Delinquents, Part3

dlq

“APA MAKSUDNYA INI?!!” Bentak Bu Sukma sambil memegang sesuatu di tangannya, sesuatu yang menyebabkan amarah wanita paruh baya itu memuncak.

Teriakan guru tersebut terdengar ke seluruh ruang guru, bahkan hingga ke luar, menyebabkan beberapa orang yang lewat berhenti sebentar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

“Ayo jelaskan! Apa maksudnya mading ini.” Bu Sukma melirik ke arah tulisan yang ada di selebaran tersebut lalu mencoba membaca judulnya. “‘GADIS GILA PENEBAR TEROR, DEVI KINAL PUTRI’ mading macam apa ini?”

Tak ada jawaban dari empat siswa yang dianggap sebagai pembuat selebaran itu.

“Sigit coba jawab pertanyaan saya.” Bu Sukma melemparkan tatapan ke arah siswa dengan baju yang berantakan.

“Eumm awalnya bukan itu judul dari mading kami Bu,” ucap Sigit.

“Lalu apa?” Bu Sukma menaikkan sebelah alisnya.

“Awalnya itu ‘TEROR SI GADIS GILA’ iya itu judulnya, gak tau deh kenapa bisa berubah.” Sigit berusaha untuk tidak menatap mata gurunya tersebut.

“SAMA SAJA!” Bu Sukma menggebrak meja kerjanya. “Saya gak habis pikir sama kalian, entah apa yang ada di kepala kalian, mengeluarkan edisi pertama mading yang sama sekali tidak bermutu.

“Awalnya saya terkejut, kalian sudah menjalankan kegiatan klub sebelum klub-klub lain memulai aktivitas mereka, tapi setelah melihat hal ini saya langsung yakin akan satu hal.” Bu Sukma melipat kedua tangannya sambil menatap satu per satu wajah keempat muridnya itu.

“Apa tuh Bu?” Celetuk Sigit dengan sedikit bersemangat.

“Kalian memang benar-benar biang masalah, pembuat onar, saya gak habis pikir kenapa kepala sekolah tetap mempertahankan kalian.”

Sigit langsung tertunduk lesu. Kata-kata yang keluar dari mulut Bu Sukma benar-benar berbanding terbalik dari apa yang dia harapkan.

“Ini terakhir kali saya lihat kalian bikin yang begini, kalo sampe kejadian ini terulang untuk kedua kalinya kalian berempat angkat kaki dari sekolah ini.” Bu Sukma menatap tajam keempat murid di hadapannya. “Sekarang kalian boleh keluar.”

Ciko dan ketiga temannya berjalan meninggalkan ruang guru. Sesampainya di luar mereka langsung disambut dengan tatapan dari beberapa murid yang sedaritadi menjadi saksi ‘pertunjukan’ Bu Sukma. Waktu terasa berhenti, untuk sejenak semuanya tak melakukan apa-apa.

Semua kembali normal ketika sebuah tepuk tangan memecah keheningan. Suara tersebut berasal dari seorang gadis berambut sebahu yang berjalan mendekati Ciko dan teman-temannya sambil menyunggingkan senyum kemenangan.

“Wah-wah, ini dia otak di balik ‘mahakarya’ yang jadi trending topic di sekolah.” Gadis itu berhenti sembari menatap remeh empat orang itu.

“Lu lagi, kagak bosen apa gangguin kita?” ucap Sigit yang moodnya sudah berantakan dari tadi.

“Kenapa harus bosen? Toh kalian masih di sini. Lagian siapa suruh deket-deket sama dia.” Kinal menata tajam ke arah Guntra yang sedang melemparkan tatapan yang sama. “Pokoknya selama kalian belom dikeluarin kalian bakal sering ketemu sama gue.”

Kinal berjalan meninggalkan keempat pemuda itu dengan tawa kemenangan. Melihat hal itu Sigit langsung tersulut emosinya. Dia berjalan mendekati Guntra lalu mencengkram kerah baju temannya itu.

