Pesawat Kertas & Buku Kecil

pesawat-kertas

Tittle                : Pesawat Kertas & Buku Kecil

Genre              : Drama, Romance, School

Author             : Galus Gani Pratamayudha a.k.a Silent Rose

Cast                 : – Gan Tama Yudhara as Tama

– Shania Junianatha as Shania

Type                : One-shoot (Short Story)

Happy Reading

Hei, kalian tau? Aku ingin melukis dunia, dimana bermacam keanekaragaman berdampingan dengan harmonis. Efek dari goresan kuas dan perpaduan warna pasti akan sangat indah sekali. Bagaimana? Kamu ingin mencobanya? Jika ingin, ayo kita melukis bersama. Dan mungkin jika kita melukis bersama, kita akan menemukan sesuatu yang lebih indah lagi. Contohnya, seperti dirimu yang hanya bisa dimiliki satu orang saja. Ah, seandainya aku bisa memilikimu, pasti aku akan sangat bahagia..

~Pesawat Kertas & Buku Kecil~

‘BRUK.. BRUK..’ Seorang lelaki tampan yang memakai pakaian rapih putih hitam dengan jas hitam dan dasi hitam sedang mengobrak-abrik barang lamanya pada sebuah kotak. Entah apa yang dia cari, padahal sebenarnya apa yang dia cari adalah benda baru, bukan benda lama yang sekarang tersimpan di gudang dan terlapisi oleh debu yang tebal..

Menggunakan masker agar debu tidak masuk ke pernapasan, juga menggunakan sarung tangan agar tangannya tetap bersih. Walau pakaiannya sekarang sudah cukup kotor karena terkena noda dari benda sekitar..

Masih keras kepala mencari apa yang dia inginkan, sehingga dia tidak sengaja menarik sebuah kertas yang terlipat dan membuatnya robek..

Dia buka lipatan itu dan mendapatkan sebuah tulisan yang indah, “‘Aku Men…?’ Kertas apa ini? Tulisan apa ini?” Gumamnya setelah membaca tulisan besar yang terpotong itu. Itu hanyalah kertas biasa, kertas putih biasa yang sudah sangat usang namun tulisan besar masih terlihat sangat jelas, tapi karena itulah rasa penasarannya pada kertas itu sangat mendominasi sehingga dia melupakan barang yang dia cari..

Dia kembali memisahkan benda pada kotak itu untuk mencari potongan dari kertas itu, hingga dia mendapatkannya. Dia ambil potongan itu dan membukanya, dan terlihatlah lanjutan dari tulisan sebelumnya. “‘cintaimu?’ Hah?” Gumamnya bingung. Lalu dia sadari jika itu bukanlah kertas biasa, itu adalah kertas yang spesial untuknya. Dia sudah mencarinya beberapa tahun belakangan ini, namun tidak dia temukan dan akhirna terlupakan karena profesinya sebagai pelukis membuatnya sibuk..

“Ehh? Air mata?” Dia tidak menyadari jika air matanya mengalir melalui pipinya. Jika digabungkan, kertas itu akan menampilak sebuah tulisan ‘Aku Mencintaimu’, lalu di sampingnya ada sebuah sketsa seorang lelaki dan wanita yang bergandengan tangan. Dia tersenyum bahagia dalam tangisannya, sekarang dia ingat kertas apa itu. Apalagi dia juga menemukan sebuah buku kecil yang mengingatkannya pada kehidupannya ketika duduk di bangku sekolah dasar hingga dia sukses seperti sekarang. Sungguh kenangan yang sangat indah untuknya..

