Breakers, The Super-Powered Agent: Prologue Page 6

title-6

 

Di dalam Gedung olahraga SMA 4869 kelas XI IPS 1 sedang melakukan pelajaran olahraga basket. Terlihat satu persatu siswa mencoba melakukan Dribble dan Layup secara bergantian.

Setelah itu mereka melakukan permainan tim yang dibagi beberapa kelompok. Seiring berjalannya permainan, Erik selalu melakukan kecurangan untuk membuat Ridwan terluka. Sebenarnya Ridwan bisa dengan mudah menghindar, tapi Ia selalu sengaja membuat Erik berhasil melukainya.

Bruuk

Ridwan yang membawa bola tiba-tiba terjatuh ketika Erik melakukan screen. Karena Erik dengan sengaja menendang kaki Ridwan, sebelumnya kedua temannya menghalangi pandangan Guru olahraga. Sehingga kecurangannya tidak terlalu terlihat.

Priiittt

Suara peluit dari guru olahraga menandakan Ia mengetahui kelakukan Erik. Karena salah seorang siswa yang sedang memperhatikan mengadu kepada Guru olahraga.

“cukup, kamu tidak apa-apa ?”Tanya Guru olah raga kepada Ridwan.

“tidak”balas Ridwan.

“pelajaran diakhiri sekarang, kalian boleh ganti baju dan kembali ke kelas. Gunakan waktu yang tersisa untuk istirahat”ucap Guru Olahraga.

Semua siswa kelas XI IPS 1 pun segera bubar dari gedung olahraga dan pergi ke ruang ganti pakaian. Sementara itu Ridwan yang terluka tiba-tiba menghilang dari lapangan.

><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><><

Di ruang ganti pakaian laki-laki, sedang terjadi keributan akibat kejadian tadi di Gedung Olahraga. Erik dan teman-temannya sedang memaki orang yang tadi melapor ke guru. Terkadang Ia juga memukulnya keras.

Tidak ada seorang pun yang mau menghentikan perbuatan Erik. Mereka terlalu takut, karena Erik adalah orang yang penting disekolah ini.

“maksud lo apaan hah ?”bentak Erik sambil menendang perut orang itu.

Bruukk..

Orang itu pun tersungkur dan bersandar pada salah satu loker.

Sementara itu di ruang ganti perempuan. Semua orang yang berada di sana sedang membicarakan kejadian tadi di gedung Olahraga.

“arrgghhh… aku kesal deh lihat kelakukan si Erik”ucap Sisca.

“jangankan kamu Sis, aku aja sama kesalnya. Pengen deh rasanya mukul tuh orang”sahut Grace.

Michelle hanya menyimak pembicaraan teman-temannya itu. Terkadang terdengar juga Ia membuang nafas panjang.

“aku salut deh Chell sama kamu”ucap Grace.

“iya, aku juga. Kamu hebat bisa bertahan sama orang itu”tambah Sisca.

“iya, aku paksain aja. aku sebenarnya juga sudah enggak kuat kayak gini terus”ucap Michelle.

“kenapa kamu enggak hajar aja itu si Erik ? kamu kan jago karate”ujar Sisca.

“maunya sih gitu. Tapi aku gak berani. Ujung-ujungnya pasti aku dibentak lagi sama Papa aku”keluh Michelle. Terlihat raut wajahnya yang kembali murung.

“maaf Chell, aku gak bermaksud buat ….”

“sudahlah, ayo, mending kita beli minuman. Pasti capek kan habis olah raga”Grace langsung memotong ucapan Sisca barusan.

“iya juga, gak ada waktu buat murung”ucap Michelle sambil menepuk kedua pipinya.

“nah gitu dong ceria”ucap Sisca.

“iya, yuk beli minum. Aku udah haus banget nih”ucap Michelle.

Mereka pun keluar dari ruang ganti dan pergi ke kantin.

Disisi lain orang yang tadi mengadu kepada guru sudah dihajar sampai babak belur oleh Erik. Siswa lainnya segera membawanya ke UKS supaya lukanya segera disembuhkan. Sedangkan Erik hanya marah-marah kepada teman-temannya tanpa alasan yang jelas.

“lo udah nemuin orang itu ?”bentaknya kepada salah satu temannya.

