I D I O T I Q U E

idiotique-banner

 

[ I D I O T I Q U E ]

Semilir angin di siang hari berhembus lembut menerpa pohon disalah satu halaman rumah, sebuah rumah sederhana yang berdindingkan ornamen kayu yang saling sambung menyambung diantaranya. Didalam rumah tersebut ada seorang pria tua yang asyik membaca koran dengan kacamata tuanya di kursi goyang, dan tak jauh dari jaraknya terlihat wanita tua yang sedang menjahit sapu tangan dengan jarum dan benang ditangannya.

“Bayu, jangan sampai berantakan ya gudangnya,” ujar wanita tua tersebut kearah ruangan yang tak jauh dari jaraknya.

“Iya, Nek.”

Didalam ruangan berdebu tersebut terdapat 2 orang pemuda yang merangkap mahasiswa tingkat akhir sedang mengobrak-abrik gudang, dan pemuda bernama Bayu ini ditemani seseorang temannya yang asyik melihat-lihat benda tua didalamnya.

“Wow! Yon, lo liat nih,” panggil Bayu kepada temannya yang bernama Dion.

“Apaan tuh?”

Bayu mengacungkan benda seperti pedang dengan ekspresi wajah yang puas, “Ini namanya Magamoto Sword.”

Magamoto Sword?”

“Yo’i,” Bayu memukul-mukulkan pedang yang bersarung tersebut ke telapak tangannya.

“Kenapa namanya Magamoto? Kenapa gak Ajinomoto?”

“Karena ini pedang, bukan bumbu masakan cap mangkok merah.”

“Oh, benar juga sih,” Dion memanggut-manggut.

“Lo tau ini pedang apa?” tanya Bayu yang kembali melihat ukiran sarung pedangnya.

“Mana gue tau, pedang apaan tuh?”

Bayu lalu menatap Dion dengan dengus bangga.

“Oke gue kasih tau. Jadi Magamoto Sword ini…”

“Tunggu-tunggu, gak usah gitu juga kali,” Dion memotong ucapan Bayu.

“Apanya yang gak usah gitu?”

“Ya tadi itu, sok-sok an Inggris lu. Itu kan pedang, bilang aje pedang Magamoto. Gak usah pake Sword-Sword segala.”

“Ini karena pembuat pedangnya adalah orang Jepang yang buyutnya orang Inggris.”

“Oh gitu,” Dion memanggut-manggut, “Tapi karena kita tinggal di Indonesia, sebut saja itu pedang Magamoto,” lanjutnya lagi.

“Ck terserah gue dong. Jadi Magamoto Sword ini…”

“Masih aje,” Dion kembali mengeluh.

“Gue tebas juga lo lama-lama, ribet amat soal nama pedang,” Bayu pun sewot.

Dion bersungut-sungut, “Yaudeh, lanjutin tuh penjelasan tentang Ajinomoto.”

“Oke, jadi Ajinomoto ini… eh Ajinomoto. Jadi Magamoto Sword ini konon katanya bisa menaklukkan Negara!”

“Wow!” Dion tercengang mendengar penjelasan Bayu.

“Ya, wow!” Bayu juga tercengang.

“Terus kenapa tuh pedang ada digudang rumah Kakek lo?”

“Karena ini pedang legenda, Yon. Lo liat saja, nih ada tulisan Made in China,” Bayu lalu menunjuk tulisan yang ada disarungnya.

“Hmm,” Dion mengelus-elus dagunya, “Apa selain negara… pedang ini juga bisa menaklukan hal yang lain?”

“Tentu saja! Apa saja bisa,” jawab Bayu menggebu-gebu.

“Apa wanita juga termasuk?” Dion sudah memainkan alis penuh arti kepada Bayu.

“Hmm, mari kita coba!”

“Ke siapa?”

“Viny, kan rumah dia disebelah rumah Kakek Nenek gue.”

“Oh iya. Jadi sekarang atau besok?”

“Sekarang! Ayo kita Let’s Go!” ajak Bayu.

Bayu dan Dion langsung tergopoh-gopoh keluar rumah dan menuju rumahnya Viny, salah satu junior di kampus mereka yang tempat tinggalnya bersebelahan dengan rumah Kakek Neneknya Bayu.

“Nih, lu aja. Kan lu yang dari dulu demen sama Viny,” Bayu lalu menyerahkan pedangnya kepada Dion.

Dion menerima pedang tersebut dan menelan ludah, “Bagaimana caranya?”

“Gampang, lu acungkan pedang ini ke udara dan teriakan ‘Viny! Takluklah kau dihadapanku dan jadilah pasangan hidupku.’ Dan harus lu ucapkan dengan suara yang lantang!”

