When It Rains

pluie

Desember 5, 2014.

Sore ini hujan turun lagi, anginnya lebih kencang dari biasanya. Walau jam di dinding masih menunjukkan pukul 17.21, namun langit nampak sudah terlalu menghitam dan membuat suasana sudah seperti malam. Lampu jalanan juga terlihat mulai menyala dengan sendirinya, akibat hari yang sudah berubah menjadi gelap.

Hari ini Kafe dalam keadaan sunyi pengunjung, tidak seperti biasanya. Mungkin akibat cuaca di luar yang tidak mendukung, membuat orang-orang malas untuk keluar rumah.

Jam sudah menunjukkan pukul 18.46 dan tinggal beberapa jam lagi Kafe ini akan tutup. Sambil duduk di salah satu kursi pelanggan, kusesap secangkir kopi hitam favoritku sambil memandangi jalanan yang sedang diguyur hujan.

Sebuah mobil sedan biru terlihat baru saja datang dan berhenti di parkiran depan Kafe. Pintu mobil terbuka dan dari dalamnya keluar empat orang gadis remaja.

Dari pintu belakang keluar gadis berambut panjang, cantik, dengan badan yang lumayan semok. Gadis kedua berambut pendek sebahu, berkacamata, nampak seperti gadis yang pintar, mungkin itu akibat dari terlalu seringan membaca.

Gadis ketiga keluar bersamaan dengan gadis keempat. Gadis ketiga tingginya kurang lebih gadis pertama, wajah lumayan, namun lebih kurus. Sedangkan gadis keempat, tidak terlalu tinggi, dan ia agak pendiam, menurutku.

Gadis itu terlihat sangat berbeda dari yang lain, rambutnya lebih pendek dari gadis kedua, tapi dengan potongan rambut seperti itu ia terlihat lebih imut. Menurutku dia juga lebih tua dari yang lain, karena aku sempat mendengar mereka memanggilnya “Kakak”.

Saat aku mengamati sekarang, mereka sedang memesan minuman. Cukup lama untuk mereka buat memilih minuman yang akan mereka minum. Setelahnya, mereka pergi mencari bangku untuk duduk. Ternyata, mereka memilih bangku yang ada di seberangku.

Dari tempat ini aku bisa melihat dan mendengar jelas apa yang sedang mereka bicarakan. Hanya seputar tentang cowok yang mereka sukai, tentang acara mereka di akhir pekan nanti dan hal-hal tentang wanita yang sudah sangat biasa kudengar dari pengunjung wanita yang lain.

Membosankan, mungkin itu adalah kalimat yang cukup sering kuucapkan bila mendengar hal-hal yang sudah biasa kudengar. Lebih tepatnya, karena yang datang ke Kafe ini mayoritas kaum Hawa, jadi maklum saja hal seperti itu sudah biasa kudengar.

Tapi, ada satu orang yang membuatku agak tertarik. Si gadis berambut pendek. Ia terlihat tak banyak bicara seperti yang lain dan ia juga terlihat lebih banyak berdiam diri, ketimbang berbicara dengan yang lain. Entah apa yang sedang ia pikirkan.

Terlihat lampu bell di meja mereka tiba-tiba menyala, mengeluarkan bunyi dan juga getaran. Sepertinya pesanan mereka sudah selesai dibuat.

Si gadis berambut pendek terlihat beranjak lebih dulu dari kursinya menuju meja kasir, lalu diikuti oleh yang lain. Setelah selesai membayar, mereka langsung saja berjalan menuju luar Kafe dan masuk ke mobil satu persatu.

Aku terus mengamati mereka, hingga mobil yang mereka naiki beranjak pergi meninggalkan parkiran depan Kafe.

Setelah mereka pergi, aku pun mulai beranjak dari tempat duduk dan siap-siap untuk merapikan semua peralatan kerja, karena sekarang sudah waktunya untuk tutup.

 

Desember 6, 2014.

Hari ini langit terlihat sedikit cerah, dengan angin sepoi-sepoi yang menemani siang yang sangat panas. “Sepertinya sore ini bakal hujan lagi,” bisikku dalam hati. Mungkin sudah kebiasaan untuk beberapa bulan ini dugaanku sering tepat. Wajar sih, karena sedang musim hujan.

Hari ini hari sabtu dan Kafe buka beda dari biasanya. Yang biasanya buka mulai pukul 09.00 sampai pukul 20.00, hari ini dimulai pukul 13.00 hingga jam 00.00. Maklum saja, karena malam ini adalah malam minggu dan anak muda biasanya lebih suka nongkrong di Kafe ketimbang keliling-keliling kota tanpa arah.

