Psycho Detected: First Kiss, Mission, Escape

kbh

 

Peringatan 17+:

Cerita ini mengandung adegan kekerasan, penyiksaan, dan tindakan sadis. Bagi yang belum cukup umur, dilarang keras membacanya.

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama, tokoh, karakter dan tempat hanya kebetulan dan untuk hiburan semata.

~oOo~

Gelap! Gelap! Gelap! Semuanya gelap!

Aku dimana?

Apa aku sudah mati?

Orang itu.. Mana orang itu?!

Apa dia membunuhku juga?

Gadis itu terbangun dari mimpinya. Keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Nafasnya tersengal-sengal. Kelihatannya gadis itu baru saja mengalami mimpi buruk.

“Aku dimana?”

Gadis itu kebingungan. Saat dia bangun, dia sudah berada disebuah kamar. Gadis itu memperhatikan seluruh kamar itu. Kamar itu terlihat sangat rapih, barang-barang terlihat tertata rapih. Ditambah lagi, di dinding kamar itu terdapat foto-foto, mungkin foto si pemilik rumah. Gadis itu melihat barisan deret figura foto yang terpajang di dinding. Matanya kemudian tertuju pada salah satu foto yang menurutnya sangat tidak asing.

“Itu kan..”

Suara knop pintu kamar berbunyi. Terbukalah pintu kamar itu, seseorang masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan dengan sepiring nasi uduk dan segelas susu diatasnya. Gadis itu menoleh kearah orang itu.

“Ka.. Kamu kan..” Gadis itu merasa terkejut dengan seseorang yang baru saja menghampirinya.

“Hai,” sapa orang itu sambil menaruh nampan berisi makanan keatas meja dekat kasur.

“Ka.. Kamu yang semalam mem…. Hmmppphhh..”

Belum sempat gadis itu menyelesaikan ucapannya, orang itu langsung mencium bibir gadis itu. Orang itu melumat bibir gadis itu secara perlahan. Gadis itu hanya terdiam dengan apa yang dilakukan orang itu. Setelah dirasa cukup tenang, orang itu melepas ciumannya dan menatap gadis itu.

“Kamu sekarang ada di rumah aku, Desy.” Gadis itu membelalakan matanya, dia terkejut karena orang itu mengetahui namanya.

“Hihihi. Muka kamu lucu,” ucap orang itu seraya mencubit pipi Desy.

Desy menepis tangan orang itu dan menatap kearahnya. “Ba.. Bagaimana kamu bisa tahu namaku?”

Orang itu tersenyum. “Nama kamu Maria Genoveva Natalia Desy Purnamasari Gunawan, benar kan?”

Desy meng-iya-kan pertanyaan orang itu dengan anggukan kepala.

“Aku tahu dari KTP di dompetmu. Namamu panjang sekali, aku sempat tidak bisa menghafalnya, hahaha.”

“Ba.. Bagaimana aku bisa berada disini?” tanya Desy serius.

“Kamu semalam itu pingsan. Aku baru saja menyapamu, tapi kamu sudah pingsan duluan. Jadinya aku bawa kesini deh, hehehe,” jawab orang itu tersenyum.

“Ja.. Jadi.. Kamu yang…”

Orang itu sedikit tertawa. “Iya, kamu benar. Aku yang semalam membunuh dua preman dan supir bus itu.”

Desy terkejut mendengarnya. Dia mundur perlahan sampai dirinya mepet ke dinding. Setelah apa yang dilakukan orang itu semalam, Desy merasa ketakutan, dia takut jika orang itu akan membunuhnya juga.

“Hah… Kamu jangan takut. Aku tidak akan membunuhmu kok,” kata orang itu sambil membawa sepiring nasi uduk. Dia naik keatas kasurnya dan perlahan menghampiri Desy.

Desy semakin ketakutan. Dia memukul-mukul orang itu dengan bantal, tapi orang itu berhasil menahannya dengan sebelah tangannya. Desy terus memukul orang itu dengan bantal, sampai akhirnya gerakannya terhenti karena orang itu berhasil memegang tangan Desy.

“Hey, jangan takut, des. Nih, kamu makan dulu gih. Aku tahu kalau kamu lagi kelaparan,” kata orang itu sambil memberikan sepiring nasi uduknya.

Desy sempat menolak, tapi bunyi perutnya mengalahkan rasa takutnya. Memang sih dari semalam Desy belum makan sejak pulang dari kampusnya. Awalnya dia berniat makan di rumahnya, tapi karena semalam dia melihat kejadian pembunuhan itu, dia pingsan dan dibawa kemari oleh seseorang yang bisa dibilang pembunuh. Akhirnya, Desy mengambil sepiring nasi uduk itu dan mulai memakannya dengan lahap.

“Hahaha. Kamu lucu kalau lagi makan, sama seperti temanku dulu,” ucap orang itu tersenyum.

Desy menghentikan aktivitas makannya. Kemudian, dia menatap kearah orang itu. “Pembunuh seperti kamu bisa punya teman?”

Orang itu menyipitkan matanya. Desy yang melihatnya menunduk takut.

“Dulu aku punya teman yang mirip sekali denganmu, wajahnya saja sangat mirip denganmu. Sama seperti foto yang disana.” Orang itu menunjuk sebuah foto gadis yang sangat mirip dengan Desy. Desy melihat foto itu yang tampaknya itu adalah foto yang dilihatnya sejak tersadar dari pingsannya.

“Tapi sayang, dia sudah tidak ada di dunia ini. Padahal dia adalah sahabat terbaikku.”

Desy terkejut mendengar yang dikatakan orang itu, terlebih lagi wajah orang itu menjadi murung. Kelihatannya orang itu merasa sangat sedih. Desy merasakan hal yang sama dengan orang itu, dimana dia harus rela ditinggal mati oleh adik tersayangnya. Yang bisa dilakukan Desy saat ini hanya bisa terdiam.

“Dulu aku bukan pembunuh. Tapi semenjak dia meninggal, entah kenapa jiwaku seperti hilang dan tanpa sadar aku membunuh banyak orang.”

