Vepanda part 22

Dokter itu hanya menghela nafas lalu melepaskan kedua tangan ayahnya Najong.

Semua orang di depan ruangan itu hanya bisa menatap dokter tadi dengan tatapan heran dan aneh.

“Itu dokter nggak bisa ngomong apa budek sih?” tanya Sinka sambil terus menatap dokter tadi dengan heran.

“Dua-duanya mungkin,” jawab Yupi yang juga menatap dokter tadi dengan heran.

Beberapa menit kemudian dokter itu kembali lagi.

“Maaf, tadi saya keburu-buru mau ke toilet jadi nggak sempet jawab pertanyaan bapak,” ucap dokter itu menghampiri ayah Najong.

“Anak bapak kalo boleh tau yang namanya siapa?” sambung dokter itu.

“Navis Najib dok,” jawab ayah Najong.

“Ohh…, kalo Navis sekarang udah baik-baik aja, cuma tulang tangannya aja yang retak,” ucap dokter itu tersenyum.

“Hah?!” mamanya Najong sangat terkejut mendengar ucapan dokter barusan.

“Retak dok?!” smabung mamanya Najong mendekati dokter.

“Tenang bu, tangan anak ibu bakalan baik-baik aja, palingan beberapa bulan lagi sembuh kok,” jawab dokter itu tersenyum.

“Aje gile lu?! Retak tulang lu bilang baik-baik aja!” batin Yupi sambil menatap dokter itu dengan kesal.

“Yaudah kalo gitu, saya mau masuk lagi ke dalam,” ucap dokter itu lalu mulai berjalan masuk.

“Eh dok! Kalo pasien yang satunya lagi gimana?!” tanya Melody mendekati dokter tadi.

“Ummm…, kalo pasien satunya lagi masih dalam proses,” jawab dokter itu lalu masuk lagi ke ruang UGD.

“Lagi proses?! Lu kira pesen makanan lagi proses!” batin Sinka menatap dokter itu dengan kesal.

“Kamu kenapa sih za!” Melody kembali duduk dan menangis.

“Tenang mel, kita berdo’a aja semoga Rezza nggak kenapa-napa,” ucap Naomi dudk di sebelah Melody dan memeluknya.

“Mau kemana sin?” tanya Yupi saat melihat Sinka melangkah pergi.

“Sholat sama berdo’a,” jawab Sinka tanpa menoleh ke arah Yupi.

“Aku ikut,” ucap Yupi lalu berlari menyusul Sinka.

“Kak Yupi!” teriak siswi SMP tadi.

“Apa vin?” tanya Yupi menoleh ke arah siswi SMP itu.

“Aku juga ikut!” jawab siswi SMP itu sambil berlari ke arah Yupi.

“Hai kak, aku Viny,” ucap siswi SMP itu sambil tersenyum ke arah Sinka.

“Sinka,” Sinka juga mencoba tersenyum ke arah Viny.

~oOo~

“Lama ya yup?” tanya Sinka menghampiri Yupi yang menunggunya di depan mushola.

“Iya gapapa kok,” jawab Yupi tersenyum.

“Viny mana yup?” tanya Sinka lalu duduk di sebelah Yupi.

“Lagi ke toilet,” jawab Yupi menoleh ke arah toilet mushola.

“Oiya sin, soal kemaren malem…, aku minta maaf ya,” sambung Yupi.

“Iya, gapapa kok, aku yang harusnya minta maaf udah bentak-bentak kamu,” ucap Sinka tersenyum ke arah Yupi.

Kemudian hening, mereka berdua saling terdiam dan menunduk.

“Ng,” ucap Yupi dan Sinka bersamaan.

“Kamu duluan aja yup,” ucap Sinka.

“Umm…, kamu udah tau belom kalo Ical itu adeknya mantan kamu?”

“Hah?! Yang bener kamu? Kamu tau dari mana?!”

“Kemaren, pas Rezza beantem sama mantan kamu, aku juga taunya pas kak Naomi marahin mantan kamu.”

“Kok kak Naomi bisa tau kalo ical adeknya kak jo, aku yang pacarnya dulu aja nggak tau.”

“Kalo itu aku juga gatau, kamu tanya sendiri aja sama kak Naomi.”

“Iya deh, ntar aku tanyain sama kak Naomi.”

“Oiya, tadi kamu mau ngomong apa?”

“Nggak, gajadi,” jawab Sinka lalu menunduk.

Setelah dua minggu lebih Rezza dan Najong dirawat di rumah sakit, akhirnya mereka diijinkan oleh dokter untuk pulang ke rumah.

