Aku Rasa Iya – Part2

“BERAKIT RAKIT KEHULU BERENANG RENANG KETEPIAN. KALAU ELU SAKIT LEBIH DULU YA UDAH MATI AJA DULUAN”

*peace (^_^)

Sedikit perbaikan dari Part 1 yang banyak typo dan kata-katanya kurang jelas, amburadul lah kaya muka Gua. Di Part 2 ini gua beri sedikit… Ah kelamaan! langsung aja baca.

Note: “JANGAN BERHARAP LEBIH DARI CERITA GUA”

******

~Di Warung Bakso

Cuaca panas terasa menyengat siang ini. Beruntunglah Ari dan Shani tengah duduk santai menunggu pesanannya.

Hening antara mereka berdua, entah sedang memikirkan apa dia. Sedari masuk hanya diam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Kadang sesekali Ari tampak mencuri pandang ke arah luar. Shani yang menyadari hal itu ingin sekali menanyakan apa terjadi.  Baru saja Ia ingin menanyakan.,

“Shan.. mau pesan apa? minumnya apa”

“Bakso aja, minumnya jus jeruk”

“Bentar ya, Mas bakso kaya biasanya 4. Jus Jeruk 1 Apukatnya 1 sama mineralnya 2. makan disini.” teriaknya sambil mengangkat tangan

“Yooo. Ditunggu ya Bro” balas suara dari kejauhan

Shani yang kaget langsung menenatap Ari tajam

“Pake triak-triak ih, bikin malu. Lagian kok 4 Ay? Kamu mau makan 3 porsi” Tanya Shani bingung dengan menatap Ari

“Ya kali,? bantahnya ?tadi pas masuk liat  anak kecil duduk didepan sama Ibunya gak” Lanjut Ari menolehkan kepalanya

Shani mengikuti arah yang dimaksud.. sekarang Ia sudah tau jawaban dari rasa penasarannya yang belum sempat Ia tanyakan

“Iya liat, kenapa? Kamu mau kasih ke mereka?”

“He’em, hehe,” balas Ari dengan senyum mengangguk

“Iiih,. Biarpun aneh, nyebelin, pemales, gak beraturan, mukanya mesum, tapi kamu masih ada sisi baiknya ya Ay. Sayang deh. Hehe” Shani tersenyum dan mencubit gemes pipi Ari

“Hadehh.. Yang barusan termasuk pujian apa ngehina sih Shan?” Ari mengendus heran

“Muji dong.. Hehehe” cengengesan Shani masih mencubit-cubit pipi Ari

Lima belas menit menunggu akhirnya Bakso pesanan mereka tiba. Tampak wajah bingung dari si penjual menatap Ari dan Shani secara bergantian,

“Bro. Sampean mabuk yo” tanya penjual dengan logat Jawanya

“Siapa yang mabuk mas?” Jawab Ari bingung

“Ini sampenan pesen banyak-banyak buat siapa? Jangan-jangan sampean kerasukan Bro” tebak si penjual

“Ngawur  aja lama-lama mas. Yang dua buat Ibu sama anak yang di depan itu loh mas, kasian anaknya” sela Shani mengarahkan telunjuk tanganganya ke arah yang dimaksud

Si penjual hanya membulatkan mulutnya dan mengangguk-angguk “Oohh…”

“Disuruh masuk kesini boleh ya mas, baksonya ditaruh dimeja kosong dekat pintu itu. Kan gak enak dilihatnya kalau makan diluar” lanjut Shani

“Iya mas, kasian diluar panas. Ntar biasa biar Gua yang bayar” tambah Ari

“Oke siap Boss! Biar tak suruh Anak sama Ibu-e masuk dulu. Baksonya sekalian saya bawa kesana” jawabnya mengerti dan mulai beranjak

Penjual berjalan meninggalkan Ari dan Shani untuk menghamiri sepasang Ibu dan Anak yang berteduh didepan warung milinya.

Penjual tampak berbincang dan tak butuh waktu lama Ibu dan anak itu berdiri dan tersenyum pertanda berhasil di ajaknya masuk. seyum mengembang terus tersuguh dari sang anak apalagi diaat Jari dari si penjual menunjuk ke arah meja Ari dan Shani membuat Wanita paruh baya itu menampakan senyumnya.