“belum, gue udah nyari dimana-mana. Tapi gak ada”jawab temannya itu.

“ah gak bener lo”bentak Erik sambil memukul wajah temannya itu.

“udah rik, kalo lo kayak gini kita gak bakalan bisa ngasih pelajaran buat anak pindahan itu”Deden pun mulai berbicara dengan meninggikan suaranya.

“hah maksud lo apa ?”Tanya Erik sambil mengangkat kerah baju milik Deden.

“musuh lo itu murid pindahan itu jangan mukul teman lo juga”bentak Deden sambil melepaskan cengkraman Erik.

“Asep, lo gak papa kan ?”ucap Deden sambil membantu berdiri orang yang dipukul Erik tadi.

Deden pun berusaha untuk melerai masalah yang terjadi antara Erik dan Asep.

Sedangkan Ridwan yang menjadi bahan masalah sedang berada di atap. Ia melihat ke Halaman dari sana dengan tatapan kosong. Tak lama kemudian datanglah seseorang dari belakang dan menghampirinya.

“lo ngapain ?”Tanya orang yang datang itu kepada Ridwan.

“bukan urusanmu”jawab Ridwan dengan mata yang masih menatap ke lapangan.

“ayolah Ace, kita kan teman”ucap orang itu.

“hah ? sejak kapan kita berteman ?”ucap Ridwan.

“oh iya, gue lupa. Sebaiknya lo gue panggil Fadhil aja ya”ujar orang itu.

“sudahlah Knight, cukup basa-basinya!! Apa yang sebenarnya kamu inginkan ?”Tanya Ridwan.

“aduh Fadhil Fadhil. Nama gue Willy jangan panggil Knight”ucap orang itu yang ternyata adalah Willy. Orang yang kemarin menemuinya di halaman sekolah.

Ridwan tidak menanggapi perkataan dari Willy. Ia masih meelihat ke arah lapangan.

“gue Cuma mau, hilangin kebiasaan lo sebut gue Knight kalo sedang disekolah. Gue kan pengen hidup normal”ujar Willy.

Ridwan masih tidak menanggapi perkataannya. Ia melamun dan membayangkan Adiknya yang sembuh sedang mengobrol bersama teman-temannya di Halaman Sekolah itu.

“kenapa Adikku yang menderita ? kenapa bukan Aku saja yang menderita penyakit itu ?”ucap Ridwan dalam hati.

TENG TONG TENG TONG

“oi, udah bel tuh”ucap Willy.

Ridwan pun sadar dari lamunannya dan berjalan pergi menuju kelasnya. Willy mengikutinya dari belakang.

Diperjalanan menuju kelas. Willy mendapatkan telepon dan percakapan melalui telepon pun tidak bisa dihindari.

“apa ?”Tanya Willy.

“darurat, Gue butuh bantuan lo secepatnya. Cepat!!”terdengar suara seorang laki-laki dari telepon.

“oi oi, darurat gimana ? Apa King sudah mulai bertindak ?”Willy pun terlihat panik dengan panggilan itu.

“lupakan dulu itu, ini lebih darurat. Lokasinya akan segera gue kirim. Hanya lo yang bisa bantu ini ”ucap laki-laki itu.

Sambungan telepon pun terputus. Sejenak Willy pun terdiam. Matanya menatap kosong kedepan dan raut wajahnya terlihat sangat ketakutan.

“apa ini ? ini lebih darurat dari insiden King ? apa yang harus aku lakukan ?”ucapnya dalam hati.

“Shani, Shania, Ve, Lidya, Yona, Viny, Sinka, Celine maaf jika aku tidak kembali”lanjutnya dalam hati.

Kemudian Ia mengirim pesan kepada perempuan yang Ia sebutkan tadi.

Willy: Sayang maafkan aku ya, sepertinya sekarang ini keadaan sedang darurat parah. Aku harus menjalan misi yang berbahaya yang bisa mengorbankan nyawaku ini. Maafkan aku sayang. Aku cinta kamu.

Willy mengirimkan pesan tersebut kepada Shani. Kemudian Ia mengetik pesan yang akan dikirimkan kepada Ve.

