Kuat Karena Kita Bersama. Part 5

Setelah 15 menit perjalanan Riki pun tiba di bangunan dekat sekolah.
Ia berusaha melihat kondisi sekolah dari kejauhan dan dia cuma bisa
menepuk jidatnya karena gerbang sudah di tutup. Terlihat pula disana
ada Pak Agus didampingi satpam bernama Pak Yadi. Di samping itu
terlihat beberapa murid lain yang juga terlambat.

“Untung ada temennya jadi gue gak malu sendirian.” Batin Riki.

Sementara di kelas Henri hanya celingak celinguk mencari sahabatnya.
Karena jarang sekali terlambat sangat seperti hari ini. Tingkah laku
tak berbeda di perlihatkan Gracia yang sedari tadi melihat keluar
jendela. Akhirnya ia jadi bahan candaan teman sebangkunya yakni
Michelle.

“Nungguin pahlawan kamu ya Gre ?” Tanya Michelle sambil memainkan alisnya.

“Apaan si Chelle.” Balas Gre dengan wajah memerah sambil mencubit
lengan Michelle .

“Pelan aja kali Gre nyubitnya.” “Ciee.. Ciee.. Pura pura malu nih.”
Goda Michelle lagi.

“Hhuuhh.. Ngeselin kamu.”

Kemudian hening beberapa saat untuk menenagkan suasana antara Gracia
dan Michelle.

“Chelle menurut kamu Riki suka gak sama aku ?” Tanya Gracia dengan
muka penuh harap.

“Ciee.. Ada yang ngarep di tembak nih yee.. !!” Jawab Michelle sambil
menyenggol lengan Gracia.

“Kamu mah gitu kalo di ajak serius.” Ucap Gracia sedikit cemberut.

“Iya iya.. Riki juga suka kayaknya sama kamu. Tinggal tunggu waktu aja
Gre, ntar Riki juga nembak.”

Obroloan itu pun terhenti seketika seiring masuknya seorang guru
kedalam kelas. Setelah mendapat jawaban dari Michelle, senyuman pun
kembali terukir dari wajah Gracia.

Riki yang sedari tadi berdiri dengan sedikit ragu akhirnya
memberanikan diri masuk meskipun tahu nanti akhirnya bagaimana. Dengan
keadaan sedikit merinding dan senyum palsu ia menyapa Pak Agus
sementara Pak Yadi hanya terdiam.

“Selamat pagi Pak.” Ucap Riki sambil tersenyum.

“Ini jam berapa kamu baru masuk ?” Bentak Pak Agus.

“Busseett.. Maen semprot aja kagak ada basa basinya.” Batin Riki.
“J-Jam 7:15 Pak.” Jawab Riki gugup melihat Pak Agus dengan pose yang
sangat garang.

“Cepetan ikut yang lain membersihkan sampah di sekolah. Terus
membersihkan kamar mandi, lalu kumpul dilapangan.” Suruh Pak Agus
kepada Riki.

“Baik Pak.” Jawab Riki singkat sambil mendumel dan meninggalkan Pak
Agus dan Pak Yadi.

Setelah 1 jam lebih menjalani hukuman, mulai dari bersih bersih,
hukuman fisik hingga mental ia pun dipersilakan kembali ke kelas.
Perasaan lega terlihat dari wajahnya setelah mengalami siksaan lahir
dan batin dari Pak Agus.

Ketika ia masuk ke kelas semua murid kelas memperhatikannya. Riki
hanya mengerutkan dahi sambil melihat dirinya apa ada yang salah.
Tanpa mempedulikannya ia langsung melempar tas dan duduk di samping
Henri.

“Anak anak kenapa ngeliatin gue kayak aneh gitu ya tadi ?” Tanya Riki
pada Henri.

“Ya gimana gak aneh, pelajaran pertama abis lo baru nongol. Kayak
orang bener aja lo, PD banget lagi masuknya.” Ucap Henri menerangkan.

“Kan di kasih pelajaran dulu sama Pak Agus, gimana sih lo.” Jawab Riki
“Ya udah gue mau ke UKS dulu mau istirahat gue. Capek banget gue
bilangin ke guru gue lagi sakit.” Tambahnya sambil meninggalkan kelas
kembali.