Sekarang Ari Shani kembali fokus pada semangkok Bakso dihadapan yang sudah siap untuk di santap. Belum sempat Ari menyuapkan bakso pertama Shani berbicara,

“Ay nanti abis beli Pizza-nya Yupi kerumah aku dulu ya, mau ganti baju”

“Iya.. sekalian minta izin ke Mama kamu, susah bawa anak mami keluar rumah, ntar di cariin” ledek Ari

“Ihh.. apaan sih, ngeledek ya?” Jawab Shani menyubit pinggang Ari

“Aduh duh. sakit Ay” Ari melepas cubitan tangan Shani

“Cieee panggil aku ‘Ay’…” Goda Shani

“Ya ampun senengnya..,” Ledek Ari sambi mengacak-acak rambut Shani

“Udah-udah, saatnya makan.. Aaaaa” potong Shani dengan tangan memegang sendok berisi bakso ingin menyuapkannya pada Ari

Ari membuka mulutnya agak lebar, sangat siap menunggu suapan bakso pertama. Tapi disaat sesendok sudah hampir sampai…,

“Ammm. Enakkk, wlee :p” ledek Shani yang membelokan sendoknya kemulutnya sendiri lalu memakanya

“Yah dikadalin..” Gerutunya pelan

“Hehehe”

Mereka melanjutkan makanya melahap semua bakso dimangkok sampai habis tanpa tersisa, tanpa bekas dan tanpa noda membandel..  *anjaiii apa ini -__-

Setelah merasa kenyang dan sudah membayar semua pesananya kini mereka tengah bergegas keluar menuju parkiran untuk mengambil mobilnya dan segera pulang.

******

Candaan kecil selalu berhasil menemani mereka berdua di tengah perjalanan yang membuat suasana selalu mencair.

Tak peduli terik, macet, polusi, gangguan pengamen, pengemis, pedagang asongan yang teriak “MIJON NYA MIJON!”.

Semua mereka lewati tanpa kesulitan yang berarti. Karna bagi mereka lebih sulit tantangan Benteng Takeshi.

*oke fix ngaco!

Setelah membeli Pizza dan menghantarkan Shani kerumahnya untuk berganti pakaian sekaligus meminta izin pada orang tuanya, sekarang mereka melaju lagi menuju rumah Ari yang jaraknya hanya beberapa blok dari rumah Shani.

Sepuluh menit mobil berjalan sampailah mereka di rumah Ari. Setelah memasukan mobilnya ke garasi mereka bergeggas turun untuk masuk ke dalam rumah dan menunggu kedatangan teman-temanya.

Baru saja pintu terbuka, mereka berdua langsung disambut oleh suara cempreng yang memekakan telinga,

“Bundaaa!!!” Seseorang berteriak

Shani menolehkan kepalanya memandang pemilik sumber teriakan, sedangkan Ari menutup telinganya menggunakan kedua tanganya seraya bersembunyi dibalik punggung Shani.

“Hay Feni…’ Sapa Shani pada Feni yang tengah berlari dan saat tiba langsung memeluknya

“Kangeenn…” Rengek Feni manja

“Perasaan lusa kemarin Shani kesini.” sela Ari yang muncul dari balik punggung Shani

“Sssshh. Jangan ganggu Mama sama Bunda,” jawab Feni yang masih memeluk, Sedangkan Shani tersenyum sambil mengusap puncak kepala Feni

“Aku ke kamar dulu” ucap Ari datar melewati Shani dan Feni

Ari berjalan gontai nenaiki anak tangga meninggalkan Shani dan Feni menuju kamarnya di lantai dua untuk berganti pakaian karna sedari tadi dia masih memaikai seragam sekolah.

Direbahkan tubuhnya diatas kasur untuk mengistirahatkan punggungnya. “Hahh, Si Feni kalo udah ketemu Shani mah rusuh. Abis Gua di jajah” gumamnya pelan

Di pandangnya langit-langit kamarnya, matanya perlahan mulai terasa berat pertanda dia mengantuk, pandanganya memudar hingga akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.

~~Di Ruang Tengah

Shani dan Feni tengah asik bercanda sembari menunggu kedatangan Ido,Gre,Jaya dan Yupi.

Mereka berdua tertawa dan tertawa sampai akhirnya Shani tak tahan lagi membendung hasratnya untuk tertawa terbahak-bahak ketika Feni menceritakan kejadian dimana ia dengan tega membangunkan kakaknya yang tengah tertidur dengan cara menduduki perut yang kadang dihentaknya kuat-kuat supaya merasa terganggu dan segera terbangun.

Saat tawa sudah sedikit mereda, dari depan terdengar suara berbunyi, “TING! TONG! TING! TONG!” Bel rumah berbunyi

Shani dan Feni berjalan ke arah pintu ?Iya bentar? teriak Feni hendak membuka pintu. Saat pintu terbuka,

“Haii kakak-kakak..” Sabut Feni setengah berteriak

“Haii Feni,” jawab mereka serentak

Shani tampak memandang teman-temanya secara bergantian seperti merasa ada yang aneh,

“Kalian cuma bertiga, Jaya mana?”

