Pengagum Rahasia 2, Part 27

“Bermasalah dengan ingatan!? Apa maksudnya!?”

Melody terlihat masuk ke dalam ruangan guru meninggalkan mereka berdua.

“Hey duduk,”

“Oh, I-iya dev,” balas Sinka

Kini mereka duduk bersebelahan tepat di depan sebuah kelas sambil melihat ke arah lapangan basket.

“Eh deva, Sinka,”

“Yupi?” ucap Sinka sedangkan Deva hanya sedikit menengok

“Kebetulan aku ketemu kamu disini dev, nih…,” Yupi memberikan sebuah surat

“Ini surat resmi dari sekolahan?” ucap Deva

“yap, itu surat undangan untuk latihan bersama nanti,” Jelas Yupi

“Latihan bersama? Basket?”

“ya iyalah! Masa latihan balet!” timbal Yupi

Deva menerima surat itu.

“Tapi dev kondisi kamu kan…,” bisik Sinka menggantung

*Sreek!

“Eh-eh! Kamu langsung sobek suratnya disini, dikata itu surat cinta apa dev!” ucap Yupi

“Kayaknya seru…,” ucap Deva yang terlihat sedang membaca surat tersebut

“Eng…D-Deva,” ucap Sinka

“Nanti kalau kamu mau berangkat, bareng-bareng oke, yup?”

“Boleh-boleh,” balas Yupi

“Ngomong-ngomong kalian berdua lagi ngapain disini? AH! Kalian lagi mojok!? Nanti kak Ve marah dev!” ucap Yupi menegur

“Hiiih! M-Mojok apaan sih Yupi!” balas Sinka

“Kita lagi nunggu seseorang kok,” balas Deva juga

“Oh gitu ya,”

“Kamu sendiri ngapain? Mabal kelas?” ucap Deva balik bertanya

“Hii! Aku ini murid teladan dev! Gak kayak kamu!” balas Yupi

“Aku kan habis rapat anggota basket, kamu juga harusnya ikut kan dev!”

“Eh tapi kamu kan dari kemarin gak masuk, wajar juga sih kalau gak tau,” lanjutnya

“Eng…,” Deva menggaruk-garuk kepalanya dan terlihat kebingungan

“Kamu dari kemarin kemana aja dev?” tanya Yupi baik-baik

“Aku cuma…,”

“Dia kemarin sakit demam yup!” potong Sinka namun ia menutup mulut Deva

“MUUUU!” Deva tidak bisa berbicara karena mulutnya di tutup

“Oh, kalau kondisi kamu belum pulih sih ya jangan ikutan latihan bersama dev,” ujar Yupi

“Y-yah! Harusnya kamu gak ikut latihan dev!” ucap Sinka namun seperti membentak

Mulut Deva masih di tutup oleh tangannya.

“Dah kalau gitu aku ke kelas dulu ya dev, sin…,”

“Bye-bye!”

Yupi pun pergi dari hadapan mereka.

Sementara itu Sinka pun melepas tangannya dari mulut Deva.

“Puah!”

*Hesp!

“Aaaakkk! Mulut kamu bau indomie Dev!”

“Kenapa mulut aku di bekam segala sin!”

“Karena nanti kamu bicara yang aneh-aneh di depan yupi!”

“A-Aneh apaan!?” ucap Deva sembari mengelap bibirnya

“udah deh! Aku saranin kamu gak usah ikutan latihan bersama itu dev,” ujar Sinka

“Loh? Kenapa gak boleh sin, kan aku sehat-sehat aja, gak demam pula,”

“Meskipun kamu bilang gitu, aku masih khawatir sama kamu,”

“umm,” Deva terdiam kemudian berdiri di hadapan Sinka

Tiba-tiba Deva berjongkok dan memegang tangan Sinka.

“I-IH! kamu ngapain dev!” ucap Sinka bersuara pelan

“Maaf deh kalau aku bikin kamu khawatir sin. Tapi basket itu prioritas utamaku, lagipula luka akibat kecelakaan kemarin cuma dikit kok,” ucap Deva

“Eng-Umm…,” Wajah Sinka memerah

“K-Kalau kamu bilang gitu…yaudah deh aku izinin,”

Deva tersenyum.

“Wih udah main izin-izinan segala, kalian udah pacaran ya?”

