“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 20

Shani menatap keluar jendela kamarnya, setelah ia tadi meluangkan waktu untuk berbicara dengan Beby. Ia menjadi memikirkan apa yang menjadi penyebab Beby begitu? Dan… Viny juga?

Apa Robby ini terlalu spesial untuk mereka? Ah bukan, yang lebih tepatnya mungkin mereka tidak ingin melihat Robby sedih kembali. Bukan apa-apa, memang ia mengetahui cerita Shania yang meninggalkannya dulu. Dan sekarang, mungkin mereka tidak ingin melihat Robby sedih kembali.

Shani menghela nafasnya sejenak, ingatannya kembali memutar gambaran-gambaran bersama Beby tadi…

“Mau ngomong apa Beb?” tanya Shani.

“Oh iya, jadi gini Shan. Bagaimana perasaanmu pada Robby? Apa masih sama seperti sebelum bertemu dengan Shania?”

Shani mengernyit heran, “Maksud kamu?

“Yaa.. perasaan kamu berubah itu berubah atau enggak, aku cuma mau tau,” ucap Beby.

“Kalau masih sama, kenapa? Dan kalau sudah berubah perasaanku terhadap Robby, kenapa?” tanya Shani menatap lekat Beby.

Beby menghela nafasnya, “Hh, jujur aku belum percaya apa yang dibilang oleh Viny. Tapi tadi aku melihatnya sendiri, ya walaupun itu tidak terlalu kuat untuk membuktikan sih. Jadi, kalau memang benar masih sama perasaan kamu, mungkin aku akan membantumu. Dan kalau sudah berubah, tidak masalah.”

“Apa maksud kamu Beb?” tanya Shani bingung.

“Aku akan membantumu mendapatkan Robby, dan melepaskannya dari Shania.”

“Tapi kenapa kamu mau membantuku? Bukannya kamu sahabat Shania?” Shani menatap heran pada Beby.

Beby menundukkan kepalanya, “Bukan gitu Shan, tapi memang sekarang mungkin Shania tidak apa yang telah dilakukannya. Dan aku gak mau ngebiarin itu terjadi lagi sama Robby. Apalagi kamu tau kan, bahwa Robby itu udah nunggu Shania lumayan lama?”

“Memangnya kenapa sih? Ada apa sebenarnya? Sesuatu itu apa?”

Beby menghela nafasnya, “Hh, Shania selingkuh.”

Shani menatap Beby dengan tatapan tidak percaya, “K-kamu serius?!”

Beby mengangguk pelan, “Makanya aku awalnya juga gak percaya, tapi aku lihat dengan mata kepalaku sendiri. Dan sekarang, aku mau mastiin lagi. Emang bener atau enggaknya.”

“Kalau memang benar, maka aku harus ngejauhin dia dari Robby. Aku udah gak tega ngeliat Robby yang dengan sabarnya nungguin dia, tapi kenapa dia malah gitu? Aku gak nyangka Shania ternyata sekarang berubah,” tambah Beby.

“Emang kamu tau siapa cowoknya?” tanya Shani penasaran.

Beby mengangguk, “Aku tau kok.”

“Siapa Beb?” Shani menatap Beby dengan penuh penasaran.

“Dia…”

Lamunan Shani buyar ketika sebuah tepukan mendarat di pundaknya.

Shani menoleh ke belakang, “Kenapa Gre?”

“Seharusnya gue yang nanya lo kenapa, gue panggil gak nyaut-nyaut. Eh ternyata malah ngelamun, ngelamunin apa sih?” Gre memutar tubuhnya, dan berjalan menuju meja rias Shani. “Ini fotonya kapan Shan? Kok gue baru liat ya?” Gre mengangkat sebuat figura kecil yang terpampang jelas foto Shani dengan seseorang.

“Gak penting. Dan soal foto itu udah lama, lo aja baru liat.” Shani berjalan merebut foto yang dipegang oleh Gre.

“Gitu banget. Udah turun yuk. Kita makan malam dulu,” ucap Gre.

“Lo duluan aja, gue nanti nyusul.”

