Pengagum Rahasia 2, Part 28

“Ayo dev,”

Shani memegang tangan Deva kemudian jalan lebih dulu.

“Eng…umm…Shani,” bisik Deva

“Hmm?” timbal Shani tanpa berbalik

“Apa gak lebih baik kalau aku datang ke rumah kamunya besok aja? Ini kan udah malem,” tambahnya

“Besok aku sekolah dev, kamu juga pasti sekolah kan? Lagipula udah hampir setahun kamu gak berkunjung ke rumah aku,”

Deva memalingkan pandangannya dari Shani sambil terlihat malu-malu.

“Tapi Shan…Rumah kamu lagi…Sepi,”

“Emangnya kenapa dev? Bagus kan kalau lagi sepi,”

“I-itu gak bagus Shaniiiiii!”

“umm…kamu udah gak mau main lagi ke rumahku ya dev,” Shani tiba-tiba murung

“Eh-eh bukan gitu shan, tapi gak baik kalau cowok main ke rumah cewek malem-malem gini, terlebih lagi pas keadaan rumahnya lagi sepi,”

Shani pun terdiam.

“Kalau kamu bilang gitu…yaudah deh lain kali,”

“Nah, mungkin nanti deh pas liburan,” ucap Deva

“Tapi Dev jangan lupain soal ciuman kita tadi, dan ingat…hubungan kita sekarang udah bukan sekedar pertemanan masa kecil lagi,”

“Ah! S-Soal itu…umm…,” Deva menundukan kepalanya

“Hey…,” Shani menyentuh hidung Deva dengan telunjuknya

“Waktu dulu kamu pernah bilang kan, *Aku gak akan pernah tinggalin kamu Shani* . terus kamu bilangnya sambil usap-usap rambut aku lagi,”

“Heee…K-Kapan aku pernah bilang gitu!?”

“Dulu deh, sekitar kelas 4  SD,”

“Kamu…Masih inget Shan?”

“ya, karena itu adalah sesuatu hal yang gak mungkin aku lupain,”

“Ah-Hahaha…,”

“Kalau gitu…,”

*Crap!

            Shani mengambil Handphone di saku celana Deva.

“H-hei tunggu!”

“Tahan dulu sebentar dev,”

“Kamu mau ngapain shan!?”

Sekitar 15 detik Shani mengotak-atik Handphone itu.

*Tet!

“Nih…,” Shani mengembalikan Handphone itu

“A-Apa!?”

“Aku cuma ngotak-ngatik Line kamu aja,”

“Ah!?” Deva buru-buru mengecek Linenya

“Cuma add kontak toh?” ucap Deva

“Kalau udah sampai rumah, kotakin aku ya dev,”

“Huft, iya deh,”

“Bye-Bye…,”

Dari Cafeteria, Deva masih melihat ke arah Shani yang tengah menyebrang jalan.

“Jam setengah 9…,” ucapnya melihat arloji

“Pulang deh…,” *BRAK!

“W-Waduh…Sorry mbak tadi…,”

“Lagi ngapain disini hah!”

“V-Ve!?” Deva terkejut

“Kamu lagi sakit kenapa malah keluyuran sih sayaaaaaaang!” tegurnya

“G-Gak sakit kok, cuma…Eh tunggu, kamu sendiri ngapain ada disini!?”

“Aku daritadi juga ada disini dev! Kebetulan tadi temen-temen kelas aku baru pulang,”

“Oh, jadi bener ya dia lagi Hangout sama temen-temennya,”

“Untung tadi dia kagak liat gw sama Shani, Fyuh…,”

“Sayang! Ayo pulang!” Ve merangkul tangannya

“I-iya tapi jangan peluk-peluk gini Ve!”

*Hesp-Hesp…

“Aku nyium bau parfum cewe di baju kamu dev,”

“HAH!?”

Seketika Ve langsung menatap tajam ke arah Deva. Ia terfokus ke arah bibirnya.

Deva yang menyadarinya buru-buru memalingkan pandangannya dari Ve.

“Y-yah, ayo pulang Ve,” ajak Deva

“Tunggu! Kamu mau kemana sayang?”

“yaaa…mau pulang kan?” timbal Deva

“Mobil aku kan parkir disitu,” tunjuk Ve

“K-Kamu bawa mobil? Eh tunggu dulu, kamu punya mobil?”

