Beda Emang – Chapter Two

beda-emang

Setelah meminta alamat rumah sakit dan nomor kamar, Guntur langsung menelpon Shania yang tadi baru saja berangkat bersama Sagha, untuk meminjam motor.

Setelah beberapa detik menunggu, panggilan pun diangkat. Dari speaker terdengar suara hembusan angin yang keras dan juga bunyi kendaraan.

Ada apaan Kak, aku masih di jalan nih?” Teriak Shania yang berusaha suaranya kedengaran oleh Guntur.

Kunci motor kamu mana?” Teriak Guntur yang terlihat sibuk mencari pakaian.

Kakak mau kemana? Mau kabur yah?

Enggak, Aku mau ke rumah sakit,” jawab Guntur.

Emang siapa yang sakit?

Ical kecelakaan Shan, cepetan deh! kunci motor kamu di mana?

Apa!? Kak Ical kecelakaan?

Iya, cepetan kasih tau, aku buru-buru nih,” ucap Guntur sambil tergesa-gesa mengenakan celana panjangnya.

Kuncinya ada di atas meja belajar aku.

Oke, makasih,” ucap Guntur sembari menutup panggilan.

Guntur langsung berlari menuju kamar Shania, mengambil kunci motornya dan dengan cepat kembali berlari menuju garasi.

Ibunya yang sedang duduk membaca buku agak terkejut ketika melihat Guntur berlari sambil membawa helm di tangannya.

“Kamu mau kemana Guntur?” Tanya Ibunya, membuat Guntur langsung berhenti berlari.

“Mau pergi ke rumah sakit Mah.” Guntur menjawab sambil memasang raut wajah sedih, “Ical baru aja tabrakan dan masuk rumah sakit. Sampai sekarang masih belum sadarkan diri,” jelas Guntur.

“Ical? Temen kamu yang sering datang kesini?” Ibunya terlihat mengernyitkan dahi.

“Iya Mah, boleh aku pergi gak?” Tanya Guntur sambil memasang wajah memelas.

“Ya udah, pergi aja, tapi hati-hati di jalan. Jangan ngebut!” Ucap ibunya sambil pandangannya kembali ke arah buku di depannya. “Oh iya, satu lagi. Cepet pulang yah, sebelum Papah kamu datang,” pesan ibunya lagi.

Mendengar ucapan ibunya seperti itu, Guntur pun langsung bergegas menuju motor dan mengeluarkannya dari garasi.

Di perjalanan Guntur terus saja gelisah, pikirannya terus saja membayangkan keadaan Ical. “Kenapa sih dia bisa sampe ceroboh gitu.” Guntur menggerutu di balik helm, sambil terus memacu motor matic milik Shania menuju rumah sakit.

Ketika sampai di rumah sakit, Guntur langsung berlari menuju ruang dimana Ical dirawat. Dari jauh Guntur bisa melihat Arez sedang duduk di depan ruangan tempat Ical berada.

“Rez, gimana keadaan Ical?” Guntur yang baru sampai langsung bertanya ketika sudah berada dekat dengan Arez.

“Ical udah lumayan stabil kok, Gun. Lebih mendingan dari pas saat datang.”

“Huuh.., syukur lah.” Guntur menghela nafas, “Bagus deh kalau begitu. Oh iya, yang nabrak Ical mana?” Terlihat Guntur melihat-lihat sekeliling, mencari-cari sang penabrak.

“Tadi dia pergi ke bawah Gun, kayaknya mengurus pembayaran deh,” jawab Arez.

“Hemm, gitu yah.” Guntur bergumam, “Gue pengen banget ketemu sama pelakunya. Penasaran gimana kejadiannya sampe Ical bisa begitu.”

“Jangan sampe lu hajar yah, kasian, pelakunya cewek.” Arez memberi peringatan.

“Heh! Cewek?” Guntur agak terkejut.

“Iya.., cewek, tuh orangnya.” Arez mengarahkan pandangannya lurus ke arah cewek yang menabrak Ical di ujung lorong. Ketika si cewek sudah dekat, betapa terkejutnya Guntur saat ia mengenali siapa si cewek yang berada di depannya saat ini.

“Sinka?” Guntur memanggil nama cewek itu.

Cewek itu berhenti berjalan lalu dengan seksama ia melihat ke arah Guntur dan mengenalinya. “Kak Guntur! Kakak ngapain disini?” Tanya Sinka bingung.

“Emm.., Lagi jenguk temen. Yang… habis kamu tabrak.”

