Zombie Attack : first adventure

Pagi itu suasana yang sunyi senyap menyelimuti kota Banyuwangi, suara burung berkicauan terdengar nyaring di dekat rumah Dendhi. tiba-tiba.

“kak Dendhi bangun. Udah siang tau” Teriak wanita dengan rambut panjang bergelombang tergerai hingga punggungnya.

Namun tak ada respon dari orang yang di panggil Dendhi itu, dia masih saja tertidur. Sepertinya ia masih ingin berlama-lama di alam mimpi.

“Dendhi masih nggak mau bangun ya?” tanya Wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu Dendhi.

“Nggak mau masih ma, sebel aku lama-lama, biarin kak Frieska aja yang bangunin kak Dendhi, emosi Gre lama-lama, mentang-mentang dia udah kuliah dia bisa bangun siang, Gre kan mau nya dianter sama kak Dendhi” ujar wanita yang namanya Gre itu sedang cemberut, ia tengah mengenakan seragam putih biru, pertanda bahwa dia masih anak SMP.

“Ada apa ini kok ribut-ribut. Masih jam setengah enam ini”  ujar Papa yang tiba-tiba hadir

“Ini pa, aku lagi emosi sama kak Dendhi, dia aku bangunin, sampe teriak-teriak gak bangun-bangun. Padahal Gre pengen berangkat sama kak Dendhi.

“Cabut aja bulu kaki nya” celetuk Papa.

“Pa, itu bakal sakit lho” ujar Mama.

“Udahlah. Gak apa-apa ma. Sekali-sekali, lagian anak cowok mesti kuat” kata Ayah.

“Emang papa kuat kalo bulu kakinya di cabut?” tanya Gre polos

“Eh… ya nggak sih” ujar ayah tertawa kecil.

“Aku coba nih ya cabut bulu kaki nya kak Dendhi” kata Gre yang perlahan memasuki kamar dari Dendhi, dia mendekati bulu kaki dari Dendhi, tak lama kemudian.

 

AUUUU….

 

Dendhi berteriak kesakitan.

“Gre, opo-opo an sih?” tanya Dendhi emosi (Gre, apa-apa an sih?)

“Papa sing ngongkon, wis awan. Ojo mung turu wae” balas Ayah membela Gre. (Papa yang nyuruh, udah siang, jangan cuman tidur aja)

“Kak, anterin aku sekolah dong” pinta Gre dengan menggoyang-goyangkan tangan Dendhi.

“Ak…” ujar Dendhi terpotong

“Aku nggak suka sama penolakan” kata Gre cepat sambil menatap Dendhi tajam.

“Haduh… yo wis lah. Give me ten minutes” kata Dendhi

No, You have five mintes.”  Balas Gre. Sedangkan Dendhi hanya menggerutu pelan.

Lima menit kemudian Dendhi keluar dari kamarnya, ia bergegas menuju ke ruang makan, di sana sudah terdapat Gre, Frieska, Papa dan Mama sedang menyantap sarapannya.

“Kamu nggak makan sekalian Den?” tanya papa nya

“Nggak pa, Dendhi ada urusan sama temen pagi ini, jadinya makan di kampus aja” jawab Dendhi.

“Tinggal nungguin anak yang manjanya satu ini makan” tambahnya sambil menunjuk ke arah Gre yang sedang memakan ayam goreng.

“Enak aja, aku nggak manja tau. Aku kan udah gede” Balas Gre sambil menggembungkan pipinya.

“Ya udah deh, yang gila ngalah aja” jawab Dendhi singkat, karena ia tak mau berdebat dengan adiknya di pagi hari.

I’m done” Ujar Gre yang lalu berdiri dari tempat duduk nya.

“Ma, pa. Dendhi sama Gre berangkat dulu” ujar Dendhi dan Gre yang lalu mencium tangan kedua orang tuanya. Ketika mereka berada di halaman depan rumah mereka terdengar suara

“Tunggu, kakak mau bareng sama kalian. Kakak hari ini mau ngasih skripsi bab III ke dosen pembimbing” ujar Frieska yang kemudian berjalan bersama mereka.

Dendhi mengendarai mobil Honda Jazz warna merah milik nya, dengan kecepatan sedang ia menuju ke kota Banyuwangi, karena rumahnya yang berada di kawasan Kalibaru, kawasan dataran tinggi yang sangat sejuk karena berbatasan dengan gunung Gumitir dan kabupaten Jember.

“Wiih.. gak nyangka ya Den kamu bentar lagi semester Tiga” ujar Frieska memecah keheningan.

“Iya kak, yang lebih gak nyangka lagi itu si Gre, rasanya baru kemarin kelas lima SD, tapi sekarang udah kelas VII SMP.” Balas Dendhi.

“Aku terus yang kena.” Kata Gre sebal.

“Hehehe… maaf Gre, kita nggak bermaksud buat ngejek kamu” ujar Dendhi.

“Ooh iya… kamu mau masuk SMA mana?” tanya Dendhi

“Hmmm… SMA yang sama kayak kak Dendhi aja, biar enak.” Balas Gre.

“Ya udah Deh, belajar yang giat ya buat masuk ke SMA yang sama kayak kakak, itu SMA Favorit Se Banyuwangi walaupun sekolah nya swasta” kata Dendhi yang di balas anggukan oleh Gre.