Setelah melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul  12.24, aku pun langsung berangkat menuju Kafe. Saat di jalan, aku sekilas melihat sebuah mobil berwarna biru terparkir di depan sebuah toko pakaian dan lumayan mirip dengan yang kemaren singgah ke Kafeku.

Langit mulai terlihat gelap saat aku sudah hampir sampai di Kafe, pertanda hari ini hujan turun lagi. Awan hitam juga sudah menutupi sebagian langit, dengan angin yang berhembus dingin bercampur air, memaksaku untuk memacu motor lebih cepat menuju Kafe.

“Tuh kan, hujan lagi,” ucapku kecewa sambil berharap dalam hati, semoga pengunjung Kafe malam ini banyak.

Hujan mulai turun setelah aku sampai di Kafe. Walau hanya gerimis, namun hujan ini sepertinya bakalan lebih awet ketimbang hujan yang lebat seperti kemaren. Sepertinya do’a para jomblo yang minta hujan tiap malam minggu kali ini dikabulkan oleh tuhan.

*****

Jam sudah menunjukan pukul 23.43 dan Kafe sudah siap-siap untuk tutup. Entah kenapa hujan turun semakin lebat saja dan tidak seperti dugaanku, padahal tadi cuman gerimis.

Pengunjung sudah pada pulang dan papan bertulisan “CLOSED” sudah terpasang di pintu. Ini sudah waktunya untuk bersih-bersih dan merapikan meja dan kursi. Aku cukup bersyukur karena tadi pengunjung lebih banyak dari biasanya, dan hasil penjualan malam ini cukup banyak.

Saat aku merapikan kursi dan meja, tiba-tiba aku menemukan sebuah tas kecil milik pengunjung yang tertinggal. Tas perempuan berwarna hitam bergambar bunga berwarna pink, entah siapa pemiliknya. Tas itu langsung kuambil dan kubawa ke ruanganku untuk kusimpan.

Setelah menyimpan tas itu, aku pun kembali bekerja. Sambil bekerja, aku bercerita kepada semua pegawaiku bahwa aku menemukan sebuah tas dan bila nanti ada perempuan atau siapapun yang datang dan menanyakan tentang tas itu, aku meminta agar mereka memberikan orang itu nomorku dan harap menghubungiku.

Semua pekerjaan sebenarnya belum selesai, tapi karena aku ada kesibukan yang lain di rumah, jadi aku pamit duluan dan menyerahkan semua pekerjaan kepada pegawai dan asistenku.

Di perjalanan pulang, aku melihat sebuah mobil sedang berhenti hampir di tengah jalan. Terlihat pemiliknya sedang berdiri di luar, sambil menggunakan payung. Entah kenapa ada sedikit rasa penasaran di hatiku dan ingin menolongnya. Aku pun langsung menepikan motorku dan mendekati sang pemilik mobil.

“Mobilnya kenapa? Kok bisa berhenti di sini?” Tanyaku kepada pemilik mobil. Sepertinya ia agak terkejut ketika mendengar suaraku yang datang tiba-tiba dan langsung menoleh kearahku.

“Bannya bocor Mas,” jawabnya sambil melihat kearahku. “Mas tau bengkel ban yang masih buka di dekat sini gak?” orang itu bertanya padaku, dari suaranya aku baru sadar ternyata dia seorang gadis.

Aku mengohkan ucapannya, mengangguk beberapa kali setelah tahu apa yang sedang terjadi. “Aku gak tau sih bengkel mana yang masih buka jam segini. Tapi, aku bisa tolongin kok buat gantiin bannya yang bocor,” jawabku ingin memberikannya pertolongan. “Mba bawa kan ban cadangan sama peralatan buat ganti bannya di mobil?”

“Ehh.. ada kok Mas,” jawabnya yang terdengar sedikit ragu. “Mas beneran bisa gantiin bannya?” tanyanya yang sepertinya kurang percaya dengan kebisaanku.

“Iya, bisa,” jawabku padanya.”Ya udah Mba, tolong bukain bagasi belakangnya, biar aku bisa turunin ban cadangannya juga sekalian ngambil peralatan yang diperlukan,” pintaku.

Setelah mendengar ucapanku, ia pun langsung bergegas menuju pintu kemudi dan membukakan pintu bagasi. Ternyata benar, ada ban cadangan di bagasi.

Setelah menurunkan ban itu aku pun mencari peralatan yang aku perlukan, seperti dongkrak dan kunci cabang empat yang biasa digunakan untuk melepas mor pengunci ban. Lumayan sulit untuk mengambilnya, karena semua alat itu terjepit di bawah kursi penumpang.

Saat aku mengganti ban, gadis itu seperti terus melihat kearahku dan mengawasiku. Aku tak tahu kenapa, tapi setiap aku mencoba melihat padanya, ia mengalihkan pandangannya dariku.

