Love Trip

love-tripSenin, sebuah hari di mana hampir setiap orang membencinya. Karena senin adalah hari di mana semua kegiatan dimulai. Tapi, itu tidak buat Ciko. Ia nampak tersenyum-senyum sendiri saat berjalan di sepanjang jalan menuju kampus.

Ia pun terdengar bersenandung, tanpa peduli setiap orang yang dari tadi menatapnya heran. Bahkan panggilan nyaring dari teman gempalnya yang berlari di belakangnya tidak ia hiraukan.

“Cik…, Ciko!” panggil si pemuda gempal dan botak dengan nafas terengah sehabis berlari, lalu menepuk bahu Ciko.

Ciko berhenti bersenandung, menoleh dengan cepat dan nampak terkejut setelah tahu siapa yang baru saja menepuk punggungnya.

“Waa.., ada jin botol!!” Ciko berteriak sambil mengangkat kedua tangannya dan memasang wajah shock.

“Kampret! Temen seganteng gini dibilang jin botol.” Sagha yang sedang mengatur nafas nampak kesal.

“Ya salah elu, ngapain bikin gue kaget.”

“Buset, bikin kaget apaan? Gue dari tadi teriak-teriak manggil nama lu, dari parkiran malah.”

“Masa? Gue gak ada denger lu manggil nama gue,” ucap Ciko.

“Ya iya lah gak denger, telinga lu pake headset.” Sagha menunjuk headset yang masih terpasang di telinga Ciko.

“Ah..!, gue baru sadar, hehe,” ucap Ciko sambil memasang wajah cengengesan.

“Dasar.” Sagha menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Oh iya, lu ngapain manggil gue?” Ciko memandang temannya itu dengan pandangan bingung.

“Ahh.. iya, gue baru ingat.” Sagha yang tadi membungkukkan badannya mulai berdiri tegap, “Betewe, gimana kencan lu kemaren?”

“Oh… itu? Entah lah, tanya aja sama orangnya,” ucap Ciko tersenyum, sambil kembali memasang headset di telinganya dan berjalan meninggalkan Sagha yang pertanyaannya belum terjawab.

Ciko kembali terdengar bersenandung, tersenyum-senyum lagi, dengan pikiran yang melayang mengingat kejadian kemaren.

 

Sunday, about 24 Hours ago.

Dering alarm dari speaker ponsel terdengar begitu keras di sebuah kamar kecil, berukuran 2,5 x 3 meter. Membangunkan pemiliknya yang terlihat sedang tertidur lelap.

Ciko membuka matanya perlahan, membiasakan irisnya melihat cahaya dari matahari yang bersinar terang di balik gorden. Sebelah tangannya dengan cepat menggapai ponsel di sampingnya, yang tanpa henti berbunyi nyaring mengeluarkan suara bising.

Ia nampak kaget, setelah melihat ke arah jam di dinding kamarnya yang terlihat sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Dengan cepat ia melempar selimut yang menutupi tubuhnya, bergegas mengambil handuk yang tergantung di pintu dan berlari menuju kamar mandi.

Ciko terlihat sangat terburu-buru, karena ia baru saja ingat sesuatu, bahwasanya ia punya janji kencan pada hari ini.

Sebuah pesan singkat baru saja masuk ketika Ciko sedang sibuk mencari celana dan kaos yang bakal ia pakai buat kencan.

“Aku udah di jalan nih, kamu udah sampai mana?”

Ciko nampak ternganga, setelah membaca isi pesan dan membuatnya semakin kelabakan, bergegas mengenakan pakaian.

~oOo~

Di sebuah dermaga yang panjang dan pantai yang begitu luas, Ciko terlihat sedang berjalan bersama seorang gadis cantik dengan rambut yang panjang. Gadis itu selalu tersenyum setiap melihat kearah Ciko yang berjalan di belakangnya.

“Aku seneng banget deh hari ini,bisa pergi sama kamu.” Gadis itu berhenti berjalan dan memutar badannya melihat ke arah Ciko, “Kayaknya hari ini bakal jadi hari yang paling menyenangkan. Kamu mau kan bikin hari aku menyenangkan terus?”

Ciko nampak menganggukan kepalanya, “Emm.., Okeh, tapi aku gak janji yah. Mungkin aja nanti aku ada salah ngomong, kan gak enak jadinya sama kamu.”

“Iya.., iya, santai aja.” Gadis itu tertawa kecil lalu kembali melangkahkan kakinya, “Oh iya, kamu suka pantai gak sih? kayak di sini.”

“Emm.. boleh jujur kan? Sebenarnya aku gak terlalu suka sih sama pantai, cuman karena kamu yang ngajak jalan ke sini, ya udah, gak papa,” jawab Ciko sambil menyunggingkan senyum.

“Jadi, kamu gak suka pantai juga? Sama dong kayak aku, aku juga gak terlalu suka pantai,” ucap si gadis yang terlihat memain-mainkan tali ransel di punggungnya.

“Tapi, kayaknya kalo pergi sama kamu, kemana aja jadi suka deh,” tambah si gadis yang nampak malu-malu setelah mengucapkan kalimat itu.

“Cieee.., gombal,” ucap Ciko sambil tersenyum dan menyusul si gadis yang kembali melanjutkan jalan-jalan.

