Annihilation 16

1438008659827

 

Bola-bola es raksasa milik Ve terus melesat cepat kearah Melody dan Razkal.

“Maafkan aku, Ve” hanya itu yang terucap ketika dirinya mulai mengirimkan serpihan-serpihan es tajam kearah Ve

Sementara itu, Pangeran Aidan yang berada di darat, melihat sosok adiknya dari kejauhan yang tengah sibuk mengayunkan pedang kesana-kemari, ia terlihat seperti sedang menari, gerakannya tertata rapi namun tetap ganas ketika menghunuskan pedang terhadap lawannya

“Akhirnya.. ini saatnya kita berduel” gumam Pangeran Aidan pelan yang perlahan menghampiri Pangeran Vanguard.

Tetapi belum sempat ia mendekat, ada puluhan Iblis yang datang menghalangi secara tiba-tiba, mereka seakan-akan benar-benar melindungi Pangeran Vanguard dari Pangeran Aidan.

“Menjauhlah Pangeran”

“Kau tidak akan kami biarkan mendekati Yang Mulia”

“Kami akan membunuhmu” ucap mereka beberapa

Pangeran Aidan hanya terdiam, senyum dinginnya tidak pernah luput dari kepribadiannya.

“Menyingkirlah kalian, aku hanya inginkan Vanguard” bukannya menyingkir, melainkan puluhan pasukan Iblis itu menghalangi jalan Pangeran Aidan

“Kuberi kalian kesempatan, aku tidak berniat membantai lebih banyak Iblis lagi” jelas Pangeran Aidan pelan

“Maaf, Pangeran. Kau harus melewati kami terlebih dahulu” secara tiba-tiba puluhan Iblis itu langsung menyerang Pangeran Aidan secara bersamaan, pedang dan ilmu Roost bercampur menjadi satu menuju satu target, yaitu Aidan

Puluhan Iblis itu menyerang Pangeran Aidan secara brutal, berusaha untuk menyentuh, melukai, bahkan membunuh pimpinan Iblis Lucyfer itu. Meskipun hal tersebut bisa terbilang mustahil dilakukan.

Pangeran Aidan hanya menghindar kecil, dan mengibaskan tangannya ke depan

BWUUSSSH

Pangeran Aidan mengeluarkan Roost anginnya

Dalam sekejap, puluhan Iblis itu beterbangan dan terpental ke berbagai arah, sebagian sudah kesakitan karena tersungkur dengan keras ke tanah, sebagian lainnya ada yang bangkit berdiri. Mereka seakan tidak jera dan meminta untuk disiksa lebih lanjut oleh Pangeran Aidan

Puluhan Iblis yang tersisa masih berusaha menyerang Pangeran Aidan bersamaan.

“Bukan salahku, aku sudah berbicara berulang kali” selepas berkata demikian, langsung saja Pangeran Aidan berubah ‘gila’. Ia seperti orang yang kehilangan
kendali, pedang diayun-ayunkan secara brutal. Dengan santainya ia membunuh puluhan Iblis yang menyerangnya tadi dengan sekejap mata. Darah sudah membasahi pipi, jubah perangnya beserta kakinya. Itu semua merupakan darah dari korban kekejiannya barusan

Beralih dari Pangeran Aidan, kini Kelvin baru saja selesai membantai belasan Iblis lainnya yang berusaha menghadangnya, dilihat-lihatnya pertempuran di udara.

“Ve !” Kelvin panik ketika melihat Ve yang diserang dua Iblis sekaligus dari kejauhan, ia baru saja berniat untuk menolongnya, sebelum saja ada dua Iblis yang menghadangnya

“Berhenti disana”

“Kau tidak akan kami biarkan menolong Iblis itu”

Kelvin nampak tersentak kaget ketika melihat ada dua Iblis yang menghentikannya.

