Puririnpa

Tempat duduk di dekat jendela biasanya merupakan singgasana untuk para tokoh utama dalam anime. Biar lebih mudah di gambar, supaya dekat dengan event yang ada di luar sekolah atau apapun itu. Sayang gue gak dapet tempat spesial itu, mungkin muka gue kurang menjual untuk jadi tokoh utama atau memang hal itu gak berlaku di dunia nyata.

Kelas 2-3 jurusan IPA, yah sekali lagi, jurusan IPA. Jurusan yang dianggap hebat, penuh dengan murid-murid pintar yang senang disiksa oleh mata pelajaran Fisika, Kimia dan hal berbau eksak lainnya. Stereotype yang entah tercetus dari mana, membuat gue semakin yakin berada di jalur yang salah.

Semua hal tentang menghitung benar-benar sulit untuk dikuasai. Rumus-rumus persamaan, menacari variabel tertentu serta hapalan tentang tabel periodik, arrgh semua itu benar-benar mengganggu. Mungkin hanya pelajaran biologi yang beruntung bisa terserap di otak gue, itu juga hanya beberapa materi tertentu.

Itu hanya bagian kecil, kehidupan sekolah jelas gak cuma seputar mata pelajaran. Ada bagian lain yang bikin kehidupan gue di sekolah lebih ‘hidup’. Gak tau deh istilah itu tepat atau enggak.

“Baiklah kita lanjutkan minggu depan,” ucap guru lelaki yang sedari tadi berceloteh tentang neutron, proton dan sebagainya.

Jam istirahat, sebagian besar temen sekelas gue mulai bangkit dari tempat duduk, mencoba menghirup aroma kebebasan dari hal berbau pelajaran selama 30 menit kedepan.

Gue juga harus bergegas. Sebenernya agak males sih, mengingat mungkin ada tugas yang melelahkan menanti setibanya di sana. Tapi mau gimana lagi? Udah ada kontrak yang disetujui, benefitnya juga lumayan. Hak makan di kantin sepuasnya sama beberapa bonus yang bikin gue gak harus mikirin biaya untuk isi pulsa.

“Mau ke kantin Ghif? Seorang perempuan muncul secara mendadak waktu gue baru melangkah keluar kelas.

“Nadhifa? Ngagetin aja.”

“Nadse aja, agak aneh kalo dipanggin gitu,” ucap Nadhifa eumm maksud gue Nadse dengan sedikit nada kesal.

“Yah situ juga manggil gue ‘Ghif’ kayak orang yang baru kenal aja.” gue lanjut jalan menjauh dari kelas.

Ini Nadhifa, gue gak inget nama panjangnya tapi dia lebih seneng dipanggil Nadse. Temen sekelas, dialah salah satu orang yang beruntung bisa duduk di singgasana para tokoh anime. Rambutnya agak kecoklatan, tingginya hampir sama kayak gue, mungkin cuman beda 2-3 cm. Kulit mulus serta dandanan khas anak muda masa kini. Sial, gue ngomong gitu kayak dari jaman yang beda aja padahal kan sekelas.

“Jadi mau ke kantin bareng gak?” tanya Nadse sekali lagi.

“Duluan aja, gue ada urusan bentar.”

“Emang apaan sih? Perasaan asal diajakin jawabannya itu mulu. Anggota OSIS bukan, anak ekskul juga bukan, murid populer apalagi, jadi penasaran.” Nadse nyamain langkah dengan dua tangan di belakang.

“Kepo banget, anggep aja zona waktu kita beda.”

“Lah situ kan bukan lagi di luar negeri,” ucap Nadse dengan nada remeh.

“Euumm gimana ya? Pokoknya gitu deh.”

“Aneh, yaudah deh gue ke kantin dulu.” Nadse mempercepat langkahnya menjauh dari gue.

Hadeeeh, susah emang kalo banyak peraturan tak tertulis yang mengikat. Bahkan untuk interaksi sama temen sekelas aja harus hati-hati. Yah, konsekuensi pekerjaan, mau gimana juga harus profesional.

Pelan-pelan gue jalan menyusuri koridor. Sepanjang jalan banyak wajah-wajah bahagia yang gue liat. Ada yang ngumpul sama gengnya, sekedar gangguin cewek kece yang lewat beberapa juga ngumpul sambil ngegosip, yah tipikal anak sekolahan biasa lah. Duh, kayak gue bukan anak sekolahan aja.

Rasanya enak jadi mereka, sekolah ya sekolah aja, gak harus mikirin hal-hal lain. Belajar, ekskul, interaksi sama temen sejawat. Hal-hal macam itu yang justru susah buat gue dapetin.

