The Untold Story

Berlembar-lembar kertas sudah keluar dari printer. Aku mengabilnya satu persatu dan mengguntingnya. Dengan bantuan lem aku menempelkan ke lembar-lembar kosong di buku bersampul coklat itu. Dengan perasaan yang sedikit sesak aku mencoba untuk terlihat rapi. Air mataku sudah tidak mengalir lagi. Tapi kenangan bersamanya masih berlalu lalang. Setelah beberapa waktu dengan usahaku menempel serapi-rapinya, pekerjaanku selesai. Aku membolak balikannya lagi. Membaca cerita yang baru ku tulis. Kemudian aku menutupnya dan kembali memeluk buku itu. Ceritaku seperti hidup dalam pikiranku. Perasan haru kembali air mataku terasa akan menetes lagi, aku kembali menaruhnya diatas meja. Tanganku saling menggenggam dan sikuku menumpu diatas meja. Aku menunduk masih dengan ingatanku bersama orang yang kusayang, Aris.

–o0o–

Saat itu sudah jam setengah lima sore dan KRSku barubisa disetujui oleh dosenku. Jika bukan karena dosenku ada rapat senat yang memaksaku untuk menunggu hungga sesore ini, aku psti sudah meninggalkan gedung perkuliahanku. Aku segera keluar gedung  untuk menunggu di dekat lapangan basket unversitas untuk menunggu papaku untuk menjemput. Kebetulan keluargaku sedang liburan di kota tempatku belajar. Namun, sayangnya aku sedang masih dalam masa baru aktif kuliah di semester genap. Saat keluar gedung keadaan sekitar sudah gelap karena awan mendung. Angin bertiup sangat kencang menggugurkan daun-daun pohon bringin tua di halaman gedung. Sepertinya akan turun hujan deras, aku segera bergegas.

Tapi sayangnya, saat melewati kantin fakultasku hujan deras tiba-tiba turun. Aku masih berada di area terbuka. Dengan terpaksa aku berlari ke salah satu sisi gedung,berteduh dan melangkah pelan di pinggiran mencoba memangkas jarak sekaligus mencari area yang sedikit luas. Dan akhirnya perjalanannku terhenti di sebuah latar salah satu gedung bahasa di samping kantin. Tempatnya sedikit gelap karena lampu belum dihidupkan. Tak apalah, lagi pula jarak dengan lapangan basket lumayan dekat. Dari sini pun sebenarnya aku bisa melihatnya.

Seseorang sudah berada di tempat itu, ia sedang berjongkok sambil merokok di ujung tangga sambil menatap hujan, perlahan saat ku mendekat ia menoleh ke arahku. Pandangan kami bertemu. Ia membuang rokoknya lalu tersenyum dan mengangguk, aku membalasnya.

Tidak ada percakapan terjadi diantara kami berdua, hanya suara hujan yang terdengar. Tiba-tiba lelaki itu melepas tasnya dan berlari ketengah hujan.iamenuju sebuah kursi taman dan mengulurkan tangannya di kolong kursi tersebut dan kembai lagi  ke sebelahku. Ia terlihat membawa sesuatu. Perlahan ia menggerakkan salah satu sisi kemeja yang tidak dikancingnya seolah mengusap sesuatu di baliknya. Kemudian ia mendekapnya sambil mengancingkan kemejanya. Kemudian ia kembali bejongkok. Aku bisa melihat sebuah kepala dibelakang lututnya yang ditekuk.

“Kucing ?” pikirku. Dia berlari menembus hujan deras untuk mengambil kucing. Lelaki yang baik, pikirku.

Kemudian, tak lama setelah aku mengalihkan pandang ke air hujan yang jatuh, tiba-tiba lelaki di sampingku tergopoh karena kucing dalam dekapannya sedikit berontak dan kemudian melompat keluar dari dalam kemejanya. ia jatuh terduduk kebelakang karenanya, si kucing berjalan menuju arahku dan mengelus-eluskan kepalakecilnya ke kakiku. Aku berjongkok dan mengelus kepalanya men.

“Sepertinya ia menyukaimu”

Aku menoleh ke lelaki disampingku.

“Yang nolong tetep kalah sama cewek ya, haha” ujarnya sambil tertawa.

Aku tersenyum. Ucapannya terdengar lucu.

“Nunggu jemputan, mbak ?” Tanya lelaki itu sambil mencoba menyulut sebatang rokok lagi.

“Iya, masnya juga?” tanyaku.

“Nunggu temen sih, soalnya tadi berangkatnya bareng. Dia masih ada urusan di Student Center” jawabnya.

Aku mengangguk angguk kecil. Lalu, tiba-tiba handphoneku berbunyi, Papaku menelpon. Aku berdiri untuk melihat kearah lapangan, ternyata benar, mobil papaku sudah berada di dekat lapangan basket. Kemudian aku menutup telponnya.

“Sudah di jemput ?” Tanya lelaki itu lagi, aku mengangguk. “Cing, sini! Mbaknya mau pulang dulu” lanjut lelaki tersebut sambil melambaikan tangannya kearah sikucing yang asih setia berada didekatku.

Aku berjongkok lagi dan mengelus badan si kucing yag masih sedikit basah. “Sama masnya dulu ya?” ujarku. Entah kenapa aku juga ikut berbicara kepada si kucing. Namun kucing tersebut malah kembali mengeluskan kepalanya ke kakiku.

“Lah ? tambah manja” ujar Si Lelaki. Aku tertawa. Kemudian, si kuicng di ambil oleh lelaki tadi dan langsung didekapnya lagi. “Pulanglah, biar aku yang jaga dia” ucapnya.

Aku tersenyum, “Kalau begitu aku duluan ya” ujarku sambil berdiri dan membenarkan ranselku seidkit.

“Ya, hati-hati. Sampai ketemu lagi” jawabnya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya, kemudian berlari menembus hujan sambil mencoba melindungi kepalaku dari serbuan air yang sudah tidak sederas sebelumnya dengan kedua tanganku. Di tengah hujan yang ku tembus aku tersenyum dan berpikir, dia lelaki yang lucu.

