Ballad of the dragonstone. Part 2.

 

Meski aku adalah seorang adik Raja, aku tak pernah suka datang ke istana. Ada sesuatu tentang tempat ini yang membuat ku tak ingin tinggal terlalu lama. Mungkin itu ornamen emas dan permata yang menghiasi setiap sudut nya, atau mungkin para pelayan yang datang dan pergi menghampiri ku bertanya pertanyaan yang sama “Tuan apakah ada yang bisa saya bantu ?” yang selalu ku jawab dengan “Tidak kau boleh pergi,” aku tak mengerti bagaimana Baron bisa tinggal di tempat ini setiap hari.

Hari ini istana cukup ramai, banyak orang yang melapor tentang banyak hal dan itu adalah tugas Baron untuk mendengarkan dan mengurus laporan itu; alasan lain kenapa aku memilih untuk tinggal jauh dari istana. Tapi Baron sedang tak duduk disingasana nya, hanya ada beberapa pejabat istana yang mendengar dan mencatat laporan yang ku rasa nanti akan dilaporkan kepada nya.

“Dimana dia ?” tanya ku kepada salah satu pengawal sambil menunjuk kursi besar tempat Raja seharus nya berada.

“Tuan Baron sedang berada di ruang strategi yang mulia,” jawab pengawal itu sopan.

“Terima kasih,”

Aku pun berjalan menuju ruang strategi yang berada di bagian lebih dalam dari istana, sekali lagi melewati lorong yang penuh dengan emas dan permata; begitu terang sampai aku harus menutup wajah ku untuk menghalangi silau nya. Harus nya aku membawa helm perang ku untuk menghalangi semua kilauan ini.

Saat aku tiba Baron sedang memandangi peta perang nya, dia nampak serius memandangi kertas bergambar warna warni itu.

“Hei bisakah kau menyuruh orang untuk menutupi lorong mu !!!” teriak ku yang mengejutkan nya.

“Sialan, Lintgard sudah berapa kali ku bilang untuk tak mengagetkan ku,” ucap yang Raja yang kesal.

“Baiklah maafkan aku, tapi serius kau harus menyingkirkan semua kilauan itu, atau paling tidak menutupi nya,”

“Sudah ku bilang aku tak bisa melakukan itu,”

“Kenapa ?”

Baron menepuk wajah nya seperti dia sudah pernah menjelaskan ini semua dan aku melupakan nya. Mungkin dia memang sudah pernah menjelaskan itu semua dan aku tak memperhatikan.

“Lint, kau tahu ini terakhir kali nya aku akan menjelaskan ini jadi sebaik nya kau mengingatnya. Dan jika kau masih bertanya mengapa aku tak bisa mencabut atau menutupi ornamen dari kerajaan kita, aku akan mempersiapkan diri ku untuk menerima hukuman dari Aemes karena sudah membunuh adik ku sendiri,”

“OK, aku akan mengingatnya, jadi kau bisa menurunkan tinju mu itu,”

Baron setuju untuk menurunkan tinju besar nya, sesuatu yang patut disyukuri. Dia lalu meminum anggur dari gelas nya dan duduk untuk mengambil napas. Aku pun ikut duduk menunggu dia tenang.

“Kau tahu bagaimana istana kita disebut ?”

“Gold sesuatu yang berawalan dengan Gold,” aku sudah berusaha.

“Demi Aemes, Goldshade. Istana kita disebut Goldshade, dan kau tahu kenapa dipanggil seperti itu ?”

“Baiklah jujur aku tak ingat, mungkin salah satu orge memukul kepala ku dan aku menjadi lupa banyak hal,”

“Kau selalu pintar untuk mencari alasan,”

“Ayolah kau tahu aku tak suka sejarah, jadi apa kau ingin mengajari ku sejarah atau kau ingin memberi tahu ku alasan kenapa kau ingin menemui ku kemarin,”

Baron berdiri dan menunjuk salah satu gambar di peta, wilayah berwarna hitam kerajaan kami EarthBound. Aku tahu itu karena pengetahuan tentang perang adalah satu dari beberapa hal yang membuat ku tertarik.

Bumi ini dihuni oleh mahluk lain selain manusia, monster para mahluk begis yang selalu ingin membunuh dan menghancurkan. Dulu mereka hanya menyebar tak tentu diseluruh tempat, mereka menjadi ancaman bagi mahluk mahluk lain sampai akhir nya seorang Ratu muncul dan menyatukan mereka dibawah satu kerajaan bernama Immortales. Lalu mahluk tinggi, para peri. Mereka mahluk hampir abadi yang juga dipimpin oleh seorang Ratu bernama Veranda yang disebut mahluk terindah di seluruh putaran bumi.