Tanpa terasa gue udah ada di depan sebuah pintu yang bertuliskan ‘komunitas pecinta hamster’, well kamuflase yang buruk untuk sebuah gerakan bawah tanah. Ruangannya ada di lantai tiga, abis naik tangga belok kiri dan berada paling sudut. Nama aneh ditambah lokasi yang mencurigakan, bener-bener gak mencerminkan sesuatu yang ‘rahasia’.

Kayaknya sebagian besar hidup gue cuman ngeluh deh, bodo ah.

Gue ngetuk pintu tiga kali dengan tempo yang gak terlalu cepat. Supaya apa? Gak ada, kalo gue ngetuk kebanyakan ntar dikira debt collector yang mau nagih tunggakan kredit motor.

“Siapa?” terdengar suara cowok dari dalem ruangan tersebut.

“Guntur.”

Password,” suara itu muncul lagi.

“Ibu adalah pelita hidup.”

“Salah!” pintu masih tertutup.

“Eummm, Di depan mata ada sungai mengalir,” Percobaan kedua.

“Salah!”

“Ah ngehe! Buruan buka, gue lupa passwordnya!” kesel juga lama-lama.

“Yak benar!”

Perlahan pintu mulai terbuka dan di sana terlihat sebuah ruangan seluas 4×4 meter dengan meja dan kursi yang membentuk persegi panjang, seperangkan PC di sudut ruangan serta papan tulis dengan coretan-coretan gak jelas. Ya, mata gue emang rabun.

“Udah gue bilang kalo masalah password ini ide buruk.” Gue menutup pintu setelah sukes melangkah masuk ke ruangan tersebut. “Lagian kalo itu tadi bukan gue gimana?”

“Woles Om, semua udah di predikisi,” Ucap cowok yang warna suaranya mirip sama yang tadi nyaut minta password.

“Lah emangnya tau darimana?”

“Gak ada pecinta hamster yang suka tereak-tereak ngomong kasar.”

“Kampret.” gue langsung jalan menuju PC yang sengaja dibiarin nyala.

Gue di sini gak sendirian, ada beberapa orang lagi yang sama-sama murid sekolah ini. Kita tergabung dalam sebuah kelompok yang menyukai mamalia berbulu lembut dan suka makan biji bunga matahari atau biasanya disebut kuaci. Tujuannya adalah untuk ngajak orang-orang supaya melihara hamster dan menumbuhkan rasa sayang terhadap binatang yang mana menurut studi, memelihara hamster bisa membantu mengurangi gangguan mental.

Ya, kalian pasti pada gak percaya. Cerita cowok-cowok yang suka hamster emang gak ada menariknya.

Oke mungkin gue bakalan sedikit bercerita. Jadi sebenernya ruangan ini adalah markas dari perkumpulan rahasia di bawah perintah OSIS. Gak ada yang tau eksistensi kelompok ini selain petinggi OSIS dengan level 6 atau lebih, yah untuk menjaga bocornya informasi. Kelompok ini dibentuk untuk mengerjakan pekerjaan kotor yang mana kalo OSIS ikut turun tangan bakalan merusak citra baik organisasi tersebut. Sabotase, pengumpulan informasi, serta hal-hal lain yang diperlukan untuk menetralisir ancaman terhadap kepemimpinan OSIS. Beberapa pekerjaan juga ditujukan untuk keuntungan OSIS semata dan hal itu gak jarang.

Sebagai organisasi paling berpengaruh di sekolah, OSIS memang gak sesuci yang ada dipikiran murid kebanyakan. Beberapa orang yang sadar mencoba berontak, mulai dari memprotes kebijakan yang dikeluarin OSIS, mencoba kudeta dan banyak hal lain. Dan tugas kelompok ini adalah untuk mengatasi situasi itu dengan cepat, efektif, efisien dan tak terdeteksi.

Proses perekrutannya misterius, gue yang udah dari kelas satu berkecimpung juga belom tau pasti tentang gimana kelompok ini merekrut anggota, tau-tau udah ada aja gitu.

“Gak ada kerjaan nih?” gue melempar tatapan ke arah cowok yang seragamnya cuman dikeluarin setengah.

“Belom ada Om, kayaknya situasi lagi adem-adem aja, lagian kalo ada pan bakal langsung di email.”

Yang barusan namanya Sagha. Nama panjangnya Saghar Tari Tradisional. Ok, sense of humor gue emang receh.

“Tau gitu gue ke kantin aja bareng Nadse.” gue mulai menjelajah dunia maya mumpung wifi sekolah masih gratis.