“EH! Kak melody!” Sinka terkejut

“Loh, udah selesai urusannya kak?” tanya Deva

“udah kok,” balas Melody

“ya ampun dev kamu ini playboy banget sih, udah berani selingkuhin Ve ya?”

“Bukan kak! Kita gak pacaran!” ucap Sinka

“Oh? Beneran?”

“Iya kak!” ucap Sinka lagi

“Ahahaha…yaudah dev yuk pulang,” ajak kakaknya

“Hem, aku pulang duluan ya sin,”

“Hati-hati di jalan ya kak, dev,” ujar Sinka

Deva hanya mengangguk.

~oOo~

Sebuah angkutan umum berhenti di pinggir jalan itu.

“Naik Dev,”

“Kakak duluan deh,”

“Eh!?”

“Deva mau cari angin dulu bentar,”

“Hah? Maksud kamu!?”

“udah kakak naik aja duluan,” Deva sedikit mendorong Melody untuk masuk ke dalam angkot itu

“Mas jalan!” ucap Deva

“Eh-DEVA!”

Angkot itu langsung melaju cepat meninggalkan Deva.

“Oke…udah lama gw gak ke lapangan pinggir kota,”

Deva menyebrang dan kembali melanjutkan perjalanannya.

*Sret!

Ketika Deva sampai di seberang, tiba-tiba seseorang berhenti tepat di depan Deva.

“De-Va…,”

“Shani!?”

Mereka saling bertatapan, Namun tak lama kemudian Shani langsung menundukan kepalanya.

“udah lama kita gak ketemu!” Deva langsung memegang tangan Shani

“D-Deva! Kenapa kamu keliatan semangat gitu,” ucap Shani dengan malu-malu

“ngomong-ngomong kamu mau kemana shan?”

“Eng…umm…aku mau ke pusat kota dev,”

“Kalau gitu kita jalan bareng deh, lagian aku juga mau ke sana kok,”

Shani terlihat mengangguk namun menundukan kepalanya.

“ngomong-ngomong shan, kamu mau ngapain ke pusat kota?”

“Ah-Eng…,” Shani terdiam

“Eh-eh sorry…aku malah pengen tau urusan pribadi kamu,” ucap Deva kembali

“Hehe…gak apa-apa kok dev, aku cuma mau belanja aja kok,” balas Shani

“Hem, Dasar tukang belanja!” Deva mencubit pipi Shani

“A-AH!” Shani terkejut atas perlakuan Deva itu

Wajahnya memerah dan terlihat malu-malu.

“Kamu dari dulu gak pernah berubah ya shan,”

“Ah!? B-Beneran dev!?”

Deva mengangguk. “Iya, kamu masih keliatan canggung kalau deket aku,”

“Haha, enggak kok dev,” Shani tersenyum

“Tapi keliatannya sekarang kamu jadi lebih tinggi daripada aku,”

“Eng-Hehe…Aku kan sering olahraga dev,”

“Loh, kamu masih nyimpen ini?” Deva menunjuk kalung yang ada di leher Shani

Kalung itu bertuliskan huruf D.

“…aku pasti bakalan terus pake kalung ini dev, soalnya kalung ini kan hadiah perpisahan dari kamu,”

“Ahaha, Oh! Aku juga ada…,” Deva mengorek-ngorek saku celananya

“Loh gak ada?” pikir Deva

“Kenapa dev?”

“Perasaan aku nyimpen kalungnya di saku deh, tapi…,”

“Kalung pasangan yang ini ya dev?” tanya Shani lagi

“Uh!” Deva tiba-tiba memegang kepalanya

“Loh!? D-Deva kamu kenapa!”

“Aaarrgghh!”

“Duduk dulu dev!”

Shani merangkul deva sampai ke bawah pohon itu.

“kamu lagi sakit!?” Shani terlihat khawatir

“Ah…Aku cuma sedikit pusing,”

“Kita istirahat dulu disini ya dev,” ujar Shani

Deva hanya mengangguk.

*

*

15 Menit berlalu…

Deva terlihat berbaring di paha Shani, sementara Shani mengusap-usap rambut Deva.

“Jujur aku sedikit malu dev, ini bener-bener di pinggir jalan, bukan di taman,”

“Ahaha…tapi adem juga diem di bawah pohon gini pas lagi cuaca panas,”

“umm….kamu masih pusing dev?”