Lalu ada bangsa mesin, dipimpin oleh seorang Raja bernama Eduardo. Dengan teknologi dan alat perang mereka sangat kuat dan kerajaan mereka Vulcan menjadi kerajaan terluas di Bumi. Lalu ada bangsa manusia yang dulu nya menguasai bumi dengan jumlah yang sangat banyak, begitu banyak kerajaan tetapi satu persatu lenyap hingga hanya tersisa satu EarthBound.

Baron berhasil menyelamatkan kerajaan ini dengan membuat perjanjian damai dengan para peri dan bangsa mesin.Meski kedengarnya bagus tetapi perjanjian damai itu hanya merugikan kami, perjanjian damai dengan para peri berarti mengijinkan mereka untuk mengambil setengah dari hasil panen kami, dan kami juga harus mengirimkan setengah hasil tambang kami ke bangsa mesin. Meski begitu hanya itu lah cara agar rakyat aman dan satu satu nya cara agar dinding kerajaan tetap berdiri adalah memberikan setengah dari apa yang kami punya.

Bangsa monster lah yang membuat Baron khawatir. Baron sudah mengirimkan tiga negosiator dan tiga kali pula mereka hanya kepala mereka yang kembali. Kami tak bisa mengerti apa yang mereka inginkan, bukan hasil panen, bukan hasil tambang, bahkan setengah dari harta kerajaan yang kami punya tak cukup untuk membuat mereka menandatangi perjanjian damai.

Ditambah kemarin bukan kali pertama mereka menyerang kerajaan kami, meski kami berhasil menahan serangan mereka tetapi akibat yang mereka timbulkan lah yang membuat ku khawatir. Sudah banyak desa desa kecil yang terletak diluar dinding yang hancur. Cepat atau lambat perang perang tak akan terelakan dan aku yakin itu akan berakhir buruk.

“Aku merasa aneh dengan penyerangan kemarin,” ucap Baron.

Baron terlihat serius memandangi kembali peta perang yang ada diatas meja tetapi sejujurnya aku tak merasa ada yang aneh dengan penyerangan kemarin; sehingga aku tak tahu keanehan yang dimaksud oleh Baron.

“Aku tak mengerti jadi bisa kau jelaskan pada ku,”

“Begini aku baru mendapat laporan jumlah senjata musuh yang berhasil dikumpulkan, berapa yang masih bisa digunakan dan berapa yang sudah hancur,”

“Lalu ?”

“Menurut laporan itu jumlah musuh hanya berjumlah berapa ribu orang dan apa menurut mu itu tak aneh ?”

“Kau tahu aku tak pernah memikirkan detail seperti itu,” ucap ku.

“Baiklah begini, kenapa para monster hanya mengirim pasukan kecil untuk menyerang kerajaan kita, maksud ku kita memang bukan kerajaan yang paling besar tetapi kita satu dari empat kerajaan besar,”

“Mungkin mereka bodoh,”

“Mereka mungkin bodoh tapi Ratu mereka yang berhasil menyatukan mereka semua tidaklah bodoh,”

“OK, itu masuk akal. Lalu menurut mu kenapa mereka melakukan nya ?”

“Itu lah yang tak ku mengerti, jika mereka memang ingin mengambil alih kerajaan kita bukankah seharusnya mereka mengirimkan jutaan pasukan ? kenapa Ratu yang berhasil menyatukan bangsa monster yang begis dibawah kekuasaan nya melakukan tindakan sia sia seperti itu ?”

“Jika Raja yang bijak seperti mu saja tak mengerti lalu apa yang kau harapkan dari ku,”

“Ayolah Dik, aku tahu kau bukan seseorang yang hanya bisa mengunakan senjata, kau lebih dari itu.” Ucap Baron sambil menepuk bahu ku.

“Apa yang barusan ?”

“Apa ?”

“Kau menepuk bahu ku setelah memuji ku, apa itu apa kau baru mencoba salah satu adegan yang kau lihat di Odella ? adegan kakak yang hebat ? ayolah serius sedikit,”

“Baiklah aku meniru itu dari pertunjukan semalam, tapi aku benar benar melihat mu sebagai orang yang hebat, aku tak melihat mu sebagai Lint sang penghancur tetapi sebagai prajurit hebat yang dengan bangga ku panggil adik.”