Wajah Sinka seketika berubah datar ketika mendengar jawaban dari Guntur. “Jadi yang di dalam itu temannya Kakak?” Sinka tertunduk, merasa tak nyaman.

“Udah, gak papa kok Sin, yang penting Ical masih selamat.”

“Eemm…, I-Iya,” jawab Sinka sambil mencoba sedikit tersenyum.

“Oh iya Rez, kamu udah nelpon ortu Ical, belum?” Tanya Guntur ke Arez yang terlihat sedang asik menerima telpon dari seseorang, tapi ketika mendengar pertanyaan Guntur ia langsung menoleh.

“Kayaknya gak usah deh Gun.” Ia menjauhkan ponselnya dari mulut, “Lu tau kan keadaan keluarga Ical gimana?” Ucapnya sambil berbisik lalu menempelkan kembali ponsel itu di telinganya.

“Emm .. iya juga sih. Ya udah deh, nunggu Ical siuman, baru nanti kita tanya sama dia.” Guntur memberi saran.

“Oh iya Sin, aku boleh tau gak gimana ceritanya kamu bisa nabrak si Ic..” kalimat dari mulut Guntur tersendat seketika saat ia melihat seorang gadis sedang berjalan mendekati mereka, lalu memanggil nama Sinka.

“Viny! Kamu ngapain kesini?” Sinka terlihat agak terkejut setelah menoleh kepada sahabatnya itu, yang baru saja datang menemuinya.

“Loh, kan tadi kamu yang bilang kamu lagi disini.”

“Tapi kamu gak perlu datang kesini juga kali Vin,” ucap Sinka sambil merengutkan wajahnya.

“Hehe …, iya deh, maaf,” ucap Viny sambil memperbaiki letak kacamatanya.

Tiba-tiba dari ujung lorong rumah sakit terlihat Shania berlari kearah Guntur sambil tangannya memegangi Sagha yang juga ikut berlari, dan ia tampak kelelahan.

“Kak Gun, gimana keadaan Kak Ical?” Shania terlihat mengatur nafasnya saat sampai, akibat kelelahan sehabis berlari.

“Kamu ngapain pake acara lari gitu sih? ini rumah sakit Shan, bukan rumah.” Guntur menghela nafas melihat kelakuan adiknya. “Ical gak papa kok, cuman masih belum siuman aja,” beritahu Guntur.

Shania hanya ber-oh ria setelah mendengar jawaban dari kakaknya. Ketika Shania menoleh kesamping, ia cukup terkejut setelah melihat siapa yang sedang berdiri di dekatnya.

“Kak Viny!?” Ucapnya dan itu membuat gadis bernama Viny itu menoleh padanya.

“Shania!, kamu lagi ngapain disini?” Viny terlihat mengernyitkan dahinya bingung, kenapa Shania bisa ada di sini.

Dan begitu juga Guntur, tapi bukan karena Shania disini, tetapi karena bingung mengapa Shania bisa kenal dengan gadis yang benama Viny itu.

Guntur baru saja hendak mengeluarkan kalimat dari mulutnya, ketika tiba-tiba saja seorang suster keluar dari kamar perawatan Ical dan berjalan mendekati mereka.

“Apa kalian keluarga dari saudara Rizal?” Suster itu bertanya sambil tersenyum ramah.

Guntur memutar badannya menghadap suster itu, lalu menjawabnya, “Emm, sebenarnya kami bukan keluarganya, cuman dia sudah kami anggap seperti itu.”

“Ohh, kalo begitu kalian boleh masuk, pasien sudah sadarkan diri.”

“Terima kasih, Suster,” ucap Arez lalu beranjak dari kursi dan langsung berjalan memasuki kamar Ical.

“Oh iya Sin, kamu mau ikut masuk?” Guntur yang hendak beranjak dari tempat itu mengajak Sinka.

Tapi, Sinka menolaknya, “Enggak deh Kak, nanti aja. Aku mau ngurus mobil aku dulu yang rengsek,” jawab Sinka memberi alasan.

“Oke deh, nanti aku telpon kalo Ical mau ketemu sama kamu,” ucap Guntur.

“Iya Kak, bye.” Sinka berjalan meninggalkan tempat itu bersama Viny yang berjalan di sampingnya. Pandangan Guntur terus mengikuti mereka, hingga akhirnya mereka hilang di persimpangan.

Setelah itu Guntur pun beranjak dari tempat itu menuju ruang perawatan Ical. Saat Guntur masuk, ia langsung disambut Ical dengan senyuman.

