Pengagum Rahasia 2, Part 25

Di suatu pusat perbelanjaan, tepat tengah hari…

“Ah…Hah!”

Wanita itu berhenti dengan nafas terengah-engah.

“Sorry shan! Ah…capeknya!”

“Hemm…,”

“Sorry aku sedikit telat shan,”

“Sedikit…ini telat 1 jam sin! Tega banget kamu sampai bikin aku nunggu berjam-jam,”

“Fuuuuuh…,” Sinka mengehembuskan nafas panjang

“Tadi ada sedikit problem di rumah, jadinya telat deh,”

“Huh…,”

“Jangan marah dong shan…kita ini kan temenan,”

“Ah! Gimana tiketnya? udah di beli kan?” lanjut Sinka

“udah kok, tinggal tunggu mainnya aja,”

“Masih lama yah?”

“Jam 2,” balasnya singkat

“Terus sekarang kita mau kemana?”

“Karena udah tengah hari kayak gini sih…mendingan kita cari makan deh. Btw di deket sini ada warteg yang murah banget sin!”

“W-Warteg!? Gak salah tuh? Kita ini cewek, masih muda juga shan, kenapa kita harus makan di warteg sih!”

“Loh? Kenapa emang? Makanan warteg enak-enak sin! Bayangin…semua jenis sayur cuma serebuan! Nasi di itung empat ribu! Jadi kalau kamu pesen nasi sama sayur cuma lima ribu doang sin!”

“Keliatan banget yang suka makan di warteg,” timbal Sinka

“ya begitulah… kamu tau kan semua keluarga aku tuh kerja, sampai malem-malem lagi pulangnya. lantas kalau gak ada makanan di rumah? Ya ke warteg lah!”

“Pfftt…Hahahaha! Boleh juga shan,”

“Boleh juga makan di warteg?”

“Bukan! Maksudnya boleh juga joke kamu, hihi…,”

“Hiss! Jadi gimana sin…mau gak ke warteg?”

“iya deh iya,”

“Oke lets go!”

10 Menit kemudian…

*

*

“Disini shan?”

“Yup!”

“Wartegnya mewah banget, kayak rumah makan biasa,”

“Itulah kenapa warteg yang ini tuh spesial sin, yuk masuk,” ajak Shania

Mereka mulai mencari meja yang kosong.

“Eh-eh sin, kamu mau menu apa aja? Biar aku yang pesenin deh, ntar kamu tinggal cari meja,” ucap Shania

“umm…aku mau ampela sama capcay aja deh,”

“Pake nasi?”

“ya jelas pake lah! Bloon ya?” balas Sinka

“Oke sip!”

“Kalau gitu aku cari meja dulu ya shan,” Sinka mulai pergi mencari meja

Tanpa berlama-lama, akhirnya ia mendapatkan meja yang kosong dan cukup nyaman karena dekat dengan cahaya matahari serta kolam ikan.

“Ini kosong kan? Tapi kenapa masih ada piring-piringnya ya?” pikir Sinka

“Ah, lagian piringnya juga udah kosong ini kok, palingan bekas orang yang tadi duduk disini,”

Ketika sinka duduk di kursi tersebut…

“Eh? Mbak masih ada orangnya,”

“Oh! M-Maaf yah, tadi saya kira…,”

“Lah, Sinka ternyata,”

“Ihza! Ng-ngapain disini!?”

“ya makan lah! Harusnya sih gw yang nanya gitu, ngapain sih di warteg sin!?” balas Ihza

“Disini ya sin mejanya? Eh ada si kutu kupret!”

“Oh sama dia ternyata,” ucap Ihza lagi

“Kok keliatannya ke Shania biasa aja sih za!” ucap Sinka

“Dia kan sering ke warteg, lah kamu? Seorang Hime-sama makan di warteg, kan aneh,”

“Ek!” Sinka dengan wajah yang memerah terlihat malu sekali

*Puk! “Nape za?” ucap seseorang sembari menepuk pundak Ihza

“Deva!” ucap Shania

“Oh, ada mereka berdua yah,” ucap Deva dengan santai

~oOo~

“Ekhem…,”

(Suara piring-piring berdentingan)

“Ekhem! Ekhem!”