Kini Rezza sedang duduk di kursi roda karena tulang lengan kanan dan kaki kirinya patah, sedangkan Najong berjalan di sebelahnya karena hanya tulang lengan kirinya yang retak.

“Bangkek! Tau gini mending waktu itu gue kaga bantuin elu, hahaha…,” ucap Najong sambil tertawa.

“Siapa juga yang nyuruh elu bantuin gue? Elu sendiri yang lari nendang tuh kampret, hahaha…,” Rezza juga tertawa.

“Ngomong-ngomong, kak Melody mana sih?! Lama amat ke toiletnya,” sambung Rezza.

“Yaelah, kaya kaga tau cewek aja lu.”

“Emang gue nggak tau cewek, gue kan masih polos, hahaha….”

“Polos pala lu sempak! Muka mesum gitu polos apanya?!”

“Yang penting kan perilakunya, muka mah nggak ikut campur, hahaha….”

“Serah lu dah! Bodo amat, gue mau nyamperin Yupi aja,” ucap Najong lalu mulai melangkah meninggalkan Rezza.

“Oi kampret! Jangan tinggalin gue!” teriak Rezza.

“Apaan sih?!” Najong menoleh ke arah Rezza dan menatapnya dengan kesal.

“Bantuin gue bego!” jawab Rezza sambil melambaikan tangannya dengan gemulai ke arah Najong.

“Arrrgghhh! Nyusahin aja lu!” ucap Najong lalu berjalan ke arah Rezza.

Kemudian Najong mendorong kursi roda Rezza dengan satu tangannya, mereka berdua berjalan menuju pintu masuk rumah sakit di mana Yupi, Sinka, dan Naomi menunggu.

“Kok berdua aja? Melody mana?” tanya Naomi sambil bangkit dari kursi lalu menghampiri Rezza dan Najong.

“Tadi katanya ke toilet, tapi lama banget, yaudah kita tinggal,” jawab Rezza.

“Eh-eh kak! Bantuin, aku gabisa ngeremnya!” ucap Najong dengan panik karena kursi roda Rezza terus berjalan ke arah Naomi.

Dengan cepat Naomi berlari ke arah Rezza dan menghentikan kursi rodanya.

“Ini pasti karma gara-gara kamu udah ninggalin kak Melody,” ucap Sinka sambil menghampiri Rezza, Najong dan Naomi.

“Nggak mungkin, ini cuma Najong aja yang bego, ngerem aja gabisa,” ucap Rezza sambil menatap datar ke arah Najong yang berdiri di sebelahnya.

“Elu udah dibantuin bukannya makasih malah ngatain, temen macam apa lu?!” Najong menatap Rezza dengan kesal lalu pergi menghampiri Yupi yang sedang tertidur.

“Jangan bangunin Yupi! Kasian, dia dari semalem nggak tidur,” ucap Naomi mencegah Najong yang hendak membangunkan Yupi.

“Najong hanya mengangguk lalu duudk di sebelah Yupi.

“Aku cari Melody dulu deh, kalian tunggu sini,” ucap Naomi lalu pergi meninggalkan mereka.

“Tangan sama kaki kamu gimana?” tanya Sinka sambil berjalan ke belakang Rezza.

“Udah lumayan lah, nggak terlalu sakit,” jawab Rezza tersenyum ke arah Sinka.

“Bagus deh kalo gitu,” ucap Sinka juga tersenyum ke arah Rezza.

“Jalan-jalan dulu yuk di luar,” sambung Sinka lalu mulai mendorong kursi roda Rezza.

“Gue keluar bentar, lu di sini aja,” ucap Rezza saat lewat di depan Najong.

Kemudian Sinka dan Rezza keluar dari gedung rumah sakit dan berjalan menuju taman rumah sakit yang ada di sebelah gedung utama.

“Bagus ya tamannya,” ucap Sinka saat ia dan Rezza berjalan di taman rumah sakit.

“Hmmm…,” Rezza hanya bergumam dengan pandangan kosong ke depan.

“Kamu kenapa?” tanya Sinka sedikit menunduk dan menatap wajah Rezza.

“Gapapa,” jawab Rezza memalingkan mukanya.

“Kamu kenapa sih?!” Sinka berjalan ke depan Rezza dan berjongkok di depannya.

“Gapapa, udah ayo jalan lagi,” jawab Rezza sambil menarik lengan Sinka agar ia berdiri.

Sinka kembali ke belakang kursi roda Rezza dan mendorongnya lagi.

