Anihilation, Part24

cover

~oOo~

“T..terimakasih.. Shani, aku janji akan selalu mencintaimu dan menjagamu” Kelvin mengecup pelan bibir Shani, mereka masih sama-sama telanjang bulat

“Aku percaya itu. Terimakasih juga sudah memuaskanku.. aku juga mencintaimu” ucap Shani yang kemudian ia juga mengecup lagi bibir Kelvin pelan

“S..soal.. it..itu.. ma..maaf”

“Kenapa ?”

“Aku mengeluarkannya di dalam” Kelvin tertunduk lesu

“Kau tidak perlu khawatir, aku tidak menyesal melakukan itu denganmu. Dan soal itu, tadi kan aku yang memang memintamu untuk mengeluarkan di dalam, jadi tidak perlu merasa bersalah” terang Shani

“L..l..lau bagaimana jika..”

“Hamil ?” Kelvin terkejut bahwa Shani mengetahui apa yang ia pikirkan

Kelvin mengangguk

“Aku mau kok mengandung anakmu, jangan khawatir.. kita bisa menjadi orangtua yang baik untuk anak kita nantinya. Kau mau kan merawat anak kita ?”

“..T..tentu saja.. aku kan sudah bilang akan bertanggung jawab”

HAP

Shani memeluk Kelvin lembut menumpahkan semua rasa haru, sedih, senang, semuanya di atas pundak kekasihnya

“Terimakasih.. aku benar-benar senang memilikimu” isak Shani dalam tangisnya

“Aku juga”

“Semoga saja aku benar-benar hamil, aku sudah tak sabar untuk menjadi seorang Ibu.. terlebih aku sangat menyukai bayi kecil yang lucu, kuharap wajahnya nanti seperti diriku atau dirimu”

“Tentu saja, Shani. Pasti anak kita akan mewarisi kemiripan entah dari siapa”

“Kuharap aku” canda Shani sambil menjulurkan lidahnya

“Dasar.. yasudah terserah kau saja” Kelvin mengelus-elus kepala Shani

Mereka berdua kembali melanjutkan aktivitasnya di goa, tidak ada yang begitu spesial. Hanya mencari makan, minum, mandi, berbincang-bincang membunuh waktu, lalu tidur. Begitu setiap harinya.

Semuanya berjalan damai, Kelvin dan Shani merasa betah tinggal di dalam goa itu, mereka sudah menganggap goa itu sebagai rumah mereka sendiri, tidak cukup buruk memang. Semua yang ia butuhkan sudah tersedia disana, Kelvin hanya tinggal mencari beberapa kayu untuk menghangatkan, makanan, minuman, dan juga obat-obatan yang nantinya akan Shani racik untuk keperluan mereka.

“Aku bosan, seharusnya kita melakukan sesuatu” usul Shani

“Maksudmu ?”

“Mungkin.. semacam, bermain atau lainnya”

“Kita hanya berdua. Permainan jenis apa yang dilakukan hanya dua orang ?” Kelvin mengerutkan dahinya, berusaha berpikir keras

“Hmm.. aha ! Bagaimana kalau kita lomba berenang di sungai. Tetapi bukan sungai yang biasa kita gunakan, melainkan sungai yang ada di belakang goa ini” usul Shani dengan wajah riang

Keduanya memang baru saja menemukan sungai baru di belakang goa, mungkin lebih tepatnya disebut sebagai danau, karena luasnya yang lebih kecil dari sungai yang biasa mereka gunakan di depan goa

“Aku tidak bisa berenang, Shan”

“..E..eh.. aku tidak pernah tahu akan hal itu” Shani terkejut, selama satu-dua bulan belakangan mengenal Kelvin, ia tidak tahu sama sekali jika kekasihnya itu tidak bisa berenang

“Kau tidak pernah bertanya” ucap Kelvin

“Huuh.. aku kan tidak pernah membahas soal berenang sebelumnya” jawab Shani sambil mengerucutkan bibirnya

“Iya-iya aku tahu, makanya itu aku memberitahumu sekarang” Kelvin mengelus pelan kepala kekasihnya

Shani terdiam, dan sedikit tertunduk

“Heei.. kau kan masih bisa berenang sendirian, aku akan mengawasi di sekitar sungai. Benarkan ?” usul Kelvin untuk membuat Shani kembali ceria

