Infinite War (by Seena Grace) Kesalahan Pertama (Part 01)

 

Lagi-lagi mimpi buruk itu. Mimpi yang sudah menemani 7 malamku belakangan hari ini ples membuatku kebingungan juga sakit kepala saat memikirkannya.

Tunggu dulu…

Ini… darah..? aku… berdarah? Kapan?

Kubuka kedua kelopak mataku secara perlahan, buram. Aku tak dapat melihat apapun dengan jelas, semuanya buram hanya tampak sebuah cahaya yang membuatku silau yang kutau asalnya itu dari sebuah bohlam diatas tempat tidurku.

Aku bisa mendengar dengan jelas percakapan di luar ruangan. Seorang bapak-bapak tengah berbicara pada ibuku. Apakah itu dokter? Apa aku di rumah sakit? Sejak kapan?

“Keno sayang.. kamu udah sadar? Gimana, ada yang sakit gak?” tanya ibuku ketika beliau memasuki ruangan.

Aku menggeleng perlahan. “Gak ada yang sakit mah, biasa aja rasanya, Cuma paling pusing dikit doang. Sejak kapan Keno ada disini mah?” tanyaku

“sejak tadi pagi sayang. Kamu kecelakaan pas berangkat ke sekolah, motor kamu nabrak pohon. Pihak polisi nganggap kamu mabuk soalnya katanya kamu oleng tiba-tiba di perempatan lampu merah di luar kompleks rumah kita…” jelas ibuku

Kedua mataku melotot tak percaya. “mah! Mamah tau kan, Keno gak pernah nyentuh benda-benda haram kayak gitu? Mah tolong bilangin kalo– “

“mamah tau, dan mamah udah jelasin semuanya. Sekarang giliran kamu yang jelasin ke mamah kenapa kamu bisa sampe oleng gitu naik motornya,”

“ini tentang mimpi mah. Mimpi Keno waktu itu tiba-tiba dateng tanpa diundang pas Keno ngendarain motor. Mimpi tentang Mamah dan Papah….”

Ibuku terdiam sejenak, beliau memandang kosong kearah jendela luar. Kondisi cuaca yang cukup buruk membuatku tak berani mengikuti arah pandang ibuku. Karena aku takut hujan juga takut petir dan semacamnya.

Ceklek…

Pintu kamar rawatku terbuka. Kak Jess datang sambil membawakan sebuah kantung plastik putih di tangannya, di belakangnya terdapat seorang gadis yang sangat kukenal. Kakak kelas, namanya kak Melody Nurramdhani Laksani, biasa kupanggil kak Imel.

“gimana rasanya ciuman sama pohon, dek?” ejek kak Jess sambil sedikit tersenyum, ya aku tau itu adalah senyuman mengejek. Dasar sialan.

“enak, kayak ada manis-manisnya gitu” jawabku asal

“nah, karena udah ada Ve, mamah tinggal dulu ya Ken. Mamah mau pulang mau ngambil baju dulu,” ucap ibuku.

“mah, jangan lupa bawain buku gambar Keno ya mah,” ibuku hanya mengangguk dan segera berlalu ketika beliau menyambar jaket tebalnya di atas sofa.

“buat apa kak Jess bawa kak Imel?” tanyaku spontan

“buat ngerawat kamu. Kakak tau kamu itu gak sengaja nabrak pohon, dan kakak langsung tau kalo ada yang agak aneh disini, jadi kakak ajak Melody kesini…” jelas kak Jess

“emangnya dia dukun?”

“nope. Tapi dia white witch, jadi dia bisa ngasih tau apapun yang kakak gak tau,”

Aku memandang harap kearah kak Imel agar ia menjelaskan lebih lanjut. Kalian kan sudah tau kalau aku tak pernah dekat dengan kak Jess, dan aku tidak akan pernah memintanya untuk menjelaskan mengenai white witch ini sekalipun.

white witch adalah sebutan bagi seorang penyihir putih. Dalam arti penyihir yang baik. Maksudnya bukan berarti black witch itu jahat, baik penyihir hitam maupun penyihir putih mereka sama-sama baik hanya saja ras, suku, dan keturunan mereka yang membedakannya. Ngerti?” jelas kak Imel

“so, apa hubungannya kalian nyeritain dongeng kayak gitu? Hello aku udah remaja kali, bukan bocah 5 tahun lagi!” sahutku

“jadi menurutmu ini Cuma legenda? Ini Cuma mitos?” tanya kak Imel penuh selidik

“iyalah! Aku toh tadi kecelakaan sampe nyium pohon Cuma karena tiba-tiba keinget sama ibu ayahku bukan karena cerita omong kosongnya kak Imel,” jelasku

“apa? Kamu.. kamu mimpiin papah mamah? Coba ceritain semuanya sama kakak!”