“Wow!” Dion kembali tercengang dan takjub memandang pedang tersebut.

“Ya, wow! Mari lakukan,” komando Bayu dan dijawab dengan anggukan kepala Dion.

Sehabis memencet bel rumah, Bayu dan Dion langsung saja menunggu didepan pintu. Pintu rumah terbuka dan terlihatlah seorang gadis manis sedang menggigit sepotong roti dibibirnya.

“Dion, Bayu. Kok kalian ada disini?”

“Hehe, Yon buruan,” Bayu menyenggol lengan Dion untuk melakukan aksinya.

Dion kemudian mengacungkan pedang tersebut ke udara.

“VINY! TAKLUKLAH ENGKAU DIHADAPANKU DAN JADILAH PASANGAN HIDUPKU!”

Suasana mendadak hening.

“Mantap, Yon!” seru Bayu yang tersenyum senang dan memberi tanda jempol ke Dion.

Viny yang melihat itu cuek saja sambil melahap rotinya kembali, tak lama kemudian dia melangkah masuk kedalam rumah seperti mengambil sesuatu. Lalu dia kembali keluar sambil membawa sapu.

“TAKLUKLAH ENGKAU DIHADAPAN SAPUKU!!” Viny dengan geramnya mulai mengejar Dion dan Bayu yang membuat mereka berdua kaget.

“Gawat! Lari Yon!”

Dion dan Bayu langsung ngibrit melarikan diri kerumah Kakek Neneknya Bayu.

“Awas kalau kalian kesini lagi!” ancam Viny dari pekarangan rumahnya.

Kakek dan Nenek Bayu hanya keheranan melihat cucunya berlari pontang-panting memasuki rumah dengan temannya yang sudah kembali masuk kedalam gudang.

“Ah! Payah lu, Bay! Pedang apaan nih, gak ngaruh sama sekali!” Dion terlihat sewot dan melempar pedang tersebut kearah Bayu.

“Kayaknya efek pedang ini udah habis, Yon. Maklum benda tua,” jawab Bayu dengan pemakluman yang dipaksakan.

“Haaah, gagal jadinya gue dapetin Viny,” Dion bersungut-sungut.

“Tenang, Yon. Masih banyak benda antik di gudang, ayo kita cari.”

“Ck.”

Bayu dan Dion kembali mengobrak-abrik gudang. Setelah 5 menit mencari-cari terlihat Bayu menemukan benda yang tampaknya bisa membantu.

“Wow!” Bayu terlihat takjub dengan benda yang dipegangnya.

“Apaan tuh?” Dion menyeringitkan dahi memandang bola kaca yang dipegang Bayu.

“Wow!” Bayu menadahkan benda tersebut kearah Dion.

“Iya, Wow! Tapi itu apa namanya?”

“Ya itu tadi, namanya Wow. Tadi gue bilang Wow itu bukan karena takjub, tapi gue kasih tau nama nih benda,” ujar Bayu menjelaskan.

“Wow!” Dion tercengang.

“Yeah, Wow!” Bayu ikut-ikutan tercengang.

“Bay.”

“Apa?”

“Rasanya pengen gue tabok muka lu pas ngejelasin nama benda ini tadi,” ujar Dion bersungut-sungut.

“Et! Hal itu tidak bakalan lo lakuin kalau lu udah tau apa kegunaan benda ini,” Bayu langsung menunjuk bola kaca tersebut.

“Apa kegunaannya?”

“Jadi kalau Wow ini lo tunjukan didepan orang dan lu sebut kata Wow dan dia juga nyebutin kata Wow. Maka orang tersebut akan sangat sayang sama lo.”

“Ah masa?”

“Eh gak percaya lagi lo, mau bukti?”

“Boleh, kesiapa?”

“Nenek gue.”

Bayu dan Dion langsung keluar gudang, Bayu yang melihat Neneknya sedang menjahit langsung saja menghampirinya diam-diam.

“Nek, WOW!” ucap Bayu tiba-tiba dan mengacungkan bola kaca tadi dihadapan neneknya.

“WOW! WOW! Eeee WOW WOW!” Neneknya Bayu terlihat kaget dan latah.

“Nek, Nenek sayang Bayu gak?” Bayu langsung mempraktekkan.

Kus semangat,” Neneknya mengelus dada, “Kamu ini ngagetin Nenek saja, ya tentu saja Nenek sayang sama kamu, Bayu.”

“Tuh, Yon. Percaya kan lo sekarang?” Bayu terlihat puas sambil menoleh kearah Dion.

