Bolehkah?

Dia cantik, lesung pipitnya juga semakin membuat indah wajahnya, membuat mata setiap lelaki betah untuk berlama-lama untuk memandangnya. Namanya Shani, yang kutahu cuman itu dan dia teman satu lokalku kuliah. 
Sekarang dia sedang duduk di depanku, bercanda dengan teman ceweknya, kadang dia tertawa, kadang dia tersenyum, dan itu juga membuaku ikut tersenyum senyum sendiri di belakangnya layaknya orang gila.

Sebenarnya sudah sejak lama aku naksir Shani, namun aku tak sanggup untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Kenapa? Mungkin karena statusku yang hanya orang biasa. Aku bisa kuliah di kampus ini pun cuman karena nasibku yang mujur. Kuliah dengan biaya beasiswa dari pemerintah karena aku pernah menjuarai beberapa perlombaan.

Hari ini kamis, aku tahu kegiatan Shani hari ini adalah latihan dance, dan setiap hari kamis aku selalu melihatnya latihan. Kadang aku merasa seperti orang bodoh yang suka ingin tahu kegiatan seseorang, namun tak berani mendekatinya. Tapi itulah aku, yang hanya bisa menjadi pengagumnya dari jauh.

Kau ingin tahu siapa Shani? Dia adalah anak pemilik perusahaan besar di Jakarta, bukan ayahnya, tapi ibunya. Sedangkan ayahnya adalah pengusaha tambang batubara di Kalimantan. Hebat? Menurut orang lain begitu, begitu juga aku, karena itulah aku segan untuk mendekatinya.

Saat ini aku sedang duduk di taman depan kampus, di bawah pohon besar dan rindang, di kursi panjang untuk 4 orang. Sangat strategis untuk melihat langsung ke dalam ruangan Shani latihan dance.

Bila aku menjadi dirinya, mungkin sudah sangat bosan melihat seorang laki-laki jelek, setiap hari kamis duduk di sini berjam-jam untuk melihat diriku latihan dance, mungkin juga benci. Tapi kenyataannya tidak, mungkin dia tak pernah berpikir bahwa aku ada di sini dan selalu memperhatikannya.

PLAK!!

Tiba-tiba saja aku mendapat pukulan tepat di belakang kepalaku dan itu cukup menyakitkan.

“Awww! Siapa sih?” Aku pun menengok ke belakang dan ternyata adikku Farin yang sudah memukul kepalaku.

“Hayooo, lagi ngapain?” Dia bertanya seperti tak tahu apa yang sedang aku lakukan. “Liatin Shani mulu, ngedeketin gak berani. Udah, cepetan samperin, trus tembak. Entar bisa-bisa keduluan orang, trus lu mewek” ucapnya.

“Gue masih punya harga diri Rin dan rasa malu, kalau gue nembak dia, trus gak keterima, mau taruh di mana muka gue,” jawabku memberi alasan.

“Haha, masih aja mikirin gituan, yang namanya cinta gak memandang status. Kalo emang kakak cinta trus dia juga mau, jadian, kelar urusan,” ucapnya menasehati.

“Wedeeeh, tumben otak lu cerdas, tapi cuman masalah cinta doang kayaknya,” ejekku.

“Sialan nih bocah,” ucap Farin cemberut.

“Laah, ngatain bocah, tuaan siapa coba?” ucapku, “gue kakak lu.”

“Iyeee, tau, gak usah pake acara sewot,” ucapnya, “dah, pulang yuk, gue udah laper banget nih,” ajak Farin.

“Bentar kali Rin, si Shani aja belum kelar latihan,” pintaku.

“Kalo nungguin Shani kelar, bisa-bisa badan gue kurus kerempeng entar,” balasnya.

“Udahh, lu masih punya banyak persediaan lemak tuh di pipi,” ucapku.

“Yeee, cepetan kak! Perut gue cacingnya udah ngechant,” pintanya lagi.

“Hidih, cacing di perut lu wota? udah tunggu aja 5 menit, bisa gak?” tanyaku.

“Iya deh.. Iya, gue tungguin,” ucapnya sedikit kesal.

Setelah 5 menit, latihan Shani belum juga selesai. Karena aku terlalu kasian dengan Farin, aku pun mulai beranjak dari kursi.

“Yuk balik,” ajakku ke Farin, “gak usah pake acara cemberut juga mukanya, jadi pengen gue unyel-unyel tuh pipi,” ucapku.

