Pengagum Rahasia 2, Part 22

Di sisi lain bukit, tempat event berlangsung…

*Krekez-Krekez~

“Kamu udah beli crepesnya 3x, kayaknya harus aku kasih bonus nih,”

“Hehe, makasih ya Elaine, habisnya enak sih,” *AM!

“Ah, bisa aja kamu yup,”

“Kak andelanya mana?”

“Andela em…,”

“Mungkin lagi ke toilet,” lanjutnya

“Toilet? Di bukit ini juga ada toilet!?”

“Ya pasti ada lah, ini kan tempat umum. Tapi toiletnya agak jauh, kalau gak salah tempatnya di bawah,”

“Eh, mau aku bantuin gak kocokin krim?”

“Gak usah deh yup, lagian gampang ini kok,”

“Gak apa-apa, aku gak ada kerjaan nih. Mana gak ada temen lagi,”

“Hem, kalau mau bantu mending kamu masuk-masukin selainya aja deh ke gelas,”

“Oke,” balas Yupi

Yupi masuk ke dalam kedai itu.

“Pas masuk sini jadi anget,”

“Kamu sih pake kaos gituan, ya dingin kan jadinya,”

“Ini kan kaos biasa len,”

“ya sama aja, di tambah lagi kamu gak bawa jaket,” Elaine tampak mengambil jaket yang di gantung itu

Lalu elaine memberikannya pada Yupi.

“Kamu care banget yah orangnya, hahaha…,”

“Eh gitu ya, hehe…,”

“Oke, selainya…,” Yupi mengambil selai yang ada di kardus itu

“Kalau dipikir-pikir, kita bisa kenal kayak gini sebenarnya gara-gara cowok yah, haha…,”

“Eh…Maksud kamu?” timbal Yupi

“Iya gara-gara aldo kan?”

“umm,” Yupi terdiam. “Iya,” tambahnya

“Jadi menurut kamu aldo itu orangnya kayak gimana yup?”

“Eng…,” Yupi terdiam

“aku gak tau, lagian kan dia udah pindah,”

“maksudnya sebelum dia pindah yuuup,” ucap Elaine

“umm…kamu jelas lebih kenal sama dia kan len, kenapa harus tanya aku?” timbal Yupi

“Loh? Maksudnya?”

“kan dia udah lama ngekos di tempat kamu,” ucap Yupi lagi

“Ah gak lama kok, cuma baru 1 tahun doang,”

“Satu tahun ya…,” ucap Yupi sambil terus memasukan selai-selai itu

“Kalau di ceritain dari awal sih…pas awal-awal ngekos dia tuh keliatannya kebingungan gitu,”

Pembicaraan mereka mulai menarik, Yupi pun semakin ingin tau dan pandangannya mulai tertuju ke arah Elaine.

“Waktu itu dia sampai 3x bulak-balik ke kosan aku,”

“Hah? M-Maksud kamu?”

“ya…jadi pas waktu itu…,”

            -Flashback-

Teng-Tong!

“Tunggu sebentar…,”

            Tak lama kemudian pintu itu pun terbuka.

“P-Permisi…Saya lagi cari kamar kos,”

“Oh ada-ada, Ayo masuk,”

Mereka masuk ke dalam rumah.

~oOo~

“Duduk dulu,”

“I-iya,” ucapnya dengan sangat sopan

Selagi lelaki itu menunggu, wanita tadi pun pergi entah kemana. Lelaki itu juga tidak tau apa yang sedang ia tunggu. Namun tak lama kemudian wanita yang tadi kembali datang, dan ia terlihat membawa temannya.

“Kak, nih orang yang mau ngekos,”

“Oh, cowok yah,”

“Hue!”

            Lelaki itu tiba-tiba terkejut.

“A-Anu! Saya minta maaf! Saya kira ini kosan untuk laki-laki, K-Kalau gitu saya permisi dulu!”

JDAK!

            Laki-laki itu langsung pergi.

-Flashback Off-

“Oh, jadi kosan kamu itu sebenarnya khusus cewek yah,”

“iya yup,”

“huh, aldo-aldo…padahal waktu itu aku gak sempet tanya nama dia,”

“Tapi kan ujung-ujungnya dia masih tetep ngekos di tempat kamu len,” ucap Yupi

“Nah, aku kan masih belum selesai cerita,” ucap Elaine

“Eng…,” Yupi menggaruk kepalanya

“yah…sekitar 5 jam setelah kejadian itu…,”

-Flashback-

Teng-Tong!

