Cinta Palsu, Part 2

Bem…Bem…Bem…

            Mobil silver itu berhenti tepat di depan gerbang sekolahan.

“Kakak duluan ya ta,”

“Tunggu kak!” ucapnya

Gadis itu keluar dari mobil dan langsung menarik tangan kakaknya kemudian membawanya ke suatu tempat.

“Sini dulu kak!”

“Apa sih!?”

“Hari ini Okta ada kerja kelompok di rumah temen,”

“Terus?”

“Kasih tau dong pak Joko nya please…,”

“Tinggal bilang aja taaa…,”

“umm…malu kak,” balasnya sambil menundukan kepala

“Hah? Malu?”

“Kalau dulu sama pak Budi kan udah kenal deket banget, tapi sekarang kan…,”

“Kalau kamu gak berani bilang sendiri, sampai kapanpun kamu gak akan pernah akrab sama pak Joko,” ujar kakaknya

“Tapi kak…,”

“Maaf non,”

“EH!” Okta terkejut

“Maaf kalau saya mengganggu non Okta sama den Aldo, tapi sekarang sudah hampir jam 7, nanti non Okta bisa terlambat sekolah,”

“Tuh sana, nanti terlambat lagi,” ujar Aldo

“I-Iyaudah deh,” Okta mengalah

“Nih…,” Okta memberikan sebuah kotak berwarna coklat pada kakaknya

“Oh kacamata, kakak lupa,”

“Lupa terus, udah tau minus kakak itu udah gede,”

“Iya maaf-maaf,”

“Maaf ya pak Joko udah nunggu lama,” ucap Okta kembali

Pak Joko hanya mengangguk sambil menunjukan senyum khas Jawa nya.

Setelah berpamitan pada kakaknya, Okta pun pergi.

“Fyuh…,” Aldo sedikit memijat kakinya itu

Namun ketika ia meregangkan tubuhnya, sebuah rambut yang sedikit pirang melibas wajahnya.

“Ah! N-Nadhifa!” panggilnya

Lantas wanita itu pun berhenti ketika di panggil.

“S-Sorry ya kemarin gw…,”

“Ssssssttttt…,” Wanita itu menutup mulut Aldo menggunakan jari telunjuknya

“Gue bakalan maafin lo, tapi ada syaratnya,”

“Sya-rat?”

“Yap, Syarat,”

Lalu…

*

*

“Huft…Cuma bantuin bawa buku paket aja ternyata,”

“Oh mau lebih ya? Oke,”

“Eh J-jangan Nad, udah cukup kok,”

Nadhifa tampak tersenyum. “Hihi…,”

“A-Apa!? Kenapa lo ketawa!?”

“Ah enggak kok, cuma kayaknya usaha gue dari seminggu yang lalu itu sia-sia,”

“Eh?”

“Nanti udah Matematika beres, bantuin gue balikin buku-buku ini lagi ya,”

“A-Ah…Oke,” balas Aldo

“Dan jangan panggil gue Nadhifa, tapi Nad-Se…Paham?”

Aldo hanya mengangguk.

“Oh iya satu hal lagi…,”

Lagi-lagi Aldo menghentikan langkahnya karena Nadse.

“Gue boleh kan panggil nama lo? Al?”

“umm…,”

“ya,” balasnya sambil tersenyum

Nadse tampak ikut tersenyum, Mereka tampak saling bertatapan sejenak.

“Apa lagi?” tanya Aldo

“Sekarang jadi pake kacamata? Oh! Pasti biar keliatan ganteng ya di depan gue?”

“Hem..geer banget, emang udah lama kali gw kacamataan kayak gini,”

“Wah…kemarin-kemarin kok gak di pake?”

“Lupa,” balasnya singkat

“Ya ampun, tapi tetep aja lo masih bisa nulis sama liat ke papan tulis meskipun duduk di belakang,”

“Ya keliatan, tapi gak jelas,”

“Emang lo itu minus apa plus sih? Atau silindris?”

“Minus tiga,”

“Tiga!? Itu kan udah gede al!”

