Priscillia. Part 1.

 

Aku tak tahu aku ada dimana. Semuanya tampak putih dan tak ada apapun yang bisa kulihat selain kehampaan yang berwarna polos. Apa ini mimpi ? dan jika memang ini mimpi dan aku sadar, apa aku sedang lucid dreaming ? di kehampaan ini tempat ku berdiri terasa padat, hal yang aneh karena aku tak bisa melihat media apa tempatku berpijak.

Ku coba berjalan untuk mencari tahu aku ada dimana, sesuatu yang sebenarnya berbahaya karena aku tak tahu aku berada dimana. Meski tempatku berdiri padat tetapi sulit untuk berjalan, kakiku terasa berat dan nampaknya aku tak bergerak jauh. Sulit untuk menentukan seberapa jauh aku bergerak jika semuanya berwarna putih.

Aku rasa aku sudah cukup lama berada disini dan tak ada hal lain yang bisa ku lihat selain putih. Napasku sudah mulai pendek jadi aku memutuskan untuk duduk. Ini dimana dan bagaimana aku bisa berada disini ? maksudku bukankah tadi aku sedang…….

Aku tak bisa mengingatnya, aku tak ingat apa yang terjadi sebelum aku berada dalam kehampaan ini. Semakin aku mencoba mengingat kepalaku terasa sakit, rasa sakit dan rasa capek yang kurasakan paling tidak aku tahu aku masih hidup.

“Tidak sepenuhnya,” ucap sebuah suara.

Aku mencoba mencari sumber suara itu, aku membalikan badanku, berputar, dan berlari kecil tetapi aku tak bisa menemukan dari mana suara itu berasal.

“Siapa itu ? lalu dimana ini?”

Aku melihat ke sekelilingku menunggu jawaban dari suara itu. Sudah beberapa saat berlalu tetapi suara itu tak muncul lagi, apa suara tadi hanya imajinasiku saja, atau mungkin ada yang salah dengan otakku.

Dari kejauhan aku melihat sebuah bayangan yang mendekat, bayangan itu mulai terlihat jelas, bayangan itu berbentuk seperti manusia yang memakai jubah berwarna hitam, tetapi aku tak bisa melihat wajahnya yang tertutup tudung kepala berwarna hitam yang dipakainya.

Aku merasa takut melihatnya, dia melayang terbang semakin cepat kearahku, aku mencoba mundur tetapi kaki ku rasanya seperti tenggelam di dalam lumpur. Akhirnya dia berdiri didepanku dan aku hanya bisa melihat sebagian dari wajahnya.

“Siapa kau ?” tanyaku reflek.

“Aku bukan siapa siapa,” jawab seseorang itu.

“Lalu dimana ini ? dan kenapa aku bisa ada disini ?”

“Ini bukan tempat apa apa dan aku yang membawamu kemari,”

“Kenapa ?”

“Karena itu adalah tugasku dan kau adalah tugasku,”

Aku tak mengerti maksud ucapannya dan tak ada satupun dari ucapannya yang menjawab pertanyaanku. Apa tugas yang dia maksud dan apa maksudnya aku adalah tugasnya. Sesuatu yang berada didepanku mungkin bukanlah manusia, kecuali dia memakai sesuatu untuk membuatnya melayang dan sejauh ini aku tak melihat apapun di kakinya.

“Lalu apa maksudmu membawaku kemari sebagai tugasmu ?”

Sebenarnya aku merasa takut untuk bertanya lebih jauh, aku tak tahu apa yang sedangku hadapi sekarang dan bisa saja salah bertanya aku membuat diriku dalam bahaya. Dia sekarang hanya berdiri, aku tak bisa mengartikan arti dari diamnya dan itu membuatku khawatir.

“Tugasku adalah membuat dirimu siap untuk peradilan terakhir,”

“Peradilan terakhir ?”

“Benar, dan aku harus menyiapkan jiwamu untuk itu,”

“Tunggu…. jiwa ? maksudmu..”

“Tidak, kau masih hidup. Waktumu belum tiba.”

Kakiku terasa lemas mendengar ucapannya. Dia berkata belum yang artinya aku akan mati dan itu tak lama lagi. Aku jatuh dan lembutnya tempat yang kupijak sedari tadi baru terasa, rasanya seperti duduk di atas karpet yang lembut. Itu terasa aneh karena aku tak merasa kesulitan untuk berjalan sedari tadi.

