“Saat Cinta Merubah Segalanya2,” Part 18

“Kak?” panggil Yupi.

“Ya?”

“Kak Shania itu udah pulang kan?”

Robby mengangguk, “Udah kok. Kenapa gitu?”

“Terus kakak udah ketemu sama dia?”

“Udah, malah tadi pagi ketemu. Kenapa?”

“Enggak sih, cuma gimana ya? Mau ketemu gitu sama kak Shania, mau main bareng lagi,” ucap Yupi.

“Hoo.. gitu ya, gampang kok. Kalau kamu mau main sama dia, nanti kakak bilangin. Biar nyari hari yang pas gitu,” ucap Robby.

“Janji ya? Eh tapi, aku udah lama gak liat kak Shania. Ada fotonya gak kak?”

“Iya, janji. Cek aja di hape kakak Yup.”

Yupi pun mengambil handphone Robby yang ada di dashboard mobil, ketika membuka handphone kakaknya terpampang jelas lah foto sang pacar. Shania.

“Ngg, ini kak?”

“Itu Shania, tambah cantik kan ya? Hehe”

“Iya sih, tapi kak…”

“Tapi apa?” Robby menatap Yupi bingung.

“Kalau emang bener ini kak Shania, aku ketemu dia tadi kak…”

Robby menatap Yupi, “Maksud kamu?”

“Tadi waktu kita makan, aku kan tadi ke toilet. Nah! Iya, waktu cuci tangan di toilet. Dia mandangin aku terus, aku kan gak tau. Jadinya ya aku pergi deh,” ucap Yupi.

“Kira-kira ngapain ya dia kak?” tanya Yupi.

“Kalau di restoran, ya jelas makan lah!” sewot Robby.

“Huu… biasa aja kali kak, gak usah gitu juga,” ucap Yupi sebal.

“Yaa… abisnya kamu ada-ada aja deh,” ucap Robby lesu.

Tidak ada balasan dari Yupi, ia lebih memilih diam. Karena menghadapi kakaknya ini, sama saja membuat dirinya bertambah emosi. Karena tidak mau kalah sama sekali…

Mereka larut dalam keheningan, dan tidak berapa lama mereka pun akhirnya telah sampai di rumah…

“Gak mau nginep aja kak?” tanya Yupi.

“Enggak ah, nanti aja Yup. Lagi males,” jawab Robby.

“Yaudah. Hati-hati pulangnya ya kak.” Yupi turun dari mobil.

Robby membuka kaca mobil, “Kakak pulang ya Yup.”

Yupi mengangguk, “Hati-hati ya kak.”

Robby pun menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan rumahnya dan menuju apartement…

~

Keesokkan harinya, kini Shani baru saja terbangun dari tidurnya. Ia berjalan dengan malas menuju kamar mandi, setelah mengambil handuknya untuk mandi. Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju meja rias sambil mengeringkan rambutnya setelah ia selesai memakai bajunya.

Shani menatap dirinya pada cermin, ia menghela nafasnya kasar. Kemarin ketika ia berada di rumah Viny. Banyak yang baru ia ketahui tentang Robby, salah satunya kisahnya yang bersama Ve.

Tok! Tok!

“Shani! Lo udah bangun?” teriakan itu membuyarkan lamunannya tentang Robby.

“Udah,” teriak Shani.

“Gue masuk ya?”

“Masuk aja.”

Kemudian pintu kamar Shani pun terbuka, dan terlihatlah dengan jelas sepupunya sendiri yang dijodohkan dengan Robby, siapa lagi kalau bukan Gre..

“Lo hari ini kuliah?” tanya Gre.

Shani mengangguk, “Tapi masuknya agak siangan. Kenapa?”

“Yah.. gue mau ngajak lo jalan padahal, nanti deh ya?”

“Emang mau jalan kemana?” Shani menatap Gre.

“Kemana aja. Bosan gue di rumah.”

“Gak jelas ah,” ucap Shani.

“Shan?”

“Ya?” Shani berjalan menggantukan handuknya yang basah. Kemudian ia membuka gorden kamarnya yang masih tertutup.

“Gue minta maaf ya,” lirih Gre.

Shani terdiam, ia menatap keluar jendela kamarnya. Shani tahu kemana arah pembicaraan Gre ini.

