“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 17

Viny kembali menatap Shania. Ada yang menarik perhatiannya. Seorang laki-laki yang menghampirinya, dan ia tengah berbicara pada Shania. Shania terlihat tertawa karena pembicaraan laki-laki tersebut. Mereka tidak bisa melihat siapa laki-laki tersebut, karena membelakangi mereka. Kemudian laki-laki itu pun berbalik, dan…

“I-itu kan…”

Aldy terus menatap laki-laki tersebut, ia mengenali sosok laki-laki tersebut. Begitupun juga dengan Viny.

“Kalau Shania kenal sama dia, kamu tau?” tanya Aldy.

Viny menggeleng pelan kepalanya, “Gak tau. Semuanya pun kayaknya gak tau deh.”

“Kalau gitu lebih baik kita rahasiain aja dulu, jangan sampai ada yang tau tentang ini,” ucap Aldy.

Viny mengangguk.

“Yaudah, yuk bayar.” Aldy menggandeng tangan Viny menuju kasir untuk membayar buku yang dibelinya.

Kemudian setelah selesai membayar buku tersebut, mereka pun menuju parkiran untuk mengambil motor dan tentunya mengantarkan Viny pulang…

Sesampainya di depan rumah Viny, Viny pun turun dari motor Aldy dan memberikan helm yang dipakainya kepada Aldy.

“Hati-hati pulangnya ya,” ucap Viny.

“Iya, kamu masuk gih sana.”

“Nanti kalau udah pulang kabarin, jangan malah ketiduran,” sindir Viny.

“Iya-iya, udah sana masuk, ini aku pulang dulu ya.” Aldy pun menyalakan kembali motornya dan mulai menjalankan motornya meninggalkan rumah Viny.

Viny yang melihat Aldy sudah jauh dari rumahnya pun berjalan masuk ke dalam, tetapi ketika ia baru saja ingin membuka pintu rumahnya. Sebuah taksi kini berada tepat di depan rumahnya, dan dari pintu belakang keluarlah penumpang yang menaiki taksi tersebut.

Viny yang melihat siapa penumpang itu pun, berjalan keluar rumahnya menghampiri orang tersebut. Viny membuka pagar rumahnya tersebut, dan tersenyum manis pada orang tersebut.

“Shani,” panggil Viny.

“Kirain gak bakalan datang tadi hehe,” tambah Viny.

“Maunya sih gitu, tapi gak salah kan kalaunya berbagi untuk menyelesaikan masalah?” Shani tersenyum pada Viny.

“Yaudah, masuk yuk,” ajak Viny.

Viny pun mengajak Shani masuk ke dalam rumahnya setelah menutup pagar, Viny berjalan di depan dan Shani mengekor di belakangnya. Dan mereka pun menuju kamar Viny. Shani duduk di ujung kasur milik Viny. Sedangkan Viny, ia membersihkan badannya di kamar mandi. Shani meneliti kamar Viny, sampai pada akhirnya ia melihat satu bingkai foto yang terletak di meja rias milik Viny.

Shani bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja rias tersebut. Shani mengambil foto yang sedari tadi menarik perhatiannya.

“Itu foto di bandara sebelum Shania pergi dari Indonesia.” Shani menoleh ke belakang.

“Hehe, kaget ya? Maaf-maaf,” ucap Viny cengengesan.

Shani kembali fokus pada foto yang dipegangnya, dan kemudian ia memberikan pada Viny.

“Itu yang di samping Shania siapa Vin?” tanya Shani.

“Ngg, ini ya?”

Shani mengangguk, “Itu siapa?”

“Ini kakaknya Shania, yang dibawa Shania keluar negeri buat berobat,” jawab Viny.

“Terus kakaknya dimana?”

“Hh, Shan. Kakaknya udah gak ada,” desis Viny.

“Jadi…”

Viny mengangguk, “Penyakitnya udah menyebar luas, dan gak bisa buat diobatin lagi. Dan waktu berobat di sana, kata Shania sempat membaik. Tapi nyatanya malah memburuk.”

“Namanya siapa Vin?”

“Ve. Veranda,” ucap Viny.

“Oh iya, aku mau cerita sama kamu nih. Aku baru inget soalnya, jadi dulu kak Ve ini pernah dekat sama Robby. Setelah aku udah sama Aldy kayaknya, lupa. Tapi dia pernah dekat sama Robby, dan waktu itu Shania juga lagi dekat banget sama Robby,” tambah Viny.

“Mereka berdua pernah dekat?” Shani menatap Viny tak percaya.

Viny mengangguk, “Iya. Tapi kayaknya kak Ve gak tau deh, kalau Shania udah pacaran sama Robby. Soalnya dulu dari sikapnya sih, kak Ve manja gitu sama Robby.”

“Terus Shania gimana?” tanya Shani.

“Ya gitu, dia cemburu lah. Kayak kamu, kalau liat Robby sama yang lain juga hahaha,” ledek Viny.

“Ck, serius kali Vin. Kamu mah,” dengus Shani.

“Haha, oke-oke, maaf. Aku kan udah cerita nih, sekarang giliran kamu yang cerita,” ucap Viny.