“Kau tak perlu merasa takut namamu belum muncul,” ucapnya seperti itu akan mengubah keadaan.

“Lalu apa maksudnya menyiapkan jiwaku ?”

“Aku merasa khawatir dengan dirimu,”

“Khawatir ? apa aku dalam masalah ? apa yang akan terjadi denganku,”

Aku berdiri dan tanpa sadar mencoba menyentuhnya dan saat itulah aku tahu jika dia benar benar bukan manusia. Saat aku mencoba menyentuhnya tanganku menembusnya, dia kosong tak ada tubuh nyata yang bisa kusentuh.

Aku mundur beberapa langkah mencoba mengerti apa yang baru saja terjadi. Aku memandang kearahnya, dan dia masih berdiri disana, memandang tajam kearahku. Saat dia memandang kearahku, aku bisa melihat wajahnya.

Bagaimana aku menjelaskan rupa wajahnya. Hal pertama yang langsung menarik perhatianku adalah matanya. Seluruh matanya berwarna putih dan beberapa garis berbentuk lingkaran merah di dalamnya, meski begitu aku bisa tahu dia sedang memandangku dengan tajam karena lingkaran yang ada didalam matanya mengecil hampir menjadi satu.

Bentuk wajahnya juga sulit untuk dijelaskan. Mahluk itu mungkin lelaki jika dia memiliki jenis kelamin, dan dia sangat tampan. Tatapan matanya yang awal nya mengangguku sekarang nampak menawan.

“Aku seharusnya tak boleh melakukan hal ini, akan tetapi ada sesuatu tentangmu yang membuat penilaianku menjadi tak adil, hal ini salah jadi aku harap kau memang seperti yang kuharapkan,”

Tak ada satu pun perkataannya itu yang ku mengerti, aku masih belum mendapat jawaban atas pertanyaan pertanyaanku.

“Apakah kau manusia ?”

“Tidak, dan kau tak perlu takut akan hal itu. Aku sesuatu yang kalian sebut malaikat,”

Aku tak bisa menjelaskan perasaanku saat mendengar hal itu, Jika perkataannya itu benar itu berarti aku sedang berada dalam masalah yang besar.

“Kau malaikat ?” tanyaku sekali lagi memastikan.

“Iya dan tugasku adalah membawa jiwa manusia keluar dari dunia,”

“Kau…kau…malaikat kematian,”

“Kalianlah yang memanggilku begitu, begitu juga dengan kematian. Kalian tidaklah mati, jiwa kalian hanya lepas dari tubuh fana kalian dan bersiap untuk peradilan terakhir,”

“Tapi jika kau membawaku jiwaku keluar dari tubuh ku, apa yang terjadi pada…pada tubuh fanaku ?”

Kali ini dia tersenyum, senyum terindah yang pernah kulihat seumur hidupku. Itu tak hanya manis tapi juga menawan dan begitu maskulin. Dia mengambil buku dari dalam jubah hitamnya dan saat dia membuka buku itu aku bisa melihat diriku sedang tertidur. Gambaran dalam buku itu tak seperti video itu lebih seperti melihat ke sebuah jendela kecil.

“Jadi aku hanya tertidur, dan kau membawaku kemari ?”

“Tepat, dan aku ingin kau menyiapkan dirimu,”

“Menyiapkan diri untuk apa ?”

“Aku akan menjemputmu dalam rentang waktu satu minggu,”

“Satu…aku..akan..ma..ti,”

Aku pernah mendengar jika kau mengetahui kapan kau akan mati itu sesuatu yang bagus. Karena kau bisa menjalani hidupmu dengan lebih baik, dan tak akan menyesalinya. Semua kata kata indah yang pernah kudengar itu hanyalah omong kosong, karena saat aku mendengar bahwa dalam waktu satu minggu aku akan mati yang kulakukan ada duduk dan menangis.

Aku tak ingat berapa lama aku menangis, aku merasa bahwa itu terlalu cepat, aku masih sangat muda dan tahu aku akan mati itu menyesakan dada. Aku tak bisa berpikir yang bisa kubayangkan hanyalah mimpi mimpiku yang tak akan pernah kucapai.