“Banyak orang?” tanya Desy heran.

“Ya.”

“Ja.. Jangan-jangan kasus pembunuhan seorang gadis di Jalan Sudirman dan pembunuhan dua orang di gedung tua itu, kamu pelakunya?”

“Hehehe. Kamu bicara apa?” Orang itu mendekatkan dirinya kepada Desy. Desy sedikit menjauh dari orang itu.

“Ka.. Kamu pelakunya kan? Si.. Siapa kamu sebenarnya?”

Orang itu tersenyum kearahnya. “Hmmm, panggil saja aku Ar.”

“Ar?”

Desy sepertinya pernah mendengar nama itu, tapi dia lupa kapan dan dimana dia mendengar nama itu. Mungkin karena efek pingsan tadi dia jadi sedikit lupa.

“Hmmm, kau sepertinya tau tentangku ya?” ucap Ar sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Desy.

Kini wajah Ar sudah berada tepat di depan wajah Desy. Desy sedikit ketakutan. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi tubuhnya. Matanya tidak berani menatap tatapan tajam Ar. Namun, dia sedikit tertegun akan tatapan Ar yang tajam dan dingin. Dalam hatinya Desy merasa luluh ditatap oleh Ar.

“Ng… Nggak… Aku nggak tahu sama sekali tentang kamu.”

Desy merasa salah tingkah. Desy pun menampar wajah Ar sebanyak tiga kali karena wajah Ar semakin dekat dengan wajahnya. Bahkan terlihat seperti hendak mencium. Desy tidak mau ciuman pertamanya diberikan kepada seorang pembunuh.

Lantas ciuman tadi maksudnya apa?

Kemudian dia mendorong wajah Ar dengan kedua tangannya. Ar pun langsung terbaring di kasurnya sambil mengelus-elus pipinya yang sakit.

“Aduduh… Sakit juga. Keras banget sih kamu namparnya,” keluh Ar sambil mengambil posisi duduk.

“Makanya jangan macam-macam denganku.” Desy menatap tajam pada Ar persis saat Ar menatap padanya.

“Hahaha. Kamu lucu kalau lagi ngambek gitu. Kaya hamster.” Ar kembali mencubit kedua pipi Desy dan menggoyangkannya.

“Ishhh… Jangan sentuh aku!” Desy menepis tangan Ar dari pipinya. Pipi Desy memerah akibat cubitan tadi. Sedangkan Ar dengan tampang tak bersalah, terus menertawai Desy. Tawanya seperti orang gila yang kerasukan setan.

“Hahahahaha…”

“Hahahaha.”

“Hahaha.”

“Haha.”

“Ha.”

Ar pun berhenti tertawa. Dia mulai menatap tajam kembali pada Desy. Desy yang melihat itu menunduk takut bercampur malu karena tatapannya kali ini terlihat keren dimatanya. Sambil memiringkan kepalanya, Ar mulai berbicara.

“Soal yang tadi, kamu memang benar. Aku pelaku pembunuhan itu.”

Kali ini Desy mulai berani menatap wajah Ar. “Kenapa kamu melakukannya?”

Ar kembali tertawa seperti orang gila. Namun, tawanya tidak semeriah dengan yang tadi.

“Hahahahaha. Kamu seperti detektif saja menanyakan seperti itu,” kata Ar. Kemudian dia mendekatkan wajahnya kembali kearah Desy.

“Kamu nggak perlu tahu apa alasannya, karena itu bukan urusanmu,” lanjut Ar.

Desy menatap tajam pada Ar. Desy sudah tidak takut lagi pada Ar. Dia butuh penjelasan Ar soal kasus pembunuhan itu. Lalu dia juga mendekatkan wajahnya pada Ar. Wajah mereka kini hanya berjarak 10 cm.

“Jelas itu urusanku juga. Dan aku penasaran tentang kasus pembunuhan itu, karena ada kejanggalan di kasus itu.”

Ar semakin mendekatkan wajahnya. Kali ini hidung mereka saling bertemu. Ar bisa merasakan hembusan nafas Desy yang memburu. Pipi Desy mulai berubah merah. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit wajahnya. Bola matanya tidak bisa diam, namun tetap berusaha terus menatap Ar agar tidak terlihat gugup. Ar tahu kalau Desy merasa gugup, tapi dia bersikap biasa saja.

“Kamu yakin? Lalu, apa yang akan kamu lakukan, kamu kan sudah tau pembunuhnya adalah aku?” tanya Ar.

Desy semakin gugup.

“A.. Aku… Aku akan melaporkanmu ke polisi.”

Ar terdiam. Kemudian senyum mulai menyungging di bibirnya.

“Hihihi. Kamu yakin?”

Tatapan Ar semakin dalam menatap Desy. Rasa gugup Desy semakin menjadi-jadi karena dia melihat tatapan itu dari jarak sedekat ini.

“Eh… I.. Iya.. Aku akan melaporkanmu ke polisi,” ucap Desy.

Ar tersenyum lagi. Tiba-tiba Ar langsung mencium bibir Desy. Desy terkejut. Dia hendak melepaskan diri dari ciuman Ar, namun tidak bisa karena Ar sudah memeluknya dengan kedua tangannya.

Ar semakin mempererat pelukannya sehingga bagian dada Desy menempel erat dengan dada Ar. Desy hanya bisa terdiam dengan yang dilakukan Ar. Dia tidak percaya kalau akhirnya akan seperti ini. Awalnya, Desy mengira Ar akan membunuhnya juga. Tapi fakta berkata lain, Ar memang tidak akan membunuh Desy, namun dia malah memberikan ciuman pada Desy.

Ar semakin dalam mencium bibir Desy. Desy yang tadinya hanya terdiam mulai membalas ciumannya secara perlahan. Sepuluh menit mereka melakukan aktivitas itu, Ar melepaskan ciumannya dari bibir Desy. Desy terkejut dan menatap tajam pada Ar.

“Ishhh… Kenapa berhenti?” tanya Desy seraya mengembungkan pipinya.

