Pengagum Rahasia 2, Part 30

“Eng…aku ke kelas dulu ya,”

“Tunggu sebentar Gre,” ucap Deva sambil memegang pundak Gracia

Lantas Gracia pun menoleh.

“Gw minta kontak Line lu dong,”

“Wah, sekarang kamu main Line dev?”

“Ya…Karena keliatannya BBM udah gak jaman,”

Gracia mengkerutkan pipinya. “Mana sini Hp kamu,”

Deva memberikan Hpnya.

Lalu Gracia mulai mengotak-atik Handphone Deva.

“Nih…,” Gracia mengembalikannya

“Oh udah,”

“Punya kontak Line dikit banget, cuma ada lima orang, plus kontak aku jadi ada enam,”

“Mau gimana lagi, orang gw itu gak suka chattingan,”

“Hem…Kalau gitu aku ke kelas dulu ya dev,” Deva hanya mengangguk menanggapinya

“Gw jadi inget, besok kan harus check-up lagi ke dokter,” pikir Deva

“Gw minta surat izin dulu deh ke Tu,”

Deva lekas pergi ke ruangan tata usaha untuk meminta surat izin.

*

*

“Ah Sinka,”

“Hmph! Mau ngapain kesini!?” balasnya ketus

“Mau minta surat izin,”

“Kamu sendiri mau ngapain?” tanya Deva balik

“Nih, mau minta ini…,” Jawab Sinka sambil menunjukan kertas di tangannya

“Absen kelas ya,” ucap Deva

“Eh bukannya tadi kamu barengan sama Lidya, mana tuh anak?” tambahnya

“Katanya dia lupa ngambil barangnya yang ketinggalan di ruangan OSIS. Hmm…Padahal aku tau sebenarnya dia cuma nyari alesan biar gak nganterin aku kesini,” Jelas Sinka

“Ah-Hahaha…,” Deva tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya

“Terimakasih buk!”

“Kalau ada apa-apa tinggal telepon saja saya,”

“Baik buk,”

            (Percakapan yang terdengar dari dalam ruangan Tu)

Tak lama kemudian seseorang keluar dari pintu itu.

“Maaf, Permisi mau lewat,”

“Eh iya-iya,” ucap Sinka

“Ah-Hai Deva,”

“Hueee!” Deva terkejut saat melihat gadis yang keluar dari ruangan TU tersebut

“Ng-ngapain disini!?” ucap Deva yang tergagap

“Aku…minta ini…formulir pendaftaran untuk masuk ke SMA 48,”

“Ah…?” Deva sedikit kebingungan

“Bukannya dia itu cewek yang ada di Event kemarin?” batin Sinka

“Kenapa dev? Kok ngeliatinnya sampai kayak gitu?” tanya gadis itu

“Eh…G-Gak kenapa-kenapa, cuma udah lama aku gak liat kamu, Shani,” ucap Deva

“Eng…yah, kamu jadi sedikit lebih tinggi,” tambahnya

“Loh, waktu kemarin kan kita ketemuan Dev,”

“Eh?”

“Emm…beneran?” tanya Deva lagi

“Masa aku bohong sama kamu,” ucap Shani lagi

“Ah…,” Deva sedari tadi hanya menggaruk kepalanya dan terlihat kebingungan

“Ah-Eh Deva, kita udah terlambat 15 menit, ayo cepetan ke kelas,” ucap Sinka tiba-tiba menarik tangan Deva

“Eh tapi aku belum minta…,”

“Udah nanti aja! Ayo cepet!” Sinka seperti memaksa

“S-Sorry ya,” ucap Sinka

Shani tersenyum sambil mengangguk.

Deva pun dibawa pergi oleh Sinka.

“S-Sinka…Jangan tarik-tarik,”

“Dari gelagatnya tadi, keliatannya dia belum tau kalau Deva lagi lupa ingatan,” batinnya

“Aku gak boleh biarin dia tau soal penyakit Deva sekarang,”

“Sinka,” panggilnya lagi

“Ah! M-Maaf dev,” Sinka melepas tangan Deva

“Aku belum minta surat izin sin,” ucap Deva lagi

“I-ya…nanti deh aku anterin kamu lagi kesana,” timbalnya

“Tapi sin,”

“Kalau terlambat masuk kelas, bisa-bisa kita di usir dev. Kamu tau kan sekarang pelajaran guru baru itu,”

“Oh…,” Deva tampak baru menyadarinya

“Kalau gitu ayo ke kelas,” Deva memegang erat tangan Sinka

*DEG!

