This is My Life, part 7

sdg

 

“Hei, kamu kenapa kok berenti disini sih?” Tanya kak Dhike dengan ekspresi bingung.

“Ngg, ini rumah kakak kosong?” Tanya gue cemas.

“Yaiyalah, kan aku sudah bilang keluarga aku masih dalam perjalanan pulang tadi,” jawab kak Dhike.

“Asisten rumah tangga gitu kak? Masa gak ada satupun sih?” Tanya gue lagi

“Gak ada Ichan. Kenapa sih emangnya? Kamu kaya orang takut gitu?” Ujar kak Dhike

“Kalo gitu aku nunggu diluar aja deh kak. Gak enak sama tetangga kalo cowok sama cewek dalam satu rumah sedangkan rumah kosong,” ujar gue sembari duduk di kursi teras.

“Ohh, bilang dong dari tadi. Ya udah, tunggu bentar ya kakak mau ambil minum dulu buat kamu,” ujar kak Dhike.

“Eh, gak usah kak. Ntar malah ngerepotin lagi,” ujar gue merasa tak enak hati.

“Gak papa… Kaya sama siapa aja lagi kamu ini. Kalo gitu mau minum apa?” Tanya kak Dhike.

“Terserah kakak aja,” jawab gue dengan tersenyum tipis.

“Ya sudah, tunggu disini bentar ya aku buatin dulu minumnya,” ujar kak Dhike sambil berjalan masuk kedalam rumah.

“Eh kak.” Gue kembali memanggil kak Dhike yang sudah memasuki rumahnya dengan sedikit berteriak.

“Apalagi chan?” Balas kak Dhike ketika berbalik badan dan melihat gue diambang pintu.

“Password wifinya apaan hehehe?” Gue nanya password seakan gak ada malunya, bayangkan aje baru pertama kalinya datang kerumah udah minta password aje.

“Hahahahaha. Kamu ini ada-ada aja baru juga pertama kesini udah minta password aja. Bentar ya, aku nyalain dulu wifinya sementara pake paket aja dulu ya sambil nunggu wifinya nyala,” ujar kak Dhike sambil tertawa

“Hehehehe, maap maap kak. Lumayan hemat kuota hehehe,” ujar gue sambil ketawa malu.

“Kamu ini bisa aja bikin aku ketawa,” ujar kak Dhike kembali berjalan kedalam rumahnya

Gue kembali duduk di kursi teras rumah dan sambil menikmati angina sepoi-sepoi yang menerpa tubuh gue. Gue liat tepat di depan teras rumah ada taman kecil dan satu pohon besar. Gue berjalan ke arah taman tadi dan duduk dibawah pohon besar tadi sambil menikmati angin yang berhembus kencang. 10 menit gue nunggu kak Dhike tapi gak ada muncul-muncul. Gue merasa bosan dan ngantuk apalagi ditambah angin yang sejuk dan dibawah pohon besar, tanpa sadar gue berbaring di rumput dan perlahan mulai menutup mata dan tertidur.

*skip

“Chan bangun.”

“Ishh, susah banget sih dibanguninnya. Hei, cepetan bangun sudah hampir azan maghrib nih.” Samar-samar gue mendengar seperti orang yang memanggil dan menggoyangkan badan gue.

“Ngg, aku di surga ya? Kok ada bidadari cantik banget sih disini?” Ujar gue ngelantur saat mulai membuka mata dan hal pertama yang gue liat adalah seorang wanita cantik bak seorang bidadari surga.

“Heh, kamu ini sudah susah banget aku bangunin. Sekarang malah ngelantur lagi ngomongnya, sekarang ayo masuk udah mau maghrib.”

“Ehh, Kak Dhike. Aku kira sudah disurga tadi soalnya kakak cantik banget sih hehehe.”

“Huss, gombal aja kamu.” Wajah kak Dhike seketika menjadi merah seperti tomat rebus.

“Hehehe kakak lucu banget kalo lagi malu-malu gitu rasanya pengen aku cubit.”

“Udah ah. Masuk yuk ntar malah tambah ngelantur kamunya,” ajak Kak Dhike yang berjalan duluan.

Pada saat sudah mau masuk kedalam rumah lagi-lagi gue dibikin takut-takut untuk masuk dimana cuman ada gue dan kak Dhike di dalam rumah.

“Kak gak papa nih aku masuk? Gak enak ntar sama tetangga,” ujar gue dengan raut wajah kembali cemas.

“Iya. Gak papa kok, ini mau azan maghrib loh kata mama aku gak boleh kalo azan maghrib diluar entar ada yang ganggu,” ujar kak Dhike sambil membawa masuk segelas es jeruk.