Dion tersenyum senang dan mengangguk-anggukan kepalanya.

“Jadi, langsung saja gimana?”

“Oke,” Dion memberi tanda jempol.

Mereka berdua langsung keluar rumah dengan riang gembira.

“Itu mereka berdua kenapa sih?” tanya Kakeknya Bayu kepada Istrinya.

“Kayak gak tau aja Bayu kalau udah sama Dion, apalagi kalau ada Ega, Enu, Kevin dan teman-teman kampusnya yang lain disini.”

“Hehe,” Kakek Bayu hanya terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepala, lalu dia kembali melanjutkan membaca koran.

Sekarang Dion dan Bayu sudah berada didepan rumahnya Viny lagi. Dengan semangat menggebu-gebu Dion langsung memencet Bel rumah.

“Sini Wow nya, Bay,” pinta Dion.

Bayu langsung saja memberikan bola kaca tersebut kepada Dion. Setelah menunggu sedikit lama akhirnya pintu rumah kembali terbuka. Muka Viny terlihat kesal saat melihat Dion dan Bayu datang kembali kerumahnya.

“Apa lagi?” tanya Viny sambil menyilangkan kedua tangannya.

“WOW!” Dion tanpa basa-basi langsung mengarahkan bola kaca tersebut kearah Viny.

Viny menyeringitkan dahi memandang bola kaca tersebut.

“Bay, kok dia diem aje?” bisik Dion kepada Bayu.

“Mungkin dia kurang kaget, coba lu ulangin lagi.”

“Oke,” Dion kembali mengarahkan bola kaca tersebut lebih dekat kewajah Viny dan berkata, “WOW!”

Kepala Viny sedikit mundur kebelakang dan alisnya mulai tidak sinkron, satu naik satu enggak. Dia kembali memandang bola kaca tersebut lalu memandang Dion.

“Wow…” Dion mencoba mengucapkan itu untuk terakhir kali.

Viny memiringkan bibirnya, “Entar, tunggu disini.”

Setelah berkata seperti itu Viny kemudian memasuki rumah. Dion dan Bayu tersenyum senang karena mengira efek Wow mulai bekerja. Tak butuh waktu beberapa lama terlihat Viny kembali sambil memantul-mantulkan bola basket selama perjalanannya kembali kepintu depan dan bersiul-siul.

“Wow,” ucap Viny sambil menunjuk bola basket ditangan kanannya.

“Ya, Wow,” Dion tersenyum senang.

Tanpa basa-basi lagi bola basket itu langsung dilemparkan oleh Viny kearah mukanya Dion dengan nafsu menggebu-gebu.

“Gawat! Kabur, Yon!”

“Adedeeeeh, tunggu Bay!” Dion menyusul sambil memegang hidungnya.

Viny mendengus kesal dan memungut bola basketnya kembali. Dan saat dia mau memasuki rumah terdengar suara Dion memanggilnya dari belakang.

“Vin… Wow,” Dion masih terlihat berusaha melakukan itu didepan pagar rumahnya Viny.

Viny kembali melempar bola basket dan telak mengenai mukanya Dion lagi. Dan kali ini Dion benar-benar ngibrit berlari memasuki rumah Kakek Neneknya Bayu.

“AH! Payah lu, Bay! Gak ngefek sama sekali! Adududuh,” Dion kembali meringis memegang hidungnya.

“Tenang, Yon. Gue rasa ini disebabkan Viny adalah cewek masa kini,” Bayu melipat tangan dan memanggut-manggut.

“Apa hubungannya?”

“Karena Wow ini hanya berpengaruh buat wanita jaman dulu, ternyata tidak berpengaruh dengan wanita jaman sekarang,” Bayu lagi-lagi membuat pemakluman yang dipaksakan.

“Ah! Emang gak ada benda lain yang berpengaruh gitu?” tanya Dion yang melempar Bola kaca tadi kearah Bayu.

Bayu menangkap bola kaca tersebut dan berbicara, “Tenang Yon, masih banyak. Kita cari lagi.”

“Ck.”

Bayu kembali mencari-cari benda yang bisa membantu Dion, sedangkan Dion sibuk mengurut-urut hidungnya. Bayu membuka sebuah peti kecil dan mendapatkan sebuah kertas usang didalamnya.

“Ini dia!” seru Bayu sambil menepuk kertas tersebut.

“Apaan tuh?”

“Ini puisi para Dewa Yunani Kuno, Yon!” jawab Bayu menggebu-gebu.

“Hah? Yang bener lu?”