“Ah enggak kok,” timbalnya

“Cuma aku ngerasa ada sesuatu yang hilang di kehidupan aku, entah apa itu,”

“Kalung?”

“Bukan cuma kalung,” ucap Deva lagi

Mereka kembali terdiam.

“Sorry ya shan…gara-gara aku kamu malah gak jadi ke pusat kotanya,”

“Gak apa-apa kok dev, hihi…,”

“Sejujurnya aku rindu suasana kayak gini,” tambah Shani

“Hah?”

“ya, berduaan sama kamu kayak gini dev. Kita udah lama kan gak berduaan kayak gini,”

“Ahaha iya sih, padahal kan kita temen dari kecil,” timbal

“Umm…temen…,” ucap Shani pelan

“Kenapa Shan?”

“A-AH, gak apa-apa kok dev,”

“Em-Maaf ya, aku gak bisa jaga kalung itu baik-baik,”

“Gak masalah kok dev, lagipula itu cuma kalung biasa kok,”

Deva bangun dan kini berposisi setengah duduk di samping Shani.

“Kamu masih pake seragam, tapi kenapa ada di luar sekolah,”

“Aku…eng…umm…,”

“Jangan bilang kamu bolos, kamu masih suka bolos kayak dulu di SMP ya!”

“Ah-Hahaha…Enggak juga sih,”

“HUH! Selalu aja bolos!” Shani tiba-tiba mendekati wajahnya ke arah Deva

“Hiih! Galak amat sih!” ucap Deva

“Lagian bosen tau belajar mulu!” tambahnya

“umm…memang bener sih, kamu…,” ucap Shani menggantung

“Kamu itu kan orangnya cerdas dev, jadi…itu bukan suatu masalah buat kamu,” lanjutnya

“Cerdas darimananya sih,”

“Jangan suka merendah gitu deh! Nyebelin tau gak!”

“Hahaha!” Deva memencet hidung Shani

“ISH! Kebiasaan deh!” Shani terlihat membalasnya

Namun saat ia menyentuh dahi Deva…

“A-Apa ini dev!?”

“Hah?”

“Kenapa ada luka di kepala kamu!?”

“Ah-umm…,” Deva terdiam

“Itu…itu cuma luka pas kemarin kejedot pintu,”

“Beneran dev!? Jangan bohong ih!” Shani terlihat khawatir

“Beneran shaaaaannn…,” timbal Deva

Shani pun terdiam.

“Harusnya kan ini masih jam sekolah, kenapa kamu pake baju bebas gini shan?”

“Hiss, lagi libur kali sayang!”

“EH!?” Deva terlihat kebingungan

“AH!” Shani srontak langsung menutup mulutnya

“A-Apa!?” ucap Deva kembali

“Maksud aku…sekolah hari ini lagi libur dev,” Jelas Shani

“Oh, ngomong dong daritadi,”

“umm…,” Wajah Shani memerah

“Dah, kita lanjut jalan lagi yuk,”

“K-Kemana dev!? Bukannya kamu masih pusing!?”

“udah enggak kok, yuk!” Deva memegang erat tangan Shani

Jari-jari mereka saling bersatu dan Shani sedikit lebih dekat lagi dengan Deva.

“Eng…A-Aku…,”

“Eh?” Deva melirik ke arah Shani

“Aku suka sama kamu dev!”

“HE!” Deva terkejut

“Ini kedua kalinya aku bilang suka sama kamu, aku…aku cinta sama kamu dev!” wajah Shani begitu dekat dengan Deva

“S-Shani!? Kamu ngomong apa!?”

“Aku sayang sama kamu deva!” Shani menekan kedua pipi Deva

“T-Tapi-tapi…,”

“Devaaaa…,” Shani memeluk erat tubuh Deva

“Sha-Shani! Ini di jalanan! Malu…,” bisiknya

Shani terus saja memeluk Deva dengan erat.

~oOo~

*Ceklek…

“Bagus yah!”

“Wee! K-Kak Melody!”