“Sebenarnya masalah lu sama dia apaan sih? Gara-gara elu gue jadi ikut-ikutan terlibat!” Tanya Sigit.

Tak ada jawaban dari Guntra, dia hanya menatap Sigit dengan tatapan serius. Ciko dan Arez juga tak mencoba melerai, mereka berdua memiliki pertanyaan yang sama dengan Sigit hanya saja mereka berdua tak ekpresif seperti Sigit.

Perlahan Guntra mulai melepaskan cengkraman Sigit. Pemuda itu menarik nafas sambil merapikan kerah bajunya yang kusut. Dia menatap Sigit dalam, hingga membuat temannya itu merasa sedikit segan.

“Kalian kenal sama cewek tadi?” ucap Guntra sambil melirik ke arah Ciko dan Arez.

“Ini orang bener-bener.” Sigit mengepalkan tangannya, bersiap melayangkan pukulan pada orang yang ada di depannya.

Tiba-tiba dari arah lain muncul seseorang, mendaratkan kepalan tangannya di wajah Guntra, menyebabkan pemuda itu terjerembab hingga wajahnya menyentuh lantai.

“DASAR BEGOOOO!”

*****

Ciko dan teman-temannya kini berada di ruang klub mading. Untuk kali ini ada yang berbeda, mereka kedatangan tamu. Seorang gadis dengan rambut pendek yang menyebabkan hidung salah seorang temannya mengeluarkan darah dan harus disumbat dengan kapas.

Arez dan Sigit melempar tatapan pada Ciko namun pemuda itu hanya mengangkat kedua bahunya. Ya, saat ini dia tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya dia dan kedua temannya hanya memperhatikan gadis itu yang hanya duduk menatap Guntra yang tak sadarkan diri dengan tatapan kesal.

“Euuum maaf, elu siapa ya?” tanya Sigit, mencoba mencairkan suasana.

“Eh?” gadis itu tersentak. “Ah iya maaf, kalian pasti kaget ya? Hahaha.”

“Cik, bukannya ini cewek yang kita liat kemaren di depan ruang klub?” bisik Arez sambil menyikut pelan pemuda di sebelahnya.

“Iya Rez, kayaknya dia yang bareng gue di podium waktu perkenalan klub,” balas Ciko.

Gadis itu bangkit lalu berjalan mendekati Ciko dan yang lainnya. “Namaku Viviyona, panggil aja Yona, dan yang di sana itu suami aku.”

Ciko terkejut, begitu juga dengan Arez namun Sigit yang paling parah, mulutnya terbuka seakan rahangnya terlepas dari tempat yang semestinya.

“Suami apaaan?! Jangan sembarangan!” tiba-tiba Guntra bangkit sambil menggebrak meja. Pemuda itu langsung melihat ke arah Yona dan tiga temannya sambil menyipitkan kedua mata. “Bentar, kalian siapa?”

“Dasar ini anak kebiasaan,” geram Yona.

Gadis itu berjalan menghampiri Guntra. Dia mendekatkan wajahnya, memperhatikan sesuatu di wajah Guntra.

“Kemaren tidur berapa lama? Itu kenapa kantong mata kok udah ilang? Kan udah dibilang jangan suka kelamaan kalo tidur!” Yona mulai menggoyangkan tubuh Guntra dengan keras, membuat kepala pemuda itu bergerak tak tentu arah.

“Ini anak emang kebiasaan dari dulu, asal bangun tidur pasti otaknya berantakan, harus diginiin dulu biar normal,” jelas Yona. “Makin lama tidurnya efeknya juga makin parah, pernah ini anak sampe lupa namanya sendiri.”

Ciko dan dua temannya mengangguk kompak. Akhirnya mereka berdua mengetahui penyebab mengapa Guntra tak mengingat beberapa hal yang mereka kerjakan.

“Terus kalian kok bisa nikah? Emang udah dijodohin dari kecil ya?” celetuk Sigit.