“Menarik.. aku tidak berniat menyakiti wanita, pergilah” kedua Iblis wanita itu ternyata merupakan seorang wanita

“Tidak !! kami tetap akan melawanmu” balasnya bersikukuh, sambil bersiap dengan pedang mereka masing-masing

“Tak kusangka bahwa Vanguard banyak sekali memiliki Iblis cantik seperti kalian, mau tidak mau. Baiklah”

Kedua Iblis wanita Vanguard itu merupakan Elaine Archaire dan Nayfline Dhike. Elaine berpostur tubuh mungil dan pendek, hampir sama seperti Melody, dengan rambut hitam panjang sepunggung, memiliki senyuman manis, dan sorot mata yang lembut. Kekuatannya juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Karakter Elaine hampir mirip dengan Ve. Sama-sama ahli dalam Roost es, cenderung bersifat kalem, tenang dan sifatnya anggun.

Sementara Dhike, Iblis yang ahli Roost angin ini memiliki postur sedikit lebih tinggi dari Elaine, memiliki rambut pendek hitam sebahu, mempunyai sorot mata yang tajam. Kekuatan dari dia juga tidak bisa dianggap remeh, jika dibandingkan dengan Klan Lucyfer, Dhike bisa dibilang setara dengan Artha. Sama-sama ahli Roost angin, sama-sama bisa memanah, dan sama-sama merupakan bagian dari Iblis yang memiliki peranan penting di masing-masing Klan

“Harus kuakui juga, kau memang tampan” ucap Dhike dengan pedang yang sudah tergenggam erat di tangannya

“Terimakasih” Elaine langsung mengambil inisiatif serangan dengan melontarkan berbagai jenis Roost kearah Kelvin

Dengan mudah, Kelvin menghindari satu per satu serangan Elaine

TRINGG

Merasa gagal dengan Roost, Dhike menyerang Kelvin dengan pedangnya

“Tidak buruk bagi wanita” desis Kelvin pelan

“Diamlah !!” Dhike tersulut emosi, ia terus mengayunkan pedangnya dengan brutal

Dengan santainya, Kelvin memukul pedang Dhike dengan menggunakan pedang perak milknya.

TRAANG

Dhike hanya memandang pedangnya yang terjatuh, dengan kejadian itu, lantas tidak menjadikannya putus asa

“Elaine, kau keluarkan esmu” perintah Dhike, Elaine mengangguk

Lalu mereka berdua melancarkan serangan bersama, Elaine menyemburkan serpihan-serpihan es tajam kearah Kelvin, diikuti oleh bola-bola angin yang cukup besar yang dibuat Dhike.

“Hanya segitu saja kemampuan kalian ?” ucap Kelvin penuh percaya diri

Iblis Lucyfer itu langsung menyentuh tanah dengan tangan kanannya. Dalam sekejap, muncullah semacam tembok api besar yang menghalangi dirinya dari es dan angin yang dibuat Elaine dan Dhike

Serpihan-serpihan es dan bola angin milik kedua Iblis Vanguard langsung terbakar menjadi abu tak bersisa. Kedua Roost itu benar-benar seperti dilahap oleh tembok api yang dibuat Kelvin

“Cih.. siaal..  susah sekali untuk menyentuhnya” geram Dhike kesal sambil mengepalkan tangannya

“Hufft.. nampaknya aku harus mengeluarkan jurus andalanku” ucap Elaine

“Jurus andalan ?” Dhike terlihat bingung

“Tentu saja, aku masih punya beberapa” Elaine lalu menghirup nafas panjang sebelum akhirnya ia menyentuh tanah tempatnya berpijak

“Apa yang mau kau lakukan ?” Dhike menaikkan satu alisnya keatas

“Lihat saja” setelah tanah disentuh, langsung muncul serpihan-serpihan es tajam dari dalam tanah, es-es itu seakan tertanam di dalamnya dan langsung keluar begitu saja ketika Elaine memerintahkannya. Benar-benar kekuatan yang mengerikan, tak disangka Iblis yang terlihat kecil pendek tidak bisa apa-apa malah menjadi sangat berbahaya.

Lama kelamaan, es tajam itu berjalan mendekati Kelvin.