“Hiss! Kenapa sih sin! Kamu lagi sakit ya?” ucap Shania

“Kenapa kita malah duduk berempat gini sih shan!” ucap Sinka

“Gak apa-apa kali, karena kita kebetulan ketemu gini kan?” timbal Shania

“Terlebih lagi kenapa kita harus semeja sama dia!” tunjuk Sinka

“G-Gw!?” balas Deva

“Makan-makan sana, ribu segala sih,” ucap Ihza

“Ah, gimana soal latihan kelompok kita selanjutnya dev? Kamu yang nentuin ya,” ucap Shania dengan mulut yang penuh

“Eh…harusnya kan cewek yang tentuin,” balas Deva

“Kenapa?” balas Shania lagi

“Kalau cowok yang mutusin, pasti bakalan kagak setuju deh” ucap Ihza

“Eh…entah kenapa kata-kata lu itu sedikit ambigu za, ahaha…,” ucap Deva

“Tapi-tapi emang bener tuh kata Ihza,” tambahnya

“yaudah sin kamu yang tentuin,” ucap Shania

“Uhuk! Ohok-Ohok!”

“Eh! M-Minum dulu minum!” Shania mengambil sebotol air dan memberikannya pada Sinka

*Glek-Glek!

“Kaget tau shan!”

“Sorry-sorry, kamu sih keenakan makan,”

“tadi kamu bilang apa?” ucap Sinka

“Kamu yang bakal tentuin latihan musik kita kapan,”

“Dih, suruh dia aja yang nentuin,” tunjuk Sinka lagi

“G-Gw? Tapi kan…,”

“Ssshhhh, tentuin aja cepet!” ucap Shania

“Oke fine, di rumah Sinka besok,”

*Gebrak! “What!”

“Ueeeh! Kenapa harus mukul meja sih Sin!” ucap Shania

“K-kenapa besok? Dan kenapa harus di rumah aku!?” ucap Sinka

“Tuh kan, pasti gak bakal setuju,” ucap Deva

“Jelasin kenapa harus di rumah aku dev!”

“Karena rumah kamu itu lega, bukan maksud aku nyindir rumah shania itu sempit…tapi kan kalau kita latihan band kayak gitu bagusnya di tempat yang lega,”

“Bener juga sih,” ucap Shania

“T-Tapi kan di rumah aku gak ada alat musik apapun dev!”

“Gw bisa bawa gitar kok,” timbal Deva lagi

“Hoi-hoi, kalian bisa berhenti ngomongin latihan band kagak? Kayaknya gw gak berguna disini,” ucap Ihza

“Huft…Kenyangnya,” Shania menyimpan garpu dan sendok itu

*Sret!

Deva menyobek tisu itu, kemudian ia mendekati Sinka.

“G-Ghaaah! Mau ngapain dev!” ucap Sinka

“Makan belum beres udah ngomel-ngomel, sampai-sampai banyak nasi di mulut kamu sin. Belepotan amat makannya, kayak anak kecil,”

“EK!” Sinka tampak malu dengan menujukan pipi yang memerah

“…Gak usah sok perhatian dev! Kamu urus aja sana kak Veranda!”

*Trank!

            Tiba-tiba suara piring berdenting keras dan suasana menjadi hening.

“Eng…S-Sorry, gw mau ke toilet dulu…,” ucap Deva kemudian pergi

“umm Dev…,”

Kini Sinka menyadari bahwa perkataannya tersebut tidak pantas untuk di ucapkan.

“Ah-eh…za, abisin punya aku,” ucap Sinka

“Loh? Beneran?” ucap Ihza

“Iya abisin aja,” Sinka beranjak dari kursinya

“Mau kemana sin?” tanya Shania

“Aku mau cuci muka, keliatan berminyak banget dari tadi,”

Shania terdiam.

~oOo~

*Jeglek!

Seseorang baru saja keluar dari toilet tersebut.

“Eng dev,”

“Whaa!”