“Kakak kelamaan, udah tau perut adiknya keroncongan tetep aja mikirin Shani, kalo gue pingsan siapa yang repot?”

“Iyee.., maaf,” ucapku.

“Gak mau beri maaf, kalo gak bayar pake Ice Cream,” katanya.

“Dihh, nih anak, manja banget, entar deh kalo udah sampe rumah,” ucapku.

“Janji yaaah, awas kalo gak, gue kasih tau nyokap kalau kakak suka liatin si Shani,” ancamnya.

“Busyeeet, jangan segitunya juga kali Rin,” ucapku was-was, “Iyaaa deh iyaa, janji” jawabku.

“Sip kalo begitu, ayo pulang,” ucapnya sambil tersenyum.
~o0o~
Hari ini hari Jum’at dan aku tak ada jadwal buat kuliah. Mataku masih terasa sangat berat dan ngantuk, dan otakku juga masih memerintahkan untuk menyambung tidur. Tapi, kenyataannya itu tidak bisa kulakukan.

Pagi ini ibuku memintaku untuk pergi ke pasar untuk membeli keperluan kateringnya dan juga sekalian mengganti tabung gas yang sudah kosong. Katering adalah pekerjaan ibuku, setelah ayahku meninggal ibuku bekerja sendiri. Hanya pekerjaan inilah yang mampu dia kerjakan untuk membiayaiku dan adikku sekolah hingga kami bisa kuliah sekarang.

“Maaah, tabungnya mana?!” teriakku karena tak menemukan tabung gas yang kosong buat diisi di dapur.

“Tabungnya udah Mamah letakkan di depan pintu luar. Cepetan yah beli sayurannya sama beli tabungnya, sore ini pesanannya mau Mamah antar,” jawabnya dari ruang tengah.

“Oke Mah,” jawabku sambil berlalu menuju luar.

“Trus, habis pulang dari pasar kamu jemput Farin di kampus,” ucapnya lagi.

“Loh, Farin gak pake motor?” tanyaku.

“Ban motornya kan masih bocor belum kamu tambal, dia juga gak mau pake motor kamu, jadi tadi dia naik taksi,” jawab ibuku.

“Hemm, oke deh,” ucapku sambil meninggalkannya yang nampak sedang membersihkan meja ruang tamu.

“Hati-hati di jalan!” pesannya.

Sesampainya di pasar, aku langsung berbelanja dengan cepat untuk membeli semua keperluan yang ada di dalam daftar yang sudah diberikan ibuku.  Setelah semua sudah terbeli, aku langsung menuju toko pengisian tabung gas dan membeli yang sudah diisi dan langsung pulang.

Ketika sampai aku langsung saja memberikan semua belanjaan ke ibuku dan langsung siap-siap ke kampus untuk menjemput Farin. Setelah siap, aku pun turun menuju dapur untuk minta izin untuk menjemput Farin.

“Looh, kayak buru-buru banget?” tanya ibu.

“Ehh? enggak kok bu,” jawabku.

“Gak perlu buru-buru! Farin bisa kok menunggu, kalau kamu kenapa-kenapa di jalan, kan repot,” beritahunya.

“Iya bu,” jawabku, “Aku pergi dulu yah,” ucapku.

“Iyaaa, hati-hati!” jawabnya.

“Assalamua’alaikum!” ucapku.

“Wa’alaikumsalam!” jawabnya dari dalam rumah.

Ketika aku sampai di kampus, suasana kampus sangat sepi, maklum saja hari ini kan hari jum’at, dan biasanya buat mahasiswa lama jadwal mereka kebanyakan masuk siang, setelah sholat jum’at.

Tapi tidak buatku, karena memang tak ada jadwal buat kelasku di hari jum’at, jadi aku bisa santai. Begitu juga Shani, dia juga tidak masuk hari ini, karena dia memang sekelas denganku.

Sudah 15 menit aku menunggu Farin di parkiran, tiba-tiba datang seseorang cewek memarkirkan motornya di samping motorku. Setelah dia membuka helmnya, ternyata Naomi teman SMA-ku dulu.

“Haii.. Mi! lama gak ketemu,” sapaku.

“Hai!, iya nih, udah lama banget. Lagi ngapain di sini? nunggu pacar yah?” tanyanya curiga.

“Ehh! kagak, lagi nungguin adek gue nih, belum keluar kelas juga dari tadi,” jawabku.

“Ohh, kirain nungguin pacar,” ucapnya.

“Enggak lah, masih enak dengan status single,” jawabku bohong.