“Tunggu!”

Klek!

Pintu terbuka.

“A-Anu…apa saya boleh ngekos disini?”

“Eh? Kamu kan yang tadi?” ucapnya sembari melihat lelaki itu dari ujung kaki sampai ujung kepala

“I-Iya, maaf tadi saya sedikit gugup, jadi…,”

“Len ada apaan sih?” ucap seseorang di belakang

“Ini om, ada yang mau ngekos,”

“Oh, cowok yah?”

“Whaa! M-Maaf saya gak jadi ngekos!”

            Lelaki itu lari terbirit-birit.

“Loh!? Dasar cowok aneh!”

-Flashback Off-

“Kenapa dia malah lari!?” ucap Yupi

“yah, aku pikir kayaknya dia lari ketakutan gara-gara liat om Anto. Mungkin dia ngira kalau om anto bakal mukulin dia gara-gara bulak-balik terus,”

“Padahal kan om Anto juga ngekos di tempat aku,” tambah Elane

“Om Anto? Emang udah om-om ya?” tanya Yupi

“Sebenarnya masih kuliah sih, tapi aku biasa manggil dia Om. Dan juga muka dia emang keliatan serem sih, udah kayak bos mafia yang haus darah,”

“Hiih! Apaan sih, emangnya ada orang yang kayak gitu yah?”

“Ah, lupakan…,”

“Eh, om anto kan cowok? Tapi ngekos di tempat kamu?”

“yah, keluargaku sama keluarganya om anto udah saling kenal, bisa dibilang deket banget. Nah waktu dulu keluarga om anto udah banyak bantu permasalahan keluarga aku, btw keluarganya om anto itu dokter loh,”

“Hemm, terus?”

“orang tuaku pikir kayaknya mereka harus balas budi sama om anto, yaudah jadinya dia boleh ngekos di tempat aku, gratis lagi,”

“Owh…,”

“Em…,” Yupi terdiam sejenak

“Aku pikir cerita kamu masih belum beres len,”

“Emang,” balasnya

“Sehabis itu, sekitar 3 jam-an lah…,”

-Flashback-

Teng-Tong!

P-Permisi!”

JEGLEK!

            Pintu itu seperti di buka paksa.

“Ayo masuk!”

Tiba-tiba saja seorang wanita langsung menarik tangan lelaki itu dan langsung membawanya ke lantai atas.

“Tu-Tunggu sebentar kak!”

Ia terus di bawa menaiki tangga, dan pada akhirnya sampailah ia disebuah ruangan.

Ruangan itu adalah sebuah kamar yang tampak sederhana namun cukup luas.

“A-Ah…,”

Lelaki itu tampak masih shock, namun perlahan-lahan nafasnya kembali teratur.

Ia mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan yang ia bawa.

“Mulai sekarang ini jadi kamar kos kamu,” ucap wanita itu sembari memberikan kunci kamarnya

“E-Eh…,”

            Lelaki itu tampak masih malu-malu.

“M-Makasih ya, kak…,”

“Andela…,” ucapnya sembari mengulurkan tangan

“Panggil aku andela,”

“A-Andela…,” ucapnya dengan pelan

“Kamar kita sebelahan, jadi kalau kamu ngelakuin hal yang aneh-aneh, pasti bakalan kedengeran,”

“Hiiih! A-Aneh-aneh kayak gimana!?”

“Huh, lupakan…,”

Andela berbalik membelakangi lelaki itu.

“Oh, aku masih belum tau nama kamu,”

“Eh…,” lelaki itu terdiam

“Jawab!” bentaknya

“A-Aldo…,”

“Aldo yah…,”

“Dah, sampai ketemu lagi aldo,”

-Flashback Off-

“Semenjak saat itu, aku sadar kalau ci andela itu sebenarnya suka sama…,”

“GAK!” potong seseorang sembari menggebrak meja disana

“WEH!” Yupi dan Elaine terkejut

“Gak! Elaine kamu jangan bikin cerita yang gak masuk akal deh!”

“K-Kak Andela!” ucap Yupi yang wajahnya kaget itu

“Kapan datangnya!?” ucap Elaine

“Hah…Hah…Hah…,” Nafas andela begitu berat

“Keliatannya capek ya,” ucap Yupi

“Yupi!”

“Ueh! I-Iya kak kenapa!”