“Ah! M-maaf…kayaknya aku ngagetin kamu,”

“Eh sinka,”

“Kenapa?” lanjut Deva

“A-Aku cuma….aku cuma mau minta maaf soal kata-kataku yang tadi. Seharusnya aku gak bilang kayak gitu, pasti sekarang kamu benci sama aku kan dev? Aku gak mau di benci orang, apalagi sama kam…,” ucapnya menggantung

“Ak…Ek…bukan apa-apa, hehe…,” lanjut Sinka

“Aku gak marah sin, ahaha…,”

“Eh!?” Sinka mengernyitkan dahinya

“yah…aku cuma gak nyangka sih, ternyata kamu sampai tau sejauh itu. Aku pikir kamu udah bener-bener gak peduli,”

Raut wajah Sinka tiba-tiba berubah.

Pipinya memerah…Semakin memerah…semakin memerah…dan…

“Aaaaaakkk! Jangan kira aku tau sejauh ini bukan karena aku suka sama kamu dev! Jangan kira kalau aku tuh cemburu dev! Kamu jangan salah paham!”

“Waa! K-kenapa jadi ngamuk!?” ucap Deva

*Brak!

Sinka mendorong Deva hingga ke tembok.

“J-Jangan sampai ada orang lain yang tau soal pembicaraan kita ini dev, terutama mereka berdua yang lagi nunggu kita,” ucap Sinka berbicara pelan

Sementara itu Deva hanya mengangguk.

“Huh!” Sinka melepaskan Deva dan pergi

“Sin…,” panggilnya

“Hemmm,” ucap Sinka tanpa membalikan badan

“Maaf…,”

“Hmm?”

“Maaf kalau aku udah bikin kamu sakit hati…,”

Sinka terdiam dengan menundukan kepala.

Kemudian ia berbalik dan berkata…

“Aku gak pernah merasa sakit hati karena kamu kok dev, hihi…,” ucapnya sembari tersenyum

“yang harus kamu tau, meskipun kamu udah tau segalanya sin, perasaan aku ke kamu gak pernah berubah kok. Dan juga…,”

“Sssssshhhh…Jangan nembak aku di tempat kayak gini dev, uhuk!” potong Sinka

“Eh?” Deva tampak kebingungan

“Gaaaah! A-Aku gak bermaksud pengen di tembak sama kamu dev! Tadi itu….eng…yah lupakan!” *GEPLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi kanan Deva.

“Lah!? Kenapa gw di gampar!?” ucap Deva sambil mengusap pipi kanannya

~oOo~

“Nah tu mereka!” ucap Ihza

“Lama banget sin? Eh kalian berdua habis ngapain!? Perasaan tadi pergi ke kamar mandinya gak barengan kan!” ucap Shania

“Ish! Cuma kebetulan ketemu aja!” timbal Sinka

“Dev kayaknya bentar lagi main deh,” ucap Ihza

“Wah! Seriusan!?”

“Iya, kan di jadwalnya jam 2,” timbal Ihza lagi

“Eh iya sin, film kita juga udah mau main deh kayaknya. Sekarang udah jam setengah 2 nih,” ucap Shania

“yaudah kita langsung kesana deh,” ucap Sinka sembari membereskan barang-barangnya

“Dev, za…kita pergi dulu ya,” ucap Shania

“Oh…oke,” balas Deva sedangkan Ihza hanya mengangguk

“Yo Dev! Kita juga musti caw sekarang!” ucap Ihza

Deva mengangguk.

Mereka pun segera pergi ke tempat yang di tuju.

Sekitar 15 menit dalam perjalan untuk sampai ke bioskop yang di tuju. Saat mereka sampai di depan pintu bioskop, tidak disangka mereka akan kembali bertemu dengan…

“Deva!”

“S-Sinka!”

“Hoi-hoi, kenapa bisa papasan lagi sih?”

“Kalian berdua mau nonton Ouija juga?”

“Emang, terus lu berdua juga?” ucap Ihza

“K-Kenapa bisa jadi gini!” ucap Sinka

“maaf, antriannya masih panjang,” ucap penjaga pintu bioskop itu

“Eh! M-maaf mbak…,” Shania pun segera masuk ke dalam, di ikuti oleh Sinka, Deva dan Ihza

~oOo~

“S-Shan!”