“Yah…begitulah,”

“Hemm…yaudah deh lupakan.Yuk berangkat, nanti kalau kelamaan malah di omelin buk Meta lagi,” ujar Nadse

Mereka berjalan bersebelahan sambil membawa buku paket itu.

~oOo~

Ketika Jam istirahat berlangsung, semua murid tampak berhamburan keluar dari kelasnya. Layaknya Zombie yang kelaparan mereka berlarian ke arah kantin sekolah, termasuk murid-murid yang ada di kelas X-3. Namun…

“Gak ke kantin al?”

“Eng…,” Ia menatap gadis itu, ketika ia melihat jelas wajahnya ia pun menggelengkan kepala dengan pelan

“Kaku banget kayak robot,” ejek Wanita itu

Wanita itu duduk dan kemudian membuka Handphonenya.

“Lagi-lagi ngerangkum, rajin banget sih,”

“Ah…Nggak juga,” Jawabnya

“Ng-Gak ke kantin?” tanya Aldo balik

“Gak deh, mending gue temenin lo aja disini,”

“Temenin?”

“Iya, Karena gue udah bawa bekel sendiri,” ucapnya sembari memperlihatkan kotak makan yang ia keluarkan dari bawah meja itu

“S-Sejak kapan itu ada di bawah,” tunjuk Aldo ke arah kotak makan itu

“Daritadi kok, Eh gue duduknya sebangku sama lo ya al,”

“Eng…Kenapa?”

“Ya gak kenapa-kenapa sih, cuma gue sedikit bosen aja duduk di pinggir Ayana,”

“Bosen?”

“Iya, soalnya dia itu sering tidur pas pelajaran,”

“Oh, Ketiduran ya,”

“Tidur! Bukan ketiduran al,” Jelasnya lagi

“Ah?”

“Tidur sama ketiduran itu beda, paham?”

“I-iya paham,” Jawabnya namun tampak masih kaku

Kemudian Nadse mulai membuka kotak makannya itu.

“Mau?” Tawarnya

“Eh nggak, udah penuh gw,” balas Aldo

“Yaudah,”

Di samping itu, Aldo kembali menulis catatan rangkumannya sementara Nadse mulai menyantap makanannya.

“Oh ya, waktu kemarin…,”

“Gw minta maaf nad,” potongnya

“Ah…O-oke,” balas Nadse yang terlihat kebingungan

“Kemarin badan gw reflek dan yang pasti gw gak punya niat untuk nyakitin lo,” Jelasnya

“Gue ngerti kok, hehe…,”

“Lagipula gue kan emang pantes dapet perlakuan kayak gitu al, gue…umm…ya gue udah mata-matain orang yang baru aja gue kenal,”

*Tlek…

            Aldo menyimpan pulpennya itu di atas bukunya.

“Gak ada yang luka kan?”

“EK…Kenapa sekarang lo keliatan khawatir gitu sih, kagak ada yang luka kok,” Jawab Nadse

“Fyuh…,”

“Santai aja kali al, dari sikap lo tadi keliatan banget deh,”

“Eh?”

“Lo keliatan banget suka manjain cewek? Ya-ya?”

“A-Ah…Anu? M-Maksud lo?”

“Hahaha…bercanda kok,”

“Eng…,” Aldo terdiam

“Ah soal yang tadi mau gue omongin…lo punya supir pribadi ya?” tanya Nadse kembali

“Iya,” Jawabnya lembut

“Terus kenapa pas pulangnya malah jalan kaki?”

“Oh-oh, tadi juga gue liat ada cewek yang keluar dari mobil lo,”

“Eng…,” Aldo hanya menggaruk kepalanya

“umm…sorry,” ucap Nadse

“gue banyak tanya ya hehe…,” lanjutnya

“Soal itu…adik gw…,”

“Eh?” Nadse kembali menyimak

“Adik gw biasanya pulang sore, sekitar jam 5-6 deh. Jadi…daripada tungguin supir sampai jam 6, mendingan jalan kaki,”

“Emm…itu berarti di sekolah yang lama juga sama ya?”

Aldo terdiam.