Ciko nampak bahagia dan senang setiap kali angin pantai menerpa rambut panjang si gadis yang mengeluarkan aroma harum, dan membuat jantungnya berdegup tak karuan.

“Hei, lihat deh!” Si gadis terlihat menunjuk kearah salah satu wahana permainan yang ada di tepi pantai, “Lucu yah, banyakan anak kecil yang main. Tapi kayaknya kalo aku yang naikin, balonnya jadi kempes deh,” ucap si gadis dengan wajah sedih.

“Hemm, kayaknya enggak deh, liat aja balonnya, masih mampu tuh menahan banyak anak-anak,” ucap Ciko sambil tersenyum, “Jadi, kalo menahan badan kamu doang, masih sanggup kok,” tambahnya.

“Gitu yah? tapi bener juga sih.” Si gadis membenarkan ucapan Ciko sambil melihat kearah wahana itu yang banyak dinaiki anak-anak kecil dan melanjutkan jalannya.

Setelah jauh berjalan, si gadis kembali berhenti dan memutar badannya kearah Ciko yang setia berjalan mengikutinya.

“Ternyata, jalan-jalan di pantai gak seburuk yang aku pikirin yah? liat deh, di situ banyak kapal.” Gadis itu kembali mengarahkan jarinya telunjuknya kearah laut, kearah salah satu kapal yang sedang berlayar.

“Kamu tau gak, kenapa aku gak terlalu suka pantai?” gadis itu terdiam sebentar, lalu melanjutkan kata-katanya, “Sebab, biasanya pantai itu panas. Tapi, di sini enak yah, banyak anginnya, sejuk. Banyak orang juga, jalan-jalan, photo photo. Ada yang pacaran juga.”

Gadis itu kembali melangkahkan kakinya, memandangi lautan sambil merasakan setiap sentuhan angin yang lembut menerpa rambutnya.

“Aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu. Tapi, jangan marah yah!” Si gadis tiba-tiba saja berhenti berjalan dan nampak memasang wajah serius saat menghadap Ciko.

“Kita kan berhubungan beluman lama yah. Kita juga udah sering jalan-jalan bareng.” Gadis itu terdiam, seperti berat untuknya mengucapkan kalimat yang bakal keluar dari mulutnya, “Emm.., selama ini, kamu anggap aku apa sih?”

“Duh, berat yah pertanyaannya.” Ciko nampak bingung untuk menjawab pertanyaan yang diberikan si gadis, terlalu takut kalau si gadis bakal kecewa setelah mendengar jawaban darinya.

“Gimana kalo kenyataanya selama ini aku menganggap kamu cuman teman? Kamu gak marah kan?” tanya Ciko.

“Oh.., jadi temenan?” si gadis nampak biasa saja setelah mendengar ucapan Ciko, “Ya gak papa sih, aku juga cuman nanya,” tambahnya memberikan penjelasan.

“Malah, sebenarnya temenan itu lebih baik dari pacaran. Kalo pacaran, nanti bisa putus, terus nanti kita gak bisa berhubungan lagi,” ucap si gadis yang terdengar bijak, seperti cukup berpengalaman dalam hal pacaran.

“Nah, aku juga mikirnya sama kayak kamu. Pasti gak enak kan rasanya kalo udah putus? Udah pada deket banget, pas putus jadi pada menjauh,” ucap Ciko yang sepemikiran dengan si gadis.

“Tapi, sebenarnya aku punya harapan lebih sih,” ucap si gadis yang cukup membuat Ciko terkejut, “Aku pingin nanti, kamu jadi pilihan aku nanti seandainya kita pacaran. Kamu yakin dan mau gak?”

“Jadi, maksud kamu, kamu mau jadi pacar aku?” Tanya Ciko yang nampak kurang percaya dengan apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Tapi, anggukan si gadis mantap membuat Ciko yakin dengan apa yang sudah diucapkan si gadis.

“Emm, oke, kalo kamu maunya gitu. Aku mau kok jadi pacar kamu.” Jawaban yang keluar dari mulut Ciko langsung membuat wajah si gadis nampak sangat bahagia.

“Makasih yah. Aku harap kamu nanti gak bakal ngecewain aku,” ucap si gadis dengan senyum mengembang di wajahnya. “Semoga kita bisa sama-sama terus kedepannya.”

Si gadis terlihat bergerak mendekati Ciko dan dengan tiba-tiba si gadis langsung mencium pipi Ciko, membuat Ciko langsung terdiam membeku dan hampir terjatuh pingsan.

Back to Now Day.

Ciko nampak masih saja bersenandung dan tersenyum-senyum sendiri sambil berjalan menuju kelas, hingga tidak sadar seseorang sedang berjalan mendekatinya. Setelah semakin dekat seseorang itu menyentuh pundak Ciko dan membuatnya menoleh.

“Ehh.., Sinka!” Ciko nampak terkejut setelah tahu siapa yang berada di sampingnya saat ini.

“Pagi sayang~ bahagia banget kayaknya hari ini?” ucap Sinka dengan senyuman indah di wajahnya.

~ FIN ~

Writed by – Authorgagal

http://www.yxgq.wordpress.com

Iklan

4 tanggapan untuk “Love Trip

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s