“Ish apalagi sih sinka! Kan filmnya belum main…kok udah ketakutan gitu sih!”

“T-Tapi…kenapa aku duduk di pinggir deva!” bisiknya

“Bagus kan kalau ada cowok di samping kita? Biar gak takut gitu…hehe…,”

“Lagian si ihza juga ada di pinggir aku sin,” tambah Shania

“Hah? Lu manggil gw?”

“Eh, kagak kok za,” timbal Shania

“Brrrr! Dingin bener! Za-za jaket lu!” ucap Deva yang duduk di paling ujung

“Oh, nih…,” Ihza hanya melemparnya sampai ke paha Sinka

“S-Sin!”

“Ghaah! Apa!? Kenapa!?” ucap Sinka dengan gelagatnya yang aneh dan linglung itu

“Itu jaket! Siniin!” ucap Deva sambil menggosok-gosok kedua bahunya

“Jaket mana!? D-Dimana dev!”

“Heh!”

“AKH!”

Deva langsung memegang tangan Sinka dan mengambil jaket itu.

“Malah di sembunyiin di tangan, Heh!” ucap Deva dengan geram

“I-iya maaf dev,” ucap Sinka dengan lembut

“Sin?”

“Kenapa dev?”

“Kamu ini aneh banget, ada sesuatu yang salah yah??”

“Ah enggak kok dev, aku cuma sedikit kaget doang tadi,”

“Serius? Jangan bikin aku khawatir sin,”

“Ek! Kamu khawatir!?”

“ya pasti lah! Kamu ini semenjak masuk ke bioskop jadi aneh sin, apa mungkin kamu kerasukan?”

“Huss! Kamu ini asal ngomong aja dev!” ucap Sinka menyangkal

“Ahahaha! Bercanda kok, gitu aja ngambek!” ucap Deva sembari mencubit pipi Sinka

“Hiiiih!” Sinka merasa risih dan langsung melepas tangan Deva

“Jangan ngelakuin hal-hal yang seolah-olah kita tuh udah pacaran dev!”

“Weee…cuma cubit doang kok, soalnya dari tadi warnanya merah sin,”

“EH! S-Serius!?”

“Iya! Dua rius malah!”

“Ish! Masih bercanda aja ternyata!” Sinka tampak ingin memukul Deva

Tiba-tiba…

*BRANGGGGG!

“Aaaaaaakkkkk!” Sinka menjerit sambil memeluk Deva

“Hoi-hoi, lu berdua malah mesra-mesraan gitu,” ucap Ihza yang duduk di samping Shania

“Sin-sin, kamu malah memanfaatkan kesempatan gelap-gelapan gini,” ucap Shania

“Gah! T-tadi aku kaget shan! Sumpah! Kenapa sih nih film pake ada acara backsound yang ngagetin segala!”

“Y-yah, entahlah hehe…,” balas Deva

“Eh!?”

Sinka baru menyadari kalau dirinya masih memeluk Deva.

“Ahk! Kenapa kamu malah manfaatin badan aku dev!” ucap Sinka sembari memeluk tubuhnya

“Lah, kan kamu sendiri yang peluk? Lagian aku gak keberatan kok, soalnya anget,”

“HEH! Aku pukul ya!”

“Pssssstttt!” Deva menutup mulut Sinka

“Jangan ribut terus! Nanti orang-orang pada keganggu!” bisik Deva

“Eng! EMMM!” wajah Sinka semakin memerah, namun setelah itu ia hanya mengangguk

“Hemm…seharusnya aku tinggalin kalian berdua aja tadi,” ucap Shania

“ssshhhh! Jangan ikutan!” bentak Sinka namun dengan suara pelan

Setelah itu, mereka pun menikmati filmnya bersama-sama. Hampir sekitar 2 jam setengah, mereka keluar dari bioskop.

*

*

(Suara keramaian orang yang keluar dari pintu bioskop)

“Sin? Kamu pucet banget?” ucap Shania

“Emangnya serem banget ya filmnya?” lanjtunya

“Ah! Eng…enggak kok shan, cuma tadi itu…,”

            -Flashback-

*JRENG-JRENG!