“Masa sih? jangan kelamaan single Rez, entar bisa-bisa lu lupa caranya mencintai,” candanya.

“Haha, masih tau kok Mi caranya mencintai,” jawabku.

“Hehe.., bagus lah kalau begitu, ya udah deh gue mau ke Rektorat dulu,” katanya sambil turun dari motor.

“Looh, mau ngapain?” tanyaku.

“Ada urusan sedikit, masalah transkrip nilai, banyak mata kuliah gue yang nilainya belum masuk,” jawabnya.

“Ohh, ya udah. Good Luck yah,” ucapku.

“Makasih,” jawabnya sambil pergi meninggalkanku sendirian lagi di sini.

Ternyata perlu satu jam untuk menunggu Farin keluar dari kelasnya. Setelah Farin tiba, langsung saja aku menghidupkan motor siap-siap untuk pulang karena sudah terlalu lelah menunggunya.

“Kak, sebelum pulang, mampir ke mini market dulu yah, gue mau beli cemilan dulu,” katanya.

“Hemm, jangan lupa beliin gue juga yah,” pesanku.

“Cemilan apaan? coklat?” tanyanya.

“Gak lah, kayak gak tau makanan kesukaan gue aja,” jawabku.

“Hehee, iya iya, tau kok, dah berangkat,” ucapnya.

Hari ini begitu panas, segelas air putih es pun bisa mengalahkan wanita cantik sekalipun. Kami mampir di mini market langganan kami yang dekat dengan rumah, karena di sini harganya lebih murah dari mini market yang lain. Setelah membeli semua cemilan, aku dan Farin pun pulang.

“Assalamu’alaikum!” ucap Farin.

“Wa’alaikumsalam!” jawab ibuku dari dapur, “Rin, habis ganti baju bantu ibu di dapur yah!” pintanya.

“Iya Maaah!” jawab Farin sambil berjalan menuju kamarnya.

“Ya udah, cepetan,” perintahnya, setelahnya ibuku juga memanggilku. “Reeez, kalau katering udah selesai, nanti kamu yang antarin yah!”

“Laah, si Rere kemana? kan biasanya dia yang ngantarin,” tanyaku pada ibuku kemana supir pengantar katering biasanya.

“Rere lagi ada kesibukan yang lain, jadi kamu aja yah, kan dulu yang ngantarin kamu juga sebelum Rere ada,” jawab ibu.

“Hemm, ya udah deh, entar aku yang antarin. Aku mau istirahat dulu yaah, ntar bisa-bisa aku ketiduran di mesjid pas sholat jum’at,” ucapku beranjak menuju kamar, “Oh iya, alamatnya di mana bu?” tanyaku lagi sebelum masuk kamar.

“Alamatnya sekitar mesjid agung, di jalan manggis. Nomor rumahnya entar ibu kasih, ada kok di catatan ibu,” jawabnya.

“Ya udah, ntar kasih ke aku!” ucapku lalu menutup pintu kamar.
~o0o~
Aku baru saja selesai sholat jum’at dan juga baru saja sampai di rumah. Setelah ganti baju aku langsung menuju dapur untuk makan siang. Makanannya cukup sederhana, ikan kering di goreng sampe kering kayak kerupuk, sambal terasi dan nasi putih panas, juga secangkir air teh manis panas.

“Hemm, sedapnyaaa,” itulah kata-kataku bila melihat makanan ini. Setelah makan siang, aku pun istirahat sejenak karena setelahnya akan membantu ibuku menyiapkan katering yang akan diantar sore ini.

“Kateringnya kok banyak banget bu, emang buat acara apaan?” tanyaku setelah melihat pesanan katering yang lumayan banyak.

“Katanya sih buat perayaan ulang tahun, ibu juga gak tau pastinya,” jawab ibuku.

“Hemm, begitu yah, jadi kapan aku mengantar pesanan ini?” tanyaku.

“Nanti sore, sekitar jam 4, mungkin habis asyar kamu mengantarnya, biar agak teduh dikit, kalau jam segini cuacanya panas banget,” jawab ibuku, “Ohh iya, jangan lupa bensin mobilnya diisi, kalau-kalau nanti habis bensin di jalan, bisa gawat.” Ibuku mengingatkan.

“Ohh iya yah,  trus duitnya mana? buat beli bensin,” tanyaku.

“Sebentar, ibu ambil dulu di kamar,” jawabnya sambil beranjak pergi dari dapur menuju kamar.