Henri pun mendumel gak karuan karena tumben sekali Riki gak
bersemangat seperti itu. Tapi terlihat sedikit bekas lebam di wajahnya
membuat ia memaklumi.

“Jon.. Gue mau ke UKS dulu, lagi gak enak badan.” Ucap Riki meminta
izin ke Jonny sebagai ketua kelasnya.

“Lah.. Bukannya lo baru masuk, gimana sih.” Tanya Jonny sedikit bingung.

“Ya namanya orang sakit kan mendadak bisa.”  Ucap Riki terkekeh.
“Ya udah gue ke UKS dulu.” Tambahnya sambil meninggalkan kelas.
Sedangkan Jonny cuma bisa mengerutkan dahi akibat kebingungan.

Jam pelajaran pun berlalu, saatnya kini berganti jam istirahat. Para
murid pun tetap melanjutkan aktivitasnya. Ada yang pergi ke kantin, ke
perpustakaan ada juga yang tetap di kelas cuma sekedar
mengistirahatkan tubuh masing masing.

Di kantin sekolah Henri yang sedang duduk sendiri sambil melahap
makanannya, tiba tiba di hampiri Gracia.

“Henri.. Riki dimana kok gak sama kamu ?” Tanya Gracia.

“Nyariin dia mulu perasaan.” Jawab Henri
“Kan tadi ke UKS, belum bangun tadi gue lihat.” Tambahnya sambil
melahap makanannya.

“Biarin wee..” Balas Gracia sambil menjulurkan lidahnya.
“Ya udah aku mau nyamperin dia dulu.” Tambahnya sambil meninggalkan Henri.

“Fix.. Gre beneran suka sama tu anak.” Batin Henri sambil mengunyah makanannya.

Sementara itu Riki masih tertidur dengan nyenyaknya. Gracia yang
melihat hal tersebut cuma bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Perlahan ia mendekati Riki dan mnggoyangkan badannya untuk
membangunkan.

“Ki.. Bangun udah istirahat nihh.”
“Ki.. Buruan banguuunn..” Rengek Gracia membangunkannya.

“Mmmmm… Iya ni juga bangun.” Balas Riki tapi malah ia merubah posisi
tidurnya membelakangi Gracia.

“Iiiihhh.. ” Gracia pun mencubit lengan Riki.

“Wwaddaaww.. Gre sejak kapan kamu disini.” Riki pun terkejut.

“Dari tadi kali, kamu aja susah dibangunin jadi aku cubit aja.
Hehehehe..” Balas Gracia terkekeh.

Riki cuma bisa memiringkan bibirnya sambil mendumel. Kemudian Gracia
memberikan sebuah kue dan segelas susu hangat untuk Riki.

“Nih buat kamu.” Ucap Gracia.

“Kok jadi ngerepotin gini ya.” Balas Riki sambil menggaruk kepalanya
karena merasa tidak enak.

“Gak apa kok. Tadi kamu kesiangan aku pikir pasti belum sarapan. Jadi
aku bawain ini.” Terang Gracia sambil senyum manis terpancar dari
wajahnya.

“Gila.. Ini bener bener gila. Senyuman Gre manis banget. Bisa klepek
klepek nih gue.” Batin Riki.

Riki yang melongo melihat senyumannya membuat Gracia bingung dan
melambaikan tangannya di depan Riki. Tapi tetap tak sadar juga. Tiba
tiba….

Plaakkk…

“Kok aku di tampar sih Gre.” Ucap Riki sambil memegangi pipinya.

“Habis kamunya malah bengong ngeliatin aku.”
“Kamu jangan mikir yang enggak enggak ya.” Ucap Gracia mengingatkan.

“Hehehe… Enggak kok.” Jawabnya sedikit salah tingkah.

“Ya udah buruan dimakan. Apa mau di suapin ?” Tanya Gracia menggoda Riki.

“A-anu G-gaak usah Gre, Sendiri aja makasih.” Balas Riki sedikit gugup
sedang Gracia hanya tersenyum melihat tingkah aneh Riki.

Jam istirahat pun berakhir, semua murid pun kembali ke kelas masing
masing untuk melanjutkan pelajaran. Sambil menunggu guru, ada yang
bermain handphonenya ataupun menyiapkan pelajaran yang akan di mulai.

