The Ballad of the Dragonstone. Part 1.

 

Dinding luar kerajaan Earthbound, kerajaan terakhir manusia.

Aku terjatuh menghantam tanah yang penuh lumpur, aku melihat kuda ku terjatuh ke tanah dan merintih kesakitan. Salah satu kaki yang terpotong oleh pedang ogre yang sedang memandangi ku.

Palu ku terlepas dan terjatuh tepat dibawah kaki bersisik ogre yang tertawa karena merasa mempunyai semua waktu di dunia untuk membunuh ku, tentu saja aku tidak akan terus berbaring di tanah seharian menunggu ogre itu menusukan pedang yang menembus kepala ku.

Aku melompat berdiri dan mengeluarkan belati kecil yang di berikan Kyla sebelum aku berangkat menjawab panggilan dari Raja, yang mungkin sedang sibuk membunuhi ogre dibaris depan.

“Aku akan membawa kepala mu kepada Ratu ku, aku yakin dia akan senang menambahkan kepala Lint sang penghancur kedalam koleksi nya,” ucap ogre itu sambil mengayun ayun kan pedang panjang nya.

“Kau tahu, aku rasa aku ingin kepala ku tetap dimana itu seharusnya berada,” aku rasa itu tak terlalu buruk.

Ini bukanlah saat terbaik ku, juga bukan saat terbaik untuk kerajaan ku, kerajaan terakhir manusia. Kerajaan diserang dan aku sedang berada di hutan timur kerajaan melawan pasukan ogre yang berusaha menembus masuk dinding pelindung kerajaan.

Dia maju menyerang ku, yang terbaik yang bisa ku lakukan adalah mengenggam erat belati ku. saat dia tepat berada didepan ku dan mengayunkan pedang nya, aku melompat kesamping dan menusukan belati ku ke samping badan nya.

Dia berteriak atau lebih tepat nya meraung saat mencabut belati ku dan melemparkan nya kearah ku, aku menunduk dan mengambil palu ku yang terjatuh dan mengenggam gagang nya erat erat.

Berat nya palu ini saat pas ku rasa, meski banyak orang yang mempertanyakan kenapa aku mengunakan alat tukang besi untuk berperang, aku adalah seorang adik Raja yang menurut orang orang bisa mendapat senjata yang lebih baik; tapi satu hal yang tak mereka tahu adalah aku lebih suka menghancurkan kepala seseorang dari pada memenggal mereka.

Aku berlari menyerang ogre yang melihat ku dengan emosi, jelas saja aku baru menusuk kulit jelek nya dengan belati perempuan. Ayunan pedang nya goyah karena luka tusuk yang ku berikan, saat itu lah aku mengayunkan palu ku dan menghantam mulut nya yang penuh taring membuatnya terbang menghantam pohon.

Aku menjatuhkan palu ku, aku merasa marah dan sedih melihat kondisi gabriella. Dia hanya bisa meringis kesakitan sambil terus menendang nendangkan kaki nya, aku menunduk tepat di depan nya, mengelus kepala nya mencoba mengurangi rasa sakit nya.

“Kau sudah melakukan tugas mu dengan baik,” ucap ku.

Air mata nya mengalir. Rasa sakit yang dia rasakan pasti sudah tak sanggup dia rasakan, satu satu nya hal yang bisa ku lakukan adalah mengakhiri nya. Ku lemparkan pandangan ku mencari belati ku yang dilemparkan oleh ogre jelek itu, yang akhirnya ku temukan menancap di pohon.

Aku berdiri dan mencabut belati itu dari pohon, saat aku berjalan kembali ke Gabriella aku melihat kondisi ogre itu yang sudah berantakan, dia pantas mendapatkan nya aku bisa saja menghancurkan nya lebih buruk tapi Gabriella membutuhkan ku. Aku kembali duduk tepat didepan kuda ku, ku arahkan belati ku tepat ke bawah leher nya sementara tangan kanan ku menahan kepala nya.

“Aemes* terima lah dia,” aku melihat Gabriella air mata nya sudah membasahi pipi coklat nya”Maafkan aku.”

Aku menusukan belati ku menembus leher nya, kepala nya bergerak liar tetapi tangan kanan ku menahan nya. Aku menarik belati ku keatas mengiris dagu hingga tepat ke bawah mulut nya lalu ku tusukan lebih dalam belati ku sampai dia tak bergerak lagi.