### 25 Tahun Yang Lalu ###

~~~Author PoV~~~

“Ibu mau tanya, apa cita-cita kalian?”

“Aku bu!! Aku bu!!” Semua murid kelas 4 SD mengacungkan tangannya ketika sang guru bertanya. Tentu saja, mereka yang polos sangat ingin menunjukan pada semuanya tentang cita-cita mereka. Setidaknya mereka ingin dipuji..

“Iya, Tama, apa cita-cita kamu?” Sang guru menunjuk seorang siswa laki-laki yang paling semangat. Namanya adalah Gan Tama Yudhara, umurnya adalah 10 tahun..

“Iya, bu!! Cita-cita aku jadi pelukis terkenal yang bisa ngalahin pelukis terkenal dan penuh misteri di dunia ini, bu!! Yaitu Leonardo Da Vinci!!”

“HAHAHA!!”

“Kenapa ketawa?!!”

“Yah, kamu ‘kan jelek kalau ngelukis, gimana mau ngalahin pelukis terkenal?” Ledek seorang temannya. Kemudian guru pun menanyakan cita-cita pada murid itu, dan murid itu pun menjawab jika dia ingin menjadi seorang pilot. Dan semua murid berdecak kagum kecuali Tama yang merasa dikalahkan oleh temannya itu..

“Dengarkan ibu, anak-anakku tersayang. Cita-cita itu penting buat kalian, ibu pasti dukung dan berdo’a buat kesuksesan kalian dan tercapainya cita-cita kalian, entah kalian mau jadi pelukis, pilot, pemain band, presiden, atau yang lainnya, semua itu baik buat semua orang, ibu pasti dukung!! Jadi, kejar cita-cita kalian, jangan sampai kalian putus asa. Mengerti?”

“MENGERTI, BUUUU!!”

~

Ketika para murid lain beristirahat, Tama masih asih dengan dunianya sendiri. Dia mencoba untuk mengasah skill-nya dalam melukis, entah itu tulisan atau sebuah gambar. Dia juga tidak memperdulikan kedatangan temannya yang ribut itu, dia tetap asik di dunianya sendiri. Dia menggambar seorang lelaki dan wanita yang bergandengan tangan pada kertas putih yang kosong..“Kurang, butuh tulisannya” Pikirnya begitu. Dia pun membuat kaligrafi pada kertas itu, ‘Aku Mencintaimu’. Dan sesaat tulisan itu akan selesai, temannya pun merebutnya, beruntungnya tidak robek..

“Woah!! ‘Aku mencintaimu’, kamu mau pacaran? Dasar!! Masih kecil udah mikir pacaran!!”

“Balikin!! Itu belum selesai!! Itu juga bukan urusan kamu, lagian aku nggak mau pacaran dulu” Hardik Tama. Tentu saja dia kesal dengan tingkah temannya itu, walau mereka sudah sering bercanda, tetapi kali ini Tama sedang tidak mau bercanda. Karya pertamanya itu sedang dijadikan mainan oleh temannya, dia tidak terima..

Dan bukannya dikembalikan pada Tama, temannya itu malah melipat kertas itu menjadi sebuah pesawat. Tama langsung mendekat, namun ditahan oleh temannya yang lain. Hanya butuh beberapa detik saja, kertasnya itu sudah terlipat menjadi bentuk pesawat..

“WOAH!! JANGAN DIJADIIN PESAWAT!!”

“HAHAHA!! Aku ‘kan mau jadi pilot, jadi harus naik pesawat!! Ayo terbang!!” Teriaknya senang sambil menerbangkan pesawat itu keluar kelas. Karena mereka berada di lantai dua, otomatis kertas itu terbang cukup lama karena tiupan angin. Tapi Tama melihat pesawat kertas itu mendarat di kelas bawah, di lantai satu..

Tanpa diam terlalu lama, dia langsung turun ke bawah untuk mengambil pesawat itu. Sungguh, dia merasa kesal dengan tingkah temannya itu, tetapi dia tidak bisa membencinya. Mungkin dia akan membalasnya di lain hari karena yang dia pikirkan sekarang adalah karya pertamanya..

Saat Tama sampai di bawah, seorang gadis yang sedang duduk ternyata memegang pesawat kertasnya itu, dan dia hendak membuka kertas itu. Tama tentu saja panik karena tulisan yang terdapat pada kertas itu. Meski dia baru duduk di kelas 4 SD, tetapi dia sudah tau cinta-cinta dan segala macamnya, itu karena pengaruh kakaknya yang duduk di bangku SMA dan sering membawa pacarnya ke rumah. Dia panik karena tulisan itu bukan untuk menyatakan perasaan cinta, tulisan itu belum selesai..

“JANGAAAAN!!” Teriak Tama yang memancing perhatian murid lainnya, tapi tidak untuk gadis itu. Dia tetap membuka kertas itu, dan akhirnya terbuka. Dan gadis itu terkejut dengan isi surat itu, dia tersipu, wajahnya memerah, ternyata dia juga tau tentang cinta-cinta dan segala macamnya. Dia melihat sekeliling, kemudian saat melihat ke arah Tama datang, Tama langsung merebut kertas itu dengan cepat..

“!!!??”

“Hah… Hah… Hah… Udah aku bilang jangan dibuka!!” Kesal Tama kelelahan. Dia menghadap pada gadis itu, dan dia sendiri terkejut karena melihat gadis itu yang malu-malu dengan wajah memerah. Tapi yang lebih mengejutkannya lagi, dia tau siapa gadis itu..

“…..” Dia memandang gadis itu dengan tatapan polos, tapi disaat yang sama, gadis itu melirik dan menatap langsung pada Tama. Mereka berdua saling menatap, jantung seakan berhenti, waktu seakan berhenti, mereka sadar tidak sadar sedang saling menatap saat ini. Perasaan mereka berubah, mereka yang baru duduk di bangku 4 SD, tanpa mereka sadari mereka sudah masuk ke dalam jeratan yang dinamai cinta..

“Kamu… Kamu Shania ‘kan? Shania Junianatha, anak kelas A?” Tanya Tama. Bocah itu sendiri berada di kelas C. Beberapa saat kemudian, Shania mengangguk menjawab pertanyaan Tama. “Ehh? Dia ngerti? Bukannya tadi suara aku cukup kecil, yah?” Pikir Tama kebingungan. Dan akhirnya dia sadar sepenuhnya..

Shania Junianatha, dia gadis yang sangat terkenal di sekolahnya. Dia sangat pintar, dia sangat cantik, dia murid terpintar di angkatan Tama, tidak heran jika dia sangat terkenal. Dengan rambut panjang hingga punggung atas, wajah yang dihiasi tahi lalat di dekat bibirnya, itu menjadikannya ciri khas-nya dan seolah berkata pada murid lain ‘aku Shania Junianatha’ karena tidak ada murid lain yang memiliki tanda mirip seperti Shania..

Tapi satu hal yang membuatnya menjadi murid yang paling berbeda dari murid lainnya, mungkin hanya ada beberapa orang murid seperti Shania yang bisa bersekolah di sekolah normal karena kepintaran otaknya. Ya, ‘sekolah normal’ sedikit disisipkan untuk murid seperti Shania. Itu karena gadis cantik nan pintar itu seorang tuna rungu dan tuna wicara. Itu sebabnya gadis itu juga menggunakan alat bantu dengar..

Sehingga ketika Tama bertanya, gadis itu masih diam menatap mata Tama. Lalu beberapa saat kemudian, gadis itu mengangguk..

“Anu, itu kertas punyaku, bisa kamu kasih ke aku?” Tama meminta pada Shania, dan Shania pun mengangguk. Itu semakin membuat Tama bingung, padahal yang dia tau jika gadis itu kesulitan mendengar, tapi dia bisa tau ketika Tama bicara dengan saling bertatap wajah..

Shania mengulurkan kertas itu pada Tama, dan Tama pun mengambilnya. “Anu, maafkan aku. Tadi temanku jahil, itu sebenarnya bukan untuk pernyataan cinta. Tulisan itu belum selesai” Jelas Tama mencoba untuk menghilangkan kesalah pahaman ini. Shania kembali mengangguk mengerti sambil tersenyum. “Ini, aku kayak ngomong sama robot yang cuman bisa ngangguk doang” Pikir Tama jengkel..

“Kamu bisa denger aku?” Tanya Tama memastikan. Shania menggerakan tangannya dengan isyarat berhenti, atau mungkin menunggu maksudnya. Lalu dia menulis pada sebuah buku kecil..

“Aku bisa mendengar, tetapi cenderung tidak bisa. Jadi suaramu terpotong dan terdengar sangat kecil di telingaku. Aku bisa mengerti karena aku membaca gerakan bibir dan lidahmu””. Tama membaca tulisan itu dan mengangguk-angguk mengerti maksud dari tulisan itu..

“Jadi, kamu bisa baca gerakan bibir dan lidahku?” Tama kembali bertanya..

“Bukan hanya gerakan bibir dan lidah saja, tetapi gerakan atau getaran tubuh seseorang yang berbicara pun aku bisa mengerti. Jadi aku tau apa yang diucapkan seseorang, walau terkadang aku salah mengartikannya karena memakai huruf vokal yang sama”

“Hmm, aku ngerti sekarang. Ternyata walau kamu punya komunikasi yang buruk, tapi kamu punya mata sama otak yang bagus. Yah, nggak kayak aku yang cenderung bodoh terus seenaknya aja” Ujar Tama senang. Dan Shania tertawa kecil ketika melihat Tama yang mengeluh, sepertinya dia senang sekali dengan kehadiran Tama..

“Jangan seperti itu, kamu harus bersyukur sudah diberikan indera yang berfungsi J” Tama membaca tulisan itu yang diujungnya diberikan gambar senyum..

“HAHAHA!! Iya iya iya, aku ngerti, kok!!” Tawa Tama senang. “Oh ya, aku Gan Tama Yudhara, kamu bisa panggil aku Tama” Lanjut Tama memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya, Shania pun menjabatnya dengan senang hati sambil tersenyum. Dan smilling eyes pun dia tunjukan pada Tama, bocah itu senang dengan Shania..

“Oh ya, apa kamu suka melukis?”

Tama terkejut dengan pertanyaan Shania, dia bisa mengetahui jika hobinya adalah melukis. Walau itu baru 3 bulan dia pikirkan dan tekuni dengan sungguh-sungguh, bahkan memaksa pada orang tuanya untuk membelikan peralatan melukis yang lengkap. “Iya, walau baru sebentar. Dan cita-citaku menjadi pelukis terkenal. Kamu tau dari mana?”

Sejenak Tama menunggu, dia akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya berkomunikasi dengan orang yang kesulitan dalam mendengar dan berbicara. Cukup membosankan dan membuang waktu karena dia tidak bisa mengerti dan bisa melakukan bahasa isyarat tangan seperti beberapa ahli dalam ketika menghadapi orang seperti Shania. Tapi ada rasa penasaran yang sangat besar ketika menunggu jawaban tidak langsung dari Shania, itulah kesannya baginya..

“Aku hanya menyimpulkan dari gambar lelaki dan wanita dan kaligrafi pada kertas itu. Pelukis terkenal bagiku sangat hebat, karena bisa mengartikan sebuah gambar tertentu dan menjadikannya sesuatu yang lebih indah”

“Woah!! Kamu ternyata emang hebat, cuman gitu, tapi bisa nebak hobi orang lain. Andai aja aku punya keahlian kayak gitu, pasti nggak perlu nanya-nanya lagi”

“Hihihi… Ternyata sikap malas dan mengeluhmu lucu juga. Aku suka itu ^_^ “

“Yah, makasih banget pujiannya. Oh ya, emangnya hobi kamu apa? Dan cita-cita kamu”

“Hobiku membaca, itu untuk menambah pengetahuanku dalam membaca gerakan bibir sambil memperagakannya walau tanpa suara. Dan cita-citaku menjadi guru, aku ingin mengajar bagi orang-orang yang mengalami kekurangan sepertiku agar mereka tidak putus asa J “

“Itu cita-cita mulia, jadi guru. Tapi aku yakin kamu pasti bisa”

“Terima kasih banyak ^_^” Balas Shania yang terus tersenyum sambil menunjukan catatan kecilnya. Senyuman itu, Tama merasakan hal yang sangat menyenangkan ketika melihat senyuman Shania. Seolah dia sedang melihat sebuah pemandangan yang sangat indah dari atas bukit. Senyuman itu, Tama ingin melukisnya bersama wajah yang menampung senyuman itu, bersama kepala yang menerima wajah itu, bersama tubuh yang menyangga kepala itu. Dia sangat ingin melukis Shania yang tersenyum secara total..

“Pinjam sebentar!!” Ujar Tama sambil merebut catatan Shania tanpa seizin Shania. Lalu dia menunjukan sebuah tulisan pada Shania, dan itu tentu saja membuatnya terkejut. Dia meminta catatan itu untuk membalasnya, kemudian dia berikan kembali pada Tama untuk dia balas, dan begitu beberapa kali hingga catatan itu berhenti pada Shania, dan mereka berdua pun saling memberikan senyum terbaik mereka yang kemudian mereka saling mengaitkan jari kelingking mereka untuk menepati janji itu, janji yang mereka tulis di buku milik Shania..

Pertemuan pertama mereka, ternyata sangat spesial. Ada sebuah istilah cinta pada pandangan pertama, tapi mereka belum merasakan hal semacam itu secara penuh. Mereka hanya merasakan dan menanggap ‘dia teman yang sangat baik’, begitulah yang mereka pikir. Otak dan pikiran mereka masih muda, harus diisi dengan hal baik seperti persahabatan, bukan cinta-cinta dan segala macamnya yang bisa membuat hubungan mereka hancur..

Pesawat kertas itu bagaikan sebuah pengantar perasaan, seperti sebuah takdir yang mempertemukan mereka berdua. Ya, memang fungsi sebuah pesawat adalah untuk mengantar seseorang menuju tempat yang mereka inginkan. Transportasi terbaik dan tercepat di dunia..~~~~~

~Ayo Bersahabat!!~

~~~Auhtor Pov~~~

“Ayo bersahabat!!” Ajak Tama senang. Shania pun mengangguk senang menerima ajakan Tama, dan mereka kembali mengaitkan jari kelingking, sama seperti yang mereka lakukan tiga hari yang lalu..

Tama masih tidak percaya jika dirinya yang terlalu bangga dengan cita-citanya dan cenderung murid yang kurang pintar di kelasnya, bisa bersahabat dengan murid terpintar di angkatannya. Bermacam-macam reaksi teman kelasnya ketika menyadari Tama yang sering turun ke bawah dan menghabiskan waktu duduk bersama murid yang tidak bisa berkomunikasi dengan normal, mulai dari cuek, iri, atau bahkan mencibir Tama, dan terkadang memuji Tama (atau lebih tepatnya menyindir Tama secara tidak langsung dengan cara memuji Tama agar Tama tidak menyadarinya)..

Tapi yang namanya pengintimidasian selalu ada entah di SD, SMP, SMA, atau bahkan jenjang perguruan tinggi, terlebih lagi pada orang yang memiliki kekurangan fisik. Sama seperti dalam sebuah cerita, film, atau komik, ketika ada seseorang yang ‘tidak normal’, maka orang sekitar cenderung akan meledek orang itu. Hal ini pun terjadi pada Shania yang memang mengalami pengintimidasian itu, dan sudah menjadi rahasia umum jika hal itu terjadi. Sebuah ‘budaya’ yang sulit dihilangkan..

“Tuli!! HAHAHA!! Bisu!! HAHAHA!! Dasar cewek nggak normal!!” Setidaknya itu ejekan yang sering di dengar mereka berdua. Tama baru mengetahui hal ini karena dia memang baru mengenal dekat Shania. Tapi, untuk teman perempuannya tidak seperti itu, mereka semua baik. Ya, hanya anak laki-laki saja yang bersikap seperti itu. kenakalan mereka memang sudah mengakar dalam diri seorang anak lelaki manapun..

“Kamu tidak keberatan bermain denganku? L”

“Hah? Ya nggak bakalan. Lagian, ngapain juga harus keberatan main sama kamu? Kamu ‘kan sahabat aku?”