Tak terasa mereka sudah sampai di depan sekolah Gre. Gre lalu turun dari mobil Honda Jazz merah milik Dendhi. Kini hanya tersisa Dendhi dan Frieska di dalam mobil.

“Den? Si bunga matahari mu kok nggak pernah main-main lagi ke rumah ya?” tanya Frieska

“Nggak tau, mungkin dia lagi sibuk. Secara dia kan mahasiswi DKV.” Jawab Dendhi asal.

“Emang hubungannya apa Den?” tanya Frieska

“Mungkin dia lagi bikin cover album buat band-band yang ada di Banyuwangi, walaupun bayarannya gak seberapa. Tapi lumayan lah kalo buat anak seusia aku” ujar Dendhi menjelaskan yang di balas satu huruf oleh Frieska.

Tak terasa mereka sudah sampai di depan kampus mereka. Frieska dan Dendhi turun dari mobil mereka.

“Masih awet aja kalian ini” ujar seseorang.

“Masihlah Mov, yang penting mah komunikasi” ujar Frieska. Semua orang yang ada di kampus Dendhi dan Frieska tidak tahu bahwa mereka berdua ini adalah kakak beradik.

“hehehe.. iya kak. Yang penting komunikasi” kata Dendhi karena kakinya diinjak oleh Frieska.

“Bentar lagi kamu mau ke kelas Den?” tanya Mova

“Iya kak, kenapa?” tanya Dendhi.

“Tolong bilangin ke adik kakak dong, nanti selepas jam kuliah, suruh nemuin kakak di kantin dekat ruang dosen” kata Mova.

“Oke kak, aku sampein ke adik kakak, adik kakak masih Bayu kan?” tanya Dendhi

“Eh.. maaf kak, maksudku cuman bercanda, aku tinggal dulu ya” dia buru-buru berkata demikian karena Frieska memberikan tatapan tajamnya kepada Dendhi.

Dendhi berjalan menuju kelasnya, karena ia berjalan sambil memainkan Hp nya ia tak sengaja menabrak seseorang.

“Aduh…” ujar mereka berdua

“Kalo jalan itu li…” ujar seseorang tertahan

“Dendhi?” sapa wanita itu.

“Hai Viny, maaf ya aku nggak liat. Notifikasi Twitter lagi penuh-penuhnya.” Kata Dendhi.

“Iya Den, nggak apa-apa kok. Tiga bulan nggak ketemu ini pipi kamu kenapa tambah lebar ya?” Ujar Viny mencubit pipi Dendhi.

“Sakit wedhus” ujar Dendhi menggerutu kesakitan.

“Heh.. lisan” Kata Viny menatap Dendhi tajam.

“Maaf-maaf Vin, abisnya sih kamu main cubit pipi aku aja, sakit tau” kata Dendhi.

“Iya, gak apa-apa kok. Aku duluan ya” ujar Viny tergesa-gesa, ia terlihat membawa begitu banyak map, perhatian Dendhi tak sengaja mengarah salah satu map yang terdapat salah satu logo dari perusahaan farmasi yang cukup terkenal di Indonesia, namun ia tak mau ambil pusing.

Dia segera berjalan menuju ke kelasnya, dan mengambil tempat di sebelah kiri Bayu.

“Bay, kata kak Mova nanti kalo udah kelas pelajaran pak Imron di suruh nemuin dia di Kantin deket ruang dosen” ujar Dendhi.

“Oke” Balas Bayu singkat.

Tak lama kemudian pak Imron masuk ke dalam kelas dan di mulai lah jam-jam yang membosankan bagi Dendhi. Pak Imron mengajar kan hukum Perdata selama dua jam, Dendhi hanya berpura-pura mendengarkan perkataan pak Imron.

Dua jam berlalu kini Dendhi dan Bayu berada di kantin, Dendhi memakan nasi pecel yang ia pesan tadi, sedangkan Bayu hanya memakan mie instan dengan nasi.

“Ooh iya Bay, aku tadi ketemu sama Viny” ujar Dendhi

“Viny? Ratu Vienny Fitrilya anak DKV yang jadi duta kampus itu?” tanya Bayu kaget.

“Iya.” Balas Dendhi.

“Kenalin sama aku dong.” Kata Bayu.

“Iya, nanti kalo ketemu ya” jawab Dendhi.

Mereka lalu melanjutkan makan mereka, sampai tiba-tiba.

Selamat siang pemirsa, kabar terkini menyapa anda, sebuah serangan kanibalisme terjadi di Banyuwangi, tepatnya di daerah Kalibaru, belum ditentukan berapa korban meninggal dan luka-luka. Hingga kini polisi mencoba untuk mengendalikan suasana di sana, demikian kabar terkini, nantikan kabar terkini satu jam lagi”

 

BYUUUUR…

 

Dendhi yang sedang minum menumpahkan semua yang ada di mulutnya kepada Bayu.

“Opo-opoan toh.?” Ujar Bayu kaget. Dia menatap Dendhi tajam.

“Sorry-sorry.” Balas Dendhi. dia lalu bergegas membayar makanan dan meninggalkan Bayu.

Dendhi berlari dengan sangat cepat, omelan mahasiswa yang tak sengaja di tabrak nya tidak di respon olehnya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan kakak nya.

“Kak, kita harus pulang sekarang, aku khawatir sama Mama, dan papa” kata Dendhi khawatir.

“Iya deh, pulang yuk.” Balas Frieska.