“Gue minta maaf, bukan gue bermaksud nyakitin lo. Tapi lo tau kan, nyokap gue yang nyuruh. Gue udah nolak soal itu, dan ya gitu.”

Shani menghela nafasnya, “Udah Gre. Lo enggak salah kok.”

“Tap-,”

“Gre, udah. Lo gak salah di sini, jadi udah. Lagian gue enggak kenapa-kenapa juga.” Shani menatap matahari yang kini mulai terbit.

“Mulut lo bisa ngomong gakpapa Shan, tapi hati lo enggak bisa. Hati lo gak bisa nutupin, kalau lo gak suka gue dengan Robby gara-gara itu. Gue tau itu Shan,” ucap Gre.

“Gre, gue kan ud-,”

“Gue sama sekali enggak ada apa-apa, ini murni karena nyokap gue. Kalau lo mau marah sama gue, marah aja sama gue. Gue terima itu, gue lebih milih lo marah-marah sama gue. Daripada lo ngediemin gue kayak kemarin.”

Gre menghela nafasnya, “Gue juga benci kalau kita gini, tap-,”

“Gre udah!” Shani memejamkan matanya, sebongkah air mata pun turun melewati pipinya.

Gre terdiam menatap punggung Shani yang bergetar, dengan pelan ia berjalan mendekati Shani. Kemudian ia pun memeluk Shani dari belakang.

“Shani, maafin gue ya? Gue enggak bermaksud nyakitin lo. Gue mau kita kayak dulu Shan,” bisik Gre.

Tumpah lah sudah air mata Shani, tangisnya semakin menjadi ketika Gre memeluknya. Dan ia pun berbalik, kemudian membalas pelukan Gre.

“Gue gakpapa Gre, lo gak salah. Mungkin nasib gue yang udah ditakdirin kayak gini.”

“Mungkin aku udah ditakdirkan enggak bisa bareng Robby, Gre,” ucap Shani dalam hati.

~

Siang harinya, kini terlihat seorang perempuan tengah berbelanja bahan-bahan di sebuah pusat perbelanjaan. Ia tengah mencari-cari bahan yang diperlukannya, untuk dimasaknya malam nanti.

“Kak Naomi!”

Naomi pun menoleh ke sumber suara tersebut.

“Viny?”

Viny berjalan menghampiri Naomi yang tengah asik berbelanja.

“Ngapain kak? Belanja bulanan?” tanya Viny.

“Ah enggak kok, cuma belanja bahan-bahan yang kurang buat malam nanti,” jawab Naomi.

“Emangnya buat apa?” tanya Viny penasaran.

“Ini, nanti malam ada acara di rumah. Acara kecil-kecilan aja sih, buat makan malam soalnya Robby mau bicara sama Mamah terus ya Robby bawa Shania ke rumah.”

“Jadi mau ngenalin gitu kak?”

Naomi mengangguk, “Yap, betul banget.”

“Sama siapa kak?” tanya Viny.

“Sendirian aja nih, soalnya Yupi baru pulang. Terus Robby gak tau deh, tidur mungkin dia,” jawab Naomi.

“Ah iya kak, aku mau nanya nih. Tapi kak Naomi jawab jujur ya?”

Dahi Naomi mengernyit heran, “Mau nanya apaaan dah Vin?”

“Ini kak, maaf sebelumnya ya. Apa bener Robby itu dijodohin sama Gracia?” Viny menatap Naomi serius.

Naomi bingung harus menjawab apa, karena yang ia tahu hanya yang makan malam kemarin yang baru tahu soal rencana perjodohan Robby. Tapi bagaimana bisa Viny tahu tentang itu?

“Aku tau dari Shani kak, Shani kemarin cerita ke aku. Soalnya dia merasa kayak jadi beban gitu, belum lagi soal Shania.” Viny menjawab pertanyaan apa yang sedang dipikirkan oleh Naomi.

Naomi menghela nafasnya, “Berarti dugaan kakak benar selama ini ya?”

“Maksud kakak?” Viny menatap bingung Naomi.

“Shani suka kan sama Robby?”

Viny mengangguk, “Udah lama sih kak, dia sering cerita sama aku tentang Robby. Sama nanya-nanya juga sih.”