Willy: Honey, maafkan diriku ini jikalau tidak bisa menemuimu lagi. Diriku ini akan melaksanakan sebuah tugas yang bisa mengorbankan nyawa. Doakan diriku ya Honey semoga diriku ini bisa pulang dengan keadaan selamat.

Setelah pesan terkirim, Willy kembali menulis pesan yang ditujukan kepada Lidya.

Willy: dinda, maafkan kanda jikalau tidak bisa memenuhi janji ini. Kanda akan melakukan tugas yang berbahaya. Mungkin kanda tidak akan selamat dalam melaksanakannya. Adindaku maafkan kakanda ya dan Doakan semoga kanda bisa selamat dan pulang dalam keadaan sehat wal’afiat.

Pesan pun terkirim Willy segera menulis kembali. Kali ini pesan ditujukan untuk Shania.

Willy: My Princess, I’m sorry. Prince akan bertugas di zona berbahaya dan kemungkinan tidak dapat pulang dengan selamat. I’m sorry My Princess. Prince tidak bisa berhenti dari pekerjaan ini. I LOVE YOU very much.

Willy segera menulis pesan untuk Yona.

Willy: My Love. Waktu berjalan dengan cepat dan hubungan kita berjalan secara lancar. Aku harap hubungan ini akan terus langgeng sampai ke jenjang pernikahan. Aku akan melakukan beberapa tugas yang berbahaya. Maafkan aku ya jika aku tidak bisa kembali dengan selamat.

Willy melanjutkan menulis pesan kepada Viny.

Willy: Inyi, Willy akan pergi untuk sementara dan melakukan beberapa tugas berbahaya yang mengancam nyawa. Maafin Willy ya, jika tidak pulang dengan keadaan utuh. Aku mencintaimu.

Setelah itu Ia menulis pesan untuk Sinka.

Willy: Dudut, maaf ya aku harus pergi sebentar untuk melakukan tugas dan kali ini tugasnya lebih berbahaya, mungkin aku bisa kehilangan nyawaku ini. Jadi maaf ya jika aku tidak pulang dengan selamat. Aku selalu mencintaimu.

Pesan terakhir. Willy pun segera menulis pesan yang terakhir untuk Celine.

Willy: hai Beb, maaf ya aku sering buat kamu kesel, marah dan bete. Aku sangat menyayangi kamu dari pertama kita bertemu sampai saat ini rasa cinta dan sayangku semakin bertambah terus. Sebanyaknya air di laut dan besarnya gunung tidak akan bisa menandingi besarnya cintaku padamu. Saat ini aku akan pergi untuk melakukan beberapa tugas berbahaya. Mungkin aku akan kehilangan nyawa. Maaf ya jika aku tidak kembali.

Kini Willy sudah mengirim pesan kepada semua pacarnya dan Ia bisa sedikit bernafas lega. Kemudian…

Krik Krik

HP Willy berdering dan Lokasinya sudah Ia terima. Ia pun segera melihat lokasi yang dikirimkan oleh temannya itu dan memindahkannya ke mode bertugas, sehingga semua pesan yang masuk akan tertunda. Hanya pesan dari teman kerjanya saja yang akan sampai.

“apa ?”Willy sangat kaget ketika melihat lokasi yang diterimanya ternyata tidak jauh dari letak sekolah.

“”Fadhil, gue butuh bantuan lo. Ini darurat”ucap Willy yang langsung menarik tangan Ridwan kemudian Ia berlari secepat mungkin ke lokasi tersebut.

Ridwan dengan terpaksa harus membantunya, karena Ia juga penasaran setelah mendengar nama King terlontar dari mulut Willy tadi.

Tak lama kemudian mereka sampai di tempat tujuan, yaitu mini market di samping cafe dekat sekolah. Lalu Willy mendapatkan telepon kembali dari orang yang tadi meneleponnya. Sedangkan Ridwan hanya melihat sekeliling.

“woy, lo dimana ?”Tanya Willy.

“ssstt… lo liat mini market di tempat itu ?”ucap seseorang yang meneleponnya yang meneleponnya.

“iya gue lihat dengan jelas. Tapi tidak ada keributan disini”balas Willy.

“lo jalan ke halaman belakang mini market itu, perhatikan sekeliling dan jangan sampai ada yang ngikutin lo”ucap orang itu.