_-***-_

Perkuliahan sudah mulai aktif. Seperti biasa, minggu awal perkuliahan hanya diisi dengan perkenalan dan sedikit ceramah dari dosen pengampu tentang perkuliahan yang akan dijalani selama satu semester. Aku bersyukur, masih ada beberapa temanku yang bisa sekelas lagi di beberapa mata kuliah semester ini. Dan ada hal yang sedikit mengejutkanku. Sama mengejutkannya ketika seseorang dibelakangku saat pertemuan pertama mata kuliah Nirmana Dwimatra tiba-tiba berkata, “Ternyata, kita sekelas”

Aku menoleh ke belakang, kearah sumber suara. Seseorang sudah menilangkan tangan dan di taruh d atas sandaran kursiku. Seseorang dengan topi hitam dikepalanya, hem hitam berlengan panjang yang hanya digulung di bagian kirinya dan sebuah senyum terukir di wajahnya. Dia lelaki yang mengambil seekor kucing yang berteduh dibawah kursi taman saat hujan dulu.

“Kamu kan…”

“Ah, dosennya sudah datang” ucapnya memotong kalimatku sambil menunjukku ke depan lalu menyandarkan diri kesandaran kursinya. Kuliah kemudian dimulai.

Kedekatan kami berlanjut. Kami sudah saling tahu nama kami saat pertemuan kedua kami. Hal itu terjadi karena dosen mengabsen satu satu nama mahasiswanya. Aris Alfiansyah, panggilannya Aris. Seorang mahasiswa seni rupa. Dia sedikit pendiam jika dikelas. Kesibukannya hanya mencoret-coret bukunya, entah itu menggambar atau menulis sesuatu. Lebih sering mendapatinya menutupi telinga dengan earplug untuk mendengarkan lagu dan terkadang ia menggumamkannya. Orang yang sangat irit bicara dan terlihat seperti introvert.

Kemudian seiring berjalannya waktu tanpa sadar kami sudah menganggap kami sendiri seorang sahabat. Senang sekali mengenalnya. Entah kenapa, berbicara dengannya terasa mengasyikkan. Pembahasannya selalu tentang hal-hal ringan.

“Kenapa harus membicarakan hal-hal berat ? Hidup itu sudah cukup berat, bahkan dalam perkuliahan pun terkadang dosen menjelaskan dengan kata-kata yang berat. Jika ada waktu untuk bercengkrama sambil ngopi, mending ngomongin hal hal renyah dan bikin ketawa” ujarnya setelah menyesap kopinya dan berkecap sedikit.

Saat itu kami di kantin dan aku tanpa sengaja menyinggung sebuah perkuliahan yang juga di tempuhnya namun berbeda kelas denganku. Responnya ya seperti tadi. Tapi entah kenapa aku sedikit setuju. Kemudian ia mengalihkan pembicaraan untuk membicarakan tentang acara teater yang kemarin dilihatnya. Ia menceritakan bagaimana sang lakon dapat berakting sangat konyol dan membuatnya tertawa. Aku yang mendengar cerita tester tersebut darinya juga tertawa karena bayangan ada dipikiranku akan ceritanya.

Saat dengannya terasa menyenangkan. Setidaknya aku bisa tertawa.

_-***-_

Suatu ketika hanphoneku bergetar karena ada sebuah notifikasi dari instagram. Saat kulihat, ada seorang yang mengikuti akunku. Nama akunnya sangat kukenali. Itu nama lengkap Aris hanya ditambah dengan underscore di akhirnya. Aku membuka akunnya dan melihat feed nya. Ada beberapa karya seni rupanya dan yang sedikit mengejutkannya lagi, ternyata ia juga menyukai fotografi. Kebanyakan foto yang di uploadnya berupa hitam putih.

“Aku suka mengabadikan momen sih” katanya saat ku tanyakan tentang hal tadi. “Tapi kalo fotografi aku pengen belajar fine art sama jurnalistik” tambahnya.

“Fotomu bagus. Belajar aja” tanggapku.

Aris menoleh padaku dengan sedikit memicingkan matanya, “Ih…. Stalk akunku yaaa ?” ujarnya dengan senyum yang menyebalkan.

“Kan pas itu aku mastiin kalo itu bener kamu” sanggahku. Tapi memang ada benarnya aku mensltalking akunnya dan melihat hampir semua postingannya.

“Yadeh yadeh” ujarnya sambil tersenyum  kemudian kembali menghisap rokoknya beberapa kali lalu mematikannya. “Lain waktu, kalo ada waktu selo ajari aku ya ?” tanya Aris sambil sedikit membenarkan posisi earplug yang dipasangnya hanya di telinga kanannya

“Hm ?? Apa ?” tanyaku sambil menoleh dengan masih menghirup sedikit jusku.

“Fotografi”

Aku mengangkat kedua alisku. “Boleh” jawabku enteng. “Tapi semampuku” tambahku.

Ia tersenyum mendengar jawabanku.

“Oh, atau begini saja. Ku ubah kalimatku. Kita belajar bareng, jadi kita sama sama belaar dan sama sama jadi guru dan murid” ucapku lagi meralat jawabanku sebelumnya.

Ia nampak berfikir, “Jawabanmu boleh juga” ucapnya kemudian nyengir.

Hening sempat tercipta. Aku sibuk dengan handphoneku menanggapi chat-chat guyonan di salah satu grupku. Hingga beberapa detik kemudian, Aris menggumamkan sesuatu membuatku menoleh kearahnya.

Pandangannya menuju gelas kopi miliknya dan mulutnya berkomat kamit dengan suara dan bahasa yang kurang jelas. Aku tahu dia menyenandungkan lagu yang di dengarkan. Hanya saja, kali ini bahasa tidak jelas.

“Dengerin lagu apa sih ??” tanyaku penasaran.

Aris melihatku, kemudian memberikan satu earplugnya yang menggantung sambil memindahkan earplug yang digunakannya ke telinga kiri. Aku memasang earplug yang diberikannya ke telinga kiriku.

“Bahasa Jepang ?” tanyaku.

Ia mengangguk sambil tersenyum. “Dengerin, lagu sama liriknya bagus” pintanya.

Lumayan, namun aku kurang menikmati liriknya karena dalam lagu terelsebut menggunakan 2 bahasa. Jepang dan Inggris.

“kurang nikmatin liriknya, kurang jelas. Kadang Jepang, kadang Inggris” ucapku sambil memberi earplugnya kembali.