“Yaudah, jangan lama-lama nyusulnya!” Gre berjalan keluar dari kamar Shani.

Setelah Gre keluar dari kamarnya, ia pun menaruh kembali foto tersebut di meja rias miliknya. Ia tersenyum kecut ketika melihat foto tersebut. Ingatannya kembali terputar ketika pertama kali jalan-jalan bersama Robby. Lalu setelah Shania datang kembali dan masuk kembali dalam kehidupan Robby, ia sangat merasa kehilangan.

“Kalau saja dia tidak datang ya Rob? Mungkin kita enggak kayak gini,” ucap Shani nanar menatap foto tersebut.

~

Di tempat lain atau mungkin lebih tepatnya di sebuah warung makan yang besar, kini Robby dan Shania sedang makan bersama. Setelah berkeliling mengitari sekitar perumahan yang ia tinggali, kini mereka pun makan bersama karena perut mereka telah kelaparan sejak tadi.

Shania sedang asik memainkan handphonenya, sampai-sampai yang ada di hadapannya tidak digubrisnya sama sekali. Berbagai macam ekspresi telah dikeluar Shania ketika memainkan handphonenya. Ia seperti orang-orang dalam masa pdkt mungkin?

“Aku mau cuci tangan dulu.” Robby bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju wastafel yang ada di belakang.

Shania mengangguk sambil terus memainkan handphonenya tanpa menoleh pada Robby. Sedangkan Robby kini mencuci tangannya, sambil menatap cermin yang ada di depannya. Ia merasa ada yang aneh, entah itu apa. Tak mau ambil pusing, ia pun mengeringkan tangannya.

Robby menatap Shania yang masih asik dengan handphonenya itu, mungkin itu yang aneh menurutnya.

Drrttt…drrtttt…drrtttttt…

Robby mengeluarkan handphonenya dari saku celana, ia menatap nama yang tertera di sana.

‘Shan’ batinnya.

Ia pun langsung mengangkat telpon tersebut.

“Halo?”

“Iya, kenapa Shan?” Robby berjalan menuju toilet yang tidak jauh dari sana, karena apabila ia tetap berada di sini. Habislah dia kalau Shania melihatnya, pasti akan di interogasinya dirinya.

“Gimana di sana? Enak?”

“Lumayan enak kok.”

“Enak ada Shania ya?”

“Enggak tuh. Aku dari tadi dicuekin doang sama dia.”

“Oh ya? Kenapa?”

“Asik main hape dia mah.”

“Terus kamu enggak curiga gitu?”’

“Curiga kenapa?”

“Ngg, bukan apa-apa. Lupain.”

“Yaudah.”

“Ish. Sekarang ini kamu dimana?”

“Aku lagi di warung makan ini.”

“Eh, bentar. Shania liat kamu telponan gak?”

“Enggak kok. Udah tenang aja Shan.”

“Syukurlah. Abis kamu nanti sama dia.”

“Ya kamu juga sih.”

“Hh, Shani kangen tau sama kamu.” Suara Shani terdengar lirih, Robby tau itu. Dan pastinya Shani pasti memanyunkan bibirnya.

“Iya-iya, nanti abis selesai ini kita jalan ya?”

“Bener?”

“Iya, terserah nanti mau kemana.”

“Ngg, kamu sampai kapan di sana sama Shania?”

“Enggak tau sampai kapan.”

“Hh, jangan lama-lama.”

“Iya-iya. By the way, udah dulu ya? Aku mau pulang soalnya.”

“Okedeh, hati-hati ya pulangnya.”

Tuut…tuuuttt…tuuut…

Robby pun mematikan telpon tersebut. Dan keluar dari toilet menuju tempat Shania berada. Shania tampak menunggunya dengan tampang bete, handphone miliknya pun tidak dipegangnya lagi.

“Lama banget,” desis Shania.

“Ke toilet tadi, abisnya kebelet.” Robby mengambil jaketnya yang ada di kursi. “Yaudah, sekarang aja yuk baliknya.”

