The Mechanic

“Halooo Pak, Bu, hari ini ada penawaran spesial loh.” Seorang gadis kecil berteriak pada orang-orang yang sedari tadi lewat di hadapannya.

Berulang kali dia menyodorkan benda yang ada pada keranjang di tangannya, mencoba menarik perhatian para pengunjung pasar. Gadis itu sudah sejak pagi di sana, mulai dari tempat ini sepi hingga ramai seperti sekarang. Lokasinya selalu sama, berdiri ruang yang ada di antara pedagang buah dan penjual bumbu dapur, siapapun yang sering ke pasar pasti tak sulit untuk menemukannya.

Untuk seukuran gadis kecil kegigihannya patut diacungi jempol. Bukan sekali atau dua kali dagangannya sepi peminat, hampir setiap hari malah. Gadis itu tidak menyerah, dia tetap kembali ke sana, menyiapkan senyum terbaik dan mencoba untuk menjual barang yang tak biasa kita temukan di pasar manapun.

“Ayo, untuk pembeli ‘hati’ pertama hari ini dapat potongan setengah harga.” Dia mengangkat tinggi-tinggi barang dagangannya, sebuah benda merah yang bersinar dengan bentuk yang dijadikan simbol hari valentine.

Meskipun yang dijualnya cukup unik tapi tak membuat orang-orang meliriknya. Mungkin beberapa dari mereka masih memilik ‘hati’ yang berfungsi dengan baik, atau ‘hati’ yang dijual oleh sang gadis tak cocok di badan mereka, yah kemungkinan selalu ada. Sesekali mereka yang lewat hanya tersenyum, kadang ada yang berhenti untuk mengelus kepala gadis itu sambil melontarkan basa-basi sebagai apresiasi atas keuletannya. Keramahan para pengunjung itulah yang membuat si gadis penjual ‘hati’ tak ingin pindah ke pasar yang lain.

Tiba-tiba dari tengah keramaian muncul seorang wanita yang mengenakan gaun, lengkap dengan bagian roknya yang melebar. Rambutnya terikat dengan poni menyamping yang menutupi dahinya, suara heels yang beradu dengan tanah mengiringi langkahnya, berjalan mendekati sang gadis penjual ‘hati’.

“Selamat siang Nona cantik, apa anda berniat membeli salah satu ‘hati’ ini?” gadis itu menyodorkan sebuah ‘hati’ yang sinarnya masih berpendar terang.

Sang gadis tersenyum, pipi bulatnya merona ketika mendengar kata pujian yang dilontarkan oleh gadis kecil di hadapannya. “Ah tidak, tapi apa kau bisa memperbaiki milikku yang rusak?”

“Maaf, aku hanya menjual Nona.”

“Baiklah, aku mengerti,” ucap wanita itu bersamaan dengan hilangnya rona merah di pipi bulatnya.

Wanita itu mengulas sebuah senyum, senyum perpisahan. Dia bersiap untuk meninggalkan si gadis penjual ‘hati’ dengan sedikit perasaan kecewa. Sudah seharian dia mencari orang yang bisa membantu mengatasi masalah yang tengah dia hadapi namun hasilnya tak memuaskan.

“Tapi jika anda pergi ke ujung jalan sana anda akan menemukan ‘bengkel hati’,” ucap si gadis kecil sambil menunjuk ke salah satu sisi jalan yang sepi.

“‘Bengkel hati?’” Sang wanita menaikkan sebelah alisnya. Sang gadis kecil hanya mengangguk, senyuman tulus yang terukir di wajahnya meyakinkan wanita itu bahwa gadis di hadapannya tidak berbohong. “Aku akan coba ke sana, terima kasih gadis kecil.”

“Sama-sama Nona.” sang gadis penjual ‘hati’ melambaikan tangan, melepas kepergian sang wanita.

*****

Sebuah bangunan tua yang terbuat dari kayu berdiri di ujung jalan. Desainnya yang berebeda membuat bangunan tua tersebut terlihat mencolok dibandingkan bangunan yang ada di sekitarnya.

Bagian dalam bangunan tersebut cukup bersih, sungguh berbeda dengan apa yang tampak dari luar. Beberapa meja dengan palu berbagai ukuran yang tersusun rapi, sebuah single bed yang spreinya baru di ganti terletak di ujung ruangan, beberapa ember berisi air serta tungku besar dengan api yang menyala di dalamnya. Berbagai macam benda tersebut tertata sedemikian rupa, menciptakan suasana nyaman untuk siapapun yang tinggal di sana.