“Hahahaha.” Ar mencubit kedua pipi Desy. “Kamu baru pertama kali ciuman ya?”

Desy menunduk malu. Pipinya memerah.

Ar mengelus puncak kepala Desy. Dengan cepat Ar mengecup kembali bibir Desy, kemudian berbicara. “Jangan sekali-kali melaporkan kejadian itu pada polisi, atau kamu tidak akan mendapatkan ciuman dariku lagi.”

Ar tersenyum pada Desy, dan pergi meninggalkan Desy sendirian di kamarnya. Desy hanya bisa terdiam. Dia kebingungan. Disatu sisi, dia ingin sekali melaporkan Ar pada polisi, agar Ar tidak bisa membunuh orang lagi. Disisi lain, Desy terlihat nyaman berada didekat Ar, walau mereka baru kenal. Apalagi ciuman yang dia berikan padanya membuat Desy merasa luluh dan nyaman, ditambah lagi tatapan tajamnya yang menurut Desy mempunyai arti.

Apa yang harus aku lakukan?

~oOo~

Disebuah rumah mewah yang besar dan megah yang terletak di jantung ibukota, terlihat dua sosok manusia sedang berjalan memasuki rumah megah itu. Kedua manusia itu menyeret dua orang lain dengan kedua tangannya. Kepala kedua orang yang diseret itu tertutup oleh karung goni. Kedua orang itu berusaha melepaskan diri dari dua orang yang menyeretnya. Namun, usaha mereka tidak berhasil karena tenaga kedua orang yang menyeretnya terlalu besar.

Kini mereka berempat sudah berada disuatu ruangan. Ruangan itu terlihat remang-remang, hanya sedikit lampu yang menyinari ruangan itu. Di ruangan itu terlihat berbagai macam perkakas rumah tangga, mulai dari pisau dapur, pisau daging, golok, kapak, linggis, bahkan gergaji mesin juga ada disana.

Kedua orang yang membawa orang lain itu mendorong kedua orang tersebut sehingga jatuh ke lantai tepat dibawah kaki seseorang yang telah menunggu mereka datang.

“Daging segar lagi ya? Bagus bagus..” ucap seseorang yang memakai kemeja putih dipadu dengan celana kain hitam dan jas hitam dibadannya.

“Betul boss, kali ini mereka pasangan muda-mudi SMA,” kata seorang dengan topi yang selalu melekat dikepalanya.

“Bagus. Cepat kalian urus mereka, karena ada tugas besar menanti kalian. Aku tunggu di ruanganku setelah urusan kalian beres, WIL 19, BAL 20.”

“Baik,” ucap kedua orang itu bersamaan. Kemudian orang berpakaian rapih itu meninggalkan ruangan itu menuju ruangannya.

“Bal, kau urus laki-laki itu, aku urus perempuan ini,” perintah Wil seraya mengangkat wanita yang baru saja dibawanya. Kemudian menaruhnya diatas meja.

“Enak sekali kau, sedangkan aku kebagian yang nggak enaknya,” keluh Bal sambil mengangkat tubuh pria yang dibawanya. Kemudian menaruhnya diatas meja yang berbeda dengan Wil.

“Hehehe.” Wil hanya cengengesan mendengar itu.

“Sudahlah cepat kita bereskan dua orang ini, kasihan pimpinan kita kalau menunggu terlalu lama.”

“Oke.”

Bal mengikat kedua tangan lelaki ke sudut-sudut meja. Kemudian dia mengambil sebilah golok yang tergantung di dinding dibelakangnya. Bal membuka karung goni yang menutupi kepala lelaki itu. Lelaki itu sangat terkejut melihat Bal yang sudah mengarahkan goloknya diatas perut lelaki itu. Lelaki itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri, tapi sayang ikatan tali di kedua tangannya terlalu kuat.

“Si.. Siapa kalian?! Mau apa kalian?!” teriak lelaki itu.

Bal menggoreskan goloknya yang tajam ke pipi lelaki itu. Darahnya mulai mengalir keluar. Darahnya juga menempel di bilah golok yang tajam itu. Bal menarik golok itu, kemudian dia menjilati darah yang menempel di golok itu.

“Ahhh…. Darah segar….”

Pria yang digores pipinya tadi hanya melongo melihat apa yang dilakukan Bal. Kemudian dia berteriak.

“Cepat katakan, aku dimana?! Mana Nina? Mana Nina pacarku?!!”

“Nina?” Bal mengarahkan goloknya kearah Wil yang kini sedang menduduki tubuh Nina diatas meja. “Tuh. Nina akan dibuat lebih nyaman oleh temanku.”

Pria itu terkejut melihat keadaan Nina yang sudah dalam keadaan telanjang bulat. Ditambah lagi sosok Wil yang bersiap-siap mengarahkan pisaunya pada Nina.

“Nina!!!! Apa yang akan kau lakukan pada Nina, bajingan?!!!”

Bal langsung menancapkan goloknya tepat dibagian paha bagian kiri pria itu.

“ARRGGHHHH”

Kemudian, Bal menancapkan juga goloknya dibagian paha kanan pria itu.

“ARRRGGGGHHHH”

Pria itu berteriak kesakitan. Darah mengalir deras di kedua pahanya. Bal tertawa keras seperti orang kerasukan saat melihat begitu banyak darah yang keluar.

“Hahahaha. Darah segar….” Bal mengusap-usapkan darah yang keluar itu dengan telapak tangannya, kemudian dijilatinya darah yang menempel di tangannya sampai habis.

“Ahhh… Sungguh nikmat darah ini, jarang-jarang aku dapat darah yang seenak ini.”

“Kau… Gila!! Manusia gila! Keparat! Bajingan!!” bentak pria itu.

“Hahaha… Aku ini memang sudah gila… Semua teman-temanku disini itu sudah gila semua… Hahahaha….”

Pria itu merasa sangat ketakutan melihat sikap yang ditunjukkan Bal. Pria itu merasa kalau Bal dan teman-temannya itu sudah kehilangan akal sehatnya, sehingga mereka bisa melakukan tindakan nekat seperti ini.

