erza merasa kasihan dengan Sinka. Ia beranikan diri tangan nya mengusap punggung Sinka. Dingin. Hawa dingin yang Erza rasakan saat kulit tangannya menyentuh punggung Sinka. Erza berpikir mungkin Sinka kedinginan? Yang benar saja, jam setengah Tiga pagi mereka duduk di luar dengan pakaian Sinka yang bisa dibilang tipis dan tanpa jaket. Sungguh tega jika Erza membiarkan seorang gadis kedinginan di tengah malam. Dengan rasa pedulinya, Erza mulai menutup tubuh Sinka dengan jaket miliknya. Pertama memang mendapat penolakan dari Sinka tapi setelah beberapa kali Erza paksa, akhirnya jaket tersebut bisa menutupi tubuh Sinka tanpa ada penolakan lagi.

Saat Sinka berbicara, Erza mencoba masuk didalam obrolan dengan menanyakan apakah orang tua Sinka tak bisa memperbaiki bonekanya. Hal tersebut membuat suasana seakan gelap di sekitarnya. Sinka menundukkan kepalanya dan kemudian menatap Erza dengan tajam namun terkesan dingin. Tatapan yang sempat membuat buku kuduk Erza berdiri dengan kompak. Di pikirannya, gadis cantik menggemaskan seperti Sinka ternyata bisa membuat dirinya takut. Dengan tertawa kecil yang canggung, Ersa berusaha mencairkan suasana kembali. Tak lama…

Kembali Sinka bercerita tentang boneka nya. Ia menjelaskan bahwa kondisi boneka nya telah rusak. Sempat juga Sinka mengajak Erza untuk bermain boneka bersama setelah boneka yang ia miliki telah selesai diperbaiki semuanya. Dengan tersenyum, Erza menawarkan diri untuk membantu memperbaiki bonekanya dan berbicara bahwa neneknya mempunyai jarum dan benangnya. Sebuah ekspresi yang tak Ersa duga. Sinka berdiri dari duduknya dan tertawa girang sambil menari seperti anak kecil yang mendapat kejutan yang indah. Erza menggelengkan kepalanya dengan senyum meninggalkan Sinka guna mengambil Jarum dan benang di dalam rumah.

Erza terdiam di dalam rumah dengan Jarum dan benang yang telah berada di tangannya. Terdapat keraguan di hatinya. Ia pernah diberi nasihat oleh neneknya pada saat ia masih kecil dulu. Sebuah nasihat berisikan kalimat bahwa bermain jarum dan benang di tengah malam itu tak baik dan bisa berdampak buruk. Entah itu buruk dalam artian tertusuk Jarum atau apa. Saat itu entah ia harus mengikuti nasihat neneknya atau kembali ke kamar meninggalkan Sinka di luar yang tengah senang dan menari? Itu terlalu pengecut untuk sifat pria.

“Maaf nek,,” batin Erza sambil dirinya berjalan keluar rumah membawa serta Jarum dan benang. Di luar masih terdapat Sinka disana. Erza berjalan dan berdiri tepat di depan Sinka.

“Mari kita perbaiki boneka kamu” ucap Erza dengan senyuman.

“Gila! Jam berapa ini ? Gue mau bertamu ke rumah seorang gadis yang baru di kenal se’pagi ini? Gila!”

Rumah yang besar, pikir Erza saat setelah dirinya masuk ke dalam rumah Sinka. Setelahnya Erza disuruh duduk di sala satu Sofa. Sinka berpamitan untuk mengambil air minum ke dapur. Dirinya duduk, matanya menyapu tiap sudut rumah Sinka. Rumah besar tapi kotor. Tanggapan pertama Erza saat melihat lantai rumah Sinka yang kotor oleh tanah dan beberapa dedaunan yang masuk juga ke dalamnya. Hatinya menangkap perasaan yang janggal di rumah tersebut. Bagaimana tidak. Setelah dirinya melihat lantai yang kotor, Erza juga melihat barang-barang rumah yang seperti tak terurus kebersihannya juga dengan beberapa perabotan rumah yang ditutup kain putih. Mungkin kah keluarga Sinka baru pindahan ? Tapi kalau itu benar mengapa neneknya tak bercerita bahwa kedatangan tetangga baru?.

Sinka datang menghampiri Erza dengan nampan berisi gelas. Ia tersenyum ramah ke arah Sinka. Sebuah senyum yang dipaksakan. Entah kenapa Erza mulai tak nyaman dengan senyuman nya itu. Sinka meletakkan gelas tersebut di depan Erza dan berbicara akan memanggil ibu nya di kamar. Erza langsung keberatan dengan apa yang akan Sinka lakukan. Membangunkan orang tua dalam tidur malamnya ? Sungguh kurang sopan kalau dipikir. Lagian ini waktu yang tak tepat untuk bertamu bukan. Namun, Sinka menjawab tak apa. Ia bilang bahwa ibunya tak tidur. Menjelaskan bahwa ibunya sedang berada di depan cermin kamarnya sedang menyisir rambutnya yang panjang.

Erza meminum minumannya setelah Sinka pergi ke lantai dua menemui ibunya. Tapi sebelum ia pergi, Sinka memberitahukan bahwa boneka berada di ruang di samping Erza yang tak jauh dari posisi dimana Ersa duduk. Saat Erza menenggak minuman nya, tiba-tiba ponsel yang berada di kantung celana Erza bergetar. Terdapat pesan masuk dari pengirim dengan nama kontak “kak Ve” kakaknya.

“Kamu dimana? Jam segini jangan keluar keluyuran” protes Ve di dalam pesannya.

Erza menggerakkan jari tangannya menyentuh layar ponsel mengetik jawaban untuk kakaknya itu. Ia bilang bahwa dirinya sedang berada di rumah sebelah. Rumah tetangga baru dengan anak yang bernama Sinka. Namun, setelah Erza menjawab pesan itu, kakaknya lama untuk membalasnya kembali. Hingga kakaknya membalas dengan kalimat singkat tapi terkesan memaksa. “Cepat keluar!”.

Erza terus menanyakan kenapa dengan kakaknya itu namun, kak Ve terus-terusan menyuruhnya keluar tanpa memberi tahu apa alasannya. Hingga Erza menganggap bahwa kakaknya hanya sedang bercanda dan ia mengabaikan pesan kakaknya yang kembali masuk. Lamanya Sinka kembali membuat Erza mulai bosan. Dirinya teringat ucapan Sinka tadi sebelum pergi bahwa boneka miliknya berada di ruangan samping Erza dan ia berkata bahwa Erza bisa masuk untuk melihatnya tanpa harus menunggu.

Erza melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu yang di tunjuk Sinka. Tangannya mulai menggenggam gagang pintu dan memutarnya. “Wushhh,,,”. Udara di dalam kamar langsung menyeruak masuk ke dalam Indera penciuman Erza. Pengap tapi sedikit bercampur anyir. Kondisi kamar yang gelap membuat Erza tak dapat melihat isi di dalamnya. Dengan meraba-raba tembok Erza menemukan tombol lampu dan menghidupkannya.

Gemetar. Hal pertama yang Erza rasakan begitu kuat. Dengan kondisi meminum, Erza terdiam melihatnya. Sebuah mayat yang bergelimpangan di dalamnya dengan kondisi tubuh terpisah atau dengan kata lain seperti habis terkena mutilasi. Dirinya seakan ingin mengeluarkan isi perutnya akibat mual. Ditambah lagi minuman cokelat panas yang berada di dalam gelas terasa berbeda rasanya dari sebelumnya. Dilihatnya, warna cokelat berganti menjadi merah seperti darah. Bukan seperti. Itu memang darah!.

Erza membalikkan badan bersiap pergi meninggalkan rumah Sinka. Di tepatnya ia duduk tadi, dengan jelas Erza melihat Sinka di lantai dua. Sinka duduk di atas pagar pembatas di sana dengan kaki yang di guncangkan ke depan dan belakang. Di sebelahnya juga terdapat sosok wanita yang jauh lebih tua dari Sinka. Ibunya Sinka ? Ia berdiri di sebelah Sinka dengan diam menatap Erza sambil menyisir rambutnya yang panjang.

“Kak Erza sudah liat boneka Sinka ?”

“Bener kan boneka Sinka pada rusak”

Erza tetap diam mematung melihat ke arah Sinka.

“Jangan pergi, kak. Katanya tadi mau perbaiki boneka Sinka”

“Setan Jalang!!!” umpat Erza.

Terdengar Sinka tertawa melengking dan menggoyangkan tubuhnya. Sedangkan sosok disebelah Sinka terlihat bergerak dengan melata di dinding tembok seperti laba-laba. Erza yang tersadar langsung berlari keluar dari rumah mengerikan tersebut.

Pagi hari. Disalah satu rumah, terlihat Dua anak muda dan satu wanita paruh baya sedang terjadi sebuah perdebatan. Erza berpikir semua hanya lah omong kosong. Kenapa? Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi. Dengan penjelasan sang nenek menyuruh agar Erza dan Ve untuk cepat pergi kembali ke rumahnya. Semua tampak kacau setelah Erza bertemu dengan Sinka. Sang nenek berbicara bahwa jika mereka, terutama Erza masih berada di rumah sang nenek, mereka dalam bahaya tapi tak menjamin juga jika mereka pergi. Dengan satu usulan, sang nenek memberitahukan bahwa ada orang yang mungkin bisa menghentikan semua yang akan dan yang telah terjadi.

Setelah semua beres, kakak beradik tersebut berpamitan dengan sang nenek untuk kembali pulang. Suasana di hening tanpa percakapan antara Erza dan kakaknya, Ve. Bukan tak ada tapi hanya sesekali. Sedari tadi hanya suara musik dari radio Tape mobil yang sering terdengar membelah hening diantara keduanya. Erza membuka sedikit kaca mobil depannya dan berniat mengeluarkan sebatang rokok dari tempatnya namun, dilarang oleh Ve, “di mobil jangan ngerokok. Lagian jangan keseringan, gak baik buat kesehatan”. Erza yang mendengarnya mengurungkan niatnya dan menaruhnya kembali di atas Dasbor mobil.

“Kak,,,” Ve menoleh sebentar sambil merespons panggilan adiknya dengan berdeham kemudian kembali fokus menyetir memperhatikan jalan.

“Pengharumnya habis ya?”

“Habis ? Padahal baru beli Dua minggu yang lalu deh. Cepet banget”

“Kacanya dibuka sedikit ya. Baunya kurang enak soalnya”

“Yaudah buka aja, lagian kakak juga cium bau ga enak. Kita ke POM Bensin isi bahan bakar dulu sekalian beli pengharum mobil lagi” ucap Ve. Dianggukkan oleh Erza.

##

Pada suatu siang sebuah mobil hitam terlihat datang ke POM bensin ikut mengantre giliran mengisi tangki bahan bakarnya. Dijalur antrean mobil hitam tersebut terdapat Dua petugas laki-laki penjaga POM bensin. Terlihat salah satu penumpangnya seorang pria keluar dari dalam mobil lalu menuju Mini Market yang terdapat di area POM tersebut. Sedangkan di bagian pengemudi terdapat seorang wanita cantik. Wanita tersebut  membuka kaca mobil dan memanggil salah satunya lalu petugasnya meminta untuk diisikan bensin. Penjaga pom bensin ini menatap dengan aneh sekali, lalu si perempuan sekali lagi menyuruh untuk mengisi full tank.

Setelah mengisi full tank si Penjaga mengetuk kaca dan minta bayaran dengar gerakan tangan seperti bergetar dan si Perempuan menyodorkan sejumlah uang. Si petugas menerimanya, namun si pengemudi menyadari betul gelagat aneh dari si petugas dan bertanya, “maaf mas, ada masalah?”. Tanya si pengemudi pada petugas tersebut, tapi dengan cepat si petugas langsung menggelengkan kepalanya. Si pengemudi perempuan tersebut hanya menganggap bahwa si petugas tersebut sakit.

Setelah membayar tunai uang bahan bakarnya mobil hitam tersebut melaju ke depan mini market menjemput pria yang tadi masuk kedalamannya. Mobil hitam tersebut melaju jauh meninggalkan Pom bensin setelah pria yang dituju telah selesai dari membeli sesuatu dan masuk kembali ke dalamnya. Si petugas yang tadi mengisi mobil tersebut terus memperhatikan mobil hitam itu pergi menjauh. Hingga tanpa sadar antrean lainnya telah menunggu. Melihat hal ini petugas kedua datang dan bertanya ada apa? sampai terus memperhatikan mobil hitam tersebut.

Petugas pom bensin pertama bilang, “saya lihat ada dua penumpang lain duduk di belakang”. Petugas kedua hanya mengerutkan dahinya sambil dirinya mengisi mobil berikutnya. Ada penumpang lain di belakang kenapa dipermasalahkan? Apa kamu suka dengan apa yang ada di belakang? Petugas kedua hanya tertawa. Petugas pertama menggeleng tapi tetap dia menatap jalan yang telah tak terlihat mobil hitam itu lagi dan petugas kedua menepuk pundaknya, menyuruh untuk kembali bekerja.