“Nadse yang hits itu?” celetuk seseorang dengan badan agak besar yang daritadi ngelamun di sudut ruangan.

“Iye Dho Nadse yang mana lagi coba?”

“Saik, kok bisa kenal gitu?” Edho semakin antusias.

“Yah namanya sekelas ya bisa-bisa aja, lagian pesona gue juga lumayan.”

“Lumayan memuakkan,” sekarang celetukan nyelekit ini dateng dari cowok berkacamata yang masih sibuk sama HPnya.

“Kalo ganteng banyak yang sirik emang.”

“Udah nanti dulu bahas pesonanya, Ini ketua OSIS baru ngasih tugas,” ucap Ical yang merupakan cowok berkacamata tadi.

“Lah kok gak masuk di sini.” Gue coba buka inbox email di komputer sekali lagi.

“Ini juga lewat SMS, katanya ketua OSIS belom beli paketan internet,” lanjut Ical.

“Emang isinya apaan?”

“Sabotase, detailnya bakalan di kirim ke orang yang terjun ke lapangan.”

“Oh baguslah.”

Gak lama HP gue geter, sebuah SMS dari kontak yang bernama ‘Ketua OSIS’. Aneh, kan belom ditentuin siapa yang bakal nerima tugas ini? Gue ngeliat ke arah Ical, dia senyum penuh arti sementara yang lain pura-pura gak peduli. Kampret nih anak, dia pasti ngejual nama gue tanpa persetujuan.

*****

Tugas kali ini gak terlalu berat. Singkatnya OSIS pengen gue menggagalkan sebuah event yang diselenggarain sama ekskul modern dance. Alasannya? Sepele sih, proposal mereka di tolak OSIS karena ketua ekskul tersebut menolak untuk membagi sebagian keuntungan dari event tersebut terhadap OSIS. Sepele emang.

Gue bisa nebak kenapa si ketua ekskul gak mau bagi hasil. Mungkin OSIS gak ngasih kontribusi apa-apa tapi malah minta bagian. Yah, tipikal OSIS banget, maunya dapet untung aja tanpa harus kerja dan itu sedikit mengingatkan gue tentang alasan kenapa gue bergabung di perkumpulan rahasia ini.

Tapi tugas tetaplah tugas. Benar atau salah itu gak penting selama hak makan sepuasnya di kantin bisa terus berlanjut.

Pertama jangan gegabah, sebelum ekseskusi gue harus cari tahu dulu tentang beberapa informasi yang kira-kira bisa memuluskan rencana yang bakal gue bikin dan untuk itulah sekarang gue udah berada di depan ruang ekskul modern dance.

Selayaknya siswa biasa yang sopan dan berbudi pekerti luhur, gue lebih milih ngetuk pintu daripada maen nyelonong kayak ninja.

Hening…

Gue coba ketuk sekali lagi, kali ini agak keras.

Masih tetep gak ada jawaban.

Hmmm, perlahan gue coba dorong itu pintu dan ternyata gak dikunci. Di depan gue udah ada ruangan yang sama persis dengan ruang komunitas pecinta hamster cuman ruangan ini keliatan lebih berantakan. Selebaran dimana-mana juga ada beberapa spanduk yang baru setengah jadi. Empat meja yang tersusun sedimikian rupa penuh dengan berbagai macam alat tulis, lem, pisau cutter pokoknya rame deh, males nyebutin satu-satu.

Mungkin para anggotanya lagi pada istirahat. Bisa gue liat kalo mereka kerja cukup keras demi kesuksesan acara mereka.

Gue ngambil salah satu selebaran yang ada di lantai. Di sana tertulis ‘Lomba modern dance 2017’ diikuti dengan persyaratan, biaya pendaftara sampe hadiah-hadiah yang ditawarkan.

“Lumayan juga ini hadiahnya,” tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulut gue ketika ngeliat nominal yang ditawarkan.

Yah mungkin kalo badan ini cukup lentur dan atletis gue bakal ikutan. Sayang, terlahir sebagai orang yang males olahraga ditambah pecandu tembakau bikin hal itu cukup sulit untuk terealisasi.

Tiba-tiba dari belakang gue denger suara pintu dibuka. Reflek gue balik dan ngeliat sapa pelakunya.

“Guntur? Ngapain kamu di sini,” ucap seseorang yang udah berdiri di depan pintu sambil ngeliatin gue dengan tatapan heran.

“Nadhifa? Ehh maksud gue Nadse?”

*tbc

 

 

 

 

…..

Iklan

5 tanggapan untuk “Puririnpa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s