Zombie Attack, Part 11 : Sebuah Fakta

*Di Jakarta*

 

Seorang pria paruh baya sedang duduk termangu di istana negara. Pikirannya terfokus pada seorang remaja perempuan yang kini nyawanya terancam walaupun dia sudah mengerahkan tim untuk menyelamatkan dia, tak lama kemudian pintu ruangan nya di ketuk oleh seseorang.

“Pak, ada duta besar Spanyol untuk Indonesia ingin bertemu dengan anda” ujar seorang ajudannya.

“Baiklah, lima menit lagi saya akan ke sana” balas pria itu yang lalu bangkit dari tempat duduk nya.

Sedangkan di SMA 48 Jakarta terlihat Gracia yang tidak memperhatikan gurunya, pandangannya mengarah ke arah Sofia, Sofia membelakangi Gracia jadi dia tidak mengetahui kalau dirinya tengah di perhatikan oleh Gracia.

“Gracia, coba kamu kerjakan soal nomer tiga” perintah guru itu. Namun Gracia tak beranjak dari tempat duduk, nya, dia masih melamun.

“Gracia” Panggil guru itu sekali lagi.

“Maaf pak, saya tidak memperhatikan penjelasan bapak” balas Gracia.

“Jadi kamu tidak memperhatikan apa yang saya jelaskan? Keluar kamu dari kelas saya” kata Guru itu geram. Dengan langkah gontai Gracia keluar, Nadse yang melihat itu hanya bisa memberikan tatapan iba pada Gracia.

“Nadhifa, apa kamu mau menyusul Gracia” Tanya guru itu.

“Nggak pak” ujar Nadse cepat.

Gracia mengarahkan langkah nya ke arah Rooftop sekolah nya, di sana terlihat pemandangan kota Jakarta, tanpa di suruh air matanya jatuh membasahi pipinya. Dia terus di sana sampai bel pertanda istirahat berbunyi, dengan malas dia menuju ke kantin sekolah nya.

“Gre, lu kenapa kok murung terus? Lu ada masalah?” tanya temannya.

“Nggak kok di” balas Gracia bohong.

“Jangan bohong deh, seorang Shania Gracia yang biasanya selalu ranking satu nggak biasanya kayak gini kalo gak ada masalah” bantah Nadse, mendengar omongan Nadse itu Gracia langsung terdiam, dia menoleh ke bawah.

“Gre, liat gue” ujar Nadse, Gracia lalu menoleh ke arah Nadse.

“Sesusah apapun masalah yang lu hadepin, ceritain ke gue, Grace, Anin yang bakal bantuin lu” ujar Nadse.

“Kamu ngerasa gak kalo Sofia itu ngejauhin aku?” tanya Gracia. Nadse terlihat berpikir sebentar, lalu dia mengangguk kan kepala nya.

“Aku kepikiran sama sikapnya dia yang tiba-tiba ngejauhin aku”  ujar Gracia.

“Ya udah, nanti kita bantuin lu buat nanyain ke Sofia” ujar Nadse lalu menepuk pundak Gracia pelan, Nadse lalu mengajak Gracia untuk masuk ke dalam kantin sekolah.

 

 

*Di taman kastil*

 

Dendhi dan Alpha Team mengejar mahkluk serangga yang berbentuk seperti nyamuk, mahkluk itu terbang membawa Michelle menjauh dari Dendhi. Letnan Dicky lalu mengeluarkan Sniper nya dia membidik mahkluk itu.

“Jangan di tembak letnan, terlalu beresiko buat Michelle” ujar Dendhi.

“Tapi..” ujar Letnan Dicky terpotong.

“Yang di katakan Dendhi benar letnan dicky, jangan di tembak” ujar Kapten Zelado, Akhirnya letnan Dicky menurunkan senjata nya.

After that thing” Ujar kapten Marcos.

Mahkluk itu keluar melalui atap kastil itu yang kebetulan berlubang. Ketika mereka akan mengejar mahkluk itu, tiba-tiba muncul banyak mahkluk yang serupa dengan mahkluk yang menculik Michelle. Mahkluk itu lalu menyemprotkan ke arah Dendhi dan Alpha Team, Dendhi, Kapten Zelado, Letnan Dicky, dan Kapten Marcos berhasil menghindari cairan yang di semprotkan mahkluk itu, namun sayang beberapa rekan kerja mereka tak sempat menghindar. Mereka semua meninggal dengan mengenaskan, kulit mereka terkelupas.

We must be careful with those things” ujar Dendhi (Kita harus hati-hati dengan hewan-hewan itu),

Dendhi lalu mengeluarkan senapan Kriss milik nya. Ia lalu melihat amunisi yang ada di ransel nya.

“Tinggal sedikit” gumam Dendhi pelan. Dia lalu menoleh ke arah rekan-rekan Alpha Team yang meninggal. Ada satu senjata yang menarik perhatian nya, di ambil nya senjata itu.

“Pilihan bagus Den” ujar kapten Zelado.