Aku sempat beberapa kali mencoba melihat wajahnya, tapi tetap saja tidak bisa. Maklum saja, dari pertama bertemu tadi ia tidak sekalipun melepas masker yang menutupi wajahnya. Suasana jalanan yang gelap dan sedikit cahaya pun membuatku semakin kesulitan melihat wajahnya dengan jelas.

Setelah selesai memasangkan ban yang baik dan menggantikan ban yang bocor, kumasukkan kembali semua peralatan dan ban yang bocor itu ke dalam mobil. Tidak lupa juga aku menutup pintu bagasinya.

“Terima kasih yah,” ucap gadis itu.

“Iya, sama-sama,” jawabku. “Oh iya, nanti di jalan hati-hati yah! jalanan di daerah sini emang sering bikin ban mobil sama motor bocor. Jadi, hati-hati jangan sampe bocor lagi. Kasian kamu kan kalau sampe bocor lagi.”

“Hehe, iya.. iya,” jawabnya dengan sedikit tertawa. “Makasih banget yah udah nolongin aku dan sorry juga udah ngerepotin terus bikin menunda perjalanan kamu,” ucapnya berterima kasih.

“Emm, iya gak papa. Gak ada urusan penting juga kok yang menunggu, cuman mau pulang aja,” jawabku bohong.

“Ya udah, sekali lagi makasih yah.” Ia terlihat mengulurkan tangannya padaku. “Kita belum kenalan dari tadi by the way, nama kamu siapa?”

“Ohh, iya juga sih, baru sadar,” ucapku sambil mengulurkan tangan. “Panggil aja Arez, salam kenal.”

“Aku Yona, salam kenal juga,” ucapnya sambil menyalamiku. “Ya udah, aku duluan yah, ini udah malam banget, tadi juga udah ditelpon sama ortu.”

“Ya… ya, silahkan. Hati-hati yah!” ucapku sambil melihatnya memasuki mobil dan pergi meninggalkanku sendirian di bawah hujan yang lebat.

“Ohh.. shit!, udah jam berapa ini?” teriakku sadar sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukkan jam 01.19. “Damn!” makiku sambil bergegas menghidupkan motor dan memacunya dengan cepat menuju rumah.

 

Desember 15, 2014.

Hari ini diawali dengan nada dering keras dari handphoneku. Entah siapa yang sepagi ini menghubungiku, membangunkanku dari mimpi indah yang mungkin saja belum selesai.

Hari ini Senin, hari di mana semua kegiatan dimulai. Bisa dikatakan hari ini adalah hari sibuk untuk semua orang. Tapi itu beda denganku, karena aku berkerja tiap hari. Walau hari minggu, hari libur dan hari-hari lain yang menuntut orang untuk libur, aku tetap bekerja. Kecuali hari raya.

Kuambil handphoneku yang berada di atas nakas dan langsung menekan tombol jawab tanpa melihat layar dan tahu siapa yang sedang menghubungiku.

“Hallo…” ucapku dengan nada suara serak orang yang masih mengantuk.

Tak ada jawaban, hanya beberapa suara tak jelas dan setelahnya disambung dengan bunyi panggilan sudah terputus.

“Ahh.., sial.” Aku menggerutu sendiri sambil membenamkan wajahku di bantal.

Kulihat layar handphoneku, ada notifikasi 4 panggilan tak terjawab dan semua dari nomor yang sama, cukup membuatku penasaran, karena ini adalah nomor baru. Tapi, itu tak jadi masalah, karena bila si penelpon merasa ada kepentingan denganku, pasti dia akan menelponku kembali.

Jadi kuletakkan kembali handphoneku di atas nakas sambil melihat kearah jam waker yang ternyata masih menunjukkan pukul 07.54. Yep, aku dibangunkan sebelum waktunya aku bangun.

Kutinggalkan kasurku yang empuk dan langsung menuju kamar mandi. Selama mandi aku masih saja memikirkan siapa pemilik nomor itu, nomor yang tak dikenal. Kapan dan di mana aku ada memberi seseorang nomorku baru-baru ini, menurutku tidak ada.

Tiba-tiba saja otakku berpikir mundur tentang kejadian seminggu yang lalu. Malam minggu di mana aku menemukan tas kecil berwarna hitam. Kupercepat mandiku, gosok gigi dan mengeringkan badan. Setelahnya, langsung saja kuhubungi asistenku untuk memastikan apakah ia ada memberikan nomorku pada seseorang beberapa hari di minggu ini.

“Hallo Rend,” sapaku setelah menunggu beberapa detik panggilanku untuk diangkat.

“Hallo, ada apa Rez? Tumben pagi-pagi gini dah nelpon gue.”