“Hehehe… Sekarang waktunya penjagalan…” Bal mengarahkan goloknya ke leher pria itu.

Pria itu semakin ketakutan setelah mendengar kata penjagalan. Pria itu meronta-ronta dengan cara menendang-nendang tubuh Bal dengan kakinya, karena bagian kakinya tidak ikut diikat.

Bal yang merasa tubuhnya ditendang, lantas memegang salah satu kaki pria itu. Kemudian, dengan cepat golok yang dipegang Bal langsung melesat kebagian lutut pria itu sehingga goloknya tertancap di lutut pria itu.

“ARRGGGHHHH”

Golok yang masih tertancap di lutut pria itu, dia tekan lebih dalam menggunakan kedua tangannya. Akibatnya, darah mengalir sangat deras, ditambah lagi kini dia bisa melihat tulang dan daging yang sangat menggugah seleranya. Lalu dengan satu hentakan lagi, golok itu berhasil memotong pergelangan kakinya. Pria yang kakinya dipotong itu merasa sangat kesakitan. Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia pasrah dengan apa yang akan terjadi setelahnya.

Bal mengambil potongan kaki pria itu yang baru saja dipotongnya, lalu memakan sedikit dagingnya yang mencuat keluar dari kaki itu.

“Hmmm… Ini baru sedap, masih fresh.. Wil, kau mau?” Bal menawarkan potongan kaki itu pada Wil yang kini sedang mengeksplor tubuh gadis yang bernama Nina itu.

“Nanti saja, aku urus gadis ini dulu,” jawab Wil.

“Baiklah.”

Bal kembali memakan sedikit daging itu, kemudian menaruhnya diatas meja lain. Setelah itu Bal berjalan ke belakang meja itu dan mengambil sebuah alat bermesin dengan semacam pemotong yang bergerigi tajam. Sebuah gergaji mesin.

Bal kembali menghampiri pria itu yang terkulai lemas tak berdaya diatas meja. Dengan gergaji mesin yang sudah menyala ditangannya, dia mengarahkannya pada pria itu. Pria yang terkulai lemas diatas meja langsung terkejut melihat Bal yang membawa gergaji mesin. Pria itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Namun usahanya gagal karena sebelah kakinya telah terputus dan juga kaki lainnya yang terluka akibat tusukan golok.

“Ja… Jangan!!!! Aku masih ingin hidup!!! TOLONG!!!”

“Hahaha… Sudah terlambat.”

Bal mengarahkan gergaji mesin yang sedang menyala itu kearah selangkangan pria itu. Bagian pemotong bergerigi pada gergaji itu berputar sangat cepat. Bal terus menggerakkan gergaji mesin itu menuju selangkangan pria itu. Perlahan-lahan ujung gergaji itu mengenai organ vital pria itu.

“ARRGGHHHH!!! CUKUP!! HENTIKAN!!!!”

Bal tidak memperdulikan teriakan pria itu, dia terus menggerakkan gergaji mesinnya secara lurus kearah atas sampai ke area pinggul, namun posisi gergaji itu berada ditengah pinggul pria itu. Pria itu berteriak kesakitan. Dia terus memohon pada Bal agar berhenti, tapi Bal tidak memperdulikannya.

Wil yang melihat aksi Bal dari mejanya hanya tersenyum lebar. Dia begitu menikmati apa yang dilakukan Bal, ditambah lagi wanita yang bernama Nina membuat Wil sedikit bermain-main dengannya.

“Hahaha… Pacarmu itu sebentar lagi mati. Kau juga akan segera menyusul pacarmu…” kata Wil pada Nina.

Nina yang sangat kelelahan itu mendengar apa yang dikatakan Wil. Kemudian dia menoleh kearah pacarnya yang sedang dipotong tubuhnya menggunakan gergaji mesin.

“ARIF….!! Apa yang kalian lakukan pada Arif?!!”

“Hahaha… Hanya ingin menambah persediaan daging disini yang mulai habis…”

“Hah?!!” Nina memandang Wil dengan heran. “Keparat!! Kalian bajingan!!!”

“Hahahaha…..” Wil tertawa seperti orang kesetanan.

“Bajingan ya? Lebih bajingan mana dengan pasangan muda-mudi yang melakukan hubungan sex di tempat umun, seperti di taman kota?”

Seketika Nina terdiam. Memang Nina dan Arif melakukan hubungan sex di taman kota, dan mereka dipergoki oleh Wil dan Bal yang sedang melintas. Awalnya, mereka mengira hanya akan diintrogasi saja, nyatanya mereka dibawa kemari dan tidak menyangka nasib mereka akan berakhir seperti ini.

“Hahaha… Sudahlah, cukup bermain-mainnya, sekarang waktunya memanen daging yang lezat.”

Dengan cepat Wil mencekik leher Nina dengan satu tangannya. Nina berusaha berontak dengan memukul-mukul lengan Wil, namun Wil berhasil menahannya, lalu dia memukul kepala Nina dengan keras. Seketika Nina terdiam, tapi dia masih bisa bernafas.

Kembali ke Bal. Gergaji mesin yang digerakkannya dari pinggul si pria itu, kini dia gerakkan kembali secara perlahan menuju bagian atas tubuh pria itu. Pria itu terus berteriak kesakitan. Darah banyak terciprat dari tubuh pria itu, ditambah lagi sebagian organ dalam tubuhnya seperti usus dan lambung keluar karena Bal sudah membelah sampai kebagian perut pria itu. Kini pria itu hanya terdiam. Tampaknya dia sudah mati.

Bal terus menggerakkan gergaji mesinnya ke daerah atas. Dia berhasil membelah bagian dada pria itu. Kemudian, dia gerakan lagi gergajinya sampai ke daerah kepala pria itu. Alhasil, tubuh pria itu pun terbelah menjadi dua. Sebagian organ dalam tubuhnya pun terpotong dan meluber keluar.

Bal menarik kembali gergaji mesinnya dan menaruhnya di lantai. Lalu, dia melihat Wil yang sedang membelah dada Nina dan mengambil jatungnya.