Aku tak merasakan lagi napas nya, rintihan nya juga sudah tak ku dengar Gabriella pergi menemui Aemes mendahului ku. Suara derap kuda ku dengar dari arah garis depan, ku ambil lagi palu ku menunggu apa yang datang. Dari kejauhan ku lihat ada beberapa orang berkuda kearah ku, aku mengenali jirah yang mereka pakai, sang Raja telah datang.

“Lint, kau tak apa apa ?” tanya sang Raja yang melihat ku dengan khawatir.

“Aku baik, apa kita menang ?”

“Kita menang, pasukan kita sudah memenggal kepala setiap ogre yang menyerang kerajaan kita. Kecuali ini semua, yang kepala nya hancur kau buat.”

Aku memandang sekitar ku, mayat beberapa ratus ogre tergeletak dengan kepala yang hancur. Aku rasa aku terbawa suasana dan tanpa sadar sudah membunuh mereka semua.

“Aku hanya melakukan tugas ku,”

“Ya kau benar, tapi aku turut sedih untuk kuda mu. Aku akan menyuruh orang menguburkan nya, kau kembali lah aku tak ingin Kyla khawatir,”

“Baik lah, tapi tolong urus dia dengan baik. Kuda itu sudah banyak membantu ku.”

Aku memandang kearah Gabriella, saat beberapa prajurit menutupi nya dengan kain. Hari ini kami berhasil memenangkan pertarungan, tetapi aku kehilangan teman yang berharga dan itu membuat kemenangan ini terasa pahit.

Aku menaruh palu ku dipunggung dan mulai berjalan pulang, aku bisa melihat dinding kerajaan yang ku lindungi masih berdiri kokoh.

“Tuan pakai lah…,”

Baron datang dengan kuda nya memukul prajurit itu sebelum dia sempat menyelesaikan ucapkan nya.

“Apa yang kau lakukan ?” ucap ku yang mempertanyakan tindakan Abang ku yang tak seharusnya memukul prajurit nya sendiri.

“Bukan masalah, pulang lah, tidur dan besok kau temui aku,”

“Tidur terdengar bagus.”

Aku melanjutkan langkah kaki ku sambil ditemani aroma darah yang memenuhi udara, cukup banyak ogre yang hampir mencapai tembok. Tapi pemanah pemanah kami yang handal membunuh mereka semua, aku melihat banyak prajurit yang mengumpulkan anak panah dan senjata lain yang masih bisa digunakan.

Mereka semua menunduk dan memberikan ku jalan, sesampai nya aku di gerbang sebuah kereta kuda sudah menunggu ku. Aku naik dan membiarkan nya membawa ku kembali ke rumah ku.

Aku membersihkan wajah ku dari darah ogre, darah mereka cukup lengket dan berbau menjijikan. lalu aku menyandarkan tubuh ku ke kursi kereta sedikit istirahat adalah yang ku butuhkan.

Ketukan dari luar membangunkan ku, aku rasa istirahat ku berubah menjadi tidur siang yang cukup lelap.

“Tuan kita sudah tiba,”

“Aku akan segera keluar,”

Aku mengambil palu ku dan keluar dari kereta, prajurit itu lalu menunduk dan pergi membawa kereta nya. Kyla sudah menunggu ku, dia berdiri menunggu ku dan aku sangat senang melihat nya menyambut ku.

“Kau baik baik saja ?”

“Aku baik, hanya Gabriella tak bisa lagi membantu ku,”

“Dia sudah berada disisi Aemes sekarang, masuklah kau harus mandi lalu kau menemani ku dan Zara untuk makan malam.”

“Baiklah.”

Aku mencium pipi nya lalu berjalan masuk, aku meletakan palu ku ke dalam lemari. Kyla tak ingin Zara melihat darah atau senjata apapun di dalam rumah, sehingga palu ku selalu berada di dalam lemari tepat di pintu masuk. Aku juga melepaskan baju jirah ku dan meletakan nya di lemari, jirah itu penuh darah jadi Kyla pasti menyuruh seseorang untuk membersihkan nya.

Suasana rumah ku begitu menenangkan, beberapa pembantu datang menghampiri ku dan membersihkan sisa sisa darah dari badan ku. Mereka semua mendapat perintah itu dari Kyla semenjak Zara pernah melihat bercak darah di wajah ku, dan dia harus mengarang cerita yang panjang agar Zara tak tahu itu adalah darah peri yang ku bunuh. Setelah mereka memastikan tak ada lagi bercak darah yang menempel, mereka semua pergi sehingga aku bisa pergi menemui putri ku.