“Bukan hal baik dan lucu yang tadi aku lihat” petugas kedua memperhatikannya. “Kedua penumpang di belakang adalah perempuan tapi, mereka mempunyai wajah yang pucat dan dari matanya mengeluarkan darah”. Petugas kedua terkejut begitu juga salah satu pengemudi yang sedang diisikan bensinnya. Dengan tatapan kenapa tak kamu bilang langsung padanya?

“Saat aku menerima uang dari si perempuan sebenarnya aku ingin memberitahukannya tapi keberanian yang ku miliki terasa hilang saat salah satu penumpang belakang tersebut tersenyum padaku. Tersenyum dengan lebarnya memperlihatkan deretan giginya yang runcing. Dan juga, wanita disebelah nya yang berambut panjang ikut menatapku sambil menjulurkan lidahnya yang panjang” jelas petugas pertama. Dengan cepat kejadian tersebut menyebar ke semua orang yang berada di area Pom tersebut dan ramai di perbincangkan.

##

Di salah satu ruangan bercat putih dan berkelambu biru. Terdapat seorang gadis cantik tertidur dengan kepalanya ia letakkan disebelah tubuh salah satu pasien pria yang terbaring di tempatnya. Setiap waktu gadis itu setia menemani si pria selama masih belum sadarkan dirinya. Tapi si gadis sangat bersyukur nyawa si pria bisa diselamatkan dan kini kondisinya mulai membaik dengan cepat, walau sampai saat itu belum sadarkan diri.

Hari itu mungkin hari yang menggembirakan bagi si gadis. Kenapa ? Tepat hari itu tangan yang ia pegang terasa mulai bergerak. Si gadis yang tertidur bangun dari tidurnya setelah apa yang ia rasakan pada genggaman tangannya. Terlihat si pria membuka matanya.

“Inikah surga?” Ucapnya lirih. Ucapan pertamanya saat kembali sadar.

“Kakak!” Kaget si gadis sambil memeluk cepat tubuh si pria tapi tak terlalu kuat.

“Akhirnya kakak sadar juga. Sekarang kakak ada dirumah sakit”

“Rumah sakit ya?” Ucap si Pria pelan dan memberi jeda ucapannya. “Terus keadaan yang lain gimana?”. Si gadis menggeleng menanggapinya. Si pria mengerti dengan maksud si gadis tersebut dan mulai mengelus rambut hitam gadis tersebut sembari memberi isyarat “tak apa”.

Setelahnya, si pria bertanya bagaimana ia bisa menemukan dirinya dan bagaimana ia bisa membawanya ke rumah sakit. Dengan jawabannya, si gadis mulai menjelaskan bagai mana ia bisa menemukan dan membawanya. Dan ia juga bercerita saat dirinya tak bisa dilihat dan teriakannya tak di dengar oleh anggota keluarganya. Tapi anehnya si gadis bisa dilihat dan didengar perkataannya saat dirinya meminta bantuan pada salah satu orang yang ia mintai bantuan di luar rumah. Sungguh kejadian yang tak masuk diakal.

“Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?” Tanya si pria.

“Hampir dua minggu, kak. Dan orang yang menolong kakak juga selalu ikut menemani aku disini nunguin kakak sadar”

“Terus dimana sekarang penolongku itu?”

“Dia sedang keluar mencari sarapan, kak”

Tak berapa lama, pintu kamar terdengar dibuka dari luar. Pandangan keduanya tertuju pada pintu. Terlihatlah sosok pria yang membawa sarapan di kantong plastik putih. Sosok pria dengan Jaket hitam yang melekat pada tubuhnya dengan rambut berponi samping. Pria tersebut tersenyum melihat kondisi pria yang terbaring di kasur pasien telah sadarkan diri.

“Dia orangnya, kak,,,”

##

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih Tiga jam. Akhirnya Erza beserta kakaknya tiba di rumah. Sesampainya mereka di rumah, mereka duduk di Sofa ruang tamu. Walau mereka duduk bersebelahan tapi pikiran mereka terbang ke hal lain. Erza dengan memikirkan akan kejadian waktu di rumah neneknya. Akankah dia beserta kakaknya akan aman atau sebaliknya. Sedangkan Ve asyik dengan pikirannya sendiri. Ia memikirkan orang yang neneknya bilang mungkin atau memang bisa membantu mereka jikalau hal yang tak diinginkan benar-benar terjadi. Tapi dari dua pemikiran kedua orang tersebut titik temunya sama, yaitu semoga hal buruk tak akan terjadi. Hal yang belum pernah mereka alami sebelumnya. Semoga semuanya baik-baik saja.

“Kak, apa kita tak akan ada masalah? Sepertinya nenek memang serius dengan perkataannya”

Ve menggeser sedikit tubuhnya untuk berhadapan dengan adiknya dan memeluknya dengan penuh kehangatan, “apa yang kamu katakan? Kita akan baik-baik saja seperti biasanya”.

Erza membalas pelukan kakaknya, “semoga saja,,,”.

Pikiran Erza saat itu sedikit kalut akibat kejadian bertemu dengan Sinka. Ditambah dengan mata kepalanya sendiri ia melihat beberapa mayat yang bergelimpangan dengan kondisi badan tak utuh. Mayat yang Sinka bilang sebagai para bonekanya yang telah rusak. Dari caranya memperlakukan orang hingga menjadi mayat. Tingkahnya yang ceria namun sesekali bisa berubah menakutkan. Senyumannya yang ramah tapi bisa menjadi menakutkan. Jika saja kalau dia bukan Makhluk halus, mungkin Sinka bisa dibilang sebagai seorang Psikopat. Karena hampir seluruh sifat Psiko terdapat pada dirinya. Tak punya rasa takut. Teriakan kesakitan seseorang adalah hiburan untuknya. Selalu bersikap ceria. Misterius dan ramah, tapi dibalik sikap ramahnya ia menyembunyikan hal yang mengerikan. Namun, dari beberapa hal itu seorang Psikopat adalah orang yang Jenius.

Ve melepaskan pelukannya. Ia menatap lekat wajah adiknya. Ada apa? Erza bertanya saat melihat kakaknya memandang dirinya begitu serius. Ve tersenyum. “Kamu lapar, dek?”. Pertanyaan Ve sukses membuat Erza mengembangkan bibirnya dan mengangguk. Ve menyuruh Erza untuk menunggu karena Ve akan memasakkan sesuatu untuknya. Ve berjalan menuju dapur dan tak lama kemudian terdengar suara perabotan dapur yang berbunyi. Sepertinya Ve mulai memotong bahan dan telah mencuci beras.

Setelah sedikit lebih lama menunggu. Diatas meja makan telah tersaji makanan kesukaan Erza berupa Telur Belado dengan sayur Tumis Kangkung. Masakan sederhana, namun terasa nikmat. Dirinya melihat Ve bukan hanya sebagai seorang Kakak saja. Bagi Erza Ve juga seorang ibu baginya. Sosok ibu asli baginya selalu sibuk dengan bisnisnya, keluar masuk dalam dan luar negeri. Tapi bagi Erza ibunya serasa bekerja seperti TKW, kenapa ? Beliau sangat jarang pulang ke rumah. Bahkan pernah setahun cuma pulang satu kali. Sedangkan ayahnya ? Telah lama tiada meninggalkan Erza saat umur Satu tahun dan saat itu Ve yang masih berusia Enam tahun. Hidup sebagai Single Mother membuat ibunya bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya hingga seperti sekarang. Lebih sibuk dengan urusannya.

Setelah acara santam menyantap makanan yang Ve buat.

“Aku rasa, aku membutuhkan kamar kecil sekarang” pikir Erza.

Kebiasaan buruk Erza dari dulu tetap tidak hilang, huh ! Memalukan sekali. Bagaimana tidak, setiap memakan makanan yang berat ia selalu mendapat panggilan alam. Untungnya Ve selalu bisa maklum akan hal itu. Erza berjalan menyusuri ruangan rumahnya yang sepi akibat hanya ditempati mereka berdua saja. Toilet yang berada di belakang sedang tersumbat dengan terpaksanya ia menuju Toilet yang terdapat di kamar tamu. Benar-benar buruk baginya karena harus menahan lebih lama. Terlebih lagi Toilet didalam-Nya hanya terpasang lampu pijar berkapasitas 10watt saja yang menambah buruk suasana.

Lega rasanya setelah bergelut dengan perutnya?. Erza mencuci tangan nya di wastafel dan ia mulai bercermin untuk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat perjalanan pulang tadi. Tapi saat dirinya berkaca, di pantulan kaca Wajahnya terlihat sangat pucat. Mungkin karena Kurangnya cahaya Erza pun tak menghiraukannya. Ia terus membasahi tangannya dengan air dan mulai merapikan rambutnya kembali. Tunggu, kenapa semakin pucat? Pikir Erza melihat pantulan dirinya dikaca. Erza coba gerakan tangannya, bayangan itu mengikutinya. Apa bener aku sepucat yang dicermin ? Erza terus bertanya, hingga dirinya terdiam memandang lekat ke arah kaca. Beberapa menit, hingga pantulan dirinya berubah menjadi sosok lain. Matanya membulat akibat terkejut, namun mulutnya tak mengeluarkan suara. Erza mulai berjalan mundur dengan perlahan. Sosok yang berada di dalam kaca terdiam tapi matanya mengekor melihat Erza yang berjalan pelan mundur. Hingga Erza berlari keluar saat sosok tersebut membuka mulutnya seakan berteriak, namun tak mengeluarkan suara.

2

Erza datang menghampiri Ve yang terlihat sedang membereskan meja makan. Dirinya mendatangi kakaknya dengan nafas yang kasar. Ve bingung melihat kelakuan adiknya yang sedikit aneh dan mulai bertanya ada apa, tapi Erza memilih menggelengkan kepalanya. Ve mencoba menenangkan adiknya itu.

“Erza,,,”

Erza dipanggil. Ve terdiam. Bagaimana tidak, ia diam tapi ada yang memanggil nama adiknya dan suara panggilan itu bersumber dari kamar tamu yang tadi Erza masukin. Ve mencoba mengecek apa yang sebenarnya terjadi tapi, oleh Erza tangannya di tahan. Ve melihat adiknya menggeleng ke arahnya.

merasa mendengar sesuatu padahal saat itu kamu sedang sendirian atau bersama dengan orang lain tapi mereka tak ada yang berbicara? Kamu pikir kamu mendengar sesuatu, tetapi kamu meragukannya karena tidak melihat sosok atau sesuatu yang memanggilmu? Seperti ketika kamu berada di kamar mandi, dan kamu pikir kamu mendengar seseorang berteriak ataupun memanggil namamu, tapi tidak ada seorang pun di sana? Seperti yang Erza dan Ve alami.

Suara memanggil dari dalam kamar tamu kembali terdengar. Sekarang bukan hanya nama Erza yang disebut, melainkan nama Ve juga. Suara-suara yang didengar itu bukanlah sesuatu yang ditimbulkan oleh halusinasi otak. Suara itu nyata. Dan dia ada disana. Dan bila kini mereka mendengarnya harap tak ada yang menghampirinya, jangan pernah! Suara otak mereka bersugesti. Kenapa? Karena suara yang memanggil itu milik sosok yang entah mereka tahu bisa membawa kematian?

Dia selalu memanggil, berharap mereka akan merespons, berharap salah satu diantara-Nya akan mengikutinya. Mereka tahu jika hal ini konyol dan terus mengabaikannya sambil mengangkat bahu dan bersikukuh ini adalah bagian dari imajinasi? Lebih baik diam tak merespons pikir Ve. Jika saat ini mereka mengabaikan nya, Ve pikir mereka akan baik-baik saja.

Seandai nya mereka beranjak dari tempat mereka berdiri  dan melangkah mencari siapa pun yang menyerukan nama mereka maka tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi. Beberapa hal memang lebih baik harus menjadi misteri. Jangan pernah saat itu mereka mendekat ke dalam kamar tamu itu dan melihat ke sekeliling kamar ataupun Toilet kamar tersebut. Apalagi melihat ke belakang pintu kamar yang masih terbuka itu. Karna apa? Karna sosok bayangan yang Erza temui di kaca Toilet sudah berpindah tempat dan ia tak terlalu suka keberadaan nya di ketahui dengan mudah.

Malam menyerang. Terlihat Ve sedang memainkan Laptopnya sedangkan Erza, ia sudah terlelap dalam mimpi malamnya. Malam sudah semakin larut. Terlihat Ve beberapa kali mulai menguap sambil meregangkan otot-otot tangan dan badannya. Kemudian selanjutnya yang ia lakukan adalah menekan tombol shutdown pada layar Laptopnya. Aku harus tidur. Pikir Ve saat Sekilas melirik jam dinding di kamarnya untuk memastikan bahwa kini sudah hampir pukul 23.30 malam. Dengan mata beratnya, Ve menaruh Laptopnya di atas meja kecil samping ranjangnya. Ia lakukan gerakan menarik selimut menutupi tubuhnya sampai setengah leher sambil beberapa kali mencari kenyamanan kepalanya pada bantal yang dipakai dan berharap untuk segera terlelap.