“Hahaha, yang itu becanda, jangan dianggep serius.” Yona tersenyum sambil terus mengoyang-goyang badan Guntra.

“Iya, mana mau gue punya istri kayak dia.” Guntra menggenggam tangan Yona, melepaskan cengkramannya dan menghentikan hal yang sedari tadi dilakukan oleh gadis berambut pendek itu. “Mau sampe kapan gini terus?”

“Eh udah sadar, bagus deh.” Yona mundur selangkah menjauhi Guntra. “Pokoknya hari ini kamu cuman boleh tidur dua jam.”

“Bawel, jangan mentang-mentang senior langsung suka nyuruh-nyuruh.” Guntra mengambil sesuatu dari saku celananya, sebungkus rokok. “Jadi ngapain pengurus OSIS ada di sini?”

“Lah harusnya aku yang nanya gitu sama kalian.” Yona mendengus kesal.

Guntra melemparkan tatapannya ke arah Ciko dan yang lainnya. Pemuda itu bisa menebak jika edisi pertama dari mading mereka gagal total, ya, dia bisa dengan mudah mengetahui hal itu saat melihat Sigit menatapnya dengan tatapan membunuh.

“Yah langkah pertama emang gak selalu berhasil kan?” ucap Guntra santai.

Mendengar hal itu mereka berempat hanya bisa terdiam. Bagaimana pemuda yang satu ini bisa santai setelah menggemparkan sekolah dengan sebuah artikel?

“Ah iya elo bertiga gak laper? Kalo ke kantin gue nitip makanan yak, belom sarapan nih.”

Mendengar hal itu Ciko langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati pintu keluar.

“Mau kemana Cik?” tanya Arez.

“Mau jalan-jalan bentar, lagian kita juga gak ngapa-ngapain kan?” balas Ciko.

“Ah iya, gue juga mau cabut ah, ngeselin lama-lama di sini.” Sigit berjalan mendahului Ciko yang masih berdiri di dekat pintu.

“Halah, yaudah deh, gue tinggal dulu, kalian berdua jangan ngapa-ngapain ya, setau gue di lingkungan sekolah kagak ada yang jual ‘pengaman’,” ucap Arez lalu menyusul kedua temannya.

Kini di ruangan klub mading hanya tersisa Yona dan Guntra, terjebak dalam diam tanpa ada seorangpun yang mencoba untuk memecah keheningan.

Gadis itu menatap curiga pada pemuda di hadapannya. Entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang janggal, sesuatu yang membutuhkan penjelasan lebih agar logikanya bisa terbebas dari rasa penasaran.

“Aneh, entah kenapa aku ngerasa kalo kamu lagi ngerencanain sesuatu.” Yona melipat tangan sambil menatap Guntra sinis.

“Hadeeh, kebiasaan suka mikir yang aneh-aneh.”

“Kita udah kenal dari SD, makanya aku bisa mikir kalo sebenernya ada sesuatu yang lagi kamu siapin kan?”

“Jadi orang kok Suudzon mulu, udah sana siap-siap, bukannya anggota OSIS lagi sibuk buat ngurusin kegiatan camping?”

“Iyaaaa.” Yona berjalan menjauh namun sesaat sebelum membuka pintu dia berbalik dan menatap Guntra. “Kamu jangan kabur ya! Awas aja kalo nanti gak keliatan di tempat camping.”

Guntra hanya menghela nafas, entah bagaimana temannya yang satu itu bisa mengetahui jika dirinya enggan untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan pihak sekolah itu.

*****

Ciko, Arez dan Sigit berjalan menyusuri koridor yang penuh dengan teman-teman sebaya mereka. Berkat kejadian tadi pagi popularitas ke tiga pemuda itu meningkat drastis, bahkan kini hampir seluruh siswa kelas satu mengenali wajah mereka. Ya, hanya wajah, karena tak terdengar sedikitpun nama mereka disebut dalam bisikan-bisikan para murid saat ketiga pemuda itu lewat.