Di salah satu sudut ruangan ada seorang pemuda, duduk di sebuah kursi kayu sambil memandang benda berwarna merah di hadapannya melalui lensa kacamatanya yang berwarna merah pula. Sesekali dia memukulkan palu pada benda tersebut, menciptakan suara dentingan yang menyebar ke seluruh penjuru ruangan tapi tidak sampai terdengar ke luar. Setelah beberapa kali pukulan, pemuda itu mengangkat benda merah tersebut menggunakan capit, mendekatkannya ke wajah lalu memperhatikan tiap detil permukaan benda tersebut. Setelah mendapati ada retakan di sana, sang pemuda lalu mengambil alat las dan menyalakannya. Suara api menderu, bau gas mulai tercium. Pemuda tersebut mengambil sesuatu dari saku depan, sebuah benda kecil seukuran telur puyuh berwarna merah terang. Dia menempelkan benda tersebut pada retakan, mendekatkan alat las secara perlahan yang kemudian melelehkan benda kecil tersebut hingga akhirnya seluruh retakan tertambal sempurna.

Pemuda itu meletakkan alat las miliknya. Matanya kini fokus pada ‘hati’ di tangannya yang mulai memancarkan sinar lemah. Senyum puas terukir di wajahnya, segera dia bangkit lalu berjalan menuju sebuah rak kayu yang hampir penuh. Dia meletakkan ‘hati’ tersebut di sana dan tak lupa memberi label bertuliskan angka ‘13’ dan menjejerkannya dengan ‘hati’ yang lain.

“Permisi.”

Sang pemuda menoleh ke arah pintu masuk. Dia menutup rapat pintu rak kayu di hadapannya lalu berjalan mendekati seorang wanita dengan gaun berwarna kuning yang tengah berdiri di pintu masuk tempat tinggalnya.

“Eumm, kata gadis kecil di sana tempat ini bisa memperbaiki ‘hati’ yang rusak, apa benar?” tanya wanita tersebut sambil menunjuk ke ujung jalan dimana banyak orang melakukan kegiatan jual-beli.

Pemuda itu melepas kacamatanya, membiarkan benda tersebut menggantung di leher. “Ah, pelanggan lainnya, silahkan masuk.”

Sang wanita berjalan mengikuti pemuda di depannya lalu duduk di tempat setelah si pemuda mempersilahkan.

“Jadi apa yang bisa ku bantu?” tanya pemuda tersebut sambil melepas kedua sarung tangan kulit yang sedari tadi melindungi tangannya.

Wanita itu menyodorkan sebuah ‘hati’ pada pemuda tersebut. Berbeda dengan apa yang dijual oleh gadis kecil di pasar, hati milik wanita itu tak bersinar, terdapat retakan besar mulai dari atas hingga ke tengah, hampir terbelah, hanya bagian lancipnya yang masih menyatu.

“Astaga, yang satu ini kerusakannya cukup parah,” ucap pemuda itu sambil memperhatikan ‘hati’ yang ada di tangan sang gadis.

“Jadi tidak bisa diperbaiki ya?”

“Eh, bukan seperti itu hanya saja mungkin akan memakan waktu yang cukup lama.”

“Itu mungkin bisa jadi masalah.” Wanita tersebut tertunduk lesu.

“Memangnya ada apa Nona? Apakah kau akan menikah dalam waktu dekat?”

“Ya, bisa dibilang begitu.”

“Wah, Selamat.” ucap pemuda itu sambil menggaruk kepalanya.

“Entah kenapa, semakin dekat ke hari pernikahan aku menyadari jika ‘hati’ ini tidak memiliki kemampuan untuk merasakan cinta.” Air mata mulai mengalir menuruni pipi bulat wanita itu.

“Yah, aku bisa lihat masalahnya, mungkin anda bisa meninggalkan ‘hati’ itu di sini, Aku tidak bisa menjanjikan apapun tapi akan kuusahakan yang terbaik.”

“Terima kasih.” wanita itu mulai tersenyum. “Tolong jaga ‘hati’ ini baik-baik Tuan….”

“Mekanik, yah, kau bisa memanggilku itu,” pemuda itu tersenyum.

“Veranda,” ucap wanita itu sambil menjabat tangan pemuda di hadapannya.

“Baiklah, aku tidak tahu kapan akan selesai, hanya untuk berjaga-jaga, mampirlah ke sini ketika kau punya waktu luang.”

