Lemon Tea and Chocolate Sponge Cake, Part 2

 

lemontea

Hari ini adalah hari jum’at yang berarti ini adalah hari terakhir aku bisa bebas, malam nanti Siska akan datang dan mulai mengatur dan membunuh kebebasanku. Aku tak membencinya, aku senang masih ada yang peduli kepadaku, aku hanya merasa aneh jika diatur oleh seseorang yang lebih muda dariku.

Aku menghabiskan hariku dengan membaca buku di beranda, pada sore hari bel apartemenku berbunyi dan aku tahu pasti siapa yang berada dibalik pintu. Aku membuka pintu dan dia berdiri disana dengan wajah yang kesal, sesuatu yang aneh karena aku bahkan belum melakukan apapun.

“Lama banget sih,” ucapnya.

Berdiri lah di depan ku adikku tersayang, koper besar yang dibawanya kurasa yang membuat wajahnya kesal karena dia kesulitan membawa koper itu naik.

“Aku sedang membaca buku di beranda,” jawabku.

“Bantuin dong berat nih,”

Aku membantu membawa beberapa koper miliknya, dia hanya akan berada disini dua hari dan baju baju dikoper yang dibawanya mungkin lebih banyak dari yang pernah kumiliki. Aku membawa koper itu ke kamarnya, sementara Siska pergi ke dapur mungkin untuk mengecheck apa aku sudah makan dengan benar.Setelah meletakan koper itu diatas kasur aku pergi ke dapur untuk menemuinya, dia sedang memasukan beberapa sayuran dan makanan lain ke dalam kulkas.

“Kale nya nggak dihabisin ?” ucap Siska saat melihat masih ada kale minggu kemarin di dalam kulkas.

“Aku tak suka rasa nya, bisa kau ganti itu dengan yang lain,” jawabku.

“Kale itu sehat tahu, ya udah makan sawi putih aja,” ucap Siska memasukan sawi putih ke dalam kulkas.

Setelah selesai dengan kulkas Siska pergi ke kamarku untuk memeriksanya, dia mulai dengan  memeriksa lemari pakaian lalu lanjut ke kamar mandi. Dia juga memeriksa meja yang biasa kugunakan untuk menulis, setelah memeriksa keadaan seluruh apartemen dia menyelesaikan inspeksi mingguannya dengan membuang kantong sampah.

Siska kemudian memasakan makan malam untuk kami berdua, sementara aku mencoba melanjutkan draftku di ruang tengah. Satu jam kemudian Siska memanggilku dan kami makan malam dengan menu sehat buatannya.

“Gimana tidurnya ?”

“Baik, aku tidur jam sepuluh,” jawabku.

Kompromi lain yang harus kulakukan adalah jam tidurku, aku bisa saja tidur lebih lama tapi Siska akan tahu. Itu cukup menyulitkan karena aku lebih senang menulis di malam hari, karena itulah aku suka berada di White Panda disana aku bisa menulis dengan cukup tenang.

“Abang kenapa nggak pulang aja sih, disanakan kesehatan abang terjamin,” ucap Siska.

“Kita sudah sering membahas ini, dan jawabanku akan selalu sama,” ucapku.

Siska hanya memandangiku untuk sesaat sebelum dia lanjut makan, dari raut wajah nya aku bisa tahu dia kecewa mendengar jawabanku. Tapi aku lebih suka disini, rumah Ibu bukanlah tempat yang kusukai, Siska tahu itu tapi dia selalu memintaku untuk kembali kesana.

“Bagaimana dengan Ibu ?” ucapku mencoba membuka pembicaraan.

“Ibu baik,” ucap Siska tak melepaskan pandangan nya dari piring.”Ibu masih sibuk seperti biasa,”

“Bagaimana dengan mu ?”

“Abang bisa lihat sendirikan,”

Aku seperti merasa ada awan hitam yang terbentuk di antara kami berdua, awan hitam yang berisi mood buruk yang membuat bernapas menjadi sulit. Sup yang ku makan mulai kehilangan rasanya, membuat mulutku terasa pahit.

Aku menyelesaikan makananku dengan cepat dan kembali ke laptopku, hal ini selalu terjadi setiap kali dia datang. Diawali dengan dia meminta ku kembali, aku menolak itu, lalu berlanjut dengan diam.