“Iya, liat aje nih kertasnya. Usang banget, udah kayak kertas Teks Proklamasi!”

“Iya juga sih,” Dion memanggut-manggut, “Terus kenapa nih puisi Dewa ada digudang Kakek lu?”

“Dulu Nenek moyangnya Nenek Moyang dari Kakek gue sekarang ini dulu sahabatan dengan Dewa Zeus,” hidung Bayu mendengus-dengus memberitahukan hal itu.

“Masa sih?”

“Beeeh, lo tau kan kalau Dewa Zeus itu banyak sekali berhubungan dengan para wanita selain istrinya sendiri yaitu Dewi Hera?”

“Iya, gue pernah baca di Wikipedia,” Dion mengangguk-angguk.

“Ya itu semua berkat puisi ini!” Bayu kembali menepuk-nepuk kertas tersebut.

“Wow!” Dion takjub dan matanya tercengang.

“Ya! Wow!” Bayu juga takjub sambil melihat kertas puisi tersebut.

“Jadi, gimana caranya?”

“Lo tinggal hapalin puisi ini, terus lu bacakan didepan Viny. Gue yakin Viny bakalan klepek-klepek,” ujar Bayu dan mengisyaratkan tanda klepek-klepek lewat tangannya.

“Bay.”

“Apa?”

“Sini puisinya, gue hapalkan sekarang juga!” pinta Dion mantap.

“Nih.”

Dion langsung membaca puisi tersebut dan berkomentar.

“Ini Dewa Zeus kok puisinya norak sekali, Cinta itu Butalah, Cahaya lah.”

“Eh jangan dilihat jeleknya, yang penting efeknya.”

“Iya juga sih, yaudah deh.”

Setelah sekian menit akhirnya Dion berhasil mengingat puisi tersebut dan tanpa basa-basi lagi langsung dia omongkan dengan Bayu.

“Oke, Bay. Gue udah hapal!”

“Sip, langsung kesana?”

“Kapan lagi?!” Dion tersenyum puas.

Dion dan Bayu kembali berlari keluar rumah tanpa disadari mereka kertas puisi yang dibawa Dion terjatuh dan tergeletak didekat Nenek Bayu yang sedang menjahit. Neneknya Bayu memungut kertas tersebut dan tersenyum.

“Kakek, nih puisi Kakek yang dulu Kakek buat untuk Nenek,” katanya memberitahu sambil memperlihatkan kertas yang dimaksud.

“Haha waktu itu kakek masih muda ya,” Kakeknya Bayu mengiyakan dan sekarang dia bersama Istrinya terlarut dalam gelombang Nostalgia.

Sedangkan cucu mereka dan temannya sudah kembali berdiri tepat didepan pintu rumahnya Viny. Dion yang sudah menghapal puisi tersebut langsung saja memencet bel. Tetapi setelah menunggu lama pintu tidak ada tanda-tanda dibukakan seseorang, Dion terus memencet bel.

“Berisik tau gak?!”

Dion dan Bayu lalu memandang keatas dan melihat Viny dengan sewotnya berbicara dengan mereka dari jendela kamarnya dilantai 2.

“Vin, Vin. Gue punya puisi buat lo nih,” Dion terlihat senang.

“Apaan?” ekspresi Viny tampak tak perduli.

“Oke, dengerin ya. Cinta itu buta…”

“Suruh dia operasi cangkok mata! Udah jangan ganggu aku lagi,” potong Viny dan menutup jendela kamarnya.

“Buseet, belum juga selesai gue ngomong,” Dion mengeluh.

“Jangan nyerah, Yon. Tuh ada tangga,” Bayu lalu menunjuk tangga bambu yang ada didekat pagar rumah Viny.

Dengan semangat menggebu-gebu Dion lalu mendirikan tangga tersebut dan diarahkan disamping jendela kamarnya Viny. Dion langsung saja menaiki tangga itu dan mengetuk-ngetuk jendelanya.

“Apa lagi sih?!” Viny terlihat kesal saat membuka jendela.

“Gue disini, Vin,” seru Dion yang sudah nangkring disebelahnya.

“Ya ampun, kamu kenapa sih?”

“Vin, dengerin dulu. Gue ada puisi nih buat lo, capek-capek gue hapalin tadi.”

“Ck, puisi-puisi segala. Yaudah cepetan,” pinta Viny yang menopang kepalanya.

“Asyeek hehe, senyum dulu dong.”

Viny tersenyum sebentar dan tentu saja itu senyum yang dibuat-buat, tak lama kemudian ekspresinya kembali datar memandang Dion.