Sang wanita mengangguk. Dia memberikan ‘hati’ miliknya yang rusak pada sang mekanik lalu pergi menuju pintu keluar. Sesampainya di luar bengkel, rasa lega langsung menyisip masuk, beban yang selama ini ia pikul kini hilang entah kemana. Meskipun belum pasti, tapi setidaknya ada secercah harapan agar dirinya bisa kembali merasakan cinta.

Ketika sampai di pasar dia kembali melihat si gadis penjual hati yang masih berusaha untuk menjual barang dagangannya. Pada suatu momen tatapan mereka bertemu, Veranda terdiam sesaat lalu menyunggingkan sebuah senyuman sebagai rasa terima kasih karena telah menunjukkan tempat dimana ada jawaban untuk masalahnya. Sang gadis penjual hati ikut tersenyum, poni rata yang menutupi dahinya ikut bergoyang ke kanan dan ke kiri seiring dengan lambaian tangannya untuk melepas kepergian Veranda sekali lagi.

*****

Bunga api memercik saat api dari alat las menyentuh permukaan ‘hati’ milik Veranda. Dentingan palu menggema ketika membentuk sebuah material sebagai komponen agar ‘hati’ tersebut bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Tetesan peluh yang kian membanjiri menjadi tanda keseriusan sang mekanik dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Sudah tiga hari namun ‘hati’ milik pelanggannya itu masih belum bisa ia perbaiki. Seluruh cara sudah ia coba, mulai dari menambal, membuat replika dari material tertentu untuk menggantikan komponen yang hilang, semuanya. Waktu tidur ia korbankan, seluruh tenaga dan pikiran ia curahkan untuk memperbaiki sepotong ‘hati’ yang rusak. Dia bisa saja menolak, berkelit bahwa ‘hati’ tersebut tak bisa ia fungsikan seperti semula namun bayangan wajah murung sang pemilik membuat dirinya mengurungkan niatan itu.

Sebenarnya dia tidak benar-benar gagal, hampir sebagian besar komponen ‘hati’ tersebut berhasil ia perbaiki. Namun ada satu komponen yang tak bisa ia selesaikan, dan hal itu membuat pekerjaannya terhambat hingga berhari-hari.

Pemuda itu kembali memasang kacamatanya, menghidupkan alat las dan mencoba meleburkan material yang dia dapat dari kota seberang untuk menutup lubang terakhir pada ‘hati’ sang pelanggan.

“Permisi, maaf hari ini aku mengganggu lagi.” Sesosok wanita berdiri di depan pintu sambil membawa bungkusan di tangannya.

Pemuda itu menoleh dan mendapati sosok yang selalu mengunjungi bengkelnya setiap hari, sosok pemilik ‘hati’yang tengah ia kerjakan, Veranda.

“Ah kau datang lagi, silahkan masuk.”

“Aku bawa sesuatu hari ini,” ucap Veranda lalu duduk di sebelah sang mekanik.

“Wow kue,” pekik sang mekanik.

“Sebentar, biar aku ambil piring dan buatkan teh.”

Veranda berjalan menuju dapur. Wanita itu sudah hapal dengan ruangan-ruangan di tempat ini, hampir setiap hari dia datang untuk melihat perkembangan ‘hati’-nya dan setiap hari pula dia selalu membawa makanan untuk sang mekanik.

Beberapa saat kemudian Veranda kembali menghampiri sang mekanik dengan dua cangkir teh serta dua piring yang tertata rapi di atas nampan. Dengan sopan wanita itu memotong kue yang ia bawa lalu memberikannya pada sang mekanik.

“Wah, ini benar-benar enak!” sang mekanik nampak antusias ketika suapan pertama masuk ke mulutnya.

“Hahahaha,  aku senang kalo anda suka.”

“Jarang-jarang ada pelanggan yang datang dan membawakan makanan untukku, eumm mungkin lebih tepatnya tidak pernah ada.” sang mekanik kembali menyuapkan sepotong kue.

“Yah, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk orang baik yang mau memperbaiki ‘hati-ku’.”

“Eumm…, soal itu.” Sang mekanik meletakkan piringnya dengan kue yang masih tersisa.

Mendadak suasana hangat berubah menjadi tegang. Veranda yang menyadari perubahan sikap pemuda di hadapannya juga merasakan hal itu. Pasti ada sesuatu yang menyangku dengan ‘hati’nya, bukan sesuatu yang baik pastinya.

“Kenapa? Apa ada masalah?”  tanya Veranda.

“Yah, sebenarnya aku hampir selesai memperbaikinya namun ada sedikit kendala,” ucap sang mekanik ragu.