“Za.. Do.. Sini bentar. Gue mau ngomong sama lo berdua.” Ucap salah
seorang murid berbadan tinggi memanggil kedua temannya.

“Ada apaan..” Tanya kedua temannya bersamaan.

“Besok pagi anterin gue ke kelas sebelah ye.” Pintanya kepada temannya.

“Lah.. Tumben amat ke kelas sebelah. Mau ada urusan apa sih.” Tanya
seorang temannya yang agak pendek.

“Besok gue mau nembak Gre anak kelas sebelah.”
“Jadi lo berdua harus temenin gue.” Ucapnya sambil tersenyum penuh keyakinan.

Habis berkata seperti itu teman temannya cuma melongo dengan mulut
terbuka. Sadar temannya pada bengong membuat ia sedikit kesal lalu
mengambil pulpen dan di pukul kepala kedua temannya.

Thugg.. Thugg..

“Lo berdua kenapa kampret. Ngeliatin sampe mangap gitu.” Tanyanya.

“Lo yakin Vic nembak dia ?” Tanya seorang temannya.

“Reza.. Aldo.. Apa lo berdua masing meragukan ketampanan dan ketajiran
seorang Vico di sekolah ini.” Tanya Vico menyombongkan diri sambil
memainkan alisnya.

“Ya gak gitu juga. Tapi Gre jangan lo samain, mungkin cowok yang dia
tolak sama banyaknya kayak cewek yang lo pernah pacarin.” Ucap Reza
menasehati Vico dan Aldo hanya bisa mengangguk.

“Udah yang penting lo berdua temenin gua aja.” Balas Vico meyakinkan lagi.

Reza dan Aldo hanya mengangguk dan meninggalkan Vico karena guru sudah
masuk ke kelas mereka. Sementara itu di kelas Riki sudah ada guru dan
menjalani pelajaran seperti biasa. Dan di dalam kelas X-2 sedang ada
pembagian kelompok untuk tugas sekolah.

“Kok saya satu kelompok sama Dewa sih Bu gak sama Riki aja ?” Tanya
Henri memprotes karena merasa tidak adil dalam pembagian kelompok.

“Kalo kamu satu kelompok sama Riki pasti cuma Riki yang ngerjain.”
Jawab Bu Miftah.

“Lah.. Kalo saya sama Dewa gimana kelarnya Bu. Kan kita sama sama gak
ngerti ngerti pelajaran Ibu.” Protes Henri lagi.

“Maka dari itu, kamu sama Dewa kan IQnya jongkok jadi biar bekerja
sama. Biar Riki tetep sama Gracia saja.” Jawab Bu Miftah lagi sambil
meledek Henri.

“IQ jongkoknya di sensor bisa kali Bu.” Jawab Henri sambil mendumel gak jelas.

Riki yang sedari tadi menyimak perdebatan cuma menutup mulut sambil
menahan tawanya.

Jeger.. Jeger.. Jegerr..

Bel pertanda pulang sekolah pun sudah berbunyi. Sorak gembira murid
bagai napi yang bebas dari penjara pun bergema. Mereka bersiap untuk
pulang dan beristirahat di rumah masing masing.

“Ok. Pelajaran hari ini cukup, jangan lupa 2 minggu kemudian tugas di
kumpulkan.” Ucap Bu Miftah mengingatkan para murid.

“Baik Bu…” Balas para murid serentak.

SMA 56 mulai sepi, tinggal beberapa murid yang menunggu jemputan
ataupun yang masih nongkrong di parkiran sekolah. Riki yang baru
meninggalkan sekolah di hentikan seorang wanita yang memakai seragam
yang sama dengannya.

“Ki.. Ntar aku main ke rumah kamu ya.!!” Ucap gadis itu.
“Hello.. Riki kok diem sih.” Tambah gadis itu sambil melambaikan
tangan d depan wajah Riki yang tak percaya mendengar hal tadi di
bicarakan.

“Ehh.. Iya Gre, tapi tumben mau ke rumah aku. Emang ada apa ?” Tanya
Riki polosnya.