Ia mengerutkan dahinya sambil menghabiskan kopi di gelasnya, kemudian merogoh isi tasnya mengeluarkan sketchbooknya dan sebuah pulpen. Kemudian menuliskan sesuatu. Selesai dengan itu Aris menyobeknya kemudian memberikannya padaku.

“Kopiku sudah habis. Ayo pulang.” ujarnya sambil beres beres.

Aku membaca tulisan dikertas yang diberikannya.

‘Dream as if you will life forever and life as if you will die today’
-C.h.a.o.s.m.y.t.h – One Ok Rock-

“Itu salah satu bait lirik lagu tadi” ujar Aris tiba-tiba seolah mengerti pikiranku. Aku mengangguk pelan. “Ayo pulang, sekalian ku antar kamu” tambahnya lagi. Kemudian aku mulai beres-beres dan tidak perlu heran, Aris memang sudah sering mengantarku pulang atau terkadang pulang bersama karena dua hal. Satu, jalan pulang kami searah dan kedua adalah kami sudah dekat.

Ada hal yang membuatku betah bersamanya. Beberapa temanku menanyakan hal tersebut. Tentu saja banyak temanku yang pernah sekelas dengannya menanyakan hal tersebut karena Aris terkenal dingin jika dikelas. Tidak banyak bicara, kecuali dengan beberapa teman yang katanya se genk nya sejak semester satu.

Jawabanku ?? Entahlah. Ya, aku menjawab ‘entahlah’ sambil menggeleng pelan dan nyengir. Karena itu, jawaban sejujurnya. Aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya merasa nyaman saja berada di dekatnya, mengobrol bersamanya, bercanda bersamanya. Alasannya ? Entahlah.

_-***-_

Beberapa kali, aku mengajaknya untuk ‘hunting’. Terkadang aku yang diajaknya untuk memotret. Apa saja, landscape, event, pameran, lomba atau apa saja. Intinya, kami keluar bersama dan bermain. Selama itu, Aris selalu saja penuh kejutan. Perlakuannya hingga kaga katanya. Sungguh berbeda, terkadang ia bisa membuatku tersipu, khawatir dan jengkel.

Pernah, aku menghadiri sebuah event pentas kesenian nusantara. Dia yang mengajakku dating. Katanya, itu sebagai permintaan maaf karena menghilang selama seminggu penuh dan mengingkari janji untuk menemaniku memotret salah satu tugas. Ku kira dia pergi entah kemana hingga akhirnya aku tahu jika ia sakit. Acara pentas kesenian yang kami hadri terletak dipusat kota. Penonton yang hadir sungguh ramai. Untuk berjalan masuk pun harus berdesakkan. Aku berjalan pelan sangat kesulitan menerobos kerumunan. Tiba-tiba tanganku digenggam oleh seseorang, dan itu Aris.

Ia dengan perlahan mengandengku berjalan sambil membukakan jalan untuk kami. Aku berlindung di balik punggungnya. Dan itu pertama kalinya jantungku berdebar hanya karena Aris menggenggam tanganku.

“Eum, Ris…” panggilku lirih.

Ia menoleh kearahku. Sedetik pandangan kami bertemu, aku kemudian melihat genggaman tangan kami. Ia masih menggenggam tanganku meski kami sudah keluar dari kerumunan orang di pintu masuk.

“Aku gak akan melepasmu. Enggak sampe kita dapet tempat yang pas buat motret” ujarnya.

Aku diam menatap wajahnya yang tersenyum.

“Aku ga mau kehilangan kamu kayak dulu lagi” lanjutnya lagu sambil kembali menarikku berjalan dan sedikit mempererat genggamannya.

Saat aku mendengarnya entah kenapa kepalaku menjadi terasa sedikit panas. Lalu, pikiranku membuka ingatanku bersamanya di salah satu event kebudayaan.

Saat itu kami sempat terpisah. Acaranya yang ramai membuatku kesulitan mencarinya dan aku tak bisa menghubunginya karena handphoneku kehabisan baterai, charger pun aku lupa membawa. Aku terus berjalan mengitari area acara. Hingga akhirnya seseorang memanggil namaku. Saat aku menoleh, Aris terlihat berlari dengan wajah panik menghampiriku. Wajahnya penuh keringat dengan nafas yang ngos-ngosan.

“Shafa… Shafa..Maaf, aku kehilangan kamu” ujarnya dengan sedikit terengah-engah sambil megang kedua pundakku. “Aku khawatir” tambahnya.

“Sampai segitunya, Ris. Gapapa kok. Malah aku yang jadi khawatir setelah liat kamu gini” ucapku. Bagaimana tidak ? Ia sungguh terengah engah dengan keringat yang cukup banyak sekilas ia tampak pucat. “Kita duduk dulu” ujarku sambil membawanya ke samping venue luar.

“Minum dulu” ujarku lagi sambil memberinya botol air minum yang tadi ku beli. Ia menyambarnya dan langsung menghabiskan setengah botol isi yang masih tersisa.

“Maaf, aku menghabiskannya. Nanti ku ganti” ujarnya dengan tawa kecil kemudian meremas botol plastik tersebut.

“Gausah. Kamu kok bisa keringetan dan ngos ngosan gitu ?” tanyaku heran.

“Aku berlari berkeliling venue ke dalam gedung sama venue yang diluar ini buat nyari kamu. Dihubungi juga ga bisa sih. Aku ga nyadar tadi kalo kita kepisah. Maaf, aku terlalu bersemangat karena menemukan bobjek foto yang menarik” Jelasnya sambil menundukkan kepala dan sedikit menyeka keringat di dahinya.

“Ya ampun ris, sampe segitunya?”

“Yaa, namanya kuga aku khawatir, Shaf” jawabnya sambil tersenyum kearahku. Peluhnya masih ada. Aku dibuat malu olehnya. Hening sempat tercipta, kemudian ia mengajakku untuk pulang.

Kembali ke acara pentas kesenian yang kudatangi bersama Aris. Kami sudah duduk sedari tadi dan Aris benar-benar melepaskan genggamannya tepat setelah aku dan dia duduk bersebelahan. Entah, ada perasaan sedikit lega dan sedikit tidak nyaman saat ia melepas genggamannya, sudahlah biarkan saja. Tempat yang ditemukannya bisa dibilang spot yang cukup tepat untuk memotret acara tersebut. Lumayanlah, setidaknya akan ada foto yang bisa ku konsultasikan untuk tugas foto panggung kepada dosen. Lalu, Kami menikmati acaranya tanpa perlu terpisah seperti dulu.