“Kenapa kau menanggis ?”

“KENAPA ? AKU AKAN MATI DAN KAU BERTANYA KENAPA AKU MENANGGIS ?”

Aku mundur beberapa langkah, tanpa sadar aku baru saja membentak malaikat maut. Aku kira dia akan marah dan tak menunggu satu minggu lagi, dia mendekat dan keringat dingin serta air mata mulai mengalir, dia begitu dekat hingga detak jantung ku tak karuan. Aku terjatuh dan dia melayang diatasku, tangan kanannya mendekat; aku menutup mataku karena takut.

“Tak ada alasan untukmu menanggis, dan sudah kukatakan sebelumnya kau tak perlu takut padaku,”

Aku merasakan tangan yang lembut mengusap pipiku, aku membuka mataku dan melihatnya sedang tersenyum dan tangan kanannya mengusap pipiku menghapus air mataku yang menetes.

“Maaf,” hanya itu yang bisa terucap dariku.

“Bangunlah, ada alasan kenapa aku membawamu sebelum waktunya,”

Aku menerima uluran tangannya dan bangkit berdiri, tangannya terasa lembut dan padat; seperti tangan bayi hanya lebih besar. Aku tak mengerti aku tak bisa menyentuh tadi, tapi baru saja aku merasakan tangannya mengusap pipiku, dan uluran tangannya yang membantuku berdiri.

“Alasan ?”

“Ya, aku khawatir dengan terhadapmu, hatimu selalu sedih meski wajahmu selalu tersenyum,”

“Maksud mu, aku selalu tersenyum palsu ? aku orang yang fake ?”

“Aku rasa itu bukanlah istilah yang tepat, kau tak pernah bahagia dan itulah yang membuatku khawatir,”

“Aku bahagia, meski aku bukan orang kaya tapi aku bahagia,”

Dia mengeleng sambil melayang mundur dan perlahan hilang, aku mencoba mengejarnya karena aku belum mengerti maksud semua ini. Aku mencoba meraih tangannya karena tadi itu adalah bagian tubuhnya yang bisa kusentuh. Tapi saat aku meraihnya itu terasa kosong, dan dirinya makin memudar.

“Tunggu kenapa kau pergi ? apa maksudmu memberitahu aku akan mati lalu kau pergi, KAU JAHAT,”

“Carilah arti kebahagian sebelum aku datang kembali, persiapkanlah jiwamu,”

Itu adalah kata kata terakhir sebelum dia benar benar menghilang dan menyatu dengan semua kehampaan yang mengelilingi ku. Apa maksud semua ini apa aku benar benar akan mati, apa ini bukan sekedar mimpi buruk; jika itu benar aku harus segera bangun.

Tapi bagaimana ? aku mencoba mencubit tanganku dan itu terasa sakit, tapi aku tak terbangun aku masih berada di kehampaan ini. Aku mencoba mencubit wajahku dan hasil nya tak berubah. Apa dia menjebakku disini ? bagaimana mungkin aku bisa menemukan arti kebahagian disini, itu pun jiwa perkataannya benar. Bisa saja dia iblis yang mencoba mengangguku, bagaimana aku harus percaya perkataannya tanpa bukti atau sebab yang kuat.

“APA MAKSUD SEMUA INI ? KENAPA KAU MENINGGALKAN KU DISINI ?”

Aku terbangun dengan seluruh keluargaku memandangi ku dengan wajah binggung. Ayah,Ibu, Bang Jim, dan Citra, mereka semua memandangi ku.

“Lo nggak apa apa ?” ucap Bang Jim yang kelihatan masih ngantuk.

“Mimpi buruk ya kak ?” tanya Citra dengan wajah yang khawatir.

“Sisil kamu kenapa tadi teriak ? Ayah kira tadi ada apa apa,” ucap Ayah.

“Iya Ibu sampe kaget,” sambung Ibu.

“Maaf ya tadi Cuma mimpi buruk,” jawab ku sambil bangkit dan duduk.

Bang Jim kelihatan nggak tertarik lagi setelah mendengar jawaban ku, dia membawa guling Batman kesayangannya dan berjalan pergi. Ayah juga sama dia berjalan pergi sambil menguap, aku maklum mereka berdua besok akan sibuk jadi mereka butuh istirahat.

