Weird Love, Part 4 : Pesta

weird-love-cover

 

Untung nya aku memakai jaket yang dipinjamkan Christi kepada ku, tetapi sayang nya jaket itu berwarna kuning yang membuat ku nampak semakin mencolok. Aku merasa seperti schrodinger’s cat, aku merasa begitu mencolok dengan jaket ini tetapi jika aku membuka nya aku merasa gaun yang ku pakai akan membuat ku lebih mencolok. Sebuah perasaan yang mengerikan, tak heran Sheldon benci merasakan nya.

Aku dan Christi pun langsung menghampiri Kak Siska untuk memberikan selamat, karena sudah “Peraturan” nya untuk melakukan itu saat datang ke pesta. Setelah Kak Rona dan Nat selesai memberikan ucapan selamat dan Do’a mereka, giliran kami pun tiba.

“Selamat ulang tahun Kak Siska sehat selalu,” ucap ku, meski terasa default tetapi aku benar memang benar mengharapkan nya.

“Makasih Jinan cantik, semoga Tuhan juga selalu memberkati kamu,” balas Kak Siska dengan senyum merekah.

Christi memeluk Kak Siska untuk memulai ucapan selamat nya, ucapan yang cukup panjang yang membuat ku merasa kurang berusaha dalam memberikan selamat pada giliran ku. Kak Siska juga membalas ucapan selamat Christi dengan mendo’akan nya, setelah kami selesai Kak Ghaida lah yang selanjut nya memberikan selamat dan sama seperti Christi dia memulai nya dengan pelukan, apa Kak Ghaida dan Christi itu Bayley.

“Woii dari mana aja sih.?” Tanya Cindy yang menghampiri kami berdua.

“Baru juga datang,” jawab ku.

“Lo kenapa make jaket ? kuning lagi buka aja,” ucap Cindy.

“Salah kostum dia maka minjem jaket gue,” sambung Christi.

Mereka berdua tertawa sedangkan aku tak tahu apa aku berhak marah karena ini juga salah ku tak membaca undangan itu sampai selesai, karena itu aku hanya bisa berdiri sambil memasang tampang “Really ?” kepada mereka, dengan harapan mereka akan bisa berhenti tertawa.

“Tapi serius buka aja lu kayak pisang aja kuning kuning,” ucap Cindy.

“Nggak ah  malu,” jawab ku.

“Kalo gue sih ya lebih malu make jaket nya Christi,” sambung Cindy.

“Weiii, apa apaan ngehina jaket gue,” protes Christi.

“Iya iya gue buka,” ucap ku mengiyakan ucapkan Cindy.

Meski rasa nya begitu malu salah kostum begini, tetapi aku rasa memakai gaun ku lebih baik dari pada mengenakan jaket kuning Christi.

“Weiii cantik sendiri.” ucap Kak Jeje yang berdiri di depan ku.

Pandangan semua orang pun tertuju kepada ku, rasa nya ingin aku kembali memakai jaket ku tetapi Christi sudah memakai nya. Jadi aku melakukan satu satu nya hal yang bisa ku lakukan yaitu tersenyum.

“Widih Daun muda sekarang cantik cantik banget pantesan banyak yang oshihen,” sambung Kak Desy yang berdiri disebelah Kak Jeje.

“Maaf salah kostum tapi salah baca dress code nya,” jawab ku.

“Nggak apa apa lu salah kostum, yang penting kita selfie dulu,” ucap Kak Jeje.

“Ci, gue ikut,” sambung Kak Desy.

Biasa nya aku senang senang saja selfie dengan yang lain, selain bisa menambah stock foto ku itu adalah cara kami untuk bisa lebih dekat. Sekarang aku merasa sedikit aneh, satu persatu kakak senior dan teman teman yang lain berfoto dengan ku, tapi karena aku yang salah kostum aku merasa seperti badut Ancol tapi sudah lah mungkin ini sedikit “Hukuman” untuk ku.

“Des fotoin dong,” ucap Kak Siska yang sudah bergaya disebelah ku.

