Wrestling & Love part 78

pizap_1437301468174

Change is the law of universe. What you think of as death, is indeed life. In one instance you can be a millionaire, and in other instance you can be stepped in poverty. Yours and mine, big and small – Erase these ideas from your mind. Then everhthing is yours and you belong to everyone.

Waktu sudah semakin sore ,
mereka semua menuju ke kamar masing-masing untuk beristirahat

“Yeaayy, satu kamar sama Kak Ndel sama Kak Elaine, ayo Kaak” ajak Yupi riang sambil menarik tangan kedua wanita yang satu kamar dengannya

“Hehe iya-iya Yup, yuk Len” ajak Andela

Elaine hanya mengangguk sambil
tersenyum

“Hadeeeh bagus juga lu ga nempatin Elaine sama Michelle sekamar” bisik Razaqa kepada Kelvin

“Ahahaha engga lah, gw gamau liat perang dunia ketiga disini” canda Kelvin

“Sial -___-“

“Wkwkwk udah Zaq, duluan sono ke kamar nyusul si Mike, nanti gw nyusul” perintah Kelvin

“Ya oke”

Andela, Elaine dan Yupi sudah sampai di kamar mereka, terkesan sederhana tapi mewah. Ada tiga ranjang disana, masing-masing ranjang sangat empuk, cukup luas dan nyaman.
“Kak kak, aku yang ranjang tengah yaa, gamau yang dipojok-pojok .. takuutt” ucap Yupi dengan wajah yang dibuat-buat

“Iya-iya Yup, aku yang disana deh, kamu yang dipojok situ ya Len?” Elaine mengangguk tanda setuju

Andela melihat-lihat kamarnya dan kemudian terpaku diam di depan jendela menatap keluar

“Waaah keren ya Leen.. liat sini” Andela memanggil Elaine untuk mendekat kearahnya.

“Iya Kak, makanya aku selalu suka kamar diatas sini! salah satunya ya faktor itu” ujar Yupi

“Kenapa Ndel?” tanya Elaine bingung, ia mengentikan aktivitas memeriksa tas-tas dan kopernya”

“Sini buruan”

“Liat deh” lanjut Andela lagi sambil jarinya menunjuk kearah luar jendela

“Waaah indah banget pemandangannya” Elaine terkagum dengan pemandangan disana

“Iya kan, aku bilang juga apa..
indah bangeet, aku kan tau kalo kamu suka sama pemandangan hehe” kata Andela

“Hehe masih inget aja kamu Ndel” Elaine tertawa sambil mengingat momen masa lalu

Memang Andela dan Elaine sudah dekat semenjak SMA dulu, tidak jarang sehabis pulang sekolah, mereka berdua selalu pergi ke taman dekat sekolah untuk sekedar menikmati
pemandangan disana

“Aaah.. waktunya tiduuurr” Yupi merengangkan tubuhnya dan mengangkat kedua tangannya keatas

“Hihi, ngantuk emang kamu Yup ?” tanya Andela

“Iya Kak, capek di perjalanannya tadi..
maceet bangeet” jawab Yupi

“Yaudah gih, kamu tidur, nanti kalo udah agak malem, Kakak bangunin buat mandi” ucap Andela

“Iya Kak, makasih Kak” Andela mengelus kepala calon adik iparnya (cie) dengan lembut

Tak lama kemudian, Yupi pun tertidur..

Menyisakan Andela dan Elaine disana yang masih terdiam satu sama lain

“Eh.. perasaan aku aja atau emang bener, kayaknya kamu gendutan deh Len.. pasti banyak makan ya ahaha”

“Eh.. ?!? i..iya kah Ndel ?” Elaine mulai panik, apakah memang sudah benar-benar terlihat perutnya yang membesar ?