Aku tak ingat kapan aku mulai dipanggil dengan julukan sang penghancur. Itu seperti tiba tiba menjadi hal yang diketahui semua orang, kemana pun aku pergi aku selalu mendengar nama ku disebut sebagai sang penghancur. Itu semua terjadi sebelum Zara lahir dan Kyla memastikan dia tak pernah tahu tentang hal itu. Tak ada satu pun pelayan yang boleh menyebutkan nya, tak boleh ada lagu yang menceritakan hal itu boleh dinyanyikan, tak ada buku atau gulungan yang menyebutkan hal itu.

Aku sendiri tak lagi mempermasalahkan hal itu, awal nya memang menganggu karena itu membuat ku terdengar seperti kriminal yang kejam; tetapi setelah Kyla mengajari ku untuk tak memperdulikan nya aku tak mempermasalahkan nya lagi.

“Kau tahu Kyla meminta mu datang untuk makan malam,” ucap ku.

“Kenapa ?” ucap Baron yang hampir tersedak anggur yang coba diminum nya.

“Entahlah, mungkin dia hanya rindu kepada mu,”

Baron meletakan gelas nya dan terlihat khawatir. Itu sebenarnya lucu jika kau memikirkan nya, Raja Baron yang perkasa ( menurut semua lagu lagu nya ) takut kepada istri ku. Kyla memang sedikit tegas tetapi sampai bisa membuat seorang Raja ketakutan itu lucu bagaimana pun kau melihat nya.

“Ayolah, kau tahu apa yang terjadi kepada ku terakhir kali dia marah,”

“Bukankah itu dua putaran panen yang lalu ?”

“Iya tetapi aku gigi ku masih terasa sakit setiap kali aku makan daging,” ucap Baron sambil memegang pipi kanan nya.

“Aku ingat bagaimana dia memukul mu waktu itu, tapi aku rasa jika kau tak datang tanpa alasan yang bagus maka kau tahu,” ucap ku sambil berpura pura kesakitan.

“Baiklah aku akan datang, tapi bisakah kau memastikan jika Kyla tak akan memukul ku,”

“Istri ku tak sekuat itu, aku yakin waktu itu hanya efek dari daun Lidya yang diminum nya,”

“Jika aku mati tolong pastikan kau mengurus kerajaan ini dengan baik,”

“Kau tak akan mati, aku yakin,”

Dan aku tak pernah lebih salah dalam hidup ku, aku baru saja melihat Raja ku yang perkasa terbang ke sudut lain rumah ku setelah ditampar oleh istri ku sendiri. Tak ada teh daun Lidya diatas meja yang berarti Baron benar benar terbang karena tamparan Kyla yang dengan alasan tertentu sekuat tinju seorang ogre.

“Ky apa yang kau lakukan ?” satu satu nya kalimat yang bisa mengambarkan keterkejutan ku.

“Aku bersumpah demi Petros, aku tak melakukan apapun yang mungkin membuat mu marah,” ucap Baron yang berusaha bangun.

Kyla mencoba menghampiri Baron dan aku menahan nya karena aku tak ingin istri ku menjadi seorang pembunuh Raja.

“Lepaskan aku, biarkan aku…,”

“Hey jelaskan dulu apa yang membuat mu marah kepada nya,”

“Karena prajurit mabuk nya dan mulut mereka yang bodoh itu Zara bertanya apakah Ayah nya adalah sang penghancur dan apakah benar Ayah nya pernah membunuh satu kavaleri peri dengan tangan kosong,”

Kyla menangis dalam pelukan ku, Baron hanya bisa diam berdiri memegangi wajah nya. Dan aku ingat kapan dan mengapa aku mulai mendapat julukan sang penghancur.

“Lalu apa yang terjadi ?”

“Aku tak tahu harus berkata apa, aku mencoba menjelaskan bahwa dia tak perlu memperdulikan hal itu. Tapi dia berteriak bahwa aku adalah pembohong dan mengunci diri di kamar nya,”

“Kita berdua tahu cepat atau lambat dia akan tahu tentang hal itu, sekarang aku akan mencoba bicara dengan putri kita dan kau harus menjelaskan pada Baron bahwa kau tak berniat membunuh nya,”

“Bicaralah dengan nya.”

Aku melepaskan pelukan ku dan menghapus air mata dari wajah cantik istri ku, dia lalu menghampiri Baron yang masih tak percaya bahwa sabuah tamparan hampir membunuhnya. Lalu aku berjalan menuju kamar Zara dan setelah sampai aku mengetuk pintu kamar nya.

“Zara boleh Ayah masuk ?”