“Betewe, sekitar beberapa hari ini lu ada ngasih nomor gue sama seseorang gak?” tanyaku.

“Emm…, ada, sama pemilik tas yang lu temuin minggu lalu, cuman belum sempet gue kasih tau aja sama lu,” jawabnya.

“Ohh, beneran ada kan?” tanyaku lagi untuk memastikan.

“Iya, masa gue bohong ama lu, emang ada apaan sih?”

“Gini, tadi ada 4 panggilan tak terjawab di handphone gue, terus…” Lalu aku menjelaskan secara panjang lebar pada Rendy, sampai ia paham kenapa aku menelponnya.

“Eleeh, lu juga sama kali. Kan lu juga kemaren yang minta sama semuanya, bila ada yang ngaku sebagai pemilik tas, kasihin nomor lu.”

“Hehe, makanya itu gue langsung kepikir lu yang ngasihin nomor gue. Jadi bener nih pemilik tas itu yang lu kasih nomor gue?”.

“Iya, beneran. Mending lu hubungin aja deh langsung buat pastiin. Betewe, pemiliknya cakep loh,” ucapnya kemudian diiringi dengan tawa.

“Ahh.. lu, pikirannya udah gak waras. Dah dulu deh, entar lagi kita omongin. Cepetan lu siap-siap, udah jam delapan neh, hari ini giliran lu yang buka Kafe,” perintahku.

“Haha, iye, siap boss.”

Setelah menelpon Rendy, aku pun langsung menelpon nomor yang dikatakan Rendy sebagai pemilik tas itu. Setelah tersambung, terdengar banyak sekali suara-suara. Lumayan berisik, mungkin dia lagi di suatu tempat yang ramai pikirku.

“Hallo,” sapaku.

“Ehh.. ehh, Halloo,” terdengar jawaban dari seberang.

“Ini siapa yah? kok pagi tadi missedcall ke nomor ini?” tanyaku.

“Heh?” dia terdengar seperti terkejut. “Ooh.., ini bener gak nomor pemilik Kafe yang udah nemuin tas aku, yang kemaren ketinggalan di Kafe?” tanyanya.

“Iya, benar. Mba pemilik tas itu?”

“Iya, aku pemiliknya. Tas itu masih sama Mas kan?” Tanyanya.

“Masih kok, masa aku jual?” ucapku dengan sedikit bercanda. “Jadi Mba mau ngambil tasnya? Kapan?” Tanyaku.

“Yahh.., sekarang kayaknya udah gak bisa lagi deh, kalau pagi tadi bisa. Aku udah keburu di bandara nih. Hari ini mau berangkat ke luar pulau,” jawabnya.

“Ohh, sorry banget yah, pagi tadi aku gak bisa ngangkat panggilan kamu, masih tidur sih,” ucapku sedikit menyesal. “Terus gimana nih ceritanya, kapan Mba mau ngambil?”

“Iya, gak papa kok. Mungkin nanti aku minta tolong sama temen aku aja deh buat ngambilin, bisa kan?” Tanyanya.

“Bisa kok. Bilangin aja ke dia, kalau mau ngambil langsung aja ke Kafe,” jawabku.

“Oke deh, makasih yah udah nemuin sama jagain tasnya. Kalau gitu, udah dulu yah nelponnya, pesawat aku udah mau berangkat nih,” beritahunya.

“Oh, iya, sorry. Sama-sama,” ucapku sembari menutup panggilan.

Pembicaraan di telpon berakhir dan setelahnya, aku langsung bersiap-siap untuk berangkat ke Kafe.Walau hari ini bukan jadwalku untuk membuka Kafe, tapi karena aku owner, jadi aku juga harus datang tepat waktu.

Hari ini terlihat lebih cerah dan tak ada tanda-tanda bakal turun hujan, jadi kukendarai motorku dengan santai menuju Kafe. Aku ingin lebih menikmati hari yang hangat dan jarang sekali terjadi dalam beberapa bulan ini. “Mungkin sudah mulai masuk musim panas,” bisikku dalam hati.

Setengah perjalanan, tiba-tiba saja terdengar handphoneku berbunyi dengan nada SMS masuk. Ternyata dari Rendy, katanya temen si pemilik tas sudah datang.

“Buset, cepet amat datangnya,”ucapku dengan nada terkejut. Karena itu, langsung kupacu motorku lebih cepat menuju Kafe.

Setelah sampai di Kafe, langsung saja motor kumasukkan ke dalam garasi dan dengan cepat aku menuju ruanganku untuk mengambil tas itu. Tapi, benda itu tak ada di tempat di mana aku meletakkannya.

“Sial, di mana sih aku meletakkan tas itu,”makiku sambil terus mencari dan mengingat di mana aku terakhir meletakkan benda itu.