“Masa sih ?” tanya Elaine lagi

“Iya tauu” jawab Andela tanpa rasa bersalah

“Emhh.. apa aku harus ceritain ke Andela sekarang ya tentang janin di perut aku ini” batin Elaine dalam hati

Dia diliputi rasa bimbang yang sangat besar, antara ingkn menceritakan semuanya kepada sahabat terdekatnya, Andela, atau tetap merahasiakan ini dari semua orang
“Hehe.. mungkin Ndel, iya sih, emang aku akhir-akhir ini sering makan banyak” kata Elaine berbohong

“Tuh bener kaan, ehehehe” Andela cengengesan

“Mhm.. Ndel”

“Iya ?” tanya Andela

“K..kamu.. pernah gitu gak sama Kelvin?” tanya Elaine

Andela yang kebingungan hanya mengerutkan dahinya, ia tidak mengerti kata “itu” yang dimaksud Elaine

“Maksud kamu apaan sih ? dan “itu” tuh apaan?” tanya Andela

“A..ah.. itu, maksud aku, berhubungan kaya suami istri”

“Eh ?!!? Iiih Elaineee ya ga pernah laah” wajah Andela langsung berubah merah

“Ooh.. a..i.. i.. ya bagus kalo gitu” kata Elaine terbata

“Itu kan dosa dan kita juga belum menikah” lanjut Andela menjawab

“Kenapa sih kamu tiba-tiba nanya gituu ?” lanjut Andela bertanya

“Emmh..aku mau cerita sesuatu.. t..t..tapi jangan kasih tau siapa-siapa ya Ndel tentang ini, pliiss” Elaine memohon-mohon sampai memegang tangan Andela, tidak terasa bulir bening sudah membasahi pelipis matanya

“I..i..iya, emangnya apaan sih?” Andela sangat penasaran sekali
~~
“APA ?!? KAMU HAMIL ?!?” Andela berteriak kaget

Sementara itu, di lain kamar, Michelle tengah duduk termenung di ranjangnya, sementara Shani sibuk dengan koper dan tas bawaannya

“Shan” panggil Michelle

“Eh iya ? apa Chel ?” Shani mendekat kearahnya

“Perasaan kamu gimana kalo misal cowok kamu dideketin cewek lain?” tanya Michelle tiba-tiba

“Eh ?!?! kenapa ? kok nanya kaya gitu?” Shani nampak kebingungan dengan sikap Michelle

“Jawab aja pertanyaan aku”
“Ehmm.. gimana ya, yang pasti sedih dan cemburu sih, tapi ya gamasalah. Toh, kan si cewek yang deketin bukan cowoknya” jawab Shani

“Tapi nanti gimana kalo misalnya si cowok itu tertarik sama cewek yang deketin?” lanjut Michelle bertanya

“Ehmm.. aku yakin hal itu ga akan terjadi. Aku percaya sama cowoknya, ya tapi kalo misal emang dia suka sama si cewek, yah kita harus rela ngelepasin. Cinta ga bisa dipaksain” jelas Shani panjang lebar

“Ooh gitu yaah” Michelle mengangguk-angguk

“Kamu kenapa ? lagi ada masalah sama Razaqa ya ? semenjak daritadi di mobil aku perhatiin kayaknya kamu cuek sama dia”
“Ya.. i..itu, k..kurang lebih gitu Shan”

“Kamu mau cerita ke aku ? siapa tau aku bisa bantu” tawar Shani

“Simple sih, aku cuma cemburu dengan keberadaan Elaine. Entah kenapa aku punya firasat kalo dia mau ngerebut Zaqa dari aku” kata Michelle akhirnya

“Oh gitu.. oke-oke aku ngerti masalah kamu, tapi kalo misal aku jadi kamu. Aku gamungkin cemburu buta kaya gitu, kamu harus percaya sama Razaqa dan ga boleh berpradangka buruk dulu sama Elaine. Aku rasa Elaine ga kaya yang kamu pikirin” jawab Shani

“Jadi, aku harus gimana Shan ?” tanya Michelle lagi memohon pencerahan

“Ya kamu balik kaya Michelle semula
jangan sedih dan balik riang kaya biasanya. Dan satu lagi, kamu harus percaya dama Razaqa dan juga harus bersikap ramah ke Elaine, kasian Elaine kamu cuekin gitu, pasti dia ngerasa gaenak banget ikut liburan ini” ungkap Shani panjang lebar