“Bentar lagi mungkin. Kalo gak telat bukan Jaya namanya.” jawab Yupi sebal

“Emang kenapa Yup?” Tanya Shani bingung

“Katanya Jaya mau jemput Yupi tapi gak dateng-dateng. Yaudah kita tinggal” sela Ido dan Gre bersamaan

“Gak pake bareng bisa gak jawabnya?” Ucap Yupi sewot

“Udah yuk masuk. Jaya mungkin bentar lagi” potoh Shani melerai dan menarik tangan Yupi

Baru saja hendak berjalan masuk. Suara orang yang di bicarakan terdengar yang membuat mereka berbalik badan,

“OY.. TUNGGUIN…” Teriak Jaya yang baru saja sampai dan langsung memarkirkan motornya disebelah mobil Ido. Lalu ia berjalan cepat ke arah teman-temanya

“Si kampret baru di omongin panjang umur..” Ucap Ido saat melihat Jaya

“Aku nuggu lama kok gak dateng-dateng!” Yupi sebal memandang Jaya

“Hehe, ketiduran.. Lagian rumah kamu jauh. Kalo kesana bawa motor harus pake helm” jawab Jaya menggaruk kepala yang tidak gatal.

Entah dapat teori dari planet mana dia bisa berkata seperti itu. Jaya masih cengengesan dan tiba-tiba.

TAK! TAK! TAK! TAK!

Dengan mulus jitakan dari Ido, Gre, dan Shani mendarat di kepala Jaya. Sukurlah kali ini Yupi tidak latah -__- Sedangkan Feni hanya cekikikan melihat itu.

“ALASAN GAK BERMUTU! naik motor emang harus pake helm kampret!” Ucap Ido geram

“Maksudnya kalo deket atau satu komplek kan selauww..” jawab Jaya membela.

Dengan reflek semua tangan langsung terangkat mantap di atas kepala Jaya. Jaya yang melihat itu hanya menelan ludah dan mukanya memucat,

“Iya-iya gua salah, Ampun. gua ngaku.. Kalian Suci Aku Penuh Dosa” lanjut Jaya memelas

Mereka semua berjalan masuk beriringan menuju ruang tengah. Setelah sampai Ido dengan cepat menjatuhkan pantatnya di atas sofa disamping Gre, Feni dan Shani yang baru saja duduk. Sedangkan Jaya langsung merebahkan tubuhnya tengkurap di atas karpet tepat didepan teman-temanya.

Baru saja ia hendak terlelap. Yupi dengan beringas melontarkan jambakan demi jambakan plus jeweran ke pada Jaya dengan muka sebalnya belum juga hilang. Kejadian itu membuat semuanya tertawa terbahak-bahak melihatnya.

Selagi tontonan gratis berlanjut Feni beranjak dari duduknya berniat ingin membangunkan kakaknya yang masih terlelap di kamar. Namum di saat akan melangkah tangannya ditahan oleh Shani yang membuatnya menoleh.

“Feni sini aja ya.. Biar kakak yang bangunin Ari” Ucapnya lembut mengusap pipi Feni

“Iih Bunda… Emang gak mau liat Feni jailin kak Ari?” Rengek Feni memanyunkan bibirnya

“Udah dong jangan ngambek, ajak kak Yupi ambil Pizza gih di mobil. Tadi ketinggalan.” Suruh Shani sambil mengusap puncak kepala Feni

Feni mengangguk lalu berjalan menghamiri Yupi yang tanganya tengah menempel di indah di telinga Jaya.

Yupi yang mendengar kata Shani,

“Ya udah temenin kakak yuk ambil Pizza di mobil” Ajak Yupi melepas jeweranya dan beranjak dari tempatnya yang menyisakan bekas merah pada telinga Jaya. Sedangkan Ido dan Gre sudah lemas karena tertawa.

Shani berjalan menuju lantai dua tempat dimana Ari terlelap. Satu demi satu langkahnya mulai menaiki anak tangga.

Setibanya depan sebuah pintu, perlahan ia memutar knop yang digenggamnya untuk membuka pintu dan ketika pintu terbuak ia berjalan pelan mendekat ke arah tepi ranjang lalu duduk tepat di tepi ranjang menghadap ke arah Ari yang masih terlelap di sebelahnya.

Dipandangnya wajah Ari dalam-dalam. Dengan lembut jari tanganya mulai menusap puncak kepala Ari seraya tersenyum tulus. Cukup lama ia mengusap hingga tak sadar ia termenung.