Setelah kembali dari kamar, ia menyerahkan uang 100 ribu kepadaku buat membeli bensin. Mobil dari peninggalan ayahku, sebuah mobil kijang pikap, dari dulu mobil ini digunakan untuk jual beli sayur di pasar, tapi semenjak ayahku meninggal, mobil ini digunakan untuk mengantar pesanan katering ibuku.

Aku pun pergi membawa mobil ke pom bensin untuk mengisi bensinnya. Setelah selesai, aku pun langsung pulang buat siap-siap untuk mengangkat semua katering dan meletakkannya di bak pikap.

Habis asyar, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore dan semua katering sudah diletakkan di bak belakang pikap. Saatnya untukku dan Farin untuk berangkat menuju alamat yang sudah diberikan oleh sang pemesan.

Sekarang aku sudah sampai di depan rumah bernomorkan persis seperti yang tertulis di kertas yang ada di tanganku. Rumahnya sangat besar, mewah dan luas. Pastinya lebih besar dari rumahku. Entah orang kaya macam apa yang sedang mengadakan pesta dan memesan makanan yang sedang kuantar saat ini.

Aku pun keluar dari mobil dan menuju pos satpam untuk bertanya apakah memang benar ini alamat rumah yang sedang aku cari. Ternyata benar, dan setelah satpam itu menanyakan kedalam rumah, ternyata memang benar pemilik rumah sedang memesan katering ibuku.

Aku pun dipersilahkan masuk untuk mengantarkan pesanan sang pemilik rumah. Setelah mengetuk pintu, aku pun dibukakan pintu oleh pembantu rumah itu.

“Apa benar pemilik rumah ini sedang memesan makanan katering untuk pesta?” tanyaku.

“Yaa, benar sekali, apa pesanannya sudah datang?” tanya pembantu itu.

“Iya, sudah datang. Bolehkah kami bawa masuk kedalam?” tanyaku.

“Ya, silahkan, apa perlu bantuan untuk mengangkatnya?” dia bertanya.

“Mungkin, kalian bisa membantu?”tanyaku.

“Baiklah, akan kupanggilkan pembantu yang lain untuk membantumu,” jawabnya lalu beranjak pergi meninggalkanku.

Selagi pembantu itu di dalam rumah, aku dan Farin mulai menurunkan satu persatu katering itu. Tak berapa lama, datang beberapa orang laki-laki mulai membantu kami.

Cuman butuh lima menit lebih untuk menurunkan semua barang dan memasukkannya kedalam rumah. Rumah ini ternyata memang sangat besar dan luas. Aku baru pertama kali memasuki rumah yang seperti ini. mungkin butuh waktu satu jam untuk membersihkan seisi rumah ini, mungkin juga lebih, walau dengan banyak pembantu.

Saat ini aku sedang merapikan meja untuk meletakkan semua makan katering dan membersihkannya bila ada kotoran, Saat aku sedang konsen menata tata letak makanan, Farin memanggilku dengan bisikan pelan.

“Kak!”panggilnya pelan.

“Apaan?” tanyaku masih tak menghiraukannya.

“Kaaak!” panggilnya lagi.

“Apaan sih?” tanyaku sambil melihat ekspresi wajahnya yang seperti sedang menunjuk sesuatu. “Apaan? ngomong!” tanyaku.

Tiba-tiba ada suara seseorang yang memanggil namaku dari belakang, seperti seseorang yang mengenalku.

“Hai.. Arez!” sapanya.

Aku langsung terdiam. Aku seperti mengenali suara orang ini. Orang yang suaranya hampir tiap hari bisa kudengar, tapi aku tak seyakin itu untuk memastikan bahwa itu benar. Aku pun menoleh untuk melihat siapakah yang sedang menyapaku.

DEG!!

Jantungku seperti berhenti berdetak, ternyata dugaanku benar, memang dia orang yang menyapaku. Tapi, kenapa dia bisa mengenaliku? aku tak pernah tahu dia mengenalku, padahal dia juga tak pernah berbicara denganku.

“Haii… Shani,” sapaku pelan masih dengan pikiran yang bingung.

“Sedang apa di sini?” dia bertanya, ”Kamu bukan pembantu di sini kan?” tanyanya lagi.

“Eng- enggak, aku lagi mengantar pesanan katering,” jawabku sedikit gugup.

“Kamu ngantar katering? Ohh, katering buat ulang tahun hari ini?” tanyanya.

“Iya, katering buat ulang tahun,” jawabku, “Oh iya, boleh nanya gak?” ucapku.