Hal ini membunuh moodku, aku mencoba membaca outlineku tapi aku tetap tak bisa menulis apapun. Siska menyelesaikan makan nya dan bergabung dengan ku di ruang tengah, dia duduk diam membaca novel berjudul Jomblo Is You 3.

“Kenapa kau membaca buku itu,” ucap ku.

Siska menurunkan bukunya dan memandangku, dia menunjuk buku yang sedang dibacanya untuk memastikan itu buku yang ku maksud, dan aku menangguk untuk memastikan.

“Kenapa lucu tau,” jawabnya.

“Awalnya memang lucu,”

“Awalnya ? sampe sekarang masih lucu kok,”

“Jomblo Is You yang pertama memang cukup lucu, yang kedua masih memakai jokes yang sama dan itu membuatku bosan, yang ketiga itu hanya formula yang sama yang terus di ulang oleh penulisnya,”

Siska meletakan bukunya lalu dia memasang ekspresi yang tak mungkin salah kupahami, dia meletakan kedua tangannya dipinggang, kedua pupil matanya membesar begitu juga dengan lobang hidung, serta bibir yang naik dan dimanyunkan, dia sedang marah padaku; kesal tepat nya.

“Bukunya selalu lucu tahu, dari yang awal, kedua sampe yang terakhir, jokes kalo sama ya nggak apa apa, ini kan buku tentang jomblo jadi wajar kalo jokesnya sama,”

Begitulah dari sedikit protes Siska yang bisa kudengar, sulit mendengar apa yang dia ucapkan dengan kombinasi suara tinggi, tempo yang cepat dan ekspresi yang berubah ubah. Aku hanya dia menunggu nya selesai kemudian aku berniat memberitahunya kenapa dia salah.

“……. jadi gitu kalo emang benci harus adalah alasan nya dong, kalo nggak abang itu Cuma haters,” ucap Siska mengakhiri protes panjangnya.

“Siska, aku tak mengatakan aku benci, aku hanya tak terlalu suka melihat jokes yang sama terus diulang dengan cara yang sedikit berbeda. Jokesnya memang terlihat berbeda tapi formula yang digunakan penulis itu selalu sama dan itulah yang membuatku tak menyukainya, aku tak meminta penulisnya menganti genre atau menuliskan hal yang lain, aku hanya ingin jokes yang fresh. Tak ada salah nya setia dengan genre yang sama selama sang penulis suka, tapi jika yang ditulis tetap sama terus menerus dan berharap pembaca akan terus suka itu adalah sebuah kegilaan.”

Siska sekali lagi diam, ekspresi marah telah pergi dari wajahnya dan berganti dengan ekspresi lain. Tangan yang bertumpu di dagu, pupil yang mengecil dan mata yang menerawang, dia sedang berpikir, mungkin memikirkan perkataanku.

“Jadi penulisnya gila ?” itulah yang pertama terucap darinya.

“Tidak Anto yang terakhir kutemui cukup waras,”

“Tapi menurut ucapan abang kalo penulis melakukan hal yang sama terus terus dan mengharapkan hasil yang beda berarti dia gila ?”

“Aku kira kau menangapinya sedikit berbeda, tapi tidak dia tidak gila mungkin hanya sedikit kekurangan ide,”

Aku tak terlalu suka membicarakan penulis lain dengan nada yang merendahkan, tapi yang baru ku ucapkan mungkin bisa disebut kritik, tidak merendahkan seseorang tapi hanya memberikan ulasan yang jujur dengan harapan mereka akan lebih baik. Aku sempat berbicara dengan Anto tentang hal yang sama seperti yang ku bicarakan dengan Siska, aku sempat mendengar kalau Anto membatalkan buku ketiga dari Jomblo Is You dan aku tak mengerti kenapa dia melanjutkannya lagi, permintaan pasar ? semua jawaban hanya dia yang tahu.

“Udah ah ngantuk, tidur dulu ya bang,”

“Iya aku sebentar lagi akan selesai,”

“Night,”

“Good night,”

Siska lalu berdiri dan mengambil bukunya, dia berjalan pergi meninggakanku sendirian di ruang tengah. Aku masih belum menemukan mood ku untuk menulis, aku pun menutup laptopku dan berjalan ke kamar untuk tidur.