“Iya,” balasnya singkat

“Sejak kapan!?”

“Dari dulu kali sayang! Padahal kan kamu sering main ke rumah aku, masa gak liat sih,”

“Huh…berarti kamu yang bawa ya, karena aku gak bisa nyetir mobil,”

“Hmph! Padahal kan aku pengen peluk kamu di mobil Dev,”

“udah cepet pulang, udah hampir jam 9 malem nih,”

“yaudah ayo jalannya barengan!” ucap Ve dengan manja

Ve pun memeluk tangan Deva kemudian mereka mulai berjalan menuju parkiran.

~oOo~

“Dev aku liatin…daritadi kamu liat kebelakang terus, kenapa sih?”

“Ah enggak kok, cuma keliatannya kalau duduk di belakang lebih enak daripada di depan,”

“Jangan pindah!”

“EH!” Deva kaget

“Aku tau kamu sebenarnya cuma pengen tiduran kan? Yaudah kamu tidur di paha aku aja sayang, nih…,”*Puk-puk…

            Ve menepuk-nepuk pahanya.

“Em…nggak deh, aku gak pengen tiduran juga kok,”

“Cuma pengen selonjorin kaki aja sih, soalnya lampu merahnya ini lama banget,”

“Iya gak apa-apa selonjoran juga,”

“Ah…Gak deh, hehe…nanti kamu malah nabrak orang lagi kalau aku tidur di paha kamu,”

“EH!” Ve begitu terkejut dengan perkataan Deva, Ve juga terlihat langsung menutup mulutnya sambil menatap Deva

Lantas Deva ikut terkejut karena sikap Ve tersebut.

“Loh!? Kenapa!?”

“Eng…Gak kenapa-kenapa kok, hehe…,” Ve kembali fokus ke jalanan dan sedikit menghiraukan Deva

“Eh udah ijo tuh lampunya,” ucap Deva

Ve pun kembali melaju dengan kecepatan standar.

“Em…Ve?”

“…Kenapa sayang?” timbalnya tanpa berpaling sedikit pun

“Fokus amat, perasaan tadi nyantai-nyantai aja,”

“Ahaha…Nanti kan malah nubruk orang kalau gak fokus dev, hehe…,”

“Bagus deh, keselamatan adalah kuncinya,”

“umm…kita beli martabak dulu ya dev,”

“Eh?”

“Aku mau main ke rumah kamu dulu bentar,”

“Hee! T-Tapi gak perlu repot-repot kali,”

“Gak apa-apa kok, liat…,”

Ve mengambil Handphone itu dengan tangan kirinya sambil terus fokus ke jalanan.

Kemudian ia menunjukan sesuatu yang terpapar di layar Handphonenya tersebut.

“Ini status Linenya kak Melody?” ucap Deva

“Coba baca,” ucap Ve

“Pengen martabak?” ucap Deva ketika membacanya

“Nah, itu artinya dia ngasih kode pengen martabak Dev,”

“Manja amat, gak usah deh Ve,”

“udah gak apa-apa kok, lagian aku juga lagi pengen makan martabak,”

“Yee…makan mulu, itu pipi tambah bulet nanti,”

“Tambah bulet tambah sayang kan dev?”

“Heemm, Sayang darimana,”

“Nyebelin deh, lama-lama aku cium bibir kamu dev,”

“Eh-eh, jangan lah…,”

“Kamu ini gak bisa di ajak bercanda dev, ahahaha…,”

“Perasaan tadi juga aku cuma bercanda deh,”

“Tapi kan wajar kalau kita ciuman dev, kita ini kan pasangan,”

“Eng…y-yah, aku…aku sebenarnya masih belum siap kalau soal ciuman Ve, hehe…,”

“Dih lebay deh! Kamu juga waktu itu pernah cium aku kan!”

“Hah!? K-Kapan!?”

“Waktu itu tuh, pas lagi bakar meja,”

“KAPAN!? S-Seriusan!?”

“Kamu…Lupa yah…,” Ve tiba-tiba murung

“Loh Ve! K-Kok kamu jadi…,”

“Hihi gak apa-apa kok, anggap aja aku gak pernah ngomong kayak gitu dev,”

“Aku minta maaf ya Ve kalau bikin kamu sedih, lagipula aku kan belum pernah ciuman sama cewek,”

“Hmph!”