“Mau nanya apaan?” tanyanya.

“Ini ulang tahun siapa sih? sampai pesan katering banyak banget kek begini,” tanyaku.

“Masa kamu gak tau? hari ini kan ulang tahun aku,” jawabnya sambil mengernyitkan dahi.

“Heh! Kamu?” aku kaget, tak tahu bahwa hari ini adalah hari ulang tahun Shani.

“Iya, kamu gak dapat undangan?” tanyanya curiga.

“Gak ada,” jawabku sungguh-sungguh.

“Yahh, kok bisa? Padahal aku sudah bagiin undangan ke seluruh kelas, buat pada datang,” katanya.

“Oohh, tapi aku gak dapat undangan. Ya sudah lah,” kataku.

“Laaah, kok gitu? Kan kamu udah tau hari ini perayaan ultah aku, jadi datang aja nanti malam,” ucapnya.

“Emm, kayaknya gak bisa deh Shan, di rumah aku lagi banyak kerjaan,” ucapku berbohong, padahal tak ada kerjaan apapun, cuman alasan saja.

“Yaaahh, oke deh kalau kamu gak bisa datang,” ucapnya nampak kecewa, ”Tapi kamu mau kan ngasih hadiah buat aku?” tanyanya.

“Heh? Hadiah?” aku bingung, “Duh, gimana yah mau ngomongnya. Jujur aja yah, aku gak punya apa-apa, kamu ulang tahun aja aku baru tau, apalagi persiapan ngasih hadiah buat kamu,” ucapku merasa tak nyaman.

“Ya udah deh, gak papa kok kalo kamu gak ngasih hadiah buat aku. Tapi, boleh gak aku minta nomor kamu?” tanyanya.

“Nomor aku? Buat apa?” tanyaku bingung.

“Cuman minta aja, boleh kan?” katanya sambil menyerahkan ponselnya padaku.

“Heem, ya udah deh, kalo aja kamu memang perlu,” ucapku dan mengambil ponselnya kemudian menuliskan nomorku serta menyimpannya di daftar kontak. “Nih, udah aku masukin di daftar kontak,” ucapku sambil menyerahkan kembali ponselnya.

“Makasih yah, nanti kalau kamu bisa datang, datang yah. Tapi kalo gak, gak papa juga. Aku udah tau kok kalo kamu ada kerjaan,” ucapnya sambil tersenyum.

“Semoga aja bisa,” ucapku, “Ya udah deh, semua kerjaan di sini juga udah kelar, lebih baik aku pulang,” ucapku sambil beranjak menuju luar rumah.

“Iya, makasih yah udah ngantarin kateringnya,” ucapnya.

“Emang kewajiban kali Shan,” jawabku, “Oh iya, boleh nanya sesuatu gak,” tanyaku sebelum melangkah keluar pintu.

“Heh? Nanya apaan?” Ia nampak penasaran.

“Perasaan kita di kampus gak pernah ngomong bareng deh, walau kita satu kelas sih,” ucapku. “Jadi, kamu tau dari mana namaku?”

“Oh.., itu? dari siapa? ada deh jawabannya.. hihi,” jawabnya sambil tertawa kecil. “Terus, kalo kamu, dari mana juga tau nama aku,” tanyanya.

“Kalo kamu emang dari sananya banyak yang tau, aku juga sering denger nama kamu dari temen, nama kamu itu Shani, apalagi kamu sekelas sama aku, jadi mesti tau lah,” jawabku.

“Gitu yah, trus menurut kamu aku orangnya bagaimana?” tanyanya blak-blakan.

DEG!

Jantungku seperti berhenti berdetak lagi, ”Duh, kalo gini ceritanya aku bakalan mati di tempat. Mending pamit pulang aja deh,” bisikku dalam hati.

“Ehhh, aku pulang aja deh, udah mau maghrib, takutnya dicariin ibuku.” Aku memberi alasan.

“Looh, pertanyaan aku masih belum dijawab,” ucapnya.

“Nanti aja deh, kalo ketemu lagi,” jawabku sambil berjalan menuju mobil, “Yuk Rin, kita pulang!” ajakku ke Farin yang sedang duduk di teras rumah Shani.

“Janji yah entar di jawab!” teriak Shani sesudah aku masuk kedalam mobil.