“Bagus sekarang kita jadi makin dikenal.” Sigit berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celananya.

“Lah bukannya itu bagus? Elu jadi lebih gampang buat dapetin tujuan lo,” ucap Arez.

“Ya, kalo dikenal gara-gara keburukan gimana gue bisa dapetin predikat cowok paling ganteng di sekolah.” Sigit menggeleng pelan.

“Iya juga sih, lagian dari potongan muka lu udah keliatan sih, ya gak Cik?” Arez menyenggol bahu pemuda di sampingnya dan mendapatkan sebuah anggukan sebagai balasan.

“Kampret lu berdua, kayak yang paling bener aja.” Sigit melemparkan tatapannya pada Arez.

“Cikooo!” terdengar suara seorang wanita dari arah belakang.

Merasa terpanggil, sang pemilik nama menoleh, begitu juga dengan kedua temannya. Tak jauh dari tempat mereka berdiri ada seorang gadis yang sedang melambaikan tangannya, seorang gadis dengan poni menyamping serta seragam bermotif sama seperti apa yang dikenakan tiga pemuda itu.

“Halo Cik, makasih…,” kalimat gadis itu terhenti saat melihat sosok Arez dan Sigit yang berdiri bersama Ciko. Perlahan dia mengambil langkah mundur lalu berbalik, berlari meninggalkan tiga pemuda itu.

“Siapa Cik? Gebetan?” celetuk Arez.

“Kampret, gue kalah sama yang model begini,” rutuk Sigit sambil menatap sinis Ciko.

“Namanya Shani, tapi kok aneh ya?” Ciko mengerutkan dahinya.

“Aneh kenapa?” tanya Sigit.

“Kenapa dia langsung lari? Perasaan kemaren gak gitu.”

“Takut ngeliat muka dia mungkin.” Arez melirik ke arah Sigit.

“Sialan, apa hubungannya ama gue? Yang ada dia terpesona sampe grogi kayak gitu,” ucap Sigit.

Ciko hanya terdiam. Sudah ia duga jika kedua temannya ini tidak dapat membantu mengatasi rasa janggal yang ia rasakan.

“Yaudahlah Cik, mungkin dia kebelet atau apa, ke kantin yuk, ntar keburu rame, malah ketemu sama cewek gila itu lagi ntar.” Sigit berjalan mendahului kedua temannya.

Arez menyusul Sigit sementara Ciko masih belum beranjak. Ya, mungkin ada benarnya apa yang dikatakan oleh Sigit, pikir Ciko. Setelah membuang semua kecurigaannya, pemuda itu berjalan menyusul kedua temannya yang sudah berjalan cukup jauh.

*****

Guntra memandang ke arah lapangan yang dimana ada sekumpulan murid yang sedang bermain bola. Mereka memanfaatkan jam kosong selama masa orientasi untuk melakukan hobi mereka, sekedar bersenang-senang sambil berusaha menambah kenalan. Terdengar hembusan nafas berat dari Guntra, wajahnya ia benamkan di kedua tangan yang terlipat di atas pagar pembatas, sesekali matanya menyembul keluar, sekedar melihat perkembangan dari pertandingan bola di bawah sana.

Seiring berjalannya waktu, tatap pemuda itu semakin nana, dengusan nafas kembali terdengar, seolah sedang menanggung beban berat yang tak terlihat. Tubuhnya yang tidak atletis memang membuat Guntra tak memiliki kemampuan menggiring bola sebaik mereka di sana tapi bukan itu yang jadi masalah. Saat ini rasa kantuk mulai menyerangnya, rasa perih tengah mencumbu matanya sedari tadi, belum lagi angin semilir serta sinar matahari yang tak terlalu menyengat, benar-benar suasana yang cocok untuk tidur siang, namun sayang dirinya tak bisa melakukan itu sekarang.

“Jadi apa yang bikin kamu berubah pikiran tahun ini?” ucap Yona yang sedari tadi berdiri di sebelah Guntra.