Wajah Shani perlahan mulai kembali tersenyum manis, ia mulai menyetujui masukan dari kekasihnya

“Ayooo” seperti anak kecil, Shani menarik manja tangan Kelvin untuk segera keluar goa, ia sudah tidak sabar untuk berenang di danau. Berenang merupakan salah satu hobinya, tak jarang Shani dan Malaikat lainnya sering sekali berenang di Surga tempatnya berasal

Setelah mereka berdua sampai di pinggiran danau yang tidak terlalu besar itu, Shani lompat-lompat kecil merasa riang. Ia seperti orang yang baru melihat danau pertama kali.

Shani tidak melepas pakaiannya, ia tetap berendam dengan berpakaian lengkap

“Heeii.. Sayang.. sungai ini ternyata tidak dalam, aku bisa menginjak dasarnya” ucap Shani riang sambil menawarkan tangannya kepada Kelvin

“Benarkah ?” Kelvin masih merasa tidak percaya, ia takut bahwa Shani hanya ingin usil saja dengannya

“Ayolah.. aku ini istrimu, aku tidak akan tega untuk berbohong denganmu” sahut Shani menjawab

Kelvin berpikir sejenak, lalu setelah dipikir-pikir, benar juga apa yang Shani katakan. Ia mana mungkin tega untuk berbohong

CBYURRR

Kelvin ikut berendam, air danau itu terasa sangat dingin. Sampai beberapa kali membuat tubuh keduanya menggigil kedinginan

“Brrr.. dinginnya” gigi Shani bergemeretakan menahan dingin

“Mau kuhangatkan ?”

“Eh.. memangnya bisa ?” Shani bingung

“Tentu saja bisa, aku bisa mengeluarkan hawa panas untuk menghangatkan air danau ini”

“Aku belum pernah tahu sebelumnya mengenai ilmu Roost ini”

“Ini bukan Roost, sayang”

“Lalu apa ?” Shani bingung

“Entahlah, tidak ada sebutan spesifik untuk ini.. ” Shani hanya mengangguk

“Keluarlah dulu, aku akan menghangatkan air nya” lanjut Kelvin

Lalu Shani keluar dari danau itu, mematuhi setiap perkataan dari kekasihnya. Kelvin hanya mencelupkan tangan kanannya ke dalam air danau, dan tak berapa lama kemudian, danau sudah mulai mengepulkan asap. Shani memandang kagum melihat kekuatan Kelvin yang dalam sekejap mampu mengubah suhu air

“Waa.. kau keren sekali.. kita bisa berendam air hangat” pekik Shani riang

“Dasar kau ini.. seperti anak kecil saja”

“Hehe.. terserahku” Shani menjulurkan lidahnya

Kelvin melepas sepatu dan pakaian luarnya. Menunjukkan tubuh atletisnya yang membuat Shani tersipu malu

“Heii.. kenapa ? kau tidak jadi berenang ?”

“E..eh.. t.tid..tidak.. tidak apa-apa”

“Eh apa kau sakit, kulihat pipimu merah”

“Mhh…e..eh.. iyakah ?” Shani memegang kedua pipinya, andai saja ada cermin, dia pasti ingin melihat pipinya sendiri yang merah

“Tapi sekarang sudah tidak lagi”

CBYUUR

“Ayo, sayang, cepat masuk ke danau! Nyaman sekali berendam di air hangat” seru Kelvin dari dalam air

Selepas Kelvin berkata begitu, Shani lalu ikut masuk ke dalam air

CBYUUR

“Sayang, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu..” gumam Shani di dalam air

“Apa itu ?”

“Aku ingin bertanya bagaimana caranya lengan dan tubuhmu bisa berotot seperti itu ?”

Kelvin terdiam sesaat. Namun kemudian ia tertawa terbahak-terbahak

“Iih.. kenapa kau malah tertawa ?” Shani sedikit kesal

“Aneh sekali, kita sudah berhubungan badan, namun kau baru menyadarinya..”

Shani mengangguk kecil

“Bukan hanya aku yang punya tubuh seperti ini, toh seluruh Iblis pria juga memiliki tubuh yang sama denganku” lanjut Kelvin

“Benarkah ?”