            Suara jantung yang berdegup keras.

“Eng…I-iya dev,” balas Sinka

~oOo~

Jam pulang sekolah pun tiba, Murid-murid mulai berhamburan keluar dari kelasnya. Di samping itu, terlihat sepasang murid tengah menunggu sesuatu di depan ruangan Tata usaha.

“Maaf ya dev, gara-gara aku ruangan Tu nya keburu tutup,”

“Ah…Gak apa-apa kok,”

“Tapi kalau besok kamu gak akan ke sekolah, bakal aku kasih tau ke piket kok,”

“Eh…Makasih ya sin,”

Deva berhenti bersandar di tembok itu.

“Jadi kita mau berangkat kapan?” tanya Deva

“Kita tunggu Shania dulu,”

*Tet!

            Sinka membuka Handphonenya.

“Wah, gak rusak nih?”

“Apanya?” ucap Sinka balik bertanya

“Biasanya kan Hp kamu rusak sin,”

“Ahaha enggak kok, baru aja di servis lagi minggu kemarin,”

“Oh…,”

“Eng…Kenapa kamu bilang kalau Hp aku tuh rusak lagi dev?”

“Hah?” Deva melirik

“Aku udah tau sifat kamu sin, kamu itu cewek tapi gak bisa jaga barang yang bagus. Contohnya Hp kamu, udah sering rusak kan dari dulu?”

“Hihi…,” Sinka hanya tertawa kecil

“Eh?”

“Kenapa dev?”

“Tumben…biasanya kamu bakalan nyangkal kata-kata aku,”

“Haha…Emang bener kok, aku ini orangnya jorok dev,”

“Tapi meskipun kenyataannya gitu, biasanya kamu bakalan nyangkal kata-kata aku sin. Contohnya kayak tadi, kamu gak terima kalau di bilang suka ngabisin Nasi di majikom,”

“Ek…,” Sinka menahan malu

“Ah lupakan, kenapa juga kita harus mikirin hal itu,” ucap Deva

“Oh…atau mungkin lagi ada sesuatu nih…,” ucap Deva lagi, alisnya terlihat naik turun

“Ish gak dev!” ucap Sinka sembari mencubit Deva

“Wahahaha!”

“Aku…cuma…,” timbal Sinka lagi

“Eh…,” Deva terdiam sembari menatap ke arah Sinka

Pipinya memerah dan senyuman terpancar dari wajah Sinka.

*Dert!

“Eh ada Line dari Shania,” ucap Sinka

“Oh?” Pandangan mereka berdua langsung tertuju ke arah Hp Sinka

“apa katanya?” tanya Deva

“HAH!” Sinka terlihat kaget ketika membacanya

“K-kenapa sin!?”

“Geeeeezz! Kenapa dia tiba-tiba gak bisa ikut sih! Pake nyuruh berduaan sama Deva lagi!”

“Dia pasti udah ngerencanain semua ini!” gerutunya

“S-Sinka?” panggilnya

“Ah…,” Sinka tersadar dari lamunannya.

“Shania gak bisa dateng dev,”

“Loh? Kenapa!?”

“Katanya dia harus jaga rumah, keluarganya lagi pada pergi,” Jelasnya

“Jadi sekarang mau gimana?” tanya Deva lagi

“umm,” Sinka menundukan kepalanya

*Dert!

            Sebuah pesan Line tertera di layar Handphone Sinka.

*Ganbatte!

“Ek!” Sinka sepeti menahan tertawa

“Kalau di pikir-pikir…aku gak boleh nyia-nyain kesempatan ini,”

“Kayaknya Shania udah berusaha keras untuk bikin rencana ini,”

~SINKA,” bisiknya

“GAH! Geli Deva!” ucap Sinka sambil memukul Deva

“Aduh! Sakit lah!”