“Ya sudah deh. Assalamualaikum.” Gue mengucapkan salam ketika memasuki rumah kak Dhike yang ternyata dalamnya lumayan besar namun terlihat sederhana dan elegan banget.

“Waalaikumsalam.” Kak Dhike menjawab salam gue.

“Kak, numpang sholat dong takut gak keburu kalo nanti sholatnya,” ujar gue meminta ijin ke kak Dhike yang sudah duduk di sebelah gue.

“Boleh-boleh, sekalian imamin aku ya. Anggap aja latihan buat jadi imam keluarga hihihi,” ujar kak Dhike.

“Hahahaha.. Apaan sih kak? Gaje banget. Jadi dimana kah tempat wudhunya berada?” Tanya gue sambil melepas jaket.

“Hihihi.. Sini ikutin kakak.”

5 menit lebih sedikit gue melaksanakan sholat maghrib berjamaah dengan kak Dhike. Sekarang gue kembali duduk diruang keluarga sambil meminum es jeruk yang dibawakan oleh kak Dhike tadi.

“Chan, bosan ya gak ngapa-ngapain.” Ujar kak Dhike yang baru dating dan duduk disamping gue dengan memakai baju ala cewek rumahan.

“Iyaya, ngapain ya enaknya?” Tanya gue

” Ngemusik aja yo, kata Sendy kamu kan bisa main piano dan nyanyi,” ujar kak Dhike

“Bisa sih, emang disini ada piano kak?”

“Ada lah, papah aku dulu suka main tapi sekarang udah mulai jarang.”

“Jadi mau gak main piano sama kakak? Ntar biar kakak deh yang nyanyi.”

“Boleh deh, lama juga gak main.”

Akhirnya gue dan kak Dhike memutuskan untuk bermain piano. Gue cukup kaget karna gue liat pianonya masih bagus, berwarna putih dan terlihat terawat sekali walaupun sudah jarang dimainin.

“Mau nyanyi apa nih kak?”

“Emm, lagunya Anji yang judulnya Dia aja deh. Lagi merasa nyatu nih lagu sama hati aku hihihi.”

Gue mulai menekan tuts-tuts piano dan membuat instrumen awal dari lagu Dia. Saat sudah masuk, Kak Dhike mulai mengeluarkan suaranya dan bernyanyi.

Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu
Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta
Hati ini kembali temukan senyum yang hilang
Semua itu karena dia

Oh Tuhan ku cinta dia
Ku sayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia

Jauh waktu berjalan kita lalui bersama
Betapa di setiap hari ku jatuh cinta padanya
Dicintai oleh dia ku merasa sempurna
Semua itu karena dia

Oh Tuhan ku cinta dia
Ku sayang dia, rindu dia, inginkan dia
Utuhkanlah rasa cinta di hatiku
Hanya padanya, untuk dia

“Wah, kamu bagus banget main pianonya. Perfect banget deh pokonya,” puji kak Dhike ketika gue selesai memainkan instrument terakhir.

“Hehehe.. Bisa aja mujinya kak. Jadi enak nih.”

“Hihihi… Kalo gitu main sekali lagi yayaya? Tapi kamu sendiri yang nyanyi aku mau dengar suara kamu.”

“Gak ah.”

“Ayolah, Ichan kan baik. Demi kakak deh yayaya?”

“Kak lo bisa gak usah masang muka begitu bisa kan? Aku jadi gak tega gini.”

“Ya sudah, kalo kamu gak tega sama aku, makanya kamu nyanyiin aku satu lagu aja.” Ujar kak Dhike masih dengan muka yang memelas.

“Whatever lah.”

Gue kembali menekan tuts-tuts piano dan membuat instrument sebuah lagu dengan judul Cinta yang dibawakan oleh grup GAC.

Awalnya tak pernah ku tenggelam di dalam sepi
Namun indahnya senyuman mu membuatku mengerti
Bahwa ku tak akan mampu tuk sendiri
Tanpamu owh… tanpamu owh…

Genggaman tanganmu membuatku tak bisa pungkiri
Walau kau slalu di hatiku ingin kau disini
Tak mau bayangkan yang akan terjadi
Tanpamu owh… tanpamu owh…

Ku dambakan setiap detik setiap menit setap jam
Tuk bahagia kan hatimu
Ku rindukan matamu senyummu detak jantungmu
Don’t want to let you go

Sejak kau hadir dalam hatiku
Kenali (cinta) kenali (cinta)
Setiap saat ku ingin kau datang
Temani (cinta) temani (cinta)
Tak bisa ku dapat berpisah terlepas
Dari peluk tanganmu
Setiap kau pergi ku ingin kau tuk
kembali (cinta) kembali (cinta)