“Iya… Sayang” Kelvin mengelus pucuk kepala Shani lembut

“Yasudah” Shani mulai berenang

Selama mereka berendam, Shani mengajari cara Kelvin untuk menyelam, awalnya memang sulit, karena Kelvin sangat mudah kehabisan nafas di dalam air, tapi akhirnya lama-kelamaan Kelvin mulai terbiasa meskipun belum terlalu lama. Sehabis berendam, Shani juga mengajari Kelvin ilmu pengobatan, walaupun si Iblis sama sekali tidak berminat, tetapi ia menghargai Shani dan mau menerima ajaran kekasihnya.

“Bagaimana ?”

“Hmm.. sepertinya aku tetap tidak bisa, sayang. Aku sama sekali tidak berminat tentang ilmu pengobatan”

“Huhh..yasudah..”

“Bagaimana jika kau kuajari ilmu pedang ?”

“Aku sama sekali tidak berminat tentang ilmu pedang” balas Shani mengikuti apa yang tadi Kelvin katakan

“Kau memang pandai meniru”

“Hehe” Shani hanya terkekeh pelan..

Setelah bermain-main, berenang dan berlatih di pinggir danau, keduanya memutuskan kembali ke dalam goa mereka. Tetapi sebelum itu, Kelvin mencari beberapa daging hewan yang sudah mati untuk nantinya dibakar dan mereka makan. Shani yang awalnya mual dan tidak suka makan bangkai daging, perlahan-lahan mulai terbiasa dengan cara hidup kekasihnya. Bagaimanapun ia berada di Bumi saat ini, bukan di Surga yang memiliki makanan yang memanjakan lidah.

“Apa yang kau dapatkan ?”

“Ini saja.. mungkin cukup untuk persediaan makanan kita untuk beberapa lama” Kelvin menunjukkan tiga ekor daging kelinci yang sudah mati, beserta dua ekor ular besar berwarna hitam dengan kepala yang sudah terpenggal

“Yasudah..”

“Kau mau mencoba daging ular ini ?” tawar Kelvin

Shani bergidik geli

“Tidak, terimakasih. Aku lebih suka daging kelinci” jawab Shani

Shani tentu saja memilih memakan daging kelinci, ternyata daging kelinci tidak seburuk yang pertama kali ia bayangkan, meskipun rasanya sedikit hambar, namun akhirnya, Shani mulai terbiasa dan menyukai daging kelinci.

“Aku heran kenapa kau menyukai daging ular ?” lanjut Shani mengernyitkan dahi

“Bukan hanya aku, seluruh Iblis juga sudah terbiasa memakan daging hewan terkutuk ini” balas Kelvin

Ular memang merupakan hewan yang dikutuk oleh Tuhan. Dulunya hewan melata itu mempunyai kaki, namun karena suatu peristiwa milyaran tahun lalu pada awal mula penciptaan, hewan yang bernama ular itu menghasut manusia pertama yang bernama Adam untuk berbuat dosa. Akhirnya karena perbuatannya itu, Tuhan mengutuk ular menjadi hewan melata untuk selamanya

“Hari sudah gelap, cepat kita kembali ke goa” Shani membuntuti Kelvin dari belakang

Setelah perburuan makanan selesai, mereka benar-benar kembali kedalam goa mereka. Kelvin membuat api anggun untuk membakar daging-daging yang sudah ia dapatkan, dengan cepatnya ia memotong kedua ekor ular tesebut menjadi beberapa bagian lalu menusuknya dengan ranting-ranting pohon sebelum dibakarnya daging-daging ular tersebut. Tak lupa juga ia melakukan hal yang sama untuk daging kelinci yang akan dimakan Shani.

Shani tidak tega menusuk dan membakar daging-daging kelinci, meskipun kelinci-kelinci itu sudah mati. Tak bisa dipungkiri hatinya memang sangat lembut dan berperasaan terhadap apapun. Tak salah jika ia adalah seorang Malaikat.

Setelah matang, Kelvin membagikan daging-daging kelinci kepada Shani, dan memakan daging-daging ular yang tadi ia sudah bakar. Keduanya memakan dengan lahap. Mereka sudah sangat kelaparan sekali, karena terakhir kali mereka makan adalah dua hari yang lalu.