“Ngapain sih pake bisik-bisik segala!”

“Habis aku daritadi manggil gak di waro terus,”

“Eng…,” Sinka mengusap telinganya

Wajahnya tampak memerah.

“Kita berangkat dev,”

“Eh…Sekarang?”

“Iya,” Sinka berjalan lebih dulu

“Oh…Oke,”

~oOo~

Terik matahari begitu menyengat, arloji menunjukan pukul 15.00 namun matahari masih sangat terang seperti tepat berada di atas kepala.

“Mana nih taksinya, kita udah jalan hampir 15 menitan,”

*TAP!

            Sinka menghentikan langkahnya.

“Eh? Kenapa sin?” ucap Deva

“Ahaha…gak kenapa-kenapa dev,” timbalnya

Pandangan Deva kini tertuju ke arah kaki Sinka yang tampak gemetar itu.

“Masa iya kamu gak kuat jalan lagi sin?”

“A-Aku masih kuat dev! Tapi…,”

*Stratch!

“Aaahhh!” Sinka merintih lalu terjatuh ketika melangkah

“Loh Sin!?” Deva lekas menghampiri Sinka

*

*

Mereka berteduh di dekat rumah makan itu.

“Eh…Kenapa kamu gak pake kaos kaki sin, jadinya lecet gini kan,” ucap Deva

“Berisik! Jangan sok ceramahin aku dev, L-Lagipula tadi pagi aku buru-buru, jadi gak sempet pake kaos kaki,” ucapnya dengan wajah yang memerah

“Lecetnya parah banget lagi,” *FUUUH!

            Deva meniupi kaki Sinka.

“Aaaaahhhh…perih devh,”

“Hem…Kalau gitu…,”

*HEP!

*

*

“Kenapa jadi gini!”

“Kalau di pikir-pikir…aku udah lama mengharapkan kejadian ini,”

“Pegangan yang kuat ya, tapi leher aku jangan di cekik juga,”

“I-iya,” balasnya

Deva menggendong Sinka lalu mulai berjalan.

“Kita harus cepet-cepet cari taksi Dev,”

“Yap,”

“Karena aku gak tau sampai kapan kamu bakalan gendong aku kayak gini,”

“Santai aja kali sin,”

“Meskipun kamu itu gendut, tapi aku masih kuat kok,” tambahnya

“Eng…umm,” Sinka hanya menyembunyikan wajahnya di balik punggung Deva

“Loh, tumben gak ngamuk udah disebut gendut,”

“Aku emang gendut kok dev,” Sinka semakin erat memeluk Deva

“Hoi-hoi…leher aku jangan di cekik sin,”

“Gak akan kok, hihi…,”

“Rok kamu aku naikin dikit ya, panjang sih roknya,”

“em,” Sinka mengangguk

~oOo~

“Aduh perihh…,”

*Fuuuuh…

“Manja banget sih, ini juga lagi di tiupin kali sin,”

“Aku bersyukur kita udah dapet taksi, tapi kenapa jalanannya macet gini sih!” gerutubnya

*Fuuuuh…

“Ahk! P-Perih!”

“Harusnya tadi pas di jalan kita kasih air dulu luka lecetnya,”

“Hiih enggak! Nanti malah tambah perih Dev!”

“Yee…kan kita udah di jalanan sekitar 20 menitan, jelas banyak debu di jalanan sin,”

“Luka lecetnya nanti bisa kena debu,” Jelas Deva lagi

“I-yaa…nanti aja deh di rumah,”

*Grab!

            Deva melepas tasnya lalu menyimpannya di dekat pintu taksi itu.

“Noh…Tiduran sana, biar kaki kamu bisa selonjoran,”

“em,” Sinka hanya mengagguk lalu menurutuinya

Lantas Sinka pun kini berbaring di kursi taksi itu, sementara kakinya masih berada di atas paha Deva.

“Buset putih amat, sering mandi susu yah?”

*Plak!

“E-Eh!” Deva sedikit menghindar dan alhasil pukulan tadi meleset ke arah paha Deva

“Jangat genit!”

“I-iya cuma nanya kali, untung mukulnya gak kena tangan,”

Sinka kembali berbaring.