“Ada benernya juga kata Shani, mungkin akunya yang terlalu berlebihan” batin Michelle dalam hati

“Oke deh, makasih ya Shan, aku jadi lega sekarang” Michelle kembali tersenyun

“Hehe sama-sama Chel, nah gitu dong.
Kan cantik kalo senyum kaya gitu, Zaqa pasti nambah suka” canda Shani

“Iiiih Shani apaan sih” Michelle tertawa sambil tersipu malu

“Ahahahha” Shani juga ikut tertawa

“Kamu emang temen terbaik aku, makasih ya Shan sekali lagi” Michelle memeluk Shani erat

“Hehe iya-iya Chel.. aku seneng kalo kamu temen aku yang satu ini seneng” Shani mengelus-elus lembut kepala Michelle

~~

“Maaah, aku udah sampe di Puncak, udah dikamar nih bareng Kelvin, Michael” seperti permintaan Mamanya sebelum pergi tadi untuk memberi kabar setelah sampai, Razaqa sedang melakukan permintaan Mamanya itu dengan menelepon

“Oh, syukurlah kalo gitu. Elaine gimana Zaq ? dia ikut ?” tanya Mamanya di balik telepon

“Elaine lagi-Elaine lagi yang ditanyain” batin Razaqa dalam hati

“Ikut Maah, dia ada kok di lantai atas, bareng Andela sama adeknya Kelvin” jawab Razaqa

“Oh, bagus deh, yaudah, kamu jagain dia ya, jangan lupa makan, jangan bandel dan jangan jalan jauh-jauh nanti tersesat”

“Iya-iya Maah, aku ngerti..
aku udah bukan anak kecil lagi” Razaqa nampak kesal karena sikal bawel Mamanya

“Daah Mamah..” Razaqa menutup teleponnya

“Ciee anak mamiiih” ledek Michael di ranjangnya

Bruukk

Razaqa melemparkan bantal guling dan tepat mengenai wajah Michael

“Sialan lu ngeledekin mulu daritadi” ucap Razaqa kesal

“Canda Zaq canda” Michael mengacungkan kedua jarinya membentuk huruf V

“Mama lu nanya apaan aja Zaq ?” tanya Kelvin penasaran

“Biasa.. Elaine, Elaine dan Elaine…
gatau apa kalo anaknya udah punya Michelle”

“Ciiieeeee” Kelvin dan Michael kompak menggoda Razaqa berbarengan

“Wooi, kampret ah lu pada”

“Nanyain calon menantu tuh” celetuk
Michael tiba-tiba

“Ahahaha parah lu Mike”

“Udah ah, males gw sama lu pada, mending gw cari angin di luar bentar” Razaqa dengan cepat keluar dari kamar dan meninggalkan Kelvin dan Michael yang saling menyalahkan satu sama lain

“Lu sih, jadi ngambek kan dia” ucap Kelvin

“Eh, elu yang mancing-mancing dan pertama yang nanya ke dia tentang apa aja yang Mamanya tanya di telepon tadi” balas Michael tak mau kalah

“Pokoknya elu”

“Lu”
“Lu’

“Lu”

“Lu”

“Lu”

“SEETOOOPP !! Sudah sudah main salah-salahannya” Author tiba-tiba muncul bak bidadari turun dari nirwana

“Laah gw kan cowok anjer” Author protes pada dirinya sendiri, typo ih

Author tiba-tiba muncul bak Krishna yang muncul untuk menjadi kusir Arjuna pada medan pertempuran Mahabharata

“Naah mendingan dikit, biarpun kepanjangan” Author tersenyum
“GARA-GARA LU THOR ANJ*NG” Kelvin dan Michael berteriak kompak kearah Author yang tidak berdaya (?)