“A..a..apa ini ?” Kelvin berusaha melihat es-es di tanah, namun es itu seakan tertanam di tanah sehingga Kelvin tidak bisa melihatnya

“Aku harus membuat api” batin Kelvin dalam hati

Ia lalu menyelubungi dirinya sendiri dengan Api yang dibuatnya, berusaha menghindari serpihan es ang bisa datang kapan saja dari dalam tanah

“D..dimana es itu ?” belum hilang rasa kebingungannya ketika langsung saja serpihan-serpihan es tajam itu muncul dari dalam tanah dan keluar di tempat Kelvin berpijak, karena saking dinginnya, serpihan es tajam itu mampu menembus selubung api milik Kelvin

SLEEB

“Urrgh.. aa..ah”

Serpihan-serpihan es tajam mengenai lengannya, dan menggores pipi Kelvin. Cairan merah kental  yang bernama darah mulai mengalir dari pipinya, menimbulkan bekas luka goresan yang cukup panjang

BWUSSH

Belum sepenuhnya pulih dari serangan Elaine, Dhike kembali mengeluarkan bola anginnya, dan sontak membuat Kelvin terpental keras terjatuh ke tanah

BUGHH

“Ughh.. s..sial, aku dilukai oleh wanita” Kelvin merasa tidak terima. Tidak disangka Iblis-iblis wanita milik Vanguard memiliki kekuatan yang luar biasa

“Kelvin !!” sementara itu, Shani yang berada di tenda Kelvin seperti mendapat firasat bahwa Kelvin sedang celaka

“A..a..aku harus menolongnya” Shani mondar-mandir di depan ranjang Kelvin sambil berpikir keras tentang apa yang harus dilakukan olehnya, apakah membantu perang atau tetap diam di tenda seperti perintah Kelvin.

Shani merasa harus membalas budi baik Kelvin. Kemarin Iblis pria itu sudah menolongnya dari belasan Iblis yang mencoba berbuat macam-macam dengannya, dan sekarang ketika Kelvin kesulitan dalam perang, ia merasa harus membantu ‘tangan kanan’ Aidan itu.

“Arrgh.. apa yang harus aku lakukan ?!” Shani menggeram kesal sambil mengacak-acak rambut panjangnya, disamping ia ingin membalas budi baik Kelvin. Sudah jelas bahwa Shani mencintai Kelvin. Ia tidak ingin kehilangan sosok Iblis pria yang telah membuatnya jatuh cinta itu

Setelah berpikir matang-matang, akhirnya Shani keluar tenda. Memilih untuk ikut berperang sebisanya dan cepat-cepat menolong Kelvin yang tengah dalam bahaya

~oOo~

Sementara itu, di dunia atas

“Ayolah Rafael, untuk apa aku berlatih panah yang tidak berguna ini ?” keluh Padris yang merasa jenuh dengan latihan panah, ia merasa tidak ahli dalam panah

“Lebih baik aku menyelamatkan Shani” lanjutnya lagi

“Bagaimanapun, kau harus bisa memanah, Padris. Gabriel memerintahkanku untuk melatihmu. Dan.. kau yakin ingin kembali ke Bumi ? kau tenang saja, Shani aman disana, Yang Kuasa sudah memberkatinya”

“Kuharap begitu” jawab Padris lesu, ia masih merasa bersalah akibat meninggalkan Shani seorang diri di Bumi. Seharusnya sebagai pria, ia mampu menjaga wanita. Tetapi kenyataan malah sebaliknya

Padris kini ikut dalam latihan panah yang dipimpin oleh Rafael.  Ia ikut dalam kelas pemula, ia benar-benar merasa malu, ada sekitar dua puluhan Malaikat termasuk Padris disana.

“..B..baiklah, Gabriel memang menyebalkan”

“..Harus kuakui, perkataanmu memang benar, Padris. Di beberapa waktu, memang ia bisa menjadi sangat menyebalkan” balas Rafael menimpali

Keduanya terus bercakap-cakap tentang betapa menyebalkan dan seenaknya Gabriel
dalam memerintah, ya meskipun mereka tahu bahwa kekuatannya memang hebat.

“Sudahlah, ayo kita latihan”

Dengan langkah berat, Padris mengangkat busur panahnya. Jika dalam urusan memanah, Padris menjadi sangat tidak bersemangat. Ia hanya tertarik dengan latihan pedang dan latihan Roost.