-Shani Flashback On-

Shani bersama Gre dan Yupi tengah berjalan menuju kantin meninggalkan Ari, Ido dan Jaya yang sedang asik menggoda colon siswi-siswi yang menjalankan MOS.

Satt tengah menikmati makanannya tak lama datang dua orang berdiri di depan mereka dengan masing-masing membawa sepiring makanan.

“Hai.. Boleh kami duduk disini? Soalnya meja lain sudah pada penuh” tanya orang itu

Shani menoleh melihat ke arah meja lain disekitarnya yang semuanya sudah penuh dengan murid-murid seperti para zombie kelaparan.

“Eh kak Ve, kak Yona. Silahkan duduk kak” jawab Gre membolehkan

“Makasih ya.” Jawab Ve tersenyum dan langsung duduk

Saat tengah melahap makanya tiba-tiba Ve berbicara,

“Shan kakak boleh tanya gak?” Ucap Ve

Shani menghentikan makanya dan melihat ke arah Ve ?Eh. tanya apa kak?? Jawab Shani

“Kamu sama Ari pacaran ya?” Tanya Ve frontal

“Eng.. E-engak kok kak. Aku gak pacaran sama Ari” jawab Shani gugup

“Masa sih. Kok keliatanya deket banget.” Ucap Yona ikut penasaran

“Eng, gimana ya kak..” jawab Shani pelan menundukan kepalanya

“Yang bener? Jadi boleh dong kak deketin Ari. Asik lagi anaknya.” goda Ve “kirain tadi kalian pacaran” lanjut Ve

“Kok kamu Ve. Aku juga mau kok” timpal Yona tak mau kalah

Shani terdiam menunduk mendengar ucapan Ve dan Yona sedangkan  Gre dan Yupi yang kaget sampai tersedak membuat mereka buru-buru meneguk minumnya.

Mereka semua tau kalau Jessica Veranda  alias Ve adalah primadona di atas primadonanya sekolah yang setiap mata lelaki saat memandangnya tidak berkedip. Bahkan ada yang mimisan lewat telinga -__- *Oke ngaco. Ditambah lagi dengan Yona yang tak kalah cantiknya dengan tatapnya selalu berhasil membuat setiap lelaki terpana melihatnya.

Tentu Ucapan Ve dan Yona membuat Gre dan Yupi kaget terutama Shani sendiri.

-Shani Flashback Of-

Shani tersadar dari lamunannya dengan tangan masih menusap lembut puncak kepala Ari dihadapannya yang membuat senyum kembali mengembang di bibirnya. Dipandangnya terus wajah Ari dan dengan hati-hati ia sedikit membungkukan badanya, kepalanya semakin menunduk mendekat dan ?CUPS!? Kecupan lembut mendarat pada kening Ari di hadapanya..

Perlahan Ia memundurkan sedikit kepalanya lalu bergeser sedikit hingga mendekat pada telinga Ari di depanya. Ia tersenyum dan,

“Yank… Bangung….” berbisiknya lembut

Tanpa sadar bisikannya bagaikan suara malaikat yang membuat Ari terdorong untuk bangun dengan sendirinya dari tidurnya yang padahal biasanya dia sangat susah untuk di bangunkan.

Kehadiran Feni yang seperti iblis kecil saja kadang masih susah membangunkannya. Tapi kini dengan bisikan dia bisa terbangun yang membuat Senyum Shani mengembang menyambutnya.

Dengan mengucek matanya Ia mulai membuka sedikit demi sedikit matanya hingga terbuka sepenuhnya. Ari menolehkan kepalanya dan melihat Shani tengah tersenyum manis untuknya. Ia pun membalas senyuman itu

“Eng Shani.. Maaf ya udah buat kamu nungguin aku tidur” ucapnya dengan suara ngantuk yang dibalas senyum dari Shani

“Engga pengen kasih Sun selamat bangun gitu,” goda Ari tersenyum sambil menunjuk pipi kananya

“Ye ngarep. Enggak wlee :p” ledek Shani menjulurkan lidahnya

“Yahh.. Tidur lagi deh..” Ucap Ari lemas yang langsung merebahkan tubuhnya kembali

“Halleeh ngancem. Yaudah duduk dulu gih jangan baring mulu, belum ganti baju lagi” jawab Shani menarik tangan Ari agar duduk

Ari yang tanganya ditarik hanya menurut dan tersenyum memandang wajah Shani dan Shani juga menatapnya.