Shania terdiam karena dia memang lebih suka diam. Ucapan Tama memang membuatnya senang, tetapi baginya seperti pujian. Ya, hanya Tama yang mau menganggap dirinya sebagai sahabatnya, gadis itu hanya memiliki satu sahabat saja, yaitu Tama. Dan walau sebenarnya ada pengelompokan antara sahabat atau teman, banyak yang berpikir ‘sahabat’ berada di atas ‘teman’. Jadi siapa yang mendapatkan sahabat, dia orang yang beruntung. Shania adalah salah satunya, dan Tama juga merasa menjadi orang yang beruntung..

“Kamu ini, ternyata kamu memang sangat menyukai melukis. Buktinya, hampir setiap kita bertemu, kamu menunjukan gambaran yang baru. Menurutku itu bagus karena aku tidak bisa melukis”

“Hmm? Hehehe… Makasih pujiannya. Tapi—”

‘SRET..’

“Woah!! Si bodoh dan si tuli ditambah si bisu main bareng!!”

“Woah!! Kalian semua!! Kenapa kalian robek kertasku?!! Kalian ngajak berantem?!!” Teriak Tama kesal ketika salah seorang murid menarik kertas Tama hingga membuatnya robek. Ada dua murid yang menjahili Tama, dan mereka berasal dari kelas Shania..

“Anak dari kelas C nggak pantes ada di depan kelas A. Mending kamu pulang aja ke rumah, terus tidur sambil nangis!!”

“!!!!!” Emosi Tama naik, dia marah terhadap murid itu. Dia tidak terima dengan perlakuan mereka terhadap dirinya dan Shania. Shania bisa mengatahui reaksi Tama dari ekspresi wajah dan gerakan tubuhnya. Dia menarik seragam Tama dan menggelengkan kepala pertanda ‘jangan berkelahi’. Tapi Tama tidak memperdulikan peringatan Shania dan melepas tarikan Shania, dan dia langsung berlari menuju murid yang memegang robekan kertas Tama..

‘BUG..’

***

“Kenapa kamu sampai segitunya, sayang?” Tanya Ibu Tama..

“Habisnya mereka yang duluan, bu. Tama lagi duduk sama Shania, mereka tiba-tiba nyerang kita, ya Tama serang balik aja!!” Tama mencoba untuk menjelaskan jika itu bukan salahnya atau Shania, tetapi temannya..

“Shania? Shania Junianatha? Anak yang susah mendengar sama berbicara itu?” Tanya ibunya memastikan..

“Iya”

“Kenapa kamu bisa main sama anak itu?”

“Ya nggak kenapa-napa, bu. Kenapa emangnya? Ibu nolak Tama main sama Shania?”

“Nggak nolak, tapi kalau kamu banyak main sama Shania, kamu juga bakalan kena ejek temen kamu”

“Nggak apa-apa, bu. Lagian Tama sama Shania udah jadi sahabat, terus Tama sama Shania juga udah megang janji buat nanti besar. Lagian apa salahnya main sama Shania? Mereka aja yang iri kalau Tama bisa deket sama murid paling pinter”

“Hooo? Janji masa depan? Dasar!! Masih kecil udah punya pikiran orang dewasa!!”

“Ya nggak apa-apa, lagian bukan yang aneh”

“Emangnya janji apa?”

“Ada aja, bu… Hehehe…”

***

Sekarang mereka sudah duduk di bangku kelas 6 SD, Tama dan Shania sudah benar-benar berubah sejak mereka saling beruhubungan ketika kelas 4 SD. Tama menjadi pribadi yang lebih cerdas karena bermain dengan anak yang cerdas, sedangkan Shania menjadi pribadi yang lebih aktif karena bermain dengan sosok Tama yang selalu aktif dalam apapun..

Tama sering meminta diajarkan mata pelajaran tambahan pada Shania, walau dia harus menahan sabar karena kekurangan yang dimiliki Shania membuatnya sulit untuk cepat memahami materi. Dan bukan hanya dalam belajar saja dia meminta bantuan pada Shania, bocah itu meminta pada Shania untuk mengajarinya bahasa isyarat. Otaknya yang masih muda mampu menampung banyak sekali informasi, sehingga pada akhir kelas 5 SD, dia sudah hafal betul seluruh bahasa isyarat. Dia mempelajarinya hanya dalam waktu satu tahun. Sepertinya dia memiliki kemampuan mengingat yang sangat baik. Begitu juga Shania yang awalnya malu-malu jika diajak bermain permainan oleh Tama karena dia orang yang pendiam. Ya, mereka saling memberikan keuntungan..

Kemampuan Tama dalam melukis pun semakin bertambah hebat, dia pernah ikut dalam sebuah lomba melukis di sekolahnya, dan menampilkan sebuah lukisan yang menurutnya terbaik. Dan karir pertamanya itu berhasil merebut posisi pertama, ternyata cita-citanya menjadi pelukis bukan hanya sebuah ucapan saja. Dan juga Shania yang menjadi motivasinya, serta janji mereka ketika di masa depan..

“Hei, Shania? Kamu mau masuk SMP mana?”

“Aku mau masuk SMP Negeri 1 Bandung. Kamu sendiri mau masuk SMP mana?”

“Hmm? Jadi gitu, yah? Aku maus masuk SMP Negeri 5 Bandung. Kita bakalan pisah”

“…..” Shania terdiam. Kemudian dia menulis catatan lagi, ““Kita ‘kan masih satu kota? Jadi nggak perlu pisah, ‘kan? J “”

“Hmm, iya juga sih. Tapi aku juga nggak tau dimana rumah kamu, jadi gimana bisa saling ketemuan?” Tanya Tama bingung. Shania pun menuliskan alamat rumahnya tanpa ragu, kemudian memberikannya pada Tama. Bocah lelaki itu pun melakukan hal yang sama dengan menuliskan alamat rumahnya pada catatan Shania dan memberikannya padanya. Shania merobek kertas itu, dia mengambil alamat rumah Tama, sedangkan dia memberikan alamat rumahnya pada Tama. Kemudian dia kembali menulis..

““Sekarang kita bisa main ke rumah siapa aja kapan aja!! ^_^ “”

“Hehehe…” Tama tersenyum lebar. Dia senang dengan kehadiran Shania, gadis itu benar-benar merubah kehidupannya yang masih muda. Seolah-olah Shania adalah gadis dewasa yang datang ke masa lalu hanya untuk dirinya, setidaknya itu khayalan tinggi Tama..

***

Seperti yang mereka harapkan setelah lulus SD, mereka masuk ke sekolah yang mereka inginkan dengan mudah. Dengan bekal selama di SD, atau lebih tepatnya ketika mereka bersahabat, mereka ingin menjadi lebih baik lagi. Setidaknya seperti itu yang mereka inginkan..

Awal masuk sekolah, Tama sering sekali datang ke rumah Shania. Tentu dia yang datang karena dia seorang lelaki dan dia orang normal, jadi dia harus mengalah dan menerima tugas itu. Tapi seperti kebanyakan orang bahwa manusia itu adalah makhluk sosial, beberapa hari kemudian, beberapa minggu kemudian, hingga pertengahan semester dua, Tama pun makin jarang mengunjungi Shania. Tama tentu mendapatkan teman baru, jadi dia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama teman barunya daripada bersama Shania. Tama yakin Shania juga seperti itu, tetapi yang dia heran adalah setiap dia datang ke rumah Shania, entah kebetulan atau tidak, Shania selalu ada di rumah dan sedang belajar. Tama tidak tau apakah itu kebetulan saja jika Shania sedang belajar, atau Shania yang kesulitan dalam mencari teman. Gadis itu pun tidak pernah menyinggung tentang teman barunya, Tama mengerti dan tidak mau menyinggung tentang teman baru Shania di sekolahnya..

Tapi meski menjadi jarang bertemu, sikap mereka pun berubah. Ya, mereka menjadi lebih aktif dan ‘akrab’ (anggap saja seperti itu) dari sebelumnya, terlebih lagi Shania. Shania seperti seorang gadis yang ditinggal pergi jauh kekasihnya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Dan ketika kekasihnya pulang, dia pun melepaskan kerinduannya pada kekasihnya itu. Tama tidak keberatan tentang perubahan sikap Shania yang bertahap, itu karena dia juga menikmatinya..

Dan karena sikap Shania yang berubah, Tama kembali seperti awal masuk sekolah yang sering datang mengunjungi Shania. Ya, pertemuan mereka seperti tidak ada bosannya. Shania pun menjadi sedikit terbuka dengan menceritakan kehidupannya di sekolah, dan Tama bahagia mengetahui Shania yang mendapatkan banyak teman meski dia memiliki kekurangan. Alasan dia sering ada ketika Tama datang memang hanya kebetulan saja karena dia juga sering bermain bersama temannya, dia juga sebenarnya bingung kenapa bisa seperti itu..~~~~~