“Oke, Vin. Dengerin ya.”

“Iya,” balas Viny seadanya.

“Cinta itu buta…”

“Terus?”

“Cacat ini melebur dengan perasaan yang membaur.”

“Hmmm,” Viny mulai memperhatikan.

“Senyummu, suaramu seperti pengganti cahaya untuk mataku. Logika dan kerasnya hatiku sirna saat memujimu.”

Dion terus membacakan puisi yang dihapalnya tersebut kepada Viny. Sedangkan Viny mulai tersenyum saat Dion membacakan puisi tua tersebut kepada dirinya karena tidak menyangka Dion bisa juga melakukan hal seromantis ini. Dion yang melihat senyum Viny tiba-tiba tidak bisa melanjutkan puisinya.

“Kok berenti, terus?”

“Eh? Oh iya hehe, sampai mana tadi?”

“Sampai tujuan perjalanan kehidupan,” Viny mengingatkan.

“Jadi tujuan perjalanan kehidupan…kehidupan…kehidupan…” Dion mendadak lupa dengan puisi yang diingatnya.

“Ng?” Viny mulai menyeringitkan dahinya.

Dion mulai berkeringat karena dia benar-benar total melupakan puisi tersebut gara-gara terpesona dengan senyuman Viny barusan.

“Hehehe, gue lupa. Gue minta tolong Bayu bentar gak apa-apa ya?”

“Ck, yaudah cepet.”

“Oke, ntar. Bay habis tujuan perjalanan kehidupan apa Bay?” tanya Dion kepada Bayu dibawah walau perhatiannya tetap kearah Viny.

“Jadi sebungkusnya berapa?” Bayu terlihat bertanya kepada mamang Batagor gerobak yang lewat didepan rumahnya Viny.

“Ah, jadi Vin. Tujuan perjalanan kehidupan jadi sebungkusnya berapa?” Dion terlihat senang mengucapkan hal itu.

Muka Viny kembali datar memandang Dion, tak lama kemudian dia masuk kedalam kamar.

“Loh, Vin? Vin?” Dion mencoba memanggilnya kembali.

Viny kembali muncul dari balik jendela dan langsung menyemprotkan pengharum ruangan kearah Dion. Terlihat Dion kegegalapan menerima semprotan tersebut. Setelah selesai Viny langsung menjulurkan lidah untuk mengejek dan langsung menutup jendela kamarnya.

“Vin, Vin Ohoeeeekk ohok-ohok,” Dion kembali mengetuk jendela kamar gadis tersebut walau dia terbatuk-batuk gegara serangan Viny barusan.

“Pergi sana!” seru Viny dari dalam kamarnya.

Dion sebenarnya tidak mau menurutinya, akan tetapi gara-gara semprotan yang harumnya terlalu Overdosis membuat Dion mulai puyeng dan turun kebawah. Dibawah dia kembali melanjutkan batuknya.

“Kenapa lu Yon? hmm wangi apa nih?” tanya Bayu sambil mengunyah batagor dan mengendus-endus.

“Pulang bentar Bay, gue keracunan pengharum ruangan nih… Ohoooeeeekk.”

“Lah, terus Viny nya?”

“Gagal…pulang…gue mabok…” ucap Dion dengan pipi yang mengembung seperti mau memuntahkan sesuatu.

Bayu menyeringitkan dahi sambil mengunyah-ngunyah, tak lama kemudian dia memapah Dion untuk kembali kerumah Kakeknya. Setelah mendengarkan penjelasan Dion yang telah segar kembali membuat Bayu mengelus-elus dagunya sendiri diruang tamu.

“Yaudeh Yon, masih banyak benda lain digudang.”

“Haaaah,” Dion menghela nafas dan menyandarkan punggungnya kekursi, “Males gue.”

“Bah! Udah nyerah lo? Gue aje belum nyerah,” ucap Bayu dengan nada meremehkan.

“Eh Nyet! Yang ngelakuin gue, bukan lo. Barang-barang lo kagak ada yang ampuh sama sekali!”

“Oke, kali ini barang yang terakhir. Gue cari dulu digudang,” Bayu lalu berdiri dan kembali memasuki gudang.

“Terserah lo deh…haaaah,” Dion yang bersandar mulai menadahkan kepalanya keatas.

Ada 20 menit lebih Bayu berada digudang, sedangkan Dion mulai asyik memainkan game di Handphonenya. Tak lama kemudian Bayu datang dengan benda berbentuk kotak kecil berwarna putih terang.

“Apaan tuh, Bay?”