Shani tersenyum, Ari  membalas tersenyum…

Shani tersenyum, Ari  membalas tersenyum…

Shani tersenyum, Ari  membalas tersenyum…

OKE FIX!!! Mereka mulai gila (-____-“)

Senyum terpancar dari bibir mereka. Cukup lama mereka saling memandangan.. Perlahan kedua tangan Shani berpindah dan mulai menyentuh lembut pipi Ari yang duduk di hadapanya.. Senyum kembali terpancar di bibir mereka berdua. Saling memandang dan terus memandang…

Shani menutup matanya pelan hingga terpejam.. Perlahan Ia mendekatkan kepala Ari., memajukan kepalanya pelan-pelan dan semakin mendekat….

CUPS!!!

Bibir mereka berdua bertemu dan berpangutan dengan lembut.. Tangan Shani kini berpindah merangkulkannya pada leher Ari.. Ari membalas dengan memeluk lembut di pinggan Shani membuat jarak mereka semakin dekat dengan pangutan yang masih berlanjut…

Terkadang pangutan mereka terlepas tapi dengan cepat Ari menciumnya lagi. Begitu juga sebaliknya saat terlepas Shani langsung memburu mengecup bibir Ari tanpa meberinya waktu untuk beristirahat.

Kurang lebih sepuluh menit bibir mereka berciuman. Dengan lembut Ari melepaskan pangutannya, membuka matanya tanpa memundurkan kepalanya. Di pertemukannya keningnya pada kening Shani sehingga saling menempel. Perlahan Shani membuka matanya. Ari tersenyum memandang Shani yang tersenyum dengan wajah yang memerah.

Masih saling memandang dan membalas senyum perlahan mereka mulai memundurkan kepalanya. Di saat jarak kepala mereka mulai menjauh tiba-tiba..

“HAHAHA…” mereka tertawa terbahak-bahak mengingat dengan kejadian apa yang baru mereka lewati

~~Di Ruang Tengah

Semua yang bekumpul mendengar suara orang tertawa dari arah atas yang membuat mereka saling menatap bergantian.

“ARI SAMA SHANI KESURUPAN!!!” Teriak Jaya keras

“HAA.” Ucap Ido, Gre, Feni dan Yupi kaget.

Mereka beranjak dari duduknya dan langsung saja berlari ke menaiki anak tangga untuk lantai dua

~~Di Kamar

Ari dan Shani baru saja beranjak dari kasurnya..

“Makasih ya saying” ucap Ari mencium kening dan mengusap puncak kepala Shani

“Ciee udah berani panggil sayang.. Ya udah yuk turun.” goda Shani lalu menggandeng tangan Ari

“Aku ganti baju dilu bentar”

“Ya udah cepet”

Sesudah selesai berganti baju Ari kembali menghamiri Shani yang masih duduk di tepi ranjang. Ari menjulurkan tanganya yang langsung disambut senang hati oleh Shani.

Mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan. Baru saja hendak menuruni tangga Ari melihat Feni, Gre, Ido dan Jaya berlari terponggoh-ponggoh menaiki tangga.

“WOY.. PADA NGAPAIN?” Teriak Ari

Mereka semua tiba-tiba berhenti, dengan nafas ngos-ngosan mereka mendongakan kepala menatap sumber suara

“Yah ngga jadi kesurupan..” Ucap mereka serentak lemas

“Padahal gua udah siap-siap tadi mau Ya khodammul khodam, Ya khodammul jin, Ya khodamul jasad,Ya khodammul gaib… Hadir…hadir….” Ucap Jaya bergerak menirukan acara yang sering dia tonton di Tv

Ari dan Shani hanya saling pandang dan tersenyum. Sedangkan yang lain menundukan kepala berjalan gontai menuruni anak tangga. Mungkin mereka merasa kecewa karna gagal melihat aksi Jaya.

~~Sesampainya Di Ruang Tengah

“Pizzanya udah di ambil”

Feni, Gre, Ido, Jaya dan Yupi saling berpandangan

“Hehe Udah habis..” Jawab Yupi cengengesan dengan yang lain mengangguk

“Hadehhh” ucap Ari lemas

“Delivery aja ya” Ucap Shani meberi ide

“Iya deh.” Balasnya pelan

~~

Malam sudah datang. Kini Ari sudah bersiap untuk keluar rumah dengan pakaian casualnya dan messenger bagnya.

“Mau kemana bang?”

“Keluar bentar maa ke Caffe, mau cari Kopi biar dapet inspirasi. Tugas story sebelum libur kemarin belum kelar ma” jawab Ari selagi memakai sepatu

“Ada-ada aja kamu bang. Besok-besok tugas diselain dulu”

“Hehehe”

Ari berjalan meninggalkan Ibunya untuk mengambil mobilnya lalu bergegas meninggalkan rumah.