“Tadi kamu denger apa aja dari dia!” ucap Andela

“Ek…C-Cuma cerita tentang masa lalu aja kak,”

“Masa lalu gimana!”

“I-Iya tentang masa lalunya aldo,”

“Heh! Awas aja kalau kamu sampai cerita yang aneh-aneh!” ancamnya pada Elaine

“Ek-Nggak kok ndel, hehe…,” balas Elaine sembari menjulurkan lidahnya

“Permisi, crepesnya masih ada?”

“Oh, pelanggan…,” Elaine langsung memakai celemeknya

~oOo~

“Duuh…lumayan dingin juga tempatnya,” ucapnya sembari menggesekan tangannya di kedua bahunya

“Kamu sih Ve pake kaos kayak gitu. Padahal kamu sendiri yang bilang pengen ke bukit,”

“udah jangan di bahas! Aku gak apa-apa kok,” balasnya sembari memasang wajah cemberut

“Hem, kamu ini kayak anak kecil aja,”

Deva membuka jaketnya, kemudian memakaikannya pada Ve.

“Eh ada kursi,” Ve langsung pergi menuju kursi itu

“Tu-Tunggu sebentar Ve,”

*

*

Kini mereka duduk di kursi itu.

Ve terlihat sibuk memakai jaket itu agar terlihat rapih, dan juga ia terus saja menciumi bau di jaket itu.

“Bau deva…,” wajah Ve memerah

Namun berbeda dengan Deva…

“Hmm?” pandangan Ve tertuju ke arah Deva

“Sayang? Kamu lagi liatin apaan sih? Daritadi mata kamu keliatan fokus banget ngeliatin sesuatu,”

“Ah, enggak kok,” balasnya

“Kalau di pikir-pikir…banyak orang yang gak aku kenal disini, eh maksudnya banyak orang yang gak pernah aku liat sebelumnya,”

“Loh bukannya wajar yah, katanya kan acara ini sifatnya umum,” ucap Ve

“Meskipun umum, tapi kan yang ngadain acara ini anak OSIS SMA 48, aku pikir anak SMA 48 bakalan banyak yang datang,”

“Hemm…,” Ve juga ikut melihat-lihat semua orang disana

“sebenarnya sih banyak juga anak SMA 48, tapi yang gak aku kenal,” ucap Deva

~Plek!

Ve menyandarkan kepalanya di bahu Deva.

“Kamu tau dev, udah lama aku pengen kayak gini. Berduaan sama kamu, di tempat yang romantis gini,”

“Hemm…dasar pipi bakpaooo!” ucap Deva sembari mencubit pipi Ve

“Ish! Sakit tau!”

“Tempat romantis apaan coba, yang ada di sekeliling kita tuh bazar semua,”

“Tapi kan suasananya romantis dev,”

“Iya sih…,” pikir Deva

*Hep!

            Deva berdiri.

“Mau kemana sayang?”

“Tunggu sebentar, aku mau beli makanan dulu,”

“Eh…yaudah deh,”

~oOo~

“B-Bil…em…mending kita pulang yuk,”

“Banyak orang yang gak kita kenal disini,” ucapnya dengan suara pelan

“Duh shani, santai aja napa sih. Liat, kayak gitu cara anak muda ngabisin masa-masa liburannya,” ucap Nabilah sambil menunjuk

“Ek! M-Mereka kan lagi pacaran bil,”

“Iya aku tau! Gak lama lagi kita juga bakalan gitu shan,”

“A-AH! Eng…nggak bil! Aku malu!”

“Ayo kesana shan!” Nabilah menarik tangan Shani

“Tunggu bil!”

Shani tidak punya pilihan lain selain mengikuti Nabilah.

*

*

Kini mereka berdua berada di tempat bazar.

“Wah! Banyak makanan!”

“yaudah, kalau gitu kita istirahat dulu ya bil, sambil makan aja deh biar enak,” Shani tampak mengeluarkan dompetnya

“Oke shan!”

“Sebelum itu…hapus dulu iler kamu bil, malu di liatin orang,” bisik Shani

“Ayo shan kesana, ada yang jual sushi ternyata!”

“Ekh! Jangan buru-buru bil!”

Di tempat lain…

*

*

“Sin, kamu mau mochi yang rasa apa?”

“Huft…,” Sinka menarik nafas panjang. “Sinka beli sushi aja deh,”

“Oh, yaudah,”

Naomi tampak memberikan uang pada Sinka.