Acara diakhiri dengan kembang api yang cukup meriah bersama dengan penampilan kolaborasi para peserta. Kemudian perlahan, pengunjung keluar satu persatu. Pintu keluar menjadi penuh dan antrian terjadi. Kami memutuskan untuk keluar sedikit akhir demi tidak terjebak antrian. Saat menunggu, Aris membagi earplug miliknya denganku untuk mendengarkan lagu dan aku lebih sibuk dengan handphoneku. Tiba-tiba Aris menyodorkan sebuah kertas kepadaku.

‘We have to carry on, our lifes are going on’
-C.h.a.o.s.m.y.t.h – One Ok Rock-

Aku sedikit mengerutkan dahiku setelah membacanya. Aku tahu itu penggalan lirik lagu yang baru saja berganti dari pendengaran kami. Ia sepertinya sangat menyukai lagu tersebut.

“Maksudnya ?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya. Ia melirikku sambil menghentikan senandungnya.

“Itu permintaan, Shaf. Persis seperti lirik lagu itu” jawabnya. “Apapun yang terjadi, kita harus terus melanjutkan hidup dan mengejar mimpi serta cita-cita kita” jelasnya lagi.

Aku mengangguk pelan beberapa kali kemudian menyimpannya kedalam tas kameraku. Sudah ada beberapa tulisan Aris yang ku simpan. Penggalan lirik, quote, ataupun tulisan tidak jelas yang ia berikan padaku. Lucu, bagus, gak jelas atau apapun itu aku menyimpannya. Kemudian setelah pintu keluar terlihat sepi, kami pulang.

Aku tahu salah satu kesukaannya adalah menulis. Tulisannya bisa dibilang cukup bagus. Dan ia mengakui jika ia sangata suka menulis.Aku sempat meminjam salah satu buku yang sering ia tulis saat kami duduk menikmati minuman kami masing-masing di kantin. Isinya berbagai tulisan hingga coretan gambar. Dari yang jelas hingga tidak jelas. Tulisannya lebih bisa dibilang seperti cerpen.

“Serius banget bacanya” ujar Aris yang baru selesai menyesap kopi hitamnya.

“Bagus, Ris” ujarku tanpa mengalihkan pandang dari tulisannya. Satu hal lai yang sedikit membuatku tertegun adalah ia menulisnya dengan tulisan tangan. Memang terkadang ada sedikit bagian yang tidak rapi tapi penulisannya masih jelas dan dapat dibaca. Yang ku herankan hanya kenapa ia tidak menuliskannya di laptop saja atau mengepostnya di blog atau apalah itu.

“Hm… Jelas” balasnya dengan sediit endusan membanggakan dirinya sendiri.

Aku tersenyum melihat tingkah lucunya barusan, “Cerpen sama tulisan yang ada si kembarnya kayak punya banyak arti, banyak partnya lagi. Cerpen lainnya juga lumayan, kebanyakan pake bahasa jepang” Ucapku memberi komentar.

Ia terkekeh kecil, tapi sedetik kemudian ia sedikit termenung dan seperti memikirkan sesuatu. Aku kembali melanjutkan bacaanku. “Eum.. Shaf” panggilnya.

Aku meresponnya dengan kata ‘hm’ tanpa menoleh ke Aris yang duduk di depanku.

“Kamu baca cerita sampe yang mana ?”

Aku melirik Aris, kemudian membalik kembali halaman buku Aris dan melihat judul cerita yang ku baca. “Squal No Aida Ni” jawabku lalu melanjutkan baca.

“Boleh aku minta bukunya?”

Aku menoleh ke arahnya dengan sedikit curiga. “Nunggu sampe selesai” jawabku. Seketka ia memajukan badan sambil mencoba meraih bukunya kembali. Reflek aku memundurkan badan menjauhkan buku dari jangkauannya. “Pasti ada apa-apanya” ujarku dengan mata menyelidik.

Percobaannya gagal, dan kemudian ia kembali duduk tenang sambil menyulut api di rokoknya. “Semoga kamu gak kaget dan marah setelah membaca dua cerita terakhir” ujarnya tiba-tiba dengansebuah senyum yang sulit ku artikan.

Aku melanjutkan kegiatan membacaku. Tidak ada percakapan diantara kami. Cerpen Aris dengan judul Squal No Aida Ni selesai ku baca. Aku melanjutkan ke cerita berikutnya. Setelah membaca beberapa paragraf aku sedikit terkejut dan melirik Aris sejenak. Ia mengenakan earplug di telinganya. Aku melanjutkan membaca. Hingga akhirnya aku menutup buku setelah tidak ada lagi tulisan di bukunya dan menaruhnya dimeja yang ada di depannya. Ia melapas earplugnya.

“Well, dua cerita terakhir bagus” ujarku. Aris mengangkat cangkir kopinya untuk diminum. Namun sebelum meminumya, Aris berterima kasih. “Kamu memakai namaku untuk dua ceritamu, dan lagi..”aku menghentikan kalimatku. Aris tertunduk sejenak. “Sayangnya sad ending di dua cerita itu. Meski jujur, aku cukup menyukai cerita terakhirmu, Nagai Hikari” tambahku.

Aris tersenyum canggung.

“Kenapa ?” tanyaku.

“Semua tulisan di dalam buku ini. tidak semuanya fiksi. Ada yang ku ambil dari beberapa hal nyata namun ku fiksikan. Kenyataan yang ada dalam hidup tidak selamanya bahagia bukan ? ada banyak hal juga yang menyedihkan” ujar Aris sambil memegang bukunya. “Buku ini setidaknya hampir sama, berisi tentang kebahagian, kesedihan, harapan dan juga mimpi” tambahnya lagi.

Aku mengangguk pelan pertanda mengerti. Tapi, itu tidak menjawab pertanyaanku.