Setelah beberapa menit mencari dan berpikir, akhirnya kutemukan tas itu. Ternyata benda itu berada di lemari di ujung ruangan. “Pantas kagak ketemu-ketemu dari tadi, kemaren gue pindahin ke sini, dasar pelupa,” ucapku kesal dengan diri sendiri.

Setelah mengambil tas itu, aku pun keluar ruangan untuk menemui teman si pemilik tas. Aku agak terkejut dan tertegun setelah tahu yang datang adalah seorang gadis kecil. Wajahnya terlihat seperti gadis blesteran dan lebih terlihat seperti anak kecil. Menurutku umurnya masih belasan tahun saja.

“Hai, kamu yang mau ngambil tas?” tanyaku ketika sudah berada di depannya.

Gadis itu mengangguk lalu mengulurkan tangannya, “Terus, tasnya mana?”

“Ohh, nih tasnya.” Menyerahkan tas itu padanya.

“Isinya masih lengkap kan?”tanyanya.

“Iya, masih lengkap kok. Tasnya gak ada aku buka-buka dari pertama aku temuin di bawah kursi,” jawabku.

“Ohh, jadi ketemunya di bawah kursi?” dia terlihat mengangguk beberapa kali.

“Iya, ketemu di bawah kursi, emang kenapa?” tanyaku selidik.

“Dasar kak Vivi, kerjaannya pelupa gini.” Gadis di depanku terdengar menggerutu sendiri. “Ehh, gak papa kok, cuman sama aja kejadiannya kayak dulu. Kak Vivi emang gitu orangnya, suka pelupa,” jawabnya.

“Ohh, jadi yang punya tas namanya Vivi.”

“Iya namanya Vivi. Loh, kakak gak tau tas ini punya kak Vivi?” gadis di depanku seperti terkejut setelah tahu aku tidak mengetahui nama si pemilik tas.

“Enggak, kan aku tadi udah bilang gak ada buka tas itu dari pertama dapat. Kami berdua juga gak ada kenalan pas tadi telponan, ya wajar lah. Tapi itu gak papa kok, yang penting tas ini bisa balik lagi sama pemiliknya, itu udah cukup,” ucapku menjawab pertanyaannya.

“Hehe, iya deh. Ya udah, kapan-kapan nanti kakak aku kenalin deh sama kak Vivi. Orangnya baik, walau aku bukan adik kandungnya, dia juga baik sama aku,” ucapnya.

“Emm, kirain kamu adik kandungnya. Oh iya, nama kamu siapa? dari tadi ngomong aja, gak ada kenalan,” tanyaku.

“Ehh, iya, baru sadar dari tadi gak ada kenalan.” Ia mengulurkan tangannya, “Nama aku Vanka, tapi panggil aja Tacil.”

“Hah, kok Tacil? bukannya Vanka lebih bagus namanya. Kok bisa dipanggil gitu?” tanyaku sambil mengulurkan tangan juga.

“Hehe, ceritanya panjang kak. Terus, nama kakak siapa?” dia bertanya.

“Nama aku panjang banget, panggil aja Arez,” jawabku.

“Ohh, kak Arez.” Mengangguk paham. “Ya udah deh kak, makasih yah udah nemuin tasnya kak Vivi. Entar deh kapan-kapan aku bawa kak Vivi ke sini buat kenalan sama kak Arez,” ucapnya lagi.

“Haha, terserah kamu aja deh,” jawabku.

“Oke deh kak, aku pulang aja. Masih ada kegiatan menunggu, makasih juga udah jagain tas berharganya kak Vivi.”

“Iya, sama-sama. Ya udah, hati-hati di jalan yah,” pesanku.

“Wokeh kak, byee. Jumpa lagi nanti.”

“Byee.. juga.” Sambil melambaikan tangan hingga gadis kecil itu menghilang dari pandangan bersama motor maticnya.

“Asik juga ngomong sama anak kecil,” bisikku dalam hati. “Tapi kok aneh yah, kayak akrab banget gue ngomong bareng dia, kayak udah temenan lama.” Aku bingung.

 

Desember 14, 2014.

“Dueehh motor, kok kamu harus ngadat disaat begini sih?” teriakku kesal.

Pagi ini motorku ngadat lagi, di waktu yang kurang tepat, di saat aku ingin pergi bekerja.

Sebenanya aku punya mobil, tapi aku terlalu malas untuk menggunakannya. Karena terlalu ribet, bensinnya boros dan satu hal yang paling aku tidak suka bila membawa mobil, jalanan yang macet.

Gak bisa ngapa-ngapain, cuman bisa diam tak bergerak. Jadi aku lebih suka menggunakan sepeda motor ketimbang mobil. Tapi, karena motorku saat ini ngadat, terpaksa aku harus berjalan kaki menuju halte dan menggunakan bus untuk pergi ke Kafe.