Pemuda itu hanya diam, dirinya sudah terlanjur kesal karena gadis di sebelahnya menjadi penyebab tidur siang hanya tinggal kenangan.

“Kenapa diem?” desak Yona.

Perlahan Guntra menoleh, matanya yang mulai memerah menatap Yona dengan malas. “Bukannya elu ada rapat ya?”

“Iya,” jawab Yona singkat.

“Terus kenapa masih di sini?”

“Biar kamu gak tidur, lagian soal rapat aku udah minta wakilin ntar tinggal minta kesimpulannya aja lewat chat.” Yona mengukir senyum kemenangan di bibirnya. “Pertanyaanku belom dijawab woi.”

“Apa?”

“Kenapa tahun ini? Padahal undangan tahun sebelumnya kamu tolak.” Yona berbalik lalu menyandarkan punggungnya di pagar pembatas.

“Gak inget, semuanya blank, pas sadar tiba-tiba udah baris aja bareng anak-anak baru di aula,” jalas Guntra.

“Pasti waktu itu abis begadang. Duh kayaknya beneran kata ibu kamu, kita harus tinggal bareng, besok aku pindahin barang-barang aku ke rumah kamu ya,” ucap Yona bersemangat.

“Jangan macem-macem,” Tegas Guntra yang langsung membuat Yona cemberut.

“Tapi kalo gak suka kamu kan bisa tinggal keluar aja, gausah dateng lagi atau apa gitu, kayak yang dulu-dulu,” tukas Yona.

“Gue gak yakin itu kepsek bakal berhenti ngirim undangan beasiswa ke rumah, gue juga udah terlanjur nerima tantangan dia.” Guntra menegakkan badannya lalu mengambil posisi sama seperti Yona, yang berbeda hanya posisi kepala pemuda itu menghadap ke atas. “Lagian tahun ini kayaknya bakal menarik.”

Yona hanya menggeleng, dia benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran teman masa kecilnya itu. Terkadang dia menganggap Guntra yang terlalu bodoh atau justru dirinya yang tak mampu memahami temannya itu.

“Yaudah sekarang elu cabut deh, cari kegiatan, gue laper pengen tidur.” Guntra berbalik ke posisi semula.

“Laper kok pengen tidur?”

“Biar lupa sama rasa lapernya,” jawab Guntra sekenanya.

“Gak ada ya!” Yona menarik kuping temannya itu. “Mending kita balik ke ruang klub, tadi kamu kan nitip makanan sama temen-temen baru kamu.”

Guntra hanya bisa pasrah, sesekali dia meringis ketika langkah kakinya tertinggal dengan langkah Yona. Sepanjang perjalanan mereka berdua menjadi pusat perhatian, beberapa yang ekspresif langsung tertawa namun ada juga yang hanya senyum sambil berbisik pada temannya.

Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di ruangan klub namun ekspresi wajah Guntra malah menunjukkan hal sebaliknya. Di dalam sudah ada Ciko dan dua temannya yang tengah menyantap makanan dari kantin.

“Kayaknya emang beneran suami-istri deh,”celetuk Sigit.

“Kek gak pernah nonton film aja Git, paling mereka masih malu-malu gitu,” Timpal Arez.

Ciko tak mengatakan apapun, dia hanya menggeleng pelan seolah menambah bumbu pelengkap perkataan Sigit dan Arez.

“Mana titipan gue?” Guntra menjulurkan tangannya sambil menyimpan perasaan kesal.

Sigit menyerahkan sebungkus roti cokelat yang dia dapat dari kantin. “Nih.”

“Lah kok roti? Mi goreng gak ada gitu?” Guntra tampak kecewa.

“Mahal, lagian bentar lagi juga pulang sekolah.” Sigit menyeruput segelas cappucino dingin di tangannya.”Eh ngomong-ngomong kita bebas mau ngelakuin apapun sama ruangan ini kan?”