Setelah menghidupkan mesin, aku dan Farin pun meninggalkan rumah itu untuk pulang ke rumah. Sebenarnya aku ingin menjawab pertanyaan itu, tapi aku tak berani, “Dasar Arez payah, gitu aja gak berani jawab, payaaah payaah,” teriakku dalam hati.

“Ohh iya Kak, si Shani tadi nanya apa?” tanya Farin tiba-tiba, menyadarkanku dari lamunan.

“Gak ada nanya apa apa kok,” jawabku bohong.

“Diih, jangan bohong, tadi aja dia minta jawaban sama Kakak, atau jangan jangan dia nembak Kakak yah?” selidik Farin.

“Kagak lah, dia gak seberani itu,  juga gak sebodoh itu mau nembak gue yang jelek dan kucel ini,” ucapku membela diri.

“Bhahaha, hati seseorang mana ada yang tau Kak, kalau dia juga naksir Kakak, gimana?” tanyanya.

“Entah, tapi itu tetep aja di luar nalar dan logika gue,” jawabku, ”Gak usah deh berharap terlalu banyak, melihat dia tiap hari di kelas aja gue udah seneng dan itu udah cukup membuat gue bahagia,” ucapku.

“Cieee, yang sedang jatuh cinta,” ucap Farin menggoda.

“Udah ah, jangan bahas itu, dengerin mp3 aja dah sana, lu bikin gue gak konsen nyetir,” ucapku.

“Iyee.. iye,” jawabnya sambil memasang headset ke telinganya.

Aku pun mulai bisa menyetir dengan konsen setelah Farin diam dan mendengarkan musik di ponselnya. Setelah 30 menit perjalanan, sampailah kami di rumah tepat dengan berkumandangnya suara adzan di mesjid dekat rumah.

“Kok lama banget sih ngantar kateringnya?” tanya ibuku.

“Dia ketemu sama calon pacarnya Mah,” jawab Farin sambil berlalu memasuki rumah.

“Ehh, bohong dia Mah,” ucapku, “Cuman ketemu temen aja tadi, temen sekelas kuliah, gak nyangka aja itu rumahnya,” jawabku.

“Ahh…, gak begitu Mah yang sebenarnya terjadi,” ucap Farin lagi lalu berjalan pergi menuju kamarnya.

“Faaariiiinnn!” teriakku.

“Udah… udah, gak usah berantem, udah adzan magrib, malu sama tetangga,” ucap ibuku sambil berjalan masuk ke dalam rumah.

Setelah ibuku masuk, aku pun memasukkan mobil kedalam garasi lalu pergi menuju kamarku untuk mengambil peralatan mandi.

~o0o~

Jam menunjukkan pukul 22.14, aku baru saja selesai makan malam dan sholat isya. Ketika sebuah pesan singkat tiba-tiba saja masuk dan membuat ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

“Siapa sih malam malam begini ngirim pesan,” pikirku sambil bergerak mengambil benda itu. Setelah membaca sebentar, ternyata pesan itu dari Shani;

“Rez, temuinin aku dong di taman kota, ada yang mau aku omongin.” ketiknya di pesan itu.

“Lhoo, ngapain sih nih anak malam malam di taman? perasaan malam ini dia ada acara perayaan ulang tahun,” pikirku bingung. “Ya udah deh, aku datangin aja, kasian dia sendirian di taman, gawat kalau kenapa kenapa,” ucapku lagi dalam hati.

Aku pun langsung mendatangi ibuku di kamarnya untuk minta izin pergi keluar dengan alasan buat menemui teman dan syukur saja diizinkan, asalkan pulangnya tidak terlalu tengah malam.

Ketika aku di depan pintu, tiba-tiba saja Farin keluar dari kamarnya hendak ke kamar mandi.

“Mau kemana Kak, malam malam begini?” tanyanya yang nampak baru bangun tidur.

“Mau ketemu teman, ada yang mau diomongin” jawabku.

“Ohh, pintunya kunci dari luar aja,” pesannya dengan tampang muka masih ngantuk.

“Iyaa,” jawabku sambil berjalan keluar kemudian mengunci pintu rumah dari luar. Setelah mengunci pintu pagar, aku pun berangkat menuju taman menggunakan sepeda motor bututku.

Sesampainya di taman, aku perlu berkeliling taman dulu untuk mencari Shani yang entah berada di mana. Setelah sekitar 5 menit mencari, aku menemukannya sedang duduk sendiri di bangku panjang yang nampak seperti bangku di bawah pohon tempatku memandanginya tiap hari kamis.