~Sesuatu Yang Berharga~

~~~Author PoV~~~

Selama menduduki jenjang pendidikan SMP, Tama sering mengikuti lomba melukis di sekolahnya, entah antar kelas atau antar sekolah. Ya, dia benar-benar sudah menjadi murid yang terkenal, terkenal karena lukisannya yang indah dan memiliki makna tersembunyi. Seperti lukisan seorang lelaki yang sedang menerjang badai, atau lukisan pemandangan bukit dan mata hari dimana di puncak bukit itu terdapat seorang wanita yang sedang menunggu seseorang. Itulah penjelasan dari sang pelukis ketika ditanya ‘lukisan apa itu?’..

***

“Anu… Tama? Aku mohon… aku suka kamu, berpacaranlah denganku!!” Seorang siswi cantik menunduk menyatakan perasaan cintanya pada Tama sambil mengulurkan sebuah surat dan coklat. Murid biasa, hanya teman sekelas Tama. Dia cantik, pintar, bisa dikatakan idaman siswa kelas..

Tama kebingungan dengan hal semacam ini, dia tidak tau bagaimana orang berpacaran, tetapi dia belum pernah berpacaran dan tidak ada niatan untuk berpacaran. Dia ingin membalas kebaikan dan keberanian siswi cantik itu, tetapi dia bingung bagaimana caranya..

“Anu… aku belum pernah pacaran, aku nggak ngerti pacaran, aku juga nggak minat pacaran. Aku bingung harus gimana, aku nggak mau kamu sakit hati”

“…..” Gadis itu tetap diam. “Ini juga pertama kalinya buat aku” Akhirnya dia berbicara..

“Mmmmhh… gimana, yah? Kalau kamu belum pernah pacaran juga, ayo pacaran. Aku nggak begitu ngerti, tapi kita jalanin bareng aja”

“Benarkah?!!” Gadis itu sepertinya senang dengan penerimaan Tama. “Kalau gitu, tolong terima surat sama coklat aku!!”

“Ehh? Ok, kita makan coklat bareng aja, terus kita baca suratnya bareng aja”

“Ehh? Bareng-bareng? Anu… aku malu…” Gadis itu sangat manis ketika dia tersipu malu. Hmm, sepertinya Tama tertarik dengan gadis pemalu itu..

“Hah? Kenapa harus malu? Itu ‘kan buatan kamu juga?”

“Ya tapi aku maunya cuman kamu doang yang baca sendiri, nggak ada orang yang denger”

“Nggak, pokoknya harus makan coklat bareng sambil baca surat bareng!!”

“Iya deh iya”

Ya, pada akhirnya mereka memakan coklatnya bersama sambil membaca surat dari gadis itu, itu juga karena paksaan Tama. Lelaki itu memang keras kepala. Sambil tertawa, Tama membaca surat itu, sedangkan gadis itu hanya tersipu malu ketika Tama tertawa dan menggodanya terus menerus..

Dan siapa yang tau jika itu juga akan mengubah hidup Tama? Murid yang duduk di bangku kelas 3 SMP semester awal berpacaran, belum cukup umur. Tama melupakan Shania hanya dalam beberapa minggu saja, lelaki itu mudah sekali terbawa suasana di kehidupan sekitarnya..

Tiga minggu setelah Tama berpacaran dengan teman kelasnya, dia tidak pernah lagi datang ke rumah Shania. Dia seolah dihapus ingatannya tentang Shania, dan dia tidak menyadari hal itu. Yang dia sadari adalah ‘ternyata berpacaran itu seru dan menyenangkan sekali’, dan itulah yang dia rasakan dan pikirkan. Sedangkan dia sendiri sudah berpacaran selama tiga bulan, itu masih sangat sebentar, dan itu hanyalah status ‘pacar’ saja..

Sungguh ironis sekali, Shania yang sudah saling mengenal dengan Tama sejak kelas 4 SD, dikalahkan oleh siswi yang baru saja masuk kelas yang sama dengan Tama (kenaikan kelas akan selalu ada pengacakan murid) dan dilupakan hanya dalam beberapa bulan saja. Dan bukan itu masalahnya, dia mendapatkan masalah yang jauh lebih besar dan belum dia sadari. Masalah yang berhubungan dengan sosok gadis tuna rungu dan tuna wicara bernama Shania Junianatha..

***

“Aku kehabisan cat” Gumam Tama yang baru saja menghabiskan tetes terakhir cat air berwarna hijau, lalu cat berwarna merah, dan kuning pun habis. Terpaksa dia harus menunda dulu kegiatan melukisnya, dia harus menunggu orang tuanya pulang untuk membelikannya cat baru karena dia tidak punya uang banyak. Dia harus menjaga idenya itu sampai cat airnya datang, itu karena lukisan yang dia buat ini akan menjadi lukisan terakhir yang dia persembahkan untuk sekolahnya, dia sudah kelas 3 SMP dan mulai sibuk, juga siswa tingkat akhir dilarang mengikuti ekskul atau lomba apapun agar fokus pada mata pelajaran..

“Haaaahh… nganggur gini enaknya ngapain, yah?” Gumamnya sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia lihat ponselnya, teringat pacar barunya. Tanpa menunggu lama, dia pun langsung mengajak chat dengan gadis itu, dan pada akhirnya mereka berdua pun asik mengobrol di sosial media. Dan membuat Tama sedikit lupa tentang inspirasinya..

***

Perlomban terakhir untuk Tama tiba, dia segera menyerahkan lukisannya pada guru pembimbingnya. Itu sudah menjadi hal yang wajar, karena guru pembimbingnya bisa membaca ‘gambar’ atau ‘lukisan’ yang dibuat oleh muridnya, dia orang yang hebat dan cukup terkenal. Jadi ketika sang guru berkata ‘Ya’, maka rasa percaya diri murid akan meningkat. Dan lukisan yang terpilih cenderung akan selalu masuk dalam barisan 5 terbaik entah itu juara atau tidak..

“Maaf sekali, nak Tama. Tapi bapak tidak melihat ‘sesuatu’ pada lukisanmu, sepertinya ada sesuatu yang hilang dalam lukisanmu. Sayang sekali, kamu tidak bisa mengikuti perlombaan terakhirmu di sekolah ini” Ujar guru seni sekolah Tama menyesal. “Dalam lukisanmu kali ini, aku tidak melihat ‘dirimu’ yang selalu ada pada lukisanmu sebelumnya. Bapak akan memilih lukisan yang jauh lebih baik dari milikmu” Lanjutnya lagi..

Sungguh sebuah kekalahan besar bagi Tama selama di SMP. Baginya, lebih baik kalah di perlombaan dari pada sudah kalah sebelum perlombaan. Karena semenjak dia masuk sekolah itu, dia selalu mengikuti kontes melukis. Dia tidak peduli dengan menang atau kalah dalam pertandingan sesungguhnya, tetapi dia hanya ingin di apresiasi oleh orang lain. Tapi kali ini keburuntungan tidak berada di pihak Tama, mungkin dia sudah lelah karena lelaki itu sering menjadi perwakilan sekolah..

Dia pulang dengan hati yang hancur, dia tidak pernah seperti ini karena sejak awal mengajukan, lukisannya langsung diterima oleh pembimbingnya itu. Ini kejadian pertama kali untuk Tama, lelaki itu down dan kehilangan pijakan..

Sampai di rumah, dia langsung menghancurkan lukisannya dan mengumpat dirinya sendiri. Beruntung di rumahnya kosong, sehingga dia tidak akan terkena marah oleh orang tuanya karena berkata kasar..

Dia bingung dengan dirinya sendiri, ada sesuatu yang hilang dan dia tidak tau. Dia segera pergi ke kamarnya untuk mencari sesuatu yang hilang itu, sesuatu yang membuatnya hancur lebur. Dan dia melihat lukisan pertamanya pada sebuah kertas putih, sebuah kaligrafi bertuliskan ‘Aku Mencintaimu’ yang didampingi skestsa seorang lelaki dan wanita yang bergandengan tangan. Air matanya turun, dia baru menyadari apa yang hilang pada dirinya. Sesuatu yang membuatnya bisa seperti sekarang, termotivasi, maju, dan cukup sukses untuk anak seusianya dalam kategori antar sekolah..

“SHANIA…!!” Teriaknya yang kemudian mengambil kertas itu, lalu dia pergi menuju rumah Shania menggunakan sepeda..

~

Sesampainya di rumah Shania, Tama melihat gadis yang sekarang baginya sudah semakin cantik itu sedang duduk di teras rumah dari celah gerbang. Sepertinya dia sedang memandang langit karena sedang mendongkakan kepalanya ke atas. Tama berhenti sejenak, dia bingung saat ini. Alasan apa yang harus dia berikan pada Shania setelah lama tidak berkunjung? Dan sekalinya berkunjung lagi, dia menampilkan wajah ‘kekalahan’ yang menyedihkan. Dia kepalkan tangannya sendiri untuk menyesali dirinya sendiri, dan teringat jika dia sedang memegang sebuah kertas penting..

Teringat dengan kisah kertas itu, dia segera melipatnya menjadi sebuah pesawat. Sambil berharap, “Aku mohon, sampailah pada Shania…!!”. Kemudian dia terbangkan pesawat kertas itu, dan sukses mendarat di hadapan Shania. Tama melihat Shania berjalan dan mengambil kertas itu, lalu dia membongkar kertas itu, ekspresi terkejut bisa dilihat oleh Tama dari wajah Shania..

Shania tau kertas apa itu, dia langsung berlari menuju gerbang rumahnya. Dan pandangan mereka bertemu melalui celah gerbang. Shania segera membuka pintu gerbang sambil tersenyum. Dia pun memberi isyarat tangan ‘selamat datang’ pada Tama, Tama pun membalasnya dengan terima kasih..

““Shania, maafkan aku yang jarang datang berkunjung belakangan ini”” Jelas Tama menggunakan bahasa isyarat tangan..

““Tidak perlu dipikirkan, lagipula itu semua keputusanmu. Aku tidak punya kewajiban untuk memaksamu datang mengunjungiku””

““Tapi, mungkin kamu menjadi kesepian””

““Sedikit. Lagipula aku juga memiliki teman sekolah, jadi tidak jarang juga aku menghabiskan waktu bersama mereka. Oh ya, ayo masuk!!””

““Ya, kamu benar. Terima kasih””

Mereka berdua pun masuk dan duduk di ruang tamu. Tama merasa ada yang berbeda pada Shania, alat bantu dengar..

““Apakah alat bantu dengarmu baru?””

““Ya, yang lama rusak, jadi ibuku membelikannya yang baru””

““Kenapa bisa sampai rusak?””

““Ada segerombolan murid sekolah yang jahil padaku dan merusak alat bantu dengarku satu bulan yang lalu””

“APA?!! ADA ANAK YANG JAHIL KE KAMU?!!” Teriak Tama cepat. Bodohnya Tama yang baru mengetahui hal itu. Tentu saja, dia menjadi lebih senang dengan statusnya yang sudah memiliki ‘kekasih’. Tama tentu saja marah pada murid itu, dia ingin menghajarnya tentunya. Tetapi Shania menjelaskan jika mereka sudah terkena hukum oleh sekolah, mereka diskors selama dua minggu karena perbuatannya itu..

“Hah, aku sedikit lega kalau mereka diskors. Tapi tetep aja aku pingin hajar mereka!!” Ketus Tama..

““Kamu tidak perlu ikut campur, aku tidak ingin kamu terkena masalah pribadiku dan membuatmu repot””

“Yah, kamu emang bener”

““Jadi, bagaimana dengan lomba terakhirmu di SMP?””

“Ehh? Kamu tau?”

““Tentu saja, sekolahku juga ikut lomba. Teman kelasku ada yang berhasil membuat pembimbing guru seni takjub dan berhasil mendaftarkan dirinya. Bagaimana denganmu?””

“Itu, aku udah kalah duluan. Lukisan aku nggak diterima sama pembimbing aku”

““Kenapa bisa?””

“Yah, kayaknya beberapa waktu ke belakang… aku kehilangan sentuhan aku”

.

““Kamu sibuk?””

“Nggak juga, cuman… yah, aku punya pacar, aku asik sendiri, aku jadi ‘tumpul””

““Kamu punya pacar?”” Shania bertanya dengan menunjukan wajah sedih. Ya, mungkin dia tidak rela Tama berpacaran dengan orang lain, tetapi dia juga tidak ingin Tama berpacaran dengannya. Mungkin untuk saat ini karena mereka masih sangat muda dan belum seharusnya mengetahui dunia dalam berpacaran. Walau mereka sudah tau apa itu cinta secara dasar..

“…..” Tama terdiam. Dia tau jika perkataannya itu salah, tetapi dia juga tidak mau menyembunyikannya dari Shania. Bukan maksud sombong, tapi Tama juga ingin menjelaskan sesuatu pada gadis cantik itu..

Baru dia sadari jika hilangnya ‘dirinya’ dalam lukisannya sendiri adalah karena hilangnya Shania. Ya, mungkin ini terlalu berlebihan dan mengada-ada untuk bocah lelaki itu. Tapi, bagi bocah berumur 15 tahun itu, satu-satunya inspirasi adalah karena kehadiran Shania. Tanpa sosok Shania, tanpa dia sadari kemampuannya dalam melukis akan menurun. Janjinya bersama Shania di masa depan adalah tujuannya, dia seakan dikutuk tidak akan berhasil jika tidak mengingat Shania, orang yang memberinya inspirasi baru..

“Ternyata pacaran itu bikin muak, tau”

“!!!??”

“Iya, bikin muak. Aku nggak mau pacaran lagi, nanti aku putusin aja pacar aku. Kalau mau nikah, langsung lamar aja, nggak perlu ada pacaran segala”

““Jadi, kalau ada wanita yang mengajakmu berpacaran, kamu akan menolaknya?””

“Iya, aku tolak aja langsung. Aku kasih kesempatan buat saling kenal tanpa pacaran, terus aku lamar aja. Kalau belum cukup umur, ya tunggu sampe cukup umur. Soalnya kalau nggak gitu, kemampuan melukis aku pasti turun lagi kayak sekarang” Jelas Tama kesal. Yah, entah itu hanya bualan atau dia memang ingin melakukannya. Tapi apa yang dia alami memang seperti itu, dia gagal lolos seleksi dari pembimbingnya, dan pembimbingnya lebih memilih memilih lukisan murid lain..

“…..” Gadis itu terdiam. Dia tenggelam dalam pikirannya, itu menyangkut ucapan Tama dan perasaannya pada Tama. Mungkin di waktu yang akan datang dia akan menyatakan cintanya pada Tama, entah itu ditolak atau tidak, dia akan menerimanya dan tetap menjaga erat-erat hubungannya dengan Tama..

Pada akhirnya mereka pun kembali menghabiskan waktu berdua, Tama terkejut ketika Shania memiliki satu set alat lukis yang lengkap di kamarnya. Mulai dari kanvas hingga kuas cat yang beragam ukurannya. Apalagi Shania memberi kesempatan pada Tama untuk melukis pada kanvas miliknya, alasannya agar dia bisa mengingat siapa orang yang penting di hidupnya. Tama tentu saja bahagia, dia akan mempersembahkan lukisan terbaiknya untuk Shania..

““Jadi, bagaimana? Lukisan apa yang akan kamu berikan untukku? Apakah kamu akan melakukannya?”” Tanya Shania menggunakan bahasa isyarat. Tama pun membalasnya dengan bahasa isyarat..

““Tentu saja tidak akan aku lakukan. Kemampuanku masih belum cukup untuk melukiskannya pada sebuah kanvas bersih ini. Lagipula, apa kamu tidak ingat syarat untuk melakukannya?””

Shania tersenyum senang, ““Tentu saja aku ingat, aku hanya mengetes ingatanmu saja, Tama”” Balas Shania. Dan Tama pun mulai melukis, dia akan keluarkan seluruh kemampuan terbaiknya yang sudah dia asah hingga detik ini, dia akan mempersembahkannya untuk Shania..

Dia menyelesaikan lukisan itu dalam waktu 4 hari, cukup cepat baginya karena biasanya dia bisa menghabiskan waktu satu minggu lamanya dalam menyelesaikan sebuah lukisan. Tapi hasilnya benar-benar membuat Tama puas, dia merasa ini adalah lukisan yang terbaik yang pernah dia buat (dia selalu berpikir lukisan terbaru yang dia buat adalah lukisan terbaik). Shania pun memasang lukisan itu di ruang keluarganya..

““Selesai, bagaimana menurutmu?””

““Menurutku? Tentu saja itu bagus sekali karena lukisanku. Seharusnya aku yang bertanya padamu, Shania””

Shania pun tertawa kecil, ““Maaf. Tapi, memang bagus sekali. Terima kasih banyak””

““Ya, terima kasih juga karena sudah mau percaya padaku. Kalau begitu, aku pulang dulu. Aku ingin melanjutkan lukisanku yang sempat aku tinggal karena melukis untukmu”” Jelas Tama. Mereka pun berjalan keluar rumah, tapi Shania langsung menggenggam tangan Tama dan menghentikan langkah Tama. ““Ada apa?”” Tanyanya dengan bahasa isyarat..

“…..” Shania terdiam. Dia ingin mengungkapkan apa yang ada di hatinya, tetapi dia terlalu takut karena ucapan Tama dulu tentang orang yang akan dia tolak jika ada wanita yang menyatakan cinta padanya. ““Hati-hati di jalan”” Balas Shania yang pada akhirnya tidak berani untuk memberitahu perasaannya pada Tama..

““Ya, aku akan hati-hati”” Balas Tama sambil tersenyum lebar. Dia pun berjalan menuju motornya..

“A-Aw-wuu swuu-waa awu-mwuuu!!” Teriak Shania tidak jelas. (Aku suka kamu). Itu adalah sebuah kejutan untuk Tama. Tentu saja sangat mengejutkan karena dia tidak pernah mendengar Shania berbicara langsung kecuali gumaman saat dia berbicara menggunakan bahasa isyarat. Dia melihat Shania terengah-engah karena mengeluarkan seluruh tenaganya untuk berteriak lalu dia tersenyum senang pada Tama, lelaki itu pun membalas senyuman Shania dengan senyuman..

“Hehehe… Ya, aku juga suka labu” Dan itulah yang lelaki itu jawab. Shania pun terkejut dengan balasan Tama, dia menerima perasaannya dengan senang. Shania pun langsung melambaikan tangannya kuat-kuat ketika Tama pergi menggunakan motornya.

Sungguh kesalah pahaman sudah mereka lakukan. Tama mendengar Shania berkata ‘aku suka labu’, sedangkan yang sebenarnya ‘aku suka kamu’. Dan Shania yang tidak terlalu jelas melihat gerakan lidah Tama, menganggap Tama membalas perasaannya juga dengan mengatakan ‘ya, aku juga suka kamu’. Dan sepertinya kisah mereka akan kembali dipenuhi warna baru karena kesalah pahaman itu..~~~~~

~Aku Akan Menjagamu~