“Hey.. Kau sudah selesai belum?” tanya Bal.

“Baru saja beres.” Wil melempar jantung Nina yang baru saja diambil ke meja lain.

“Cepat kita kemasi semua daging ini, kasihan pimpinan kita sudah lama menunggu.”

“Oke.”

~oOo~

“Ya? Ada apa?”

“…..”

“Hmm…. Begitu ya.. Lalu bagaimana dengan gadis itu?”

“…..”

“Tapi untuk melakukan itu, aku butuh bantuan.”

“…..”

“Baiklah kalau begitu. Aku berangkat kesana sekarang.”

Ar menutup panggilan ponselnya. Dia baru saja menerima panggilan dari seseorang. Desy yang sedari tadi berada di kamar Ar hanya bisa melihat saja tanpa tau apa yang sedang dibicarakan Ar dengan seseorang melalui ponselnya.

“Kamu tadi bicara dengan siapa?” tanya Desy penasaran.

“Ada deh. Hehehe…” jawab Ar cengengesan.

“Aku jadi penasaran.”

“Hah…” Ar menghela nafasnya. “Aku nanti ada tugas penting.”

“Tugas apa?” Desy menaikkan sebelah alisnya.

“Kamu tidak perlu tau.” Ar berjalan meninggalkan kamarnya.

“Apa kamu mau membunuh lagi?” Langkah Ar seketika terhenti. Kemudian, dia berbalik dan menghampiri Desy yang masih duduk diatas kasurnya.

CUPSS!

Ar kembali mengecup bibir Desy. Desy terkejut sekaligus malu juga.

“Mau membunuh atau tidak, itu bukan urusanmu kan?”

Desy hanya terdiam. Dia berfikir sejenak, lalu mulai berbicara kembali. “Apa aku boleh ikut denganmu melakukan tugas itu?”

Ar terkejut dengan ucapan Desy barusan. Dia tidak menyangka Desy akan berkata seperti itu. Ar mengelus-elus puncak kepala Desy perlahan-lahan.

“Kamu lebih baik disini saja. Kalau tiba-tiba kamu terbunuh, gimana? Kasihan orang tua kamu nanti.”

“Orang tuaku jarang memberi perhatian padaku. Mereka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaannya.” Desy menatap tajam kearah Ar.

“Walaupun begitu mereka tetap orang tuamu kan..”

“Enggak… Kalau seperti itu, harusnya orang tuaku selalu memberi perhatian padaku. Dan juga aku tidak harus melihat adikku meninggal….”

Desy menitihkan air matanya. Dia kembali mengingat kenangan-kenangan indah bersama adiknya. Saat dimana dia selalu menjaga adiknya yang sakit, merawatnya, bermain dan belajar bersama. Sungguh saat ini dia sangat merindukan adiknya. Dia ingin sekali bertemu dengan adiknya, tapi tidak bisa karena adiknya sudah tiada.

Ar yang mendengar itu hanya bisa terdiam. Dia mengerti apa yang dirasakan Desy, karena dia juga merasakan hal yang sama. Ar tidak tau harus berkata apa lagi, yang bisa dia lakukan hanya diam. Kemudian, Ar beranjak dari kasurnya untuk meninggalkan Desy sendirian di kamarnya. Namun, secara tiba-tiba Desy langsung memeluk Ar dari belakang.

“Kamu mau kemana….??? Jangan tinggalin aku sendiri disini….. Aku boleh ikut kamu ya….”

Ar membalikkan tubuhnya menghadap Desy. Lalu dihapusnya air mata Desy dengan jarinya. Setelah itu, Ar tersenyum.

“Hahh…. Kamu ini.. Baru kenal saja sudah merepotkan seperti ini. Hehehe..”

“Maaf…” Desy menundukkan kepalanya.

Ar menaikkan dagu Desy sehingga dia bisa menatap mata indahnya.

“Sudah… Tak perlu minta maaf. Kali ini kamu boleh ikut denganku. Tapi ingat, kamu harus selalu berada dekat denganku, jangan sampai terpisah dariku, karena aku tidak bisa memastikan apa yang akan terjadi nanti. Mengerti?”

“Iya, aku ngerti,” ucap Desy. Senyum sumringah mulai terpancar dari wajahnya. Dia merasa senang bisa ikut dengan Ar.

Entah kenapa aku merasa senang. Apa ini yang dinamakan….

“Ngapain lihat aku begitu?” Ar mencolek hidung Desy yang membuat Desy sedikit kaget. Desy menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.

“Kamu mandi dulu sana. Kita harus bersiap-siap.”

“I.. Iya.. Hehe..”

Desy pun berjalan kearah kamar mandi yang ada didalam kamar itu.

~oOo~

Disebuah ruangan yang didalamnya terdapat satu buah meja dengan satu kursi dibelakangnya, ditambah dua kursi yang menghadap ke kursi didepannya, terlihat seorang pria berpakaian rapih sedang duduk menunggu dua orang yang ditunggunya. Di ruangan itu juga sudah ada seorang wanita yang berdiri disebelahnya sambil memakan snack.

“Mereka berdua lama sekali,” kata pria berpakaian rapih itu.

“Mungkin sebentar lagi mereka datang bos,” giliran wanita itu yang berbicara.

Tak lama, pintu ruangan itu terbuka. Masuklah dua orang yang sudah ditunggunya. Dua orang itu membawa sesuatu yang diletakkan diatas piring. Kemudian, dua orang itu menghampiri dua orang yang sudah menunggunya, lalu meletakkan piring itu di mejanya.

“Bos, ini daging dari dua orang yang kami bawa tadi,” orang yang selalu memakai topi di kepalanya angkat bicara.

“Kerja bagus, WIL 19, BAL 20.”

Orang yang dipanggil bos itu rupanya pimpinan mereka. Dia mengambil sedikit potongan daging yang masih mentah itu, kemudian memakannya.

“Ada tugas besar menanti kalian,” ucap pimpinan mereka.

“Tugas apa bos?” tanya Bal penasaran.

