Infinite War, PROLOG (part 00)

PROLOG (part 00)

Angin pagi yang berhembus saling beriringan menerpa rambut setengah panjangku ini, membuatku harus mengulang selama kurang lebih dua sampai tiga kali membenarkannya dengan kelima jari milikku sendiri. Rambut agak panjang dengan model agak berponi ala ala artis korea menjadi pilihanku di tahun ajaran baru ini.

Namaku Keviano Deastopher, panggil saja Keno. Umurku mungkin sama seperti kalian, yang jelas aku masih berumur layaknya anak anak SMA pada umumnya. Kesukaanku adalah mendengarkan sejumlah lagu baik dalam negeri ataupun manca negara, biasanya sih dalam negeri dan tentunya penyanyinya cewek ya. (if you what I mean)

Pagi ini aku masih saja terjaga, padahal hari ini adalah hari dimana aku harus memimpin berjalannya upacara bendera khusus hari senin. Kelasku mendapat dua kali giliran menjadi pengurus upder selama satu bulan ini, mereka yang lain sangat senang tetapi tidak denganku. Alhasil setiap pagi pasti sudah ada segelas penuh air hangat untukku, atau lebih tepatnya untuk menyembuhkan suaraku yang habis untuk berteriak-teriak.

Aku segera bergegas turun dari lantai dua kamarku menuju ruang makan yang menjadi satu dengan dapur minimalis yang sering kujadikan tempat untuk bereksperimen resep masakan. Disana, dibangkunya yang biasa ia tempati, terdapat seorang gadis berambut panjang yang selalu digerai olehnya. Dia Jessica Veranda, sering dipanggil Ve, dia adalah kakak angkatku. Orang tua kami mengangkatnya sebagai anak ketika aku berumur 1 setengah tahun.

Dan hasilnya? Kami benar-benar berbeda. Dia begitu introvert sampai-sampai aku tak pernah melihatnya mengobrol dengan satu orang temanpun! Kurasa satu-satunya temannya adalah buku-buku novel yang menumpuk di kamarnya, di tasnya, dan di perpustakaan saja. Tak ada yang nyata bagiku. Sedangkan aku? Aku adalah seorang kapten futsal SMA Joyful ini. Terkenal dengan julukan K-Eleven, aku sudah merebut beberapa piala bersejarah dengan kebanggaan tersendiri yang tersimpan disana.

Sejauh ini, nilai pelajaranku baik-baik saja. Aku jarang berbincang dengan kakakku itu, meski pernah ketika aku sedikit bingung dengan soal-soal Fisika yang dijadikan pr oleh guruku, aku selalu menanyakannya padanya karena yah dia cukup atau lebih tepatnya sangat pandai di pelajaran tersebut.

Aku meletakkan tas ransel merah NIKE milikku di sebelah bahu sambil berdiri menyantap roti panggang berlapis selai strawberry kesukaanku di pagi ini. Segelas susu kental manis yang tidak diberi air langsung saja kuminum habis, manis yang menyelekit membuat tenggorokanku sedikit sakit namun itu sudah biasa dan air hangat itu sangat membantuku.

“Ken…” panggil ibuku dari arah dapur, beliau sedang mencuci piring. “hari ini kamu pergi sama Veranda ya? Sekalian nanti tolong temenin dia ke toko buku,” lanjutnya

“mah? Mamah ga salah ngomong? Pergi sama kak Veranda? No Way! Pagi ini Keno ada acara ngumpul bareng sama anak-anak futsal mah, lagipula Keno harus siap-siap buat upacara bendera nanti,”

Ibuku keluar dari bilik dapur. Ruang makan dan dapur hanya dibatasi oleh dinding yang tak terlalu tinggi yang sepanjangnya dihias dengan kaca dan juga tirai sebagai jalan masuk keluarnya.

“Ikuti perintah mamah atau uang jajanmu mamah kasih ke Veranda,”

“lho?! Uang jajanku aja cuma setengah dari uang jajan kak Jess, ya kali mamah kasih lagi ke dia?”

“yaudahlah mah, kalau Keno sibuk biar Ve ke toko buku sendiri aja nanti pulangnya. Lagian emang biasanya gitu kan mah? Kalo gitu Ve pamit dulu mah, guru perpustakaan udah buat janji sama Ve soalnya besok atau ngga lusa ada penulis terkenal yang dateng ke sekolah kita…” jelas kak Jess.

Namanya memang Jessica Veranda. Ibu, dan teman-temannya memanggilnya dengan sebutan ve atau Veranda, sedangkan aku memanggilnya dengan Jess atau kak Jess, yang menandakan kalau aku memang tidak pernah menerimanya di keluarga ini. Menurutku dia hanyalah seorang pengganggu dan perusak hubungan kekeluargaanku saja. Uang jajanku hanyalah setengah dari uang jajannya. Belum lagi mobil yang diberikan ayahku padanya, juga segala macam keperluan lainnya.

Hei! Aku tidak iri sama sekali. Hanya saja ini tidak adil! Aku lah anak kandungnya, kenapa malah dia yang mendapatkan segalanya?

“katanya kamu ada urusan buat upacara bendera, Ken? Kenapa gak pergi, nanti telat loh..”

“oh iya,” pertanyaan ibuku menyadarkanku dari lamunan itu. “Keno pergi dulu mah, mungkin bakal pulang jam 7 sesudah latihan futsal..”

“ya, hati-hati ya Keno. Kalau bisa tolong liatin Veranda ya, mamah takut terjadi apa-apa sama dia. Soalnya dari kemarin Ve aneh banget.”

“bukannya emang selalu aneh ya?” tanyaku spontan

“hush! Cepet sana pergi, keburu telat beneran nih!”

Aku hanya dapat mengangguk-ngangguk tanda mengiyakan ‘usiran’ ibuku itu. Kusambar helm merahku dan sesegera mungkin menaiki motor ninjaku yang berwarna putih itu, motor menyala, kutancap gas tanpa berpamitan lagi pada ibuku yang tentu saja tidak mau diganggu. Fyi; ibuku pasti sedang menonton drama korea ketika aku dan kak Jess pergi sekolah

“jangan pernah kamu serahkan anak itu ke panti asuhan! Dia anak kita…”

“tapi dia ini keturunan gaib, sama saja seperti dia!” seorang lelaki menunjuk asal kearah balik tembok sebuah gang sempit.

“mereka berdua, adalah anak kita. Dia telah kita adopsi dari panti asuhan, berharap menemukan anak yang normal tapi apa? Memang sudah takdirnya kita membesarkan anak yang abdormal seperti mereka ini, ini adalah jalan yang diberikan oleh-Nya.”

“jika nanti terjadi apa-apa dengan keluarga ini, yang menyangkut permasalahan mereka berdua. Aku tak akan segan-segan untuk membunuh mereka!” sahut si pria

“Tidak akan terjadi selama aku masih hidup. Tunggu saja nanti, mereka pasti akan menjadi penerusku, lihat saja!”

(by Seena Grace)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s