“A-Ah…Maaf kalau gue…umm…maaf ya al gue jadi malah pengen tau kehidupan pribadi lo,”

Aldo tersenyum sambil mengangguk.

“Kalau gitu pulang sekolah nanti bareng deh sama gue,”

“Ah?” Aldo mengernyitkan dahinya

“Keliatannya kita sejalur, kemarin gue ikutin lo sampai ke gang itu kan, nah rumah gue juga gak jauh dari situ kok,”

“Hmm…oke,”

“Mumpung sekarang gak ada urusan di sekolah, jadi…,”

“Nads!”

Seorang gadis tiba-tiba datang ke bangku dimana Aldo dan Nadse sedang berbincang. Ia langsung memanggil Nadse dengan keras.

“Apaan sih ay!?”

“Kenapa pindah bangku siiiihhh…gue jadi gak ada temen kan!”

“Bodo ah! Gue temenin juga tetep aja nanti gue di cuekin gara-gara lo tidur ay,”

“Jahat banget sih! Oh…Jadi karena dia ya?”

“aaaaa…G-Gw gak ikutan yah, ah-ahahah…,” Aldo tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya

“Oke Nads, liat aja nanti,”

Gadis itu pun pergi.

“Eng…temen lo?” tanya Aldo

“yap, itu ayana…,”

“Keliatannya dia mau…,”

“Dia itu suka bercanda, gue udah temenan sama dia dari SMP,” potong Nadse

“A-Ah…kalau gitu sukur deh, gw kira dia beneran niat mau nyakitin lo,”

“Wah, lo khawatir sama gue al?”

“B-Bukan-bukan! Ya…gw…eng…kalau dia sampai nyakitin lo kan jelas-jelas gara-gara lo duduk sebangku sama gw nad, dan intinya itu semua pasti gara-gara gw nanti,”

“Lagian kenapa juga sih lo duduk sebangku sama gw?” tambah Aldo

“Loh gak mau di temenin? Udah hampir seminggu ini lo gak punya temen al, ya gue sih masih punya niat baik yah…,”

“Entah kenapa muka lo jadi sedikit menyebalkan nad,”

“Ahaha…udah deh gak usah dipikirin, gak mau ya di temenin cewek cantik?” ucap Nadse

“Hem…Cantik? Pfffttt…,”

“Hahahahaha! Ya ampun gue gak bisa berhenti ketawa, lo lucu banget deh al!”

“G-Gw!?”

“Oke-oke, kita sebaiknya gak usah bahas ini lagi,” ucap Aldo kembali

“Huh…,” Nadse menghembuskan nafas panjang untuk mengkontrol dirinya

“Oke lupakan soal yang tadi,” ucap Nadse

Mereka berdua terdiam sejenak.

“Ah…kalau bisa lo jangan kaku gitu al, sifat lo itu jelas-jelas bisa bikin koneksi pertemanan yang banyak kok,”

“Eng…yah, thankyou deh kalau udah muji gw kayak gitu,” balas Aldo

“Gue aja sekarang udah sedikit nyaman ngobrol bareng sama lo, ya…meskipun gue gak tau lo itu dulunya kayak gimana, tapi gue yakin lo pasti bisa membuat koneksi pertemanan yang banyak,”

“Hemm…Oke deh, lain kali gw coba,” ucap Aldo

Nadse pun tersenyum.

“Jam istirahat udah mau habis, yuk balikin lagi bukunya,” ucap Nadse sembari melihat arlojinya

“Oh…oke,” Aldo menutup bukunya lalu menyimpan kacamatanya di kotak coklat itu

~oOo~

“Tinggal dua pelajaran lagi,”

“Masih lama, jangan mikirin pengen cepet-cepet pulang mulu nad,”

“Bosen gue belajar terus,”

“Semua murid juga pasti punya jawaban yang sama kayak lo kali nad,”

“Ekhem! Ciee yang berduaan aja nih!” ucap seseorang ketika Aldo dan Nadse melewati kelas itu

“Eh?” Aldo menghiraukannya namun pandangannya sedikit melirik ke arah gadis yang menyorakinya tadi

“Jangan di pikirin,” ujar Nadse

“A-Ah…ya…gw cuma…,”

“Jangan lupa PJ nya nads!” teriak gadis yang lainnya

“Ya ampun…mereka itu selalu aja, padahal kita ini kan gak ada hubungan apa-apa, ya gak?”