Malam begitu sunyi. Ve bisa mendengarkan dengan jelas ranting pohon kering yang berderak-derak bersentuhan dengan dinding rumahnya akibat terkena terpaan angin yang lumayan kencang saat malam. Ve berbaring menatap langit-langit berharap segera terlelap. Tapi sial baginya. Sudah hampir Satu jam Ve berbaring, namun matanya tak kunjung terpejam. Samar-samar ia dengarkan jam dinding berbunyi, “tik tok, tik, tok” di tengah kesunyian malam. Perlahan namun pasti Ve mendengar sesuatu mengetuk Jendela kamar nya tepat dibalik arah dirinya meringkuk membelakangi Jendela. Ve terperanjat, itu tak mungkin. Kamarnya ada dilantai Tiga jadi kurang pas jika ada yang mengetuknya. Apakah diluar ada orang yang mengetuknya sambil orang itu memanjat dengan tangga? Yang ada konyol.

“Tok..Tok..Tok..”

Sekali lagi Ve dengan jelas mendengar suara itu lagi. Suara ketukan pada Jendela kamarnya. Ya Tuhan haruskah aku berbalik untuk melihatnya? Apakah itu hantu atau sesosok pembunuh berantai yang tengah mengincarku? Atau pencuri yang sedang memastikan aku tertidur atau tidak. Pikiran Ve berkecamuk. Saat itu Ve begitu ketakutan hingga menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya, memasukkan tubuhnya ke dalam selimut seluruhnya.

“Tok..Tok..Tok..”

Suara itu lagi. Masih didalam selimut. Ve memberanikan diri untuk berbalik kearah Jendela kamarnya. Keringat dingin mengucur ditubuh keningnya dan tubuhnya bergetar. Namun ia harus memastikan jika ia ingin segera tidur. Memastikan Mahluk apakah yang mengetuk Jendelanya. Perlahan namun pasti Ve mulai menyibak sedikit selimutnya untuk mengintip kearah jendela. Dan ia lihat Jendelanya rapat terkunci. Tidak ada yang mengetuk maupun terlihat orang di balik Jendelanya. Tak ada apa-apa disana.. Sampai ia menyadari satu hal penting. Ia menyadari bahwa Mahluk itu bukanlah mengetuk dari luar, melainkan,,,,, mengetuk Jendela dari dalam kamarnya.

##

Disalah satu ruang pasien Rumah Sakit. Terlihat seorang Suster sedang memeriksa pasien pria dengan dilanjutkan memberi jatah makanan dari rumah sakit. Sesudah dirasa semua stabil, si Suster pergi meninggalkan ruangan. Terlihat juga seorang gadis yang sedang menyuapi si pasien yang barusan di cek kondisinya oleh Suster. Di bagian Sofa terdapat pria degan menggunakan Jaket hitamnya tengah merebahkan diri dengan Earphone di kedua telinganya. Dengan cueknya pria tersebut tak menghiraukan dua orang berlainan jenis itu di sudut yang lain. Ranjang.

“Tadi kamu bilang namamu Shanji, kan?” Ucap pria yang tengah disuapi pada pria yang sedang mendengarkan Earphone. Jelas ia tak mendengar? Dia mendengar, bahkan dia cuma menoleh sebentar dan kembali memejamkan matanya menikmati alunan musik.

“Sebelumnya saya sangat berterima kasih karena kamu sudah menolongku keluar dari dalam Sumur menyakitkan itu” lanjutnya.

Pria berjaket hitam yang diketahui bernama Shanji itu bangkit dari posisi rebahannya, mencopot ke dua buah benda yang menyumpal telinganya dan menatap ke arah ranjang, tempat dimana si pria berada.

“Udah gue bilang, gue bukan yang tolong lu. Warga lah yang tolong lu keluar dari lubang itu. Dan gue… Gue hanya orang yang mau culik adik lu itu” ucapnya dingin, namun terkesan serius.

“Culik hatinya maksudmu? Hahaha…” Tanggap si pria dengan candaan.

“Kalo emang bener mau culik hatinya,,, kayaknya gue bisa percayai lu “si Malaikat Penyelamat” ?” Ucapnya sambil melirik adiknya. Terlihat adiknya malah tersenyum tak karuan sambil berucap, “kak, Willy,,,”.

Shanji kembali menatap, “salah satu kelemahan seseorang adalah mudah percaya dengan orang lain dan apalagi jika orang itu baru dikenal beberapa jam. Salah besar” balas Shanji masih dengan dinginnya.

“Tapi aku udah kenal kakak hampir Dua minggu ini” Sela adik dari pasien pria bernama Willy.

“Saudara yang sama-sama aneh” batin Shanji dan ia kembali merebahkan dirinya di sofa tanpa mau memperpanjang obrolan diantara mereka bertiga.

Tak berselang waktu lama. Pintu kamar kembali dibuka oleh seseorang dari luar. Seorang Suster kembali masuk ke dalamnya. Sang Suster beralasan sudah waktunya cek kondisi pasien dan dia minta maaf karena telat dari waktu biasanya. Willy memandang adiknya. Tatapan mereka menggambarkan ekspresi kaget, namun bercampur bingung. Tanpa ada hujan dan badai. Shanji dengan cepat bangkit dari posisinya menyuruh Willy untuk muntah. Semua menjadi bingung, termasuk si Suster akibat perintah yang Shanji tunjukan pada Willy.

“Lu denger ga?! Muntahin!” Ucap Shanji tegas.

“Apanya?”

“Gue bilang Muntahin sekarang! MUNTAHN MAKANAN LO!!”

“Gue ga bisa muntah” ucap Willy.

Dengan cepat Shanji meninju perut Willy dan di susul tangannya mencekik leher Willy. Sontak sang Suster beserta adik dari Willy menjadi panik. Dengan sekuat tenaga dua perempuan itu mencoba melepaskan cekikan Shanji pada Willy. “Apa yang anda lakukan!? Pasien bisa mati!”. Adik Willy mencoba berbagai cara untuk bisa melepaskan cekikan pada kakaknya itu. Dari Shanji yang ia tampar sangat keras.

Hampir 30 detik Shanji mencekik Willy, hingga terlihat Shanji mulai melepaskan cekikannya akibat daerah punggungnya terasa di hantam sesuatu. Sebuah kursi samping yang biasa adik Willy gunakan untuk duduk menemani kakaknya, kini ia gunakan untuk memukul keras punggung Shanji. Lepasnya cekikan kontan membuat Willy menghirup udara sebanyak mungkin dan muntah. Hal yang tak di duga terlihat. Willy memuntahkan makanan bubur yang tadi ia makan telah berubah menjadi puluhan Belatung. Begitu juga mangkuk bubur yang adik Willy pegang. Mangkuk penuh degan Belatung dan ia lemparkan mangkuk itu. Terlihat Willy terbatuk-batuk. Adiknya langsung menolong Willy. Tapi ia juga melihat Shanji yang keluar ruangan dengan jalan sedikit sempoyongan.

Langkah Shanji terhenti tepat di lorong Rumah Sakit yang sepi dan pencahayaan yang kurang. Di depannya telah berdiri satu sosok wanita paruh baya berambut panjang dengan gaun indahnya yang melekat. Sebuah gaun panjang berwarna putih. Tatapan mereka bertemu.

“Tolong hentikan semuanya, tan,,, mereka orang-orang yang tak bersalah” ucap Shanji pada sosok di depannya yang diam tak bergeming.

“Jadi teman Sinka…” Ucapnya pelan, suara yang terdengar pilu.

Shanji menghela nafas, “salah,,, Tante salah jika Tante seperti itu. Hentikan semuanya. Jangan dilanjutkan. Berapa orang lagi yang harus Tante rebut kegembiraannya? Jika Tante seperti ini terus,,, Tante tak ada bedanya dengan bangsat itu. Kalian tak akan jauh beda sifatnya. Sifat binatang”

“Jangan libatkan orang yang tak tau apapun. Bukan mereka yang mengambil kebahagiaan keluarga Tante. Maka dari itu berhentilah merenggut kebahagiaan orang lain lagi. Yang perlu disalahkan adalah pria bangsat itu. Pria itu yang telah merenggutnya dari Tante dan Sinka. Pria yang tante sebut sebagai Suami dan ayah dari Sinka itu sendiri”

Shanji berjalan pelan mendekat ke arah sosok perempuan berambut panjang dan bergaun putih itu. Sosok yang ia sebut “Tante”.

“Tolong, saya sangat berharap Tante dan Sinka menghentikan,,, atau aku yang akan menghentikannya” ucap Shanji lirih.

Sosok wanita tersebut malah memandang Shanji lebih tajam lagi. Ia kembangkan senyum lebarnya dan bisa ditebak, ia tertawa melengking memenuhi pendengaran Shanji. “Kikikikikikik”. Melayang kesana kemari dengan ringannya, menyeret gaun panjangnya di lantai lorong Rumah Sakit. ” Tak usah ikut campur”. Terdengar ucapan di sela terbangnya. Sosok itu menghilang dengan cepat. Shanji tau. Ia benar-benar tau jika dia tak pergi menghilang. Ia sudah bersiap akan sebuah kejutan. Dan memang benar, tak lama setelah sosok itu hilang dari pandangan, tiba-tiba dia menampakkan diri tepat di depan Shanji dengan wajahnya yang berlumur darah tepat berhadapan dengan wajah Shanji. Sangat dekat. Bahkan jika keduanya manusia, mereka bisa merasakan deru nafas masing-masing.

Dia menunjukkan senyum sangan lebar, seakan-akan kedua sudut bibirnya diperpanjang dengan sayatan. Dia memperlihatkan giginya yang runcing sambil mulai menjulurkan lidahnya yang panjang dan mulai menjilat pipi dan telinga Shanji. Sedangkan ia hanya diam, memandang dingin wajah sosok di depannya.

“BUG!”

Dengan cepat Shanji memukul kepala sosok tersebut dari arah samping kanan. Dia terlempar,,, tak jauh,,, hanya bergeser. Sosok tersebut tertawa keras dan menyerang balik Shanji, hingga pandangannya mulai kabur. Gelap, semakin gelap dan benar-benar menjadi gelap total tak sadarkan diri.

Beberapa detik sebelum Shanji benar-benar tak sadarkan diri. Dengan jelas tertangkap oleh pendengarannya. Sosok wanita tersebut menyebut, “Gracia teman Sinka,,,”. Gracia ? Bukankah itu nama gadis itu ? Gadis yang di sebut adik perempuan dari pasien yang bernama Willy. Pikirannya langsung menangkap maksud dari sosok tersebut, tapi apa daya pandangannya menjadi gelap dan tubuhnya serasa mati rasa.

##

“Oh, disini baik-baik aja kok. Kakak tenang aja” jawab Erza dari balik telepon.

“Syukurlah. Kayaknya kakak pulang lewat dari jam Sepuluh, dek. Kalau kamu ngantuk tidur aja”

“Gak bakal ngantuk kali, kak. Biasa begadang juga, Hehehe. Oh iya, entar beliin Martabak bisa?”

“Siap, pak” jawab Ve terakhir sebelum panggilan di putus.

Malam ini sedang hujan lumayan deras. Ve bisa melihatnya dari kaca mobil dan beberapa temannya juga di dalam mobilnya. Menelusuri jalanan kota, membelah hujan malam. ketika mereka sampai pada suatu tempat Ve menghentikan mobilnya di depan sebuah terowongan akibat salah satu temannya yang meminta. Tapi mereka lupa berhenti dimana. Pasti pernah mendengar rumor atau legenda suatu Terowongan yang berhantu? Seperti itulah rumor Terowongan yang Ve dan temannya gunakan untuk berhenti sejenak. Terowongan dengan cahaya minim dan sepi. Mereka baru menyadari akan dimana mereka berada dan mereka baru mengatakan tentang rumornya saat mobil melintasi terowongan. Hal yang aneh akan terjadi? Mereka melintasi jalan ini, karena jalan ini adalah jalan pintas menuju rumah temannya untuk mengantarkannya pulang. Terowongan ini letaknya agak pinggir dari jalan utama kota dan tidak banyak kendaraan yang melintas. Suasana angker dan menyeramkan langsung bisa di rasakan begitu memasuki terowongan. Ve menjalankan mobil dengan pelan, berharap sesuatu yang aneh benar-benar tak terjadi, tetapi ketika mobil yang digunakan mencapai ujung terowongan. Mereka tak melihat sesuatu apapun yang mengerikan. Ve bersyukur. Tapi respons yang beda keluar dari kedua temannya. “Ayo kita melintas lagi,” kata teman Ve yang berada di samping ia yang mengemudi.