~~~Author PoV~~~

Tama dan Shania tersenyum lebar sambil mengaitkan jari kelingking mereka, mereka sedang bahagia. Tentu saja, mereka melanjutkan pendidikan ke sekolah yang sama. Kali ini tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka, persahabatan yang sudah lama terjalin tidak akan mudah hancur meski dengan orang baru yang jauh lebih unik atau lebih baik. Kepercayaan mereka sudah hampir mencapai maksimal..

Kembali seperti ketika berada di SD, di SMA pun Shania mendapatkan ejekan dari beberapa temannya. Sungguh murid yang tidak mempunyai rasa malu dan tatakrama sedikit pun, murid seperti itu tidak pantas di sekolahkan. Tapi Shania enggan memberitahukannya pada Tama atau pada guru, dia tidak ingin murid yang mengejeknya itu terkena skors karena dirinya. Hmm, dia gadis yang terlampau baik. Kebaikan yang dia lakukan, justru berbalik menjadi senjata yang mematikan untuknya. Sikapnya yang terlalu tertutup itu benar-benar bisa membuat gadis itu berada dalam bahaya, tentu saja temannya yang mengetahui jika mereka tidak mendapatkan masalah karena menjahili Shania, akan tetap melanjutkan aktifitas tidak terpuji itu..

Sampai akhirnya Tama mengetahuinya, dia melihat Shania yang sedang dijahili oleh murid laki-laki dan perempuan. Melihat kejadian seperti saat mereka SD, Tama kembali melakukan hal yang sama pada mereka, yaitu berkelahi dengan para murid laki-laki..

Pada akhirnya dia juga mendapatkan skors walau tidak separah murid yang menjahili Shania, tentu Shania juga merasa bersalah karena sudah melibatkan Tama dalam masalah pribadinya..

““Kenapa kamu membantuku?””