“Apa itu?” Veranda yang penasaran terlihat makin antusias.

“Beberapa komponen vital yang dibutuhkan untuk merasakan ‘cinta’ hilang dan aku kesulitan untuk membuat replikanya.”

“Aku mengerti, jadi itu berarti aku tidak akan bisa mencintai calon suamiku?” Veranda tertunduk lesu, matanya menatap kosong ke lantai kayu di bawah sana. “Yah, dia memang pantas mendapatkan yang lebih baik dari diriku.”

Sang mekanik terdiam, ini merupakan pemandangan yang ia hindari, seorang wanita cantik nan baik bersedih karena dirinya yang tak mampu menyelesaikan pekerjaan. Mungkin seharusnya dia tidak menceritakan keadaan ‘hati’ milik wanita itu secara detail namun baginya berbohong juga tak akan banyak membantu.

“Tapi tenang, aku akan tetap memperbaikinya.”

Sontak Veranda langsung melihat pemuda di depannya. Matanya berbinar, harapan itu kembali muncul, harapan untuk dapat kembali mencintai orang yang ia kasihi.

“Masih ada hal yang bisa kuusahakan.”

“Terima kasih Tuan mekanik.” Veranda menggenggam tangan pemuda itu dengan perasaan penuh syukur.

“Tenang saja, sudah menjadi kewajibanku untuk menyelesaikan setiap pekerjaan lagipula sebuah kepuasan tersendiri bisa membantu orang baik seperti anda Nona.”

“Terima kasih banyak, sekali lagi terima kasih.” Veranda mempererat genggaman tangannya. “Baiklah, aku akan datang lagi besok.”

“Ya tentu saja, sampai jumpa besok.”

Sang mekanik melambaikan tangannya, melepas kepergian si pemilik ‘hati’ yang rusak itu.

Kini hanya tinggal pemuda itu sendiri. Dia berjalan mendekati meja tempat ‘hati’ milik Veranda berada. Dia memperhatikan lubang yang masih cukup lebar, hampir membagi kepingan merah tersebut menjadi dua bagian. Terbayang wajah bahagia Veranda waktu dirinya meyakinkan wanita itu bahwa masih ada cara yang bisa dia usahakan.

Pemuda itu menghela nafas mencoba menenangkan diri. Perlahan dia mengarahkan tangannya, tepat di dada dan tiba-tiba muncul sinar berwarna merah terang dari balik telapak tangannya.

“Semoga ini cukup.”

 

*****

Hari yang baru dan Veranda berjalan dengan terburu-buru. Beberapa kali dia menabrak orang yang ada di pasar namun setelah berhenti dan meminta maaf, wanita itu kembali melanjutkan perjalanannya.

Dirinya sangat bersemangat hari ini, semenjak bangun dari tidur dia tak bisa berhenti memikirkan ‘hati’ yang ia titipkan pada sang mekanik. Sepanjang perjalanan tanpa henti dia berdoa, berharap agar ‘hati’nya bisa kembali seperti sedia kala.

“Permisi.” Veranda membuka pintu, nafasnya sedikit tersengal akibat berjalan terlalu cepat.

“Hei Nona, tumben hari ini datang lebih cepat, apa kau bawa makanan lagi?”

“Eh? Eumm itu….” Wanita itu mulai panit.

“Hahaha, aku bercanda, sini aku perlihatkan sesuatu.”

Akhirnya Veranda berjalan menuju meja kerja sang mekanik. Matanya berbinar ketika melihat benda yang ada di sana, sebuah kepingan ‘hati’ berwarna merah yang mulai bersinar cukup terang. Seluruh tubuhnya kaku, bahkan lidahnya terasa kelu hingga sulit untuk berkata-kata.

“Mungkin penampilannya tidak seperti sedia kala, aku sedikit bingung mengatasi goresan-goresan di sana.” Sang mekanik menunjuk pada beberapa goresan di permukaan ‘hati’ milik pelanggannya tersebut. “Tapi tenang saja, semua fungsinya berjalan dengan baik, tanpa cacat sedikitpun.”

Veranda mengambil kepingan hati tersebut lalu mendekatkan ke dadanya. Perlahan-lahan kepingan tersebut mulai menembus lapisan kulit hingga akhirnya menyatu seutuhnya, menyisakan pendaran sinar merah di dada wanita itu.

“Luar biasa, aku bisa merasakan ‘hati’ ini dipenuhi dengan cinta.” Veranda tersenyum, bulir air matanya mulai menetes seiring dengan rasa haru yang ia rasakan. “Calon suamiku pasti senang mendengar hal ini.”