Aku sempat berharap bahwa berbaring sambil memandangi langit langit kamar akan memberikanku sedikit ide. Hari ini aku baru menulis satu halaman dan itu mengangguku, aku selalu menulis minimal sepuluh halaman setiap hari dan perubahan yang jauh ini benar benar membuatku tak bisa tidur.

Tak ada ide yang terlintas, hanya ada beberapa cicak yang melintas tapi tak ada ide yang lewat bersama dengan mereka. Pertengkaran kecilku dengan Siska sudah berakhir dan kami sudah berbaikan jadi bukan hal itu yang mengangguku, sesuatu yang lain lah yang membuatku terjaga.

Handphoneku berbunyi dengan nada pesan masuk, aku mengapainya dan itu adalah hal baru yang lain, pesan dari Lidya. Kami memang bertukar contact kemarin, Lidya berkata kalau dia tak ingin lost contact denganku, dan aku juga merasa demikian.

“Udah tidoor.” Isi pesan singkat itu.

“Belum ada sesuatu yang membuat ku terjaga.” Balasku.

“Gue juga sama, mau nemenin gue ngechat nggak sampe gue ngantuk ?” isi pesan lain yang datang beberapa menit kemudian.

“Aku tak masalah dengan itu.”

“Bagus deh, tapi gue aneh kok lo omongannya kaku banget sih, di chat juga santai dikit lah.” Isi pesan balasan Lidya yang diikuti oleh beberapa gambar kecil.

“Maaf jika aneh, tapi aku terbiasa dengan tata bahasa seperti ini, aku harap kau tak terganggu.”

“LOL, lo lucu deh (gambar wajah tertawa) (gambar wajah tertawa) (gambar wajah berkedip dan memberikan kecupan).”

“Aku bisa mengatakan hal yang sama untukmu.”

“Masa gombal ihh (gambar wajah kucing berkedip) (gambar wajah kucing berkedip) (gambar wajah kucing berkedip).”

“Aku tidak sedang menggodamu.”

Lidya tak membalas pesanku, aku mencoba menunggunya beberapa menit tapi belum ada balasan. Apa aku baru mengirimkan pesan yang menyinggungnya ?.

“Apa pesan ku menyinggungmu.” Isi pesan yang kukirim untuk memastikan.

“Nggak AFK aja tadi, btw menurut lo gue gimana ?” balasnya.

“Dalam konteks apa aku harus menjawab ?”

“Apa ya ????? jujur aja sih, penilaian jujur lo gue cewek yang gimana ?”

Aku tak tahu harus menjawab apa, aku tak terlalu bagus dalam menilai seseorang, lagi pula kami baru bertemu satu kali, mungkin dalam konteks itu lah aku harus menjawab. Bagaimana penilaian jujurku kepadanya yang baru pertama kali bertemu.

“Kau wanita yang memesona dan menurutku kepribadianmu menarik.”

“(sebuah gambar kata wow besar) gue nggak tahu lu mikir setinggi itu buat gue, baru kali ini gue terharu baca chat orang, (gambar wajah menangis) (gambar medali emas dengan angka satu).”

“Kau memintaku untuk jujur bukan ?”

“Iya thanks, eh besok lo sibuk nggak ?”

“Aku rasa tidak karena aku tak memiliki rencara khusus.”

“Besok malam jalan yuk, nonton, makan makan gitu.”

“Kau ingin menghabiskan waktu bersamaku besok ?”

“Iyaaaaaaaaaaaaaaa mau nggak ?”

“Dengan senang hati.”

“OK, besok gue kasih tahu alamat gue, jemput ya ?”

“Baiklah.”

“Ya udah see you tomorrow (gambar kata bye besar).”

“Bye.”

Itu lah akhir dari saling berbalas pesan yang kulakukan bersama Lidya, aku tak pernah melakukan hal itu sebelumnya dan itu membuatku merasa senang. Tapi rasa kantuk mulai kurasakan, aku pun meletakan handphoneku kembali ke atas meja dan tidur.

Saat bangun di pagi hari aku merasa sangat senang, aku merasa bersemangat di pagi hari, sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Setelah mandi aku ke ruang tengah dan menemukan Siska sedang membuat sarapan pagi.