“Kakak tunggu disini yah, jangan lama-lama!”

“Iya-iya,” balas Sinka dengan wajah datarnya

~oOo~

Kedai Sushi 48…

“Ini kembaliannya dek,”

“Terimakasih ya pak…,”

Laki-laki itu memeriksa barang belanjaannya.

“10 biji cukup kagak yah,”

“Eh, atau malah kebanyakan lagi…,”

“Kalau salah beli bisa-bisa Ve malah ngomel lagi,”

“Hemm…dia juga udah nunggu daritadi kayaknya. Salah gw juga sih tadi pake nonton acara band dulu,”

“yah, palingan juga dia kembungin pipi kayak biasanya, Hahahaha!”

“Shani-Shani, cepetan! Nanti sushinya keburu abis!”

“I-Iya bil sabar!”

(Suara orang dari kejauhan)

“Eh?”

Tampak dua orang gadis yang datang ke kedai sushi tersebut.

“Nah-nah Shani, kita beli sushi yang biasa aja yah,”

“Eng…iyadeh bil,”

“Habis ini kita langsung cari makanan yang lain, oke?”

“Hmm…yaudah deh, eh geseran dong bil aku mau liat-liat,”

Saat gadis itu masuk ke dalam barisan, tanpa sengaja ia menubruk Deva yang sedari tadi tampak memperhatikannya.

*Duk!

“M-Maaf kak…,”

“Cih…bisa-bisanya ketemu di tempat yang kayak gini…,”

“Eh!?”

Mereka saling bertatapan.

“D-Deva!” gadis itu langsung menutup mulutnya

Wajahnya memerah dan ia tiba-tiba mundur menjauhi deva.

Namun deva tampak menghiraukannya dan ia pun pergi.

“Tunggu!”

“Eh?” Deva sedikit menoleh

“Huh? Kenapa shan?” ucap gadis di sampingnya

“A-Ada yang mau aku bicarain sama kamu dev,”

“He?” Gadis di sampingnya tampak kebingungan

“Shani…,” ucap Deva pelan

“Lain kali aja ya…,” tambahnya

DUK!

“Adu-duh…maaf ya mbak,”

Deva menubruk seseorang karena terburu-buru.

“De-Va…,”

“Hue! S-Sinka!?”

Pikiran deva mulai kacau, situasi yang benar-benar tidak di harapkan olehnya malah menjadi kenyataan.

Ia perlahan mundur menjauhi mereka.

~POV Deva~

“K-Kenapa bisa begini!? Kenapa gw bisa ketemu Sinka!? Selain itu kenapa Shani bisa ada disini juga!?”

“Gw harus cepet-cepet keluar dari situasi sialan kayak gini!” batinnya bertanya-tanya

***

Sinka sedari tadi masih menatap tajam ke arah Deva.

~POV Sinka~

“Deva…bukannya dia bilang gak akan datang ke eventnya…,”

“Tapi sekarang dia bener-bener ada di hadapan aku,”

***

“Loh, disitu kamu rupanya,”

“Eh!?” Deva menoleh kebelakang

“Duuh sayang! Kenapa lama banget sih beli makanannya!” ucap wanita yang memeluk deva dengan manja

“S-Sayang…,” Sinka tertunduk diam

“Eh, ada sinka juga ternyata, bareng-bareng Naomi yah,”

“I-Iya kak Ve,” balas Sinka

~POV Deva~

“Kenapa malah tambah kacau situasinya!”

“Pokoknya gw harus cari cara untuk keluar dari situasi mengerikan ini!”

“Di tambah lagi Ve…Eh, dia lagi ngeliatin apaan!?”

***

            Kini pandangan Deva tertuju ke arah Ve yang tengah melihat sesuatu di depannya.

~POV Ve~

“Cewek itu yang ada di galeri foto Handphonenya Deva!”

“Kenapa dia bisa ada disini!? Terlebih lagi Deva…,”

“Kenapa dia keliatan canggung di depan Sinka!? Sebenarnya ada apa ini!?”

***

Ve sedikit maju sambil memeluk tangan Deva.