Ciko, Arez dan Guntra hanya melempar tatapan. Mereka mencoba untuk memahami apa maksud dari perkataan Sigit.

“Gak tau, emangnya gitu ya?” ucap Guntra yang sudah menyelipkan sebatang rokok di bibirnya.

“Kayaknya kepsek pernah bilang hal semacam itu deh tapi gue gak yakin, kalo menurut elu Cik?” Arez melempar tatapannya pada pemuda yang tengah sibuk menatap layar smartphone di tangannya.

Ciko hanya mengangkat kedua bahunya tanpa melepas fokus dari layar smarphone. Mereka berempat terdiam hingga pada suatu saat pikiran mereka bertemu di satu titik dan secara bersamaan melemparkan pandangannya ke arah Yona.

“Lah kenapa? Ada yang aneh ya di muka aku?” Yona meletakkan jari telunjuk pada hidungnya.

“Bukan, secara situ anggota OSIS, pasti tau sama hal-hal kayak gini,” ucap Arez.

“Eumm gimana ya? Kayaknya setiap anggota klub bebas mau ngelakuin apa aja terhadap ruangan klub mereka.” Yona mengarahkan bola matanya ke atas.

“Kok kayak gak yakin gitu sih jawabnya?” Sigit menaikkan sebelah alis.

“Yah namanya juga lupa, lagian aku gak terlalu gimana banget sih di OSIS, hahaha.” Yona menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Oke, anggep aja kita bebas ngelakuin apa aja sama ruangan ini, kira-kira hal pertama yang harus dilakuin apa ya?” ucap Arez sambil memberikan kode pada Guntra, kode agar dirinya diberi salah satu dari lintingan tembakau yang tersimpan pada bungkusan di saku Guntra.

“Di sana.” Sigit menunjuk ke arah tumpukan kardus berisi dokumen yang tak ia mengerti di salah satu sudut ruangan. “Gue pengen ada home teather, sofa yang empuk sama DVD player, jadi meskipun gue terjebak di sini, gue tetep bisa nonton anime favorit sepuasnya.”

“Padahal kan dari laptop udah cukup,” celetuk Arez.

“Kurang puas, feelnya gak dapet.” Sigit melemparkan gelas plastik bekas minuman miliknya ke arah tempat sampah. “Kalo elu emangnya mau ngapain?”

Arez bangkit dari tempat duduk lalu merapikan kerah seragamnya. “Gue pengen naro perlengkapan photoshoot, mulai dari lighting, backdrop, background dan back-back lainnya. Abis itu bakal gue undah cewek-cewek cantik yang ada di sekolah, buat dijadiin model, terus potonya gue jual deh ke orang-orang mesum kek elu. Ah iya satu lagi, kayaknya gue juga bakal naro lemari buat kostum-kostum unyu.”

Sigit hanya mengangguk. Dirinya tak menyangka jika Arez memikirkan hal yang cukup jauh kedepan. Dia bisa membayangkan bagaimana jika keinginan temannya itu terwujud, koleksi foto-foto gadisnya akan bertambah, dengan berbagai macam kostum dan resolusi yang memanjakan mata.

“Kalo aku pengen yang simple aja, lemari yang penuh buku bacaan, sofa yang empuk sama radio tua yang muterin lagu-lagu slow,” celetuk Yona tiba-tiba.

“Bentar deh…,” Arez melihat Yona sambil menaikkan sebelah alisnya. “Emangnya Kakak anggota klub mading ya?”

“Eh iya lupa, karena ngedenger obrolan kalian aku jadi tertarik dikit.” Yona menjulurkan lidah sambil mengusap bagian belakang kepalanya.

“Gue cuman pengen wi-fi kenceng, komputer spek mumpuni sama beberapa pernak-pernik lainnya,” celetuk Ciko sembari memasukkan smartphone miliknya ke dalam saku.

“Bentar, pernak-pernik yang elu maksud apaan nih? Jepitan rambut, anting, dan lain-lain gitu?” Sigit memiringkan kepalanya.