Ini sudah terlalu telat buatku untuk membuka Kafe, jadi aku pun terpaksa mengirimkan pesan ke Rendy supaya dia yang membuka Kafe untuk hari ini.

Langit kembali gelap pagi ini, padahal beberapa hari kebelakang cerah-cerah saja. Dimulai pada hari aku mengembalikan tas, hingga kemaren. Sudah empat hari tak turun hujan dan pagi ini hujan bakal turun lagi.

Benar saja, setelah beberapa menit aku duduk di halte, hujan pun mulai turun. Kupandangi langit yang gelap sambil mengulurkan tangan untuk menyentuh hujan. Sekarang masih gerimis, mungkin nanti bakalan lebat pikirku. Karena terlalu bosan menunggu bus, aku pun bermain game di handphoneku untuk mengurangi bosan.

Entah berapa lama sudah aku menghabiskan waktu untuk menunggu di sini, bus juga tak kunjung datang, sedangkan hujan mulai semakin lebat.

“Ah, kemana sih ini bus, kok belum datang-datang juga dari tadi?” Aku mulai kesal.

Kutengok sebelah kiriku, orang-orang juga sibuk dengan handphonenya masing-masing. Saat aku menengok ke sebelah kanan, aku agak terkejut dan sadar ternyata ada seseorang yang sedang berdiri di hadapanku. Mungkin karena aku terlalu serius bermain game, hingga tak sadar orang itu sudah lama berdiri di depanku sambil memegang payung.

“Hai.” Ia menyapaku dan dari suaranya aku bisa mengenali dia adalah seorang gadis. Aku pun mengangkat wajahku melihat kearahnya dan dengan lekat menatap wajahnya sambil berpikir siapakah gadis yang sedang berdiri di hadapanku saat ini.

Setelah beberapa detik, aku mulai ingat dan mengenali siapa gadis di depanku. Dia adalah si gadis pendiam berambut pendek minggu laluyang mampir di Kafeku.

“Heei, kok bengong aja sih?” ucapnya menyadarkanku. “Kamu Arez kan?” tanyanya dan dia kembali membuatku bingung, kenapa ia bisa tahu namaku?

“Ha.. haii, iya aku Arez,” jawabku masih dalam keadaan bingung. “Emm, apa kita pernah ketemu? Sorry kalau lupa, kok kamu bisa tahu namaku,” tanyaku dengan pikiran yang masih melayang kesana-kemari mencari sebuah jawaban.

“Iya, kita pernah ketemu, masa lupa?” jawabnya sambil perlahan menutup payung yang ia pegang dari tadi. “Kamu kan yang pernah nolongin aku malam-malam buat gantiin ban mobil, hujan-hujanan lagi.”

“Hah?!” Aku cukup terkejut setelah mendengar jawaban darinya. “Kamu Yona?” Aku menatapnya lekat.

“Iya.” Ia terlihat mengangguk beberapa kali. “Tuh kan ingat, hehe,” ucapnya sambil sedikit tertawa.

“Duh, sorry banget. Bukannya aku gak ingat, cuman aku gak bisa ngenalin kamu, itu aja. Pas aku nolongin kamu, kan kamu pake masker, di situ juga agak gelap, jadi aku gak bisa ngeliat wajah kamu,” jelasku.

“Oh iya, aku baru ingat. Maaf deh kalo gitu,” ucapnya sambil tersenyum. “Oh iya, kamu lagi mau kemana?” tanyanya.

“Mau pergi kerja, cuman bus yang aku tunggu gak datang-datang dari tadi,” jawabku sambil sedikit menggeser tempat dudukku. “Kalau kamu, mau kemana?”

“Aku? cuman mau ketemu kamu, disini,” jawabnya.

“Heh? ketemu aku?”

“Iya, ketemu kamu.” Ia kembali terlihat menganggukkan kepalanya.

“Sebenarnya tadi aku lagi nyetir, terus ngeliat kamu duduk di sini. Pertamanya aku kira salah liat orang, karena penasaran terus aku datangin. Eh, ternyata benaran kamu yang lagi duduk,” jelasnya kemudian beranjak duduk di sampingku.

“Ooh, gitu. Terus, mobil kamu mana?”

“Itu, di seberang jalan.” Jarinya menunjuk kearah mobil sedan berwarna biru di seberang jalan.

“Itu mobil kamu? terus mobil yang aku gantiin bannya semalam mana?”

“Ada kok, cuman lagi males aja bawa yang itu, terlalu gede buat aku,” jawabnya.