Awalnya Ve sangat tak setuju dengan apa yang diinginkan kedua temannya itu. Tapi apa daya, Dua lawan Satu. Memang Ve yang mengendarai dan itu juga mobilnya. Tapi memang seorang Ve, ia tak pernah bisa menolak permintaan temannya apabila sampai memohon. Akhirnya Ve memutar mobilnya saat diujung terowongan. Sekali lagi, mereka tak mengalami hal yang aneh. Ve memutar mobilnya kembali masuk ke dalam Terowongan untuk mengantarkan kembali temannya. Saat akan keluar dari dalam Terowongan salah satu temannya Ve yang berada sendiri di kursi tengah berkata, “kenapa tak mencobanya lagi?”.

Akan tetapi ada sesuatu yang aneh dengan nada bicara temannya tersebut dan perubahan nada suara itu dirasakan juga oleh teman Ve satunya lagi yang duduk di kursi depan. Ve dan satu temannya melihat ke belakang lewat kaca kecil diatas-Nya. Dengan berhati-hati.

“Aku menyesal lihat belakang” ucap teman Ve lirih dengan suara mulai bergetar. Ve hanya diam fokus menatap jalan dan menambah kecepatan mobilnya.

Dengan jelas Ve bisa melihat di belakang terdapat temannya yang tengah tertidur dan satu tamu yang tak diundang telah duduk disana. Ia baru menyadari bahwa mereka sedari tadi bukanlah berbicara dengan temannya tapi dengan sosok gadis yang dilihat hampir satu usia dengan temannya. Gadis yang telah Ve ketahui siapa dia. Sinka menatap ke arah kaca yang digunakan oleh Ve dan temannya untuk melihat ke belakang.  Duduk manis Di kursi belakang dengan senyuman yang mengembang. Sebuah senyum yang menakutkan pikir Ve. Temannya menggenggam tangan Ve yang hendak menaikkan gigi mesin mobilnya. Ve membalas pelan genggaman tangan temannya. Memberi isyarat untuk diam.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul Sepuluh lebih tapi kakaknya tak kunjung pulang seperti yang ia bilang sewaktu di dalam telepon. Erza duduk di depan Televisi yang menyala dengan satu batang rokok di tangannya.

Terdengar di luar sebuah klakson mobil. Kak Ve pulang, pikir Erza. Dengan cepat Erza beranjak dari Sofa menuju ke luar untuk membukakan gerbang. Tapi saat akan membuka gerbang dilarang oleh Ve. Ia menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil. Erza hanya menurut dan mengunci pagar dari luar.

“Kita keluar cari makan” ucap singkat Ve menjawab tatapan bingung Erza. Erza hanya mengangguk.

Tak lama setelah mobil keluar dari Komplek perumahan, Erza berbicara pindah ke kursi belakang karena ingin menyalakan rokok. Di kursi belakang Erza mulai menghisap rokoknya. Lama kelamaan batang beracun itu telah habis dihisap. Lamanya perjalanan sampai Erza menghabiskan satu Batang rokok membuat dirinya bertanya pada kakaknya, masih jauh atau tidak. Ve menjawab dengan singkat, “sebentar lagi”. Erza bersandar dan menutup matanya, tak lupa Earphone ia pasang di kedua telinganya.

Sebuah panggilan masuk tertera di ponsel Erza dengan nomor yang tak dikenal. Erza mengangkatnya dengan kembali memejamkan mata.

“Kamu dimana? Kenapa di rumah tak ada orang?” ucap seseorang dibalik telepon.

Erza membuka matanya perlahan dengan perasaan mulai campur aduk. Si penelepon terus berbicara disana. Erza hanya diam mendengar tanpa berbicara menjawab pertanyaan maupun omongan si penelepon. Bola matanya ia putar mengelilingi sekitarnya. Sampai ia baru sadar. Rasa sadar yang membuat dirinya semakin kalut dengan suasana yang ada. “Shit,,,”. Erza melepaskan Earphone yang terpasang pada kedua telinganya. Ia matikan panggilan saat orang dibaliknya masih berbicara padanya. Kini ia tersadar bahwa itu bukanlah mobil pribadi pada umumnya, apalagi mobil kakaknya. Melainkan itu mobil pribadi yang bisa dikatakan “Mobil Spesial”. Kenapa spesial ? Dikarenakan mobil tersebut hanya di peruntukan untuk membawa sebuah mayat. Mobil warna putih dengan sirene merah diatas-Nya. Erza berada di dalam sebuah mobil Ambulans usang. Terlihat di depannya yang mengendarai hanya sebuah Gedebok Pisang yang diam tanpa gerakan.

Erza mendobrak pintu belakang mobil tersebut. Ia berlari kencang menjauh dari mobil Ambulans rongsokan itu. Berlari ke tempat ramai. Saat ia berlari, ia bisa melihat di atas mobil rongsokan itu, diantara dua pohon besar terdapat sosok wanita bergaun panjang yang tengah melompat bolak-balik dari pohon satu ke yang lain dengan cepat menerbangkan Jubahnya yang panjang sambil tertawa cekikikan.

Sambil terus berlari. Erza mengeluarkan ponselnya dan mengetikan pesan untuk kakaknya. Ia memberi tahu bahwa dia pergi menginap dirumah teman. Isi pesan singkat Erza berbohong agar kakaknya tak cemas.

–*

Malam ini adalah malam minggu. Malam yang indah untuk pergi ke luar bersama pasangan entah itu pergi nonton di bioskop, jajan di warung bakso, atau hanya sekedar Window Shopping dan nongkrong di taman bersama pasangannya. Tapi malam minggu yang Ve alami ini lain daripada malam minggu kebanyakan orang.

Malam minggu ini tak jauh beda dengan minggu-minggu yang telah lalu. Ia hanya pergi keluar bersama para teman kuliahnya saja. Tapi kali ini jauh lebih buruk dengan adanya hujan mengguyur sepanjang jalan pulangnya, ditambah kejadian mistis yang baru ia alami. Lengkap sudah dengan mengikut sertakan sang petir tapi percayalah ini bukan waktu yang tepat untuk keluar.

Ia sampai di depan rumahnya pukul Sebelas malam. Beberapa kali ia bunyikan klakson mobilnya berharap Erza keluar dan membukakan pintu gerbang, tapi nihil. Dengan menggunakan payung ia membuka kunci pagar rumahnya dan memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Setelah ia masuk ke dalam rumah tak terlihat maupun tak mendengar keberadaan adiknya, Erza. Ia mencari ke setiap ruangan tapi tak ada. Ve mulai cemas dengan kondisi adiknya yang menghilang. Hingga ia terpikir untuk menghubungi adiknya itu.

“Kamu dimana? Kenapa tak ada orang dirumah?” ucap Ve setelah Erza mengangkat panggilannya. Namun, Erza tak menjawab.

“Dek, kamu dimana? Jangan buat kakak cemas. Kakak sudah ada dirumah dan kakak udah bawain pesanan kamu tadi sebuah Martabak” tak ada jawaban dari Erza.

“Jawab, dek,,,” tetap tak ada suara dibaliknya malah panggilan yang Ve buat diputus oleh Erza.

Diputusnya panggilan tanpa ada sepatah kata yang keluar dari adiknya membuat Ve semakin cemas dengan kondisi adiknya itu. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan duduk di Sofa yang tadi Erza gunakan. Televisi pun masih menyala disana. Ia menyugesti dirinya sendiri bahwa adiknya tak akan kenapa napa dan mungkin dia sedang keluar sebentar membeli rokok seperti kebiasaan buruknya seperti biasa.

Tak lama, ponsel Ve bergetar. Terpampang jelas sebuah pesan masuk dari Erza disana. Ia bergegas membukanya,,,

“Kakak gak usah khawatir, Erza lagi dirumah teman. Tadi kak Ve lama atau tak jadi pulang makanya aku pergi nginap kesini” isi pesan dari Erza.

Ve akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah bisa mendapat kabar keberadaan dari adik semata wayangnya itu. Ia senderkan tubuhnya pada punggung Sofa tempatnya duduk. Tak lama, ia bangun dari posisinya dan membersihkan meja yang berantakan akibat aktivitas yang Erza lakukan saat menonton Televisi.

Angin di luar sebenarnya tak terlalu kencang, hanya saja hawa dingin yang dibawanya sangat menusuk kulit. Beruntung sekali Ve sudah berada disini, di dalam rumah yang begitu nyaman. Saat ini Ve telah berada di dalam kamarnya. Tepatnya di atas tempat tidur yang empuk dengan sebuah bantal dan guling dengan warna senada. Setelah selesai membersihkan diri dan telah siap dengan baju tidurnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Aku heran, siapa itu? Bukankah Erza pergi menginap di rumah temannya. Atau jangan-jangan adiknya itu hanya membohongi dirinya dengan bilang menginap tapi sebenarnya ia bersembunyi di suatu tempat dan tiba-tiba ia datang untuk menakut-nakuti aku saja. Pikir Ve berasumsi.

Ve membuka pintu dan begitu terkejutnya ia setelah mengetahui tidak ada siapa-siapa di luar. Ve putar pandangannya untuk mencari tahu siapa yang mengetuk tadi. Tidak ada, benar-benar tidak ada orang bahkan suara pun tak ada yang ada hanya suara hujan yang tak kunjung henti.

Ve kembali masuk ke dalam setelah mengetahui tidak ada siapa-siapa diluar dan ia keluar kembali dari kamarnya. Ia pergi ke dapur untuk minum, hingga akhirnya ia menyadari sesuatu yang aneh. Udara di dalam mendadak dingin tapi beda dengan hawa dingin yang biasa ditimbulkan oleh hujan. Saat itu Ve tetap berpikiran positif. Barang kali ini terjadi karena ia sendiri di rumah dan pikirannya menciptakan imajinasi yang aneh.

Ve masuk kembali ke dalam kamar, sial udara di kamar justru semakin dingin. Ia pun mengambil selimut dan melanjutkan aktivitasnya dengan mengirim pesan kepada temannya untuk menyelimur suasana. Sial lagi baginya karena pesannya tak bisa terkirim. Sinyalnya mendadak hilang padahal tadi sinyalnya masih ada meskipun turun hujan dan itu lancar. Ve malah mulai merasakan merinding. Ketukan pintu. Hawa dingin. Sinyal yang hilang tiba-tiba. Tidak tahan langsung saja ia pejamkan matanya untuk tidur. Sebuah selimut, guling putih yang empuk, serta hawa yang dingin membuatnya cepat terlelap.

Diluar kamar Ve. Tepatnya diatas pintunya, terdapat sosok wanita dengan gaun putih tengah bergelantungan, menempel di tembok. Senyumnya menyeringai sangat menakutkan. Sinka tersenyum disana dengan gaun putih panjangnya yang menutupi pintu luar kamar Ve.

*–*

Dengan rasa bersalah, adik Willy yang bernama Gracia berjalan menyelusuri lorong demi lorong untuk mencari keberadaan Shanji. Rasa bersalah akibat dia memukulnya dengan kursi besi ke bagian punggung. Ia benar-benar menyesal akan perbuatannya tadi. Dia telah menyelamatkan kakaknya untuk kedua kalinya tapi malah ia salah mengambil tindakan.

“Kak Shanji dimana? Maafin, Gre…”

Langkahnya terhenti didepan sebuah ruangan bertuliskan, “CCTV Room”. Tapi Gracia tak melihat adanya petugas di dalamnya. Dengan rasa penasaran ia masuk ke dalamnya berharap Shanji terlihat di salah satu CCTV yang terpasang. Dari banyaknya monitor yang memperlihatkan tiap bagian rumah sakit, tak ada satu pun yang menangkap sosok Shanji. Tapi, kemudian ada satu monitor yang memancing rasa tertariknya. Sebuah monitor yang memperlihatkan ruangan Bayi disana. Gracia tersenyum melihatnya.

“Tunggu,,,” senyuman Gracia mulai menghilang setelah sala satu bayi menarik rasa herannya.

Terlihat salah satu bayi menggeliat seperti bayi biasanya tapi hal yang mustahil terlihat. Bayi tersebut mengubah posisinya dengan duduk dan dengan perlahan menghadap ke arah layar monitor. Gracia membulatkan matanya. Tangannya ia gerakan untuk memperdekat gambar dan saat itu juga Gracia sedikit merasa merinding tapi juga ia serasa ingin tertawa gemas. Bayi itu menatap monitor dan tersenyum.

Setelah Gracia coba mengecek ke ruang dimana bayi-bayi itu berada, ia kembali ke ruang CCTV. Saat ia datang kesana para bayi sama sekali tak ada yang aneh dan bayi yang tersenyum ke arah monitor pun terlihat tertidur. Tapi saat ia kembali melihat ke arah monitor,,, kali ini rasa tertawa gemasnya sirna. Kini Gracia malah merasa takut.