“Tentu, dia pasti sangat senang.” sang mekanik mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan.

“Terima kasih Tuan mekanik, aku sangat mengharapkan kedatanganmu di pernikahan kami,” ucap Veranda sambil menggengam tangan pemuda yang telah memperbaiki ‘hati’nya.

“Yah tentu saja.” sang mekanik tersenyum.

Wanita itu akhirnya pergi setelah berulang kali mengucapkan terima kasih. Sang mekanik melepas kepergiannya dengan senyum dan lambaian tangan, dia ikut senang melihat kebahagiaan yang terpancar dari pelanggannya itu.

Satu lagi pelanggan yang puas namun entah kenapa dia merasakan sesuatu yang ganjil, sesuatu yang cukup menyesakkan. Beberapa hari ini dia sudah mengerahkan semuanya, fisik, mental, semuanya. Mungkin tubuhnya hanya lelah sekarang. Pemuda itu pergi ke sudut, duduk di atas kotak kayu dan termangu di sana. Perlahan air matanya jatuh, perasaan itu kembali lagi, terasa seperti meremukkan dadanya.

“Mekanik yang malang….” tiba-tiba muncul seorang gadis kecil dengan keranjang di tangannya, berdiri di depan pintu tempat tinggal sang mekanik sambil melempar tatapan sinis.

Sang mekanik melihat ke arah sumber suara itu dan melihat seorang gadis kecil datang menghampirinya dengan poni yang bergoyang seirama dengan langkah kaki kecilnya.

“Kenapa kau selalu membagi serpihan ‘hati’ milikmu untuk orang lain?” tanya sang gadis yang kini sudah berada di hadapan sang mekanik.

“Heh, lihat siapa yang datang,” ucap sang mekanik sarkas. “Bagaimana kau bisa menjual ‘hati’ padahal kau sendiri tidak memilkinya?”

Gadis itu langsung mengalihkan wajahnya, tatapannya berubah sendu sambil melirik ke arah keranjang di tangannya. “Karena tak satupun dari ‘hati’ ini yang cocok untukku.”

“Aah, aku mengerti.” Rasa kesal yang dirasakan sang mekanik langsung sirna ketika mendengar pernyataan gadis kecil di hadapannya. “Kalau begitu mungkin…”

Sang mekanik mengusap air matanya, dia bangkit lalu menyentuh dadanya, mengambil ‘hati’ miliknya yang berukuran lebih kecil dibandingkan kumpulan ‘hati’ yang ada di keranjang sang gadis.

“Hanya ini yang tersisa, apakah ini cocok?” sang mekanik menyodorkan kepingan ‘hati’-nya pada sang gadis kecil.

“Kau memberikannya untukku?”

“Ya, semoga saja ini cocok.” sang mekanik tersenyum hangat.

“Terima kasih tuan mekanik!” sontak si gadis kecil langsung lompat dan memeluk pria di hadapannya. Akhirnya setelah sekian lama dirinya bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki ‘hati’.

******

Sinar matahari mulai menembus ke dalam sebuah ruangan dimana seorang anak kecil berada di sana. Seorang anak perempuan, duduk di atas ranjang sambil memegang sebuah buku di pangkuannya. Matanya masih fokus, membaca tiap tulisan yang ada di lembaran kertas itu hingga akhirnya dia sampai pada kata terakhir dan kemudian menutup buku tersebut.

“Yuvia, bagaimana perasaanmu hari ini?”

Gadis itu menoleh ke sumber suara. Di sana berdiri seorang dokter lengkap dengan jas berwarna putih serta stetoskop yang menggantung di lehernya.

“Hai Dokter.”

“Besok adalah hari yang cukup penting untukmu.” Sang dokter berjalan mendekat lalu mengelus rambut gadis itu, membuat poni ratanya bergoyang beberapa kali. “Kau salah satu yang beruntung, mendapatkan donor hati yang cocok tepat pada waktunya.

“Iya, Tuan mekanik itu sungguh baik.” gadis itu tersenyum.

“Tuan mekanik?” sang dokter mengerutkan dahinya.

Gadis itu mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, orang-orang mungkin tidak mengingatnya meskipun mereka pernah ditolong olehnya, tapi aku akan selalu ingat pada dirinya.”

Gadis itu mengangkat buku dengan simbol hati berwarna merah, tergambar tepat di tengah sampul buku tersebut.

 

END

 

Credit to : Miyumon

 

 

Iklan

Satu tanggapan untuk “The Mechanic

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s