“Bukan, lebih ke, pen tab, VR gear, pokoknya hal semacam itulah,” jelas Ciko.

“Buset, nih anak pengen bikin bengkak tagihan listrik sekolah kayaknya.” Arez menggeleng.

“Lah namanya ngayal mah bebas,” ucap Ciko sambil merenggangkan badannya.

“Gimana ya kalo semuanya itu jadi nyata,” celetuk Sigit.

Arez, Ciko, Sigit dan juga Yona terdiam. Mendadak mereka terhisap masuk ke dalam khayalan mereka masing-masing, khayalan tentang apa yang akan mereka lakukan untuk memodifikasi ruang klub mading yang keadaannya jauh dari kata menarik.

“Kalo itu semua jadi nyata kalian bakal berantem buat nentuin dimana ngeletakin perlengkapan masing-masing soalnya ruangan klub kita ini gak terlalu besar kan,” ucap Guntra sambil tersenyum penuh arti.

Mereka berempat saling tatap. Pernyataan Guntra mendadak menyulut api persaingan di antara mereka.

“Pokoknya sudut itu bakal jadi tempat gue naro home teather.” Sigit menunjuk ke arah tempat pilihannya tadi.

“Enak banget lu! Gak bisa, gue pokoknya di situ, pencahayaan bagus buat poto,” sergah Arez.

“Terserah sih, yang penting gak ada yang ganggu tempat aku.” Yona melirik ke arah tempat dimana terdapat loker-loker tua berkarat.

“Padahal kan dia bukan anggota klub,” bisik Ciko.

Perdebatan pun dimulai, mereka mencoba mengukuhkan teritorial masing-masing. Sigit dan Arez tetap bersikeras sambil sesekali menentang pilihan Yona karena menganggap wilayah yang diklaim gadis itu terlalu luas. Ciko mencoba menentukan zona miliknya juga namun nampaknya tak terlalu berarti karena suaranya kalah vokal dibanding tiga orang lainnya.

Cukup lama Arez, Sigit dan Yona bersitegang. Tidak ada satupun yang mau mengalah. Tanpa mereka sadari langit sudah semakin gelap dan bel sekolah juga sudah berbunyi cukup lama.

“Terserah! Pokoknya gue mau home teather nanti ada di tempat ini.” Sigit bangkit lalu berjalan menuju pintu keluar.

“Lah elu mau kemana Git? Masa gara-gara gitu aja ngambek,” ucap Ciko.

“Mau ke kamar mandi, pipis, kenapa? Mau nebeng?” Ciko hanya menggeleng dan Sigit pun pergi meninggalkan ruangan klub.

Sementara itu api permusuhan masih terpancar diantara Arez dan Yona. Mereka berdua saling tatap, sesekali terasa aura membunuh meskipun tidak cukup besar.

“Oi, gawat nih, kayaknya suasa makin gak kondusif, mereka malah berantem gitu.” Ciko menyikut Guntra yang ada di sampingnya namun tak ada respon apapun. Merasa aneh, sekali lagi Ciko menggerakkan tangannya namun hasilnya tetap nihil. Rasa penasaran mulai merasuki pemuda itu, perlahan dia menoleh ke samping dan mendapati Guntra tengah tertidur sambil membenamkan kepala pada kedua tangannya di atas meja.

“Yaelah ni orang diajakin ngobrol malah tidur.” Ciko mendengus pelan.

“APAAA TIDURRR!” Yona mendadak histeris. Gadis itu bangkit lalu berjalan mendekati Guntra yang tengah nyenyak di sebelah Ciko. Dengan kekuatan layaknya laki-laki dia menggoyangkan tubuh Guntra hingga pemuda itu keluar dari alam mimpi.

Guntra pun terbangun lalu memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar. Perlahan dia membuka mata dan langsung memperhatikan ke sekitar.