Aku bukan lah orang yang punya banyak keinginan, dan satu satu nya alasan aku terus menjawab panggilan Raja untuk melindungi negeri ini adalah putri ku. Aku tak peduli dengan semua hadiah yang terus dikirimkan, aku tak peduli dengan gelar atau pun ketenaran. Aku hanya ingin Zara terus bisa belajar dan bermain, dan untuk memastikan hal itu aku tak peduli harus melawan mahluk apapun.

Saat aku masuk dia sedang belajar dengan guru musik nya, dia nampak kesulitan mengikuti contoh guru nya untuk memainkan salah  lagu satu yang menceritakan bagaimana Baron Dragonstone melindungi negeri ini. Begitulah ada nya, Baron selalu diceritakan dengan berani sementara lagu ku diceritakan dengan kengerian.

Tapi lagi lagi Kyla meminta guru musik Zara hanya mengajarkan satu lagu ku, lagu yang bercerita bagaimana aku menyelamatkan bayi tupai yang jatuh dari pohon. Aku tak mempermasalahkan bagaimana orang orang menceritakan ku, aku suka bagaimana Zara yang menyanyikan lagu tupai ku dengan ceria.

Melihat kedatangan ku guru itu berhenti dan membuat Zara bertanya tanya, tetapi saat guru itu menunjuk ku putri ku itu langsung berlari dan melompat kearah ku. Aku menangkap nya yang semakin berat, dia memeluk ku seperti yang biasa dia lakukan.

 

Blood Palace, kerajaan bangsa monster.

Seorang ogre yang selamat berhasil sampai kembali ke Blood Palace, ibu kota kerajaan Immortales. Segera setelah sampai dia dibawa menghadap ratu mereka yang sudah menunggu kabar atas rencana penyerangan ke kerajaan terakhir manusia.

Luka di badan nya belum diobati, tangan kiri nya yang putus hanya diikat dengan potongan kain. Tak ada yang peduli karena satu satu nya yang mereka perdulikan hanya lah informasi tentang penyerangan.

Sang Ratu datang, semua orang tertunduk melihat keagungan sang Ratu. Gaun nya berhias permata hitam yang kontras dengan warna gaun nya yang berwarna merah darah. Mahkota nya terbuat dari tulang naga terakhir yang dibunuh oleh nya sendiri, sebuah kipas dari bulu pheonix menghiasi tangan nya.

Wajah sang Ratu berbalut kesal, bukan karena mendengar kabar penyerangan nya gagal, dia bahkan tak peduli dengan hal itu, yang membuat nya kesal adalah tidur siang nya yang terganggu karena mendengar ada ogre yang datang dan membawa laporan hasil penyerangan.

Sekarang sang Ratu melihat ogre yang mengganggu tidur siang nya, dan dia berusaha tak membunuh nya sebelum dia mengatakan semua informasi yang dibawa nya.

“Bicara lah.” perintah sang Ratu.

Ogre itu mengangkat wajah dan memandang Ratu nya, dia merasa rendah melihat keagungan yang sedang dilihat nya. Dia tak peduli dengan rasa sakit dari tangan nya, dia berdiri dan kembali menunduk di depan sang Ratu.

“Pasukan dihancurkan oleh Baron dan monster yang membawa palu,” ucap ogre itu dengan suara lantang.

“Apa kau sadar apa yang baru kau ucapkan ?”

“Maaf Ratu tapi itu yang terjadi,”

Ratu menutup kipas nya dan merasa sudah cukup mendengarkan laporan tentang gagal nya penyerangan oleh pasukan nya. Sang ratu pun kembali untuk melanjutkan tidur siang nya, sementara sang ogre yang membawa laporan itu dibawa pergi.

“Monster yang membawa palu, dasar bodoh. Kita adalah bangsa monster dan mereka hanya lah manusia,” gumam sang Ratu saat dia berjalan menuju kasur nya.

“Manusia lemah, apa kau yakin itu ?” ucap sebuah suara dari dalam bayang bayang.

“Adik kalau kau ingin berbicara tunjukan wajah mu, kau ingat aku adalah Ratu mu,”

Seorang pria muncul dari dalam bayang bayang, atau itu lah bentuk dari sesuatu yang keluar dari bayang bayang itu. Dia tak memakai sesuatu yang mewah meski dia adalah adik Ratu, hanya memakai pakaian kulit sederhana yang menutupi seluruh badan nya, wajah nya tertutup oleh tudung berwarna hitam hanya sedikit wajah nya yang terlihat.