“Yang bener?” tambahnya

“I-iyah…bener, sampai saat ini aku belum pernah ngelakuin sesuatu yang nakal sama cewek kok,”

“Kalau sama Shani?”

“HE! K-kamu kenal sama Shani!?”

“Ah enggak kok, cuma tau aja orangnya,” timbal Ve

“Oh, ahahaha…,”

“Kenapa kamu keliatan kaget pas aku bilang Shani, Dev?”

“yah karena Shani itu kan temen deket aku dari kecil, sejak kapan kamu tau soal Shani padahal kan gak ada orang yang pernah ngasih tau tentang dia,”

“Kamu…Sayang sama Shani?”

“Loh? Dia kan temen aku Ve, aku sama sekali gak punya perasaan sama dia,”

“Kamu serius kan dev?”

“Y-yah serius, kok kamu tiba-tiba tanyain hal itu sih?” ucap Deva balik bertanya

“Aku…,”

Ve terdiam.

“Aku bener-bener kenal deket sama dia, bahkan orang tuanya juga sampai kenal sama kak Melody gara-gara aku,” ucap Deva

“Awalnya aku cuma disuruh ajak main dia karena dulu itu dia Homeschooling gitu. Yah karena papa sama mamanya takut kalau dia malah jadi minder pas ketemu banyak orang, jadinya aku disuruh nemenin dia main setiap hari,”

“Jadi…Shani sekarang udah kayak gimana dev?”

“Hah? Oh! Aku lupa ceritain pas waktu perpisahan dulu. Sorry ya Ve aku gak tau sekarang dia udah jadi kayak gimana, karena terakhir kali ketemu dia tuh pas SMP kelas 9,”

“umm,” Ve terdiam

~oOo~

*Tuk-Tuk

“Deva pulang…,”

“Kak Melo?” ucapnya

“Mel?” ucap Ve juga

“Loh, ada Ve yah,”

“aku kira kamu udah tidur mel,”

“Belum kok, cuma lagi beres-beres kamar dia tuh,”

“HE! Kak melody lagi ngapain di kamar Deva!?”

“kan udah dibilang lagi beres-beres! Terus kakak nemu ini…,” Melody menunjukan sebuah plastik putih berisi obat

“Ini obat kak,”

“ya kakak tau, tapi kenapa obatnya masih banyak gini!” bentaknya

“A-Anu…,” Deva menggaruk kepalanya sambil tersenyum cengengesan

“Malah ketawa lagi, cepet makan terus minum obat sana!”

“Eh-eh iya kak!” Deva buru-buru masuk ke kamarnya untuk mengganti baju

“Ahaha…Selalu aja kayak gini, oh ini mel…,”

Ve memberikan kantong kresek itu.

“LOH!?” ucap Melody

“aku tau kamu pengen ini,”

“Hah, bisa aja kamu Ve,” Melody menerimanya sambil tertawa kecil

“Emm…kalau gitu aku pulang dulu ya mel,”

“Loh? Tumben cepet banget,”

“Aku ada tugas kuliah nih,”

*Ceklek…

            Pintu kamar itu terbuka.

“udah mau pulang Ve?”

“iya, maaf ya gak bisa lama-lama,”

“Hem, yaudah hati-hati di jalan,” ujar Deva

*CUPS!

Ve mencium pipi Deva.

“Jangan keluyuran terus ya Dev,” ucap Ve

“Pake nyium segala lagi!” ucap Deva

“Mesra banget ya anak muda jaman sekarang,” ucap Melody

“Hihi…aku pamit ya, bye…,” Ve pergi dari kediaman Deva

Pintu masih terbuka dan mereka berdua masih melihat Ve dari kejauhan.

Kini Ve berada di dalam mobilnya dan perlahan mobil itu melaju.

“yuk masuk,” ucap Melody

Pintu di tutup.

Sementara itu…

*

*

HIKS…HIKS…

“Devaaaa…,”

Air mata itu menetes begitu banyak ke pahanya.

~oOo~

DAK!