“udah berani main-main sama kakak ya! Mau di pukul pake ini!?” Bentaknya sembari memegang sebuah tutup panci

“Hii! Galak amat sih! Kan cuma mau jalan-jalan aja bentar. Lagian kan udah lama Deva gak keluyuran di luar,”

“Huh!” Melody meredam amarahnya

“Oke, terus kamu darimana!?” Nada bicaranya sedikit rendah

“ya cuma jalan-jalan aja,” timbal Deva

“Bener?”

“Iya,” balas Deva lagi

“udah deh…sekarang Deva mau istirahat, jangan ganggu ya kak,”

“Hemm…,” Melody hanya mengkerutkan pipinya sambil memanyunkan bibirnya

-Di Dalam Kamar Deva-

“Huh…Kenapa bisa jadi gini ya,” gumamnya

            -Flashback-

“Malam nanti tepatnya jam 7 lebih 15, aku tunggu kamu di cafeteria dev…,”

“Kamu harus datang, jangan kecewain aku,”

            -Flashback Off-

“Shani…,” ucapnya pelan

~oOo~

Malam pun tiba. Deva dengan kaos berwarna hitam putih pun terlihat sangat rapih. Tak lupa ia juga memakai wewangian dan juga pomade untuk merapihkan rambutnya.

*Cekleeek…

            Pintu kamarnya di buka dengan sangat-sangat pelan, akan tetapi…

“Mau kemana!?”

“EH!” Deva terkejut

“yaelah kak ngagetin segala,”

“Gak usah sok akrab gitu deh, mau kemana hah!?”

“Dih, gak liat? Ini udah setelan mau kerja kelompok,”

“Kerja kelompok!? Perasaan tadi Sinka juga gak bilang apa-apa soal kerja kelompok,”

“Iyalah! Orang dia gak sekolompok sama Deva,” ucap Deva

“Terus pelajaran apa sih kerkomnya?”

“Biasalah…kerja kelompok Fisika,”

“Hemm…awas aja kalau macem-macem,” ancam Melody

“Iya-iya,” timbal Deva

Ketika berbalik, sifat cerdiknya itu tampak jelas terlihat dari raut wajahnya. Tangannya itu di kepalkan dan mulutnya itu seperti berkata *yes* dengan keras.

“Deva pamit dulu kak,”

“Hati-hati di jalan…,” ujar kakaknya

*

*

-Cafeteria-

Tepat pada jam 19.00, ia sampai di depan pintu masuk cafeteria. Namun dari gerak-geriknya ia terlihat fokus ke semua tempat, entah apa yang sedang ia pikirkan sehingga membuatnya terlihat sangat waspada.

“Hati-hati…Malam ini Ve lagi hangout sama temen-temennya,”

“Sheeesshh…kata-kata kak Melody tadi bikin gw takut gini,”

Ia mulai masuk ke dalam Cafeteria dan mulai mencari meja.

“D-Dia udah datang!? Jam segini!?” ucapnya seperti terkejut

Perlahan ia menghampiri meja itu sambil masih terlihat waspada.

“Huh…Aku pikir kamu gak akan datang dev,”

“H-Hai…Shan,”

“Baju…Hello kitty ya?”

“Jangan ngejek aku dev,”

“Hihi, sorry-sorry…,”

“Kamu bilang jangan terlalu canggung kalau di deket aku, tapi sekarang malah kamu yang keliatan canggung,”

“Ehehe…enggak kok shan,”

“duduk deh,” ujar Shani

Deva kemudian mengangguk.

Merekapun saling bertatapan muka. Shani menatap tajam ke arah Deva dengan menahan dagunya menggunakan kedua tangannya, sedangkan Deva tampak memainkan sendok kecil itu pada gelas kecil di depannya.

“Kamu…,”

“Eh?”

“Keliatannya kamu lagi buru-buru dev,”

“Ah…enggak kok,”

“Aku tau ini tempat kerjanya kakak kamu kok,”

“Oh-Ahaha, udah dari dulu kan taunya?”

Shani tersenyum manis di hadapan Deva.

Ia kemudian memegang erat tangan Deva sambil terus tersenyum manis di depannya.

“Aku tau kok soal hubungan kamu sama kak veranda,”

“Eng…,” Deva terlihat begitu malu

“Aku udah kenal lama sama kamu dev, aku tau betul sifat asli kamu tuh kayak gimana,”

“Dan juga…aku gak berniat untuk hancurin hubungan kamu sama kak veranda kok,”

“Aku rela kalau kamu jalan terus sama kak veranda, aku rela kalau kamu mesra-mesraan sama kak veranda…,”

“yang terpenting…aku cuma mau merasakan sedikit aja kasih sayang dari kamu dev,”

Deva terdiam.