“Ihh.. Kan mau ngerjain tugas kelompok tadi. Gimana sih.” Jawab Gracia
sambil mencubit dan menggembungkan pipinya.

“Aduhh.. Iya iya.” Jawab Riki sambil memegang lengannya yang di cubit.

“Ya udah itu jemputan aku udah dateng. Ntar alamat rumah kamu  kirim
lewat sms aja ya.” Ucap Gracia sambil meninggalkan Riki.

“Sial.. Kenapa gue kayak kehipnotis gitu kalo lagi ngomong sama Gre
apalagi kalo dia sambil senyum.”  Batin Riki sambil memandangi mobil
Gracia yang mulai menjauh.

Setelah beberapa saat akhirnya Riki tiba di rumah dengan perasaan
gembira akibat Gracia akan ke rumahnya.

“Assalamualaikum. Ma.. Mama..” Teriak Riki memanggil mamanya sambil
mencari ke seluruh rumah.

“Waalaikumsalam. Apaan sih Ki pulang sekolah teriak teriak gak jelas
gitu.” Tanya mamanya yang heran melihat tingkah anaknya.

“Ntar temen aku mau main kesini. Mama masak yang enak ya, ntar ajak
makan bareng kita sama papa juga.” Ucap Riki membujuk sambil menaik
turunkan alisnya.

“Paling Henri yang kesini mintanya spesial amat.” Balas mamanya sedikit cuek.

“Gak ma.. Ntar Mama juga tau. Riki mau siap siap dulu ma.” Ucap Riki
lau lari menuju kamar.

“Dasar anak jaman sekarang kalo udah ada maunya.” Batin mamanya sambil
menggelengkan kepala lalu tersenyum.

Riki pun memasuki kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya sejenak sambil
menatap langit langit kamarnya. Dalam lamunannya ia selalu tersenyum
membayangkan kejadian kejadian hari ini. Sementara itu di rumah
Gracia, gadis itu juga melakukan hal yang sama membayangkan kejadian
yang  telah terjadi bersama Riki.

“Riki.. Lucu, Baik lagi. Kayaknya aku beneran suka sama dia.” Batin
Gracia sambil tersenyum.

Riki pun juga memikirkan hal yang sama dengan Gracia. Tiba tiba
terlintas di pikiran Riki untuk menelfon Gracia dan ingin menanyakan
sesuatu.

Riki : “Halo.. Gre..??”

“Ehh.. Tumben Riki telfon aku.”  Batin Gracia.
Gracia : “Iya Ki.. Tumben banget telfon aku.”

Riki : “Hehehe.. Iya.. Mau tanya aja, kamu jadi kan ke rumah aku ?”

Gracia : “Jadi kok. Emang kenapa Ki ?”

Riki : “Enggak apa apa kok”

Gracia : “Yah.. Kirain ada apa, bentar lagi aku siap mau ke rumah kamu kok.”

Riki : “Ok deh.. Sampai ketemu nanti ya. Byee..”

Gracia : “Iya.. Bye..”

Waktu terus berjalan, sekarang menunjukkan pukul 15.36. Gracia juga
sudah berada di depan rumah Riki.

“Nah akhirnya sampe, udah cocok sama alamatnya.” Batin Gracia.
“Pak.. Aku tinggal aja, ntar kalo mau pulang baru suruh jemput Pak
Usman lagi.” Pinta Gracia pada supirnya.

“Baik Non. Tapi pesen Bapak gak boleh kemaleman.” Ucap Pak Usman
mengingatkan Gracia.

Gracia pun hanya tersenyum serta mengacungkan jempol ke Pak Usman
tanda ia mengerti. Setelah itu Gracia memasuki gerbang yang tak
terkunci lalu berjalan hingga pintu pun berada di depannya.

“Kenapa aku deg deg-an gini ya, kan cuma mau ngerjain tugas.” Batin Gracia.

Tok.. Tok.. Tok..

Gracia pun memberanikan diri mengetok pintu rumah Riki. Lalu beberapa
saat pintu pun terbuka dan keluarlah ibunya Riki menemui Gracia.

Bersambung….

Buat para reader mohon kritik dan sarannya ya. Tinggal mention aja ke
gue ke @erikst22

Terima Kasih..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s