“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 19

Keesokkan harinya, pagi hari kini Robby baru saja sampai di apartementnya. Setelah tadi malam mengantar Shania, ia tidak langsung pulang. Ia pergi ke rumah temannya, dan ia pun bermalam di sana.

Robby berjalan masuk ke dalam apartementnya, setelah melepas sepatunya. Robby menuju ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil minum, karena ia merasakan haus sekali. Kemudian ia pun menuju kamarnya. Baru saja ingin membuka kamarnya, pintu kamarnya terbuka terlebih dahulu.

Robby terdiam beberapa saat, setelah mengetahui siapa orang yang membuka pintu kamarnya. T-tunggu dulu? Kenapa dia bisa ada di sini? Apa yang ia lakukan di apartementnya?

Mereka berdua terdiam, saling memandang dengan penuh tanya? Entahlah, yang jelas mereka tengah memikirkan sesuatu..

“R-Robby?”

“K-kamu ngapain di sini Shan?”

“Ngg, aku mau ketemu kamu.”

“Untuk?” Robby menatap Shani heran.

“Hh, aku mau minta maaf sama kamu soal waktu itu,” lirih Shani.

Shani berniat hari ini ingin bertemu dengan Robby, untuk meminta maaf padanya soal kemarin di depan rumahnya. Ketika ia baru sampai di apartement milik Robby, ia tidak menemui Robby berada di dalam. Ia pun menuju kamarnya, mungkin belum bangun pikirnya. Tetapi ia tidak menemukan Robby, dan baru saja ia ingin pergi. Ia malah bertemu dengan Robby di depan pintu kamar.

“Waktu itu? Yang mana ya?” Robby tengah berusaha mengingat kejadiannya bersama Shani.

“Yang di depan rumah itu,” ucap Shani pelan.

Robby terdiam. Sedangkan Shani menundukkan kepalanya, takut akan reaksi Robby.

Robby menghela nafasnya, “Udah jangan dipikirin ya? Aku udah maafin kok.”

Shani mengangkat kepalanya, dan menatap Robby, “Beneran?”

Robby mengangguk, “Aku beneran Shani.”

“Makasih,” ucap Shani yang tersenyum manis.

Robby berjalan masuk ke kamarnya, setelah Shani berjalan menuju kasur dan duduk di ujung kasur tersebut. Robby membuka lemari bajunya, setelah mengambil tas miliknya. Kemudian ia pun memasukkan bajunya ke dalam tas.

Shani yang melihat itu pun mengernyit heran, “Kok dimasukin? Emang mau kemana?”

Robby menoleh sebentar, kemudian melanjutkan memilih baju dan memasukkan ke dalam tasnya, “Mau pergi sebentar.”

“Kemana?”

Robby mengidikkan bahunya, “Entahlah, jauh dari sini mungkin?”

Shani bangkit dari duduknya, dan menghampiri Robby yang sedang menaruh tasnya di meja kecil. Shani membalikkan tubuh Robby, kemudian memegang wajah Robby untuk menatapnya.

“Jawab aku. Kamu mau kemana Robby?”

Robby menghela nafasnya, “Aku mau pergi sebentar dari sini, untuk membatalkan perjodohan itu.”

Dahi Shani mengernyit heran, “Maksud kamu?”

“Aku membatalkan perjodohan itu, tapi Mamah tetap keras kepala. Jadi mungkin ini jalan satu-satunya, supaya perjodohan itu batal,” jelas Robby.

“Terus, kamu mau kemana? Apa harus banget pergi kayak gini?” Shani menatap dalam mata Robby.

“Hh, Indira dengerin ya. Aku begini, supaya perjodohan itu batal. Kalau perjodohan itu batal, bukannya itu memudahkan kita untuk dekat lagi kan?” Robby mengelus puncak kepala Shani. “Jadi kamu tenang ya? Cuma sebentar kok.”

Shani sedikit merasa lega, tetapi apa benar ia akan dekat kembali bersama Robby? Bukannya ia telah memiliki Shania? Jadi bagaimana sekarang?

“T-tapi kamu enggak lama kan?”

Robby mengangguk, “Kalau perjodohan itu batal, aku bakal langsung balik ke sini.”

Shani menubruk tubuh Robby yang langsung dipeluknya, “Jangan lama. Shani gak mau lama-lama ditinggal kamu. Kemarin aja Shani gak enak banget, gak ada kamu.”

Robby mengelus puncak kepala Shani, “Iya, gak bakalan lama kok. Udah ya.”

