Psycho Detected

kbh

Peringatan 17+:

Cerita ini mengandung adegan kekerasan, penyiksaan, dan tindakan sadis. Bagi yang berumur dibawah 17 tahun, dilarang keras membacanya.

 

Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama, tokoh, karakter dan tempat hanya kebetulan dan untuk hiburan semata.

 

~oOo~

 

Seorang gadis tengah berlari dengan tergesa-gesa menyusuri tepian jalanan ibukota yang sangat sepi. Dibawah lampu penerangan jalan yang menyala, gadis itu berhenti sambil mengatur deru nafasnya yang tersengal-sengal. Kemudian dia duduk memeriksa keadaan disekitarnya. Sunyi senyap. Itulah yang dia lihat sekarang. Gadis itupun menghela nafasnya.

 

“Mencariku?”

 

Suara tersebut mengagetkan gadis itu. Dia menoleh kearah sumber suara yang tepat berasal dari belakangnya. Sontak gadis itu terperanjat. Kini di depannya terlihat seseorang menggunakan pakaian serba hitam, serta topeng mengerikan yang menutupi wajahnya.

 

“J.. Ja.. Jangan… Aku mohon…” Gadis itu memohon pada orang tersebut. Air matanya pun mengalir deras.

 

Orang itu berjalan perlahan mendekati gadis itu. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya. Sebilah golok.

 

Dalam keadaan duduk, gadis itu mundur perlahan, berusaha untuk menjauh dari orang itu. Orang itu terus berjalan mendekati gadis itu, sambil menggesekan ujung bilah goloknya ke aspal jalanan.

 

“A.. Aku.. Aku minta maaf.. A.. Aku mohon.. Jangan bunuh aku..”

 

Orang itu berhenti tepat di depannya. Lalu dia menempelkan bilah golok itu ke pipi si gadis. Sontak gadis itu bergidik karena bilah goloknya yang dingin. Ditambah lagi suasana jalanan yang sangat sepi menambah kesan dingin bagi siapa saja yang berada disini.

 

Golok yang sedari tadi menempel di pipi gadis itu, kini bagian ujungnya yang tajam menempel tepat dibagian letak jantung gadis itu berada. Gadis itu menggelengkan kepalanya, memohon pada orang itu agar jangan sampai goloknya menancap ke jantungnya.

 

“Please… Jangan…”

 

Orang itu sedikit menekan ujung goloknya yang tajam, sehingga membuat si gadis sedikit merasa kesakitan. Gadis itupun tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

 

“Aku bisa jelasin semuanya.. Aku….”

 

Belum sempat menyelesaikan omongannya, ujung bilah golok itu langsung menancap tepat dibagian jantungnya. Gadis itu terbelalak, mulutnya pun menganga. Darah mengalir deras dan menimbulkan banyak noda merah pada kemeja putihnya. Orang yang menancapkan golok tadi mencabut goloknya, sehingga tubuh gadis itu tergeletak tak bernyawa. Kemudian orang tersebut jongkok sambil menatap si gadis yang sudah tak bernyawa.

 

“Kau tidak akan pernah mengerti.”

 

Orang itu mengeluarkan sesuatu dari dalam jaket hitamnya, sebuah kartu As bergambar daun talas warna hitam yang sudah diberi tulisan diatasnya. Kemudian kartu itu dia taruh diatas perut gadis itu. Setelah itu, dia pun pergi meninggalkan gadis itu yang telah menjadi mayat.

 

~oOo~

 

Mentari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Cahayanya mulai menerangi apa yang ada di permukaan bumi, termasuk kehidupan di dalamnya. Manusia yang merasakan cahaya mentari tersebut mulai terbangun dari dunia mimpi mereka dan bersiap untuk memulai hari. Kecuali seorang gadis yang masih asik berpetualang di dunia mimpinya.