******

~~ Di sebuah Caffe

Malam yang indah penuh dengan hiruk-piruk keramain kota Jakarta. Semua berlalu lalang tanpa sedikitpun memperdulikan orang yang di lihatnya dan melewatinya.

Semua terlihat seperi robot yang bergerak tanpa controller. Tak ada sapa maupun menyapa, tak ada ‘Sey Hai’ tak ada juga ‘Good Bye’, Inilah Ibu Kota.

Ari tampak tengah duduk bersantai di temani segelas kopi yang cukup menghangatkan tubuh dan menenangkan pikirannya.

Jari tangannya memutar-mutar sebuah pena, matanya tertuju pada lembaran demi lembaran kertas putih bergaris, Jelas masih kosong. Setitik noda belum sama sekali disana. Beruntung ia masih memiliki sampul yang mampu menyembunyikan kekosonganya.  *haleh bilang Buku aja lama!

Ari menatap bukunya dan menghela nafas kasar…

“Hhahhh!!! Dari rumah kesini niatnya cari kopi biar dapet inspirasi. Kopi udah abis Inspirasi gak dapet..” Gerutunya

Sesekali Ari memperhatikan indahnya keramaian kota dengan gemerlapnya malam dengan harapan mendapat sebuah isnpirasi yang bisa dia catat.

Dari balik kaca Ia terus memandang ramainya jalan raya. Bahkan ada seseorang yang melambaikan tangan didepan wajahnya tak Ia sadari kehadiranya,

“Hey. Bengong aja.. Boleh duduk disini?” tanya orang itu menyenggol pundak Ari

Ari yang tersadar dari lamunannya balik menyapa orang di hadapanya “Eh kak Yona, silahkan kak,”

“Kenapa bengong aja?” Tanya Yona

“Ga kenapa-kenapa, sendirian kesini kak?” Ari berbalik tanya

“Gabut dirumah mending jalan-jalan. Males juga belajar, udah pinter.” balasnya Yona santai

“Sadiiis.. IQ-nya 2000 kayanya.. Haha” jawab Ari mencoba bercanda

“Iya dong. Otak kakak kan warnanya abu²” balas Yona PD

“Kok tau abu²? Abis kaka kasih cat tembok?”

“Huss. Orang jenius memang otaknya warna abu²”

Perbincangan yang ringan rupanya membuat Ari lebih tenang. Kehadiran Yona sedikit memberikan angin segar untuknya

“Emang kamu mau nulis apa sih?”

“Dapet tugas buat story..”

Yona hanya membulatkan mulutnya ?Ooh.. Pernah denger cerita orang psycopat??  Tanyanya semangat

“Maksud kakak? kayak nyiksa orang pelan-pelan gtu?” Jawab Ari

“Itu salah satunya.. Kadang kakak kepikiran pengen gitu nyayat-nyayat kulit orang” lanjut Yona antusias

Ari yang mendengar Yona berkata begitu menaikan sebelah alisnya memandang Yona bingung,

“Kok kakak ceritanya senyum-senyum., ada indikasi ya kak?” tanya Ari berusaha bercanda

“Kadang pengen deh jadi Psycopat. Pengen gitu ngikat orang, terus kukunya kakak cabutin, matanya kakak congkel abis itu masukin kulkas buat koleksi” tambah Yona yang semakin menjadi-jadi.

Sedangkan orang yang dihadapanya kaget dengan mata yang membulat menelan ludah dan mulai berkeringat dingin.

Tampak sekali wajah Ari yang semakin memucat. Yona seorang gadis cantik dihadapanya begitu santaiya membahas hal yang tak enak didengarkan bahkan dibayangkan. Ari diam termenung ketakutan

“Hey. Malah bengong lagi.”

“E-eh. M-maaf ya kak. Gua harus pulang sekarang. Mendadak ada yang penting dirumah. Barusan kucing gua nelfon” Jawab Ari panik beranjak dari kursinya membawa buku dan tasnya cepat meninggalkan Yona

Yona yang tak mengerti dengan Ari hanya terlihat bingung menatap kepergiannya. Dari balik kaca dia memperhatikan kepergian Ari dengan mobilnya.

~~

“Gila itu cewek. Bisa jadi korbanya gua lama-lama. Brrr” Ari bergidik ngeri sambil menyetir mobilnya

“Edan, pake macet lagi” lanjutnya ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 11.15 malam dan ia yakin pasti telinganya akan panas diceramahi habis-habisan oleh ibunya

******

“Bang bangun. Udah pagi.”

Teriakan terdengar dari lantai bawah rumah Ari. Teriakan Ibunya saja tak mampu membangunkanya, apalagi kicauan Burung dan Ayam berkokok.