“Eh, tapi gimana soal perjodohan tadi kak?” tambah Viny.

Naomi mengangguk pelan, “Iya, makanya dia mau ngenalin Shania nanti malam.”

“Jadi ceritanya nolak gitu ya?” tebak Viny.

“Ya jelas nolak lah, secara kan dia udah punya Shania. Malah dijodohin gitu,” ucap Naomi yang merasa sebal juga terhadap sikap Andina.

“Ngg, kak?”

“Kenapa Vin?”

“Aku mau kasih tau kakak nih, tapi enggak tau ya bener atau enggaknya. Soalnya aku masih belum yakin,” ucap Viny.

“Emang apa?” tanya Naomi penasaran.

Viny lalu memajukan wajahnya ke telinga Naomi, lalu membisikkan sesuatu pada Naomi. Setelah itu ia memundurkan wajahnya. Seketika Naomi terdiam menatap Viny.

“Kamu yakin?” Naomi menatap Viny.

“Kan udah aku bilang kak, aku engga tau bener atau enggaknya,” ucap Viny.

“Yaudah, makasih deh ya kamu udah bilang itu. Nanti kakak cari tau deh.”

“Ah iya, duluan ya kak. Udah ditunggu sama Beby di depan,” ucap Viny.

“Oke Vin. Makasih ya,” ucap Naomi.

Viny mengangguk tersenyum, “Duluan ya kak. Dah.”

Setelah itu Viny pun meninggalkan Naomi, sedangkan Naomi ia mendorong troli untuk mencari-cari bahan yang diperlukannya nanti malam. Tetapi hatinya merasa aneh, setelah Viny membisikkan sesuatu padanya tadi.

Tidak mau larut dalam pikirannya, Naomi pun kembali berkeliling mencari-cari bahan yang diperlukannya…

~

Malam harinya, kini Shania tengah berada di rumah Robby. Sejak ia dijemput oleh Robby tadi, perasaannya gelisah. Entah kenapa, Robby ingin mengenalkan dirinya pada Andina itu membuatnya gelisah, takut, gugup dan lain-lainnya…

Shania duduk di ruang tamu, dengan perasaan tidak tenang. Sedari tadi, kakinya terus aja bergerak karena kegugupannya. Untung saja, Andina belum ada di rumah jadi Shania bisa lebih lama untuk menyiapkan mentalnya.

“Kenapa sih? Biasa aja kali, gak usah gugup banget kaya gitu ih,” ucap Robby yang sedari tadi melihat kegelisahan Shania.

“Kenapa kamu bilang? Ya jelas aku gugup lah! Kamu kira gampang gitu? Kamu mah, biasa-biasa aja. Padahal gugup juga itu,” sindir Shania.

“Ng, udah deh. Gak usah gugup banget gitu juga, kan ada aku. Lagian ini buat hubungan kita juga kan?”

Shania menghela nafasnya, kemudian ia menatap Robby, “Kalau memang Mamah kamu tetap mau perjodohan itu dilaksanakan gimana?”

“Entahlah. Aku tetap nolak perjodohan itu, kalau emang maunya gitu. Mending aku pergi aja.” Robby menyandarkan tubuhnya pada sofa ruang tamu.

“Ck, laki gak sih kamu ini? Main pergi-pergi aja, gak gentel banget,” cibir Shania.

“Kalau aku gentel, tapi gak sama kamu. Sama aja boong kan?” Robby menatap Shania. “Jadi buat apa aku capek-capek buat itu? Mending aku pergi aja.”

“Bisa banget, emang pandai ngerangkai kata-kata sekarang ya,” ucap Shania.

“Orang serius juga, malah dibilang kayak gitu,” ucap Robby malas.

“Heh! Kalian berdua ini, udah ah. Mending diem deh, jangan ribut dulu,” lerai Naomi yang memang berada bersama mereka di ruang tamu. “Bentar lagi datang kata Yupi, mending nanti aja berantemnya.”

“Ck, iya-iya,” ucap mereka serempak.

Mereka pun menunggu Andina dan Yupi yang entah pergi kemana, mungkin berbelanja sesuatu. Karena Andina meminta Yupi untuk menemaninya. Dan tak berapa lama, terdengar suara deru mesin mobil yang masuk ke dalam garasi rumah.