“Duh sin, kamu ini keliatannya gak suka film horror, harusnya gak ikut nonton,”

“Berisik! Jangan ceramahin aku dev!”

“yah…meskipun gitu, kamu masih pegang tangan aku sin,”

“AH! S-Sorry dev,”

*BRENG~

*AAAAAAAAAKKKKKK!

“AHHHHH!” Sinka tampak kaget dan langsung memeluk Deva

            -Flashback Off-

“Tadi apa?”

“EH! B-bukan apa-apa kok hehe…,”

“Yo, kalian masih disini ya,”

“Eh za,” ucap Shania

“udah jam 4 sore, pulang deh gw,” ucap Deva

“Mau langsung pulang dev?” tanya Ihza

“ya iyalah! Emangnya mau kemana lagi?” tanya Deva balik

“Shan, aku juga mau langsung pulang deh, capek banget nih,” ucap Sinka

“Shan?” panggilnya lagi, namun Shania masih belum menyautnya

Tak lama kemudian…

“AH! Halo buk? Iya kenapa?”

“Eh!?” Sinka tampak kebingungan

“Oh! Siap-siap buk! Sekarang saya kesana bareng ihza deh!”

“Hah? Apaan?” ucap Ihza

“Oh oke-oke! Baik terimakasih buk!”

*Tet!
Shania mengakhiri panggilan itu.

“Duh sin! Aku ada panggilan mendadak dari wali kelas kita tadi!”

“A-apaan! Kamu ini jangan bercanda shan!” ucap Sinka

“Serius! Katanya disuruh anterin buku ke ruangannya buk mella, aku bilang bakalan pergi bareng Ihza karena kalau aku sendiri yang bawa buku kan berat,”

“Kenapa gak bareng deva juga!?” ucap Sinka

“Ah…nanti kamu gak ada yang nganterin pulang sin, kan aku gak tega,” balas Shania

“Ish! Ini pasti cuma akal-akalan kamu doang kan shan!” ucap Sinka lagi

“Akal-akalan apaan sih sin? Dev, anterin dia pulang gih,” ucap Shania

“Eng…oke deh,”

“Nah za, yuk buruan!” Shania mendorong-dorong Ihza menjauh dari tempat itu

“S-Sabar napa seh!” balas Ihza

Suara mereka berdua perlahan menghilang. Kini tinggal Sinka dan Deva saja yang ada di tempat itu.

“Gimana? Mau langsung pulang?”

“Ah! I-iya deh aku mau langsung pulang dev,” balas Sinka

Deva mengangguk dan kemudian jalan lebih dulu.

“S-Sinka! Kenapa ini!? Kenapa hari ini kamu bener-bener berbeda! Kamu kan biasanya kuat nahan perasaan kamu sin! Tapi sekarang kenapa jadi gini!?”

“Sin?”

“Eh! Kenapa dev?”

“Kamu gak kenapa-kenapa kan?” tanya Deva

“Eng…enggak kok dev, makasih yah udah perhatian,”

Deva tersenyum. “Jelas perhatian lah, kamu ini kan cewek yang aku suka disekolah,”

*DEG!

Jantung Sinka berdegup keras.

“Ah-Haha…jangan bicara hal yang memalukan gitu deh dev,”

“Dih, kamu sendiri kan tau sin, bahkan udah 3x aku nembak kamu,”

“Gimana soal hubungan kamu sama kak Veranda dev?”