“Hah? Kamu ngapain nanya pertanyaan bodoh kayak gitu, Shan? Ya udah jelas, lah. Kamu emang cewek yang harus aku lindingi, Shan. Dasar!! Kalau mereka kayak gitu lagi ke kamu, aku bakalan hajar mereka habis-habisan sampai babak belur!! Kalau bisa, aku datengi juga orang tua mereka biar bisa aku ceramahi!!” Ketus Tama..

““Kalau kamu kena masalah gara-gara aku lagi, kamu—””

“Nggak peduli, Shan!!” Potong Tama cepat. “Selama kamu baik-baik aja, biar aku yang tanggung semua masalah kamu. Lagian, mereka itu nggak pantas sekolah. Mereka pantasnya jadi preman aja, pemulung kalau bisa. Dasar murid yang nggak punya tatakrama!!”

Shania baru melihat Tama semarah itu karena orang yang menjahili dirinya. Bahkan ketika dulu pun Tama tidak seperti ini, mungkin karena belum tau banyak tentang sebuah masalah dan tatakrama. Tapi mereka sudah duduk di bangku kelas 10, mereka sudah bisa menentukan mana baik dan buruk. Jadi, wajar saja jika Tama semarah itu ketika melihat gadis yang dia lindungi (Tama mengaggapnya seperti itu) dijahili atau bahkan dicelakakan oleh orang lain..

***

““Shania? Mungkin untuk beberapa waktu ke depan, aku akan sedikit sibuk karena kegiatanku dalam melukis. Jadi, maafkan aku jika aku lama membalas pesanmu””

““Memangnya kamu akan mengikuti lomba? Kenapa aku tidak mendengar pengumuman?””

““Bukan lomba, hanya sebuah permintaan saja””

““Baiklah, aku mengerti. Berjuanglah agar lukisanmu menjadi beli indah lagi””

Dan benar saja perkataan Tama, dia yang dari awal sekolah hingga mereka duduk di bangku kelas 11 semester akhir selalu mengantar Shania sampai rumah dan bermain terlebih dulu di rumah Shania, sekarang sudah tidak dia lakukan. Shania penasaran lukisan apa yang akan dibuat Tama, tetapi dia ingin sebuah kejutan yang mungkin diberikan oleh Tama. Tentu dia akan menunggunya dengan sangar sabar..

“HAH?!!” Teriak Tama terkejut. Apa yang dia alami sekarang adalah untuk pertama kalinya, dan itu terjadi secara tidak sadar. “Dan baru kali aku kehabisan semua cat air sama kanvas. Emangnya seberapa fokus aku sampai aku nggak sadar kalau semua cat air sama kanvas habis? Mana nggak ada uang, padahal sekarang lagi semangat-semangatnya, terus tinggal 10 persen lagi lukisannya selesai” Keluh Tama..

Tidak mau menunggu kepulangan orang tuanya, dia pun segera pergi ke rumah Shania untuk meminjam dan memakai cat air milik Shania. Lagipula dia yakin jika Shania tidak akan menggunakannya, kalaupun menggunakannya pun tidak akan banyak. Tapi ketika sampai di sana, gadis cantik itu memberitahu jika cat air dan kanvasnya pun habis. Sungguh hari yang sial bagi Tama..

““Pakailah uangku. Sepertinya lukisan itu sangat penting dan perlu diprioritaskan””

““Benarkah? Terima kasih banyak””

Tama pun segera membeli perlengkapan menggunakan uang Shania dan segera melukis kembali agar semangatnya tidak menghilang. Masalah selesai, hanya tinggal menunggu beberapa jam lagi agar lukisannya selesai..

Empat jam kemudian, lukisan pun selesai 100 persen. Tama sangat puas dengan karyanya itu. Tentu saja, lukisan yang dia buat sangatlah besar, terdiri dari empat kanvas yang nantinya akan digabungkan sehingga menampilkan lukisan yang sesungguhnya..

~

Dua hari kemudian, Tama pun membawa lukisannya itu ke sekolah dan menampilkannya ketika upacara. Ternyata lukisannya itu adalah gambar sekolahnya. Beberapa hari yang lalu, Tama diminta langsung oleh kepala sekolah untuk melukis sekolahnya pada empat kanvas yang nantinya akan digabung. Tentu itu sebuah penghormatan besar untuk Tama, apalagi rencananya lukisan Tama akan dipajang di museum. Museum itu meminta beberapa sekolah untuk memberikan sebuah lukisan dari sekolahnya yang besar, dan Tama adalah salah satu orang beruntung yang bisa mempersembahkan karyanya pada masyarakat luas..

““Kamu berhasil. Aku sangat kagum sekali denganmu, Tama””

“Ya, aku juga bangga sama diri aku sendiri. Lagian, aku juga dapet semangat dari kamu, Shan. Aku bukannya muji, tapi itu emang fakta”

““Terima kasih banyak karena sudah mau peduli padaku”” Gadis itu benar-benar bahagia bisa berada di sisi Tama. ““Kamu tau? Pesawat kertas itu seperti benang merah, membawa takdir dan mengikatnya. Andai saja saat itu temanmu tidak jahil dengan membuat pesawat kertas dan menerbangkannya keluar kelas, mungkin kita tidak akan saling mengenal seperti ini dan membuat janji saat itu”” Lanjut Shania..

““Ya, kamu benar, Shania. Setidaknya aku harus berterima kasih pada temanku itu karena berkatnya aku bisa bertemu denganmu”” Kali ini Tama membalas menggunakan bahasa isyarat agar Shania menjadi lebih senang. Tentu saja, tidak semua orang bisa menggunakan bahasa isyarat tangan. Tama menjadi orang yang spesial bagi Shania, begitu juga sebaliknya. Takdir benang merah yang banyak dibicarakan orang, mereka menggunakan pesawat kertas untuk mengantarkan takdir yang mempertemukan mereka. Pesawat kertas yang tidak biasa bagi mereka..

““Tapi, aku rasa pesawat kertas yang—””

“SHAN?!! HIDUNGMU BERDARAH!!” Teriak Tama tiba-tiba. Shania yang membaca gerakan bibir Tama pun langsung menyentuh lubang hidungnya, basah. Dia lihat jarinya yang berwarna merah, itu adalah darah. Tidak lama kemudian, Shania pun jatuh pingsan..

“SHANIA?!! SHANIAAAA!!”

~

Tama menatap pesawat kertasnya, lalu dia terbangkan ke arah Shania yang sedang duduk sendirian di taman, dan pesawat itu mendarat tepat di atas paha Shania. Gadis cantik itu tersenyum senang ketika melihat pesawat kertas yang sudah tidak asing lagi. Tama berjalan mendekat, di saat yang bersamaan pun Shania mendongkakkan kepalanya untuk menatap Tama yang berada di atasnya..

““Bagaimana kabarmu?””

““Ya, membaik setelah pesawat kertas ini mendarat di atasku””

““Syukurlah kalau begitu. Aku sudah mendengar semuanya dari orang tuamu”” Jelas Tama sedih. Melihat Tama sedih, tentu saja Shania pun akan ikut sedih. Dia mengisyaratkan Tama untuk tidak sedih, seketika Tama pun berhenti bersedih..

““Ya, kamu tau sendiri dari orang tua aku. Orang yang mempunyai kelainan sepertiku, cenderung memiliki tubuh yang lemah. Hal ini biasa dialami bagi orang yang menderita kelainan sepertiku, jadi kamu tidak perlu khawatir. Kakiku lumpuh, tidak akan mengurangi semangatku untuk menjadi guru bagi orang yang menderita kelainan sepertiku””

Tama benar-benar senang dengan semangat Shania yang tidak pernah padam. Gadis cantik itu benar-benar spesial untuknya. Seperti kata pepatah, ‘kekuranganmu adalah kelebihanmu’. Hal itu berlaku untuk Shania, Tama tau itu. Dia semakin tidak sabar untuk segera menepati janjinya bersama Shania di masa depan, sebuah janji yang sangat hebat bagi mereka..

“Tenang aja, aku pasti bakalan jaga kamu sampai kapanpun. Jadi, kamu nggak perlu takut sendirian” Ucap Tama di belakang Shania..

Shania sedikit mendengar Tama berbicara di belakang kepalanya, ““Apa kamu baru saja berbicara? Apa yang kamu katakan?”” Tanya Shania melalui gerakan tangannya..

Tama pun segera berjalan ke hadapan Shania, ““Tenang saja, itu adalah janji untuk diriku sendiri”” Balas Tama..

Ketika perawat Shania datang, Tama pun meminta agar dia yang menjaga Shania. Dia pun mendorong kursi roda dan membantunya berkeliling taman rumah sakit yang luas itu. Banyak pasien yang juga memakai kursi roda, dia senang karena melihat para pasien itu tidak murung dan larut dalam kesedihan. Shania juga tidak merasakan kesepian jika ada Tama di dekatnya..

Tama berhenti di depan kolam air mancur, di dalamnya terdapat ikan koi yang cukup banyak. Itu bisa membuat Shania bertambah tenang dan rileks..

Tama mencolek pipi Shania, gadis itu pun langsung menghadap Tama..

‘TUK..’

“Kya!!” Shania berteriak kecil ketika dahinya dicentang pelan oleh Tama. ““Kenapa?”” Tanya Shania sambil memasang wajah cemberut..