“Gak tau juga gue,” Bayu kemudian duduk dikursi, “Tapi keren nih, kayak ada cahaya tersendiri dari nih barang.”

“Coba liat,” pinta Dion.

Bayu lalu melempar benda tersebut dan langsung ditangkap dengan tangan. Dion memerhatikan benda kotak kecil itu dengan seksama.

“Iya ya, keren juga.”

Asyik-asyik memandang tiba-tiba perhatian mereka tertuju kearah TV. Dan di TV tersebut sedang memberitahukan seorang anggota DPR diduga kuat melakukan tindak korupsi sebesar 2 Trilyun Rupiah.

“Hah, korupsi-korupsi melulu. Kapan bersihnya Indonesia dari tuh tikus-tikus.”

“Haha coba para koruptor itu di seluruh Indonesia mukanya kayak tikus ya biar sesuai Ilustrasi,” komentar Dion.

“Ya kali,” Bayu memiringkan bibirnya.

Dion dan Bayu kembali memandang kotak putih kecil yang bersinar tersebut sampai-sampai pada akhirnya suara penyiar TV kembali menarik perhatian mereka berdua.

– “Anggota DPR yang baru saja diberitakan mendadak wajahnya berubah menjadi seperti tikus, sampai sekarang kami tidak tau apa penyebabnya dan juga…”

Dion dan Bayu menganga mendengar penjelasan dari penyiar berita tadi. Mereka berdua langsung saling memandang dengan muka tercengang.

“Wow…” ucap Bayu.

“Wow….” begitu juga Dion.

Tak hanya sampai disitu, para pelaku koruptor yang terbukti dan sudah masuk penjara juga bikin heboh karena mendadak muka mereka sekarang berubah menjadi seperti tikus. Dan tidak hanya di 1 daerah saja, akan tetapi diseluruh Indonesia.

Bayu dan Dion semakin membelalakan matanya dan mengangakan mulutnya.

“Kok…ucapan lo barusan jadi kenyataan gitu, Yon.”

“M-mana gue tau,” balas Dion terbata-bata.

“Coba lo ngomong lagi, apa kek,” pinta Bayu.

“Hmmm,” Dion terlihat memikirkan sesuatu, “Gue mau punya duit 100 juta.”

Habis mengucapkan itu tiba-tiba Handphone Dion berdering, Dion langsung saja mengangkatnya karena itu telepon dari Ibunya.

“Halo?”

“Dion! Lukisan kamu berhasil terjual dengan harga 100 juta, tadi orang dari Gallery nelpon Mama dan kata mereka…”

Ibunya Dion terus memberitahukan hal itu, sedangkan Dion kembali menganga dan matanya melotot.

“Kenapa Yon?” tanya Bayu.

Dion menoleh kearah Bayu, “Lukisan gue berhasil terjual dengan harga 100 juta.”

“Hah? Gambar cicak yang lu lukis asal-asalan dirumahnya Beny?”

Dion tidak menjawab akan tetapi dia mengangguk.

“Wow…” Bayu tercengang.

“Wow…” begitu juga Dion.

Saking tak percaya dengan apa yang terjadi sampai-sampai kotak kecil yang digenggamnya terlepas dari tangannya. Bayu langsung saja memungut benda tersebut dan berbicara kepada Dion.

“Kok bisa gitu Yon?”

“Mana gue tau,” Dion masih tercengang dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Coba gue, hmmm,” Bayu terlihat memikirkan sesuatu, tak lama kemudian dia langsung mengucapkan apa yang dipikirkannya.

“Gue mau Andela JKT48 Graduate dan pacaran sama gue.”

“Buset, jelek amat permintaan lo. Gak mungkin lah.”

Tak lama kemudian di TV diberitakan kalau salah satu anggota member JKT48 menyatakan mundur dari Idol Group tersebut, dan setelah ditelusuri lebih lanjut member itu bernama Andela. Bayu dan Dion kembali mengangakan mulutnya.

“Buset Bay, kok bisa gitu?”

“Gue gak tau, Yon!”

Bayu dan Dion langsung mengecek Twitter dan alangkah kagetnya mereka berdua melihat Tweet dari Andela JKT48 yang berbunyi.

– “Aku Grad karena udah tidak bisa menahan perasaan ini lagi untuk bertemu Bayu.”

“Bay,” Dion memanggil dengan mata tercengang.

What?” begitu juga Bayu yang kondisinya sama dengan Dion.

“Dia bener-bener nyebutin nama lu Bay.”

“Ho’oh,” Bayu mengangguk-angguk.

“Coba lo batalin, bisa gak?”