Dendhi dan Frieska segera menuju ke parkiran, lalu mobilnya dengan kecepatan tinggi meninggalkan Kampusnya, menuju ke sekolah Gracia. Sesampainya di sana, Mereka berdua meminta ijin kepada kepala sekolah di Sekolah Gracia untuk membawa nya pulang dengan dalih ada acara keluarga yang tak bisa di tinggalkan. Berselang sepuluh menit, keluarlah orang yang di cari dengan ekspresi senang.

“Emang ada acara keluarga apa ya kak?” tanya Gracia ketika dia sudah berada di dalam mobil.

“Coba liat di siaran berita di internet. Ada kejadian di Kalibaru. Kita harus balik ke rumah dan membawa mama dan papa pergi menjauh dari Kalibaru.” Balas Frieska.

Dengan kecepatan tinggi, mereka meluncur ke desa Kalibaru. Tiga kilometer sebelum mereka masuk di Kalibaru. Mereka di hentikan oleh barikade yang menutupi jalan ke rumah mereka, terpaksa mereka berjalan kaki menuju ke rumah mereka, tapi baru sekitar lima ratus meter, mereka di hentikan oleh polisi.

“Maaf, kalian tidak bisa masuk lebih jauh.” Ujar Polisi itu.

“Tapi pak, orang tua kita di dalam sana pak, ijinin kita masuk” balas Frieska dengan tatapan memelas.

“Maaf mbak, tapi kita tidak bisa mengijinkan kalian masuk” Ujar Polisi itu lalu meninggalkan mereka bertiga.

“Terpaksa” Ujar Dendhi lalu memukul polisi itu dengan balok kayu, polisi itu pingsan karena pukulan itu.

Mereka segera masuk ke Desa Kalibaru. Mereka bertiga kaget. Banyak mayat yang berserakan di tepi jalan. Ketika mereka mulai berjalan melewati mayat-mayat itu, salah satu dari mereka memegangi kaki Gracia.

“Kakak tolong” teriak Gracia.

Dengan cepat Dendhi menendang kepala dari mayat itu. Teriakan dari Gracia ternyata membangunkan semua mayat yang ada di sana.

“Shit..” umpat Dendhi dalam hati.

“Den, kita ke mana ini?” tanya Frieska.

“Coba kita berlindung ke Balai Desa aja kak” kata Dendhi.

Mereka bertiga berlari menuju ke kantor Balai Desa, jaraknya sekitar dua kilometer dari tempat mereka tadi. Sesampainya mereka di kantor Balai desa, mereka bertiga kaget karena sebagian besar mayat hidup itu berkumpul di sana.

Wrong Choice bro” kata Gracia sinis.

“Kita pulang aja.” Ajak Frieska pada adik-adiknya.

Mereka bertiga berlari menjauhi Balai Desa, di tengah perjalanan Dendhi bertemu dengan Rafles. Sahabat dari Dendhi.

“Raf, kamu cuman sendiri?” Tanya Dendhi

“Iya, Sofia lagi kan lagi di Jakarta, di rumah kakek aku” balas Rafles, Dendhi mengamati sekitarnya, ternyata mayat hidup itu berjalan mendekati mereka

Raf, follow us” ajak Dendhi. Rafles lalu mengekor pada Dendhi.

Mereka berlari ke rumah Dendhi. butuh lima belas menit untuk sampai di depan rumah Dendhi, mereka lalu bergerak masuk ke dalam rumah, betapa kagetnya mereka ketika mereka melihat suasana rumah nya yang bisa di bilang berserakan, noda dan bau khas darah tercium memenuhi rumah Dendhi.

“Den, cari senjata yang bisa melindungi kita” kata Rafles, lalu dia mengambil tongkat kasti. Sedangkan Dendhi berjalan ke dapur untuk mengambil pisau. Ketika Dendhi kembali, betapa kagetnya dia melihat mama nya berjalan dengan langkah gontai, dia mendekati Rafles, Frieska, dan Gracia.

Dendhi lalu menepuk pundak mamanya.

“Ma, mama baik-baik aja?” tanya Dendhi.

Mamanya menoleh dan memperlihatkan bentuk aslinya, wajahnya pucat pasi, dan matanya merah.

 

GROOOOARRR…

 

Mamanya menggeram, lalu menjatuhkan Dendhi.

“Kak Den” teriak Gre.

“Dendhi” teriak Frieska.

Dengan cepat Rafles mendekati Dendhi, sedangkan Dendhi hanya pasrah apabila dia mati. Dan

 

BUUUUKKK…

 

Rafles memukul kepala mamanya Dendhi.

Raf, what thell are you doing man? She is my Mother” Dendhi berteriak kepada Rafles. (Raf, apa-apaan yang kamu lakuin? Dia itu mama aku)

Sorry, but I can’t see my best friend in trouble” ujar Rafles. (Maaf, tapi aku nggak bisa ngeliat sahabatku dalam kesusahan). Dendhi menghela nafas panjang, lalu ia pergi untuk menenangkan Gracia

Mereka mencoba untuk menyalakan Radio. Untuk mendengarkan keterangan dari Dinas Kesehatan. Setelah mendengar keterangan dari Dinas Kesehatan, Gracia melihat ke arah mayat mamanya.

“Jadi, mama nggak akan bisa hidup lagi?” tanya Gracia dengan suara parau.

“Sepertinya nggak Gre” kata Frieska.

“Kenapa mama ninggalin aku secepet ini?” tanya Gracia.