“Ya Tuhan jauh jauh dari Cilacap Cuma jadi tukang foto, apa kata emang gue coba,” jawab Kak Desy yang akhir nya bersedia juga.”Siap ya.?”

“Tunggu,” ucap Kak Siska.”Ayo Kiti sama Cindy juga foto, biar lengkap JCCS.”

“Apaan tuh JCCS.?” Tanya Christi.

“Jinan Christi Cindy Siska,” jawab Kak Siska santai.

“Calon kapten mah bebas,” jawab ku.

“Bu udah selesai ngerumpi nya, pegel nih megang HP nya,” celetuk Kak Desy dengan wajah sebal.

“Udah ayo foto,” ajak Kak Siska.

“Satu dua tig……..,”

“AKKKKKKKK.”

Sebuah teriakan membelah suasana pesta yang ceria, semua orang tampak bingung dan mencoba mencari asal suara itu. Tetapi wajah Kak Siska nampak berbeda wajah nya tak menunjukan ekspresi bingung seperti yang lain nya, wajah nya lebih seperti orang yang terkejut dan tak menyangka. Aku mengenali suara itu dan menurut firasat ku Kak Siska juga mengenali suara itu, dan satu sesuatu tentang dia tak mengharapkan suara itu ada di pesta nya.

“Itu suara apa,” ucap Cindy.

“Itu…su..ara…,”

“Aku rasa itu suara Chris,” ucap ku yang ingin memastikan kecurigaan ku.

Jika dugaan ku benar ekspresi yang akan ditunjukan Kak Siska adalah wajah tak percaya, dan dia mungkin akan bertanya bagaimana aku mengenal Chris. Jika dugaan ku salah dan ternyata itu bukan suara Chris, Kak Siska akan tetap bingung dan bertanya bagaimana aku mengenal Chris, bagaimana pun hasil nya saat Kak Siska menanyai ku tentang Chris aku akan menjawab dengan sejujurnya dan aku akan bisa mengkonfirmasi beberapa hal dari jawaban nya.

“Chris ? nggak si Christi nggak teriak kok tadi.” ucap Kak Desy bingung.

Aku masih mencoba membaca ekspresi wajah Kak Siska, dia sekarang menunduk yang menyulitkan ku untuk tahu bagaimana ekspresi nya.

“Itu Chris kembaran ku, dia punya gangguan mental,” ucap Kak Siska datar.

“Dia sakit.?” Tanya ku mencoba tahu lebih dalam.

“Nggak kata dokter dia sehat, dia hanya membuat realita sendiri dipikiran nya yang kadang membuat tingkah laku nya sulit dimengerti.”

Kau tahu plot dari film film sci-fi aneh yang tak kau mengerti, dan apa yang baru dikatakan oleh Kak Siska termasuk salah satu dari mereka. Aku tak melihat alasan Kak Siska untuk berbohong sekarang, tetapi mempercayai apa yang baru dikatakan nya sebagai kenyataan adalah hal yang sulit.

“Aku harap dia cepat sembuh,” ucap Christi.

“Dia sehat….di…a..hanya…,”

Kak Siska berlari meninggalkan kami semua, dia berlari ke lantai dua meninggalkan pesta ulang tahun nya sendiri. Setelah dia membanting pintu kamar nya, perhatian semua orang tertuju kepada kami yang akan berfoto dengan nya.

“Kalian ngapain ? kenapa Siska bisa nangis, kalian sadar nggak ini pesta ulang tahun nya. Dan kalian merusak itu, sebenar nya apa yang kalian pikirin sih !!!!”

Seumur hidup ku, aku tak menyangka akan dibentak oleh Kak Ve. Kak Ve adalah orang yang bahkan tak marah meski dikerjai oleh Kak Kinal dan yang  lain, Kak Ve adalah orang yang sabar karena dia pernah mengajari ku gerakan dance River karena aku yang terlalu kaku. Aku selalu berpikir bahwa Kak Ve tak akan mungkin marah, tetapi melihat dia sekarang aku merasa takut.

“Maaf Kak, kami tadi…..”

“Kalian nggak perlu minta maaf kepada ku, kalian naik keatas dan minta maaf sama Siska sekarang !!!!”