Tama pun hanya tersenyum lebar, ““Tidak apa, aku hanya ingin mencentang dahimu yang lebar itu”” Jelas Tama. Sepertinya dia ingin sedikit menjahili Shania. Semenjak Shania jatuh pingsan tiga hari yang lalu, Tama tidak menjahili Shania. Lelaki itu benar-benar gemas dengan Shania yang mulai berubah entah itu sifatnya atau pun tubuhnya. Sebagai lelaki normal, tentu saja dia tergoda melihat tubuh Shania yang tumbuh dengan cukup cepat. Dia mengikuti pertumbuhan Shania sejak kelas 4 SD, itu membuatnya seperti menjadi orang yang beruntung..~~~~~

~Waktu, Dewasa, dan Janji~

~~~Author PoV~~~

““Ternyata kita sudah dewasa, aku akan melanjutkan kuliah””

““Delapan tahun bukan waktu yang sebentar, tetapi kita menjalaninya seperti sebentar. Aku tidak menyangka kita sudah saling mengenal selama delapan tahun. Karir pendidikanmu masih terus berlanjut, tidak untukku yang sulit atau bahkan tidak mungkin untuk melanjutkan pendidikan””

““Ya, tapi aku yakin jika kamu masih bertekad untuk menjadi seorang guru untuk penderita kelainan, jalan dan peluang pasti akan terbuka lebar””

““Aku rasa jika aku terus berada di sampingmu, aku akan bisa””

““Sayangnya itu tidak akan terjadi, Shania””

“?????”

““Aku berniat melanjutkan pendidikan ke Yogyakarta, aku yakin di sana aku bisa mengasah kemampuanku lebih baik lagi karena budaya di sana masih sangat kental, terlebih lagi seniman””

““Kamu tidak melanjutkan pendidikan di Bandung?”” Tanya Shania terkejut. Tentu saja, itu berarti dia akan jauh dari Tama antara 4-5 tahun mendatang, dan itu pun belum pasti. Karena bisa jauh lebih lama, atau mungkin lebih cepat…

Tama tersenyum dan menggelengkan kepala, ““Maaf, yah? Tapi tenang saja, aku akan pulang setiap ada libur semester. Jadi, tunggu aku 5 tahun lagi, ok?”” Jelas Tama. Dia mengulurkan jari kelingkingnya agar Shania mengaitkan jari kelingkingnya juga, dia kembali membuat janji dengan Shania. Shania tentu sedih karena berada jauh dari Tama, tetapi dia tau jika itu untuk kebaikan Tama, dan Shania tidak berhak untuk melarangnya..

Gadis itu tersenyum menerima keputusan Tama. Jika Tama seperti itu, berarti dia harus menjadi wanita yang lebih baik lagi dari sekarang. Dia akan berjuang agar cita-citanya sebagai guru bisa tercapai meski kondisi tubuh membuat kemungkinannya semakin kecil. ““Akan aku tunggu 5 tahun lagi”” Jelasnya yang kemudian mengaitkan jari kelingkingnya. Janji kembali mereka buat..

### 8 Tahun Kemudian ###

~~~Author PoV~~~

Sudah 4 tahun lamanya sejak Shania bertemu Tama. Terakhir mereka bertemu ketika Tama mengajak Shania untuk menemaninya wisuda kelulusan, setelahnya lelaki itu berniat untuk melanjutkan pendidikannya lagi di luar negeri. Dalam hati Shania tentu saja keberatan, karena itu tidak sesuai dengan janji mereka. Tetapi dia pun pasrah karena dia tau jika dia tidak bisa menghentikan keinginan Tama. Lelaki itu melanjutkan studi S2 di Inggris dan menetap di sana selama 4 tahun..

Sedangkan untuk Shania sendiri, dia sudah menjadi guru 4 tahun yang lalu. Dia sudah menjadi seorang yang diandalkan dan cukup terkenal, dia sering diundang oleh televisi swasta sebagai seorang motivator. Dan di setiap ceritanya, dia selalu menyebutkan jika dia juga mendapatkan motivasi dari seseorang, tapi dia tidak pernah menyebutkan nama Tama. Itu rahasia baginya, walau Tama sempat protes karena dia ingin terkenal di Indonesia sebagai motivator dari seorang motivator..

Mereka berdua sudah berubah menjadi orang yang penting. Tama yang dari awal termasuk murid yang tidak pintar, tetapi sekarang sedang melanjutkan studi di luar negeri. Sedangkan Shania yang selalu dikucilkan dan diejek teman sekolahnya, sekarang menjadi motivator. Yah, usaha keras memang tidak akan pernah mengkhianati. Ada kala mereka jatuh, ada kala mereka bangkit kembali. Seperti itulah kehidupan, penuh tantangan dan misteri..

***

Pandangan Tama dan Shania bertemu, mereka berada di halaman rumah Shania. Tama datang dengan memakai jas dan sudah terlihat lebih dewasa, tas yang dia genggam disimpan di bawahnya. Lalu dia mengambil sebuah kertas, kertas penting yang sudah berumur cukup tua untuk sebuah kertas. Kertas yang membuat pertemuan mereka terjadi ketika duduk di bangku kelas 4 SD, dia kembali melipat kertas itu menjadi sebuah pesawat. Setelah itu, dia menerbangkannya ke arah Shania, dan kembali mendarat di atas paha Shania. Tapi di bawahnya ternyata ada sebuah buku kecil yang sudah cukup usang, buku itu juga menjadi saksi tentang perjalanan hidup mereka berdua. Sepertinya sebentar lagi akan ada sesuatu yang indah dan romantis..

““Selamat datang, Tama””

““Ya, aku pulang””

Tama mendekati Shania dan memeluknya, pelukan hangat dan nyaman. Pelukan yang melepaskan kerinduan mereka selama 4 tahun lamanya. Suasana romantis tercipta di sekitar mereka, Shania menyukainya. Saat terakhir, dahi dan hidung mereka saling bertemu, mereka saling mengaitkan tangan, tetapi tidak ada ciuman pada momen romantis itu. Padahal kebanyakan orang, entah itu dalam kehidupan nyata, cerita, atau film, selalu ciuman akan dilakukan jika posisi mereka sama seperti posisi Tama dan Shania..

Shania mengambil inisiatif, dia ingin memberikan ciuman pertamanya pada Tama. Dia menjadi agresif. Tapi Tama menahan bibir Shania menggunakan telunjuknya..

“Belum saatnya, jagalah untuk yang terbaik” Ucap Tama tepat di depan mata Shania. Gadis itu bisa membaca gerakan bibir Tama dengan mudah, dia tau maksudnya..

Tama kembali merogoh saku kemejanya, kemudian kembali mengaitkan tangannya dengan tangan Shania. Jari Shania terasa sedikit dingin, tepatnya pada jari manis. Dia mengambil jarak antara wajah Tama untuk melihat perubahan suhu yang tiba-tiba itu, ada cincin perak yang menghiasi jarinya dengan jari Tama..

Shania yang terkejut langsung reflek mengambil jarak yang cukup jauh, Tama tersenyum melihat reaksi Shania..

““Kenapa?”” Tanya Tama sambil tersenyum, sedangkan Shania masih tetap menatap jari manisnya yang dihiasi cincin. Itu artinya, Tama melamarnya..

Air mata kebahagian mengalir membasahi pipi Shania, dan menetes mengenai pesawat kertas di atas pahanya. Itu adalah pengalaman paling indah untuk Shania, dia mendapatkan kejutan terbaik, dan dia sangat yakin jika tidak lama lagi dia akan segera mendapatkan kejutan yang lebih indah lagi dari sebuah lamaran, dan lebih indah lagi yaitu pernikahan, dan lebih indah lagi yaitu malam pertama, dan lebih indah lagi yaitu kehamilan, dan lebih indah lagi yaitu menjadi seorang ibu, dan lebih indah lagi menjadi seorang nenek, dan yang terakhir adalah menghabiskan sisa waktunya bersama keluarganya. Ternyata dia sudah berpikir jauh tentang kelanjutan hidupnya, padahal lamaran ini bisa dikatakan tahap pertama untuk mencapai akhir dari kebahagian yang dia targetkan. Ya, semua orang bebas berkhayal atau mengekspresikan dirinya selama tidak menganggu ketertiban umum..

““Kamu kenapa? Jangan bahagia dulu, ini baru 50 persen. Kamu tidak ingat sisanya?”” Tanya Tama gemas. Shania menyadarinya ketika melihat buku kecil itu, lalu dia menyeka air matanya itu..

““Iya, aku tau. Dasar. Jangan merusak suasana hati seorang wanita”” Jelas Shania sambil tersenyum lebar..

““Bagaimana? Sudah kamu siapkan?””

““Tentu saja, semuanya selalu siap dalam 4 tahun ini. Kamu tidak perlu khawatir, Tama””

Tama mendorong kursi roda Shania masuk ke dalam rumah, lalu mereka menuju kamar Shania. Setelah masuk, terlihat berbagai macam peralatan melukis yang sangat lengkap. Tama akan membuat lukisan baru, lukisan yang akan menjadi yang terbaik meski dibandingkan dengan lukisan yang sudah dia buat sebelum atau sesudah lukisan ini..

Tama memangku Shania menuju kursi, tidak lupa juga sebuah buku kecil dan juga pesawat kertas dibawa oleh Shania. Tama mendudukan Shania pada kursi, kemudian mengaturnya agar posisinya pas, lalu dia berikan buku kecil itu pada Shania dan meletakan pesawat itu di atas Shania. Selesai, model dari karya yang dia idamkan sudah siap, sekarang tinggal proses pengerjaannya saja..

Cat air, kuas, kanvas, dan wadah cat saja yang dia butuhkan. Dia berniat untuk melukis tanpa membuat kesalahan dan menjunjung tinggi detil dari tubuh Shania. Dia ingin hasil yang terbaik untuk lukisan itu..

““Meski ini cukup sulit, tapi tetap membutuhkan waktu yang sangat lama. Tapi tenang saja, aku sudah profesional. Mungkin 5 jam akan selesai. Bisa kamu tahan, ‘kan?””