Suara seperti itu mungkin hanya cukup membuatnya mengiggo. ?PAM PAM CUAP? menguap dan tertidur lagi. Tapi ada satu suara yang menakutkanya..

“Kakakkk…” suara bisikan di telinganya

Bagai tersengat listrik Ari yang setengah menyadari hal itu entah reflek dari mana dia langsung beranjak bangun. Seakan-akan bisikan itu akan mengakibatkan hal yang mengerikan padanya.

“Iya. Iya. Kakak udah bangun” ucap semangat

“Hahahahaha, Wlee :p “ tawa Feni menjulurkan lidahnya berjalan meninggalkan kamar Ari

~~

Setelah selesai mandi dan memakai seragam sekolahnya Ari langsung menuruni anak tangga menuju ruang makan tempat Feni dan kedua orang tuanya berkumpul

“Bang cepet sarapan. Bentar lagi jam tengah tujuh”

“Iya mah.” Jawab Ari pada Ibu-nya

“Kakak mulai hari ini sampe minggu depan yang anterin Feni sekolah. Soalnya Ayah ke bandung”

“Kenapa Yah”

“Ayah ada tugas yang harus di selesain di Bandung. Kamu anterin Feni ya?” Jawab Ayahnya

“Ooh. Iya deh yah. Ya udah kita berangkat dulu ya,”

?Assalamualaikum?

Setelah mencium punggung tangan kedua orang tuanya Ari dan Feni bergegas menuju sekolah.

******

Setelah 30 menit mengantarkan Feni ke sekolah, kini Ari sudah berada di depan gerbang sekolahnya yang hanya memakan waktu lima belas menit dari sekolah Feni. Ari memajukan mobilnya pelan ke arah parkiran sekolah.

Setelah memarkir mobilnya Ari melihat Ido dan Jaya yang juga baru sampai

“Oy Yak, Do!?”teriaknya saat keluar dari mobil

“Oii.” Jawab Ido dan Jaya menghampiri Ari

“Tumben lu Yak berangkat cepet. Mimpi buruk apa lu?” Tanya Ari menonyor kepala Jaya

“Disiram Air se-ember sama Ibu gua” jawab Jaya lemas

“Hahahaha”

Mereka bertiga berjalan bersama menuju kelasnya dengan sesekali Jaya berusaha mimijak ujung sepatu Ari dan Ido secara bergantian agar terjatuh, tapi hasilnya nihil. Merasa sebal karna dari tadi niat jailnya tidak berhasil Jaya pun memutuskan berjalan lebih cepat meninggalkan Ari dan Ido.

Baru saja selangkah melewati tiba-tiba Jaya tersungkur jatuh karna kakinya di jegal bersamaan oleh Ari dan Ido. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak dan murid-murid di sekitarnya menoleh kearah mereka dengan cekikikan kecil membuat Jaya mengerutu sebal.

Sesampainya di kelas Jaya dan Ido langsung menuju meja pojok kiri tempat Shani dkk untuk bermain Monopoli dengan Jeje sebagai Bos disitu. Ari yang mendapati mejanya sudah di Jajah memutuskan duduk di kursi tepat di belakang Shani.

“Pagi Ay..” Sapa Shani yang dibalas senyum oleh Ari dan mengusap puncak kepala Shani

Ari duduk lalu mengeluarkan handponya lalu seperti rutinitas biasa Ia selalu mengecek TL twitternya.. Selagi asik men-scroll jarinya berhenti pada sebuah berita .

“Afgan membelikan hadiah parfum seharga 60 juta kepada Rosa” ucapnya “Kampret mahal bett!” Lanjutnya lagi

“Artis mah bebas” ucap Gre di sela-sela bermain Monopoli

“Ngikut aja lu. Gua gak kebayang parfumnya kayak apa” ucap Ari

“Mungkin baru niat nyemprot doang.. Udah wangi badanya. Luar biasa?”lanjut Ari

“Ya kali nyet” ucap Ido sewot

“Sodara-sodara tenang. Bentar lagi Gua yang bakal jadi Artis, jadi gak usah kawatir. Entar biar gua beliin lu semua parfum yang harganya 100 juta” Jaya dengan sombongnya melipat tangan di dada

?Wuuuuuuu!!!? Teriak se isi kelas

Bel masuk berbunyi, tapi mereka masih saja asik melanjutkan bermain monopoli. Mungkin karna masih hari MOS kedua, jadi mereka berfikir tidak ada guru yang akan masuk. Kalaupun masuk mungkin hanya memberi tugas.

Sedang asik-asiknya membangun rumah di monopoli, seorang Guru datang membuat mereka dengat cepat menghentikan permainan dan membereskan semua kedalam meja.