Pimpinan mereka memberi isyarat pada wanita disampingnya. Wanita itu mengerti. Kemudian, dia mengeluarkan selembar foto dan menaruhnya diatas meja pimpinan mereka.

“Kalian lihat foto ini?” Pimpinan mereka menunjuk foto didepannya.

“Ya,” ucap Wil dan Bal bersamaan.

“Sebenarnya aku menugaskan ini pada AR 22, tapi dia meminta bantuan untuk melaksanakan tugas ini. Dan tugas kalian adalah membantunya menangkap gadis yang ada di foto ini.”

“Kalau hanya menangkap gadis saja kenapa harus meminta bantuan?” giliran Bal yang bertanya.

“Iya, kan bisa sendiri menangkap gadis itu,” tambah Wil.

Pimpinan mereka menghela nafas, kemudian mulai bicara kembali.

“Gadis itu bukan sembarang gadis biasa. Dia adalah putri dari presiden di negri ini, dan ayahnya adalah temanku sewaktu sekolah dulu.”

“Lalu apa hubungannya?” Wil terlihat kebingungan.

“Menurut info yang aku dapat, gadis itu sering mendapat tindakan asusila dan sadis dari keluarganya sendiri.” Kini giliran wanita disebelah pimpinan mereka yang angkat bicara.

“Keluarganya mengurung gadis itu disuatu ruangan gelap. Setiap hari siksaan terus dialaminya. Bahkan siksaan itu dilakukan oleh ibu atau ayahnya sendiri, sampai gadis itu mengalami depresi hebat. Entah apa alasannya mereka melakukan seperti itu pada gadis itu, kami belum bisa memastikannya,” lanjutnya.

“Lalu apa yang terjadi setelah itu? Apa anak itu mati?” tanya Bal dengan antusias.

Wanita itu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Malahan beberapa anggota keluarganya lah yang mati. Katanya sih, mereka dibunuh oleh gadis itu.”

Wil dan Bal manggut-manggut mendengar penjelasan wanita itu. Mereka sedikit mengerti akan tugasnya nanti.

“Oleh sebab itu, aku meminta kalian untuk menangkap gadis itu. Aku tidak ingin gadis itu tersiksa terus-terusan disana. Aku ingin merekrut dia sebagai anggota baru,” kata pimpinan mereka.

“Lalu, kapan kami mulai bertindak?” Wil angkat bicara.

“Setelah ini kalian langsung menuju Istana Negara. AR 22 sudah menunggu kalian disana, dan juga NJU 18 yang disampingku ini akan ikut membantu kalian. Kebetulan hari ini sedang diadakan pesta ulang tahun anak pertamanya disana. Aku ingin kalian menyamar menjadi tamu untuk masuk ke dalam istana.”

“Oh ya, satu lagi, penjagaan disana sangat ketat, kalian harus berhati-hati,” tambahnya.

“Baik,” ucap mereka semua pada pimpinan mereka.

Setelah itu, Wil, Bal dan Nju meninggalkan ruangan pimpinan mereka dan mulai pergi menuju ke Istana Negara, dimana Ar sudah menunggu mereka disana.

~oOo~

TEGA!! TEGA!! TEGA!!

Kalian semua sungguh TEGA!!!

Apa salahku?!!!

Kenapa aku disekap di ruang gelap ini?!! Kenapa?!! JAWAB AKU!!!

Kenapa… Kalian siksa aku seperti ini?!!!

Kata-kata itu terus terngiang di pikiran seorang gadis muda yang cantik. Gadis itu meratapi kesedihan dan rasa sakit hatinya di sudut ruangan yang gelap tanpa pencahayaan apa pun.

“Kalian semua…. Kalian semua…. BAJINGAN!!!”

“BAJINGAN!! BAJINGAN!! BAJINGAN!!”

Gadis itu histeris sambil terus meneriaki kata ‘Bajingan’ ke seluruh isi ruangan itu. Suara gadis itu menggema ke seluruh isi ruangan itu, karena ruangan yang dia tempati sangat tertutup. Dia memukul-mukuli dinding ruangan itu menggunakan kedua tangannya, akibatnya tangannya terluka. Gadis itu berhenti sejenak, kemudian duduk bersandar pada dinding.

Tiba-tiba pintu ruangan itu perlahan-lahan sedikit terbuka. Cahaya mulai masuk ke dalam ruangan itu. Cahayanya juga mulai menyorot kearah wajah gadis itu, sehingga wajah cantiknya sedikit terlihat. Gadis itu tersenyum kearah pintu yang terbuka itu.

“Kalian semua…. Harus mati…”

~oOo~

Ar kini sudah berada di depan Istana Negara, lebih tepatnya disebuah warung kopi yang terletak di seberang jalan depan Istana Negara. Bersama Desy disebelahnya sambil meminum kopi hangat, mereka menunggu teman-teman Ar datang kesini.

“Kita mau ngapain sih, kok pake baju rapih segala?” Desy mulai berbicara.

“Kita akan masuk ke Istana Negara karena putra pertama presiden sedang berulang tahun.” Ar menanggapi pertanyaan Desy sambil meminum kopi.

“Ohh…”

Tak berapa lama, sebuah mobil berhenti tepat di depan warung kopi tempat Ar dan Desy menunggu. Orang yang ditunggu-tunggu oleh Ar mulai turun dari mobilnya satu persatu. Rupanya orang-orang itu adalah Nju, Wil, dan Bal.

“Akhirnya kalian datang juga. Lama sekali,” kata Ar pada mereka bertiga.

“Maaf, tadi kami terjebak macet, hehehe,” ujar Nju seraya melihat kearah Desy.

“Oh ya, dia siapa?” lanjutnya.

Ar menarik lengan Desy dan mendekatkannya pada dirinya. “Dia bernama Desy. Dia ingin ikut bersama kita masuk ke dalam istana.”

Nju, Wil, dan Bal merasa sedikit curiga pada Desy. Apalagi Nju yang melihat Desy dengan tatapan sinis penuh kecurigaan. Desy yang merasa ditatap seperti itu hanya bisa menunduk takut, dan berusaha berlindung dibelakang Ar.