““Kamu pikir aku siapa? Sudah bertahun-tahun aku duduk di kursi roda, duduk 5 jam bagiku sangatlah cepat””

““Baiklah, akan aku kerahkan seluruh kemampuanku. Ini akan menjadi karya terbaikku meski disandingkan dengan karyaku yang lain””

~

““Hobiku membaca, itu untuk menambah pengetahuanku dalam membaca gerakan bibir sambil memperagakannya walau tanpa suara. Dan cita-citaku menjadi guru, aku ingin mengajar bagi orang-orang yang mengalami kekurangan sepertiku agar mereka tidak putus asa J “”

“Itu cita-cita mulia, jadi guru. Tapi aku yakin kamu pasti bisa”

““Terima kasih banyak ^_^ “” Balas Shania yang terus tersenyum sambil menunjukan catatan kecilnya. Senyuman itu, Tama merasakan hal yang sangat menyenangkan ketika melihat senyuman Shania. Seolah dia sedang melihat sebuah pemandangan yang sangat indah dari atas bukit. Senyuman itu, Tama ingin melukisnya bersama wajah yang menampung senyuman itu, bersama kepala yang menerima wajah itu, bersama tubuh yang menyangga kepala itu. Dia sangat ingin melukis Shania yang tersenyum secara total..

“Pinjam sebentar!!” Ujar Tama sambil merebut catatan Shania tanpa seizin Shania. Lalu dia menunjukan sebuah tulisan pada Shania, dan itu tentu saja membuatnya terkejut..

“Aku ingin melukismu, dengan senyumanmu dalam lukisanku” Tulis Tama pada buku Shania. Gadis itu pun mengambil bukunya dan membalas tulisan Tama..

“Boleh saja, dengan senang hati aku akan menerimanya” Balas Shania..

“Kalau begitu, ketika dewasa nanti dan aku sudah menjadi pelukis profesional sedangkan kamu menjadi seorang guru, aku akan melamarmu. Selanjutnya aku akan melukismu, bersama senyumanmu dan juga cincin yang menghiasi jarimu. Setelah aku melukismu, aku akan menikahimu dan kita hidup bahagia. Bagaimana? Kamu mau?”

“Ya, tentu saja aku mau. Berarti kita harus berjanji untuk mencapai semua itu” Balas Shania. Dan mereka berdua pun saling memberikan senyum terbaik mereka yang kemudian mereka saling mengaitkan jari kelingking mereka untuk menepati janji itu, janji yang mereka tulis di buku milik Shania..

~

Memang itu hanyalah janji bodoh dari dua anak kecil yang tidak tau kehidupan yang sebenarnya, janji mereka bagaikan angin lewat saja untuk beberapa orang yang melihat atau mendengar cerita mereka. Tapi apa yang mereka janjikan sejak saat itu benar-benar mereka berusaha untuk mencapainya, banyak sekali rintangan yang mereka hadapi dan lalui bersama. Tapi, siapa yang menyangka jika janji itu akan benar-benar mereka dapatkan? Mungkin hanya tinggal 10 persen lagi sampai mereka menikah, hanya tinggal menunggu waktu saja..

Lukisan yang ingin Tama buat, yaitu gambar Shania, itulah yang menjadi targetnya agar bisa menjadi seorang pelukis hebat. Mungkin ada beberapa orang yang sudah menganggapnya pelukis yang hebat, tapi dia sendiri belum merasakan hal itu sebelum berhasil melukis Shania dengah sepenuh hati. Dia akan mengerahkan seluruh jiwa dan perasaanya untuk sebuah lukisan wanita cantik, pengalamannya selama 4 tahun di luar negeri, dia tuangkan pada lukisan itu. Seluruh kenangan dan perasaannya bersama Shania terus muncul selama dia membuat lukisan itu..

~

““Bagaimana?””

““Tentu saja sangat indah, ternyata kemampuanmu berkembang sangat jauh dari sebelumnya. Aku mengerti beberapa maksud dari lukisan ini. Warna langit yang biru dan putih sebagai tanda suci, itu menemani pesawat kertas yang mempertemukan kita dan sebagai pengantar perasaan kita. Sedangkan bangunan kecil di belakangku sebagai tempat dimana semua perasaan itu berkumpul. Sederhana dan umum, tapi bagiku itu sangatlah berarti””

““Kalau begitu, sesuai dengan janji, lukisan ini akan menjadi benda selain cincin untuk melamarmu”” Jelas Tama. Wajah Shania memerah, dia sangat malu ketika lelaki yang sekarang berlumuran cat itu berkata seperti itu..

Sebelum bertemu Tama, Shania memang pesimis bisa menikah meski dengan lelaki yang tidak tampan dan mapan. Jangankan menikah, ada perasaan negatif yang cukup dominan di hati dan pikirannya dimana dia merasa tidak akan berumur panjang karena kelainannya itu. Tapi dengan kedatangan Tama, lelaki itu seakan mengangkat ‘kelainan’ dan perasaan negatif yang Shania miliki. Beberapa waktu setelah Shania mengenal Tama, dia menjadi sangat yakin untuk melanjutkan hidupnya meski dia berpikir jika umurnya tidak akan panjang (walau sebenarnya tidak ada yang tau seberapa panjang umur seseorang, baik itu dirinya sendiri). Dia juga bertekad untuk mencari pasangan hidupnya ketika janji mereka tidak dapat mereka tepati karena suatu masalah..

“Hmm, sepertinya ada yang sedang dimabuk cinta”

“Ehh?”

“Sayang, sebaiknya kita jangan menganggu mereka. Hihihi…” Ternyata orang tua Shania muncul dan menggoda Tama dan Shania yang sedang bersanding di depan lukisan Shania..

““Ayah? Ibu?””

***

Acara lamaran selesai, seluruh keluarga Tama pulang kecuali Tama itu sendiri. Dia ingin menemani Shania lebih lama lagi, lelaki itu mengajak gadis yang baru saja dilamarnya berkeliling komplek rumah. Sambil berkeliling, tentu saja mereka melihat aktifitas para tetangga mulai dari bayi hingga kakek dan nenek. Shania terkenal di komplek itu, buktinya para anak kecil langsung mengerumuni Shania. Dan apa yang membuat Tama tambah terkejut adalah mereka yang bisa menggunakan bahasa isyarat. Hmm, sepertinya Shania sangat disayang oleh penghuni komplek rumah itu..

~

“Baiklah kalau gitu, aku mau pulang dulu”

““Ehh? Mual? Kamu tau kamar mandi, ‘kan?””

“Buset dah, kok jadi ngelantur, sih? Perasaan dulu nggak kayak gini” Pikir Tama gemas. ““Bukan ‘mual’, tapi pulang””

““Ehh?”” Shania tersipu malu. ““Maaf, sepertinya aku sedang tidak fokus””

““Kalau begitu, sampai bertemu lagi”” Ujar Tama yang langsung berbalik pergi. Tapi Shania langsung menahan baju Tama agar tidak pergi..

““Ada apa?””

“Mmmm… A-a-a-whah a-a-wu i-yak eu-wu-wu-wa-an haw ang e-eng-ing?” Ujar Shania malu-malu sambil menunduk. (Apakah kamu tidak melupakan hal yang penting?)..

“???!!” Tama langsung mengangkat wajah Shania. ““Ehh? Apakah harus?”” Tanya Tama. Dia mengerti apa yang dimaksud Shania, tapi dia belum cukup siap untuk melakukannya. Dia sangat gugup, padahal pernikahan pun belum mereka lakukan..

Shania tidak menjawab dan kembali menunduk, dia hanya mengeratkan cengkraman pada baju Tama dan mengangguk kecil sambil bergumam. Tama terdiam, sungguh dia tidak tau apakah harus melakukannya atau tidak. “I-i-i-ak… a-a-a-wu?” Tanya Shania pelan. (Tidak mau?)..

“Huuuuhh… kayaknya nggak ada pilihan lain” Ujar Tama sambil menghela nafas. “SHANIA!!?” Teriak Tama keras dan tiba-tiba. Shania mendengar panggilannya dan langsung menghadapkan wajahnya pada Tama. Wajahnya benar-benar merah dan terasa panas, Tama belum pernah melihat reaksi Shania seperti itu..

Shania menutup mata, bibirnya bergetar, mereka saling merasakan hembusan nafas karena wajah mereka berdekatan, keringat bercucuran dari leher Shania, hawa panas terasa oleh mereka. Shania sedikit membuka bibirnya yang basah dan berwarna merah muda, sungguh menggoda sekali dimata Tama. Bibir yang belum tersentuh dengan bibir lain (kecuali dengan orang tuanya tentunya ketika kecil), bibir yang masih suci dan tersegel. Begitu juga Tama yang belum pernah melakukannya..

‘CUP..’

### 9 Tahun Kemudian ###

~~~Author PoV~~~

Tama berjalan keluar gudang setelah menemukan barang berharga yang sudah lama dia cari namun tidak dia temukan, dia menuju teras rumah depan untuk membersihkannya. Terlihat seorang wanita berumur 33 tahun duduk di atas kursi roda sambil menggendong bayi perempuan yang berumur 2 tahun, sedangkan bocah laki-laki berumur 6 tahun sedang asik bermain mobil mainan di samping kursi roda ibunya. Wanita cantik yang menjaga 2 anaknya itu adalah Shania Junianatha, dan beruntung karena 2 anaknya itu terlahir normal..

““Ada apa?”” Tanya Shania penasaran ketika melihat suaminya lusuh karena berjibaku dengan debu..

““Aku menemukan harta karun”” Jelas Tama tersenyum yang kemudian menunjukan buku kecil dan pesawat kertas yang dia temukan. Seketika senyum Shania langsung mengembang saat Tama menunjukan benda yang memang harta baginya. Pesawat kertas yang mempertemukan mereka dan perasaan mereka ketika pertama kali, dan juga buku kecil yang menjadi monumen dimana janji yang mereka tulis akhirnya tercapai setelah melewati berbagai macam rintangan..~~~~~

Facebook : https://web.facebook.com/galusgani.stones

Thank you for reading the story, see you in the other story

Author             : Galus Gani Pratamayudha a.k.a Silent Rose

Iklan

10 tanggapan untuk “Pesawat Kertas & Buku Kecil

  1. Nah berarti yang 10.000 kata itu udah bisa jadi novel. Walau nyebutnya cerpen, dijadiin novel juga bisa 😆😆

    Kapan ya gue bisa kirim karya gue, masih ragu hahaha 😂😂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s