“Tenang aja Gre, aku sama kak Frieska nggak akan ninggalin kamu kok” balas Dendhi lalu mengelus kepala Gre. Dia mencoba memberikan ketenangan pada adik satu-satunya ini.

“Pinky swear?” tanya Gracia.

“Pinky Swear” Balas Dendhi dan Frieska bersamaan. Mereka lalu saling mengaitkan jari kelingking mereka.

Hari sudah beranjak sore. Mereka hanya bisa berdiam diri di dalam rumah Dendhi, karena mereka sudah di kepung oleh mayat-mayat hidup itu. Dendhi, Rafles, Frieska, dan Gracia tengah berkumpul di ruang keluarga, mereka hanya terdiam.

“Raf, bantuin aku buat makamin mama aku dong” pinta Frieska.

“Siiap kak” ujar Rafles cepat, dengan cekatan dia, Dendhi, dan Frieska membawa tubuh mamanya itu, di galinya taman di belakang rumah mereka. Dengan perlahan Dendhi dan Rafles menaruh mayat mamanya ke dalam lubang itu. Lalu menutup nya. Terdengar samar-samar isak tangis dari Dendhi, Frieska, dan Gracia.

“Papa di mana ya?” tanya Gracia.

“Entahlah” balas Dendhi.

Mereka lalu kembali ke rumah mereka. Mereka lalu duduk, dan mulai mengisi daya HP mereka.  Untung saja supplai listrik dari PLN masih belum di putus. Berita soal kejadian di Kalibaru dengan cepat menyebar. Dalam waktu satu jam. Hampir seluruh Indonesia mengetahui kejadian itu, Presiden segera membentuk tim Khusus yang bertujuan untuk mengusut tuntas kejadian di Kalibaru ini.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, Frieska dan Gracia sedang membuat makanan untuk mereka berempat. Sedangkan Dendhi dan Rafles berjaga. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di depan ruang tamu mereka.

Raf, cover me” pinta Dendhi, hanya Dendhi dan Rafles yang mempunyai dasar ilmu bela diri karate, dan jujitsu yang bisa di bilang memadai untuk bertahan hidup, pangkat terakhir Dendhi dan Rafles adalah Kyu 1, ada satu orang lagi yang mempunyai pangkat yang sama dengan mereka berdua.

Dendhi dengan pelan membuka pintu nya. Begitu terbuka sedikit..

“Tolong aku” teriak seseorang.

“Eh copot.copot” ujar Rafles bersamaan.

“lu kalo latah gak liat sikon banget deh Raf” ujar Dendhi geram. Dia lalu mengarah kan pandangan nya ke orang yang baru saja masuk ke dalam rumahnya

“Viny? Kenapa kok di sini?” tanya Dendhi dan Rafles

“opa aku Den, dia… dia…” ucap Viny menggantung.

“Opa kamu kenapa?” tanya Rafles

“Dia meninggal, dan tiba-tiba dia tingkahnya aneh” ujar Viny lalu menangis.

Dendhi langsung memeluk Viny. Di elus kepala Viny pelan.

“Udah, kamu aman di sini, ada aku sama Rafles.” Kata Dendhi

Tak lama kemudian Frieska dan Gracia kembali dari dapur.

“Ada tamu ya?” tanya Frieska, dia menoleh ke arah Viny.

“Kapan datang Vin?” tanya Frieska.

“Baru aja kok kak” ujar Viny

“Aku boleh kan nginep di sini?” tanya Viny

“Boleh banget kak, nambah temen nya Gre” ujar Gracia lalu tersenyum.

“Anggap saja rumah sendiri Vin” ujar Frieska menambahi.

“Kita mah selalu welcome buat kamu” kata Rafles.

“Kalo aku nggak perlu di tanya lagi.. pasti boleh” ujar Dendhi.

Viny yang mendengar omongan mereka lalu menangis terharu.

“Makasih” ujar Viny di sela-sela tangisnya.

Malam semakin larut, Dendhi dan Rafles berada di kamar Dendhi. sedangkan Viny, Gracia, dan Frieska berada di kamar Frieska, kamar Frieska memiliki tempat tidur yang cukup luas, cukup untuk menampung mereka bertiga.

“Kak Fries… Aku takut” ujar Gracia.

“Takut kenapa Gre?” tanya Frieska lembut.

“Aku takut kalo kita semua besok meninggal” kata Gre.

“Jangan takut, kakak pastiin kalo kita semua bakal hidup. Kalo ada yang meninggal, biarin kakak aja yang meninggal” kata Frieska.

“Jangan kak, biarin aku aja.” Kata Gre cepat.

“Ini kok malah debat masalah siapa yang meninggal sih?.” Tanya Viny dengan tatapan sebalnya.

“Tidur sana, udah malem” perintah Frieska pada adiknya. Lalu suasana di rumah Dendhi berubah menjadi sunyi senyap.

Malam berganti pagi, suasana di Kalibaru menjadi seperti kota mati, tidak ada aktivitas mahkluk hidup di sana, yang ada adalah suara geraman dari mayat hidup di sepanjang jalanan di Kalibaru. Dendhi dan teman-temannya sengaja untuk tidak memakai alarm untuk membangunkan mereka, mereka hanya menunggu pasukan penyelamat yang di bentuk oleh Presiden, kabarnya mereka akan sampai di Kalibaru tiga hari lagi.