Kemudian masuklah Yupi ke dalam rumah, yang disusul Andina di belakangnya. Yupi yang melihat kakaknya di ruang tamu pun terhenti, dan juga seseorang yang membuatnya terhenti.

“K-kak Shania?” Yupi menatap Shania.

Shania cengengesan menatap Yupi,”H-hai Yup.”

“J-jadi b-benar ini kak S-Shania? Berarti, yang kemarin itu benar dong?” tanya Yupi.

Shania mengangguk, “Iya, ini kak Shania. Dan soal kemarin, iya itu emang aku Yup hehe.”

“Siapa ini?” tanya Andina yang menatap Shania.

“Ngg, kenalin tante Shania.” Shania mencium tangan Andina dengan sopan.

“Pacar Robby Mah,” ucap Naomi.

Andina menatap Robby, “Bener dek?”

Robby mengangguk, “Bener kok Mah. Udah lama lagian, dari SMA.”

“Kok gak pernah bilang dek?”

“Ya Mamah aja yang sibuk,” cibir Robby.

Shania mencubit pinggang Robby, “Gak boleh gitu ya sayang,” bisik Shania.

“I-iya, e-enggak kok.” Robby mengusap bekas cubitan Shania.

“Yaudah, kalau gitu makan malam bareng yuk? Mau kan Shania?” ajak Andina.

“I-iya tante.”

Mereka berlima pun menuju ruang makan, yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Naomi. Naomi duduk di sebelah kiri Andina, Yupi duduk di sebelah kanannya. Dan Robby duduk di samping Yupi, yang di sampingnya terdapat Shania.

Mereka pun makan malam bersama kali ini, dan ketika hendak selesai. Robby pun memulai obrolannya terlebih dahulu…

“Mah, aku mau perjodohan itu dibatalin,” ucap Robby.

“Dengan alasan apa Mamah harus ngebatalin perjodohan itu?” tanya Andina.

“Mah! Kan Robby punya pilihannya sendiri, masa Mam-,”

“Naomi diam,” ucap Andina dingin.

Naomi pun terdiam dengan perasaan kesalnya, Yupi dan Shania terdiam karena mereka tidak ingin membuat suasana semakin kacau. Shania menggenggam tangan kanan Robby erat, ia takut kalau gara-gara dirinya Robby akan menerima perlakuan kasar dari Andina.

“Mah, aku udah punya pilihanku dari dulu. Apa Mamah tega? Mamah baru aja dateng, kenapa langsung ngabarin perjodohan itu? Kenapa harus aku? Aku dari awal udah gak setuju sama perjodohan itu Mah.”

“Tapi perjodohan itu tetap akan dilaksanakan.”

“Kalau Mamah ingin perjodohan itu tetap dilaksanakan, terserah. Yang jelas aku gak peduli, aku bisa aja pergi.” Robby bangkit dari duduknya dan mengajak Shania bangkit dari duduknya. “Aku bakalan pergi, dimana Mamah gak bisa nemuin aku.”

Robby pun menarik tangan Shania pergi keluar rumahnya.

“Ck, Mah. Naomi kan udah bilang, jangan paksa adek terus. Dia itu punya pilihannya sendiri,” ucap Naomi sebal.

Naomi pun memilih mengejar adiknya itu keluar, Yupi yang melihat itu pun ikut juga keluar rumah mengejar Robby, menyisakan Andina sendiri di ruang makan tersebut. Sedangkan Robby, kini ia tengah bersiap-siap meninggalkan rumahnya.

“Dek!” panggil Naomi.

Robby pun menghentikan langkahnya ketika Naomi memanggilnya, dan menatap Naomi yang tengah mendekat padanya. Dan tak jauh dari belakang Naomi, Yupi tengah berjalan mendekat padanya juga.

“Kamu jangan mikirin Mamah, itu biar urusan kakak. Dan kamu harus pertahanin hubungan kamu sama Shania,” ucap Naomi menasehati.

Yupi mengangguk, “Iya kak, serahin aja urusan Mamah sama kami berdua. Kakak cukup jaga hubungan kakak sama kak Shania aja.”