“Ayah jahat,” jawab suara gadis kecil dari dalam kamar.

“Ayah jahat ?”

“Ayah dan Ibu bohong, aku tak mau ketemu Ayah lagi,”

“Tolong buka pintu nya, kali ini aja biarkan Ayah jelaskan semua nya.”

Pintu kamar pun terbuka dan seorang gadis kecil sedang memandang ku dengan wajah yang cemberut.

Perpustakaan Istana kerajaan peri, MoonLight.

Sang penjaga perpustakaan sedang sibuk memeriksa buku buku yang baru saja dikembalikan hari ini, hari sudah hampir malam sehingga dia ingin cepat cepat menyelesaikan tugas nya dan pulang. Akhir nya dia menyelesaikan tugas nya tetapi dia belum bisa pulang seperti yang diharapkan nya, diujung perpustakaan dimeja dengan tumpukan buku yang tinggi duduk alasan dia tak bisa mengunci pintu dan segera pulang.

Peri yang sudah berumur cukup tua itu berjalan ke sudut perpustakaan dengan langkah kaki yang berat. Tubuh nya sudah sangat lelah dan dia ingin bisa segera pulang dan istirahat di tempat tidur nya, dan dia tak akan membiarkan siapapun menunda waktu istirahat nya.

“Bu Melody boleh aku disini sedikit lebih lama, aku hampir selesai membaca bab kedua dari sejarah bangsa manusia,” ucap peri kecil yang muncul dari balik buku dengan suara yang lantang.

“Eve…kau,” ucap Melody yang terkejut “Pulanglah aku ingin tidur,”

“Ayolah aku hampir tahu kenapa bangsa manusia punah meski mereka dulu menguasai dunia ini,” ucap Eve mencoba menawar.

“Tidak, kau pulanglah lagi pula manusia belum punah, masih ada sedikit sisa dari mereka,”

“Benarkah ? dimana mereka ? dan kenapa bisa bangsa yang dulu menguasai dunia sekarang hanya tersisa sedikit ?”

Pertanyaan pertanyaan yang datang beruntun itu membuat peri tua itu sakit kepala, badan nya yang tak sekuat dulu membuat diri nya cepat lelah, dan mendengar banyak pertanyaan dari gadis kecil yang meneriakan nya dengan suara lantang membuat diri nya harus duduk dan menarik napas yang panjang.

“Baiklah jika aku menjawab pertanyaan mu berjanjilah kau akan pulang,”

“Tentu,” ucap Eve cepat.

“Dan berhentilah berteriak disetiap tarikan napas mu, itu membuat kepala ku sakit,”

“ok,” ucap Eve kali ini dengan suara yang lebih pelan.

Melody mengambil napas panjang yang jauh lebih panjang dari sebelum nya karena dia harus menunda istirahat malam yang sangat dinantikan nya, tapi mengetahui jika gadis kecil yang berada didepan nya tak akan pulang sebelum mendapat jawaban yang diinginkan nya, Melody tak punya pilihan lain.

“Jadi apa yang ingin kau ketahui dahulu ?” tanya Melody.

“Hmmm…bagaimana bangsa manusia yang sebesar itu bisa punah ?”

“Bangsa manusia memang dulu nya besar tetapi mereka itu bodoh,”

“Bodoh ? bagaimana kebodohan bisa membuat sebuah bangsa punah ?”

“Mereka punah karena mereka mempermasalahkan hal hal kecil seperti apa warna kulit mereka, bahasa apa yang mereka pakai, dan siapa Dewa yang mereka sembah. Tak seperti kita, mereka membedakan jenis mereka sendiri dan hal itu lah yang membuat mereka punah,”

“Lalu apa yang terjadi ?”

“Mereka saling berperang, mereka membunuh manusia lain yang memiliki warna kulit yang berbeda, membunuh manusia lain yang berbicara dengan bahasa yang berbeda, dan mereka saling menghancurkan karena mereka mempercayai Dewa yang berbeda,”

“Bagaimana kau bisa tahu itu semua ? semua itu tak tertulis dibuku ?”

“Aku sudah hidup semenjak manusia pertama berjalan di dunia ini, dan siapa yang mau repot repot menulis sejarah tentang sebuah bangsa yang bodoh, bangsa yang hancur karena perbedaan kecil diantara mereka.” ucap Melody sambil memasang senyum di wajah nya.

Eve terdiam dan membiarkan semua informasi itu terserap kepada nya, dia sudah menghabiskan waktu seharian mencoba mempelajari sebuah bangsa yang dulu pernah menguasai dunia, dan yang membuat mereka hancur adalah diri mereka sendiri.