“Yah…ahaha…,” Aldo hanya tertawa kecil

“Lo…populer juga yah nad,”

“Eeeehhh…nggak kok, cuma banyak yang kenal aja sama gue,”

“Itu sama aja populer kali,”

*Cekleeeeek~

            Pintu perpustakaan itu di buka.

“Mana penjaga perpusnya?” tanya Aldo

“Simpen aja dulu di meja, terus tanda tangan,” ucap Nadse

“HEP!”

Aldo mengangkat semua buku itu dan menyimpannya di meja.

“Lo yang tandatangan yah,”

“G-gw?” ucap Aldo sembari menunjuk dirinya

“Kan yang jadi ketua kelasnya…,”

“Kali-kali lo yang tanggung jawab soal buku-buku paket yang di pinjem deh,” potong Nadse

Aldo menggaruk kepalanya.

“Nih pulpennya, cepet tanda tangan,”

“I-iya deh,” Aldo mengalah

*Kreeeek…

            Suara pintu di geser, tampak seseorang yang masuk ke dalam perpustakaan.

“Eh Nads, mau ngembaliin buku juga ya,”

“Oh Des…,” Nadse menghampiri gadis itu

“Lo ngembaliin buku sebanyak ini sendirian des?” tanya Nadse

“Udah biasa kali, eh-eh hari ini kita ke cafe lagi yuk,”

“Ah…Jangan hari ini deh,”

“Yaelah padahal hari ini gue free banget loh,”

“Tapi gue…,” Nadse sedikit melirik ke arah Aldo

“Gue…apa?” tanya gadis itu

“Ah ayo deh ke cafe lagi,” Nadse tiba-tiba setuju

“Nah gitu dong, nanti gue ajak lagi kak Yona sama Michelle,”

“Oke-oke,”

“Emmm…ajak aja cowok lo, boleh kok,” bisiknya

“Ish bukan lah!” bantah Nadse

“Wahahaha! Yaudah gue ke kelas dulu ya, bye nads!”

“Bye-bye!”

*Tap!

“Ini siapa yang mau nyimpen kertasnya,” ucapnya sembari menepuk pundak Nadse

“ya elo lah! Kan yang tanda tangan juga bukan gue,” timbal Nadse

“Huft…Jangan salahin gw ya kalau kertasnya tiba-tiba hilang,”

“Kalau hilang ya lo yang tanggung jawab lah!”

“Ya ampun…,”

“Yuk ke kelas, kalau kita telat nantinya malah di usir lagi,”

“Huft, iya deh,”

Mereka menutup pintu perpustakaan itu.

“Yang tadi temen lo lagi ya,”

“Iya, namanya Desy,”

“Oh…,”

“Kenapa? Suka ya?”

“Wih kagak lah, cuma gw sedikit kaget aja, dia hampir lebih tinggi daripada gw,”

“Ahaha…lo sama dia tingginya sama kok,” ucap Nadse

“Eh…,” Aldo menggaruk kepalanya

“Pulang nanti kita ke cafe dulu ya,”

“Loh kok?”

“Sekalian gue bakalan kenalin lo ke temen-temen gue,”

“Eh, J-jangan lah…kenapa gw harus ikut sih,”

“Biar koneksi pertemanan lo itu jadi banyak, emangnya lo gak mau ya punya banyak temen? Jangan lupa status lo itu disini masih murid baru al,”

“Iya sih, tapi kenapa mendadak gini,”

“Hmm…Lo gak ada uang yah?”

“Ada kok, ya tapi…,”

“Bagus dong kalau gitu,”

Nadse sedikit mempercepat jalannya dan meninggalkan Aldo di belakang.

“Apa maksudnya!?” ucap Aldo dalam hati

 

To Be Continue…

Author : Shoryu_So

Iklan

3 tanggapan untuk “Cinta Palsu, Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s