“Apaan sih Yon, pusing nih pala gue.” Guntra mencoba meraih seluruh kesadaran yang bisa ia dapatkan. “Bentar, kok kita ada di sini? Perasaan tadi dipangil Bu Sukma deh.”

“Hufff, untung aja tidurnya gak terlalu lama.” Yona duduk sambil menghembuskan nafas panjang. “Otaknya masih belom terlalu kacau.”

“Gue heran gimana elu bisa tahan temenan sama ini orang begitu lama.” Arez menggeleng.

“Kalo udah sayang mah apa juga dilakuin Rez,” celetuk Ciko sementara Yona hanya mengangkat kedua bahunya.

“Wah udah mulai gelap nih, kayaknya kita keasikan ngayal tadi.” Arez bangkit dari tempat duduk, meregangkan badan lalu mengambil ransel hitamnya yang tergantung di dekat pintu. “Kalian pada gak balik?”

Ciko dan lainnya hanya mengangguk, mereka merapikan barang bawaan mereka dan bersiap menuju rumah masing-masing.

“GAWAAAAAAAAATTTT!” tiba-tiba Sigit muncul diikuti dengan suara bantingan pintu yang cukup keras. Wajahnya pucat, peluh menetes deras dari dahinya, nafasnya tersengal dan sesekali tersendat.

“Kenapa sih Git? Kayak abis dikejer gerombolan homo aja,” ucap Ciko yang sempat kaget karena perbuatan temannya itu.

“Gawat, bener-bener gawat, kita harus buru-buru pindah dari sekolah ini!” ucap Sigit panik.

“Iya gawat, sekarang kita harus bawa Arez ke rumah sakit, ada kemungkinan dia geger otak gara-gara elu.” Ciko menatap sinis Sigit sementara Arez terlihat tak sadarkan diri, terduduk di balik pintu.

“Bukan itu! Ada yang jauh lebih penting.” Kepanikan Sigit tak berkurang sedikitpun.

“Tenang aja, masih idup kok.” Yona mengacungkan jempolnya setelah mengecek kondisi Arez.

“Emangnya ada apaan sih?” tanya Ciko sembari meletakkan kembali ranselnya di atas meja.

“Di sekolah ini ada hantu!” ucap Sigit.

Mendadak atmosfer ruangan klub berubah, keheningan langsung menyelimuti mereka. Seluruh mata menatap ke arah Sigit dan hal itu membuat perasaan Sigit semakin tak karuan.

“Udah pulang-pulang, ntar kalo kemaleman bahaya, banyak begal,” ucap Gutra santai sambil beranjak dari tempatnya berdiri.

“Iya, gue juga mau balik, undur-undur gue di rumah belom dikasih makan.” Ciko kembali mengambil ranselnya.

“Lah ini si Arez gimana?” tanya Yona.

“Udah biarin aja, ntar juga bangun sendiri, lagian dia udah gede ini.” Guntra berjalan menuju pintu keluar.

“GAK BISA!” Sigit kembali menutup pintu masuk. “POKOKNYA HARUS KITA PASTIIN DULU HANTU ITU.”

“Yaelah Git, palingan itu cuman perasaan lu doang,” Ciko mulai terganggu karena satu-satunya jalan keluar telah terhalang oleh Sigit.

“Seriusan ini nyata, gue bener-bener liat,” jelas Sigit. “Gue bakalan ngabulin satu permintaan kalian kalo berhasil nangkep hantu ini.”

Mendadak Guntra sudah berada di depan Sigit sambil memegang bahunya. “Oke, besok kita bakalan usut kasus hantu ini asalkan elu nepatin janji elu.”

“I…Iya, gue usahain,” ucap Sigit dengan suara bergetar, entah kenapa dirinya kini lebih takut dengan sosok Guntra yang menatapnya dengan ambisius.

“Sekarang kita pulang, besok gue pastiin kalo kasus hantu ini bakalan kelar!” Guntra berjalan meninggalkan ruangan dikuti dengan tatapan heran dari teman-temannya.

 

TBC…

 

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Delinquents, Part3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s