Willy mengikuti instruksi dari orang yang meneleponnya dan Ridwan mengikutinya dari belakang.

“oke gue udah sampai halaman belakang. Di sini gelap banget oy”ucap Willy setelah sampai di halaman belakang.

“oke, sekarang lo jalan lagi kedepan lalu coba lihat ke pojok kanan”ucap orang itu.

Willy pun menuruti perkataan itu dan pada saat Ia melihat ke Pojok kanan, Ia mendapati seorang laki-laki yang sedang menelepon tersangkut di Tong sampah besar dengan posisi badan setengah masuk ke dalam. Hanya kaki dan kepalanya saja yang masih terlihat. Kemudian Laki-laki itu melambaikan tangan dan tersenyum kepadanya.

“ooooooooiiiiiiiiiii”ucap laki-laki itu sambil terus melambaikan tangannya.

“aku pergi duluan”ucap Ridwan.

Willy pun berusaha menahannya dengan mulut yang masih terbuka melihat laki-laki itu.

“lo kenapa Ar ?”Tanya Willy kepada laki-laki itu yang ternyata adalah Aryo. Code 03: Martinus Aryo alias Jack.

“bagaimana menurut lo ?”Aryo balik bertanya sambil masih tersenyum.

“mungkinkah ini halusinasi ?”Tanya Willy.

“salah”jawab Aryo.

“apakah musuh sudah mulai bertindak ? mungkinkah ini serangan musuh ? atau lo kena jebakan musuh”Tanya Willy.

“cukup ya, aku pergi duluan”ucap Ridwan yang berusaha pergi. Tapi tangannya masih ditahan oleh Willy.

“tunggu sebentar, bisa jadi ini serangan musuh”ujar Willy.

Ridwan tidak merespon perkataan Willy. Ia seakan sudah tau apa yang sebenarnya terjadi kepada Aryo.

“sebenarnya gue sendiri yang masuk kesini”ucap Aryo.

Mendengar hal itu Willy tidak mengatakan sepatah kata pun. Mulutnya terbuka lebar dan matanya menatap kesal ke arah Aryo.

“yah lo tau lah…. Gue dengar ada cara bunuh diri dengan tersangkut di sebuah drum, jadi langsung gue coba aja”ucap Aryo yang masih tersenyum.

“tapi, setelah dicoba, ternyata gue Cuma menderita dan gak segera mati”lanjutnya.

“Dan juga, karena tubuh gue udah mulai kejepit gini, jadi gue gak bisa keluar sendiri dan gue pikir, gue bakalan segera mati”tambahnya.

“oh, begitu ya. Tapi, karena ini salah satu cara bunuh diri, gue pikir kalo lo terus kayak gini, lo akan mati juga pada akhirnya kan ?”ucap Willy.

“oy, gue suka bunuh diri, tapi gue gak suka menderita dan kesakitan. Siapa juga yang mau seperti itu ? ditambah, gue baru mengetahuinya. Ini bukan salah satu metode bunuh diri, tapi, ini adalah metode penyiksaan”ucap Aryo.

Willy yang mendengar itu pun merasa sedikit kesal, Ia pun langsung menendang Drum tersebut dan Drum itu pun berguling kebelakang sehingga Aryo secara otomasti bisa keluar walaupun kepalanya harus sedikit membentur tembok.

“a.du..duh”ucap Aryo sambil berdiri.

Willy menatap heran kearah Aryo, sedangkan Ridwan masih bersikap dingin dan seakan tidak peduli.

Kemudian Aryo melakukan peregangan terhadap semua anggota tubuhnya yang sakit karena terjepit oleh Drum sampah tadi.

“hadeeeh… tadi itu menyakitkan”ucap Aryo sambil meregangkan otot tangannya.

“Gue tertolong Will, makasih. Kalo gak ada elo, gue, pasti udah terbelah dua”lanjutnya.

“anjirrr, gue lupa sama hobi ini anak. Sialan lo Dhil, gak ngasih tau gue dari tadi”ucap Willy dalam hati sambil menepuk jidatnya.

“kampret lo, gue lagi sekolah juga malah nyuruh kek gini. Napa lo gak minta tolong aja ama teman kerja lo yang lain ?”ucap Willy yang dibuat kesal.