 

Tak lama, terdengar suara alarm dari jam weker yang terletak diatas meja dekat dengan kasurnya. Gadis itu perlahan membuka mata, karena suara tersebut telah merusak alam mimpinya. Dia mengulurkan sebelah tangannya kearah jam weker tersebut dan mematikannya. Perlahan tapi pasti, gadis itu bangkit, kemudian duduk diatas kasurnya.

 

“Huahhhh…. Sudah pagi ternyata.” Gadis itu merentangkan tangannya, berusaha untuk meregangkan otot-ototnya.

 

“Duh, lapar. Sarapan dulu ah.”

 

Gadis itu turun dari kasurnya dan berjalan keluar kamarnya. Sebelum itu, dia melihat keadaan disekitar kamarnya.

 

“Hufft. Berantakan sekali. Nanti saja deh diberesinnya.”

 

Gadis itu kini sudah berada di meja makan dan melihat sebuah tudung saji diatasnya. Dia pun membuka tudung saji itu. Betapa kecewanya dia tak mendapati makanan sedikitpun diatas meja, yang dia temukan hanyalah sepucuk kertas berwarna putih dan ada sedikit tulisan diatasnya. Diambilnya kertas itu dan dibacanya.

 

“Desy, hari ini mamah dan papah harus buru-buru berangkat ke Jepang karena ada tugas dari kantor yang harus dikerjakan. Mamah dan papah sudah berangkat sejak jam 04.00 tadi. Kami akan pulang sekitar 3 bulan dari sekarang. Kamu baik-baik ya di rumah, semua persediaan makanan ada di kulkas, mamah juga udah nambahin uang jajan ke rekening kamu. Baik-baik ya di rumah. Kami menyayangimu :* “

 

Gadis itu menghela nafasnya, kemudian meremas-remas kertasnya dan membentuknya menjadi seperti bola, lalu melemparnya ke sembarang tempat.

 

“Selalu saja begini, nggak ada waktu buat aku! Desy cuma pingin bisa menghabiskan waktu bersama..” keluh gadis yang bernama Desy itu.

 

Dia tampak kesal dengan perlakuan orang tuanya yang tidak pernah ada waktu berkumpul bersamanya, karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Hal tersebut harus membuatnya hidup sendirian di rumah ini tanpa ada yang menemani. Sebenarnya Desy mempunyai seorang adik yang sangat disayanginya dan selalu menemaninya di rumah, tapi dia sudah meninggal karena sakit leukemia yang dideritanya.

 

Awalnya, Desy merasa sangat terpukul dan depresi karena harus menerima kenyataan bahwa adiknya meninggal. Bahkan, dia sempat ingin bunuh diri agar bisa bertemu dengan adiknya. Untungnya hal itu bisa dicegah oleh orang tuanya. Perlahan, dia menyadari bahwa tidak ada gunanya jika terus bersedih, hingga akhirnya dia mulai menerima itu semua dan kembali menjalani hidup normal walau orang tuanya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.

 

Desy berjalan kearah kulkas dan melihat makanan apa saja yang dapat dia makan hari ini. Dia mengambil beberapa potongan daging sapi dan meletakkannya di meja dapur.  Kemudian, dia menyalakan sebuah radio diatas meja tersebut. Sambil mendengarkan suara dari radio itu, dia pun mulai memasak.

 

“Breaking News pagi ini: Telah ditemukan mayat seorang wanita ditepian Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan.”

 

Desy menghentikan aktivitas memasaknya saat dia tengah memotong-motong daging. Dia mendengarkan dengan seksama apa yang sedang diberitakan di radio.

 

“Tidak ada yang tahu pasti siapa nama dari korban, karena polisi tidak menemukan identitas apapun dari korban. Diduga tewasnya korban akibat dibunuh seseorang, terlihat dari luka tusukan yang terdapat di dada kirinya. Diduga korban ditusuk menggunakan benda tajam. Mayat korban ditemukan oleh seorang pejalan kaki yang sedang melintas menuju tempat kerjanya. Menurut keterangan polisi, diduga korban dibunuh saat malam tadi. Sayangnya, tak ada saksi mata yang melihat kejadian ini. Sampai saat ini, polisi masih mencari siapa pelaku pembunuhan ini. Sekian Breaking News pagi ini. Saya Chikita Ravenska melapor dari tempat kejadian.”