Saat Gracia kembali melihat secara sekilas kearah layar monitor bayi. Dilayar itu ia melihat hal yang begitu menakutkan. Sesosok wajah yang terdistorsi (seperti kerasukan). Sekitar Dua menit Gracia bertahan dengan tetap menatap lekat monitor. kemudian, Gracia melihat bayi berdiri dan kemudian meletakkan wajahnya berhadapan dengan kamera monitor. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Mustahil. Seorang bayi? Kemudian, dia berbaring dan pura-pura tertidur. Gracia terpaku di posisinya. Dengan jelas di monitor seorang Suster masuk membawa seorang bayi dan meletakan bayi baru tersebut di Box bayi sedari tadi ia perhatikan. Sebelumnya Suster tersebut memindahkan sebuah guling bayi kecil.

“Tak mungkin,,, yang aku lihat tadi jelas-jelas bayi. Bukanlah sebuah guling bayi” ucap Gracia dengan pikirannya yang mulai kacau.

“Mungkin hanya sesuatu yang di timbulkan dari Imajinasiku saja. Aku butuh istirahat. Itu tadi hanya Imajinasi dan tak nyata” ucap Gracia mencoba tersenyum.

“Aku nyata,,,” sebuah suara menyela perkataan Gracia dari arah samping posisinya berdiri.

Dengan menggerakkan kepalanya dengan perlahan. Gracia mulai menengok ke arah sampingnya. Sesuatu membuat Gracia mengembangkan senyum paksanya dan air mata yang mulai menggenang di kelopak matanya. Disana. Duduk seorang bayi di kursi tempat petugas. Bayi itu menatap Gracia dengan tersenyum. Nafas Gracia memburu. Secepat mungkin ia keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan bayi menyeramkan itu. Terdengar suara tertawa dari dalam ruangan saat Gracia berlari di lorong tempat itu.

Dengan tergesa Gracia berlari kembali ke kamar dimana Willy berada. Tapi karena melihat lampu ruangan perawat masih menyala, ia pun tidak mempedulikannya dan masuk. Di dalam ada seorang perawat yang kelihatannya sudah mulai berumur sedang berdiri. Umumnya perawat yang jaga di sana berganti-ganti. “Kakak baru saja ditugaskan di sinikah? Kok belum pernah melihat kakak sebelumnya?”. Dia tidak menjawab pertanyaan yang Gracia lontarkan. Ia malah tertawa. Tiba-tiba Gracia merasakan suhu pada badannya menurun, ia merasa tubuhnya mulai merasakan dingin. Bukan dingin biasa, tetapi dingin dikarenakan hawa-hawa tak baik. Bahkan Gracia pun mulai terlihat mengeluarkan keringat dingin.

Gracia tak mau berpikir negatif. Gracia pikir itu disebabkan oleh suhu AC terlalu tinggi mengakibatkan dingin. Gracia mulai tak mempedulikannya. “Kak, saya akan cerita satu kisah hantu yah”. Pikiran Gracia mulai bermain. Ia ingin mencairkan suasana dengan bertindak sedikit jahil. Ya, walau Gracia sadar betul bahwa apa yang akan di lakukan sangat tidak sopan. Terlebih lagi dia orang yang baru ditemui dan dia jauh lebih tua darinya. Gracia berharap sang Suster baru itu ketakutan dan akhirnya memegang erat dirinya dan mau mengobrol dengan Gracia. Si Suster hanya tersenyum. Tanpa menjawab iya ataupun menjawab tidak.

Gracia mulai menceritakannya.

“Sebetulnya sebuah cerita Hantu yang sudah tua sih. Jadi Begini. di satu Rumah Sakit, ada seorang Dokter yang sedang menaiki Elevator. Ketika sampai di satu lantai, lift berhenti dan ada seorang pria yang ingin berjalan masuk. Tetapi, oleh sang dokter pintu lift segera ditutupnya. Si Dokter tak memberikan si pria itu untuk ikut masuk. Sang perawat yang kebetulan satu lift dengan Dokter pun bertanya keheranan. “Mengapa tidak beri dia masuk, dok?”. Si Dokter menatap sang Perawat, “Karena,,,,“.”

“Tampak si Dokter ragu-ragu saat akan menjawabnya, “karena orang itu memegang Gelang merah yang harusnya hanya dipasang ke orang yang sudah meninggal. Jadi…”. Belum sempat si Dokter menyelesaikan kata-katanya, sang perawat dengan senyuman mengangkat tangannya, “Seperti gelang yang saya pakai ini ya, dok?”. Ucapnya sambil memperlihatkan lengannya yang terpasang sebuah Gelang berwarna merah” Gracia menyelesaikan cerita singkatnya.

Gracia menatap sang perawat, “gimana, kak ? Seram gak?”

Tapi jawaban dari sang Perawat hanya biasa-biasa saja. Lumayan berani juga kakak ini, pikir Gracia. Ya padahal dirinya juga sedang ketakutan akibat kejadian tadi di ruang CCTV, tapi ia tahan dan sembunyikan. Tiba-tiba si perawat tersenyum.

“Kamu tahu, kalau di Rumah Sakit ini bagaimana cara menandakan orang yang sudah meninggal?” Ucapnya, namun Gracia hanya menggeleng tanpa kata. Tatapan Gracia seperti orang bodoh.

Sang Perawat dengan cepat mengangkat Tangannya dan mengulurkan nya ke arah Gracia. Gracia memperhatikan tangan sang Perawat dengan detail.

“Rumah Sakit ini memberi tanda pada tangan Jenazah seperti ini” ucapnya sembari memperlihatkan sebuah kertas penanda dengan nama, tanggal, hari kematian dan alamat yang tertera. Kertas penanda itu di sambung pada sebuah Gelang berwarna putih.

Melihat itu, tiba-tiba pikiran Gracia menjadi kosong. Bagaimana bisa? baru saja dirinya menceritakan sebuah kisah Hantu dan sekarang ia baru menyadari bahwa ia bercerita Hantu kepada Hantu? Kejadian tak masuk diakal apalagi ini?. Gracia berlari kembali menuju lorong kamar Willy berada.

##

Kini Erza telah berlari jauh dari mobil rongsokan yang membawanya tadi. Dirasa semua aman, Erza mulai mengubah larinya menjadi langkah kaki yang teratur, berjalan. Nafasnya tak beraturan akibat pelariannya tadi. Langkahnya benar-benar terhenti. Erza mendengar sesuatu yang mendekat ke arahnya berdiri. Dari arah samping kanan, kiri ? Bukan. Belakang? Bukan. Depan ? Apalagi. Erza dengarkan baik-baik dari mana suara itu berasal. Saat ia mulai menyadari dari mana suara itu berasal, Erza mundur dengan perlahan.

“Kresek,,, Kresek,,, BUG!”

Tepat di depan Erza, sebuah tubuh seseorang jatuh dari atas pohon. Erza sempat kaget dan melihat ke atas. Tak ada apapun. Lantas dari mana orang ini berasal? Dengan berhati-hati mencoba mendekati sosok tubuh tersebut. Ia, ia masih bernafas. Dengan sekuat tenaga ia berniat untuk menggendong orang tersebut untuk di bawanya mendapatkan pertolongan, tapi sebelum ia melangkah Erza dihentikan oleh orang itu sendiri, “berhenti”.

“Turunin gue. Gue gak papa” ucapnya. Erza menurunkan pria tersebut.

Pria tersebut tiba-tiba jongkok setelah Erza menurunkannya. Pria tersebut terlihat memungut sesuatu yang terjatuh di bawah sana.

“Lu dapat dari mana ini Liontin?” si pria memegang sebuah Liontin di tangannya sambil menanyakan dari mana asal Erza mendapatkannya.

Dengan menghela nafas dan melihat ke sekitar. Erza dengan perlahan namun terlihat sedikit ragu-ragu mulai menceritakannya. Erza berbicara, ia mendapatkan Liontin tersebut saat masih berlibur di di rumah neneknya. Awal dari sebuah malam yang mempertemukan dirinya dengan sosok gadis cantik yang menggemaskan. Gadis yang tinggal berdekatan dengan rumah neneknya. Ia bertemu dan berkenalan langsung di malam yang sama. Dari perkenalannya Erza mengetahui bahwa gadis tersebut bernama Sinka. Sosok gadis yang meminta bantuan dirinya untuk memperbaiki bonekanya yang rusak dengan benang dan Jarum. Sosok yang membuka mata penglihatannya akan sebuah rumah disebelah rumah neneknya. Erza di ajak masuk ke dalamnya dan duduk sementara sang gadis pemilik rumah meninggalkannya sendiri. Malam yang mempertemukannya dengan sosok gadis mengerikan dan juga keluarga yang mengerikan pula. Untuk Liontin tersebut? Erza menemukannya saat mereka pertama bertemu secara langsung. Erza memungut Liontin itu tepat di atas rerumputan saat Sinka bangun dari duduknya. Saat semua selesai Erza berniat untuk mengembalikannya, tapi belum sempat niat itu terlaksana dirinya terlebih dahulu mengetahui sebuah kenyataan yang menakutkan.

“Salahku juga saat itu tak mengidahkan perintah kakak untuk keluar” sesal Erza disela ceritanya.

Setelahnya Erza kembali bercerita semua masalah yang terjadi pada si pria misterius tersebut. Seorang pria yang tiba-tiba jatuh dari atas pohon. Dan Erza juga menceritakan kepadanya tentang petunjuk yang neneknya berikan. Petunjuk akan seseorang yang mungkin atau bisa membantu menghentikan masalah yang jika mungkin bisa terjadi. Kemungkinan buruk. Dan memang benar, kemungkinan itu kini telah Erza rasakan dampaknya.

“Gue gak yakin bisa bantu selesain masalah kalian ini. Tapi, gue mungkin mau mencobanya” ucap si Pria.

Erza memandang bingung, “maksud kamu?”.

“Oke, sebelumnya nama gue Shanji. Orang yang dimaksud nenek lu adalah gue. Penting gak penting buat lu tau. Gue bagian dari keluarga yang lu maksud mengerikan itu. Gue sepupu dari Sinka. Saat malam keji itu datang, gue berniat berkunjung ke sana tapi langka gue menyuruhku untuk keluar kembali dari dalamnya”

“Gue mengintip dari luar jendela dan saat itu,,, lelaki bangsat itu,,, lupakan soal bangsat itu. Sinka menatap gue, ke arah jendela tempat gue mengintip. Dia menatap saat kondisinya sekarat. Banyak darah disana….” Shanji menghentikan ucapannya. Matanya mulai menggenang oleh air mata yang mulai siap untuk ditumpahkan. Shanji tak bisa merasakan betapa menderitanya Sinka saat itu. Sedangkan dirinya hanya bisa diam melihat semua yang terjadi. Terlihat seorang Shanji yang terlihat misterius dan tampak bernuansa dingin menahan air mata di depan Erza.

“Seberapa dalam gue ceritakan akan hal itu tidaklah membantu. Lebih baik sekarang kita selesaikan semuanya”

“Lu dengan kakak lu sering mendapat hal aneh setelah kejadian malam itu?”. Erza mengangguk. ” sekarang dimana kakak lu?”.

“Dia sendiri di rumah”

Dengan cepat Shanji menarik tangan Erza untuk bergegas menemui Ve di rumahnya. “Mungkin kakak lu dalam bahaya”. Dengan berlari mereka mulai menjauh. Menghilang menembus asap malam dan jalan yang mulai menggelap di ujungnya.

“Hihihihi…” Terdengar suara tertawa pendek setelah perginya Shanji dan Erza dari tempat itu. Tanpa mereka sadari. Sedari tadi terdapat satu sosok yang memperhatikan mereka dari salah satu dahan pohon. Sosok tersebut duduk menjuntaikan kakinya. Sosok tersebut diam menatap ke arah perginya Shanji dan Erza.

3

Jam masih menunjukkan pukul Dua dini hari saat Ve terbangun dari tidurnya dan melihat jam yang terdapat di dinding kamarnya. Dirinya berniat untuk tidur kembali, namun usahanya sia-sia. Dengan terbangunnya Ve membuat matanya tak mau kembali terpejam. Ia berada seorang diri di dalam rumah dengan terbangun terlalu pagi. Ia coba langkahkan kakinya keluar dari kamar mencoba mencari segelas air untuk membasahi tenggorokannya.

Ia berjalan ke arah Sofa dengan membawa segelas air putih bersama beberapa potong Martabak dipiring. Martabak yang niatnya dibelikan untuk Erza, namun orangnya malah pergi menginap. Dengan mulai mengunyah sambil menatap acara dini hari yang terdapat di layar Televisi, ia hanya menatap malas. “Kriet… Kriet… Kriet…”. Ve masih saja fokus pada kegiatannya mengunyah. “Kriet… Kriet… Kriet…”. Sempat terbesit rasa malah saat ia mulai melangkahkan kakinya mencari sumber suara tersebut. Langkahnya terhenti di dalam dapur. Ia ingat betul, tadi ia membuka jendela itu dan suara berdenyit bersumber dari Jendela dapur yang ia buka sendiri tadi.