“gue udah ngehubungin yang lain tadi, gue bilang kalo gue lagi sekarat. Lalu mereka malah bilang SELAMAT YA. Bagaimana perasaan lo kalo digituin ?”ucap Aryo sambil pasang muka sok sedih.

Willy pun tidak bisa menjawab pertanyaa itu. Ia merasa kalo Ia telah salah bertindak dan terburu-buru untuk datang kesini sebelum memastikan apa yang terjadi dan parahnya Ia juga menyeret Ridwan.

“haduuhh sialan, kenapa sih orang-orang yang dideket gue pada gak beres semua otaknya”keluh Aryo.

“otak lo juga gak beres nyet”ucap Willy dalam hati.

“eh ada Fadhil ternyata. Kenapa lo ? gak sekolah ?”Tanya Aryo yang menyadari keberadaan Ridwan.

Ridwan mengabaikan ucapan barusan.

“jadi kalian berdua bekerja di Agen Pertahanan Sipil ?”Tanya Ridwan tiba-tiba.

“yah, semacam itulah”jawab Willy.

“lalu apa hubungannya dengan King ?”ucap Ridwan.

“nanti lo juga bakalan tau kok”jawab Aryo.

“sudahlah nanti kita lanjut pembicaraannya. Kita bisa telat masuk kelas nih”ucap Willy.

“lah, lo bener juga. Gue kan hari ini pindah ke sekolah lo juga”ujar Aryo.

“eh ? lo juga pindah ? kenapa barengan nyet pindahnya ?”ucap Willy.

“lo kan emang murid di sini nyet. nanti gue jelasin, yang penting sekarang kita cepetan pergi dari sini”ucap Aryo.

Ridwan, Willy dan Aryo pun segera meninggalkan halaman belakang mini market tersebut dan bergegas pergi menuju sekolah. Di perjalanan Willy memindahkan mode HP nya dan Ia pun kewalahan karena banyak sekali pesan yang Ia terima dari perempuan yang tadi Ia SMS.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di sekolah. Ridwan segera masuk kedalam kelas, sedangkan Willy dan Aryo pergi ke kantor guru.

Di kantor Guru. Willy dan Aryo sedang berhadapan dengan Kepala Sekolah. Mereka juga dimarahi, karena pada saat jam pertama mereka sama-sama menghilang.

“Aryo, Bapak masih memaklumimu, karena kamu murid pindahan disini. Tapi untukmu Willy, kamu kan sudah lama bersekolah disini. Masa Cuma gara-gara pertukaran pelajaran, kamu bisa lupa sama peraturan sekolah”ucap Kepsek.

“bukan begitu Pak, tadi saya bantuin dulu nenek-nenek nyebrang. Terus bantu anak yang terpisah dari orang tuanya, lalu apa lagi ya. Banyak deh Pak”ucap Willy mencari-cari alasan.

“Willy, Willy. Kamu memang pinter deh kalo nyari alasan. Yasudah, kali ini kamu bapak maafkan”ucap Pak Kepsek.

“terimakasih Pak”ucap Willy sambil menyalami Pak Kepsek.

“sekarang kamu boleh masuk ke kelasmu”ucap Pak Kepsek.

“iya Pak. Saya pergi dulu. Permisi”ucap Willy sambil pergi meninggalkan ruangan Kepala Sekolah.

Setelah Willy pergi. Pak Kepsek kembali mengobrol dengan Aryo.

“jadi kamu kelas tiga ?”Tanya Pak Kepsek.

“Iya Pak, saya sudah kelas 3 dan saya sangat suka dengan bunuh diri Pak. Apa disini ada tempat yang bagus untuk bunuh diri ?”ucap Aryo.

Pak Kepsek hanya memegang kepalanya mendengar perkataan dari Aryo.

“iya iya. Bapak sudah dengar dari Wali mu kalo kamu ini sedikit…. Yah tau lah”Pak Kepsek enggan melanjutkan perkatannya.

Tok Tok

Seseorang mengetuk pintu ruang kepala sekolah dari luar.

“masuk”

Sriing

Pintu pun bergeser dengan sendirinya dan masuklah seorang guru.

“bapak tadi manggil saya ?”Tanya Guru itu.