Canda juga tawa mu slalu warnai relungku
kata cinta tulus mu jadikan semua berpadu
Bayangmu yang tlah mengisi semua mimpiku
Sayang ku owh… sayangku owh…

Ku dambakan setiap detik setiap menit setiap jam
Tuk bahagia kan hatimu
Ku rindukan matamu senyummu detak jantungmu
Don’t want to let you go

Sejak kau hadir dalam hatiku
Kenali (cinta) kenali (cinta)
Setiap saat ku ingin kau datang
Temani (cinta) temani (cinta)
Tak bisa ku dapat berpisah terlepas
Dari peluk tanganmu
Setiap kau pergi ku ingin kau tuk
kembali (cinta) kembali (cinta)

Hey girl what to do on me?
kau buatku tak mengerti
Kau membuat ku rapuh tiap kau tak ada disisi
Hey girl what to do on me?
tak pernah ku ragu lagi
Ku kini milikmu

Ku dambakan setiap detik setiap menit setiap jam
Tuk bahagia kan hatimu
Ku rindukan matamu senyummu detak jantungmu
Don’t want to let you go

Sejak kau hadir dalam hatiku
Kenali (cinta) kenali (cinta)
Setiap saat ku ingin kau datang
temani (cinta) temani (cinta)
tak bisa ku dapat berpisah terlepas
dari peluk tanganmu
Setiap kau pergi ku ingin kau tuk
kembali (cinta) kembali (cinta)

Selesai gue memainkan piano dan gue liat kak Dhike masih diam dan bengong.

“Kak.” Gue panggil sambil melambai-melambaikan tangan di depan mukanya. Kak Dhike masih diam terpaku.

Pltaak!
“Aww, sakit tau huh,” ringis kak Dhike saat gue jitak kepalanya.

“Yee, salah sendiri juga. Ngapain bengong gitu coba?” Tanya gue

“Suara kamu bagus banget apalagi ditambah permainan piano kamu yang sempurna,” ujar kak Dhike kagum.

“Sa ae lo kak hehehe.”

“Mantap, kapan-kapan kita bisa main bareng piano nih kayanya?” Seketika ada suara seorang pria dewasa dari arah belakang.

“Loh, papah? Mamah? Kok sudah disini? Kapan nyampenya?” Tanya kak Dhike bingung, sedangkan gue senyum-senyum malu.

“Kami daritadi udah nyampe kali, kamu aja yang keasikan pacaran,” ujar seseorang pria yang muncul dari arah belakang.

“Doh, elo bud. Ngapain disini?” Tanya gue ketika melihat Budi ada disini juga. Gue kenalin dikit jadi Budi ini adalah orang terdekat dengan club DR walaupun dia bukan termasuk anggota tapi dia sering ngumpul bareng sampai ikut event balap dengan mengatasnamakan club DR.

“Seharusnya gue yang nanya begitu ke elo keles. Gue ini sepupunya Dhike, dan gue kebetulan nginep disini,” jawab Budi.

“Oh.”

“Gue nemenin kak Dhike disini, sekarang udah pada datang gue mau balik dulu besok harus ngampus,” ujar gue.

“Oh, oke.”

“Kamu kenal sama Budi chan?” Tanya kak Dhike dengan wajah bingung.

“Kenal lah, dia ini salah satu orang kepercayaan club DR. Dan semua anggota club juga pada kenal kok sama sepupu kakak ini,” ujar gue menjelaskan.

“Ohh, gitu toh.” Kak Dhike hanya ber”oh” ria saja.

“Ma, Pa. Kenalin ini Ikhsan adiknya Sendy,” tambah kak Dhike memperkenalkan diriku.

“Eh, iya tante om. Kenalin saya Ikhsan adik sepupu dari Kak Sendy temennya kak Dhike.”

“Ohh, salam kenal nak Ikhsan kami orang tuanya Dhike. Silahkan dilanjut nak Ikhsan. Kami tinggal kedalam dulu ya,” ujar seorang wanita paruh baya yang setelah gue ketahui mamanya kak Dhike.

“Iya tan.”

“Key jangan macem-macem ya hahahaha,” ujar Budi

“Ihh, apaan sih kamu bud. Udah deh, sana masuk kedalam kamar bobo cantik aja. Dan satu lagi jangan ganggu aku,” ujar kak Dhike

“Dih, gitu amat. San, gue tinggal dulu. Jangan macem-macem sama sepupu gue yang cantik ini, lecet dikit perang dunia kita,” ujar Budi

“Ishh, udah sana deh.” Kak Dhike mendorong-dorong Budi agar cepat masuk kedalam.

Gue hanya tersenyum tipis melihat kelakuan kak Dhike dan Budi, seketika gue inget adek gue yang sekarang lagi di Kab. Paser bersama kedua orang tua gue. Gue jadi kangen sama adek gue itu.