“Ar, aku takut…” bisik Desy pada Ar.

“Tenang saja, tak perlu takut. Ada aku disampingmu, hehe,” jawab Ar sambil tersenyum. Desy mengangguk paham. Dia pun mulai merasa tenang kembali.

“Jangan menatapnya seperti itu… Desy ini orang baik kok.”

“Apa kamu bisa menjamin itu?” Nju menaikkan sebelah alisnya.

“Ya. Kalau dugaanku salah, silahkan penggal kepalaku, hehe..”

“Sudahlah… Daripada saling curiga satu sama lain, lebih baik kita segera masuk ke dalam istana dan menangkap gadis itu,” Wil angkat bicara mencoba untuk menghilangkan kecurigaan diantara mereka.

“Oke.”

Kemudian, mereka semua mulai berjalan meninggalkan warung kopi itu dan mulai mendekati area gerbang Istana Negara. Saat mereka sampai di gerbang, petugas yang berjaga disana langsung memeriksa Ar dan teman-temannya. Untungnya, petugas tidak menemukan barang-barang yang mencurigakan, sehingga Ar dan teman-temannya dapat memasuki area Istana Negara.

Suasana di dalam istana sangat meriah. Banyak tamu undangan yang hadir dalam pesta ulang tahun itu, termasuk presiden beserta keluarganya. Ar dan teman-temannya menatap sekeliling tempat itu, siapa tau mereka menemukan gadis yang mereka incar.

“Banyak orang disini tapi tidak sedikitpun aku menemukan gadis itu,” kata Nju sambil mengambil sepotong kue diatas meja.

“Iya, aku juga tidak melihatnya,” ujar Wil.

“Menurut info yang Nju berikan, katanya gadis itu sering disekap disuatu ruangan gelap, benar kan?” giliran Bal yang berbicara. Nju menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Bal.

“Hmm… Kalau begitu, biar aku saja yang mencari gadis itu, sementara kalian berjaga di area ini. Aku tadi melihat beberapa paspampres sedang mengawasi gerak-gerik kita, kelihatannya mereka mulai curiga pada kita,” ucap Ar tiba-tiba sambil terus memegang erat tangan Desy.

“Kamu mau mencarinya sendirian?” Nju sedikit khawatir pada Ar.

“Tidak. Desy akan menemaniku mencari gadis itu.”

“Hmm.. Baiklah kalau begitu.. Kalian hati-hati ya..”

Ar dan Desy mulai meninggalkan teman-temannya dan berjalan masuk lebih dalam ke dalam Istana Negara.

Ar dan Desy mulai memasuki area ruang makan yang kebetulan tidak ada orang disana, karena semua tamu undangan sedang berada di ruang tamu. Sayangnya, mereka tidak menemukan gadis itu. Lanjut ke area selanjutnya, yaitu area kamar. Biasanya, bagi orang yang tidak suka keramaian di rumahnya pasti akan berdiam diri di kamarnya. Bisa saja kan gadis itu disekap di kamarnya sendiri, lalu sengaja tidak diberikan pencahayaan di dalamnya.

Ar dan Desy memeriksa satu persatu kamar yang ada disana. Namun hasilnya nihil.

“Aneh sekali. Disetiap kamar tidak ada gadis itu.” Ar sangat kebingungan akan hal itu.

“Mungkin saja gadis itu disekap di ruang bawah tanah. Apa tempat ini punya ruang bawah tanahnya?” ucap Desy.

“Entahlah. Lebih baik kita cari saja lagi.”

Mereka berdua pun mulai berjalan kembali mengitari bagian dalam istana ini. Namun, tanpa mereka sadari, ada seseorang yang diam-diam membuntuti mereka kemanapun mereka pergi.

Sementara itu, di ruang tamu istana, Wil sedang memperhatikan setiap tamu yang hadir di pesta itu sambil memakan hidangan yang ada disana. Dia melihat putra pertama presiden sedang bercengkrama dengan teman-teman sebayanya.

“Hah… Enak sekali jadi putra presiden. Hidupnya mewah, makanan pun mewah…”

“Ahh… Kau ini…” ucap Bal tiba-tiba. “Lebih enak jadi diri sendiri.”

“Tapi aku sudah kehilangan diriku sendiri, akal sehatku saja sudah hilang, hahaha.”

“Ahh… Daripada itu, lebih baik kita bunuh putra presiden itu, lalu kita berikan pada pimpinan kita sebagai bonus dari tugas kita.” Ide jahat mulai tercetus dipikiran Bal.

Wil sedikit terhasut dengan yang dikatakan Bal. Dia pun tersenyum lebar. “Hmm…. Benar juga apa katamu.. Kalau begitu tunggu apalagi, kita bunuh dia sekarang..”

Wil dan Bal berjalan menghampiri putra presiden itu. Nju yang berada tidak jauh dari tempat mereka, melihat mereka berjalan menghampiri putra presiden. Nju berusaha untuk menghampiri mereka, namun langkahnya tertahan oleh seseorang berbadan tegap, berpakaian rapih, memakai jas hitam dan kacamata hitam. Rupanya itu salah satu paspampres yang berjaga disini.

“Maaf, nona. Bisa ikut saya sebentar?” tanya salah satu paspampres yang berada didepannya.

“Maaf.. Saya harus ke toilet sebentar..” Nju melihat Wil dan Bal yang kini sudah berada dibelakang putra presiden itu.

Nju hendak menghampiri mereka, namun orang dihadapannya sudah memegang erat kedua bahunya.

Sialan! Terpaksa aku harus membereskan orang ini.

Nju memegang kedua tangan orang itu dengan kedua tangannya, lalu menariknya kebawah. Orang itu sedikit lengah, dengan cepat Nju memukul dagu orang itu kearah atas, disusul pukulan keras dibagian dada orang itu. Orang itu jatuh tersungkur. Kemudian, Nju menduduki tubuh orang itu dan memegang kepala orang itu. Dengan cepat, kepala orang itu dipelintirnya 180° kearah kanan. Orang itupun langsung tewas seketika.