“Iya Bu, ini murid yang sudah saya ceritakan. Namanya Martinus Aryo. Mulai hari ini dia masuk dikelas Ibu kelas XII MIPA 1”ucap Pak Kepsek.

“iya Pak. Aryo, ayo ikut Ibu”ucap Guru itu sambil meninggalkan ruangan kepala sekolah diikuti oleh Aryo dari belakang.

Selama perjalanan menuju kelas. Guru itu menanyakan beberapa hal kepada Aryo.

“nama Ibu Haruka. Panggil aja Bu Haruka atau Haruka-Sensei”ucap Guru itu.

“Iya Bu. Ibu tau tempat yang bagus untuk bunuh diri ?”sahut Aryo.

Bu Haruka langsung memegang kepalanya dan didalam hatinya Ia berkata”oh, jadi ini yang waktu itu diceritakan sama Pak Kepsek”

“Ibu tidak tau. Tapi Biasanya banyak yang lompat dari atap gedung”ucap Bu Haruka.

“aduuuhhh… saya sudah mencobanya Bu. Tapi saya tidak langsung mati”ucap Aryo sambil tertunduk lesu.

Bu Haruka hanya memandang aneh kearah Aryo.

Sementara itu dikelas XI IPS 1. Murid-murid sedang melakukan pembelajaran dan memperhatikan guru yang sedang menerangkan, sedangkan Ridwan mengalihkan pandangannya dan melihat kearah luar Jendela.

Tok tok tok

Seseorang mengetuk Pintu kelas dan pintu langsung terbuka. Kemudian masuklah seorang laki-laki berseragam sekolah sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Oh Willy ya. Jadi hari ini kamu sudah kembali”ucap Guru yang mengajar.

“Iya Pak, maaf ya, saya terlambat”ucap Willy.

“sudahlah. Lebih baik kamu perkenalkan kembali diri kamu di depan. Kasihan kan siswa baru yang enggak kenal kamu”ujar Guru yang mengajar.

“Iya Pak”ucap Willy dan langsung memperkenalkan dirinya kembali di depan kelas.

“Willy”teriak Grace yang berada dikukrsinya.

“Hallo Grace”ucap Willy sambil melambaikan tangannya.

Willy adalah teman Grace. Sebelum Ia melakukan program pertukaran pelajar. Dia adalah orang yang duduk sebangku dengan Grace dan merupakan teman Michelle juga Sisca. Itu sebabnya kursi disebelah Michelle kosong. Tempat itu sebenarnya adalah tempat Sisca. Tapi Ia menemani Grace duduk didepan karena Michelle yang memintanya.

Setelah memperkenalkan diri. Willy pun menuju kursinya yang disebelah Grace dan Sisca pindah kebelakang dan duduk bersama Michelle.

“kamu benar-benar ngosongin bangku ini ya”ucap Willy kepada Grace.

“aku kan sengaja nunggu kamu Will”ucap Grace.

“ciee…Willy udah kembali nih”celetuk Sisca.

“iya Willy balik nih”tambah Michelle.

“hei, gimana kabar kalian ? baik-baik aja kan ?”Tanya Willy kepada mereka.

“kita baik kok Will, kamu sendiri gimana ?”ucap Michelle.

“aku baik aja kok”ucap Willy.

Mereka mengobrol dan tanpa mereka sadari Guru yang menerangkan mulai kesal.

“ehem…eheemmm…reuniannya nanti aja ya. Sekarang giliran bapak mengajar”ucap Guru yang mulai kesal.

Murid-murid pun tertawa terkecuali Ridwan dan Erik. Dari tadi Ridwan memandang keluar jendela, sedangkan Erik menatap tajam kearah Ridwan.

SKIP

Bel pulang sekolah berbunyi. kini semua siswa membereskan semua peralatan belajar mereka dan bergegas pergi. Sementara itu Ridwan sengaja untuk keluar paling terakhir, karena Ia sengaja menunggu sepi dulu.

Diluar gerbang Sekolah. Terlihat 4 orang siswa laki-laki dari kelas XI IPS 1 sedang menunggu seseorang. Mereka juga terlihat sedang merencanakan sesuatu.

Merasa cukup sepi. Kini Ridwan mulai berjalan keluar dari sekolah untuk pergi ke tempatnya bekerja sampingan. Tapi di depan gerbang sekolah 4 orang siswa menghalanginya. Mereka tak lain adalah Erik dan teman-temannya.