“Den, tangi. Wis awan” Ujar Rafles dalam Bahasa jawa (Den, bangun. Udah siang)

“Iyo, aku wis tangi kok (Iya, aku udah bangun kok)” balas Dendhi yang lalu membuka matanya. Dendhi lalu bergegas menuju ke kamar kakaknya, dia mengetuk pintu kamar kakaknya, namun tidak ada respon dari dalam. Karena khawatir, Dendhi masuk ke dalam kamar kakaknya sambil membawa tongkat kasti. Dilihatnya Gracia, kakaknya, dan Viny sedang terlelap di tempat tidurnya.

“Tidurlah yang lelap, hari kemarin sangat berat bagi kalian, semoga hari ini tak seberat hari kemarin” kata Dendhi dalam hati. Entah karena apa Salah satu dari mereka terbangun.

“Eh.. kakak, udah dari tadi?” tanya seseorang

“Hmmmm… lumayan lama sih. Mungkin sekitar lima belas menit an, turun ke bawah yuk” ajak Dendhi pada Gracia. Gracia hanya mengangguk kan kepalanya. Mereka dengan perlahan turun ke lantai satu. Terlihat Rafles sedang memainkan Hp nya. Dia sedang memainkan game **C. Game yang terkenal.

“Kak, aku mau jalan-jalan” pinta Gracia.

“Jangan macem-macem dulu. Tunggu kita di evakuasi dulu, baru minta jalan-jalan” Kata Dendhi yang lalu di balas ekspresi sebal oleh Gracia.

Tak lama setelah itu, terjadi sedikit kepanikan di kamar kakaknya.

“Dek… adek, kamu di mana?” sayup-sayup terdengar suara Frieska yang mencari Gracia.

“Gre, kamu ke atas sana. Di cariin tuh sama kak Frieska” suruh Dendhi.

Gracia lalu naik ke kamar kakaknya.

“Kita ngapain ya seharian ini?” tanya Rafles.

“Hmmm… kita nggak bisa ke mana-mana, harapan kita Cuma nunggu evakuasi dari pemerintah aja Raf, mau kuliah juga nggak bisa” balas Dendhi.

“Iya juga ya, repot dah. Biasanya kita kalo jam segini udah dengerin dosen. Sekarang kita harus dengerin geraman mereka, mendingan dengerin materi nya dosen killer deh daripada dengerin geraman mereka” kata Rafles.

“Jangan mikirin kuliah.” Balas Frieska tiba-tiba muncul dari dapur.

“Eh.. kakak. Udah bangun?” tanya Dendhi

As You See” Balas Frieska.

“Ooh iya, bahan makanan kita udah tinggal dikit. Di hemat ya” kata Frieska.

“Iya kak” Balas Dendhi dan Rafles, mereka tersenyum dan saling memandang.

“Kayaknya bakal ada kerjaan” gumam Rafles.

“Yoi.. berangkat yuk” ajak Dendhi.

“Eh.. kalian mau ke mana?” tanya Frieska

“Kita mau cari bahan makanan di luar” kata Rafles, Dendhi bergegas ke kamarnya. Dia mencari tas ransel nya

“Nggak, kalian nggak kakak ijinin” Balas Frieska

Tak lama kemudian Dendhi turun dari kamarnya dengan membawa tas ranselnya.

“Kenapa kak?” tanya Dendhi penasaran

“KALIAN INI BEGO ATAU PURA-PURA BEGO SIH? DI LUAR SANA UDAH BANYAK ORANG-ORANG GAK JELAS ITU, KAKAK NGGAK MAU KALIAN JADI SALAH SATU DARI MEREKA. UDAH CUKUP BAGI KAKAK KEHILANGAN MAMA SAMA PAPA, JANGAN SAMPE KAKAK KEHILANGAN KALIAN.” Bentak Frieska.

“Udah kak, jangan khawatir, kita bisa jaga diri. Lagian kita ke sana. Bawa alat yang bisa di jadiin senjata kok” Dendhi mencoba meyakinkan kakaknya. Dengan berat hati Frieska lalu mengangguk kan kepalanya.

Dendhi dan Rafles lalu pergi meninggalkan rumahnya. Mereka memasuki satu-persatu rumah untuk mencari bahan makanan sebanyak-banyak nya. Hingga mereka sampai di rumah Viny. Baru di depan rumah Viny. Mereka di kagetkan oleh suara anjing di depan rumah Viny, anehnya anjing itu di penuhi oleh darah.

Emmm… Den, this is not good” Kata Rafles.

Just shut up Raf, just get in quick” Balas Dendhi lalu masuk ke dalam rumah Viny. Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah Viny. Mereka langsung menuju ke dapur. Di dapur mereka menemukan daging Ayam dalam keadaan yang layak untuk di masak. Tanpa berpikir panjang Rafles langsung memasukkan ke dalam tas Ranselnya. Namun tanpa sengaja tangannya menyenggol panci.

 

TRAAANNG…

 

Suara panci jatuh itu terdengar cukup keras hingga menarik perhatian dari mayat-mayat hidup yang berada di jalanan depan rumah Viny.

Shit..” Umpat Rafles dalam hati. Dengan cepat Dendhi mencari alat yang bisa di gunakan untuk menahan pintu itu. Lalu terdengar suara geraman pelan dari lantai dua, perlahan suara geraman itu terdengar semakin keras.

“Cepet Raf” Bisik Dendhi. Dia lalu berjalan ke kamar Viny, dia mengambil pakaian yang bisa di pakai oleh Viny selama menunggu evakuasi dari pemerintah.