“Iya juga sih, yang besar emang selalu bikin ribet.” Aku mengangguk paham, “Lah, terus kamu sebenarnya mau kemana? Gak mungkin dong cuman buat ketemu aku di sini.”

“Sebenarnya aku juga mau pergi kerja, tapi karena ketemu kamu di sini, jadi stuck di sini deh.” Ia terlihat mengecek sesuatu di handphonenya, “Oh iya, kamu kerja di mana? mau aku antarin ke tempat kerja?” ia beralih melihat kearahku.

“Emang kamu mau ngantarin?”

“Iya, serius. Waktu itu kan kamu sudah nolongin aku, jadi sekarang giliran aku yang nolong kamu,” ucapnya sambil tersenyum. “So, kamu mau kemana?”

“Emm, pasti deh kamu tau tempatnya. Aku kerja di Kafe K3, masalahnya minggu lalu aku ada liat kamu mampir buat beli minuman,” jawabku sambil melihat ekspresi wajahnya yang mulai berubah kaget.

“Ahh.., Kamu kerja di situ?” kujawab pertanyaannya dengan anggukan kecil. “Pantes ajaaku kayak pernah liat kamu. Ya udah, aku anterin, pas banget kita searah.” Ia langsung menarik tanganku, mengajakku pergi dari tempat itu menuju mobilnya di seberang jalan.

Di mobil, kami lebih banyak membicarakan seputar jalanan yang basah, hujan yang selalu turun dan juga sekitarpekerjaan masing-masing.

Dugaanku ternyata benar, mobil yang waktu itu kulihat terparkir di muka toko pakaian adalah milik Yona yang sekarang kutumpangi. Dan aku juga baru tahu bahwa pemilik toko itu adalah dia sendiri. Cukup mengagumkan, cewek semuda dia bisa memiliki toko seperti itu dan juga sukses.

Kafe terlihat lumayan ramai saat mobil Yona yang kutumpangi berhenti di parkiran. Rendy dan yang lain terlihat cukup kerepotan mengurusi pelanggan, coba saja aku tidak telat, mungkin mereka tidak akan seperti itu.

“Makasih yah udah mau nganterin sampe sini,” ucapku pada Yona yang terlihat masih duduk di bangku kemudi, “Emm, gak mau mampir dulu?” tambahku.

“Iya sama-sama,” jawabnya dengan menyunggingkan senyum. “Enggak deh. Aku masih ada urusan soalnya, nanti aja kalau ada kesempatan.”

“Oke deh kalau begitu.” Ucapku sambil menutup pintu mobil.

“Ya udah, aku pergi yah.”

“Iya, hati-hati di jalan,” ucapku sambil melambaikan tangan padanya.

Setelah mobil Yona pergi, aku pun bergegas masuk Kafe dan langsung menuju ruanganku.

Sebuah pesan singkat masuk di handphoneku tiba-tiba, ketika sedang mengganti pakaianku. Dari Vivi, gadis yang tasnya aku temukan tempo hari.Hanya sebuah ucapan terimakasih, karena sudah mengembalikan tas miliknya.

 

Desember 20, 2014.

Hari ini sabtu dan langit terlihat mendung lagi. Jam sedang menunjukkan pukul 09.00 pagi. Sambil menunggu jam 13.00, aku melakukan pekerjaan rumah yang jarang sekali aku lakukan. Membersihkan rumah dan mencuci.

Karena biasanya aku pergi pagi hari, jadi aku jarang sekali mencuci pakaian dan pastinya bakal menggunung bila tidak kucuci. Saat semua pekerjaanku selesai,waktu sudah menunjukkan pukul 11.17 dan itu adalah waktu yang tepat untuk siap-siap pergi ke Kafe.

Di perjalanan aku sempat berhenti di depan toko milik Yona, tapi aku tak menemukan mobilnya terparkir di situ. Mungkin dia lagi pergi pikirku, karenanya aku pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Kafe.

Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, para pelanggan sudah banyak berdatangan. Aku bersyukur malam ini hujan tak turun walau dari tadi pagi harinya terlihat cukup mendung.

Malam ini yang datang terlihat lebih banyak anak muda yang sedang pacaran, dari pada orang dewasa. Cukup ramai, hingga membuat semua pegawaiku kewalahan untuk mengerjakan pesanan.

Sebuah ketukan di pintu ruanganku terdengar ketika aku sedang konsestrasi menghitung pengeluaran Kafe bulan lalu. Saat kubuka, ternyata itu Rendy.

“Ada apa Ren?” tanyaku sambil menyipitkan mata penasaran, karena ia terlihat sedang ingin buru-buru melakukan sesuatu.

“Lu bisa gantiin gue sebentar gak?”

“Emang ada apaan?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

“Gue mau ke market sebelah gang bentar, susu cream kita baru aja habis,” jawabnya.