“Laah kok gw ?” gw pan baru muncul coeg” Author bingung

“Lu kan kampret yang bikin ini cerita” teriak Kelvin dan Michael berbarengan

Author menolak disalahkan, dan ketiganya bergulat di ranjang bak pemain SmackDown *abaikan *kalodibayanginmenjijikkan

Razaqa tengah duduk di teras villa sendirian, dengan ditemani oleh angis sepoi-sepoi yang menerpa tubuhnya, ia dilanda kebimbangan dan kebingungan tentang siapa wanita yang lebih pantas untuk dirinya, apakah Michelle atau Elaine.

“Haaah kok jadi ribet gini” katanya lagi dengan suara pelan sambil menghembuskan nafasnya berat

Ia menatap kearah langit yang berwarna oranye karena sebentar lagi Sang Surya akan segera tenggelam

~

“Samperin gih” ucap Kelvin kepada Michael sambil sedikit mendorongnya

“Jiih elu juga dong” balas Michael

“Hadeeeh iya-iya deh” Kelvin dan Michael menghampiri Razaqa yang berada di luar

“Zaq” panggil mereka berdua dengan wajah tertunduk

“Napa ?” jawab Razaqa dingin dan ketus

“Ini si Michael mau minta maaf soal tadi” celetuk Kelvin tiba-tiba

“Eh kampret, bukan gw doang, lu juga ya !!” Michael menjitak kepala Kelvin

“Aduuh, iya-iya ah” Kelvin mengelus kepalanya

“Tepatnya, kita berdua minta maaf, intinya yang tadi cuma bercanda doang Zaq, gausah dimasukin ke hati” lanjut Kelvin lagi

“Iya Zaq” kata Michael dengan wajah memelas yang membuatnya makin jelek saja :v

“Hahaha gila muka lu jelek pada ketakutan gitu… iya-iya selow aee kali” respon Razaqa santai sambil tertawa terbahak-bahak

Kelvin dan Michael hanya bisa melongo dan menatap satu sama lain

“Waaah beneran ? thanks ye, lu emang sahabat paling baik” Michael sontak memeluk Razaqa dengan mesra *jijik

“Eh ? apaan nih ? lepas ga ?! gw masih normal kali, ga homo kaya lu” Razaqa
mencoba melepaskan pelukan Michael dengan mendorong-dorong badan Michael menjauh

“Anjrit wkwkw bego si Mike” Kelvin tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kedua temannya yang sedang bermesraan (?)

“Wooii udah !!” Razaqa membentak Michael

“Haha iya-iya maap. Gw ga homo juga kali jir, buktinya gw pacaran sama Shani bukan sama lu” Michael membela dirinya sendiri

“Iya-iya dah serah lu” Razaqa mengalah

“Dah ah, yuk masuk, bantu gw beres-beres perlengkapan buat ntar malem” ajak Kelvin kepada kedua temannya

“Lu aja berdua duluan, nanti gw nyusul” balas Razaqa

“Yakin nih ?” tanya Michael

“Iya-iya bawel sono ah” Razaqa mengusir Kelvin dan Michael

“Haha iya-iya” Kelvin dan Michael kembali masuk ke dalam villa meninggalkan Razaqa yang masih termenung sendirian di depan matahari senja

“Galau berat tuh dia” bisik Michael kepada Kelvin sambil berjalan kearah taman belakang

“Sst udah ah, ga baik ngomongin orang” balas Kelvin

~~

“Kamu yakin kamu hamil ?!?” tanya Andela menuntut kepastian

Elaine mengangguk sambil tertunduk

“Dan kamu juga yakin itu anak Razaqa ?”

“Jelas yakin Ndel, aku belum pernah tidur sama cowok manapun sebelumnya dan itu pertama kalinya buat aku” jelas Elaine

*FlashBack On*

“Huweeeek.. huweeekk” Elaine kembali muntah-muntah di kamarnya

Di kepalanya hanya terpikirkan kejadian itu, ia sangat takut jika apa yang dipikirkannya benar-benar menjadi kenyataan

“Engga.. engga.. ga mungkin aku hamil” Elaine menggeleng-gelengkan kepalanya

Bulir bening sudah terasa di pelipis matanya, ia menangis tersedu-sedu dan tenggelam dalam kesedihan tersebut

Setelah terisak dan menangis selama 5 menit lebih, Elaine merasa bahwa menangis bukanlah jalan keluar dari masalah ini, ia harus melakukan sesuatu setidaknya membuktikan apakah ia hamil atau tidak.