“Heiii, ada apa?” sapaku begitu sampai, sekaligus bertanya. Sepertinya dia lagi ada masalah, pikirku.

“Ehh.. ehh..” ia nampak terkejut saat aku berada di dekatnya dan langsung menggerakkan tangannya seperti sedang menyeka air mata di wajahnya.

“Shani.., kamu nangis?” tanyaku dan langsung beranjak duduk di sampingnya. “Ada apa, Shan? kok kamu nangis. Malam ini kan perayaan ultah kamu, kok malah nangis di sini?”

“Orang tua aku gak datang Rez,” jawabnya sedih.

“Kenapa? mereka tau kan hari ini kamu ultah?” tanyaku.

“Mereka tau, tapi mereka seperti gak peduli sama aku,” jawabnya dengan suara sedikit parau, “Mereka cuman sibuk mikirin pekerjaan mereka masing-masing, mereka seperti gak pernah sekalipun mikirin anaknya bahagia.” Dari nada ia bicara, sangat jelas ia nampak sangat kecewa.

“Tapi kan mereka kerja buat kamu juga,” ucapku.

“Tapi bisa gak sih sehari aja waktu mereka buat anaknya, uang gak selalu bisa bikin aku bahagia juga kok,” jawabnya dan kembali menangis.

“Hemm, ya udah kamu nangis aja dulu, keluarin semua kesedihan kamu, biar hatinya gak sedih lagi,” ucapku.

Entah berapa menit aku terdiam di sini, mendengarkan Shani menangis, mengeluarkan curhatan dari hatinya yang selama ini ia pendam tentang orang tuanya yang selalu tak punya waktu untuknya, hingga akhirnya dia berhenti.

“Jadi, gimana perayaan ultah kamu malam ini? batal?” tanyaku memulai pembicaraan lagi, setelah banyak kesunyian antara kami berdua.

“Jadi kok, cuman sebentar aja. Setelah acara selesai aku langsung kesini. Karena bingung pengen ditemenin sama siapa, jadi aku kirim pesan ke kamu,” jawabnya dengan suara yang masih parau.

“Oh, syukur deh kalo jadi, kalau gak jadi kasian ibuku udah capek-capek bikinin pesanan kamu, ehh.. malah gak jadi dimakan, kan mubazir,” ucapku.

“Emm, gak kok, acaranya jadi kok tadi,” jawabnya nampak lesu.

“Jadi sekarang udahan acara nangisnya?” tanyaku sedikit bercanda.

“Heh? Iya, udah kok, tapi masih sedih nih” jawabnya dengan mencoba sedikit tersenyum.

“Udah, gak usah dibawa sedih. Mungkin kali ini mereka memang lagi sibuk banget. Bisa aja sekarang atau besok mereka pulang ke rumah trus ngucapin selamat ulang tahun ke kamu. Tapi, biarpun mereka gak ngucapin gak papa juga kan. Ulang tahun kan emang gak terlalu perlu dirayain atau diucapin. Dipikir-pikir bukannya umur bertambah tapi malahan berkurang, jadi buat apa dirayain,” ucapku menasehatinya dan sok bijak.

“Hemm, iya juga sih. Buat apa bersedih gak dapat ucapan selamat berkurangnya umur,” jawabnya mulai sedikit semangat.

“Naaahh, gitu dong. Ya udah, pulang yuk, udah dingin nih,” ajakku.

“Hemm, iya deh, tapi aku ikut kamu yah,” pintanya.

“Looh, kamu gak bawa motor atau mobil?” tanyaku.

“Bawa kok, mobil, tapi aku pengen ikut kamu,” jawabnya.

“Terus, mobil kamu gimana?” tanyaku bingung.

“Gak papa, biar besok sopir aku yang ngambil.”

“Hemm, baiklah kalau kamu maunya begitu,” ucapku pasrah, “Oh iya, nih pakai jaketku, nanti di jalan dingin.” Aku menyerahkan jaketku padanya.

Setelah ia naik, aku pun menjalankan motorku untuk mengantarnya pulang. Karena motorku sudah terlalu tua jadi aku hanya bisa membawanya dengan kecepatan 60 kilometer per jam saja. Jadi, perjalanan menuju rumah Shani sangat santai sekali.

“Rez, aku boleh nanya sesuatu gak?” tanya Shani yang duduk di belakangku tiba-tiba.

“Mau nanya apaan?”

“Aku boleh tau gak perasaan kamu ke aku?” tanyanya blak-blakan.

JLEB!!