Setelah berkeliling cukup lama, kini mereka berhenti di tengah taman untuk menikmati angin sore sambil melihat air mancur.

“Kamu kemaren kemana? Kok nggak keliatan,” tanya Rezza tanpa menoleh ke arah Sinka.

“Hah?” Sinka menoleh ke arah Rezza lalu bangkit dari kursi taman dan mendekatinya.

“Kenapa kamu tanya kaya gitu? Kamu kangen ya?” tanya Sinka sambil membungkuk dan tersenyum di depan Rezza.

“Nggak juga, pengen nanya aja,” jawab Rezza memalingkan wajahnya.

“Kamu kenapa sih?!” Sinka menolehkan kepala Rezza dan menatapnya dengan heran.

“Kamu yang kenapa! Kenapa kamu ngelakuin itu?!” bentak Rezza sambil melepaskan tangan Sinka dari wajahnya.

“M-maksut kamu apa?” tanya Sinka dengan muka panik dan ketakutan.

“Gausah pura-pura bego! Kamu pikir aku gatau kamu ngapain aja kemaren?!”

“Pura-pura bego gimana sih?! Aku beneran nggak tau maksut kamu apa!”

“Kak Naomi kasih tau aku semalem kamu ngapain aja kemaren!”

“Hah?!” Sinka terlihat begitu terkejut dengan ucapan Rezza.

“Kenapa?! Kamu pikir kita semua gatau tingkah kamu berubah?! Kata kak Naomi tingkah kamu mulai aneh sejak aku sadar!”

Sinka hanya tertunduk dan mulai menteskan air mata.

“Maaf,” ucap Sinka sambil terus menangis di depan Rezza.

“Buat apa kamu minta maaf sama aku?! Minta maaf sana sama keluarganya Jo!”

“Aku takut! Aku takut masuk penjara.”

Tangisan Sinka yang semakin keras membuat beberapa orang yang sedang berada di sekitar memperhatikan mereka.

 

Flashback on

Suasana malam yang dingin karena gerimis tidak membuat tekat Sinka berubah, ia tetap keluar malam itu meski Naomi dan mamanya sudah melarangnya.

Sinka pergi sendirian malam itu dengan motor, namun tanpa ia sadari Naomi mengikutinya dari belakang menggunakan mobil.

“Sinka mau kemana sih malem-malem gini?” batin Naomi saat mengikuti Sinka dari belakang.

Beberapa menit kemudian Sinka berhenti di sebuah taman, ia turun dari motornya dan berjalan dengan cepat ke arah tempat yang kurang pencahayaan. Meskipun tempat itu kurang pencahayaan, Naomi masih bisa melihat dengan samar-samar kalau di tempat itu ada beberapa orang yang sedang berkumpul.

Naomi pun keluar dari mobil dan mengendap-endap mengikuti Sinka, ia melihat Sinka berhenti sebentar di dekat tempat orang berkumpul tadi. Sinka terlihat memakai sedang sebuah masker lalu mengeluarkan sesuatu dan menaburkannya di tempat ia berdiri.

Beberapa saat kemudian Sinka kembali berjalan ke tempat orang berkumpul tadi, Naomi yang melihat Sinka mulai berjalan langsung berjalan ke tempat Sinka berdiri tadi untuk melihat apa yang tadi Sinka taburkan di situ.

Naomi sedikit terkejut saat melihat ada banyak sekali paku payung kecil di tempat itu.

“Buat apa Sinka naburin paku payung di sini?” batin Naomi sambil menatap taburan paku payung itu dengan heran.

“Arrrgghh!!” terdengar teriakan seseorang dari kumpulan orang tadi.

Naomi langsung menoleh ke arah kumpulan orang itu dan ia sangat terkejut dengan apa yang terjadi di sana, terlihat Sinka sedang memukul seseorang dengan tongkat baseball. Beberapa orang yang tadinya berkumpul di sana langsung berteriak dan lari ketakutan, hanya satu orang yang masih di sana, yaitu orang yang sedang Sinka pukuli.

Orang itu kadang merintih dan berteriak perlahan saat Sinka mengayunkan tongkat baseball ke tubuhnya, Naomi hanya bisa menatap adiknya yang sedang menganiaya seseorang dari kejauhan, kakinya seolah terasa berat untuk menghampiri dan menghentikan aksi adiknya.

Saat Sinka berhenti memukuli orang itu, Naomi pun langsung lari ke mobilnya dan pergi dari tempat itu, sedangkan Sinka sedang tersenyum puas melihat orang yang dipukulinya itu sudah tidak bergerak sama sekali.