“Kak, kau menjadi Ratu karena aku lah yang membiarkan nya. Jika aku mau, aku bisa menjadi Raja, tetapi menjadi Raja itu merepotkan,” ucap pria itu dengan suara yang berat.

“Godin, ayolah kita sudah membahas ini sebelum nya. Biarkan aku yang mengurus semua nya, kau bersenang senang lah.” Ucap sang Ratu sambil berguling ke sisi lain tempat tidur yang lebih dekat dengan adik nya.

Godin memandangi kakak nya, mahluk yang cantik yang bisa dibandingan dengan Veranda. Mahluk terindah di seluruh putaran bumi. Dia tahu bahwa Kakak nya tak terlalu peduli dengan dengan perang, atau mungkin melaksanakan tugas nya sebagai Ratu. Dia hanya peduli tentang diri dan kecantikan nya, Godin tak terlalu mempermasalahkan itu. Dia hanya perlu kecantikan sang kakak untuk membuat seluruh rakyat patuh, dan juga sebagai boneka yang bisa dikendalikan.

“Lalu kau tahu sesuatu tentang monster berpalu ini,” ucap sang kakak.

Godin tersenyum, mendengar kakak nya yang tiba tiba bertanya tentang hal yang benar.

“Dia adik Raja, pria tanpa ambisi yang hanya ingin melindungi keluarga nya,” jawab Godin.

“Orang tanpa ambisi ya, tipe orang yang susah dipengaruhi,” ucap sang adik.

“Itu memang benar, tapi ada banyak cara mengunakan seseorang tanpa harus mempengaruhi nya,”

Godin kembali menghilang ke dalam bayang bayang meninggalkan sang Ratu untuk kembali melanjutkan tidur siang nya. Sang ratu berguling ke sisi lain dari tempat tidur nya, sisi yang lebih dekat dengan pintu kamar nya. Dia menepukan tangan nya dan salah satu dayang nya datang.

“Bagaimana saya bisa membantu anda Ratu ku,” ucap dayang itu dengan sopan.

“Aku ingin tahu semua tentang adik dari Baron Dragonstone,”

“Saya mengerti Ratu,”

“Baiklah kau boleh pergi,”

Sekali lagi dayang itu bersujud lalu berjalan keluar meninggalkan Ratu nya untuk beristirahat, semua pembicaran itu membuat sang Ratu lelah sehingga dia memutuskan untuk kembali melanjutkan istirahat nya.

Sementara di dalam bayang bayang Godin sedang merencanakan apa langkah selanjutnya dari rencana nya. Seorang pelayan nya masuk dan membawa sebuah tas kulit untuk dipersembahkan kepada Godin tuan nya.

“Saya membawakan mendapatkan nya seperti permintaan anda tuan,” ucap pelayan itu sambil mempersembahkan tas kulit nya.

Godin dengan senang hati menerima tas itu yang berarti rencana nya berjalan sesuai dengan rencana. Dia meletakan tas itu diatas meja dan mengambil beberapa koin ruby sebagai hadiah untuk pelayan nya.

“Sedikit hadiah untuk pelayanan mu,”

“Terima kasih tuan,” ucap pelayan itu menerima hadiah nya. “tetapi tuan jika anda berkenan boleh saya bertanya sesuatu,”

“Aku tak keberatan,”

“Tuan kenapa sampai harus melakukan penyerangan sia sia hanya untuk itu, kita bisa mendapatkan nya di dalam kerajaan,”

“Kau tahu, aku tak salah menjadikan mu sebagai pelayan ku. Kau cerdas tetapi ada beberapa hal yang belum kau pelajari, benda ini memang bisa ditemukan dimana saja. Tetapi hanya karena kau bisa menemukan daun dimana pun tak berarti mereka semua sama,”

“Maaf tuan saya tak mengerti,”

“Kau akan menjadi yang pertama mengerti jika waktu nya tiba,”

Pelayan itu masih tak mengerti maksud tuan nya tetapi dia sadar sudah cukup lancang untuk mempertanyakan tindakan tuan nya, dan dia tahu sudah saat nya dia pergi membiarkan tuan nya untuk sendiri.

Godin kembali ke meja dan membuka isi tas kulit yang baru dibawakan pelayan nya, mengeluarkan isi nya, demi mendapatkan itu dia meminta kakak nya menyerang EarthBound. Seperti yang dikatakan pelayan nya itu memang penyerangan sia sia, tetapi demi mendapatkan bagian penting dari rencana nya itu sudah cukup.

To be continue.

 

Chris.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s