Biasanya, latihan pedang diantara kaum Malaikat dipimpin oleh Gabriel itu sendiri, sementara ilmu Roost dipimpin oleh Michael. Sedangkan Rafael, dalam ilmu memanah.

“Sekarang aku akan membagikan busur dan anak panah yang baru untuk kalian. Milik kalian yang lama itu sudah tidak layak digunakan lagi, terlalu berat” Rafael membagikan busur dan anak panah yang mirip dengan milik mereka yang lama

Padris menimang-nimang panah barunya, benar-benar terasa jauh lebih ringan dari miliknya yang lama padahal keduanya sama-sama terbuat dari logam.

“Pada awalnya mungkin kalian akan merasa sangat kesulitan untuk menggunakan panah yang lebih ringan karena dia bisa terbang ke mana-mana tak tentu arah. Namun, lama-kelamaan kalian akan terbiasa. Semakin ringan panah kalian maka semakin sedikit tenaga yang dibutuhkan untuk menembakkannya. Selain itu, bila kalian sudah bisa memanfaatkan tenaga angin maka panah yang ringan bisa melesat lebih cepat. Keuntungan yang lain adalah jarak tempuhnya yang semakin jauh. Bila kalian sudah menguasai panah yang sekarang, maka kelak panah kalian akan diganti dengan yang lebih ringan lagi” terang Rafael panjang lebar

“Sekarang aku akan menunjukkan bagaimana cara memanah yang benar. Perhatikan baik-baik.” perintah Rafael tegas

Rafael mengambil busur dan sebuah anak panah dari punggungnya. Jarak antara tempatnya berdiri dengan sasaran panah sekitar seratus meter. Kaki kirinya diletakkan lebih ke depan, ditegakkannya badannya, dan diarahkannya anak panahnya ke sasaran. Matanya menatap lurus ke depan penuh konsentrasi. Dengan satu sentakan kuat, dilepaskannya anak panahnya yang segera melesat secepat angin. Begitu cepatnya anak panah itu hingga tahu-tahu sudah menancap tepat di tengah-tengah sasaran

“Woow.. kau sangat hebat, Rafael” celetuk Padris.

Dari antara puluhan Malaikat yang berlatih, hanya Padris saja yang berkomentar, mungkin ia merasa sudah lebih dekat dengan Rafael daripada Malaikat junior lainnya

“Cepat kalian menempati posisi kalian” perintah Rafael pada murid-muridnya di depan

Langsung saja, mereka satu per satu mencoba melakukan apa yang Rafael tadi lakukan. Sangat sulit ternyata bila melakukannya sendiri, tetapi bagi Rafael, nampaknya ilmu memanah merupakan hal yang mudah sekali.

“Padris, lihat kakimu! Buka lebih lebar! Pundak kananmu dorong lebih kebelakang! Tangan kirimu luruskan! Payah sekali kau ini!

Cepat-cepat Padris memperbaiki posisinya. Ketika tidak didengarnya lagi teriakan Rafael, dilepaskannya anak panahnya. Anak panah itu melesat perlahan lalu jatuh di tengah-tengah lapangan, membuat Padris tertegun. Ia bingung apa yang salah dengan bidikannya. Panah itu terasa begitu ringan sehingga mudah tertiup angin.

Malaikat-malaikat yang lain juga ada yang merasa kesulitan, tetapi sebagian ada yang sudah dalam sekali bidik, langsung tepat sasaran. Sontak, melihat kejadian itu, Rafael menjadi bangga.

Melihat Malaikat-malaikat junior yang sudah bisa tepat sasaran, membuat Padris menjadi terpacu untuk bisa seperti mereka. Ia tidak mau kalah begitu saja.

Padris mencoba sampai puluhan anak panah, masih belum ada satupun anak panah yang menancap tepat sasaran. Hingga pada akhirnya ia berkonsentrasi dan berhasil menancapkan satu anak panahnya tepat di titik tengah. Ia benar-benar tidak percaya atas keberhasilannya

“Heeii.. lihatlah !! Rafael, aku berhasil !” girang Padris

“Hm.. kerja bagus, Padris” Rafael tersenyum tipis ketika melihat temannya itu berhasil memanah tepat sasaran.

*To Be Continued*

Created by : @KelvinMP_WWE

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s