“Kayaknya Cuma ini aja deh yang bisa aku bawa” kata Dendhi dalam hati.

Dendhi lalu turun ke bawah. Di lihatnya Rafles yang sudah selesai mengambil bahan makanan yang ada di rumah Viny. Kecerobohan di buat lagi oleh mereka, namun kali ini Dendhi tak sengaja menendang panci yang jatuh tadi.

Shit.. no more again” umpat Dendhi. Terdengar suara gedoran di pintu depan rumah Viny.

“Raf, lewat belakang” kata Dendhi cepat, mereka setengah berlari menuju ke pintu belakang, mereka berlari menuju ke rumah Dendhi.

Di rumah Dendhi Viny baru saja bangun dari tidurnya. Dia segera turun ke bawah. Di bawah terlihat Frieska dengan raut wajah panik. Viny yang penasaran langsung menghampiri Frieska.

“Kenapa kak kok panik gitu mukanya?” tanya Viny.

“Dendhi sama Rafles keluar, mereka cari bahan makanan, tapi udah setengah jam mereka berdua belum balik ke sini, firasat kakak nggak enak Vin” ujar Frieska.

“Udah kak, percaya sama mereka. Mereka pasti balik ke sini dengan selamat” ujar Viny menenangkan Frieska.

Tepat setelah Viny mengatakan hal itu, pintu rumah Dendhi di gedor dengan sangat cepat.

“Kak Frieka, Gre. Berlindung” perintah Viny. Frieska dan Gracia mengangguk, lalu mereka bersembunyi.

Dengan pelan Viny membuka kunci rumah Dendhi.

“Cepet buka kampret.” Umpat Dendhi dari luar. Mendengar suara Dendhi, dengan cepat Viny langsung membuka pintu rumah Dendhi. Dendhi dan Rafles lalu masuk ke dalam rumahnya.

“Gimana?” tanya Frieska.

“Ternyata Bad Idea kak, mendingan kita di dalem rumah aja” kata Dendhi dengan nafas ngos-ngosan.

“Ini perasaan ku atau emang beneran tambah banyak ya?” tanya Rafles.

“Kayaknya sih emang tambah banyak Raf” kata Dendhi.

Dendhi lalu teringat sesuatu.

“Kalian udah coba menghubungi pemerintah belum? Tadi setau aku ada nomer hotline nya di Tv” ujar Dendhi, terlihat cengiran dari Gracia, Frieska, dan Viny. Dendhi langsung menepuk pelan kepalanya.

“Telpon sana” perintah Dendhi. Frieska lalu mengambil Handphone miliknya, terlihat bahwa ekspresi wajahnya sangat serius. Lalu tiba-tiba senyum menghiasi wajahnya.

“Terima kasih” ujar Frieska lalu menutup panggilannya.

“Kabar Gembira guys” bisik Frieska. Lalu semuanya mendekat ke arah Frieska.

“Pemerintah akan mengevakuasi kita besok pagi jam enam” ujar Frieska, lalu semuanya bernafas lega.

“Berarti kalo gitu kita harus nyalain GPS di Hp kita” kata Dendhi.

Hari beranjak gelap, semua orang yang berada di rumah Dendhi kini sedang menikmati santap malam mereka.

“Untung kakak masak ayam ini duluan, ayam ini aku beli sekitar dua hari yang lalu” ujar Viny. Sontak Dendhi dan Rafles tersedak.

“eh.. kakak kenapa?” tanya Gracia.

“Yang bener Vin?” ujar Rafles, dia bersusah payah menelan ludahnya.

“hahaha… bercanda kok” ujar Viny tertawa pelan.

Mereka berdua lalu melanjutkan makan malam mereka. Tak terasa kini waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, kini di ruang tengah hanya menyisakan Dendhi, Rafles, Frieska.

“besok bisa di bilang hari yang cukup berat buat kita, jangan lakuin kesalahan ya” pinta Frieska. Dendhi dan Rafles hanya mengangguk kan kepala.

“Ya udah, tidur sana gih. Kalian udah keliatan ngantuk banget itu” perintah Frieska pada Dendhi dan Rafles. Rafles lalu pergi ke kamar Frieska, namun tidak dengan Dendhi, dia masih mengamati kakaknya itu.

“Kak, kita kumpul udah lama banget, aku tau kakak lagi kepikiran sesuatu” Dendhi mengawali pembicaraan. Frieska tersenyum kepada Dendhi, lalu dia berjalan mendekati Dendhi. Detik selanjutnya Frieska sudah memeluk Dendhi. Dendhi merasakan baju nya mulai basah.

“Kak, cerita sama aku” pinta Dendhi.

Frieska melepaskan pelukan nya, dia memegang tangan Dendhi, mereka berdua lalu duduk di kursi ruang tamu.

“Kakak punya bad feeling” ujar Frieska dingin.

“Bad Feeling gimana kak?” tanya Dendhi.

“Entah kenapa kakak rasanya bakal pergi ke suatu tempat yang jauh banget” ujar Frieska.

“Kak, ngomong apa sih? Emang kakak tega ninggalin aku sama Gre?” tanya Dendhi, Frieska hanya diam.

“Jangan khawatir, aku bakal jagain kakak, sama Gre” kata Dendhi, di lihatnya Frieska yang tersenyum, dengan pelan Dendhi menghapus air mata yang membasahi pipi kakaknya.