“Ngapain lu senyum senyum, udah mau mati juga,” ucap Guntur sambil terkekeh.

“Gue belum mau mati kampret!” Ical juga ikut terkekeh.

“Makanya, pake motor itu gak usah pake acara ngebut, nyawa taruhannya.”

“Bukan gue yang nabrak, tuh mobil aja pake acara ngehalangin jalan gue.”

“Banyak alasan lu Cal,” ucap Arez yang terlihat sedang memakan buah apel yang seharusnya jatah Ical.

“Yah, dia makan jatah gue, balikin Rez!”

“Ogah, udah masuk perut juga,” jawab Arez sambil menggigit apel di tangannya.

“Udah udah, masih sakit berisik aja lu.” Guntur terlihat beranjak dari tempat yang baru saja ia duduki, “Ya udah, gue mau pulang dulu. Bentar lagi bokap gue pulang kantor, bisa gawat gue kalo gak ada di rumah.”

“Lhaa, Ical baru juga siuman, udah mau pulang aja lu.” Arez terkejut melihat Guntur sudah hendak pulang.

“Bukannya gitu Rez, lu kan tau gue lagi dalam masa hukuman.” Guntur menatap Arez.

“Iye .. iye, moga cepat selesai aja masa hukuman lu. Biar nanti kita bisa party lagi,” ucap Arez.

“Lu mikir party mulu Rez, pikirin gue nih,” ucap Ical.

“Rez, lu jagain Ical yah, gue gak bisa. Sorry.” Guntur yang berdiri di depan pintu meminta maaf, “See you later,” ucap Guntur lalu menutup pintu.

Terlihat di depan kamar Shania sedang duduk berdua dengan Sagha, mereka terlihat lagi bermesraan.

“Shan, kamu gak ikut pulang?” Tanya Guntur.

“Ikut Kak, sama kakak aja tapi, kalo sama Sagha bisa bahaya nanti,” jawab Shania beranjak dari kursi.

“Lah, kenapa sama gue jadi bahaya?” Sagha terlihat bingung.

“Udah, lu di sini aja, nemenin Ical, kasian kalo sendirian,” pinta Guntur pada Sagha. “Ya udah, yuk pulang.” Guntur mengalihkan pandangannya dari Sagha, mengajak Shania pergi.

~oOo~

“Kita mau kemana sih Sin?” Viny terlihat bingung mengikuti setiap langkah Sinka yang sedang berjalan di depannya.

“Udah ikut aja. Kamu juga sih pake acara datang ke rumah sakit nemuin aku, ya sekalian aja kamu aku ajak ke tempat yang mau aku datangin.” Sinka menggenggam tangan Viny dan menuntunnya berjalan.

“Kemana sih?” Viny terlihat gelisah.

~oOo~

“Dek, kakak boleh nanya gak?” Guntur menggerakkan sedikit kepalanya, menoleh ke arah Shania yang sedang duduk di belakangnya.

“Nanya apaan?” Tanya Shania.

“Kamu kok bisa kenal sama cewek yang datang ke rumah sakit tadi?”

“Yang mana?” tanya Shania agak bingung, “Kak Viny?”

“Yang temennya Sinka.”

“Iya, namanya Viny, emang ada apaan?” Tanya Shania.

“Ya bingung aja, kamu kok bisa kenal dia.”

“Emang kakak kenal juga?” Shania terlihat meletakkan kepalanya di bahu Guntur.

“Enggak, makanya kakak nanya kamu,” ucap Guntur memberi alasan.

“Emm.., kirain kenal.” Shania terdengar kecewa. “Dia itu Asdos di kampus aku dan dia juga sering masuk kelas aku, makanya aku bisa kenal.” Jelas Shania.

“Ohh.., pantas.” Guntur mengangguk.

“Emang ada apaan sih Kak?” Shania menyipitkan kedua matanya, sedikit curiga pada Guntur, “Kakak naksir yah?” Tanya Shania dengan nada menggoda.

“Ehh! Enggak, masa naksir sih, kenal juga kaga,” bantah Guntur lalu mengalihkan pandangannya, kembali fokus ke jalan.

“Kalau naksir bilang aja Kak, bisa lah nanti dinegosisikan berapa bayarannya jadi Mak Comblang.” Shania kembali menggoda Guntur, lalu disambung dengan cekikikan di balik helm.

“Eerrr..”

~AUTHORGAGAL~

Iklan

2 tanggapan untuk “Beda Emang – Chapter Two

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s