~POV Shani~

“Umm…Ternyata aku emang gak mungkin bisa jadi pacar kamu dev,”

“Wanita itu keliatan lebih dewasa dibandingkan dengan aku yang hanya seorang siswi SMP biasa. Dia juga keliatannya lebih dewasa daripada kamu dev,”

“Dan juga wanita di depannya…,”

“Keliatannya dia masih seumuran sama Deva,”

“Kalau gini caranya…kamu gak akan pernah bisa bersaing sama mereka Shani!”

***

“Hoi-Hoi Shani? Kenapa kita malah diem disini sih?”

“A-Ah, maaf bil udah bikin kamu nunggu. Kalau gitu ayo kita pergi,”

“yaudah ayo cepetan! Aku udah lapar ini!”

“Em…Sampai ketemu lagi, Dev…,”

Mereka berdua pun pergi dari tempat itu.

“Nah, kalau gitu kita juga pergi dulu ya Sinka, bye-bye…,”

Ve menarik tangan Deva.

“Hei-Hei, jangan tarik-tarik bisa kan!”

“Duh sayang! Aku kan udah lapar! Kamu malah asik-asikan sendiri disana!”

(Suara mereka perlahan menghilang)

“Sekarang aku ngerti…,”

“Dia nolak ajakan aku karena dia udah punya janji sama seseorang, dan orang itu ternyata kak Ve…,”

“Di tambah lagi hubungan mereka berdua ternyata udah lebih dari sekedar teman, ternyata kamu berusaha untuk nyembunyiin itu dari aku ya? Cih!”

“Kak Ve…Dia juga cewek yang lumayan cerdik, tapi secara teknis dia udah main curang dan nyuri start duluan!”

“Whaaaaa! Kenapa kamu malah mikirin hal aneh kayak gitu sih Sinkaaaaaaa!”

Sinka langsung mengacak-ngacak rambutnya sendiri.

“Kenapa juga aku peduli sama (D)ia sih!”

“Tapi karena sekarang semuanya udah jelas! Aku harus selidiki mereka lebih lanjut lagi!”

#PadahalGakPeduliTapiDiselidikiLebihLanjut

~oOo~

“Yah, beruntung ada kursi kosong, ayo kesana sayang!”

“I-Iya deh,”

Mereka berdua pun duduk di kursi itu.

“Fyuh…Hampir aja. Beruntung Ve yang bikin gw keluar dari situasi berbahaya tadi,”

“Tapi kabar buruknya mereka semua jadi tau hubungan gw sama Ve, terutama Sinka…,”

“Tadi juga gw liat ada adeknya si Bayu, tapi kayaknya dia gak bakalan buat masalah. Yang jadi masalahnya itu Shani,”

“Tapi dari dulu dia udah gw anggap sebagai adik sendiri, gw juga gak punya rasa sama dia,”

“Eh, kalau dipikir-pikir semenjak kejadian waktu dia nembak gw…kayaknya dia jadi cembuu, dan mungkin nantinya bisa jadi masalah,”

“Ah! Itu kan cuma perasaan lu doang dev! Lupakan masa lalu!”

“Sayang? Kamu lagi sakit?”

“E-Eh, enggak kok Ve,”

“Kalau gitu buka mulutnya, aaaaa….,” Ve menyuapi Deva

“Duh gak usah di suapin Ve, aku ini bukan anak kecil,”

“Ish! Gak apa-apa dev! Kan biar keliatan romantis gitu,”

“Huft…iya deh,” *AM

            Mereka menghabiskan sushi itu bersama-sama sambil melihat pemandang dari atas bukit.

“Pertama cewek itu…Aku gak tau nama dia siapa, tapi gak lama lagi aku pasti bakalan cari tau,”

“yang kedua Sinka,”

“Apa ini cuma perasaanku aja ya? Apa mungkin Deva suka sama Sinka? Di liat dari mukanya tadi keliatan jelas kalau deva lagi nahan perasaannya,”

“Tapi Sinka keliatannya cuek. Yah…selagi Deva masih belum sadar kalau sebenarnya aku udah sembuh total, aku masih punya kesempatan untuk bikin hubungan ini jadi makin serius. Karena aku gak mau kehilangan kamu Dev,”

“Tapi kalau di pikir-pikir, rencanaku pura-pura lupa ingatan lumayan bagus juga. Aku gak nyangka Deva bakalan percaya,”

“Intinya aku sayang sama kamu dev, dan aku gak akan biarin kamu tinggalin aku,”

 

BERSAMBUNG…

Author : Shoryu_So

Iklan

3 tanggapan untuk “Pengagum Rahasia 2, Part 22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s