“Oke…Andela JKT48 tidak jadi Grad karena dia hanya ingin bercanda dengan penggemarnya,” ucap Bayu mantap.

Tak lama kemudian Andela kembali menge-Tweet dan menyebutkan.

– “Bercanda kok hehe, aku masih tetep di JKT48. Aku aja gak kenal Bayu itu siapa”

Dion dan Bayu kembali melotot.

“Coba lo bilang dia lulus lagi, Bay,”

“Oke.”

Bayu kembali mengucapkan kalimat kalau Andela JKT48 memutuskan untuk keluar JKT48 dan ucapannya itu pun terkabul, lalu dia mengucapkan lagi kalau Andela tidak jadi keluar JKT48 dan ucapannya itu pun lagi-lagi terkabul. Mereka melakukan itu selama 50 kali sampai-sampai Andela benar-benar Grade karena kecapekan.

“Wow!” Dion dan Bayu kembali terpukau dengan apa yang terjadi.

“Gila! Coba gue lagi…emmm gue kepengen Indonesia turun salju!”

Tidak ada yang terjadi dan membuat Dion heran.

“Indonesia turun salju!” ucap Bayu tiba-tiba.

Dan salju perlahan-lahan turun didepan rumah kakeknya Bayu. Dion dan Bayu kembali mengangakan mulutnya. Bayu langsung membatalkan hal tersebut dan salju pun berhenti turun. Dion dan Bayu langsung berpikir keras dengan apa yang terjadi sampai pada akhirnya mereka menyimpulkan sesuatu.

“Perasaan tadi pas gue bilang koruptor mukanya jadi tikus sama dapat duit 100 juta gue megang benda itu deh, tapi pas gue minta turun salju malah gak terkabul gara-gara sekarang tuh benda lo yang pegang,” ucap Dion menganalisa.

“Iya ya, jangan-jangan…”

“Coba gue, Bay. Dan kalau ini benar-benar terkabul, berarti Fix ini semua karena benda ini.”

“Oke, nih.”

Dion yang sudah memegang kotak putih tersebut langsung menggenggamnya, tak lama kemudian Dion dengan lantang mengucapkan apa yang diinginkannya sedari tadi.

“Gue mau Ratu Vienny Fitrilya jadi pacar gue!”

Setelah mengucapkan itu Dion tinggal menunggu reaksinya, tak lama kemudian Handphonenya berdering dan itu adalah dari Viny. Dion dan Bayu kaget.

“Angkat, Yon. Pake Loudspeaker biar gue juga tau.”

“O-Oke.”

Dion langsung saja menekan tombol Loudspeaker, dan Bayu mulai duduk disamping Dion untuk ikutan mendengar percakapannya.

“Halo, Vin?”

“Dion, kamu dimana?”

“Dirumah Kakeknya Bayu nih, ada apa?”

“…Kamu kerumah Inyi mau gak?”

“Loh? Kenapa?” Dion dan Bayu saling berpandangan dan hampir tersenyum.

“Itu….”

“Itu kenapa?”

“….Ka..ngen.”

Mendengar ucapan Viny barusan membuat Dion tersenyum lebar-lebar kearah Bayu, begitu juga Bayu.

“Kangen sama siapa?”

“Ya kamulah… Inyi kangen kamu, Dion… kamu kerumah Inyi ya sekarang? Ya, Dion ya?”

“Oke!” Dion langsung saja mengiyakan.

Hubungan telepon terputus, sedangkan Dion dan Bayu saling tertawa sambil melakukan tos tangan.

“Wih! Ternyata bener berkat benda ini, Bay,” ungkapnya menggebu-gebu.

“Jadi, apa kita C’mon ke tempat Viny?” tanya Bayu sambil menunjuk pintu keluar.

“Tunggu apa lagi? Let’s Go!”

Dion dan Bayu langsung saja pergi keluar rumah dan karena tidak sabar Dion langsung saja meloncat pagar untuk langsung kepekarangan rumah Viny sedangkan Bayu berjalan lewat depan. Dion langsung memencet bel rumah Viny dan tak perlu menunggu lama pintu pun terbuka.

“Dioooonnn,” Viny terlihat senang melihat siapa yang datang dan langsung memeluk Dion didepan rumah.

“Mantap!” Bayu memberi tanda jempol.

“Duh, Vin. Kok meluk-meluk segala sih,” ucap Dion dengan senyum kemenangan.

“Kangeeeeen, gak! Bukan hanya kangen.”

“Lalu?”

“Aku sayang kamu!” Viny semakin erat memeluk Dion sambil tersenyum.