“Aduh, pake pengen ke kamar mandi segala lagi” gerutunya, memegang perut.

Pernah mendengar tentang fakta selain pasar, bahwa kamar mandi juga menjadi sarang hantu dan sebangsanya ? Kita ambil fakta itu dari mulut ke mulut saja tanpa harus membawa agama. Takut dikata sara. Memang benar, hantu dan sebangsanya sangat menggemari tempat yang kotor, gelap dan lembab seperti halnya kamar mandi. Tempat yang sering dijadikan tempat untuk membuang hajat. Apakah kalian pernah menciptakan sendiri imajinasi yang menakutkan saat berada di dalam kamar mandi ? Sebagai contoh. Kamu sedang mandi di dalamnya. Kamu berkeramas, membasuh muka dan menutup kedua matamu. Tapi pikiranmu melayang jauh saat kamu dalam keadaan kedua mata tertutup. Imajinasimu menciptakan pikirannya sendiri. Pikiran di saat kamu membuka mata, tepat di hadapmu telah terlihat wajah yang mengerikan tengah berhadapan denganmu. Atau, setelah membuka mata kamu melihat ke sekitar dan kamu dengan jelas melihat sosok tak dikenal tengah menempel atau duduk di atas sambil memperhatikanmu.

Ve telah selesai dari aktivitas melepas isi perut dan kini ia berdiri sambil menatap lekat wajahnya sendiri di kaca cermin Wastafel. Ia membasuh wajahnya dengan air lalu menatap cermin kembali. Membasuh lagi dan menatapnya kembali. Tangannya meraih handuk kecil berwarna putih di sampingnya. Mulai menggerakkan handuk kecil tersebut ke setiap inci wajahnya hingga kering.

“Dak! Dak! Dak!”

Terdengar suara langkah kaki. Bukan. Bukan ? Hawa di sekitarnya mulai berbeda dari sebelumnya. Ia coba melihat ke luar kamar mandi. Tak ada siapa-siapa dan suara menghilang. Suara kembali terdengar saat Ve memasukkan kembali kepalanya ke dalam. Sempat beberapa kali ia hiraukan suara tersebut. Hingga Ve merasa benar-benar terusik akan suara itu. Sebuah suara yang sama, namun tampak semakin dekat, dekat dan sangat dekat.

“Apakah ia berada tepat dibalik pintu?” pikiran Ve menerka.

Kini dengan jelas, sangat jelas. Ia melihat sesuatu yang tak ada beberapa saat yang lalu di pantulan cermin. Ve mencoba bersikap biasa saja tanpa harus meresponsnya dengan berlebih. Ia perlahan keluar dari dalam kamar mandi ruang bawah dan berjalan keluar dari area tersebut.

4

Tepat di atas belakang Ve telah terduduk sosok wanita dengan wajah menghitam tengah memandangnya dari atas.

Ve kembali ke Sofa dengan perasaan mulai tak karuan, tapi sebisa mungkin harus ia bisa kuasai. Ia menatap kosong acara Televisi yang beroperasi. “DAK!”. Tubuh Ve sedikit melonjak kaget karena aktivitas dari seseorang yang membanting pintu. Ia coba mengatur kembali jalan nafasnya yang cepat. Matanya menangkap cahaya dari ponselnya yang ia letakan di atas meja. Sebuah panggilan masuk dengan nama pemanggil tercantum sebagai “My Friends”. Ve mengeritkan dahinya. Ia sama sekali tak pernah punya kontak ataupun memasukkan nama seperti itu. Perasaannya tak enak tapi rasa penasarannya membuat gerakan pada tangannya tanpa bisa ia sadari. Ve mengusap tanda berwarna hijau pada ponselnya dan mulai mendekatkan ponsel pada telinganya.

“Hhhaaaaaaaaaahhhhhh…..”

“Hhhaaaaaaaaaahhhhhh…..”

Dari ujung panggilan hanya terdengar suara seperti suara nafas yang dikeluarkan lewat mulut. Begitu pelan yang menambah kesan mistis.

“Diatas… Datanglah…ayo” suara lain terdengar disana. Sebuah suara ajakan dengan nada pelan.

“Aku Kinal, sahabatmu… Datanglah, sahabatku… Datanglah. Temui aku” ucapnya menyebut dirinya sebagai sosok Kinal, sahabat baik dari Ve.

Seperti terhipnotis oleh kata-kata tersebut. Ve mulai melangkah menaiki anak tangga sambil ia terus mendengarkan suara ajakan di dalam ponselnya yang ia terus tempelkan di telinganya. Satu anak tangga. Dua. Tiga. Empat dan anak tangga seterunya ia pijak. Anak tangga menuju lantai Dua tempat dimana kamarnya terletak.

Ve berhenti di lekukan tangga. Dirinya menatap kosong ke arah sosok di depannya. Apakah Ia tak sadar dengan apa yang ia perbuat? Apakah jiwanya mulai dikuasai? Pandangan Ve kosong, wajahnya menatap tanpa ekspresi. Sosok gadis bergaun putih telah menjemputnya di tangga tersebut. Sosok itu tersenyum ke arah Ve. “Ayo main…”. Ve masih menurutinya. Ia melangkah mendekat ke arah sosok tersebut. Sosok bergaun putih itu berjingkrak-jingkrak kecil dengan menggeleparkan kedua bahunya, menggerakkan tangannya ke segala arah mengikuti goyangan tubuh sambil dirinya tertawa pelan, “Kikikikikikik…”.

5

“Kamu mau jadi temanku? Kamu mau kan temani aku? Aku kesepian” ucapnya berbisik pada Ve.

##

“Kita cari ke setiap ruangan” perintah Shanji ketika mereka berdua telah tiba di rumah Erza. Dengan bergegas mereka mencari keberadaan Ve. Sepanjang rumah tercium bau yang berubah-ubah. Kadang bau wangi menyerupai bau bunga segar terus berganti bau dupa dan kembali berubah menjadi bau busuk. Dan semua bau itu terus berputar secara bergiliran untuk bergantian mengisi aroma rumah.

Tak terlihat Ve di ruang bawah. Hanya saja terdapat sebuah gelas dan juga piring berisi beberapa potong Martabak yang salah satu potongannya terdapat satu gigitan. Erza yakin itu kakaknya yang memakan, tapi dimanahkah dia berada? Diatas ? Ya! Tempat itu belum terjamah keduanya. “Coba di atas” usul Erza dengan mengambil langkah duluan. Bau yang bercampur kian terasa makin menyengat saat keduanya berusaha menaiki anak tangga yang menuju ke lantai Dua. Dengan Shanji menyuruh Erza untuk berhati-hati. Diatas lantai tangga terdapat seperti bercak lumpur yang pekat.

Tibanya mereka di dalam kamar setelah mendobrak dengan paksa pintu kamar Ve yang terkunci dari dalam. Mereka dengan jelas melihat dua sosok disana. Yang jelas sosok Ve dan sosok perempuan bergaun putih yang tak lain adalah Sinka. Suasana mistis yang mencekam bertambah mencekam saat dilihatnya oleh mereka berdua keadaan Ve. Diatas ranjang tempat tidurnya, Ve terikat kedua kaki dan tangannya ke setiap sisi ranjang yang membuat dirinya terikat berada dalam membentuk huruf “X”. Sementara di atasnya terlihat sosok Sinka mengangkangi perut Ve dengan posisi siap menghunuskan sobekan dari lempengan besi tajam yang entah dari mana itu asalnya. Ve mulai berteriak berharap sebuah pertolongan dan berharap apa yang akan terjadi pada dirinya benar-benar tak akan pernah terjadi. “ Tolong aku Tuhan”. Teriak dan ucapan memohon Ve saat dirinya kembali tersadar saat melihat kedatangan Erza dan satu pria lain yang bernama Shanji.

Lempengan besi mulai turun dari posisi di atas menunjuk jatuhnya tepat di atas dada atau tempat dimana Jantung Ve terletak. Tapi, sebelum hal itu terjadi, dengan cepat Shanji berlari ke arah ranjang dan mengayunkan Liontin yang ia pegang untuk menangkis jatuhnya lempengan besi itu. Benar. Lempengan besi itu terlempar, begitu juga dengan Sinka. Sebenarnya ada apa dengan Liontin tersebut ? Shanji memandang Erza untuk segera membebaskan kakaknya dari ikatan yang membelenggu.

Sementara Erza mulai membuka ikatan tali pada Tangan dan kaki kakaknya. Shanji mendekat ke arah Sinka yang telah berdiri dengan terlihat mulai memperlihatkan gerakan seperti menari kecil sambil tertawa cekikikan. Shanji memperlihatkan Liontin tersebut ke arah Sinka sambil berjalan mendekat. Entah apa efeknya. Sinka mulai diam. Perlahan Sinka mulai mengambang dan mundur dengan wajah mengerikannya yang pucat dan kulit terlihat pecah-pecah bak tanah di musim kemarau.

“Hentikan, bangsat!” ucap Shanji dengan terus mendekat. Terlihat juga tubuh Sinka yang mulai kasat mata itu mengeluarkan asap. Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa Sinka terlihat mengeluarkan asap seperti panas dan ia takut. Apa yang ia takuti dari sebuah Liontin?

Perlu di ketahui. Liontin yang Shanji pegang, Liontin yang Erza pungut beberapa tempo lalu. Liontin tersebut adalah Liontin pemberian ayahnya sewaktu hidup dulu. Semasih mereka hidup dalam lingkup keluarga yang harmonis. Kenapa Liontin itu ia takuti? Oke. Apa kalian ingat tentang masalah yang menyangkut ayah Sinka menghabisi nyawa anak dan istrinya sendiri ? Ada kaitannya dengan ilmu hitam. Liontin yang Ayah Sinka berikan sebenarnya di dalamnya terdapat sebuah ikatan yang ayahnya lakukan bersama guru Spiritualnya. Orang yang menjerumuskan ayah Sinka dalam kegelapan. Dipermudah saja. Dalam Liontin tersebut telah dimasukkan sebuah mantra perjanjian. Sebuah perjanjian ghaib yang mengatakan bahwa Liontin itu akan menjadi satu dengan pemiliknya (Sinka).

Liontin itu akan memulai tugasnya jika sang pengikat janji utama (ayahnya) tentang Pesugihan yang ia lakukan. Dan ia tak bisa memenuhi persyaratan bulanan nya dengan harus memberi tumbal darah sapi yang sedang hamil. Entah itu sengaja tak memberi tumbal, terlewat atau memang benar-benar lupa. Maka Tuan nya (si makhluk Pesugihan yang memakan tumbal) akan merenggut jiwa sang pemelihara (ayahnya sinka).

Dengan masuknya makhluk itu ke dalam tubuhnya, ia akan mulai mencari tumbal lainnya yang sudah ada dalam perjanjian. Tumbal, akibatnya diharuskan meminum darah dari induk dan anaknya. Sinka dan ibu Sinka atau Istrinya sendiri. Tapi, hal itu tak akan bisa terjadi jika kedua tumbal tak memakai Liontin perjanjian. Sayangnya saat itu Sinka beserta ibunya selalu memakai Liontin tersebut. Terjadilah saat ayahnya lupa akan persyaratan itu, ia menjadi lepas kontrol, membabi buta dengan membunuh anak dan istrinya. Ia meminum darah mereka berdua. Setelahnya, sang ayah membunuh dirinya sendiri dan saat darah keluar si makhluk itu mulai menghisap darah dari sang pemeliharanya.

Liontin itu ada Dua. Satu dipasangkan ke Sinka dan satunya lagi pada Ibunya. Mereka berdua akan takut Jika Liontin tersebut di pegang oleh orang yang masih bernyawa. Kenapa? Karena dimensi mereka berbeda. Kekuatan hitam yang ada di dalam Liontin akan berefek pada mereka saat itu. Dan bisa mengakibatkan mereka terbakar. Mereka akan mati untuk kedua kalinya. Mati dalam artian jiwa mereka tak akan pernah bisa kembali seperti orang mati lainnya. Dan itu juga masalah utama mereka (Sinka dan Ibunya) masih berkeliaran di dunia dan mencari orang untuk dibunuh. Mereka kesepian, mereka pikir dengan membunuh mereka akan mendapat teman di alamnya, tapi kenyataannya tidak. Jiwa mereka terkurung di Liontin nya masing-masing. Dengan mengumpulkan kedua Liontin itu dan memusnahkannya, semua akan selesai. Karena kunci untuk membuka kebebasan baik dari Sinka dan Ibunya sendiri, tapi juga untuk orang-orang yang mendapat teror mematikan dari mereka berdua.