Robby tersenyum pada keduanya, kemudian ia memeluk keduanya secara bersamaan.

“Makasih buat semuanya. Tapi keputusan aku udah bulat. Kalau Mamah tetap bersikeras ngejalanin perjodohan itu, aku bakalan pergi. Mungkin pergi sama Shania jauh dari sini,” ucap Robby yang melepaskan pelukannya.

“T-tapi kak, nanti siapa dong yang nemenin Yupi jalan lagi?” lirih Yupi yang hampir mengeluarkan air matanya.

Robby mengelus puncak kepala Yupi dengan lembut, “Kak Nomnom kan ada, jadi jangan sedih ya?”

“Tapi kak-,”

“Udah Yup, biarin Robby pergi dulu. Kita kan masih bisa ketemu sama dia nanti,” ucap Naomi yang memotong ucapan Yupi.

“Yaudah, kamu hati-hati ya. Inget, kabarin kakak terus kalau ada apa-apa,” tambah Naomi.

Robby mengangguk, “Pasti kak. Aku pergi dulu ya.”

Robby pun masuk ke dalam mobilnya, dan perlahan mobil Robby pun meninggalkan jauh Naomi dan Yupi. Sepeninggal Robby, tangis Yupi pecah. Ia pun berjalan masuk ke dalam rumahnya kembali, dan Naomi menyusulnya di belakang. Ketika Yupi melihat Andina yang masih terdiam mematung di ruang makan, ia pun segera menghampirinya.

“Mamah jahat! Aku benci Mamah!” Yupi langsung lari menuju kamarnya.

Naomi yang kebetulan berada di belakang pun, melihat apa yang dilakukan oleh Yupi barusan. Itu bagus menurutnya, mungkin itu akan membuka hati Andina untuk membatalkan soal perjodohan itu.

“Liat kan Mah? Gara-gara Mamah yang egois, jadi begini kan akibatnya? Mamah sadar gak sih? Cuma gara-gara itu, semuanya ancur Mah!”

Setelah berkata begitu, Naomi pun berjalan masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Andina, ia semakin memikirkan apa yang barusan dilakukan oleh anak-anaknya…

~

Robby dan Shania kini berada di sebuah danau yang dulu tempat saksi bisu tentang hubungan mereka. Sejak dari rumah Robby tadi, Shania hanya diam. Ia menggenggam erat tangan Robby. Seakan tidak ingin lepas darinya.

Dan di sini, mereka ingin menenangkan diri masing-masing dengan apa yang barusan mereka lalui.

“Jadi… apa hubungan kita ini berakhir di sini aja Rob?”

“Enggak, kita enggak berakhir di sini aja Shania. Percaya sama aku.”

“Tapi Mamah kam-,”

“Kamu mau ikut aku?” tanya Robby yang menatap Shania.

“K-kemana?” Shania menatap Robby juga.

“Kita pergi dari sini, setelah Mamah ngebatalin perjodohan itu. Kita balik lagi ke sini,” ucap Robby.

“T-tapi kemana?” Shania bingung menatap Robby.

“Aku udah punya rencana kok. Jadi kamu mau ikut?”

“Ngg, aku mau ikut sebenarnya. Tapi izin sama Nabilah dulu ya?”

Robby mengangguk, “Kalau itu ngebuat kamu lebih nyaman, kita izin dulu sama dia.”

Shania mengangguk. Kemudian keadaan mereka kembali hening, Shania menaruh kepalanya di pundak Robby. Sedangkan Robby, memeluk Shania dari samping seolah memperdekat jarak mereka berdua.

“Kita bisa bersama-sama terus kan Rob?”

Robby mengangguk, “Pasti Shania.”

“Soal pembicaraan Mamah kamu tadi, aku jadi takut kita enggak bisa bersama-sama lagi,” lirih Shania.

Robby semakin menarik Shania ke dalam pelukannya, sehingga kini kepala Shania berada di dada Robby.

“Kita bisa bersama-sama terus, menghabiskan waktu yang ada. Melalui semuanya dengan bersama-sama Shan. Percayalah.”

Shania membalas pelukan Robby dengan eratnya.

“Aku berharap itu akan menjadi kenyataan Rob,” ucap Shania dalam hati.

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s