 

“Hufft. Zaman sekarang masih ada saja tindakan pembunuhan dimana-mana. Sekarang kan sudah reformasi, harusnya tindak pembunuhan seperti ini tidak banyak terjadi,” ucap Desy sambil memotong daging sapi.

 

“Coba saja kalau di dunia ini tidak ada hal seperti itu, pasti dunia akan damai dan tenteram.”

 

Ting.. Tong.. Ting.. Tong..

 

Suara bel rumah tiba-tiba berbunyi, mengagetkan Desy saat sedang memotong daging. Untung saja pisau yang digunakannya tidak mengenai tangannya. Desy meninggalkan aktivitas memasaknya sejenak dan berjalan ke pintu depan. Dia melihat melalui lubang kecil pada pintu itu untuk memastikan siapa yang datang berkunjung ke rumahnya. Setelah itu, Desy membuka pintu rumahnya.

 

“Eh… Shani. Ada apa kemari?” sapa Desy pada sosok wanita berambut panjang dan berkulit putih.

 

“Hai, Desy. Nggak kok, cuma pingin main saja kesini,” balas Shani tersenyum.

 

“Oh, yasudah sini masuk.”

 

Desy mempersilahkan Shani masuk ke dalam rumahnya dan mempersilahkan Shani duduk di sofa ruang tamu.

 

“Kamu mau minum apa?”

 

“Apa saja, Des, yang penting bisa menyegarkan tenggorokan.”

 

“Oke, tunggu bentar ya.” Desy kembali menuju dapur untuk membuatkan minuman. Setelah itu, dia kembali ke ruang tamu dan menaruh minumannya di meja. Perbincangan hangat pun dimulai agar suasana pagi tak terlalu sepi.

 

“Kamu udah dengar berita pagi ini tentang pembunuhan seorang gadis?” tanya Shani sambil menyeruput minumannya.

 

“Aku baru saja mendengarnya tadi. Katanya, tidak ada yang mengetahui siapa pelakunya karena tidak ada saksi mata yang melihat kejadiannya.” Shani mengangguk perlahan mendengar perkataan Desy.

 

“Ya, kau benar. Polisi bahkan kesulitan menemukan siapa pelakunya, dan juga barang bukti senjata tajamnya saja tidak ditemukan.”

 

Desy mendengarkan perkataan Shani dengan seksama. Dia tampak mengira-ngira bagaimana hal itu bisa terjadi. Desy juga tidak menyangka kalau pembunuhnya masih berkeliaran diluar sana.

 

“Tapi ada satu hal ganjil yang tidak disebutkan di berita,” ucap Shani tiba-tiba.

 

Desy menaikkan sebelah alisnya. Dia nampak heran dengan yang dikatakan Shani. “Apa itu?”

 

“Jika kamu melihat beritanya di televisi, maka kamu akan menemukan sebuah kartu As bergambar daun talas hitam diatas perut si korban.”

 

“Kartu As?” Desy semakin heran dengan yang dikatakan Shani.

 

“Ya. Aku rasa kartu itu ada kaitannya dengan si pembunuh, karena di kartu tersebut terdapat sebuah tulisan.”

 

“Tulisan apa?”

 

Shani kembali mengambil gelas minumannya dan meminumnya. Kemudian dia kembali berbicara.

 

“Entahlah, aku tidak begitu jelas melihatnya. Yang jelas, polisi tidak menyadari tentang kartu As itu. Mereka menganggap bahwa kartu As itu dibawa si korban.”

 

Desy menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa yang dia duduki. Dia seakan tidak percaya dengan maksud perkataan Shani. Namun, Shani berbicara seperti itu berdasarkan fakta yang ia temukan lewat berita di televisi. Fakta yang membuatnya semakin kebingungan.