Dengan Geram Shanji mendekat ke arah Sinka. Langkahnya dipercepat, berlari dan menerjang tubuh Sinka. Sinka berteriak sangat keras. Teriakannya menggema di dalam kamar. Suaranya begitu mengganggu pendengaran Erza dan Ve. Shanji memeluknya erat dan menempelkan Liontin itu di dada Sinka dengan kuatnya. Sinka semakin menjerit kesakitan. Wajahnya berubah menjadi semakin menakutkan. Gigi runcingnya bertambah panjang. Terlihat juga otot-otot hitam di wajahnya yang menonjol dengan besarnya. Sekuat tenaga Shanji terus menempelkan Liontin tersebut. Tapi tak bertahan lama. Ketika sebuah lempengan besi terbang dari belakang Shanji dan mengenai tepat lengan kanan nya. Tulang tangannya yang putih terlihat akibat sobekan yang sangat lebar.

Sinka akhirnya bisa meloloskan diri, tapi dengan cepat ia berniat mengambil Liontin tersebut. Shanji mati matian merasakan rasa sakit pada lengannya akibat mempertahankan Liontin itu.

“CEPAT KEMARI BRENGSEK! BANTU AKU, BAJINGAN!!” teriak Shanji pada Erza.

Melihat Erza mendekat, Sinka mulai mencoba menggigit tangan Shanji agar genggaman terlepas dari Liontin itu. Saat Sinka berhasil menggigit tangan Shanji dengan gigi runcingnya. Shanji mencekik leher Sinka dengan sekuat tenaga, walau ia tau itu tak berarti apa-apa. Sinka menggigit dengan mulai menarik tangan Shanji dan, “CTARSSSS….”. Lengan Shanji terputus. Tapi sebelumnya, ia berhasil melemparkan Liontin itu ke ara Erza. Lengan Shanji terlempar ke tembok.

Erza yang telah berhasil mendapatkan Liontin itu mulai di serang oleh Sinka. “BUKA LIONTIN NYA!!!”. Sinka terbang dengan cepat ke arah Erza tapi ia langsung terpental saat Erza membuka Liontinnya dan memperlihatkan isinya pada Sinka. Hanya sebuah foto kecil dirinya, Sinka dan cermin kecil. Sinka terpental. Dengan cepat Shanji mempergunakan lempengan besi itu untuk menyambut kedatangan punggung Sinka. “AAAAAKKKHHH…”. Saat Sinka berteriak, Shanji gunakan waktunya memerintah Erza untuk melemparkan Liontinnya kembali ke Shanji dan setelahnya… Shanji masukan Liontin itu ke dalam mulut Sinka. Tangan Shanji masuk ke dalam kerongkongan Sinka. Masuk hingga perutnya, meninggalkan Liontin itu di dalamnya. Sinka berteriak dan tubuhnya mulai terbakar.

Shanji bersandar ke tembok dengan mengeluarkan nafas kelegaan.

“Tangan kamu harus segera diobati. Kita ke Rumah Sakit” ucap Ve cemas melihat pria di depannya yang baru ia lihat dan sama sekali belum kenal telah menyelamatkan hidupnya. Sambil dirinya memandang lengan kanan si pria yang telah hilang.

“Dek, cepet keluarin mobil!” ucap Ve pada adinya yang masih terlihat gemetar diposisi berdirinya. Sementara Shanji hanya memperhatikan Ve.

“I,,iya, kak”

“Aku tahu, pasti rasanya sakit banget. Tapi tolong tahan” ucap Ve sambil ingin memegang daerah putusnya lengan Shanji tapi tak jadi.

“Dua saudara itu…” tiba-tiba Shanji teringat akan Willy dan Gracia.

“Mobil udah siap, kak” ucap Erza.

##

Gracia terdiam sambil menutup mulutnya. Sekembalinya dari ruang CCTV dan sekarang ia telah berada di kamar pasien tempat Willy di rawat. Disana terlihat muncratan darah di tembok putih kamar dan genangan darah di lantai. Terdapat juga sosok yang sudah tak bernyawa tergeletak disana. Kakinya satu putus sampai pangkal. Kepala yang tertancap sebuah pisau daging yang besar. Apakah itu Willy ? Bukan! Itu seorang Suster yang biasa mengecek kondisi Willy. Sementara itu sendiri, Willy malah tak terlihat di ranjangnya. Lantas dimanahkah Willy ? Apa Willy yang melakukan?

Gracia membalikkan badan dan disana, di luar pintu terdapat seorang pria dengan bagian tubuh yang tak utuh. Bersama dengan dua sosok lainnya. Pria dan wanita. Itu Shanji dan si kakak beradik Erza dan Ve. Gracia kaget melihat kondisi Shanji yang tanpa adanya lengan kanannya.

“Kak Shanji,,, kenapa?” tanya Gracia dengan nada bergetar dan menangis akibat suasana yang semakin kacau.

“Dimana Willy?” tanya balik Shanji. Gracia menggeleng.

Tak berapa lama para Suster dan beberapa Dokter berdatangan ke tempat itu. Menanyakan apa yang telah terjadi. Suasana mendadak menjadi ramai akibat ditemukannya mayat seorang Suster dengan kondisi tak wajar. Terlihat orang-orang berkerumun dan mulai saling membicarakan tanggapan mereka tentang kejadian yang ada. Kamar tempat Willy di rawat mulai diberi garis kuning oleh Polisi dan juga Polisi mendapat tugas tambahan, yaitu menerimanya sebuah laporan seorang pasien yang menghilang dan pasien itu tepatnya yang dirawat di tempat TKP.

Di sudut ruangan lain. Bersama dengan orang-orang lainnya. Ve duduk, namun dengan tatapan kosong memandang sesuatu yang ia pegang dan pikirannya melayang. Secarik kertas berada di genggaman Ve. Ia menemukan kertas itu tergeletak pada dasbor mobilnya. Ia ingat betul dari mana kertas itu ia perolah. Dengan pikirannya, Ve mulai kembali mengingat-ingat di waktu malam minggu kemarin.

***

(Ve POV)

Malam ini, malam minggu. Aku beserta Dua temanku sedang berada di sebuah Perpustakaan yang terletak di tengah kota. Kami datang kesini untuk mencari buku. Berharap buku yang kami cari ada dan bisa membantu tugas kuliah yang membuat stres ini. Lama kami mencari buku itu, tapi tak kunjung mendapatkannya juga. Suasana yang tadinya lumayan ramai untuk kondisi sebuah gudang buku, kini mulai sepi dari pengunjung. Aku sampai tak sadar jika ada seorang Satpam yang menghampiri ku dan kedua temanku ini. Lantas dia bertanya pada kami,,,

“Perpustakaan sudah hampir tutup.” Kata satpam itu, “Kenapa kalian belum pulang?”

Saat itu aku dan dua temanku saling pandang sebelum menjawab, “Kami harus mengumpulkan tugas ini besok pagi jam 7 pak.” Jawab salah satu temanku.

“Ini tugas dari dosen Killer” kataku mengimbuhi.

“Maaf, bisakah kami berada di sini sejam lagi? Kami yakin kami akan menyelesaikannya sebentar lagi.”

“Baik, kalau begitu ada baiknya aku menemani kalian di sini sampai tugas kalian selesai,” jawab satpam tersebut,

“Hanya untuk berjaga-jaga” lanjutnya, “Aku akan berdiri di sini untuk memastikan kalian aman.”

Saat itu kami merasa sangat berterima kasih pada satpam tersebut. Setelah diberi kesempatan, akhirnya aku bisa menemukan buku yang kita cari dan dengan sisa waktu yang ada kita bisa mengerjakan tugas tanpa takut karena satpam tersebut berjaga di belakang kami duduk. Disebelah rak buku yang tinggi.

Hingga saat mereka akan menulis kesimpulan, tiba-tiba…

“Tok …”

Aku melakukan kesalahan dengan tak sengaja menjatuhkan pensil hingga ujungnya yang runcing patah. Ketika aku mulai membungkuk untuk mengambil pensil tersebut, dengan jelas aku melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Bulu kuduk ku berasa berdiri semua dengan kompaknya. Ruangan yang ku rasa panas tadinya, kini berasa menjadi dingin.

Dalam keadaan takut aku memungut pensilku dan mulai mengepak barang bawaanku. Sampai-sampai kedua temanku melihatku dengan tatapan bingung. Mungkin mereka bertanya, “ini anak ngapain beres-beres? Tugasnya kan belum kelar”. Aku mengerti maksud tatapan dari kedua temanku ini.

“Ayo kita pulang!” ucapku pada kedua temanku.

“Kenapa, kita kan belum selesai?”

Dengan melirik ke sebelah kanan sebentar, aku menjawab dengan nada sedikit bergetar, “Pokoknya kita pulang sekarang!” ucapku saat itu yang mulai terdapat kalimat memaksa.

“Tidak! Aku mau menyelesaikannya dulu.” tolak temanku.

Aku kembali duduk di kursiku tanpa mau memaksa mereka lebih lagi. Aku kembali duduk namun, aku tak mengeluarkan kembali pensil atau bukuku lagi. Aku hanya mengeluarkan ponselku dari dalam tas dan mulai mengetikan sesuatu. Sebuah kata berunsur menyuruh dari ku yang ku kirim pada mereka lewat pesan singkat. Tak lama, ponsel mereka berdua berbunyi. Mereka memandangku seolah-olah, “memang ada apa?”.

“Jatuhkan penamu, ambil, lalu lihat ke belakangmu. Kamu akan mengerti.” isi pesan singkatku pada mereka. Awalnya memang mereka kebingungan, dan akhirnya mereka mau melakukan apa yang aku perintahkan juga.

Saat kedua temanku mulai berakting tak sengaja menjatuhkan pensilnya dan membungkuk untuk mengambilnya. Aku sudah bersiap dengan langkahku untuk lari. Ini mungkin keputusan yang akan diambil. Pasti. Mereka berdua telah membungkuk. Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima, Enam, Tujuh, Delapan, Sembilan detik mereka bertahan di posisi membungkuknya. Aku yakin, mereka kaget saat mengetahui maksudku.

Dengan jelas Kaki sang satpam itu melayang tanpa sedikit pun menyentuh tanah. Dan yang lebih membingungkan adalah pas melihatnya dengan membungkuk bagian bawah akan terlihat bukan mengenakan celana hitam panjang dengan sepatu kulit yang keras, melainkan dari bawah berubah menjadi baju terusan yang panjang dan berwarna putih.

Saat mereka kembali duduk di posisi semula, mereka diam dan saling pandang. Wajah mereka terlihat sangat tegang, bahkan saat mereka mencoba memasukkan peralatan menulis dan buku mereka pun tak karuan. Tangannya terlihat jelas gemetar. Begitu juga dengan aku. Apalagi posisi ku malah yang terkena sial. Aku duduk dengan arah yang berhadapan dengan tempat satpam itu berdiri. Aku hendak berteriak karena ketakutan, namun aku dan kedua temanku menutup erat mulut dengan mengeratkan kedua rahang kami sekuat-kuatnya.

“Kamu mau pulang? Bukannya tugasmu belum selesai?” Suara berat dari sang satpam itu membuatku semakin ngeri.

“Ya…ya pak, tapi saya harus pulang.. sudah malam” ucapku berdiri dan di susul kedua temanku.

Saat aku berpapasan dengannya, aku ditahan sebentar, “tunggu dulu”. Aku berhenti dengan keringat dingin yang aku rasa mulai banyak yang keluar. Satpam itu merogoh saku bajunya dan menyerahkan gulungan kertas kecil padaku. Gulungan semacam yang sering ada di dalam arisan.

Dengan tangan gemetar ku terima gulungan itu dan bergegas pergi meninggalkannya dengan cepat. Saat di dalam mobil ku buka gulungan itu. Tertulis sebuah nama di kertas kecil itu. Nama yang membuatku seakan terkena asma. Hanya Lima huruf tapi sungguh membuat pikiranku membayangkan hal yang menyeramkan. Tertulis di kertas itu dengan huruf kapital, “SINKA”.

(POV End)

Saat Ve kembali tersadar dari lamunannya. Ia remas kertas kecil itu dan ia buang pada tempat sampah sampingnya. Saat itu dirinya duduk disalah satu bangku panjang di dalam salah satu lorong. Terlihat banyak orang yang berlalu lalang. Ve tatap tiap orang yang lewat. Mereka seperti aneh. Pikir Ve. Terlihat tiap orang yang berlalu lalang selalu tersenyum dan lagi tatapan mereka kosong. Di depan Ve terdapat satu orang yang tengah duduk sambil memperhatikan dirinya. Orang itu terus menerus menatap Ve sambil memberikan senyum nya. Ve yang tak mau di cap sebagai orang sombong pun akhirnya membalas juga senyuman orang itu, tapi orang itu tetap tersenyum pada dirinya. Ve memalingkan wajahnya.

“Ini orang kok malah bikin aku merinding ya” batin Ve mengomentari orang di depannya.