Kaum Iblis dan Malaikat memang berbeda dengan manusia, jika manusia harus makan dua atau tiga kali sehari, mereka bisa kuat menahan lapar selama dua-tiga hari. Makan bukan merupakan aktivitas yang begitu wajib bagi mereka.

“Sayang..” panggil Shani pelan setelah mereka selesai makan

“Hmm ? Apa ?”

“Pernahkah kau berpikir akan kemana kita nantinya ? Tidak mungkin bukan, jika kita menghabiskan hidup disini selamanya” ucap Shani, ia merasa bahwa mereka seharusnya mempunyai tempat tinggal yang layak

“Setiap hari aku memikirkan itu, sayang. Tapi untuk saat ini, aku tidak tahu kemana kita akan pergi…” jawab Kelvin

“T..t.tapi.. mmh.. aku ingin menanyakan satu hal padamu..”

“Tanyakan saja”

“Maukah kau ikut denganku ke Surga ?”

“Itu sangat tidak mungkin, sayang. Pasti aku langsung dibunuh oleh Gabriel jika berani menginjakkan kaki disana”

“Ayolaaaah.. aku akan membujuknya untuk mengizinkanmu tinggal disana..” Shani
menggoyang-goyangkan lengan Kelvin

“Maaf, sayang. Aku belum bisa.. jika kau ingin kesana, pergilah sendiri kesana.. kau bagian dari mereka”

“Jadi maksudmu kau begitu saja meninggalkanku setelah apa yang kita lakukan tempo hari itu ?! Aku tidak mau.. kita harus slalu bersama” potong Shani dengan nada meninggi

“Bukan begitu maksudku..”

“Ah.. sudahlah.. kau ini sebenarnya mencintaiku atau tidak ?!”

“Mencintaimu Shani !! Tapi ada satu dan lain hal aku menolak untuk tinggal di Surga”

“Kita bisa membangun rumah di Bumi dulu, yang jelas, jauh dari perselisihan Iblis dan Malaikat..” lanjut Kelvin mencoba memberi solusi dari perdebatan mereka

Shani tidak menjawab, melainkan ia hanya termenung dan menyadari keegoisannya barusan, ia menyesal sudah memperkeruh keadaan. Seharusnya ia tidak membantah apapun yang Kelvin katakan.

“M..maafkan aku karena sempat tersulut emosi tadi..”

“Tidak apa-apa, sayangku. Aku mengerti kekhawatiranmu” Kelvin mengangkat dagu
Shani untuk menatap matanya

Disaat mata mereka bertemu, tiba-tiba saja ada kejadian yang aneh. Shani tiba-tiba saja merasa perutnya mual, kepalanya sedikit pusing.

“Uhkk.. huueek”

“E.. eh ?? Kau kenapa sayang ? kau tidak apa-apa ?” raut kekhawatiran jelas terpancar dari wajah Kelvin

“Entah.. aku merasa pusing dan mual” Shani memegang kepalanya yang terasa sakit

Kelvin membantu menopang tubuh Shani agar si Malaikat tidak jatuh pingsan

“Apakah akibat makan daging kelinci tadi ?” Kelvin berusaha menerka-nerka apa yang menjadi penyebab mual Shani. Padahal sudah beberapa kali Shani memakan daging kelinci, namun belum pernah sekalipun ia merasa mual setelahnya

“Kurasa bukan.. uughh.. hueeek” Shani akhirnya tidak bisa menahan rasa mualnya. Ia langsung saja memuntahkan makanan yang tadi sudah ia makan

Kelvin memijit-mijit leher Shani pelan..

“Muntahkan saja semuanya.. kurasa kau masuk angin”

Setelah Shani selesai memuntahkan semuanya

“Sudah semua ?” tanya Kelvin

Shani mengangguk pelan

“Ini.. minum dulu” Kelvin menyodorkan segelas air putih yang sudah ia hangatkan

“Kurasa bukan masuk angin..” gumam Shani pelan setelah ia minum

“Lalu ?”

“Atau jangan-jangan…”

“Jangan-jangan apa ?” Si Iblis terlihat bingung

“Aku hamil…”

*To Be Continued*

site : mandalakelvin.wordpress.com

YT channel : www.youtube.com/user/WWEKelvinMP

@KelvinMP_WWE

Iklan

Satu tanggapan untuk “Anihilation, Part24

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s