Dendhi mengambil senjata Shotgun Mossberg 500 Cruiser 12, dia lalu mengambil beberapa amunisi yang tercecer.

“Hilang lagi berliannya” keluh Dendhi.

“let’s get outta here” Ajak Kapten Marcos yang di balas anggukan oleh Dendhi dan yang lainnya. (ayo keluar dari tempat ini)

Namun tepat di depan pintu keluar, mereka di hadang oleh banyak penjaga kastil.

“Kill all of them” perintah penjaga kastil. (Bunuh mereka semua)

“We don’t have a choice” Balas Dendhi. (Kita tidak punya pilihan)

Dendhi dan Alpha Team mulai membidikkan senjata nya. Dan mulai menembaki penjaga kastil itu, sedangkan penjaga kastil itu menembaki Dendhi dan Alpha Team dengan crossbow.

 

JLEBB…

 

“Arrgh” Teriak salah satu anggota Alpha Team.

“Noooo… Alvaro” teriak kapten Marcos.

“Captain.. Forgive me” Ujar salah satu bawahan kapten Marcos yang tertancap panah. Panah itu tepat menghujam jantung.

“Adios” Ujar Alvaro.

Letnan Dicky melihat ada tong berwarna merah berada di dekat penjaga kastil itu. Setelah memastikan bahwa tidak ada sumber api yang berada di dekat nya, Letnan Dicky langsung menembak tong itu.

 

DAAAR…..

 

Suara ledakan jelas terdengar memenuhi ruangan itu. Asap berwarna hitam pekat memenuhi ruangan itu.

“Hurry.. we must leave this room” Teriak Dendhi, semua anggota Alpha Team berlari meninggalkan ruangan itu.

Setelah keluar dari ruangan itu. Mereka semua melihat jembatan, Michelle berada di ujung jembatan itu, dia di paksa masuk oleh Castellan ke dalam kastil yang berada di ujung jembatan itu.

“Never I thought that you can survive from my pets Kak Dendhi” ujar seseorang.

“Kak Dendhi?? jadi kamu bisa bahasa Indonesia” tebak Letnan Dicky.

“Saya pernah kuliah di Indonesia, dan seperti nya Kak Dendhi tahu banyak tentang saya yang lama” ujar Rusdi lalu tertawa dengan sinis.

“But I can assure you that you guys gonna die if you want to enter this castle” Ujar Rusdi lagi, lalu dia meninggalkan mereka semua.

Tak lama kemudian hp milik Dendhi berdering.

 

Veranda : Mission Report Den..

Dendhi : Aku berhasil melarikan diri dari desa kampret itu, aku sama Michelle masuk ke dalam kastil. Tapi ternyata aku masuk ke tempat yang salah

Veranda : Which means

Dendhi : Kastil itu juga terhubung dengan saddler. Michelle kini di culik sama penjaga kastil itu.

Veranda : Dengerin aku Den, aku perlu kamu untuk…

 

Tiba-tiba panggilan mereka terputus.

“Kenapa Den?” tanya Letnan Dicky.

“Tiba-tiba panggilanku sama Veranda terputus.” Balas Dendhi.

“Firasat saya nggak enak Den, lebih baik kita harus cepat masuk ke dalam kastil ini, dan segera membawa Michelle pergi dari kastil ini.”Ujar Kapten Zelado.

“Let’s move” Ajak Dendhi pada Alpha Team.

 

*Di Jakarta*

 

Gracia tengah termenung di dalam ruang kelas nya, pikirannya terus memikirkan tentang perubahan temannya itu, Nadse yang melihat Gracia yang termenung lalu menghampiri Gracia.

“Gre, kenapa lu?” tanya Nadse.

“Aku masih kepi…” Ujar Gracia terpotong.

“Soal Sofia ya, kita udah siap bantuin lu kok. nanti pulang sekolah kita bakal cegah Sofia pulang duluan, sabar ya, tinggal lima menit lagi” Ujar Nadse menenangkan temannya itu. Nadse lalu mengetik pesan singkat kepada teman-temannya supaya mereka segera bersiap begitu bel pulang sekolah berbunyi.

 

KRIIING…KRIIING…KRIING.

 

Bel pulang kini berbunyi, setelah berdoa Sofia segera pergi meninggalkan kelasnya, Gracia dan Nadse yang melihat itu segera beranjak keluar dari kelas mengejar Sofia. Sofia lalu berjalan dengan santai menuju ke gerbang sekolah.

“Haii Sofia” Sapa Grace.

“Haii juga Grace” Balas Sofia singkat.

“Sof, anterin aku ke kantin yuk” Ajak Anin. Sofia terlihat berpikir.

“Ya udah deh, tapi aku cuman beli minum aja ya” Balas Sofia. Anin dan Grace lalu masuk ke dalam Kantin, entah Sofia yang jalannya terlalu cepat atau memang mereka berdua melambatkan jalan mereka, Anin dan Grace sedikit tertinggal oleh Sofia.

“Ayo cepet, kok lelet banget sih kalian” Ujar Sofia sedikit kesal.