Elaine mengambik smartphonenya dan searching tentang alat tes kehamilan, setelah menemukan apa yang dicari, Elaine memutuskan membeli alat yang katanya bisa mengetahui seseorang hamil atau tidak.

“Aku harus buktiin sendiri”  batinnya manta
Elaine berganti pakaian santainya menjadi pakaian rapi, tak lupa memakai sepatu dan segera bergegas kearah ruang tamu di mana Mamanya berada

“Maah aku keluar dulu bentar” izin Elaine

“Kamu mau kemana sayang ?” tanya Mamanya lembut

“Ke rumah temen bentar Maaah, cuma 1 jam-an kok” balas Elaine

“Oh, yaudah deh.. hati-hati ya di jalan,
ada ongkosnya ?”

“Ada kok Maah, yaudah, aku pamit dulu Maaah” Elaine pergi keluar rumah dan pergi ke suatu tempat

Kaki mungilnya melangkah kearah sebuah bangunan putih dengan tertera
tulisan “Apotik” di depannya

“Permisi Mba, ada yang bisa dibantu” tanya si Apoteker yang melihat Elaine kebingungan seperti sedang mencari sesuatu

“Eh..ehmm..i..i.itu Mbaa.. saya mau beli alat tes kehamilan” jawab Elaine dengan perasaan malu

Si Apoteker melihat penampilan Elaine dari atas sampai bawah..

“E..eh.. itu buat Mama saya kok Mbaa hehe” Elaine cengengesan

“Yaudah, saya ambilkan dulu barangnya” apoteker itu masuk ke dalam ruangannya dan mencari alat yang Elaine inginkan

Setelah menunggu beberapa saat
“Ini dia” ucap si pelayan sambil menyodorkan sebuah alat yang bentuknya kecil tapi panjang itu.

Setelah membayar, Elaine bergegas kembali ke rumahnya

“Eh cepat amat sayang udah pulang” ucap Mamanya

“Iya Maah, aku ke kamar dulu Maah” kata Elaine

“Iya sayang”

BRUK

Elaine membanting sedikit pintu kamarnya lalu kemudian menguncinya. Jantungnya berdebar keras sekali. Ia mengeluarkan alat yang tadi ia beli dari kantung celananya, kebanyakan orang menyebutnya testpack

Elaine masuk ke dalam toilet kamarnya, membaca petunjuk penggunaan sebentar sebelum akhirnya melepas alat uji dari pembungkusnya

“Ya Tuhan, apapun hasilnya aku siap” kata Elaine pelan sambil menutup matanya berdoa

Setelah selesai buang air kecil ke dalam suatu wadah yang telah ia sediakan, kini saatnya menguji urinnya (air seni/air pipis/air kencing/air minum) yang terakhir bukan deng :v

Elaine mencelupkan pipet yang disediakan ke dalam wadah yang telah berisi urinnya.
Seperti yang sudah ia baca di petunjuk penggunaan, Elaine mencelupkan selama kurang lebih 5-10 detik
“Deg deg deg” jantungnya berdegup kencang menantikan hasilnya

Elaine menempatkan alat tes itu tegak dan ia menunggu selama 5-10 menit…
Setelah beberapa waktu menunggu, Elaine melihat hasil yang tertera pada alat itu.