“Sinka pulang! Kaaaaaakkk!” panggilnya berteriak

Ketika Sinka berjalan menuju ruang tamu.

“Oh, udah pulang yah,” ucap wanita yang duduk di sofa

“HEY! Kenapa ada dia sih!” ucap Sinka sambil menunjuknya

“Ah-Hai Sinka,” sapa lelaki itu

“Rizal kesini cuma mau minta bantuan buat kerjain tugas sekolahnya,” ucap Naomi

“Kerjain tugas!? Seriusan tuh!?”

“Y-yah, cuma sedikit kesulitan kok hehe…,” timbal Rizal

“udah beli bukunya?” tanya Naomi

“Belum, tapi Sinka udah nemu toko bukunya sih,”

“Eh tunggu sebentar, Kalian…gak ngapa-ngapain kan?” lanjut Sinka

“Apa maksud dari kata gak ngapa-ngapain sin?” tanya Naomi

“Entahlah, menurut kakak yang kayak gimana?” tanya Sinka balik

“Jangan bikin kakak marah sin, kakak juga lagi mumet sama tugas nih,”

“HMPH!” Sinka acuh dan ia langsung pergi meninggalkan ruang tamu

“Ah kalau gitu mending aku pulang deh, malah bikin ribut disini lagi,” Rizal beranjak dari kursi itu

“Eh T-Tapi…,” ucap Naomi

“Gak apa-apa kok,” balas Rizal

Rizal membereskan barang-barangnya kedalam tasnya.

Naomi masih mendampinginya, dimulai dari ia memakai kaos kaki, sampai mengantarnya keluar rumah.

Di Depan pintu rumahnya…

“Aku pamit ya,”

“Zal!” Naomi memegang tangannya

“Eh?” Rizal menoleh

“Jangan lupa…,” ucap Naomi

“Hemm…iya, nanti aku anterin kok,”

“Pulangnya juga anterin yah,”

“Iya-iya,” balasnya lagi

“Kalau gitu…hati-hati di jalan,”

Rizal mengangguk sambil tersenyum.

*Ceklek…

“Fyuh…akhirnya selesai,”

“Ekhem!”

“EH!” Naomi terkejut akan kehadiran Sinka disana

“Mesra banget nih,” ejeknya

“Mesra apaan sih sinkaaaa…,”

“Itu pake bilang anterin pergi sama pulang segala, mau nge date ya?”

“Bukan ngedate, tapi anterin ke SMA 3 Sekalian pulangnya, gitu…,” Jelas Naomi

“Kan kakak ada studi lapangan di SMA 3, kamu lupa ya sin?” tambahnya

“Enggak lupa sih, cuma…dari cara kakak nanggepin Rizal…kok kayaknya udah akrab banget ya,”

“Huft, firasat kamu aja kali sin,” ucap Naomi sembari melewati Sinka

Sinka mengkerutkan pipinya sembari melihat Naomi yang berjalan melewatinya.

“Gimana hasil Psikotes kamu? Bagus gak?” ucapnya sembari duduk di sofa

“Belum tau,” balasnya singkat

“Belum di bagiin yah? Udah seminggu loh ini,”

“Entahlah, Shania belum kasih info lagi soal hasil tes itu,” ucap Sinka lalu meminum segelas air

“Terus hubungan kamu sama Deva gimana?”

*Bluuuurrrbbbb!

“PUAH! Kenapa kakak di sembur!” ucap Naomi

“Apa maksud kakak? hubungan sama Deva!? Sinka gak ada hubungan apa-apa sama dia!”

Naomi mengelap air di wajahnya dengan lap di meja itu.

“Semenjak event malam minggu itu, kamu keliatan jadi sedikit menjauh dari Deva, ya kan?”

“ya ampun kak Naomi please stop! Kalau menjauh terus kenapa? Lagian kan dia itu temen kelas Sinka,” Jelasnya

“Deva-Deva-Deva…udah 598 kali kamu nyebut nama itu, di depan KAKAK!”

“HAH! Apa!?” ucap Sinka

“Jangan gitu dong…kalau cinta kamu gak bisa di dapat, ya harus di kejar sin,”

“Ih!@_@,” Wajah Sinka memerah

“Tau darimana kalau Sinka udah nyebut kata itu sampai 598 kali kak!”