Setelah itu, Aris mengajakku pulang. Tidak ada percakapan diantara kami. Dalam perjalananku bersamanya, aku menyimpan tanya. Kenapa ia memakai namaku untuk beberapa ceritanya dan dijadikan tokoh utama ? saat kubaca, karakternya seperti berusaha disamakan denganku. Begitu juga karakter pendunkungnya, seseorang tokoh lelaki yang selalu di gambarkan seperti Aris. Ada sebuah cerita yang menceritakan tentang keberhasilan tokoh utama dan pendunkung yang dapat menggapai mimpi mereka bersama. Namun sayang, ada dua cerita disana yang mengisahkan jika sang tokoh pendukung, atau yang digambarkan selayaknya Aris meninggal. Dan meminta sang karakter utama dalam ceritanya yang menggunakan namaku, Shafa, untuk bisa tegar menerimanya dan tidak bersedih juga meneruskan hidup.

“Kamu tahu, Shaf ?.

Aku menoleh kearahnya. Pandangannya masih lurus ke depan.

“Kamu sudah baca beberapa kisahku maupun orang lain yang belum pernah terceritakan. Begitu juga tentang mimpi, harapan, imajinasi milikku yang tercampur dalam tulisa-tulisanku di buku tadi” ujarnya. Aku mengernyitkan dahi tak paham dengan kalimatnya. “Aku tidak bilang kalau tulisanku itu berasal dari kisah nyataku semua. Kisah nyataku, harapan hingga imajinasiku kucampurkan secara acak kedalam setiap tulisanku. Jadi, kemungkinan besar hanya aku yang tau bagain mana yang merupakan kisah nyata, bagian mata yang merupakan harapan dan bagian mana yang merupakan imajinasi atau fiktif” jelasnya.

Hening.

“Tentang namamu, entah kenapa aku ingin kamu ada didalam kisah dan ceritaku” ucap Aris memecah keheningan. Aku terdiam sejenak memikirkan maksud ucapannya.

“Jangan kasih tahu siapa-siapa ya, Shaf” ujarnya lagi sambil menoleh ke arahku dan tersenyum.

Mendengar dan melihatnya membuatku tersenyum dalam hati kemudian mengangguk. Aku tidak peduli alasan kenapa Aris memakai namaku dalam ceritanya atau mungkin sesunguhnya aku belum mengerti. Saat itu aku berharap, jika kisah cinta yang romantis disetiap ceritanya merupakan harapan Aris. Sad ending yang dituliskannya merupakan twist untuk sebuah cerita. Sudah hanya itu. Kemudian, aku berpisah dengan Aris di salah satu halte.

Namun, dalam langkahku di perjalanan pulang, hatiku berbisik seolah mengucap doa. Aku berharap jika aku benar-benar ada dalam kisah dan ceritanya.

_-***-_

Seiraing berjalanannya waktu, Aris benar-benar menarik perhatianku. Atau mungkin aku yang baru menyadari hal tersebut. Entahlah. Namun sayangnya, tidak lama setelah hal tersebut ku deklarasikan, jarak terjadi diantara kami. Aku jarang menemuinya di kampus dan saat ini juga aku berjalan sendirian ke kantin hanya untuk membeli minuman demi menyegarkan tenggorokanku sambil menunggu kelas berikutnya. Saat dihubungi katanya dia sibuk. Ya, memang sebelumnya saat kami menghabiskan waktu di kantin kampus ia pernah bilang padaku tentang ini.

“Aku akan sibuk, Shaf. Kemungkinan aku akan jarang di kampus dan sulit bertemu kamu” ujarnya.

“Kenapa ?”

“Aku ikut salah satu kepanitiaan event kampus” jawabnya.

Setelah itu, Aris memintaku untuk datang dengan menyebutkan tanggal dan tempat acara.

Yah, ku akui aku merindunya. Tidak usah ditanya kenapa. Tapi sedikit lega meski terkadang ia mengirim chat hanya untuk sekedar menyapa. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri  dalam langkahku ke kanti, padahal hanya mengingat berbagai hal tentangnya. Aku sampai kekantin dan menuju ke tempat langgananku dan membeli sebotol air putih.

“Mbak Shafa, tumben gak bareng mas Aris” ujar ibu-ibu penjual. Ya, aku dan Aris mengenalnya.

“Oh, lagi enggak” Jawabku sambil tersenyum.

“Sepertinya, Mas Aris masih di sini deh. Tadi kesini soalnya pesen kopi”

Mendengarnya aku langsung berbalik dan mengedarkan pandang. Benar saja, di kejauhan aku melihat punggungnya dan backpack milik Aris bersanding disebelahnya. Senyumku mengembang dengan sendirinya. Aku segera membayar minumanku dan berterima kasih pada ibu penjual.

Aku langsung berbalik dan melangkah kearahnya dengan sedikit cepat. Tapi di tengah jalan langkahku terhenti. Senyumku sedikit luntur, dahikku membuat kerutan. Ada seorang gadis yang tiba-tiba datang dari belakangnya dan menututp matanya. Kemudian, mereka sempat bercanda. Aris berdiri dan semencubit salah satu sisi pipi perempuan itu. Sejenak terjadi adegan si perempuan memukul kecil lenagan Aris dan Aris sendiri mencoba menangkisnya. Ada sesak yang hadir di dadaku, dan itu semakin menjadi setelah melihat Aris mengusap lembut kepala si perempuan dan diakhiri dengan si perempuan mendorong Aris yang tertawa kemudian pergi bersamanya. Aku hanya bisa terpaku melihatnya. Aku mengubah arah untuk pergi ke gedungku. Sesungguhnya aku tidak ingin berpikiran macam-macam. Tapi, jujur aku cemburu dan mulai berpikir untuk tdak menghadiri acara dua hari lagi. Acara event kampus yang ia minta aku untuk datang.

Semenjak saat itu aku tak membalas chatnya, pada malam harinya ia mengirimiku chat dan tak kubalas. Keesokan harinya ia juga mengirimiku chat dengan isi reminder untuk datang ke acaranya. Tapi aku sudah membulatkan tekad untuk tidak datang. Ya, masih ada sedikit kesal di hatiku. Di hari yang sama saat sore hari, aku membuka handphoneku, Aris mengirimuku chat lagi dengan permintaan maaf dan masih memintaku untuk datang. Aku mengabaikannya dan aku benar-benar tidak datang ke acaranya.