 

~oOo~

 

Di tempat lain. Disebuah ruangan tertutup, terlihat seorang pemuda tengah memperhatikan seorang perempuan yang tak diketahui namanya yang kini sudah tergeletak tak bernyawa tanpa sehelai benang pun. Pemuda itu memperhatikan perempuan itu mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki sambil menggerakkan pisau ditangannya ke setiap lekuk tubuh perempuan itu.

 

“Hmmm… Kau memang terlihat cantik, tapi sayang kau harus mati ditanganku,” ujar pemuda itu kepada mayat perempuannya.

 

Pisau yang tadi dia gerakan ke setiap lekuk tubuh mayat itu, kini berhenti tepat dibagian perutnya. Pemuda tersebut menekan pisau itu sehingga langsung menembus masuk kedalam perutnya. Lalu, dia mulai merobek secara lurus perut mayat itu kearah samping. Kemudian, dia mulai membuka robekan itu lebar-lebar menggunakan kedua tangannya yang sudah dibalut sarung tangan karet berwarna putih.

 

Perlahan tapi pasti, pemuda itu memasukkan tangannya dan mulai meraba-raba setiap organ yang ada dalam perut perempuan itu. Dia pun mendapatkan organ yang diinginkan, sebuah hati. Setelah mendapatkan organ hati, pemuda itu kembali mengambil pisaunya dan memotong secara perlahan organ hati tersebut. Hati yang sudah dipotongnya, lantas dia angkat perlahan agar tidak rusak. Kemudian meletakkannya kedalam box berisi es.

 

Pemuda itu terus mengeksplor bagian dalam tubuh perempuan itu. Sampai akhirnya ia mendapatkan organ tubuh lainnya seperti, ginjal, jantung dan paru-paru. Tidak lupa dia menaruh semua organ tersebut kedalam box berisi es.

 

Pemuda itu beristirahat sejenak sambil duduk di kursi dekat meja di ruangan tersebut. Dengan wajah tanpa ekspresi, dia menatap tubuh perempuan itu yang keadaanya sudah tidak utuh lagi. Banyak darah yang mengelilingi tubuh perempuan itu, begitu juga bercak darah yang mengotori tangan pemuda itu. Dia melepas sarung tangannya dan mengambil kain lap yang ada di meja, kemudian mengelap tangannya.

 

Drrtt… Drrtt.. Drrtt..

 

Ponsel pemuda itu tiba-tiba bergetar diatas meja. Dia pun mengambil ponselnya. Rupanya ada yang meneleponnya. Kemudian, dia menjawab panggilan itu.

 

“Halo.”

 

“Kau sudah menyiapkan barangnya?”

 

“Ya. Baru saja aku beres menyiapkannya.”

 

“Bagus. Malam nanti kita bertemu di tempat biasa. Bawa barangnya, nanti akan kuberikan bayarannya beserta sedikit barang yang baru saja aku dapatkan.”

 

“Kau berikan bayarannya saja, barangnya untukmu saja. Aku tidak tertarik dengan barangmu, itu membuatku mual jika kumakan.”

 

“Baiklah kalau begitu. Kita bertemu malam nanti.”

 

“Oke.”

 

Pemuda itu menutup kembali panggilan ponselnya dan menaruh ponselnya kembali keatas meja. Pemuda itu menyandarkan badannya di sandaran kursinya, lalu diapun tersenyum sambil menutup mata sejenak.

 

~

 

Malam pun tiba. Pemuda itu tengah memanaskan mobilnya di garasi rumahnya, bersiap untuk bertemu dengan seseorang yang tadi siang meneleponnya. Pemuda itu memasukan box yang sudah diisi beberapa organ tubuh manusia kedalam mobilnya. Setelah semua siap, dia mulai memacu mobilnya ke tempat pertemuan.