“Ya udah kalo gitu, kak Sisil aku tidur lagi ya,” ucap Citra sebelum pergi menyusul Ayah dan Bang Jim.

“Duh kamu ini bikin kaget aja, ya udah kamu minum dulu nih,”

Ibu mengambil gelas yang ada diatas meja dan memberikan nya padaku, aku minum sedikit dari gelas dan memberikan nya lagi pada Ibu.

“Kamu emang mimpi apa sih, kok sampe teriak teriak ?” tanya Ibu.

“Cuma mimpi seram aja kok Bu, tapi udah nggak apa apa kok,”

“Kamu tuh makanya jangan kebanyakan nonton film serem, nggak baik,”

“Ya namanya doyan Bu gimana lagi,”

Ibu hanya tersenyum, aku nggak mungkin memberitahunya mimpiku tadi. Jika itu benar benar mimpi, aku tak ingin membuat Ibu khawatir dengan semua itu. Aku juga tak tahu apa yang sebenarnya harus kulakukan, aku harus tahu dahulu apa hal yang dikatakannya benar dan aku takut jika itu benar.

“Ya kamu tidur lagi, besok sekolah,”

“OK Bu,” ucap ku sambil memberikan tanda OK.

Ibu akhirnya meninggalkanku sendirian dalam gelapnya kamar, aku menghidupkan lampu tidurku sambil bersadar di dinding. Bagaimana mungkin aku bisa tidur setelah mungkin aku benar benar telah bertemu dengan malaikat maut, dan jika perkataannya benar aku akan mati dalam waktu satu minggu; katakan padaku jika kau bisa tidur setelah itu semua.

Aku memandangi dinding kamarku, mencoba mengerti apa yang terjadi. Apakah tadi hanya mimpi buruk ? jika iya kenapa yang kurasakan begitu nyata, bagaimana aku lembutnya tempatku berpijak, bagaimana lembut tangannya mengelus pipiku, dan bagaimana sakitnya saat aku mencubit diriku sendiri. Bagaimana mungkin itu semua hanya mimpi, tapi bagaimana mungkin aku bertemu dengan malaikat maut.

Entah kapan aku jatuh tertidur, tapi aku terbangun saat wakerku berbunyi. Aku masih memikirkan tentang apa yang terjadi semalam, tapi aku mencoba tak memikirkan nya; lagi pula aku tak tahu jika itu benar benar terjadi. Aku bangun, mandi dan bersiap siap untuk ke sekolah seperti biasa.

Saat aku keluar kamar keadaan rumah sudah sepi, Ayah pasti sudah dalam perjalanan ke tempat kerja,Ibu sudah disekolah untuk mengajar, dan Citra sudah berada disekolah. Bang Jim mungkin masih dikamarnya, dan mungkin dia mau mengantarku.

“Bang udah bangun ?” ucapku sambil mengetuk pintu kamarnya.

“Kenapa Sil ? mau minta antarin ?” jawabnya dari dalam kamar.

“Tau aja bang, antarin dong,” ucapku.

Pintu kamar terbuka dan bang Jim berdiri dengan muka yang masih berantakan, dia pasti baru bangun dan pastinya belum mandi karena aroma tubuhnya seperti sekaleng sarden basi.

“Lu berangkat sendiri aja hari ini, gue masih harus buat bab pengantar skripsi gue. Nggak apa apa kan ?” ucapnya dengan disertai napas yang ingin kujelaskan.

“Ya udah, pergi ya bang,”

“EH lu nggak nyalam ama gue,” ucap bang Jim saat aku hendak berjalan pergi.

Jadi dengan sangat terpaksa aku menyalami nya, sambil menahan napas. Tentu aku tetap melakukan nya diam diam dan sambil memasang senyum manis, aku tak mungkin bilang padanya badannya bau karena belum mandi.

“Sekolah yang benar,”

“Siap bang.”

Jadi karena bang Jim terlalu sibuk dengan skripsinya, hari ini aku berangkat sekolah naik angkot. Bukan yang pertama kalinya, juga aku tak masalah dengan itu. Naik angkot menghadirkan sausana berbeda, terutama saat bergelantungan di pintunya pengalaman yang hebat.