Ve yang tak tahan dengan tatapan orang itu pun beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh. Baru Tiga langkah ia berikan, Ve tersandung sesuatu. Dengan menggerutu Ve memijat sedikit kakinya yang sedikit sakit. “Ada wanita jatuh kok ga ada yang tolongin”. Ve menengok ke arah orang-orang di belakang nya yang terlihat tadi lalu lalang dan duduk di bangku. Tapi hal mengejutkan, namun sekaligus membuat bingung. Ramainya orang-orang tadi kini semua sirna. Di belakang Ve tak ada orang Satu pun. Bahan sepanjang lorong. Senyum yang mengembang. Tatapan kosong. Wajah yang pucat. Apakah mereka semua tadi arwah ? Bulu kuduk Ve kembali berdiri. Terlihat di depannya sekarang sebuah lorong yang sepi dan menggelap diujungnya.

Ve memandang dengan lekat lorong tersebut. Dirinya berpikir. Apakah ia sudah masuk dimensi lain ?

“Apakah ini yang dimaksud pria itu ? Teman nya Erza” ucap Ve pelan.

Ucapannya  berhenti. Dengan samar-samar ia tadi merasa seperti ada seseorang di ujung lorong sana. Ve terus menerka sambil melihat lurus lorong di depannya.

“Jelas tadi aku melihatnya”

Ve terus memperhatikan, hingga pintu diujung Lorong terlihat bergerak. Ada yang keluar dari dalamnya. Tapi siapa ?

6

Seorang pria dengan kepalanya yang terdapat perban keluar dari pintu diujung lorong. Pria itu berjalan mendekat ke arah Ve.

“Kau bukan hantu kan?” tanya si pria.

“Pertanyaan macam apa itu ? Aku dikira hantu? Yang benar saja” dalam benak Ve, ia menggumal.

“Kau mengira aku hantu? Coba pegang dan rasakan” ucap Ve sambil menyodorkan tangannya agar si pria mengecek denyut nadinya.

“Kau siapa? Dan kenapa bisa ada disini”

“Hei, ini Rumah Sakit. Ini tempat umum jadi ada apa dengan pertanyaanmu itu?”

“Jadi kau tak tahu apa pura-pura tak mengetahuinya? Ini memang Rumah Sakit, tapi apakah kau sadar?”. Ucap si pria dan Ve menatapnya. “Ini bukanlah dunia kita. Kita berada di dimensi lain” lanjutnya.

“Dimensi lain? Hah, benarkan apa ku kata. Aku telah berhasil masuk ke dalamnya yang seperti teman adikku katakan. Sesuai perkataan Shanji” batin Ve.

“Willy…” ucap si pria membuyarkan lamunan Ve sambil dirinya mengulurkan tangan untuk membantu Ve berdiri.

Ve menyambut uluran tangannya. “Ah iya, makasih. Aku Ve”

“Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau bisa ada di dalam sini”

“Aku punya sebuah tujuan untuk mengakhiri sesuatu”

Ve menceritakan inti tujuan berada di dalam dimensi lain. Bahwa, ia di tuntun oleh Shanji untuk masuk ke dalamnya. Ia harus menemukan sosok wanita, lebih tepatnya menemukan arwah dari ibu Sinka untuk memberinya sebuah abu bakaran dari tubuh Sinka padanya. Ve berbicara, bahwa dengan cara itu ia dan adiknya bisa terbebas dari teror menakutkan yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya dan juga nyawa adiknya.

Dari obrolan kecil itu akhirnya Ve juga mengetahui sosok Willy. Dia adalah pasien hilang di Rumah Sakit. Pasien hilang yang berada di kamar dimana seorang Suster meninggal dengan tak wajar. Willy bercerita bahwa dirinya tertidur di atas ranjangnya sebelum ia melihat dengan jelas di depannya Suster yang biasa mengecek kondisi kesehatannya mulai bertingkah aneh dan melakukan hal di luar akal sehat. Ia melihat sang Suster mengeluarkan pisau daging dari tasnya dan mulai memotong sendiri salah satu kakinya dan di akhiri dengan membelah kepalanya sendiri hingga tewas. Lalu pandangan Willy mulai menghitam dan saat ia sadar, suasana sekeliling terasa sangat berbeda. Beberapa saat ia baru menyadari bahwa itu bukanlah dunianya, melainkan dunia lain yang belum pernah ia masuki sebelumnya.

Setelah penjelasan singkat itu. Keduanya berjalan menyelusuri lorong demi lorong, saling membantu menemukan sosok wanita paruh baya yang disebut ibu dari Sinka untuk mengakhiri hal buruk yang terjadi.

Selama perjalanan. Mereka selalu berpapasan dengan arwah yang berlalu lalang di setiap sudut Rumah Sakit. Para arwah berjalan biasa seolah-olah menggambarkan aktivitas biasa di Rumah Sakit dunia biasa.

Ruang demi ruang mereka bersua selusuri hingga apa yang mereka cari belum juga menemukannya. Sampai tibanya mereka pada salah satu kamar di bagian belakang. Willy yang sudah tau akan rupa dari wajah ibu Sinka, pun melihatnya. Sosok wanita itu duduk terdiam diatas ranjang rumah sakit. Dengan perlahan Willy menyuruh Ve mendekat dengan hati-hati. Mereka berjalan mengitari ranjang tempat sosok wanita tersebut duduk terdiam. Sosok itu terus berdiam.

“Permisi, tante. Boleh saya ikut duduk diatas ranjang?” tanya Ve seolah-olah itu adalah orang biasa.

Sosok itu diam tak merespons.

“Saya kenal dengan anak bernama Sinka” wanita tersebut mulai menatap Ve dengan dinginnya. Sebenarnya Ve sangat takut dengan situasi saat itu.

“Sinka adalah anak yang baik. Tante pasti sangat tau tentang hal ini, karena dia anak tante. Apakah tante tau, sekarang dia sudah kembali ke tepatnya” dia menatap Ve tajam. Sementara Ve menelan ludah.

“Dia berharap, tante mau menghentikan semuanya”

“Semua aku lakukan hanya untuk anak ku. Dia kesepian” ucap si ibu.

Ternyata pemikiran Ve maupun Willy salah. Di dunianya ternyata sosok wanita mengerikan itu sangat kalem. Masih sama pembawaannya semasa masih hidup dulu. Ia terlihat tenang. Sangat berbeda dengan kondisi saat sosok itu menakutinya di dunia manusia.

“Apa yang tante lakukan itu salah” ucap Ve. Ibu itu mendekatkan wajahnya. “Ma…maaf tante. Cara tante melakukan hal supaya Sinka tak kesepian lagi itu salah” ucap Ve gelagapan.

“Apa yang aku salahkan?”

“Yang Sinka butuhkan bukanlah dengan cara seperti ini. Ia hanya butuh disempurnakan jiwanya” ucap Ve.

“Apa tante tak mau berkumpul lagi bersama Sinka. Berkumpul dalam tawa?” Lanjut Ve.

“Bagaimana caranya? Jiwa kita terpisah”

“Aku tahu caranya” sela Willy.

“Pergilah dengan tenang dan akan kubantu tante”

“Apa aku akan bisa berkumpul dengan anakku lagi. Apakah bisa?”

“Percayalah…”

Sungguh obrolan yang sangat tenang terjadi. Kemudian hal yang tak di duga di perlihatkan. Ibu Sinka mulai melepaskan sebuah Liontin yang menggantung dilehernya dan menyerahkannya pada Ve.

“Tolong bantu saya mewujudkan hal itu” ucapnya.

Sosok wanita tersebut beranjak dari atas ranjang dan mulai berjalan keluar meninggalkan Ve dan Willy sambil dirinya membawa payung hitam.

“Tolong bantu saya untuk bisa memeluk anakku lagi” ucapnya sambil terus menjauh.

7

“Pasti” ucap Ve dan Willy menatap perginya sosok ibu Sinka.

Ditangan Ve kini telah tergenggam sebuah Liontin ke dua. Willy mendekati Ve dan tak lama kemudian pandangan mereka mulai kabur…

##

Saat Ve tersadar. Ve melihat adiknya, Shanji dan Gracia. Di atas ranjang pasien juga terlihat sosok Willy yang sedang terpejam matanya. Ve membuka genggaman tangannya dan melihat Liontin yang diberikan oleh sosok ibu Sinka itu.

Dengan ditemukannya kembali Willy. Mereka semua mengunjungi sebuah Villa di atas bukit. Di tangan Willy membawa kotak putih berisikan Liontin dan debu dari tubuh Sinka. Mereka menuju halaman belakang Villa tersebut. Setelah kedalaman dirasa cukup. Willy mulai meletakan kotak putih itu ke dalamnya. Tanah mulai digunakan untuk menutupnya. Mengubur sebuah hawa kesedihan yang mengikutinya.

Tiba-tiba hembusan angin yang santai menerpa tubuh mereka semua. Hawa sejuk penuh dengan ketenangan. Dari kejauhan terlihat bayang-bayang Sinka dan ibunya melambai ke arah mereka semua dengan tersenyum manis. “Terima Kasih”. Sinka dan ibunya saling bergandengan tangan. Kedua sosok itu berbalik badan dan mulai berjalan menghilang.

##*

Di dalam kegelapan matanya. Willy merasakan tubuhnya di goyang-goyangkan dari luar. Hingga ia tersadar dari tidurnya. Tepat di depannya, sosok orang yang membangunkannya tersenyum ke arah Willy. Ia melihat sosok Anin tengah menggerutu setelah membangunkannya. Willy sempat heran dengan apa yang terjadi. Tak jauh dari Anin. Terdapat juga Shani, Gracia dan Ido.

“Dasar kebo! Kakak, kenapa tidurnya susah dibangunin sih? Hari ini kan kita mau liat-liat Villa yang mau di beli sama ayah” ucap Anin. Willy masih diam dalam bingungnya.

“Malah bengong. Buruan mandi, ayah sama ibu udah nunggu kita di bawah loh”

“Ini beneran kalian? Kalian kok masih hidup” ucap Willy.

Shani datang menghampiri Willy dengan tangan yang dilingkarkan pada dadanya.

“Jadi kamu berharap kita mati?” ucap Shani pada Willy.

“Udah bangun masih aja ngigo. Buruan mandi” lanjut Shani.

“Mandi, kak” seru Gracia.

“Willy mau mandi seratus kali sehari juga tetap gantengan gue” ucap Ido bercanda.

Willy masih terdiam memikirkannya. Apakah yang aku alami itu nyata? Kenapa mereka ada disini. Di depanku dengan masih bisa bercanda. Mungkinkah yang aku alami hanya sebuah gambaran kejadian masa depan yang akan terjadi. Aku dibawa untuk melihat hal yang buruk lewat mimpi dalam tidur? Kalaupun itu benar. Aku harus mencegah keluargaku untuk membeli Villa itu. Aku tak mau gambaran kejadian yang aku alami di dalam mimpi tak akan pernah terjadi. Dengan apapun caranya, akan aku cegah keluargaku. Karena aku sayang dengan keluarga ini.

“Mungkin ini akibat aku tidur menjelang tengah malam tanpa membaca doa terlebih dahulu. Tapi dengan ini aku berterima kasih tuhan. Terima kasih telah mengingatkanku melalui sebuah mimpi malam…”

“Mimpi dalam menjelang tengah malam… “

“Sebuah mimpi yang akan aku namakan, Minutes To Midnight

Ending: My Chemical Romance – Welcome To The Black Parade

 

-The End-

 

8

Terima kasih buat yang sudah mau mengikuti MtM dari pertama. Maaf jika Ending terkesan dipaksakan. Dan maaf jika kalau masih terdapat banyak kesalahan. Baik dari kalimat, tanda baca dan banyak Typo. Dengan update’an kali ini berarti MtM telah habis pada titik akhirnya. Saran dan kritik sangat diperlukan.

 

***

 

Wali Murid : Shanji bukan Shanju

Author/di buat oleh : @ShaNjianto

Iklan

8 tanggapan untuk “Minutes to Midnight : Waiting For The End

  1. Ending yang tidak terduga sebelumnya, ternyata dia masih diingatkan melalui sebuah mimpi…. ☺

    Btw bicara tentang mimpi, kok kayaknya cerita ‘kita’ saling berkaitan satu sama lain, walaupun emang beda sih 😅

    Tapi pokoknya mangstab djiwa deh buat Nji(gapake ‘ng’) 😂😂😂👍

    Suka

  2. Congratulation Bang Nji (y) Story-nya dari 1-3 keren-keren semua walaupun orangnya belum beken :v *becanda sumpah*

    Abis ini buat story apa bang? “Berakit rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Kalo lu sakit lebih dulu, ya mati dah duluan”

    Salah-salah. Memulai sesuatu harus perlahan ya kan Bang? Kayak pepatah, “Sedikit demi sedikit lama-lama jadi sakit”. Mantap B Nji (y)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s