Drrrtt… Drrrtt… Drrrtt…

“Sekarang kita ada track day di sirkuit. Kalo mau kesini aje langsung ke Pit 46.” Kurang lebih begitulah isi chat yang dikirim Lukman ke gue.

“E-eh bud. Anak-anak lagi ada track day di sirkuit sekarang, lo mau ikut kaga?” Tanya gue ke Budi.

“Wah, ikut-ikut. Sudah lama gue kaga balapan sama lo semua. Mumpung baru jam 8 malam nih,” jawab Budi antusias.

“Sip, gue tunggu dirumah gue yo. Kita jalan masama gue mau ambil baju balap dulu dirumah,” ujar gue

“Sekalian aje colo, gue ambil baju dulu di kamar. Tungguin gue bentar aja.” Setelah itu Budi pun berlari menuju ke kamarnya.

“Chan.”

“Ya?”

“Emm, aku boleh ikut kalian balapan gak? Cuman mau liat aja kok,” ujar kak Dhike

“Emang kakak suka sama balapan?” Tanya gue

“Gak terlalu sih. Nanti aku ajak Sendy sama Sonya juga sekalian,” ujar Kak Dhike

“Terserah kakak sih.”

*skip
Gue sekarang sudah berada di sirkuit dan juga sudah memakai satu set baju balap lengkap dengan pelindung kaki dan tangan. Sekarang motor gue lagi di setting sama Bang Robby, gak banyak sih yang di setting paling-paling cuman stang sama copot spion.

“San, udah selesai nih motor lo,” ujar bang Robby.

“Thanks bang Rob. Lo terbaik dah,” ujar gue

“Apaan dah.”

Gue pake helm dan sarung tangan biar lebih safety aja gitu, gak lucu kan kalo balapan gak pake helm sama sarung tangan. Gue memulai ritual yang biasa gue lakukan sebelum mulai balapan, tapi ritual yang gue maksud bukan pake sesajen sama 7 kembang rupa, ritual yang gue maksud cuman berdoa disamping motor sambil jongkok setelah itu gue usap-usap mesin motor dan tangki bensinnya.

“Semangat ya. Konsentrasi loh jangan sampe jatuh.” Samar-samar gue mendengar ada suara seorang perempuan seperti memberi semangat ke gue.

“Thanks kak,” ujar gue saat gue tau siapa perempuan tadi.

Gue mulai menarik gas masuk ke lintasan balap bersama dengan yang lain juga. Beberapa kali gue hampir crash karena kerikil-kerikil kecil yang berhamburan di tengah lintasan. Gue kembali masuk ke Pit setelah memutari sekitar 5-7 lap.

“Gimana?” Tanya bang Robby saat gue masuk memarkirkan motor.

“Parah bang, gue hampir jatoh beberapa kali gegara kerikil-kerikil kecil noh,” ujar gue sambil turun dari motor.

“Betul san, gue juga beberapa kali hampir jatoh gegara itu tadi. Mana kerikil pas di tikungan tajam lagi,” ujar Lukman yang juga turun dari motornya.

“Parah emang, mana gue lupa lagi belum ganti ban, ini sudah agak gundul loh jadi tadi agak licin juga pas cornering,” ujar gue

“Iya sih, bahaya tuh. Tapi kalo gue liat-liat lo kalo bawa motor tegang amat ya?” Tanya Lukman

“Emang, gue dari pertama belajar motor ampe sekarang selalu tegang ya biar lebih konsen aja sih. Susah bikin badan rileks kalo bawa motor,” jawab gue.

“Kalo gitu gue pamit duluan ye, besok harus ngampus.” Gue berpamitan kepada yang lain termasuk.

Tak lama kemudia gue keluar dari sirkuit dan meninggalkan lapangan balap itu.

*skip

Sekarang gue sudah kembali di rumah dan segera masuk kamar untuk istirahat. Tidak lupa gue sholat dulu karna gue belum sholat Isya. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul 22.30, gue sudah ngantuk banget dan pengen cepet-cepet tidur. Semoga hari esok lebih menyenangkan.

Bersambung…

-VR46-
@IskaIkhsan48

 

Bacotnya Ichan :

Ketemu lagi kita, thanks buat yang udah baca karya pertama gue ini. Dan sorry banget kalo dipart ini kurang bagus mau dari segi ceritanya atau dari sisi penulisannya karena ada suatu kejadian yang bikin gue kecewa dan kesal dan harus nulis ulang dari part ini padahal sudah gue bikin sampe 20 part. Oke, mungkin segitu aja bacotnya gue dan sampai bertemu di part selanjutnya. BYE!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s