Dengan begitu banyak darah ditangan dan bajunya, Sinka berjalan ke motornya dan pergi.

~oOo~

“Kenapa mi? kok lari-lari gitu?” tanya Melody yang melihat Naomi sedang berlari ke arahnya.

Naomi membungkuk di depan Melody untuk mengatur nafasnya.

“Rezza,” ucap Naomi yang terlihat masih kelelahan.

“Rezza? Kenapa Rezza?” tanya Melody menatap Naomi dengan heran.

“Dia lagi tidur nggak?”

“Enggak kayaknya, ada apa sih?!”

“Gapapa, aku mau bicara bentar sama Rezza.”

Kemudian Naomi berjalan masuk ke ruang tempat Rezza di rawat.

“Za,” ucap Naomi sambil memasuki ruangan itu.

“Eh kak Naomi, ada apa kak?” tanya Rezza sambil tersenyum ke arah Naomi.

“Sinka za,” jawab Naomi dengan ekspresi ketakutan.

“Kenapa Sinka?” Rezza menatap Naomi dengan heran.

Kemudian Naomi menceritakan semua kejadian yang tadi dilihatnya, meskipun ia agak takut menceritakan kejadian tadi namun ia tetap memberanikan diri untuk menceritakannya.

“Masa sih Sinka kaya gitu?” batin Rezza setelah Naomi selesai bercerita.

“Za!” ucap Naomi sedikit berteriak.

“Eh iya, ada apa kak?” tanya Rezza menoleh ke arah Naomi.

“Terus ini gimana? Aku malah jadi takut sama adek aku sendiri,” tanya Naomi dengan wajah ketakutan.

“Mmmm…, gimana ya? aku juga bingung kak mau gimana,” jawab Rezza sambil nyengir.

“Oiya, selain aku sama kak Naomi, siapa lagi yang udah tau?” sambung Rezza.

“Nggak ada, cuma kamu sama aku,” jawab Naomi sambil duduk di kursi sebelah ranjang Rezza.

“Kalo gitu coba kak Naomi tanya aja sama Sinka kenapa dia ngelakuin itu.”

“Gile muke! Aku cerita sama kamu aja gemeteran, gimana mau nanya langsung sama Sinka?”

“Hmmm…, argumen yang bagus.”

“Serius dong za! Ini nggak becanda!”

“Aku serius kak, siapa juga yang lagi becanda.”

“Arrrgghhh! Kamu sama sekali nggak nolong za!”

“Ini aku juga lagi mikir kak,” ucap Rezza dengan muka datar.

Kemudian hening, Rezza berbaring di atas ranjangnya sambil berpikir bagaimana menyelesaikan masalah ini, sedangkan Naomi terlihat masih shock, ia hanya diam sambil meletakkan kepalanya di pinggir ranjang.

“Hai kak!” terdengar suara orang sedikit berteriak di luar ruangan Rezza.

“Sinka!” ucap Naomi dan Rezza bersamaan.

“Rezza lagi apa kak?” tanya Sinka.

“Gatau, lagi ngobrol mungkin sama Naomi,” jawab Melody.

“Aku ke dalem dulu ya kak,” ucap Sinka lalu mulai melangkah ke ruangan Rezza.

“Pura-pura tidur kak cepetan!” suruh Rezza sambil menundukkan kepala Naomi ke pinggir ranjang.

“Sayang,” ucap Sinka perlahan sambil masuk ke ruangan Rezza.

“Lohh… udah tidur ternyata,” sambung Sinka.

Kemudian Sinka keluar lagi dari ruangan Rezza dan menghampiri Melody.

“Kok keluar lagi sin?” tanya Melody menatap Sinka dengan heran.

“Udah tidur Rezza sama kak Naomi,” jawab Sinka dengan nada kecewa.

“Yaudah besok lagi aja kamu ke sini,” ucap Melody sambil tersenyum.

Sinka hanya mengangguk lalu duduk di sebelah Melody dan menyandarkan kepalanya ke bahu Melody.

Flashbak Off

 

“Aku punya tebak-tebakan buat kamu,” ucap Rezza tanpa melihat ke arah Sinka.

“Apa?” tanya Sinka sambil menoleh ke arah Rezza dan menghapus air matanya.

“Layang-layang kalo ada angin kenceng terus benangnya nggak kuat, gimana?” tanya Rezza dengan tetap menatap air mancur di depannya.

“Benangnya pu,”- Sinka menoleh dan menatap Rezza dengan wajah sedih -“Kamu mau kita putus?”

*to be continue*

Author: Luki Himawan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s