“Den, kamu tidur ya, udah malem ini” ujar Frieska.

“Iya, aku bakal tidur, kakak juga tidur ya” ujar Dendhi

Dendhi dan Frieska lalu masuk ke dalam kamar mereka masing-masing. Rafles dan Dendhi tidur di kamar Dendhi, Viny dan Frieska tidur di kamar Frieska, sedangkan Gracia tidur di kamarnya yang terletak di lantai satu.

Tengah malam Gracia terbangun dari tidur nya, betapa kagetnya dia ketika dia melihat mayat hidup yang tengah mengamati dia melalui jendela kamarnya.

“AAAAAAA” Teriak Gracia, Dendhi dan Rafles yang tertidur di kamarnya langsung terbangun.

“Gre” Panggil Dendhi, lalu dia dan Rafles segera keluar dari kamarnya, terdengar suara sedikit gaduh dari kamar Frieska, lalu pintu kamar Frieska terbuka, yang lalu menunjukkan ekspresi cemas dari Frieska dan Viny.

Mereka memasuki kamar Gracia, betapa kagetnya mereka, terutama Dendhi dan Frieska.

“So, akhirnya pertanyaan kita terjawab tentang papa” Ujar Frieska.

Tak lama kemudian terdengar ketokan yang sangat keras di pintu rumah mereka, menyusul kemudian jendela rumah mereka.

“Kita nggak bisa bertahan lebih lama lagi di sini. Cepet keluar lewat pintu belakang” Perintah Dendhi, yang lalu di turuti oleh mereka semua.

Mereka berlari meninggalkan rumah mereka. dan bersembunyi di balik salah satu rumah warga, Dendhi melihat jam tangan nya yang sudah menunjukkan pukul tiga pagi.

“Tunggu tiga jam lagi ya” ujar Frieska menenangkan Gracia. Sedangkan Gracia hanya mengangguk pelan. Terdengar jelas isak tangis dari dia.

Tak lama kemudian handphone dari Frieska. Setelah Frieska membuka handphone nya ternyata pemerintah mengirimkan Lokasi penjemputan yang terkoneksi langsung dengan GPS milik Frieska.

“Guys, kita dapet lokasi penjemputan nya, tapi apesnya…” Frieska tak melanjutkan omongan nya.

“Kenapa kak?” Tanya Viny

“lokasi nya mengarah ke kantor balai desa” Ujar Frieska.

Shit, kenapa harus di sana Umpat Rafles

“Karena di sana tempatnya luas” ujar Viny.

“Kalo ngomongin soal luas, kenapa nggak di lapangan bola?” Sahut Dendhi.

“Udah-udah yang penting kita bisa keluar dari desa ini” lerai Frieska.

Karena obrolan yang mereka buat, mayat hidup mendekat ke arah mereka.

What the…. Lari semuanya” Ujar Dendhi, mereka lalu berlari ke arah kantor balai desa.

Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, Dendhi dan teman-temannya sudah capek karena terus-terusan berlari.

“Kak, kita istirahat dulu” Ucap Gracia yang kehabisan nafas karena berlari.

“Iya, kita istirahat dulu. Capek banget” balas Dendhi dengan kondisi yang tak jauh berbeda dari Gracia.

Mereka lalu duduk di dekat pohon, entah karena kecapekan atau apa, mereka tidak menyadari bahwa ada salah satu mayat hidup mendekati Gracia, tiba- tiba mayat hidup itu menyeret Gracia, dan untung nya Dendhi menoleh ke arah Gracia. Dengan cepat Dendhi lalu memukul wajah mayat hidup itu.

“Oh. Come on.. baru aja istirahat sudah ada lagi” keluh Rafles.

Dengan stamina yang sudah terkuras banyak, mereka masih berlari menghindari gerombolan mayat hidup yang berusaha untuk menggigit mereka. namun di tengah itu tiba-tiba kaki viny di pegang oleh dua mayat hidup yang berada di tanah.

“Tolong” teriak Viny keras. Dendhi dan teman-teman nya langsung berhenti, Frieska langsung mendekati Viny, dia berusaha menarik kaki Viny, namun seperti nya apes bagi Frieska, dia tak memperhatikan mayat hidup yang persis berada di belakang dia. Dan tiba-tiba

 

“ARRRRGHHH” Teriak Frieska kesakitan.

 

“Kak Frieska” Teriak Dendhi yang langsung menarik Frieska dan Viny menjauh dari tempat itu. Mereka langsung masuk ke dalam kantor balai desa. Dendhi langsung meletakkan kapak di pegangan gerbang itu dengan posisi melintang.

“Kak, Bertahan kak” Ujar Gracia sambil menangis. Di lihat nya wajah kakak nya itu yang mulai memucat.

“Den…” Panggil Frieska lemah. Dendhi yang mendengar itu berjalan mendekat ke arah Frieska.

“Ada apa kak?” tanya Dendhi.

“Mungkin ini permintaan terakhir kakak. Tol” Ujar Frieska terpotong.

“JANGAN BILANG GITU KAK, PERCAYA SAMA AKU. KITA PASTI SELAMAT DARI TEMPAT INI, PERCAYA SAMA AKU KAK” Teriak Dendhi.

“Den, ka… kakak u..udah nggak ku…kuat lagi” Ujar Frieska.

Viny yang melihat itu langsung mendekat ke arah Frieska, Gracia, dan Dendhi.