Shani menghela nafasnya, “Aku bingung harus cerita dari mana.”

“Gakpapa, cerita semuanya ke aku. Ungkapin semua yang kamu pikirin ke aku, biar enggak jadi masalah lagi buat kamu,” ucap Viny.

Shani mengangguk, kemudian ia pun menceritakan semuanya. Dan tentunya ia juga menceritakan tentang perjodohan antara Robby dan Gre. Robby yang bersikap aneh ketika di apartementnya, dan mungkin ulahnya sendiri yang mengakibatkan seperti itu. Sore itu Shani menceritakan keluh kesahnya yang sangat-sangat ia sesali…

~

Di sebuah pusat perbelanjaan atau lebih tepatnya sebuah mall. Kini Robby tengah berjalan-jalan bersama adik kesayangannya, Yupi. Yupi memintanya untuk menemani nonton, dan ia mau tak mau harus menemaninya. Karena ia tau, kalau tidak mau atau menolak itu akan membahayakan dirinya. Yupi akan mengadukan pada Naomi, dan Naomi pun akan menceramahi Robby sampai telinganya kadang muak mendengar ceramah dari Naomi.

“Kak, pesen gih tiketnya,” ucap Yupi yang membuyarkan lamunan Robby.

Robby mengangguk, kemudian ia pun mengantri untuk membeli tiket. Sedangkan Yupi, ia menunggu di salah satu sofa dalam ruangan. Tak berapa lama, Robby pun telah membeli tiketnya dan berjalan menghampiri Yupi.

“Udah nih,” ucap Robby.

Yupi bangkit dari duduknya, “Yaudah, langsung ke depan studionya aja yuk kak. Gak lama lagi kan itu?”

Robby mengangguk, “Paling dua puluh menit lagi lah, mending ke sana aja langsung.”

“Yaudah, yuk.”

Belum sempat mereka beranjak, ada yang memanggil Robby.

“Robby.”

Robby pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.

“Benny?” Dahi Robby mengernyit heran.

“Ngapain lo di sini?” tanya Benny yang menghampiri Robby.

“Ya nonton lah! Lo kira gue mau jualan,” sewot Robby.

“Wetss, santai brother. Gak usah marah-marah gitu dong,” ucap Benny terkekeh.

“Basi lo. Ada apa?” tanya Robby.

“Siapa nih? Gue baru liat. Pacar lo ya?” tanya Benny.

“Ck, iya pacar gue kenapa? Mau lo tikung?”

Yupi yang mendengar jawaban dari Robby pun, langsung melirik tajam padanya. Sehingga membuat Robby gemay-gemay takut. Eh, bukan. Maksudnya gemas-gemas takut hehe.

“Benny.” Benny tersenyum memandang Yupi.

“Yupi.” Balas Yupi tersenyum.

“Sensian amat deh lo. Pms ya? Kok dia mau sih pacaran sama lo?” Benny kembali menatap Robby.

“Lo sama siapa ke sini?” tanya Robby yang mengalihkan pembicaraan. Karena tatapan tajam Yupi.

“Gue sih tadi sama temen, kurang cocok ah. Gue tadi sama calon pacar, alias masih pedekatean gue hehe,” Benny cengengesan karena jawabannya sendiri.

“Hh, mana calon pacar lo?”

“Tadi dia ke toilet bentar,” jawab Benny.

“Oh gitu ya.” Robby manggut-manggut. “Yaudah, gue duluan ya.”

Benny mengangguk, “Yaudah deh, gue juga mau ke sana.”

Robby dan Yupi pun berjalan meninggalkan Benny ke depat studio yang mereka ingin masuki. Dan ketika sudah di depan studionya, mereka pun duduk di sofa yang ada di depan studio tersebut untuk menunggu pintu studio tersebut dibuka.

“Kenapa ngomong gitu tadi coba kak?” tanya Yupi.

“Biarin lah. Gakpapa juga, ngerjain sekali-sekali,” jawab Robby.

“Tapi bikin kesel tau gak,” ucap Yupi kesal.

“Haha, udah ah. Kan cuma buat candaan doang,” ucap Robby.

Yupi menggembungkan pipinya, sambil memasang wajah btnya pada Robby.

“Duh, jangan gitu ih. Bikin gemes deh.” Robby mencubit pipi Yupi gemas.

“Abisnya, kakak juga sih.”

Asik larut dalam pembicaraan mereka, tidak terasa panggilan untuk studio yang mereka masuki pun terdengar bahwa telah dibuka. Mereka berdua pun masuk ke dalam studio tersebut, dan mencari tempat duduk mereka. Sekitar sepuluh menit menunggu dengan ditayangkannya trailer film dan iklan, film yang mereka tonton pun akan segera dimulai dan lampu di dalam studio tersebut pun mulai dimatikan.

Film pun dimulai, dan pada saat itu juga seseorang masuk ke dalam studio tersebut. Robby menatap orang tersebut.

“Itu Benny kan ya?. Satu studio sama gue lagi, berarti nanti di sampingnya itu ceweknya,” ucap Robby dalam hati.