“Pagi,” ucapnya yang sedang sibuk mengoleskan mentega keatas roti.

“Pagi,” balasku.

Aku menerima roti isi yang telah disiapkan oleh Siska, dia juga menyiapkan jus timun; aku bukan orang yang suka protes tetapi roti isi dan jus timun bukanlah sesuatu yang nikmat untuk dimakan di pagi hari. Tapi sudahlah aku terlalu malas untuk membuat sarapan yang baru, dan bertengkar dengan Siska dipagi hari tak pernah berakhir dengan baik; adikku pernah melempar TV keluar jendela karena aku lebih memilih menonton dari pada menemaninya sarapan, alasan lain kenapa aku tak lagi menonton TV.

“Ada rencana hari ini ?” tanya Siska.

“Aku berencana pergi nanti malam,” jawabku.

“Kemana ?”

“Aku belum tahu pasti tapi kurasa ke bioskop dan restoran,”

“Sendirian ?”

“Tidak aku akan pergi bersama Lidya,”

Siska menjatuhkan roti isi nya dan memandangku dengan wajah yang tak percaya, aku tak salah membaca ekspresinya, dia memandangiku dengan pupil mata yang membesar dan mulut yang terbuka membentuk huruf o; dia pasti benar benar terkejut.

“Lidya siapa ?” tanya Siska berdiri dari kursinya.

“Dia seorang teman, kami bertemu di cafe kemarin,” jawabku.

Siska kembali duduk tapi dia tak bisa melepaskan pandangannya dariku, dia tak melanjutkan roti isi nya dia mengambil gelasnya dan menuangkan jus ke dalamnya. Dia masih memandangiku saat menuangkan jus timun ke gelas yang membuat jus itu tumpah saat gelas sudah terlalu penuh.

Cepat cepat dia membersihkan jus yang tumpah diatas meja dengan kain lap, aku memberikan kain lap yang berada di dekatku kepadanya saat kain lap miliknya sudah terlalu basah oleh jus.

“Apa yang terjadi denganmu ? kenapa kau terus memandangiku ?”

“Nggak apa apa,” jawabnya, tapi dari tingkah lakunya aku tahu ada sesuatu yang menganggunya.

“Apa ada yang menganggumu ? tingkahmu jadi aneh sejak aku berkata akan pergi dengan Lidya,”

“Aku Cuma kaget dengar abang ngedate dengan cewek,”

“Kami tidak berkencan, kami hanya akan menghabiskan waktu bersama,” ucapku mengoreksi ucapannya.

“Ohhh gitu, paham paham,” ucap Siska dengan nada bicara yang sarkastik.

“Pahamilah sesukamu tapi itu tak mungkin terjadi karena kami baru bertemu kemarin,”

“Abang baru ketemu kemarin dan nanti malam bakalan jalan dengan dia ?”

“Iya seperti itulah,”

“Ceritain dong gimana ketemunya ?”

Aku pun menceritakan kepada Siska bagaimana aku bertemu dengan Lidya dan Siska memandangku seakan itu terlalu bagus untuk menjadi nyata. Aku tak mengatakan kepadanya bagaimana perasaanku saat bersama dengan Lidya, karena aku sendiri belum mengerti perasaan apa itu.

“Terus perasaan abang ke Lidya gimana ?”

Tunggu kenapa dia menanyakan hal yang coba kuhindari untuk dibicarakan, mengapa sekarang dia memandangiku lagi dengan ekspresi penasarannya itu seakan menungguku untuk mengucapkan sesuatu yang sudah ditunggunya sekian lama.

“Aku masih belum mengerti apa yang kurasakan saat bersama dengannya,” itu lah jawabanku, tapi itu nampaknya tak membuatnya puas.

“Emang apa yang abang rasakan ?”

“Hal itu sulit untuk dijelaskan,”

Siska menunduk nampaknya dia kecewa mendengar jawabanku. Aku telah jujur mengatakan apa yang kurasakan, jadi aku tak tahu bagaimana lagi jawaban yang lebih baik. Tapi nampak nya jawaban jujur bukan selalu jawaban yang terbaik.

Chris.

Iklan

2 tanggapan untuk “Lemon Tea and Chocolate Sponge Cake, Part 2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s