“Kak Frieska, aku minta maaf, aku bener-bener minta maaf kak, mungkin kalo aku lebih waspada kakak nggak harus begini” Ujar Viny yang berjongkok, tak lama kemudian muncul air mata yang membasahi pipinya.

Tangan lemah Frieska lalu menghapus air mata Viny. Dia lalu menyunggingkan senyum nya pada Viny.

“I…ini bu…bukan salah ka…mu Vin” Ujar Frieska tersenyum.

“Tapi…” Ujar Viny terpotong.

“Vin. Bisa kamu tinggalin kita nggak?” Ujar Dendhi dengan nada memelas,  Viny menggeleng pelan, namun tiba-tiba dia di tarik pelan.

“Vin.. biarin mereka dulu. Untuk sebentar aja” bisik Rafles menatap Viny dalam. Viny tak menjawab, namun dia mengangguk pelan sambil menangis sesenggukan, dan lalu memeluk Rafles.

“Den… Tol…tolong Jaga Gr…Gracia. Jan… Jangan biarin dia me…melihat kej…kejadian ini un…untuk ke..dua Kali nya” Ujar Frieska terbata

“Aku janji kak, aku akan janji jagain Gracia sebisa ku” Ujar Dendhi menahan air matanya supaya tidak keluar.

Frieska hanya memperlihatkan senyumnya sebentar, dan lalu menutup matanya

“Kak, bangun Kak” Ujar Gracia sambil menggoyangkan tubuh Frieska.

“Kak Dendhi.. Kak Frieska cuman tidur doang kan?” tanya Gracia yang lalu menggoyangkan tubuh kakak laki-laki nya itu. Dendhi tak menjawab, dia hanya memandangi tubuh Frieska dengan tatapan kosong. Merasa tak puas, Gracia berjalan mendekati Rafles yang tengah menenangkan Viny.

“Kak Rafles, Kak Frieska cuman tidur doang kan?” Ujar Gracia sambil menggoyangkan tubuh Rafles. Rafles menghela nafasnya kasar.

“Dia tidur dengan tenang, sama mama dan papa kamu, doain supaya mereka bertiga tenang di sana ya” Ujar Rafles lalu mengelus pelan rambut Gracia.

Gracia lalu berjongkok, dia menutup wajahnya, dan dia menangis dengan tersedu-sedu, siapapun yang mendengar itu pasti tak tega. Sedangkan Dendhi masih tetap memandangi tubuh kakaknya dengan pandangan kosong.

Samar-samar terdengar suara helikopter, suara itu semakin terdengar keras. Namun tiba-tiba Frieska membuka matanya, dan dia bertingkah persis dengan mayat-mayat hidup itu. Dan tiba-tiba

 

DAAAAR…

 

Dendhi menutup matanya rapat-rapat, dia benar-benar tak ingin melihat adegan memilukan itu. Rafles, Gracia dan Viny lalu berlari mendekati helikopter yang mendarat tepat halaman kantor balai desa itu.

“Nak. Ayo kita pergi meninggalkan tempat ini” Ujar Pria dengan pakaian Angkatan Darat yang lalu menarik tangan Dendhi menuju ke helikopter, dan helikopter itu lalu meninggalkan tempat Kalibaru

 

Satu Tahun Kemudian

 

Dendhi, Rafles, dan Gracia pindah ke Jakarta, Tragedi itu masih tersimpan dengan jelas di ingatan mereka, terutama Gracia. Tapi Dendhi dan Rafles memilih untuk bungkam dan menyimpan sendiri Ingatan yang tragis itu.

Di kamar yang berukuran sedang, terlihat dua orang menatapi monitor laptop miliknya, tak lama kemudiansalah satu di antara mereka bersorak gembira. Dia lalu keluar dari kamar, dari kejauhan terlihat seorang wanita sedang mengamati Dendhi, wanita itu lalu meninggalkan Dendhi dan kembali ke kamarnya. Tak lama kemudian Rafles datang sambil membawa dua softdrink dingin, lalu menempelkan salah satu softdrink dingin ke pipi Dendhi.

“Eh… dingin tau” gerutu Dendhi.

“hehehe… maaf Den, Gimana? Kamu keterima nggak?” tanya Rafles.

“Aku nggak tau. Masih belum terima email. Gimana sama kamu Raf?” Tanya Dendhi balik.

“Udah Den, and now, I’m officially a member of President Security Force” Ujar Rafles bangga. Dendhi yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya bisa tersenyum kecil.

Tak lama kemudian masuklah sebuah email di account email Dendhi, dengan semangat Dendhi dan Rafles membaca email itu. Lalu mereka berdua bersorak gembira.

“Akhirnya sahabatku masuk ke paspampres juga, welcome to the world, smeoga kejadian masa lalu itu tak mengikuti kita ya” Ujar Rafles menepuk pundak Dendhi.

“Semoga” Ujar Dendhi singkat.

“Papa, Mama, Kak Frieska. Beristirahatlah yang tenang, akan aku jaga Gracia sampai nafas terakhirku” Ujar Dendhi dalam hatinya.

 

END..

Author’s note : Halo rekkk… ini adalah kisah sebelum Zombie Attack, Saving President Daughter. (Bahasa kerennya prequel ya? :v) semoga kalian suka, di tunggu comment nya ya

@Dendhi_Yoanda

Iklan

4 tanggapan untuk “Zombie Attack : first adventure

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s