Shani semakin mempererat pelukannya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Robby. Semakin membuatnya nyaman, dengan keadaan seperti ini. Apalagi Robby yang dengan lembutnya mengelus kepalanya di dalam pelukannya. Kalau ia boleh ia meminta pada Tuhan, ia ingin sekali menghentikan waktu sekarang ini. Untuk merasakan lebih lama kehangatan yang ia rasakan ini..

~

Shania menunggu Robby di teras rumah, sedari tadi Robby belum juga datang di rumahnya. Jadi ia pun menunggu di teras. Dan ia pun sudah meminta izin pada Nabilah, untuk pergi bersama Robby dalam waktu yang belum ditentukan. Kata dia sih liburan, dan Nabilah bilang liburan yang aneh padahal belum liburan juga.

Lamunannya buyar ketika deru suara mesin berada di depan rumah, dan ia pun membawa tasnya. Kemudian berjalan keluar menuju mobil Robby.  Ia masuk ke dalam mobil Robby, dan menaruh tasnya ke belakang.

“Lama banget. Ngapain aja sih?”

“Maaf-maaf, tadi jalanannya macet.”

“Hh, yaudah deh. Sekarang kita kemana?”

“Kita ke rumah Aldy yang ada di luar kota, kebetulan dia punya rumah yang gak ditinggalinya tapi terawat kok rumahnya. Soalnya ada orang yang ngebersihin sekalian ngejagain,” ucap Robby.

“Emang dimana? Jauh ya?”

Robby mengangguk, “Lumayan sih.”

“Yaudah, jalan sekarang deh. Takutnya nanti sampai sana malam deh,” ucap Shania.

Robby mengangguk, kemudian ia pun menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan mereka…

~

Setelah sekitar lima jam menempuh perjalanan, mereka pun akhirnya telah sampai di rumah milik Aldy. Robby pun berjalan keluar mobil dan membuka pagar rumah tersebut. Kemudian ia pun memarkirkan mobilnya di garasi. Ia melihat di sampingnya, masih asik dengan tidurnya.

Robby pun berinisiatif membawa barang-barang terlebih dahulu ke dalam rumah, kemudian baru membangunkan Shania. Setelah semua dibawanya masuk ke dalam rumah, ia pun membangunkan Shania di dalam mobil. Tetapi ia malah terdiam ketika melihat wajah Shania yang damai ketika tidur, dan ia tidak mau melewatkan kesempatan ini. *loh*

Robby mengeluarkan handphonenya dari saku celana, kemudian mmembuka aplikasi kameranya. Dan langsung memotret Shania dan dirinya juga tentunya. Setelah dirasa cukup, ia pun memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celana. Dan ia membangunkan Shania dengan lembut.

“Hm? Udah sampai ya?” Shania mengerjapkan matanya dan mengucek-ngucek matanya dengan pelan.

Robby terkekeh pelan, “Udah dari tadi kok. Masuk yuk?”

“Kenapa deh? Yaudah, ayo masuk.” Shania memalingkan badannya untuk mengambil tasnya. “Loh? Tas aku mana?” Shania mengernyit heran.

“Udah ada di dalam, tadi udah aku taruh di ruang tamu.” Robby keluar dari mobilnya.

“Bilang kek, bikin orang panik aja deh,” ucap Shania sebal yang keluar dari mobil.

“Haha, maaf deh. Yaudah, sekarang kita masuk.”

Mereka berdua berjalan masuk ke dalam rumah tersebut. Rumahnya lumayan besar, dan ya rumahnya seperti gaya-gaya pedesaan. Karena rumah tersebut lumayan dekat dengan pedesaan. Tetapi juga dekat dengan perkotaannya(?).

“Kamarnya enggak satu aja kan?” tanya Shania yang meneliti dalam rumah tersebut.

“Kalau satu aja gimana?” tanya Robby balik.

“Yaa.. enggak mungkin, rumah segede gini masa cuma satu doang kamarnya. Lagian kalau satu doang, kamu tidur di luar.” Shania menyeringai lebar pada Robby.

“Hh, enak dikamu dong Shan?”

“Ya jelas dong.”

“Ck, udah deh. Mending masuk ke dalam, kita pilih kamar di dalam.” Robby mengambil tasnya di sofa, dan berjalan masuk ke dalam.

Shania mengambil tasnya, dan berjalan mengekor di belakang Robby. Mereka sampai di kamar pertama yang berada di bawah. Dan mereka saling tukar pandang, siapa yang akan tinggal di kamar itu. Robby yang tau bagaimana sifat Shania pun mengalah.

“Yaudah, aku kamar yang lain aja.” Robby berjalan menuju lantai atas.