“Eh?” Deva tiba-tiba menatap tajam ke arah Sinka

“Duuh gimana yah…,”

“Jangan sampai kamu bikin kak veranda sakit hati, aku gak suka kalau kayak gitu,”

“Lagipula kak veranda itu kan orangnya baik, ramah, sopan…,”

“Ramah-sopan avaaan! Dia gak tau mode liar Ve itu gimana!” batin Deva

“Dan juga keliatannya care banget sama orang…,”

“yang haru kamu tau sin, sebenarnya itu cuma salah paham,” potong Deva

“Eh? S-Salah paham!?” ucap Sinka sembari mengeryitkan dahinya

“Oh sorry, mungkin gak cocok kalau di sebut salah paham, tapi lebih tepatnya ini cuma karena aku yang gak tegaan sih,” Jelas Deva lagi

“Gak tegaan!?” Sinka semakin kebingungan

“Mungkin sekarang kamu bertanya-tanya, apa sih maksudnya? Apa sih yang deva omongin? Tapi aku pikir kamu belum saat tau semua hal itu sin,” Jelas Deva lagi

“Aku tau Ve itu orangnya baik, tapi…,”

“Tapi apa dev? Kamu gak cinta sama kak veranda?” ucap Sinka

Deva tiba-tiba terdiam.

“Aku…aku gak bisa jelasin sin, aku bingung…,”

“Kenapa dev! Kamu tinggal jelasin semuanya ke aku!” Sinka tiba-tiba memaksa

“Aku tau ini sedikit maksa, tapi aku juga gak mau kalau sampai ada pihak yang di sakiti,” ucap Sinka lagi

“T-Tapi sin…Aku kan cuma suka sama kamu!”

“Maaf dev…,” ucap Sinka

Deva terlihat shock.

“Mungkin belum saatnya…aku minta maaf dev,” ucap Sinka lagi

Deva masih terdiam, tak lama kemudian…

“Hehe…,” Deva tersenyum

“Eh,” Sinka pun menatap ke arah Deva

“Aku ngerti kok sin, aku ngerti kenapa kamu nolak aku,”

“Lagipula aku gak tau apa yang harus aku jelasin ke kamu. Terlebih lagi sekarang aku berada di posisi yang benar-benar gak bisa di jelaskan secara langsung, terutama di depan kamu,”

“Aku minta maaf ya sin,” tambahnya lagi

Sinka tersenyum. “Aku akan selalu menunggu waktu yang tepat dev, kalau udah saatnya…aku…,”

“Eng…yah, kalau gitu makasih ya dev udah nganterin aku,”

Tanpa terasa mereka kini berada tepat di samping sebuah taksi.

“Eh cuma sampai sini? Mau naik taksi sendirian sin?”

“Jangan khawatir dev, aku berani kok,”

“Seriusan!?”

“Iya, gak apa-apa kok,” ucap Sinka lagi

“Tunggu sebentar!”

Deva melepaskan jaket itu.

“Sin, ini emang bukan jaket punya aku, tapi aku pikir ini bakalan berguna nanti,”

“Eh?”

“Langit kelaitannya udah gelap banget, kayaknya bakalan hujan lebat,” ucap Deva

“Tapi kamu gimana dev!?”

“Aku udah biasa hujan-hujanan kok, yaudah kalau gitu hati-hati ya sin,”

*DAG!

            Deva menutup pintu taksi itu.

Perlahan taksi itu mulai berjalan, semakin jauh Sinka menatap ke arah Deva dari jendela taksi tersebut.

“De…Va…,”

Air mata itu menetes ke tangannya…

~oOo~

*Bruuuzzzzz!

“Ternyata emang hujan yah,”

Deva diguyur hujan yang begitu lebat.

“Cih! Oke gak apa-apa! Meskipun 4x ditolak, gw masih semangat!”

*EHK…Hiks…

Air mata itu bercampur dengan air hujan yang mengguyurnya.

Ia berjalan menyusuri jalan meskipun hujan begitu lebat.

“Mungkin gw emang gak ditakdirkan sama dia kali ya? Ahahahaha!”

“eh kalau dipikir-pikir…,”

Deva tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

Ternyata itu adalah sebuah kalung dengan sebuah huruf *S* di tengah.

*CLAP!

“UHK! Hampir gw jatuh!”

“Lah kalungnya mana!?”

*Ting-Ting…

“Sialan! Malah ke lempar ke jalanan lagi!”

Deva buru-buru mengambil kalung itu di tengah jalan, akan tetapi…

*TIDIIIIIITTTT!

            Lampu mobil begitu terang dan perlahan suara hujan pun menghilang.

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

10 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 25

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s