Weird Love, Part 5 : Masa Lalu

weird-love-cover

Aku tak begitu ingat apa yang terjadi setelah Chris muncul, aku ingat kak Siska mencoba menenangkan Chris, lalu ada teriakan dan hal terakhir yang ku tahu pesta itu sudah berantakan.

Kak Siska izin untuk beberapa hari setelah pesta itu, dan kak Melody mengingatkan kami untuk tidak mengatakan apapun tentang pesta itu, tak saat istirahat latihan, tidak saat MC, dan tidak menshare foto yang diambil di pesta itu ke sosial media. Aku setuju dengan semua itu terutama bagian tak menshare foto, tapi juga kerena aku merasa hal itu lah yang pantas dilakukan, Kak Siska sangat menantikan pesta itu dan hal itu tak berakhir dengan baik.

“Woi ngapa lu ngelamun.?” Tanya Cindy menyadarkan ku.

“Nggak gue Cuma mikir tentang kak Siska,”

“Stttt, lu nggak denger kata kak Melody kemaren,” ucap Cindy dengan berbisik.

“Gue denger, gue Cuma tiba tiba kepikiran aja,”

“Paling dia mikirin si Chris,” Sambung Christi yang tiba tiba muncul.

“Apaan sih lu, dah ah gue mau…,”

“Eiittt mau kemana, jelasin dulu apa maksud si Kiti,” potong Cindy sambil menarik tangan ku.

Christi pun ikut ikutan menarik ku kembali duduk, aku tahu apa yang ingin dilakukan oleh kedua C yang sedang menghimpit ku dan aku tak suka itu.

“Kalian mau ngapain sih, gue mau ke toilet,” ucap ku.

“Jawab dulu,” ucap Cindy yang nampak nya sangat penasaran.

“Iya jawab,” sambung Christi.

“Jawab apa.?” tanya ku lagi.

“Jawab siapa Chris yang dimaksud sama Kiti.?”

Cindy memandang ku dengan wajah penasaran dan aku tahu dia tak akan berhenti sampai dia mendapatkan jawaban yang membuat nya puas. Disaat aku pikir tak ada cara lain, Kak Siska berjalan masuk.

“Kak Siska !!!” panggil ku.

Aku berdiri dan menghampiri kak Siska  karena tahu ini satu satu nya kesempatan ku untuk bebas, Cindy dan Christi tak bisa berbuat apa apa karena aku sudah berhasil menghampiri kak Siska.

“Ada apa Jinan.?” Tanya kak Siska.

“Nggak seneng aja liat kakak udah kangen,” jawab ku.

“Modus tuh kak nggak usah percaya,”  ucap Christi yang memandang ku dengan tatapan “awas lo ntar”.

“Nggak apa apa kok, aku senang dengar Jinan bilang kangen sama aku. Kan so sweet,” ucap kak Siska.

Hari ini latihan bersama untuk request hour JKT yang kedua, dan kami sedang menunggu teman teman yang lain yang belum datang. Kak Siska sedang berbicara dengan kak Melody dan nampak nya ada sedikit perdebatan diantara mereka berdua, aku ingin tahu kenapa tetapi aku pikir menguping pembicaraan mereka berdua sangat lah tidak sopan.Aku juga melarang Cindy dan Christi untuk melakukan nya, karena aku tahu mereka berdua pasti ingin melakukan nya.

“Lo nggak penasaran apa.?” Tanya Cindy dengan ekspresi nya yang begitu penasaran.

“Udah bukan urusan kita, lo kurang kurangin lah kepo nya,” jawab ku.

“Tapi gue kepo nih, dikit aja nggak boleh nih,” tawar Cindy.

“Jangan Cin, ntar kalo kak Melody marah bahaya,” ucap ku mengingatkan.

“Eh, itu tatang bawa apaan tuh,” ucap Christi menunjuk Lintang yang baru datang dan membawa sebuah bungkusan besar.

“Wah makanan tuh, ayo kita serbu,” ucap ku mengajak mereka berdua.

Sebenar nya aku tak lapar tetapi hanya ada beberapa hal yang mengalihkan perhatian Cindy dari rasa kepo ya, dan salah satu nya ada makanan. Sementara untuk Christi dia hanya ingin menganggu Lintang, jadi Lintang yang membawa makanan adalah hal yang tak bisa diacuhkan oleh mereka berdua.