“udahlah, bukan urusan kak Jess juga kan?”

“udah jelas ini juga urusan kakak, Keno… kamu mimpiinnya gimana? Ada orang pake kayak baju putih hitam gitu gak? Atau merah hitam? Gimana?”

Aku terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali mimpi-mimpiku itu. Yang kuingat hanya letak lokasi kejadiannya, di sebuah panti asuhan yang sama sekali tak kukenali di seumur hidupku. Dan juga seorang anak bayi yang kupikir itu adalah diriku sendiri.

“ayah memakai topi dan jas hujan berwarna hitam kecoklatan. Ibu memakai daster putih sedikit corak merah di setiap sudutnya. Kenapa?”

Kak Imel memandang kearah kak Jess, begitupun sebaliknya. Mereka seperti sedang adu tatap disana, sementara aku hanya dapat memandang keduanya dengan penuh tanda tanya. Dalam benakku, sepertinya mereka mengetahui ayah dan ibuku. Tapi kan yah tentu mereka mengetahui siapa kedua orangtuaku jadi ada apa sebenarnya ini?

“Ve, darah kegelapan mengalir dengan kental dalam dirinya. Tapi aku juga ngerasa ada aura white witch dalam dirinya. Kurasa itu aura punyamu karena kamu terlalu sering ngerawatnya sampai-sampai dia gak tau apa kemampuannya…” ucap kak Imel.

Kak Jess hanya menunduk menghilangkan pandangannya menatap lantai kamar rawatku.

“mulai sekarang kamu harus terbiasa membiarkan dia menghadapi permasalahannya sendiri, Ve. Gak setiap waktu juga kamu bisa terus ngelindungin dia, dunia ini kejam Ve. Lagipula kalian berbeda, aura kegelapan juga mulai menguasai tubuhmu, hati-hati lebih baik kamu menemui petinggi penyihir putih agar auramu dijernihkan lagi. Walaupun di dunia ini kalian saudara, tapi di dunia sana kalian adalah musuh bebuyutan.” Tutup kak Imel.

“gak Mel. Di dunia sana, di Valhala, aku sama Keno sahabatan. Nama aslinya Kevian, aku kenal dia dari kecil, dan karena dia jugalah aku dibuang oleh raja Aljabes. Kamu juga tau kan kejadian itu?”

“kita emang sahabatan di sana, Ve. Aku kan juga sahabat dia, tapi kenyataannya berbeda sekarang. Para penyihir putih seperti kita sedang memburu penyihir hitam, kamu juga tau kan? Jadi sekarang bersihkan auramu, agar keselamatanmu bisa diketahui.”

Kak Imel berbalik hendak pergi keluar, namun perkataan sekaligus pertanyaan kak Jess menghentikkan langkah kakinya.

“kalaupun aku pergi buat menjernihkan auraku ini, siapa yang bakal ngejagain dan ngerawat Kevian? Debora aku gak tau dimana dia di dunia ini, Cuma kamu yang kenal sama Kevian, Mel. Dan sekarang mungkin aku gak bisa percaya sama kamu lagi. Karna mungkin kamu sekarang udah bekerja sama dengan raja Aljabes.”

Kak Imel memandang kearah kak Jess dengan setengah wajah. Ia sedikit menunduk untuk berfikir, namun dengan mantap ia menjawab.

“kita lihat aja nanti. Ngomong-ngomong soal kerja sama, aku sama sekali gak bekerja sama dengan raja menjijikkan itu, maaf bukannya ngehina tapi itulah kenyataannya. Menuduh orang dengan asal tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku jelas-jelas membenci pak tua itu,”

“kuharap juga begitu. Kasihan Kevian kalau sampai menjadi korban selanjutnya, kita harus menemukan Debora terlebih dahulu. Sepertinya Cuma dia yang bisa ngebuat Keno sadar kalau dirinya adalah Kevian.”

“terserahmu, aku akan membantu semampuku saja. Dan jangan sampai auramu benar-benar tertutup aura hitam, kalau tidak kamu gak bakal bisa masuk Valhala, Veranda.”

Kak Jess hanya mengangguk saja, tanda ia mengerti apa yang diperintahkan oleh kak Imel. Aku benar-benar heran apa yang terjadi disini. Valhala, raja Aljabar, dan… penyihir? Ini benar-benar seperti di dunia Disney Land!