Kami berempat menunduk dan naik ke lantai empat, aku tak tahu apa yang terjadi tetapi seperti nya ini salah kami dan kami lah yang harus bertanggung jawab.

“Siska, aku minta maaf ya,” ucap Kak Desy.

“Kami minta maaf sudah menyakiti perasaan Kak Siska,” ucap ku.

“Tolong maafin kami,” ucap Christi dan Cindy.

Kami menunggu jawaban, kami tak tahu apa yang harus dilakukan selain berdiri di depan pintu kamar nya menunggu.

“Apa kamu pikir kita salah ngomong.?” Ucap Cindy.

“Nggak ini salah aku, harus nya aku nggak ngomong seolah olah kembaran nya sakit,” jawab Christi.

“Tapi aku nggak tahu Kak Siska punya kembaran,”

“Sama,”

“Sama,”

“Sama,” ucap mereka bersautan.

“Tapi serem gila Kak Ve ngamuk,” ucap Kak Desy.

“Iya gue sampe mau nangis, takut gue sumpah….” sambung Cindy.

Pintu kamar terbuka dan Kak Siska sudah menghapus air mata nya meski mata nya memerah.

“Kak Ve ngamuk ? pengen liat,” ucap Kak Siska.

“Eh gara gara lu tuh, gue sampe jantungan kena bentak bidadari,” ucap Kak Desy menimpali omongan Kak Siska.

“Ye maaf,” jawab Kak Siska.”Udah ayo ke bawah aja nggak enak sama yang lain”

“Kak maaf ya soal tadi, aku nggak tahu apa apa tentang Chris jadi aku nggak punya hak buat ngomongin dia,” ucap Christi.

“Nggak apa apa kok, mungkin aku aja yang terlalu berlebihan. Aku juga minta maaf yang buat kalian kena marah Kak Ve, pasti serem orang kayak Kak Ve marah,” jawab Kak Siska.

Kami pun kembali ke bawah untuk melanjutkan pesta ulang tahun yang sempat terhenti, ada semacam suasana aneh yang terasa saat kami kembali. Tapi semua kembali ceria saat Kak Kinal yang bercanda soal Kak Ve yang tadi marah, semua orang tertawa karena mungkin semua tak menyangka jika Kak Ve bisa seseram itu.

“Maaf ya tadi aku marah, aku nggak maksud ngebentak kalian kok,” ucap Kak Ve yang datang menghampiri kami.

“Hmmm… maafin nggak ya,” ucap ku berpura pura tak ingin memaafkan Kak Ve.

“Yah kok gitu sih…, Jinan maafin dong,” bujuk kak Ve.

“Iya nih, aku juga nggak mau maafin kak Ve,” ucap Kak Desy yang ikut ikutan.

Cindy dan Christi pun ikut ikutan berpura pura marah kepada kak Ve, sesuatu yang sangat aneh mengingat sebenarnya kak Ve tak salah apa apa. Tetapi mungkin ekspresi bingung nya yang mengemaskan terlalu bagus untuk dilewatkan, tapi kami akhir nya memaafkan kak Ve karena tak mungkin kami bisa terus berpura pura marah kepada nya, terlebih kak Kinal yang sudah datang membantu.

Setelah kami puas melihat ekspresi bingung seorang bidadari akhir nya pesta berlanjut ke acara puncak yaitu tiup lilin, setelah lagu ulang tahun selesai kami nyanyikan lilin pada kue black forest itu pun ditiup.  Tapi sekali lagi bukan ekspresi bahagia yang muncul diwajah kak Siska, ekspresi bingung yang kembali muncul saat Chris muncul ditengah tengah pesta.

“Chris ? apa yang kau inginkan.?”

“I want that cake,” ucap nya.

Footnote.

schrodinger’s cat : sebuah ungkapan untuk menjelaskan keadaan yang bisa dan tak bisa terjadi disaat bersamaan.

Sheldon : Sheldon Cooper salah satu tokoh dari TV series The Big bang Theory.

Oshihen : apakah aku benar benar harus menjelaskan ini ?

Iklan

Satu tanggapan untuk “Weird Love, Part 4 : Pesta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s