“Eng…Masih perih ya?”

“Nggak,” jawabnya singkat

“Kenapa kaki kamu masih gemeteran gini?”

“M…Mungkin cuma perasaan kamu aja kali dev,”

“Perasaan darimananya coba,”

            Deva tampak mengusap telapak kaki Sinka.

“Gah! Geli devh!”

“Ahahaha! Bisa geli juga ternyata,”

“Ish! Aku tendang yah! Kaki aku kenapa malah di kelitikin segala!”

“Eh-eh jangan! Tadi cuma ngetes aja kok,”

“Aku pijet aja deh ya,” Deva kemudian memijat kaki Sinka

“Ak-AH…Eng…,” Wajah Sinka tampak memerah

Jantungnya berdegup keras. Ia terlihat menyentuh dadanya tersebut.

“Jangan keras-keras dev,”

“Iya,” balas Deva singkat

Tanpa terasa mereka telah sampai tepat di pertigaan yang tidak jauh dari rumah Sinka. Mereka pun turun disana, tepatnya disebuah pos satpam dekat dengan pohon rindang.

“Naik,”

“A-Aku…Kaki aku udah gak sakit dev,”

“He? Beneran?”

“Iya,” balasnya lagi

Sinka mulai berdiri dengan perlahan-lahan.

“Pas sampai rumah, jangan lupa lukanya dikasih betadine ya,” ujar Deva

“um,” Sinka mengangguk. “Aku tau kok,” ucapnya

~oOo~

“Aku pulang! Kak!” panggilnya

“Eh jangan masuk dulu, ini sepatu kamu mau disimpen dimana sin?”

“Taro aja di teras dev, nanti aku simpen di rak sepatu selesai kita latihan,”

“Ah…iya deh,”

Mereka mulai masuk ke dalam rumah.

*Hesp!

“Wanginya masih sama kayak waktu itu,”

“Kamu mengharapkan bau apa di rumah aku dev?” tanya Sinka sembari menyimpan tasnya di sofa

“Huh…cape juga,” ucap Deva setelah bersandar di sofa

“Aku ambilin air dulu ya,” ucap Sinka

Sementara Sinka mengambil air, Deva tampak bersandar sambil memainkan Handphonenya.

“Shit! Gw lupa! Video dari si Ihza belum gw hide!”

“Ah kenapa dev?”

“WHAA!” Deva terkejut

“S-Sinka…bisa gak ngagetin kayak gitu?”

“Siapa juga yang ngagetin, nih air…,” ucapnya sembari memberikan segelas air itu

“Thankyou ya,”

Sinka duduk disamping Deva.

“Kita ihstirahat dulu ya, aku masih capek nih,”

“Ah…Luka yang tadi udah di obatin belum?”

“Eng…nanti aja deh, hehe…,”

“Nanti-nanti…udah sekarang aja!”

“Eh! T-Tapi deva,”

“Mana sini betadinnya? Biar aku yang obatin,”

“um,” Sinka tampak malu. “Ada di lemari itu,” tunjuk Sinka

“Kapasnya juga ada kan?” ucap Deva lagi

Sinka hanya mengangguk.

Lantas Deva pun langsung mengambil betadine tersebut.

“Mana sini kakinya,”

“Eng…,” Wajah Sinka mulai memerah

Sedikit demi sedikit Deva meneteskannya ke luka di kaki Sinka.

“A-AH! Perih dev…,”

“Katanya udah gak sakit, gimana sih,”

“Eng…T-Tadi emang gak sakit,”

“Kalau aku tau, tadi bakalan aku gendong lagi kamu sin,”

“G-Gah! Gak perlu dev! Lagipula…AHH!” Sinka merintih

“S-Sorry…Perih ya?” tanya Deva

“Eng…cuma dingin sih,”

“Huft…dikirain perih,” Deva membersihkan luka itu dengan kapas

“Ngomong-ngomong kakak kamu kemana?”

“Masih kuliah dev,”

“Oh…masih lama pulangnya?”

“Gak tau, lagipula dia itu pulangnya suka gak pasti dan…AHKK! D-DEVA DINGIN!” Sinka tiba-tiba memeluk kepala Deva

“WAH! S-Sinka aku gak bisa liat! Kepala aku…….di selangkangan!”