Juga karena aku bergelantungan sepanjang perjalanan, ongkos yang kubayar hanya setengah, kadang gratis. Saat aku sampai disekolah disana sudah ramai, dan seperti biasa para guru berbaris didepan pintu dengan tangan terjulur, mengharapkan para murid menyalami dan mencium tangan mereka.

Aku tak pernah suka ritual itu, yang lebih mengherankan mereka juga berbaris saat jam pulang; membuat pagar sekolah menjadi pintu keluar yang lebih baik. Aku bisa menghindarinya saat pulang, tapi tidak saat masuk; jadi dengan senyum terbaik aku mendatangi dan mulai menyalami mereka.

Ada dua hal yang membuat ritual ini tak menyenangkan, yang pertama adalah sesi wejangan yang akan tiba tiba digelar saat ada siswa nakal yang mendapat giliran menyalami guru killer. Saat itu terjadi kami harus mendengar sang guru memberi nasihat kepada siswa tersebut agar lebih rajin, pintar, ganteng,kaya dan sebagai nya, seperti itu akan bisa tercapai dengan modal wejangan; kalau kata om thunder bego ya bego aja.

Yang kedua adalah sesi gosip yang akan juga tiba tiba muncul saat guru dan murid kesayangan nya bertemu. Mereka akan bicara ditengah antrian membahas berbagai hal nilai, event sekolah, keluarga, harga tukar rupiah,dan berbagai hal “penting lainnya. Jadi saat dua hal itu terjadi aku hanya bisa diam, berdiri memandangi hal itu terjadi sambil berpikir kenapa aku harus bangun pagi ini.

Jadi setelah sesi salam menyalami selesai aku pelajaran dimulai. MTK adalah pelajaran pertama yang sangat “hebat” karena pelajaran tersulit kedua, berada dipagi hari yang indah ini; sungguh sebuah what a pity.

“Inikah kebahagianmu ?”

Jantungku baru saja melompat keluar dari dadaku saat aku melihat malaikat maut yang kulihat semalam berdiri didepan mata ku. Dia berdiri dengan mantel hitam dan wajah tampan nya memandangiku dengan ekspresi yang bisa kukatakan kecewa. Aku hampir terjatuh jika bukan karena dinding yang ada dibelakang ku, itu tak penting karena sekarang yang kukira hanya mimpi aneh punya manifestasi nyata di depanku.

“Kau….kenapa….jadi…yang semalam,” aku kesulitan mengatur kata kata yang ingin kuucapkan. Well gugup tak sepenuhnya mengambarkan perasaanku, tapi begitulah kira kira.

“Kau hanya punya waktu satu minggu dan kau menghabiskannya dengan pikiran pikiran negatif mu,” ucapnya kali ini dengan intonasi orang yang marah, tapi suaranya begitu lembut sehingga sulit berkata jika dia benar benar marah.

“Kau ? tunggu kenapa kau ada disini, dan bagiamana kau tahu isi otakku ?”

Dia melayang beberapa kali mondar mandir di depanku, aku mencoba mengatur napas dan detak jantung ku dan saat itulah kusadari. Waktu berhenti, semua orang tak bergerak, tak ada suara kecuali suara detak jantungku.

“Kau seharusnya menemukan kebahagianmu, manfaatkanlah waktumu yang tersisa itu penting,”

“Kau selalu bilang waktuku tinggal sedikit, bagaimana aku bisa percaya jika aku tak tahu bagaimana aku akan mati. Maksudku aku sehat, aku tak punya musuh jadi aku tak mungkin waktu dalam waktu seminggu,”

“Tak semuanya harus kau ketahui, mengetahui semuanya tak akan membuatnya lebih baik. Sekarang yang terpenting carilah kebahagianmu, hanya itu yang harus kau pedulikan.”

Setelah mengucapkan itu dia kembali memudar, dan sekali lagi aku mencoba mengapainya karena masih banyak yang ingin kutanyakan.

“HEY,” teriakku.

Saat itulah waktu kembali berjalan dan membuat semua orang memandangiku, apa yang harus kulakukan sekarang.

Chris.

Out of note.

Cerita ini nggak akan diupdate berkala karena gue masih punya dua cerita lain yang masih on going. Ini hanyalah passion project setelah nonton film if cat disappeared from the world jadi jangan terlalu mengharap banyak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s