Hatiku tiba-tiba seperti tertusuk anak panah dan membuatku langsung terdiam. Sebuah pertanyaan yang sangat aku takutkan dari sore tadi. Sebenarnya aku sudah tahu bakal menjawab apa, cuman aku terlalu takut untuk mengatakannya.

“Hemm, gimana yah,” ucapku ragu, akibat perasaan yang sekarang kurasakan campur aduk.

“Gimana apanya? Kamu cuman perlu jawab aja kok,” ucap Shani.

“Mengungkapkan perasaan itu gak segampang itu Shan.” Aku memberi alasan.

Tiba-tiba saja dia memelukku. Aku terkejut, terdiam dan hanya bisa bertanya-tanya, kenapa dia memelukku.

“Sebenarnya, aku udah tau kok perasaan kamu ke aku itu gimana,” ucapnya dan semakin membuatku seperti patung, “Aku juga tau kok kamu sering duduk di bawah pohon di taman, buat liatin aku latihan dance. Tapi, kamu kok gak mau ungkapin perasaan kamu sama aku?” tanyanya sambil terus memelukku.

“Emm…, aku gak berani Shan,” jawabku jujur, nampak seperti orang yang kalah dalam perang sebelum bertempur.

“Kenapa?” tanyanya.

“Aku takut dengan perbedaan kita Shan, aku hanya orang biasa, sedangkan kamu orang kaya. Aku gak mau bila aku nembak kamu trus gak diterima, aku gak mau merasakan sakit hati. Jadi, mending aku pendam aja,” jawabku jujur.

“Jahat,” ucapnya ketus sambil membenamkan wajahnya di belakangku, membuatku semakin merasa bersalah.

“Kok, jahat?” Tanyaku.

“Iya, jahat. Kamu cuman mikirin perasaan kamu aja, tapi gak mikirin gimana perasaan aku.” Ia semakin erat memelukku, “Aku kan mau jadi pacar kamu.”

“Heh! jadi pacar aku?” tanyaku tak percaya.

“Iya, jadi pacar kamu,” jawabnya. “Kamu mau kan?”

Aku terdiam, bingung dengan apa jawaban yang harus aku berikan padanya, karena semua ini berbeda dengan apa yang kupikirkan.

“Kok diam? ini serius Rez,” ucapnya mengembalikanku ke alam sadar.

“Bukan begitu Shan, emang kamu tau aku ini orangnya gimana?” tanyaku, “Kamu juga belum tau sifatku yang sebenarnya bagaimana, dan kita pun juga baru dua kali bicara. Bagaimana bisa kamu mencintaiku?” tanyaku.

“Aku tau kok kamu orangnya baik,” jawabnya seperti yakin sekali aku seperti itu.

“Apa sih alasan kamu jadi mau jadi pacar aku?” tanyaku, “Walau memang aku suka sama kamu, tapi apa alasan kamu sampe mau sama aku?”

“Karena aku mencintaimu,” jawabnya bergumam namun aku masih bisa mendengarnya dan dia kembali terasa mempererat pelukannya di pinggangku.

“Baiklah kalau kamu memang mau,” ucapku sambil menghela napas, mengalah dengan keadaan yang sedang kuhadapi, “Kamu juga sudah tahu perasaanku, aku mau kok jadi pacar kamu,” jawabku.

“Beneran?” tanyanya sambil menempelkan kepalanya di pundakku, “Makasih yah,” tambahnya.

“Iya, sama-sama,” jawabku padanya, “Tapi, kamu masih punya satu hutang janji sama aku.”

“Hutang janji? janji apa?” dia terdengar bingung dengan ucapanku.

“Hutang jawaban, kenapa kamu mencintaiku,” jawabku, “gak mungkin dong cuman karena cinta doang.”

“Emm…, kalo kapan-kapan jawabnya, boleh gak?”

“Gak usah dijawab juga gak papa kok, cuman perlu diingat aja, bila suatu saat kau merasa bosan, kamu harus ingat alasan kenapa kamu memulai semua ini,” ucapku.

“Oke deh.” Ia kembali mempererat pelukannya di pinggangku, seakan tak ingin melepasku selamanya.
TAMAT.
Cuap-cuap Author:

Maaf yah, kalo ceritanya kurang asik. Maklum lah, masih pemula buat nulis fanfict. Kalo ada yang salah, jangan segan buat ngasih komen, kritik dan sarannya yah 😌

gue tunggu kok 😁
@authorgagal

Iklan

14 tanggapan untuk “Bolehkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s