Robby terus menatap Benny yang berjalan mencari tempat duduknya, dan tak berapa lama ada seorang perempuan yang masuk dan mengikuti Benny untuk mencari tempat duduknya. Robby yang memang matanya agak minus dengan kejauhan pun tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan tersebut. Apalagi dengan keadaan gelap seperti ini. Yang jelas, ia seperti mengenali perempuan tersebut.

Perempuan tersebut duduk di samping Benny, dan letak tempat duduknya pun jauh sekali dengan Robby. Robby tak ambil pusing, ia pun kembali mencoba fokus menonton film tersebut…

~

Kurang lebih dua jam ditayangkan, akhirnya film tersebut pun telah habis. Robby dan Yupi, menunggu penonton yang lain keluar terlebih dahulu. Alasannya, malas berdesakan. Dan Robby pun melihat Benny bersama perempuannya itu keluar, bersamaan dengan orang lain. Setelah dirasa cukup, mereka berdua pun keluar dari studio tersebut.

Robby dan Yupi berjalan mengitari mall, lebih tepatnya mencari tempat makan untuk mengisi perut mereka. Mereka masuk ke dalam salah satu restoran yang ada di dalam mall tersebut. Mereka duduk di kursi yang untuk dua orang. Kemudian, mereka pun memesan makanan untuk mereka berdua. Setelah itu, mereka menunggu pesanan mereka yang sedang dibuatkan.

“Kak, bentar ya. Ke toilet dulu,” ucap Yupi.

Robby mengangguk, “Jangan lama-lama.”

Yupi pun bangkit dari duduknya, dan berjalan ke toilet di dalam restoran tersebut. Ia berjalan memasuki toilet perempuan, dan masuk ke dalam bilik toilet. Setelah selesai, ia pun mencuci tangan di wastafel yang ada di dalam toilet tersebut. Dan di saat itu, bilik toilet yang ada di sampingnya terbuka, dan keluarlah seorang perempuan yang kemudian berjalan ke sampingnya untuk mencuci tangan.

Yupi mengernyit menatap perempuan tersebut, sekilas bayangan pacar kakaknya yaitu Shania. Terlintas dipikirannya ketika melihat perempuan tersebut. Tapi apa benar itu Shania? Mungkin saja sih, soalnya ia telah pulang ke Indonesia. Tetapi Yupi belum pernah bertemu dengannya lagi.

Perempuan tersebut, menatap Yupi dari pantulan cermin. Ia sempat kaget ketika melihat Yupi, yang ada di sampingnya. Yupi yang merasa aneh pun, langsung saja keluar dari toilet dan berjalan menuju meja tempat kakaknya berada.

“T-tadi Yupi kan? Kalau benar Yupi, berarti dia bareng Robby atau enggak kak Naomi dong?” ucap perempuan tersebut dalam hati. Seketika perempuan tersebut menjadi panik.

Yupi duduk di depan Robby, setelah dari toilet pesanannya telah datang. Dan di hadapannya, Robby pun sudah memasang wajah tidak enak untuk dilihat.

“Lama banget,” ucap Robby malas.

“Hehe, maaf ya kak. Yaudah, yuk makan.”

Mereka berdua pun memakan pesanan mereka, dan setelah selesai makan mereka pun berjalan keluar dari restoran tersebut setelah membayar di kasir. Mereka berdua berjalan menuju parkiran, tempat mobil Robby berada. Kemudian, mereka berdua masuk  ke dalam mobil. Dan Robby pun mulai menjalankan mobilnya, meninggalkan mall tersebut…

Di perjalanan pulang, tidak ada pembicaraan yang menarik diantara keduanya. Hanya alunan musik dari radio yang terdengar. Yupi memandang keluar kaca mobil, memandang hujan yang sedang turun. Memang ini sudah memasuki musim hujan, jadinya sering sekali terjadi hujan. Bahkan bisa setiap hari.

“Kak?” panggil Yupi.

“Ya?”

“Kak Shania itu udah pulang kan?”

Robby mengangguk, “Udah kok. Kenapa gitu?”

“Terus kakak udah ketemu sama dia?”

“Udah, malah tadi pagi ketemu. Kenapa?”

“Enggak sih, cuma gimana ya? Mau ketemu gitu sama kak Shania, mau main bareng lagi,” ucap Yupi.

“Hoo.. gitu ya, gampang kok. Kalau kamu mau main sama dia, nanti kakak bilangin. Biar nyari hari yang pas gitu,” ucap Robby.

“Janji ya? Eh tapi, aku udah lama gak liat kak Shania. Ada fotonya gak kak?”

“Iya, janji. Cek aja di hape kakak Yup.”

Yupi pun mengambil handphone Robby yang ada di dashboard mobil, ketika membuka handphone kakaknya terpampang jelas lah foto sang pacar. Shania.

“Ngg, ini kak?”

“Itu Shania, tambah cantik kan ya? Hehe”

“Iya sih, tapi kak…”

“Tapi apa?” Robby menatap Yupi bingung.

“Kalau emang bener ini kak Shania, aku ketemu dia tadi kak…”

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

5 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s