“Tang bawa apaan.?” Tanya Christi.

“Hei kak, ini mama buat somay trus disuruh bawa untuk dibagiin,” jawab Lintang dengan pipi nya yang gembul itu.

“Minta dong,” ucap Cindy yang ekspresi wajah nya sudah berubah menjadi lapar.

“Tunggu ya,”

Lintang membuka bungkusan besar nya dan didalam nya sudah ada bungkusan bungkusan kecil yang sudah diberi nama, setelah mencari dia menyerahkan sebuah bungkusan dengan label JCC.

“Nih kata mamah kakak bertiga makan nya banyak jadi dibuat porsi jumbo,”

“Makasih Tang,” ucap Christi sambil menerima bungkusan besar untuk kami bertiga.

“Sama sama,”

Cindy dan Christi yang sudah jinak dengan somay buatan mamah Lintang dengan tenang makan di ujung ruangan, aku hanya memandangi mereka yang makan dengan lahap karena aku sendiri tak terlalu berselera makan.

Latihan pun ditunda karena semua orang makan Somay yang diberikan oleh Lintang, pembicaraan antara kak Melody dan kak Siska sudah selesai dan nampak nya kak Melody tak terlalu senang setelah pembicaraan itu.

“Woi lo nggak mau.?” Tanya Cindy.

“Nggak,”

“Sok sok diet lo, badan lo aja udah cungkring,” sambung Christi.

“Gue ke toilet dulu,”

Aku pergi untuk mencuci muka ku dan disana aku bertemu dengan kak Siska yang baru keluar dari bilik kamar mandi, satu hal yang menganggu ku adalah mata nya yang merah seperti orang yang baru menangis.

“Kenapa kak kok nangis.?”

“Nggak apa apa kok, aku duluan ya,”

Aku tak tahu kenapa tetapi aku menahan kak Siska saat dia ingin keluar dari kamar mandi, mungkin terlalu sering bersama dengan Cindy membuat sedikit sifat penasaran nya yang berlebihan terlular kepada ku.

“Sorry kalo aku kurang ajar, tapi aku ingin tahu apa ini ada hubungan nya dengan Chris.” dan aku tak tahu kenapa aku tiba tiba terpikir tentang dia.

Kak Siska memandang ku dengan ekspresi yang tak bisa ku jelaskan, antara bingung dan kaget atau ada rasa yang lain yang aku tak tahu itu apa. Pintu kamar mandi yang terbuka pun ditutup oleh nya, aku melepaskan pegangan ku karena aku rasa aku tak membutuhkan nya lagi.

“Ada satu hal yang membuat ku penasaran, bagaimana mengenal Chris.?”

“Aku mengenalnya beberapa hari yang lalu, aku bertemu dengan nya dihalte bus,”

“Lalu kenapa kau begitu tertarik dengan nya.?”

Aku menceritakan semua yang dikatakan Chris tentang hidup nya, dan saat mendengar itu kak Siska hanya menahan napas. Dia nampak sedih mendengar aku menceritakan lebih detail apa yang dikatakan Chris tentang Ibu dan bagaimana hanya buku ku yang menghibur nya.

“Jadi itu yang dipikirkan, dan aku terkejut kau lah yang menulis buku buku itu,”

“Yang dipikirkan nya ? aku tidak mengerti,”

“Jinan, aku senang kau mau jujur dengan ku. Tetapi ini, aku tak yakin kau bisa mengerti,” wajah kak Siska saat mengatakan itu dapat ku mengerti, itu ekspresi khawatir.

“Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi.”

Kak Siska menatap ku cukup lama, mungkin dia sedang berpikir atau sedang mencoba mencari tahu apakah aku benar benar serius dengan ucapan ku.

“Berjanji lah satu hal,”

“Apa itu.?”

“Kau tak akan menceritakan ini pada orang lain, ini adalah rahasia kita,”

“Baiklah,”

Kak Siska sekali lagi mengambil napas yang dalam, dia sempat mengalihkan pandangan nya ke langit langit sebelum akhir nya menatap ku lagi.

“Semua yang dikatakan Chris itu bohong,”

“APA.?”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s