Keesokan harinya, aku datang ke kampus. Ada praktek foto studio selama seharian. Ada perasan yang campur aduk dalam benakku. Pertama karena kau masih kesal dengan Aris dan kedua kemungkinan besar nanti Aris akan datang karena aku sekelas dengannya di mata kuiiah ini. namun saat praktek sudah dimulai aku tak mendapati sosok Aris. Ada perasaan sedikit cemas karena tidak hadirannya karena aku tak tau kabarnya semenjak kejadian yang menimbulkan kecemburuan beberapa hari sebelumnya. Hingga akhirnya seseorang teman kelas berbcara padaku.

“Aris gimana keadaannya sekarang, Shaf ?” tanya teman sekelasku.

“Gak tau, kalo gak salah dia sempet ikut kepanitiaan event semalem kan? Mungkin dia masih tidur kecapekan” jawabku seadaanya.

“Lho ? kamu ga dateng acara kemarin?” tanyanya sedikit kaget.

Aku menggeleng.

“Katanya, saat acara puncak, Aris tiba-tiba mimisan dan pingsan dan langsung di larikan kerumah sakit”

Perkataan tersebut membuatku langsung menoleh kearah temanku. Aku meyakinkan temanku tentang ucapannya dan ia serius. Perasaan gelisah melanda. Masih ada cemburu dan kesal di dalam benakku. Tapi kecemasanku lebih menguasai. Aku bertanya rujukan rumah sakitnya dan seteah perkuliahan selesai di sore hari aku langsung pergi ke rumah sakit yang di sebut temanku. Setelah bertanya pada receptionist aku mendapat nomor kamar Aris. Tidak sampai sepuluh menit aku menemukannya.

Sejenak aku mengatur nafasku di depan pintu kamar inap. Kemudian aku mengetuk pintunya. Sebuah sahutan permintaan untuk menunggu sebentar terdengar. Suara perempuan, perasaan kesalku hadir lagi. Saat pintu terbuka, seorang perempuan berada disana. Itu perempuan yang tempo hari kulihat bersama Aris.

“Temennya Abang ?” tanyanya ramah.

“Kamarnya Aris ?” aku balik bertanya. Si perempuan mengangguk.

“Siapa, Beb ?” suara panggilan dari dalam terdengar, suara Aris.

“Beb?” batinku

“Temennya, Abang” balas si perempuan. “Mari masuk, mbak” ujarnya ramah sambil mempersilahkanku.

Aku segera masuk. Dan melangkah kedalam.

“Lho ? Shafa ?” ujarnya sedikit kaget melihat kedatanganku. Si perempuan berdiri di belakangku.

“Hai” ujarku sedikit canggung. Ada rasa kesal dan tidak enak menggangu mereka berdua, pikirku saat itu.

“Kenalin, perempuan yang di belakangmu itu, Beby” ujar Aris. Aku berbalik menghadap ke si perempuan, ia tersenyum dan mengulurkan tangan.

“Beby” ujarnya.

“Shafa” aku membalas uluran tangannya.

“Dia adik sepupuku” ujar Aris lagi.

Aku sedikit kaget dan menoleh ke Aris yang ternyata tersenyum.

“Beb, tolong simpenin” ujar Aris lagi sambil menyodorkan sebuah buku, gunting dan berbagai kertas yang berserakan di pangkuannya. Perempuan bernama Beby berjalan ke Aris dan menerimanya kemudian barang-barang tadi di laci meja yang ada di dekat sofa. “Shafa, sini” ujar Aris lagi sambil menunjuk sebuah kursi di kiri tempat tidurnya. Aku menuju kesana dan langsung duduk.

“Kenapa gak bilang ?”

“Aku ga mau buat kamu khawatir”

Aku terdiam sejenak. Ia mengucapkan kalimat tadi dengan sebuah senyum.

“Maaf, aku ga dateng semalem” ujarku sambil tertunduk. Beberapa detik kemudian sebuah elusan kurasa di pucuk kepalaku.

“Gapapa” ujar Aris sambil mengelus kepalaku. Kemudian aku menatapnya. “Oh, maaf kalo aku barusan gak sopan” ujarnya sedikit kaget sambil menarik kembali tangannya.

Aku menggeleng sambil tersenyum, “Gapapa” ujarku. “Jadi, kenapa kamu bisa disini ?”

“Kecapekan” jaawabnya singkat.

Kemudian kami mulai bercakap-cakap. Sepupu Aris, Beby, juga ikut bergabung dengan percakapan kami. Percakapan kami lebih tentang cerita Aris. Beby yang memulai. Ada banyak hal yang ku ketahui, termasuk bagaimana Bebyi dan Aris bisa sedekat seperti kemarin, kejadian dimana membuatku cemburu. Ternyata, mereka berdua merupakan dua cucu tertua dari pihak ibu Aris dengan jarak umur yang tak jauh. Aku merasa sedikit malu karena sudah cemburu. Setidaknya sekarang sudah jelas, aku sungguh lega.

Percakapan kami berlanjut hingga petang. Kami berbcara banyak hal. Masa lalu Aris, tentang diriku, tentang Beby hingga tentang percakapan membahas sebuah film. Hingga akhirnya percakapan kami berhenti karena telepon Beby. Kami terdima sebentar memberi waktu Beby berbicara. Setelah selesai Beby menghadap Aris.

“Keluargamu sudah di parkiran katanya. Aku jemput mereka dulu ya ?” ujarnya. Aris mengangguk.

Mendengarnya aku merasa sedikit tidak enak jika harus berada disana. Kemudian aku bangkit dan berniat berpamitan sekalian menemani Beby keluar tapi Aris memegang tanganku.

“Disini dulu. Temani aku sedikit lebih lama lagi. Biar nanti kamu pulangnya bareng Beby aja” ujarnya padaku.

Tatapan dan senyumanya, entah kenapa membuatku tidak bisa menolak. Aku menatap Beby, ia tersenyum dan mengangguk seolah ia smemintaku menyetujui ucapan kakak sepupunya itu. Lalu aku kembali duduk. Semenjak Beby pergi, kami terdiam beberapa menit.

“Maaf, Aku tahu kejadian beberapa tempo lalu di kantin” ucap Aris tiba-tiba yang membuatku terkejut. “Ibu kantin langganan kita cerita kalo hari dimana Beby jemput aku kamu ada di sana”.