Dan tak lama kemudian, muncullah tanda “+” yang berarti bahwa ia positif hamil

Sontak Elaine menangis sejadi-jadinya, ia masih terlalu muda dan belum siap untuk menjadi ibu seorang anak

“Ya Tuhan, tolong kuatkan aku dalam cobaan ini” ucap Elaine sambil diiringi isakan tangis

Elaine menolak untuk mempercayai alat putih bernama testpack itu, meskipun testpack memiliki
keakuratan 70%. Ia membaca pada sebuah situs bahwa kehamilan dapat dilihat dari datangnya menstruasi atau tidak setelah 7 hari pemakaian alat tes kehamilan.

Dengan sabar dan gelisahnya Elaine menunggu hari demi hari, ia berharap akan mengalami mesntruasi di hari ketujuh.

~

Di saat tiba pada hari ketujuh, Elaine mengecek ke toilet dan berharap ada darah muncul di bagian *you know what, tapi hasilnya malah sebaliknya. Elaine tidak mendapatkan menstruasinya. Pupus sudah harapannya untuk tidak hamil di usia muda. Tuhan sudah mentakdirkan dirinya mengandung seorang anak

*Flashback Off*

“Emang ya, dia itu emanf cowok bajingan” geram Andela kesal sambil mengepalkan tangannya, bagaimanapun ia tidak terima temannya ditinggal begitu saja setelah menghamilinya

“Pokoknya dia harus tanggung jawab akan hal ini, aku ga akan ngebiarin dia” Andela bangkit dari duduknya untuk menghampiri Razaqa yang berada di luar

“Ndeel.. Ndeell.. stooop, ini bukan sepenuhnya salah Razaqa, bisa dibilang itu kecelakaan, saat itu dia mabuk” Elaine membela pria yang ia cintai

“Kamu itu gimana sih Leen, tetep aja, biarpun pengaruh mabuk atau engga, kecelakaan atau engga, yang jelas dia udah.. ah.. pokoknya aku akan buat
perhitungan ke dia” Andela tetap bersikeras untuk menemui Razaqa

“Ndel.. ndel.. pliiss aku mohon, jangan” Elaine menahan lengan Andela sambil menggeleng-gelengkan kepalanya

Andela yang tidak tega melihat tampang Elaine yang memelas seperti itu memilih mengalah dan meredam emosinya, ia berbalik duduk di ranjang bersama Elaine

“Apa yang Michelle khawatirin emang bener-bener terjadi, aku ga bisa bayangin gimana sedihnya dia nanti” batin Andela dalam hati

“Siapa aja yang udah tau tentang hal ini?” tanya Andela mengerutkan dahinya

“Baru kamu doang” jawab Elaine terisak

“Aku ceritain ini ke kamu, karena kamu temen terdeket aku dan aku percaya kamu bisa jaga rahasia ini” lanjut Elaine lagi

Andela menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda bahwa ia sangat tidak habis pikir dengan kasus yang menimpa Elaine

“Cepat atau lambat, hal kaya gini pasti kebongkar Len”

“Iya-iya aku tau, cuma aku belum siap buat itu” potong Elaine cepat, Elaine kembali menangis, Andela dengan cepat memeluk sahabatnya itu

“Udah ya, gausah nangis lagi, aku bantuin kamu buat cari jalan keluarnya, gimanapun juga nasi sudah menjadi bubur” Andela mengelus kepala temannya

“Makasih ya Ndel” balas Elaine terisak

“Kamu janji ga bilang ini ke siapa-siapa ya ? sampe aku siap bilang ini sendiri ke Razaqa” tanya Elaine

“Iya-iya Len, aku janji” mereka mengalungkan kedua jari kelingking masing-masing, Pinky swear

Yupi nampak tertidur sangat pulas, bahkan ia tidak terbangun sedikit pun ketika Elaine dan Andela berbicara tadi

“If I could have a time machine, I hope I never born into this world, I couldn’t take the pain any longer. God please help me”

It’s hard to pick, but when you facing that hard choice, you must choose it wisely, so there is no regret for it

If we made a mistake in the past, it’s too late to regret about it. All you can do is just waiting and pray to God for the next step of your life.

*To Be Continued*

site : mandalakelvin.wordpress.com
YT Channel : www.youtube.com/user/WWEKelvinMP

@KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s