Shania pun bangkit dari duduknya, dan mereka pun berjalan keluar setelah membayar makanan mereka. Mereka berjalan kaki pulang menuju rumah sementara mereka tinggal…

~

Dua minggu telah berlalu, Robby dan Shania tinggal bersama di rumah milik Aldy. Robby merasa ada yang aneh dengan Shania. Ia merasa seperti bukan Shania yang dulu, ada yang berubah pada dirinya. Dan setiap ia memergokinya, dengan gampangnya Shania menjawab.

‘Bukan apa-apa. Itu ada cerita lucu, jadi aku ketawa deh.’

Pasti jawabannya seperti itu. Dan polosnya (bodoh sekali) Robby percaya pada Shania. Ia sempat curiga pada Shania, tetapi ia berpikir positif mungkin temannya saja.

Dan kini Robby tengah termenung menatap keluar jendela, sejak dari siang tadi Shania meminta pulang. Karena mereka sudah terlalu lama di sini, memang benar mereka sudah cukup lama berada di sini.

Robby menghela nafasnya, mungkin memang benar ia harus pulang. Tetapi bagaimana tentang perjodohannya itu?

Drrtt…drrttt…drrtttt…

Robby menoleh pada handphonenya, ia pun langsung mengangkat telpon tersebut ketika tahu siapa yang menelponnya.

“Kenapa kak Naomi?”

“Kamu pulang gih. Mamah udah ngebatalin perjodohan kamu.”

“B-beneran kak?”

“Iya beneran. Makanya cepat pulang.”

“Yaudah kak, hari ini aku balik deh.”

“Oke. Nanti ke rumah ya.”

“Siap.”

“See you.”

Tuut…tuut…tuut…

Robby berjalan keluar dari kamarnya menuju kamar Shania yang persis di sebelahnya, Robby tanpa mengetuk pintu lagi pun masuk ke dalam kamarnya. Shania tengah tertidur dengan damainya di kasur.

Robby perlahan berjalan mendekat pada Shania. Tiba-tiba ia mengurungkan niatnya untuk membangunkan Shania yang tampak damai sekali dalam tidurnya. Tetapi sesuatu di nakas jadi perhatiannya kini.

Ting!

Robby mendekat pada handphone Shania, dan ketika ingin melihat siapa yang mengirim pesan pada Shania. Shania malah terbangun dari tidurnya. Shania yang sadar, apa yang akan dilakukan oleh Robby. Ia pun segera mengambil handphonenya.

“Siapa Shan?”

“Temen.”

Robby mengangguk, “Hari ini kita pulang ya.”

“Bener?”

“Iya, kamu siap-siap gih sana.”

“Yaudah, kamu keluar dulu sana.”

Robby pun berjalan keluar dari kamar, sedangkan Shania ia masih dengan perasaan gugupnya. Karena hamper saja Robby mengetahui semuanya.

Shania menghela nafasnya, kemudian ia pun bersiap-siap untuk pulang hari ini..

~

Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu, akhirnya mereka kini berada di depan rumah Shania. Robby mengantarkan Shania terlebih dahulu, setelah itu ia akan menuju rumahnya.

“Hati-hati pulangnya ya.”

“Iya, udah masuk gih sana.”

Shania mengangguk dan masuk ke dalam rumahnya setelah keluar dari mobil Robby. Dan Robby perlahan ia menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Shania.

Shania masuk ke dalam rumah setelah ia dibukakan pintu oleh Nabilah. Dengan malasnya ia berjalan menuju kamarnya, karena ia merasa kelelahan sekarang. Sesampainya di kamar, ia menaruh barang-barang bawaannya. Dan merebahkan tubuhnya di kasur.

Shania memikirkan apa yang telah dilakukannya beberapa hari belakangan ini. Ia jadi teringat tentang Robby yang begitu mudahnya ia bohongi, dan sebegitu percayanya Robby pada dirinya.

“Apa aku terlalu menyakitimu Rob, dengan aku seperti ini?” lirih Shania.

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

6 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 20

  1. Kenapa semua jadi begini, kamu jahat Shan 😢😂

    *lama tidak berjumpa thor (?), ketinggalan 3 part jadi harus baca-baca lagi. Di tunggu kelajutannya ya 😃

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s