 

Sebuah gedung bertingkat terbengkalai yang proses pembangunannya tidak selesai adalah tempat pertemuan pemuda itu dengan seseorang yang meneleponnya tadi siang. Gedung itu terlihat sangat mencekam jika dilihat di malam hari, apalagi tidak ada lampu yang menerangi, ditambah lagi disekitar gedung itu tumbuh rumput-rumput liar yang menambah kesan mencekamnya. Orang yang datang kesini pasti merasa ketakutan dibuatnya.

 

Kini pemuda itu telah sampai di tujuan. Dia memarkirkan mobilnya di depan gedung itu dan turun dari mobilnya sambil membawa box-nya. Pemuda itu menghampiri seseorang yang tengah asik duduk di depan api unggun sambil memakan sesuatu di mulutnya.

 

“Hey,” sapa pemuda itu dan duduk disebelah orang itu.

 

Orang tersebut menoleh kearahnya sambil mengunyah sesuatu dimulutnya. “Akhirnya kau datang juga, Ar.”

 

“Cih. Kebiasaanmu masih sama sejak waktu kita masih pacaran dulu, masih suka menyantap daging itu, Nju.”

 

“Cih. Jangan ungkit-ungkit lagi masa lalu kita.” Orang itu mengambil potongan daging yang sudah dibakarnya di api unggun dan menawarkannya pada pemuda itu. “Mau?”

 

Pemuda itu menggelengkan kepala. “Tidak, terima kasih.”

 

“Ini barang yang kau minta.” Pemuda yang dipanggil Ar oleh orang itu memberikan box-nya kepada orang disebelahnya yang dia panggil Nju.

 

Orang yang berada disebelah Ar ternyata adalah seorang gadis. Ar tampak tidak terlalu terkejut karena dia sudah mengenalnya sejak dulu, bahkan mereka sempat menjalin kasih satu sama lain.

 

Nju membuka box itu dan memeriksa isinya dengan teliti. “Jantung, hati, paru-paru, dan ginjal. Oke, semua sudah lengkap.” Nju kembali menutup box-nya. Lalu dia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam tasnya dan diserahkannya pada Ar.

 

Ar mengambil amplop itu dan memeriksa isinya. “Hmmm, banyak sekali uang yang kau berikan. Dapat dari mana uang sebanyak ini?”

 

“Tuh.” Nju menengadahkan kepalanya kearah tubuh seorang pria yang tergeletak tidak jauh dari api unggun. Kondisi tubuh pria itu terlihat sangat mengenaskan, kaki, tangan dan kepalanya sudah terpotong dari badannya. Badannya juga terdapat banyak robekan akibat benda tajam, ditambah lagi sebagian isi perutnya keluar sehingga organ bagian dalamnya terlihat jelas.

 

“Aku dapat dari orang itu.”

 

Ar menaruh amplopnya kedalam saku jaketnya. “Siapa dia?”

 

“Dia adalah seorang dosen di kampusku.”

 

“Kenapa kau membunuhnya?” Ar menaikkan sebelah alisnya.

 

“Aku tidak suka dengan dia. Si bajingan itu selalu menggodaku jika sedang kelas. Bahkan, pernah suatu hari dia mau memperkosaku, untung saja aku bisa melawan.” Nju mengambil potongan daging terakhir yang masih dibakar di api unggun, lalu memakannya.

 

“Lantas bagaimana caramu membunuhnya?”

 

“Aku sengaja mengajaknya kencan di hotel dan dia mau. Tetapi aku tidak benar-benar membawanya ke hotel, malah aku bawa dia kesini. Terus aku langsung bunuh dia deh, aku potong-potong tubuhnya dan dagingnya aku bakar di api unggun. Lalu aku makan sendiri sambil nunggu kamu datang.”

 

Ar terlihat manggut-manggut mendengarkan penjelasan Shania.

 

“Sebelum aku bunuh bajingan itu, aku terlebih dahulu menguras semua isi dompetnya dan juga rekeningnya. Tapi sialnya ada seseorang yang melihat aksi membunuhku.”