Aku diam menatapnya.

“Entah kenapa aku takut kalo kamu marah. Soalnya kamu gak bales chatku” ucapan Aris terhenti. “Aku niatnya mau jelasin ke kamu pas acara selesai. Berharap kamu dateng, sayangnya kamu gak bisa dateng. Kesalahanku karena memang aku gak ngejelasin langsung lewat chat” tambah Aris.

“Sudahlah, aku tahu kamu sibuk saat jadi panitia” ujarku. Di dalam hati aku meminta maaf yang besar karena sudah cemburu dan salah paham pada Aris.

Entah aku yang ke-GR-an atau memang benar. Aris menyimpan perasaan yang sama sepertiku. Dilihat dari cara bicara dan alasan yang dikeluarkannya aku menyimpulkan hal tersebut.

“Kamu tahu, Shaf ?”

“Apa ?”

“Aku membuat cerita baru. Pake namamu lagi dan….” aris menggantung nada ucapannya, “Happy Ending” ujarnya lagi.

Senyumku merekah, “Aku harus baca”

“Ya, semoga aku bisa menunjukkannya padamu ?”

“Semoga ?” aku mengerutkan kening, “Emangnya ada apa?”

“Ya kan siapa tahu ada apa-apa” ujarnya. Aku diam memikirkan maksudnya, “Seperti cerita yang nantinya kubuat ga selesai hanya karena idenya ilang tiba-tiba” lanjutnya lagi.

Aku mengangguk pelan pertanda paham.

“Bisa tolong ambilkan buku dan bolpoint itu?” ujar Aris sambil menunjuk sebuah buku diatas sofa yang tadi di duduki Beby.

Aku mengambilnya dan menyerahkan benda tersebut ke Aris. Lalu, ia memintaku untuk duduk di pinggiran kasur miliknya. Kemudian, ia langsung menuliskan sesuatu kemudian menyobek kertasnya. Selanjutnya, kertas tersebut ia serahkan padaku.

‘We always wish tonight could last forever, i can be your side’
Pierce – One Ok Rock-

Aku sedikit merinding membacanya. Entah kenapa ada perasaan haru yang menyelimutiku. Kami tak berbicara apa-apa. Kemudian ada satu kertas lagi yang diserahkan padaku. Sebelum ku ambil aku menoleh ke Aris, ia tersenyum. Tanpa mengalihkan pandang, tangan kiriku mengambil kertas baru tersebut, sedangkan tangan kananku menumpu tubuhku. Aku kemudian membaca tulisan keduanya.

I promise you forever right now’
Wherever You Are – One Ok Rock-

Aku kembali merinding. Haruku semakin menjadi. Tapi kutahan agar tidak ada air mata yang menetes. Tapi tangan kiriku sedikit bergetar, tangan kananku meremas sprei kasur. Hingga kemudian aku sedikit kaget karena  tangan aris menggenggam tanganku. Aku langsung menatap Aris.

Tangan kananya berpindah kepipiku dan mengusap sebutir air mataku yang sudah meleleh tanpa kusadari. “Maaf. Kumohon jangan menangis” pinta Aris sambil mengelus lembut pipiku.

Aku masih terdiam mencoba mengontrol emosi yang melandaku sambil menyentuh tangan Aris yang membelai pipiku . Kami terdiam sambil saling menatap. Entah apa yang merasuki kami, kami saling mendakatkan diri. Semakin dekat. Hingga kemudian, bibir kami ersentuhan dan ia mengecupnya lembut beberapa kali.

“Shafa, maaf aku menyayangimu” ucapnya lirih saat kami sudah melepas ciuman itu.

Aku diam sambil sdikit menunduk masih tak bersuara.

“Dan maaf juga jika aku menyakitimu” tambahnya.

Aku menatapnya dan ingin menanyakan maksud kalimat keduanya. Namun suara pintu terbuka membuat kami sedikit terlonjak dan membetulkan posisi kami. Beby datang dengan sepasang suami-istri dan seorang anak kecil yang digandeng. Kami berkenalan dan berbincang sejenak. Hingga kemudian, Beby mengajakku pulang. Kami akhirnya berpamitan.

Kami pulang dengan taksi. Beby meminta untuk mengantarku duku. Aku setuju. Dalam perjalanan kami hanya berbincang ringa. Dari Beby juga ku tahu jika Aris di kota ini tinggal berdua bersama Beby di rumah keluarganya. Sejak, SMA kelas 3 ayahnya di pindah tugaskan di salah satu ibu kota dan Aris tidak ingin ikut pindah karena ingin melanjutkan kuliah disin. Hingga akhirnya Beby ayng menemaninya karena kuliah di kota ini dengan universitas yang berbeda. Perjalanan terasa cepat, tiba-tiba sudah berada di jalan perumahanku. Sebelum aku turun, kami saling bertukar kontak. Hari itu, adalah hari yang tak pernah kulupakan, hari dimana aku memberikan ciumanku kepada orang yang kusayang.

_-***-_

Tiga belas hari telah berlalu sejak malam itu. Keesokan harinya setalah aku menjenguk Aris. Ia masuk kembali ke perkuliahan. Kami menghabiskan waktu seperti biasanya. Tidak ada diantara kami yang mengungkit kejadian saat Aris dirawat, kami bahagia dengan keadaan seperti ini. tapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Sekitar tiga hari setelahnya, Aris pergi ke kota tempat keluarganya.

“Aku mau pergi sama orang tuaku dulu. Ke kota dinas bapak” ujarnya berpamitan denganku di hari terakhir aku bertemu dengannya.

“Ngapain ?”

“Rahasia” ujarnya sambil menjulurkan lidah kecil.

Aku memukulnya gemas. Ia mencoba menangkisnya sambi tertawa. Yang terbesit dipikiranku adalah ia akan liburan dengan keluarganya. Hingga akhirnya, tida hari setelah berpamitannya. Aris tidak algi bisa dihubungi. Chat hingga sosmed tidak bisa. Beby pun tidak memberi jawaban yang memuaskan tentang hal ini malah membuatku tambah pikiran.