“Akkkhhhhh!!!”

“Woyy!!! Lepasin dia!!

Terjadi kegaduhan di tempat dimana putra presiden berdiri. Para tamu undangan berteriak histeris. Disana terlihat Wil yang sedang membekap mulut putra presiden dengan sebelah tangannya, sementara Bal mengambil sebuah pisau diatas meja dan diarahkannya pada putra presiden.

“Hahaha… Kenapa kalian gaduh begitu? Kami ingin memberikan sebuah pertunjukan spesial pada kalian, khususnya bagi putra presiden yang sedang berulang tahun ini…” kata Wil sambil tersenyum lebar.

“Duduk dan lihatlah pertunjukan spesial dari kami ini.” Kali ini giliran Bal yang berbicara.

Nju yang melihat aksi Wil dan Bal pada putra presiden itu langsung berusaha menghampiri mereka.

Dasar… Mereka berulah lagi.. Bisa gawat jadinya..

Langkah Nju tiba-tiba terhenti. Sejumlah paspampres mulai masuk ke dalam ruang tamu istana, karena mereka mendengar kegaduhan yang terjadi di dalam. Ditambah lagi, salah satu dari paspampres itu langsung menodongkan pistol kearah Wil dan Bal. Nju sangat terkejut melihat itu, dia pun berpikir keras untuk menyelamatkan Wil dan Bal.

“Hey, kau… Lepaskan dia! Atau aku tembak!” ucap salah satu paspampres itu.

“Hahaha…. Tembak? Jangan harap…” kata Bal dengan senyum sumringah.

“Kau silahkan tembak kami, tapi sebelum itu kami mau mengadakan pertunjukan terlebih dahulu. Hahaha…” gantian Wil yang berbicara.

Paspampres yang mendengar itu hanya terdiam. Dia bersiap-siap untuk menarik pelatuk pistolnya itu. Namun tiba-tiba dari arah belakang paspampres itu, Nju datang sambil menodongkan pistol kearah kepala paspampres itu. Rupanya pistol yang dipegang Nju adalah pistol milik salah satu paspampres yang dia bunuh tadi.

Dengan cepat Nju menarik pelatuk pistolnya, membuat kepala paspampres itu bocor seketika. Tubuh paspampres itu ambruk ke lantai. Para tamu undangan lari terbirit-birit dilanda kepanikan akibat suara tembakan yang dilakukan Nju. Momen itu dia manfaatkan untuk menembak beberapa paspampres lain yang ada dalam ruangan itu.

1 orang…

2 orang…

5 orang…

7 orang…

10 orang…

12 orang…

Dua belas orang paspampres berhasil Nju bereskan. Kini dia menghampiri Wil dan Bal yang masih berkutat dengan putra presiden itu.

“Kalian cepat bereskan dia segera… Situasi kita sekarang sudah tidak aman. Kita harus segera menemukan Ar dan temannya beserta gadis itu, lalu kita pergi dari sini…” kata Nju dengan panik.

Melihat Nju yang terlihat panik, Wil dan Bal juga ikut panik. Mereka tidak menyangka kalau situasi mereka saat ini sudah tidak aman. Wil dan Bal harus segera membereskan putra presiden itu, kalau tidak mereka akan tertangkap.

“Bal, langsung tusuk mati saja, waktu kita tidak banyak,” ucap Wil sambil terus membungkam mulut putra presiden itu. Putra presiden itu berontak berusaha melepaskan diri, tapi gagal karena tenaga Wil jauh lebih kuat dibanding dirinya.

“Baiklah.” Bal langsung menancapkan pisau yang dipegangnya kearah dada kiri putra presiden itu secara berkali-kali. Darah mengalir deras dari dada kirinya. Putra presiden itu seketika berhenti bergerak karena bagian jantungnya sudah tertusuk pisau.

“Nju, ayo kita cepat mencari Ar…” ajak Bal sembari berlari masuk lebih dalam ke dalam istana.

“Oke.” Nju berlari mengikuti Bal. “Wil, cepat!”

Wil mendorong putra presiden yang sudah mati itu hingga jatuh ke lantai, lalu dia berlari mengikuti Bal dan Nju.

Sementara itu, Ar dan Desy menemukan sebuah pintu yang sangat mencurigakan. Pintu itu terbuat dari kayu, namun kayu pintu itu terlihat lapuk seperti dimakan rayap. Di pintu itu terdapat tulisan ‘Dilarang Masuk’. Jelas ini sebuah peringatan, tapi justru membuat penasaran siapa saja. Mungkinkah pintu ini menghubungkan dengan ruangan gadis yang mereka cari?

Ar mencoba membuka pintu itu. Tidak dikunci. Diapun membuka lebar-lebar pintu itu. Sebuah tangga menurun dijumpai oleh Ar dan Desy. Ar mencoba untuk masuk ke dalam, tapi Desy sedikit ketakutan karena di dalamnya gelap.

“Takut…”

“Jangan takut..” Ar menarik lengan Desy perlahan dan mulai memasuki ruangan itu.

Perlahan tapi pasti, Ar dan Desy berjalan menuruni tangga di ruangan itu. Sampai akhirnya, mereka menemukan pintu ruangan lain di dalam sana. Ar hendak membuka pintu itu, tiba-tiba…

“ARRGGGHHHH!!!”

Suara teriakan dari balik pintu itu membuat Ar dan Desy terkejut. Bahkan Desy sampai memeluk Ar karena sangking kagetnya.

Teriakan itu berhenti. Ar membuka perlahan pintu itu. Kemudian, Ar dan Desy melihat seseorang sudah tergeletak tak bernyawa. Didekatnya terlihat seorang gadis berjubah merah sedang menggorok leher orang itu. Ar terlihat biasa saja melihat itu, sedangkan Desy hanya melongo tak percaya apa yang dilihatnya.

“Kita berhasil menemukan dia.”

 

End (?) or Next (?)

Jangan Bercanda ! :v

 

Created by AR 22

Iklan

3 tanggapan untuk “Psycho Detected: First Kiss, Mission, Escape

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s