“D-Dingin devh!”

*DAK!

            Suara seperti benda jatuh terdengar jelas di dekat mereka.

“Kalian…sebenarnya kalian lagi ngapain?”

“GAH! Kak Naomi!” ucap Sinka ketika melihat orang itu

“Sinka lepasin!” teriak Deva

“EH! M-Maaf dev!” ucap Sinka lalu melepaskan tangannya dari kepala Deva

Kini Sinka menatap ke arah Naomi dengan wajah yang memerah dan tampak malu. Sedangkan Deva terlihat seperti sedang memijat-mijat lehernya itu.

“Sampai sakit leher aku sin,” ucap Deva

“Kalian ini…baru jadian?” ucap Naomi

“Eh? Kak Naomi kapan datang?” tanya Deva

“Ak-Kita gak jadian kak!” ucap Sinka membantah

“Terus…kalian lagi ngapain, tadi?” ucap Naomi memperjelas kata-katanya

“Tadi itu…anu…eng…,”

“Kaki dia lecet, jadi deva obatin,” Jelas Deva

“Oh…,” Naomi menyimpan tasnya tersebut lalu menghampiri mereka

“Ekhem…ngomong-ngomong…kalian mau coba?” ucap Naomi sambil memberikan sesuatu pada Deva

“Eh? EEEEEHHHHH!” Deva kaget bukan kepalang ketika melihat benda di tangan Naomi

“Kak-K…K-Kakak! Bukannya itu…,”

“Udah jangan sembunyi-sembunyi, kalau kalian mau coba ya silahkan, nih kakak kasih pengaman,” ucap Naomi

“A-Apaan kak! Kita gak ngapa-ngapain!” bantah Sinka lagi

“Terlebih lagi…darimana kakak dapet benda yang kayak Gituan!” tambah Sinka

“Oh ini? Kebetulan tadi kakak main ke tempat kerja temen kakak,”

“Yah…dia kan suster di puskesmas gitu, terus dia kasih kakak ini,” Jelas Naomi

“Ek! P-pokoknya jangan liatin benda yang kayak gitu ke kita kak! K-Kita ini masih kelas 1 SMA, iya kan dev?”

“Dev?” panggil Sinka lagi

Deva terlihat memandang ke arah benda di tangan Naomi.

“Sejujurnya…Gw pertamakalinya liat benda Ini secara langsung,” ucap Deva

“BWAAH! Ish Deva!” Sinka mencekik leher Deva dengan memeluknya dari belakang

“Wah Sin! Ini masih pegel lehernya!” ucap Deva sambil berusaha melepas tangan Sinka

“Ahahaha…kalian ini, mesra banget deh,” ucap Naomi

Wajah Sinka memerah.

“Kakak bisa gak ganggu kita? Udah ganti baju aja sana,”

“Hemm…iya deh, Nih dev…,” Naomi melempar benda itu ke arah Deva

“Weeeee! Kenapa di kasihin ke Deva!” ucap Deva

“Lagipula kakak gak butuh benda yang gituan,” ucap Naomi

“HAH! B-Berarti kakak gak perlu pake pengaman!? K-Kenapa kakak berani ngelakuin hal itu sih!”

*Duk!

“ADUH!” Naomi tampaknya tersandung dan jatuh

“Apaan sih! Mana mungkin kakak ngelakuin hal itu sin! Kakak ini masih suci tau!? Kakak cuma gak mau bawa benda gituan ke kampus!” jelasnya lagi

“Huh…ngomongnya gak jelas sih,” ucap Sinka

“T-tapi kenapa dikasihin ke deva sih kak!” ucap Deva

“Siapa tau kamu mau pake, mungkin sama Sinka? Oh atau mungkin sama Ve?”

*Bluuurrrbbb!

“AH! Deva hidung kamu berdarah!”

“Deva-Deva-Deeeevaaaaaaa!”

Deva pingsan di tempat dan cerita pun TAMAT.

“Belum tamat kali!”

Eh…Sorry…

#Abaikan…

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_so

Iklan

4 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 30

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s