“kakak tau kamu pasti bingung sama apa yang tadi kakak omongin, tapi cepat atau lambat, kamu pasti sadar kalo kamu pernah ngelakuin apa yang kakak lakuin,” jelas kak Jess

“ngelakuin apa? Ngelantur mulu kalo ngomong, aneh banget deh,” jawabku.

“makanya buruan sembuh biar kakak kasih tau yang sebenernya terjadi, dan biar kamu bisa ngebantuin kakak sama Melody nyelesain ini semua.”

Tanpa sadar aku mengangguk saja, meski aku sama sekali tak mengetahui artinya. Menyelesaikan apa? Membantu apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa wajah ibu murung seperti tadi? Arghhh semua ini membuat kepalaku bertambah sakit saja.

31 November 20XX

Selesai membersihkan segala keperluan futsalku yang tertinggal di ruang loker, segera kulangkahkan kedua kakiku yang cukup lelah ini menuju tempat parkir dimana motor ninjaku diparkirkan. Semenjak kejadian kecelakaan itu, motor ninja putihku sudah tak berbentuk lagi, dan ayahku berinisiatif untuk membelikan motor ninja baru yang berwarna hitam mengkilat. Cukup untuk keadaanku yang sekarang ini.

Kumasukkan kantung plastik yang berisi baju yang sudah basah oleh keringatku tadi itu ke dalam loker jok motor dan mulai menduduki jok tersebut. Keadaan sekolah sudah sepi merata, aku memang pemain yang pulang paling akhir karena yang lainnya sudah pulang awal. Memang sudah merupakan kebiasaanku berlatih tambahan di jam-jam akhir, biasanya aku suka melatih kembali tendangan-tendangan yang menurutku kurang pas.

“belum pulang, hmm?” sebuah suara mengejutkanku.

Aku menoleh ke samping kanan, mendapati Alvin, sang Striker Futsal sedang menyandarkan punggungnya di dinding parkiran sambil menyeruput fanta kalengan miliknya. Ia masih mengenakan seragam sekolah, karena memang tadi bukan gilirannya untuk berlatih.

“menurut lo? Gue abis latihan doang tadi,” jawabku

“ooohhh…. Si kapten yang rajin. Pantesan aja lo dapet julukan kayak gitu, ternyata ini toh kunci kemenangan sekolah kita kalo lo yang mimpin pertandingan. Khuhuhu…”

“kalo ada yang mau diomongin, entaran aja, boy. Gue capek, mau istirahat…”

Boy adalah panggilanku ke setiap anak futsal yang kujumpai. Agar lebih akrab saja.

Alvin terdiam, sambil menutup kedua matanya.

“by the way, lo tadi dicariin. Cuma gue bilang tadi lo lagi sibuk, nggak masalah ‘kan?” tanya Alvin.

“emang dicariin ama siapa? Gue kan jarang ada yang nyariin kalo jam-jam segini,”

“dicariin sama Raja Aljabes,” jawabnya enteng

“raja…apa? Hahah ngelantur mulu lo kalo ngemeng. Udahlah gue mau pulang, jangan buat kepala gue makin pusing, boy.”

Ketika kupakai helmku, tiba-tiba saja Alvin dengan sengaja menjatuhkan helm ku itu kearah lain dari kepalaku. Kedua matanya menatap tajam mataku, dan saat itu aku mulai sadar, kalau matanya mulai berubah warna. Warna biru shappire menghiasi kedua bola matanya.

“Lo.. kenapa?”

Hanya pertanyaan itu yang dapat kulontarkan padanya. Aku benar-benar terkejut dengan kejadian seperti ini. Apa dia mabuk fanta? Tapi ah tidak, tidak mungkin. Lalu ada apa dengannya? Apa dia akan berubah seperti Zombie yang ada di Lin* W*bToon? Atau… entahlah, aku menyerah.

Ameno!

Hai semuanyaahhh :* pada kangen sama gw ga? (gk ada yg nyaut) ok di serial fanfiction gw kali ini bakal ngangkat yang namanya genre fantasy lagi. Setelah kemaren cukces di Simple Story, kini Infinite War bakal ngegantiin sekuel Simple Story, hihihi… dalam artian Simple Story gak bakal dilanjutkan dah kan? Wkwk… stay tune ya, gw bakal lambat update soalnya gw harus fokus sama karir gw jadi Youtuber. Eh subscribe ya channel gw di SquiCraft Indonesia makasih 😉

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s