Dion tertawa puas dalam hati, dan Bayu langsung melakukan tari India untuk merayakan kesuksesan Dion mendapatkan Viny. Tak lama kemudian Viny mengajak Dion untuk masuk kedalam rumahnya dan Bayu juga ikutan masuk.

Diruang tamu Dion kemudian berbicara kepada Viny.

“Vin, jadi…”

“Gak!” Viny langsung melepaskan pelukannya dari Dion.

“Apanya?” Dion menyeringitkan dahi.

“Kamu mau kita pacaran kan?” tanya Viny dengan wajah serius.

“Errr…I-iya sih.”

“Aku gak mau!”

“Yaahhhh,” Dion terlihat lesu dan Bayu pun cengok.

“Tapi aku maunya nikah sama kamu!” Viny kembali memeluk Dion dengan perasaan bahagia.

“Weeeeh!!!” senyum Dion kembali mengembang kearah Bayu.

“Widiiih, mantap!” Bayu memberikan tanda jempol kearah Dion, Dion pun membalasnya dengan hal tersebut.

“Kamu cepetan ngelamar aku ya? ya? Aku nanti nelpon Ayah sama Mama aku biar cepat pulang kerumah.”

“Hehe gak sabaran amat, aku saja belum ngasih tau orang tua aku.”

“Ummm yaudah kamu beritahu orang tua kamu gih.”

“I-iya, tapi gak sekarang juga kali…”

“Terus kapan?” Viny melepaskan pelukannya dan cemberut kepada Dion.

“Errr gimana kalau hari Minggu?”

“Minggu? Hari Minggu 2 hari nanti?”

“I-Iya.”

“Aaaa!!!” Viny terlihat senang dan kembali memeluk Dion, Dion mulai keenakan.

“Oh iya, mau minum apa? Biar Inyi buatin.”

“Apa aja deh hehe.”

“Yaudah, tunggu disini ya. Jangan kemana-mana,” Viny lalu beranjak dari tempat duduk walau pelukannya tidak terlepas sehingga Dion juga ikutan berdiri.

“Ini sih emang gak bisa kemana-mana…dipeluk melulu.”

“Aaaa nanti Inyi lepas kamu nantinya kemana-mana,” Viny terlihat tidak mau sedetikpun melepaskan pandangannya dari Dion.

“Gak kemana-mana, palingan disini saja ngobrol sama Bayu.”

“Hmm awas ya! Bayu, liatin Dion kalau dia mau kabur,” pinta Viny kepada Bayu.

“Iye-iye tenang aje,” Bayu menyanggupi.

“Inyi buatin minum dulu ya?” ucap Viny dengan kepala miring kearah Dion sehingga kesan imutnya bertambah.

“Iya.”

Viny tersenyum dan melepaskan pelukannya, tapi sebelum pergi Viny mengecup pipinya Dion. Dion kaget, dan Viny langsung saja melongos menuju dapur.

“Gila! Hebat banget! Padahal gue minta dia jadi pacar tapi dia minta lebih,” ungkap Dion kesenangan sambil memegang pipi.

“Iya, gue aje sampai dicuekin gini. Seolah dia merasa dunia ini cuma ada lo berdua. Luar biasa,” Bayu terkagum-kagum melihat efeknya.

“Nih benda bener-bener keren dah, lu dapat dimana sih Bay?” tanya Dion sambil menggenggam kotak kecil putih tersebut.

“Di gudang sih. Gimana? Akhirnya ada juga barang di gudang yang bergunakan buat lo?” tanya Bayu dengan muka sombong.

“Bukan berguna lagi, ini diatas berguna lagi! SUPER ULTIMATE AMPUH!”

“Oh jelas! Hoho, jadi gimana. Senang kan lo sekarang akhirnya bisa sama Viny?

“Iya, Bay” Dion semakin kuat menggenggam kotak tersebut, tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Saking bahagianya rasanya Dunia mau kiamat sekarang saja gue gak masalah hahahaha.”

“Hahahahaha,” Bayu ikutan tertawa.

“Hahahahahahahahaha,” mereka berdua akhirnya tertawa terbahak-bahak.

DUAAAAARRRRRR!!!!!

Bumi pun hancur.

© Melodion 2016

[ Tamat ]

Writter : Dion | Site : www.melodion.xyz

 

Iklan

23 tanggapan untuk “I D I O T I Q U E

  1. parah hahahahahahaha
    biasanya dimana2 tokoh utama yg mati ataupun tokoh utama cewek yang mati, ini yang mati seluruh umat manusia wkwkwkwkwwkwk
    mantap bang dion! hahahahaha

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s