“Wah, kalau itu aku gak bisa kasih tahu, Shaf. Soalnya kepentingan keluarga, jadi aku gak bisa ngasih tahu” ujarnya saat aku menanyakan hal tersebut lewat telepon. Aku sedikit setuju dengan alasannya. Akhirnya, aku memutuskan untuk mempercayai jika ia baik-baik saja.

Hari-hari berlanjut. Di suatu malam, aku sedang mengedit tugas fotoku. Sesaat aku melihat beberapa lembar foto yang sengaja ku cetak dan ku tempel di meja belajarku. Beberapa diantaranya, fotoku bersama Aris. Hanya itu ssalah satu caraku melepas rindu dengan tidak ada kabarnya dia dan doa jika ia akan baik-baik saja. Sedetik kemudian, handphoneku bergetar, sebuah telepon. Beby. Aku mengangkatnya. Ternyata, Beby menelpon dengan membawa kabar.

Keesokan harinya, aku datang ke tempat tinggal Aris dan Beby. Aku sudah berada di dalam rumah dan menyusuri slah satu ruangan bersama Beby.

“Sini masuk, ini kamar Abang” ujar Beby sambil mencoba membuka sebuah pintu.

Aku membenarkan tas kecilku sejenak lalu membuntut Beby untuk masuk kedalam kamar. Kamarnya rapi, atau mungkin sudah dirapikan. Beberapa lukisan tergantung di dindingnya, ada beberaa lembar foto di salah satu lemari. Aku melihat-lihatnya ada fotoku bersama Aris. Saat aku menoleh ke nakas, ada sebuah pigura kecil dengan fotoku dan Aris. Aku meraihnya dan melihatnya. Senyum mengembang di bibirku. Tanganku sedikit bergetar.

Semalam, Beby menelpon membawa kabar. Bukan kabar gembira. Aku sudah bisa menebaknya dari suara yang kudengar. Ada isak tangis dalam panggilannya. Kemudian ia meminta maaf lalu memberitahuku jika Aris pergi bersama orang tuanya untuk berobat. Kata Beby, Aris mempunyai kanker di otaknya dan sudah memasuki stadium tiga saat ia jatuh pingsan dan membuatnya terbaring dirumah sakit. Oprasi dilakukan untuk mengangkat kanker tersebut. Tapi dengan presentase 50:50. Tapi sayangnya, Aris tidak bisa di selamtkan dalam oprasinya.

“Shafa” Panggil Beby, aku menoleh setelah meletakkan foto tadi. “Ini” Beby menyodorkan sebuah buku dengan sampul coklat. Aku ingat, itu barang yang di kerjakan Aris saat dirumah sakit sebelumnya.

“Aku disuruh memberikan ini padamu. Kata Abang, di dalamnya itu ada harapan, mimpi dan kisah Abang sama kamu. Dan katanya dia harap di dalamnya ada juga kisahmu sendiri” ujar Beby.

Aku menerimanya, “Makasih. Kalo gitu aku pulang dulu ya?” uajrku berpamitan.

Beby memelukku, aku membalas pelukannya, “Hati-hati ya, maaf aku membohongimu selama ini” ujarnya dalam pelukku.

Aku melepas pelukannya, sambil menggeleng, “Gapapa, aku ngerti kok” kemudian, Beby mengantarkanku untuk kedepan rumah menunggu taksi. Setelah taksi datang aku masuk dan mulai meninggalkan tempat tinggal Aris dan para pelayat yang datang.

_-***-_

Aku berjalan gontai kedalam rumah. Kenangan bersama Aris berlalu lalang dalam pikiranku. Aku masih tidak percaya, Aris baru saja dikuburkan. Aris yang bertemu denganku saat hujan deras dulu. Aris yang selalu minum kopi bersamaku sambil merokok. Aris yang selalu menemaniku untuk hunting. Aris yang pernah membuatku cemburu. Aris yang meminta maaf karena sudah meyakitiku. Aris meminta maaf karena sudah menyayangiku. Aris yang dulu menciumku.

Aku masih kedalam kamar dan langsung mengunci pintu. Aku sandarkan punggungku di pintu yang baru ku tutup. Badanku tiba-tiba jatuh terduduk, merosot sambil memeluk sebuah buku yang sebelumnya milik Aris. Dalam perjalanan pulang aku membaca cerita terakhirnya yang pernah ia beritahukan padaku saat di rumah sakit. Sebuah cerpen berjudul Yakusaku Yo! Dan benar-benar happy ending. Sayangnya, dalam kenyataan, kisah kami berakhir dengan sad ending seperti cerpen-cerpen sebelumnya.

Aku mencoba bangkit dan menuju laptopku. Dengan air mata yang mengalir perlahan aku mencoba menuliskan kisahku sendiri. Bersama dengan Aris tentunya. Aku sudah tidak ingat waktu. Ayng ku tinginkan hanya aku ingin menyelesaikan cerita ini dan segera mencetaknya kemudian di tempelkan di buku Aris seperti tulisan-tulisan Aris yang sudah diketik ulang dan di tempel di setiap lembar, ada juga tempelan gambar atau foto.

Berlembar-lembar kertas sudah keluar dari printer. Aku mengabilnya satu persatu dan mengguntingnya. Dengan bantuan lem aku menempelkan ke lembar-lembar kosong di buku bersampul coklat itu. Dengan perasaan yang sedikit sesak aku mencoba untuk terlihat rapi. Air mataku sudah tidak mengalir lagi. Tapi kenangan bersamanya masih berlalu lalang. Setelah beberapa waktu dengan usahaku menempel serapi-rapinya, pekerjaanku selesai. Aku membolak balikannya lagi. Membaca cerita yang baru ku tulis. Kemudian aku menutupnya dan kembali memeluk buku itu. Ceritaku seperti hidup dalam pikiranku. Perasan haru kembali air mataku terasa akan menetes lagi, aku kembali menaruhnya diatas meja. Tanganku saling menggenggam dan sikuku menumpu diatas meja. Aku menunduk masih dengan ingatanku bersama orang yang kusayang, Aris.

Doa terucap dalam hati. Air mataku mulai kembali mengalir, isakan tangisku juga sudah keluar, lalu aku mulai bergumam, “Ris, apa kamu bisa baca ceritaku ini ?”.

 

-Adam Alfarisyi-

Iklan

2 tanggapan untuk “The Untold Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s