“Heh? Kok bisa? Ya udah, buruan!” perintahku sembari menutup pintu dan meninggalkan tempat itu menuju ruang depan Kafe.

Perlu waktu setengah jam lebih menunggu Rendy hingga ia datang dengan beberapa kantong belanjaan besar yang penuh dengan belanjaan.

“Sorry Rez, lama, di jalan agak macet.” Rendy terlihat meletakkan belanjaannya di dalam lemari penyimpanan.

“Iya gak papa,” ucapku sambil melepas celemek dari badanku. “Oh iya, Ren, nanti kalau tutup, sebelum pulang coba kamu cek barang barang apa aja yang mau habis, biar besok bisa dibeli.”

“Oke boss,” jawabnya sembari kembali bekerja.

Setelah bicara dengan Rendy aku pun beranjak pergi dari tempat itu hendak menuju ruanganku, tapi sebelum aku melangkah jauh, tiba-tiba ada yang menyentuh pundakku. Aku pun berpaling karena penasaran, untuk mengetahui siapa yang baru saja menahanku pergi.

Seorang gadis kecil berdiri di depanku, dengan senyuman manis yang terlihat dari wajahnya yang mungil.

“Hai.. Kak.” Gadis kecil itu mengangkat tangannya dan menyapaku.

“Tacil? Hai, lagi ngapain di sini?” tanyaku selidik.

“Dihh.. Kakak, gak boleh yah aku di sini?” ucapnya sambil memasang muka cemberut.

“Heh.., enggak, kamu boleh kok di sini,” ucapku lalu memasang wajah ramah. “Jadi, ada yang bisa dibantu?”

“Enggak ada kok,” ucapnya.

“Kalau gak ada yang bisa aku bantu, terus kamu ngapain ke sini?” Tanyaku penasaran.

“Mau nepatin janji, sama kakak.”

“Janji? Janji apaan? Kapan?”

“Duh, Kakak, masa lupa sih? Kan aku ada bilang mau kenalin Kakak sama Kak Vivi.” Ia terlihat melipat kedua tangannya di dada.

“Ohh.., yang itu. Terus?”

“Udah ingat kan? Yuk ikut aku nemuin kak Vivi,” ucapnya lalu menarik tanganku menuju luar Kafe.

“Ben- bentar deh Dek, Kakak belum ganti baju,” ucapku dengan menahan tangannya untuk menarikku pergi.

“Udah, gak usah pakai acara ganti baju,” ucapnya sambil kembali menarik tanganku.

“Dueeeh, Dek, Kakak belum ganti baju ini. Bajunya kotor, udah setengah hari belum ganti.” Aku memberi alasan, tapi tetap saja sia-sia, karena ia terus menarik tanganku.

“Gak usah banyak alasan kak, jalan terus,” perintah Tacil.

“Dueeh.. anak ini, kenapa sih?” gerutuku.

“Nah itu kak Vivi,” Tacil menujukkan jarinya kearah salah satu pelanggan yang sedang duduk sendirian di pojok Kafe. “Yuk sini,” dia kembali menarik tanganku.

Setelah semakin dekat, aku agak terkejut ketika bisa mengenali siapa gadis itu. Walau dia sedang menggunakan kacamata, aku tetap bisa mengenalinya.

“Kakak kok berhenti?” tanya Tacil bingung saat aku menghentikan langkahku di belakangnya.

“Sebentar Dek,” ucapku ke Tacil sambil melihat kearah luar Kafe mencari-cari sesuatu yang cukup familiar di mataku. Ternyata benar, aku bisa melihat benda itu sedang berada di luar Kafe.

Saat ini gadis itu sedang sibuk dengan handphonenya, setelah berada semakin dekat Tacil pun hendak memanggil gadis itu. Tapi, aku menahannya dan menyuruhnya untuk diam.

“Ssstt .., biar aku aja yang menyapanya,” pintaku pada Tacil dengan berbisik di telinganya.

Setelah aku sampai di depan mejanya, aku pun menyapa gadis itu, ”Hai, Yona, apa kabar?” dengan mengangkat sedikit tanganku.

Tacil yang berada di sebelahku, ia sedikit tercengang setelah mengetahui bahwa aku kenal dengan gadis yang ada di depanku sekarang.

Yona mengangkat wajahnya, menoleh kearahku dan juga Tacil, kemudian tersenyum. Sebuah pertemuan yang cukup lucu menurutku. Dua nama yang selama ini kukira dua orang, ternyata hanya satu saja.

Mungkin memang salahku, tak pernah menanyakan nama mereka dengan lengkap. Yep, memang salahku.

 

– END –

YXGQ

Iklan

7 tanggapan untuk “When It Rains

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s