“asalkan dicintai sama kamu, aku rela kok…,”

“Ah-Eh…,” Deva tampak kebingungan

“Entah kenapa itu sedikit memalukan Shan, ahahah…,”

“Kamu masih nganggap ini main-main dev, aku serius!” tatapan Shani begitu tajam

“I-Ini…,”

“Ini gak baik shan,” ucap Deva pelan

“Sheessshhh!” Shani langsung bangkit dan menarik tangan deva

“T-Tunggu shan! kita mau keman!?”

“Ikut aku…,” ucap Shani

Deva di bawa ke suatu tempat yang sepi oleh Shani. Tampaknya tempat itu berada di belakang cafeteria tersebut, namun sedikit lebih jauh dari areanya.

“Sini…,”

“He-hey! Kamu mau ngapain shan!?”

Shani menarik deva dan ia terlihat bersandar di tembok itu, sehingga Deva terlihat seperti mendorong Shani sampai terpojok ke tembok.

Lalu Shani melingkari lengannya di leher Deva sambil sedikit memeluknya.

“Kamu inget dev? Kita pernah ngelakuin ini sebelumnya,”

“Hah? K-Kapan? Dimana? Dan kenapa kita ngelakuin ini!?” tanya Deva

“Apa kamu bener-bener lupa sama kejadian waktu itu deva! Jangan sampai aku pukul kepala kamu sampai kamu inget kejadian di masa lalu dev,”

“Eng…Y-yang mana shan?”

“Cih!”

Shani mulai melakukan aksinya, ia mencumbu Deva sambil terus melingkari lengannya.

*CCcccuuuuupppsssss!

“Puah! Kenapa kamu malah…,”

“Sssssshhhh…..,” Shani menutup mulut Deva dengan telunjuknya

“Kita pernah ngelakuin ini sebelumnya dev…,”

“Aku cuma berusaha bikin kamu mengingat semuanya lagi,” tambahnya

Deva menyentuh bibirnya sendiri sambil menatap ke arah Shani.

-Flashback-

“Deva?”

“Deeeevaaaaa!”

“A-AH! A-Apa Shani!?”

“Kamu lagi liatin apaan sih? Serius banget tau gak,”

“Ahaha, nggak kok…cuma…kenapa ya orang yang udah dewasa selalu aja ciuman kalau mau perpisahan,”

“HE!”

“Kenapa kamu harus tanyain itu sih deva! Yang kayak gitu kita gak harus tau kan dev! Kita ini masih kecil, masih SD!” bentaknya

“Oh-I-iyaudah deh,”

“Tapi…,”

“Huh?”

“Kalau kamu penasaran…,”

“Hmm!?”

            Shani kemudian memeluk Deva dan langsung mengecup bibirnya.

            -Flashback Off-

“Itu kan pas kita masih SD Shan!”

“Terus apa bedanya sama sekarang?”

“Y-yah, itu kan pas aku masih polos gak ngerti apa-apa…umm…,” Deva tampak malu-malu

“Huft…Kamu tau dev? Kamu adalah orang yang udah mencuri ciuman pertamaku,”

“Jadi…bibir ini khusus cuma untuk kamu,” tambahnya

“Khu-sus…,” Deva menatap mata Shani

Shani perlahan memejamkan mata, sedangkan Deva semakin Dekat dengan bibir Shani.

Tiba-tiba…

*Trank!

“Gah!” Shani sedikit terkejut dengan suara itu

Mereka berdua pun sedikit berhimpitan untuk bersembunyi dalam kegelagapan.

“Huh…disini gak aman Dev,” ucap Shani

“M-Maksud kamu?”

“umm…,” Wajah Shani memerah

“Kamu tau dev, aku lagi pengen berduaan sama kamu. Kebetulan…papa sama mama juga lagi keluar kota, jadi…,”

“Eng…Kerumah kamu?”

Shani perlahan mengangguk.

“Kamu…serius!?” tanya Deva lagi

“Aku serius…Dev…,” Shani menatap tajam ke arah Deva

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

5 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 27

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s