Sedangkan Shania dengan senyum penuh kemenangan, ia pun masuk ke dalam kamar tersebut. Tetapi baru saja ia masuk ke dalam kamar tersebut dan melihat keadaan kamar tersebut, ia pun menutup kembali pintu kamar tersebut. Ia berjalan ke lantai atas, menghampiri Robby.

“Robby?” panggil Shania manja ketika ia melihat Robby yang hendak membuka pintu kamarnya.

Robby mengernyit heran melihat Shania yang masih membawa barang-barangnya, “Kenapa? Kok masih dibawa tasnya?”

Shania terkekeh, “Kamu kamar yang disebelahnya ya? Aku yang di sini. Gak jadi di bawah, kecil soalnya kamarnya hehe.”

“Hh, dasar. Yaudah-yaudah, aku kamar disebelahnya aja.” Robby berjalan menuju kamarnya yang berada di sampingnya.

“Makasih ya Robby tersayang hehe.” Shania terkekeh, kemudian masuk ke dalam kamar tersebut.

Robby pun masuk juga ke dalam kamar tersebut. Mereka berdua menaruh barang-barang mereka didekat lemari, Robby merebahkan tubuhnya di kasur. Sedangkan Shania menatap keluar di jendela kamarnya. Mungkin ini akan menyenangkan pikirnya, karena tidak jauh dari sini seperti terdapat rerumputan yang luas seperti tanah lapang. Besok mungkin ia akan ke sana, berjalan-jalan mengitari tempat di sini…

Di lain tempat, kini Shani baru saja keluar dari kantin kampus setelah mengisi perutnya. Shani berjalan keluar dari kampus, dan ia mengernyit heran ketika melihat sepupunya seperti sedang berdebat dengan seorang laki-laki. Ia pun dengan cepat menghampiri Gre.

“Gre, kenapa?” tanya Shani.

Gre pun menoleh, “Ini nih. Masa gue gak sengaja nyenggol, dituduh sengaja sama Benny.”

“Heh, apanya yang gak sengaja? Lo sengaja banget tau, kuat banget gitu ngedorongnya,” ucap Benny sewot.

“Eh, kok lo-,”

“Udah deh, cuma gitu doang diributin. Kayak anak kecil tau gak kalian berdua,” cibir Shani.

“Ben, udah deh. Jangan kek anak kecil gini, lagian dia cewek kali,” ucap Beby yang sudah berada di sana sedari tadi.

“Tap-,”

“Ben, gak usah bikin masalah sama cewek deh. Gak malu apa lo?” ucap Reizo.

“Ck, iye. Awas aja lain kali lo.” Benny menatap Gre sinis.

“Apaan? Gue gak takut sama lo.” Gre pun menatap Benny dengan sinis juga.

“Susah ya ngomong sama kalian berdua,” ucap Beby lesu.

“Ah iya, Shani. Bisa ngomong sebentar?” tanya Beby.

Shani mengangguk, “Boleh. Dimana?”

“Bagaimana kalau di café Swine yang ada dekat sini?”

“Oke deh. Sekarang?”

“Kalaunya bisa sekarang, ayo deh.”

Shani mengangguk, kemudian beralih pada Gre, “Gre gue mau jalan sama Beby bentar ya.”

“Oke. Gue juga mau jalan bentar kayaknya abis ini,” ucap Gre.

Shani dan Beby pun berpamitan pada mereka dan berjalan pada mobil Beby yang berada di parkiran kampus. Mereka pun menuju ke café Swine yang tak berada jauh dari kampus. Setelah sampai, mereka pun masuk ke dalam café tersebut. Mereka memesan minuman dan cemilan untuk pembicaraan mereka kali ini.

“Mau ngomong apa Beb?” tanya Shani.

“Oh iya, jadi gini Shan. Bagaimana perasaanmu pada Robby? Apa masih sama seperti sebelum bertemu dengan Shania?”

Shani mengernyit heran, “Maksud kamu?

“Yaa.. perasaan kamu berubah itu berubah atau enggak, aku cuma mau tau,” ucap Beby.

“Kalau masih sama, kenapa? Dan kalau sudah berubah perasaanku terhadap Robby, kenapa?” tanya Shani menatap lekat Beby.

Beby menghela nafasnya, “Hh, jujur aku belum percaya apa yang dibilang oleh Viny. Tapi tadi aku melihatnya sendiri, ya walaupun itu tidak terlalu kuat untuk membuktikan sih. Jadi, kalau memang benar masih sama perasaan kamu, mungkin aku akan membantumu. Dan kalau sudah berubah, tidak masalah.”

“Apa maksud kamu Beb?” tanya Shani bingung.

“Aku akan membantumu mendapatkan Robby, dan melepaskannya dari Shania.”

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s