Dia tak pernah berpikir bahwa hal seperti itu bisa terjadi. Di MoonLight tak pernah ada pertikaian yang terjadi karena warna kulit yang berbeda. Di sini banyak jenis peri yang tinggal, banyak peri dengan wujud dan bahasa yang berbeda tapi hal itu tak pernah menjadi masalah. Dia tak bisa membayangkan hal sebodoh itu bisa terjadi, dan dia tak tahu bagaimana berpikir tentang manusia sekarang.

“Gadis kecil, banyak hal di dunia ini yang tak sesuai dengan harapan mu. Kau mungkin berpikir bahwa manusia punah karena diserang bangsa monster atau bangsa mesin, tapi yang membuat mereka hancur adalah diri mereka sendiri,”

“Aku tak pernah berpikir bahwa bangsa sebesar itu hancur karena alasan yang bodoh, kita para peri tak pernah mempermasalahkan hal hal seperti itu,”

“Ya kau benar, semua itu juga berkat Ibu mu sang Ratu yang membuat kita semua menerima satu sama lain,”

Gadis kecil itu akhir nya puas, meski itu tak sesuai harapan nya tetapi setelah mengetahui jawaban atas pertanyaan yang membuat diri nya penasaran itu sudah cukup. Dia tak ingin lebih lama menganggu peri tua baik hati yang selalu memperbolehkan nya berada di perpustakaan tiap hari, sekarang dia ingin membiarkan nya istirahat.

“Terima kasih, sekarang aku akan pulang,” ucap Eve.

“Pulanglah, kau bisa menyelesaikan ini semua besok,”

Eve berdiri dan membereskan buku buku yang telah dibaca nya kembali ke rak nya masing masing, setelah sekali lagi berterima kasih kepada Melody dia pun pulang kembali ke istana.

“Aku tak tahu bahwa putri ku akan tertarik dengan manusia,” ucap seorang peri saat Melody mulai mengunci pintu perpustakaan.

“Apa yang kau inginkan ?” ucap Melody yang merapikan mantel nya.

“Aku berniat menjemput putri ku tapi saat mendengar kau menceritakan tentang manusia kepada nya aku memutuskan untuk menunggu,”

“Aku hanya ingin dia cepat pulang, dan seharusnya kau datang lebih cepat,”

“Maaf soal itu, tapi ada satu hal yang membuat ku penasaran,”

“Cepat katakan aku ingin pulang,” ucap Melody yang mulai merasakan angin malam mulai menusuk ke dalam mantel nya.

“Kau meninggalkan bagian penting tentang bagaimana manusia punah,”

“Apa ? kau ingin aku menceritakan bagaimana Ibu nya sendiri yang bertanggung jawab atas setengah dari kematian bangsa manusia ?”

“Tidak tentu saja, tolong rahasiakan itu dari putri kecil ku ya Kak Melody,” ucap Ratu para peri Veranda.

“Kau bodoh ya, anak itu sudah berusia 700 tahun,”

“Kak kau saja sudah setua dunia ini, dia masih sangat muda untuk bangsa kita,”

Merasa pembicaraan sudah usai Melody pergi meninggalkan Veranda dan cepat cepat ingin sampai ke rumah nya, tulang tua nya kedinginan dan bukan angin malam lah penyebab nya, senyum Veranda lah yang membuat nya takut dan membuat tulang tua nya gemetaran.

 

Chris.

Tambahan.

Aemes : Dewa tertinggi yang disembah oleh bangsa manusia, bisa dibilang raja para Dewa seperti Zeus dalam mitologi Yunani.

Petros : Dewa kematian yang disembah oleh bangsa manusia.

Odella : pertunjukan seni peran yang digabung dengan nyanyian,puisi dan tarian, berasal dari gabungan kata Opera dan Della ( nggak ada alasan khusus kenapa milih nama Della tapi Odella terdengar bagus sebagai nama suatu pertunjukan ).

Putaran panen : suatu ukuran waktu yang sama dengan tiga bulan. Masa tanam hingga tanaman bisa dipanen rata rata membutuhkan waktu tiga bulan dari sana lah satuan waktu ini diambil.

Daun Lidya : tanaman yang jika dimakan akan membuat seseorang bisa menggunakan seluruh energi di tubuh nya, biasa nya disajikan dengan diseduh seperti teh.

-Chris-

Iklan

2 tanggapan untuk “Ballad of the dragonstone. Part 2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s