“ya ampun sin-sin, itulah kenapa kalau kamu ngeledek kakak yang aneh-aneh, kakak suka jarang bales kan?”

“udah jelas kalau kakak bales ya pasti skak mat!” tambahnya

“u-udah cukup! Sinka mau tidur aja!”

Sinka meninggalkan ruang keluarga dan pergi ke kamarnya.

~oOo~

*Tuk-Tuk-Tuk!

“Devaaaa! Udah jam 6 pagi, cepetan bangun!”

            Suara itu terdengar samar.

“Uh…,”

“Deva!”

“I-iya kak,”

Ia masih duduk di pinggiran kasur sambil mengusap-usap wajah mengantuknya. Perlahan ia kumpulkan semangatnya dan kemudian mulai bangkit.

Sementara itu…

*Seng-Sang-Seng-Trank!

“Tuh anak masih belum bangun juga? Selalu aja harus dibangunin tiap pagi, mana lagi repot gini lagi,” ucapnya sambil terus mengaduk di penggorengan itu

“Gak perlu kak,” ucap seseorang dari belakang

“Oh, udah bangun yah,”

“Selamat pagi kaaaaakk…Huaaah…,” Deva memeluk kakaknya itu dari belakang

“IIHH! Ngapain sih!?”

“Ngantuk…,”

“Jangan peluk-peluk gini ah! Kayak apaan aja sih!”

“Kak Melody cantik banget hari ini, Deva jadi pengen nyium,”

*PLAK!

“udah bangun?” ucap Melody dengan tatapan ganasnya

“LOH!” ucap Deva sambil memegang pipinya

“Masih pengen bercanda lagi?”

“Eh-eh udah bangun kak,”

“Hem, udah sana cepet mandi,” ujar kakaknya

“Iya deh,” Deva pertama-tama membasuh mukanya dengan air di washtafle itu

“Ini apaan kak?”

“Itu bungkus martabak yang kemarin kan,”

“Martabak? Kakak beli martabak kok gak bagi-bagi,”

“Bukan kakak yang beli tapi Ve,”

“Lah kapan dia datangnya?” tanya Deva lagi

“Hemm…kambuh lagi kan, udah deh cepetan mandi sana!” Melody sedikit mendorong Deva

“S-Sabar kali!”

“udah mandi terus sarapan dan jangan lupa minum obatnya!”

“Obat apa!?”

“Obat kamu lah! Emangnya obat yang mana lagi!” bentaknya

“Eeeehhh! I-iya deh ini mau mandi!”

Deva buru-buru masuk ke kamar mandi.

*

*

Setelah selesai mandi dan mengganti baju, Deva lekas menuju dapur untuk menyantap sarapan bersama.

*Greek!

            Kursi di geser.

“Obatnya gak usah dibawa ke meja makan juga dev,”

“Biar sekalian gitu, kan males kalau bulak-balik ke kamar,”

“Hemm…,”

            Deva terlihat mencari-cari sendok.

“Gak ada sendok, yaudah…,” tangannya langsung mencomot ke arah Nasi

*TOK!

“Aduh! S-Sakit lah kak!”

“Cuci tangan dulu!” ucap Melody yang masih memegang sendok sayur itu

“I-iya deh, mukulnya sampai kedengaran bunyi Tok! Sakit banget kak!”

“Alay, udah cepetan cuci tangan sana,”

“Kenapa gak ada sendok sih kak, biasanya kan ada,”

“sendoknya belum dimasukin ke lemari, lagian kakak juga udah mau berangkat dev, jangan bikin kakak terlambat,”

“yee…Deva juga nyantai-nyantai aja ini,”

“Terus aja ngomel-ngomel yah!”

“E-Eh! Jangan di tampar lagi kak!”

“Loh!? Kamu inget ya kalau kakak udah nampar kamu?”

“ya inget lah kak,  sakit lagi tadi namparnya,” ucap Deva sambil mengusap pipinya

“Hah?” Melody mengernyitkan dahinya

Sementara itu Deva menuju ke washtafle untuk mencuci tangannya.

“Apa mungkin kondisi kamu udah…,”

“Hm?” Deva menoleh

“Eh…gak ada apa-apa kok, hehe…,” ucap Melody lagi

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

4 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 28

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s