“Eh.. Iya Sof” Balas mereka berdua.

Sofia melihat Gracia dan Nadse berjalan bersamaan sedikit merasa sakit hati, dia lalu berjalan melewati Gracia dan Nadse, namun tangan Sofia di pegang erat oleh Nadse.

“Sof, tunggu” ujar Nadse

“Lepasin” Balas Sofia dengan nada yang meninggi

“Nggak sebelum lu jelasin ke kita tentang perubahan sifat lu ke Gracia” Balas Nadse tak mau kalah.

“Grace, Anin. Kita pergi dari sini” ajak Sofia, kepada Grace dan Anin, namun mereka berdua tak bergeming.

“Sorry sof, tapi kamu harus jawab Nadse dulu” ujar Anin.

“Iya Sof, kamu gak kasian apa sama Gracia, tiap hari kepikiran sama perubahan sifat kamu terus?” tanya Grace, Sofia lalu menundukkan kepalanya sejenak.

“Aku gak mau punya temen yang kakaknya pembunuh” Ujar Sofia dengan kepala tertunduk, bahu nya sedikit terguncang, lalu terdengar suara isak tangis.

Mereka semua kaget dengan perkataan Sofia.

“Maksud lu apa?” Tanya Nadse.

“Sudah jelas kan, aku gak mau punya temen yang kakaknya pembunuh, coba kalian bayangin, kalo kalian kehilangan anggota keluarga kalian, dan anggota keluarga kalian itu di bunuh?” tanya Sofia dengan suara tinggi.

“Maksud kamu?” tanya Gracia yang kini bersuara

“Kamu masih pura-pura nggak tau? Kakak aku meninggal di bunuh sama kak Dendhi, puas kamu ngambil kebahagiaan aku.

Terlihat Gracia menganga tak percaya, sedangkan Nadse, Grace dan Anin mematung. Banyak tanya memenuhi pikiran mereka.

“Katanya kakak aku sama kak Dendhi temenan sejak SMA, mana? Mana bukti nya?” Bentak Sofia.

“Pasti ada alasannya kenapa kakak nya Gracia ngelakuin itu” Bela Anin.

“Dan juga kalian, aku nggak nyangka kalo kalian bakal berkhianat ke aku, aku kecewa sama kalian bertiga” ujar Sofia lalu pergi meninggalkan mereka berempat. Lima menit sudah mereka bertiga terdiam mematung.

“Gracia.. em” Tanya Anin yang terpotong karena tatapan dari Nadse.

“Aku pulang dulu ya” Ujar Gracia

“Gue anterin ya” Balas Nadse cepat.

“Nads.. aku mau sendirian dulu” Balas Gracia dengan tatapan memelas. Nadse yang melihat tatapan itu langsung menghela nafas.

“Ok.. kalo butuh bantuan bilang ya ke kita, kita pasti bantuin lu kok” Kata Nadse yang lalu menepuk pelan pundak dari Gracia. Gracia hanya mengangguk pelan.

Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, Gracia hanya menunduk, banyak pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.

“Jadi ini alasannya Sofia ngejauhin aku? Kak Dendhi nggak mungkin ngebunuh kak Rafles.” Ujar Gracia dalam hati.

Sesampainya di rumah Gracia langsung menuju ke kamarnya, begitu dia membuka handphone nya, terlihat banyak sekali chat di notifikasi LINE nya. Salah satunya berasal dari Nadse, Gracia yang sedang tak ingin membalas chat itu menaruh handphone nya di nakas.

Sedangkan di rumah Nadse suasana sedikit tegang, karena Nadse, Anin, dan Grace terlibat sedikit perdebatan.

“Kita harus tanyain hal ini ke Gracia secepetnya” Kata Grace.

“Tapi nggak sekarang Grace, suatu saat nanti Gracia pasti akan nyeritain semuanya ke kita.” Kata Nadse.

“Terus kapan Nads? Kita harus maksa Gracia supaya cerita semuanya, biarin ini masalah cepet selesai, aku nggak mau keadaan kayak gini berlangsung lama, kita semua ini udah temenan sejak kelas sepuluh.” Grace sedikit memaksa.

“Sabar Grace, kita semua nggak ada yang mau ada di situasi ini. Suatu saat pasti Gracia pasti cerita” Ucap Anin sambil menepuk pundak sahabat nya itu.

“Aku pergi dulu” Kata Grace yang lalu beranjak pergi meninggalkan rumah Nadse

“Kita salah ya?” tanya Anin yang mulai memegangi kepala nya.

“Entahlah, gue bingung nin” Balas Nadse yang mendudukkan diri nya di kursi ruang tamu

 

Author Note

Halo semua, makasih yang sudah baca cerita Zombie Attack dari awal publish sampe part ke-11 ini, mulai part ke-12 dan seterusnya ff ini bakal ada di account Wattpad aku ini link nya https://www.wattpad.com/user/Dendhiy. Makasih buat para admin di KOG yang sudah publish ff ini dari part pertama sampe sekarang.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Zombie Attack, Part 11 : Sebuah Fakta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s