“Pagi.. Bagaimana liburannya seru?” Tanya guru dengan tag name ASTUTI

“Seru Buk” teriak mereka serentak

“Apa masih adayang kurang?’

“Ada..” teriak Ido lantang

“Oke Ido. Ibu punya ide supaya kamu bisa diberi libur lagi” kata Bu Astuti tersenyum

“Gimana Buk?” Tanya Ido semangat

“Sekarang kamu keluar, terus lari sekencang-kencangnya setelah itu tabrakan kepala kamu di tembok” jawabnya ?Nanti saya beri izin kamu libur. Gimana Ido?? tawarnya tersenyum pada Ido

Se isi kelas tertawa terbahak-bahak dengan Ido menggerutu sendiri berpura-pura menjedot-jedotkan kepalanya di meja.

“Tenang-tenang. Karna hari ini dan besok masih diadakan MOS jadi Ibu beri tugas saja”

“Kerjakan halaman 40-42 dan tolong di kumpulkan nati sebelum jam 12. Ibu mau ke ruang Guru dulu” lanjut Bu Astuti

“YEAY!!!” Teriak seisi kelas

Setelah Ibu Guru meninggalkan kelas seketika suasana kembali ramai seperti pasar. Berbeda-beda, ada yang mengerjakan tugas, ada yang tidur, dan yah jelas Jeje Dkk melanjutkan bermain monopoli.

Tapi berbeda dengan Jaya yang asik bernyanyi..

POK AME AME…

BELALANG KUPU KUPU

TABOK AJE MUKANYE

KALAU DIE BELAGU..

PLakkk!!!

“Aduh. Kok gua di tabok?” Jaya mengusap-usap pipinya

“Elu doang yang belagu nyet.” Jawab Ido enteng yang disebelah Jaya

“Iya tu. Dari kemarin godain anak MOS mulu. Sok Artis!’ timpal Yupi sebal menatap Jaya

“Hahaha” Ari, Ido, Gre dan Shani tertawa

“Udah-udah. Tugas story cerpen kalian udah pada selesai belum?” Shani melerai dan bertanya

“UDAH DONG..” Jawab Jaya sombong

“Songong.. Emang lu bikin cerita apa Yak? Sombong lu.” Ido melirik Jaya

?”ua gito looh! Gua buat cerita ‘Berlibur Ke Rumah Nenek” Jaya dengan memangku tangan di dada

(-____-“) Ya. Begini expresi teman-temanya

“ITU CERITA ANAK SD KAMPRET!” Teriak Ido kesal

“Emang punya kamu cerita apa Do?” Tanya Gre disebelah Ido

“Tenang., Gua gak se Oon Jaya.” Jawab Ido sombong dan menonyor kepala Jaya

“Emang punya Elu apa nyet?” Geram Jaya

“Hh. Story gua pasti dapet nilai A+. ‘Tamasya Ke Kebun Binatang” ucap Ido dengan sombongnya

*ngik! (-____-“) Krik! Krik! Krik!

“Kok lu pada diem? Gimana keren kan punya gua?” tanya Ido antusias menaik-naikan alisnya

TAK! TAK! TAK! TAK! ……… TAK!

Sebuah jitakan dari Ari, Gre, Jaya, Shani mendarat mulus di atas kepala Ido. Sedangkan Jitakan terahir yah, Yupi karna latah melihat teman-temanya -__-

TAK! TAK!

Ido menjitak Jaya yang dibalas balik dari Jaya. Terus saja mereka berbalas-balasan menjitak yang membuat seisi kelas tertawa melihatnya. Mungkin mereka saling tidak terima dan ingin memperebutkan predikat ter Oon di kelas..

Shani, Gre dan Yupi menggeleng. Ari menghela nafas…

“Hahh.. SD-nya berapa taun…” Edus Ari pasrah melihat kedua temanya

 

-Bersambung…,

Createt by. @arytria_s

 

**

 

Sedikit pembenahan dari Part pertama yang banyak sekali typo plus amburadul. Semogga ini lebih baik dan kedepanya lebih-lebih baik lagi. Sorry kalau part ini agak nge-blue -__- *biar ada bumbunya dikit. |kasih Ajinomoto aja bang!

 

Ditunggu saran dan Caci-makinya bro sist. Jangan bosen-bosen mampir dan baca terus kelanjutan di Part-part berikutnya.

 

Tanks yang sudah baca. Jangan lupa LIKE, SHARE, COMENT.

Yang mau bersosialisasi silahkan,

Facebook: M Ary Taria

Twitter   : @arytria_s

Email      : aritrias39@gmail.com

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s