“wah ini nih murid pindahan kita”ucap Erik sambil menepuk-nepuk tangannya.

“nunggu apa lagi Rik. Bukannya banyak yang mau lo omongin sama orang ini”ucap Deden.

Sementara itu Ridwan masih tetap tenang dan tidak memperdulikan mereka.

“oy anak pindahan. Hubungan lo sama Michelle apa ?”Tanya Erik sambil mengangkat kerah baju Ridwan.

Ridwan masih tenang, karena Ia tidak boleh sampai melukai warga sipil. Itulah aturan yang diberikan kepadanya oleh Ketua Black Crows.

“lo gak bisa ngomong oy. Jawab **jing”ucap Erik sambil memukul wajah Ridwan.

Duakk

Ridwan pun tersungkur kebawah.

“sakit ya ?”Tanya Erik sambil menginjakkan kakinya di perut Ridwan.

Ridwan masih tidak menanggapi mereka.

“ah sialan. Hajar dia”ucap Erik yang sudah sangat kesal.

Kemudian teman-teman Erik membawanya ke halaman belakang sekolah dan memukuli Ridwan disana.

“gara-gara lo Michelle jadi berubah ke gue”bentak Erik sambil menendang Wajah Ridwan.

Kini Ridwan sudah dipenuhi oleh luka. Ia bisa saja menghajar mereka dalam sekejap, tapi menurutnya itu tidak ada gunanya.

“ngomong oy, bangsat lo”bentak Erik dan langsunng menendang Ridwan kembali dengan sangat keras.

Sruukk

Duaagg

Ridwan sedikit terdorong kebelakang dan tubuhnya menghantam tembok, kemudian ia bersandar ditembok tersebut.

Erik sudah sangat kesal. Ia mengambil sebuah Bat bisbol dan bersiap untuk menghantamkannya kepada Ridwan.

“cukup”

Tiba-tiba seseorang datang dan langsung menghadang Erik.

“Michelle ? apa yang kamu lakukan disini”ucap Erik.

“berhenti Rik, apa yang coba kamu lakukan ?”tanya Michelle yang mulai khawatir.

“aku Cuma mau singkirin orang ini. Orang ini kan yang udah bikin kamu nangis”ucap Erik.

“enggak Erik, kamu salah”ucap Michelle.

“aahhh..cukup Chell, aku muak dengan ini semua. Cepat menyingkir sekarang juga”bentak Erik.

“tidak Rik, aku akan menghentikanmu”ucap Michelle.

“oh, jadi kamu sudah mulai berani melawanku. Aku akan adukan nanti ini ke Papa”ucap Erik.

Michelle terlihat gentar mendengar ucapan dari Erik, tapi jika Ia tidak melakukan sesuatu Michelle pikir Erik akan membunuh Ridwan.

Teman-teman Erik kemudian menangkap Michelle dan membawanya ke pinggir untuk melihat Erik memukuli Ridwan.

“Erik hentikan”teriak Michelle. Air matanya mulai mengalir. Ia merasa jika ini adalah kesalahannya sudah membuat murid pindahan itu seperti ini.

Duakk

Erik memukul perut Ridwan dengan Bat Bisbol.

“sakit kan ?”ucap Erik sambil meludahi wajah Ridwan.

“hahaha…wajah itu cocok buat lo”ucap Erik sambil tertawa.

“mungkin kaki gue cocok buat wajah lo”tambah Erik.

Erik langsung melancarkan tendangan kearah Ridwan, tapi tendangan itu mengenai Michelle yang berlari dan langsung melindungi Ridwan.

Ridwan menatap kesal melihat Erik yang menendang Michelle. Ia juga tidak tau kenapa. Tapi hatinya merasakan sakit ketika Michelle ditendang oleh Erik.

Bruukk

Michelle tersungkur dan menimpa Ridwan yang bersandar di tembok.

Ridwan langsung menangkap Michelle dan menyandarkannya di sebelahnya, kemudian Ia berdiri dan tatapannya pun berubah.

 

To Be Continued

Iklan

Satu tanggapan untuk “Breakers, The Super-Powered Agent: Prologue Page 6

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s