 

“Terus kau bunuh juga?” tanya Ar memiringkan kepalanya.

 

Nju menggelengkan kepalanya. “Tidak. Orang itu aku tangkap dan aku ikat disana, agar dia tak memberitahu polisi soal ini.”

 

Nju menunjuk kearah seorang wanita yang terbaring di lantai dengan tangan yang terikat tali. Kelihatannya wanita itu tidak sadarkan diri, terlihat dari tidak ada pergerakan dari wanita itu.

 

Ar menoleh kearah wanita itu. “Sebaiknya kita bunuh saja wanita itu, lalu kita jual organ tubuhnya kepada pimpinan kita.”

 

Nju mengambil potongan daging yang masih mentah disampingnya dan melemparnya ke api unggun. “Kau jangan gila. Pimpinan kita tidak mau membelinya jika korban bukan berasal dari kalangan pejabat negara. Dia akan membelinya dengan harga yang lebih mahal dibanding aku membeli padamu saat ini.”

 

“Bukankah kita memang sudah gila, membunuh orang kemudian menjual organ tubuhnya demi menghilangkan jejak?”

 

“Iya juga sih.”

 

Mereka berdua terdiam, tidak ada percakapan lagi diantara mereka. Ar hanya memperhatikan Nju yang sedang membolak-balikan daging yang sedang dibakarnya. Dalam lubuk hatinya, Ar merasa jijik melihat orang yang memasak daging manusia, apalagi kini didepannya Nju sudah makan lagi potongan daging yang baru saja dibakarnya. Ar merasa mual, namun berhasil dia tahan.

 

“Aku tahu kamu pasti merasa jijik melihat aku yang seperti ini. Tapi kenapa ya kok bisa dulu kita pacaran?” ucap Nju tiba-tiba.

 

“Bukannya kamu bilang sendiri jangan ungkit-ungkit lagi masa lalu kita, kenapa sekarang kamu yang malah ungkit-ungkit?”

 

“Hehehe.” Ar menghela nafasnya, lalu menggelengkan kepalanya.

 

“Nju, sebaiknya kita bunuh wanita itu. Sepertinya dia sudah sedikit sadar.” Ar bangkit berdiri dan mulai berjalan mendekati wanita itu.

 

Nju juga berdiri dan ikut menghampiri wanita itu. “Oke, tapi aku boleh ya mengambil sedikit organ tubuhnya.”

 

“Terserah kau saja.”

 

Wanita yang baru sadar itu langsung terkejut melihat dua orang dihadapannya. Dengan tangan yang masih terikat, wanita itu berusaha menjauh dari Ar dan Nju. Namun usahanya gagal, karena Ar sudah menancapkan pisaunya ke kaki wanita itu. Wanita itu berteriak kesakitan akibat luka tusukan di kakinya.

 

“Hey, cantik.” Nju kini duduk tepat disamping wanita itu. “Kau sudah sadar rupanya.”

 

“K.. Ka.. Kamu.. Apa yang akan kamu lakukan padaku?” ucap wanita itu diikuti tetesan air yang mengalir deras dari matanya.

 

“Cup.. Cup.. Cup.. Jangan nagis. Kita bakalan bikin kamu nyaman malam ini.” Nju mulai menyeka air mata wanita itu dengan tangannya. Tangis wanita itu semakin menjadi-jadi, membuat Nju menjadi kesal melihatnya.

 

“Kamu berisik banget sih!!”

 

Nju mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya, kemudian menggoreskannya dalam-dalam ke leher wanita itu. Darah segar terciprat keluar, sehingga mengenai tangan dan sedikit wajahnya. Wanita itu kejang-kejang akibat darah yang terus mengalir keluar dan dia juga menjadi kesulitan bernafas. Ar tidak tinggal diam, dia pun menancapkan pisaunya kearah jantung wanita itu dan sedikit mengoyaknya. Akibatnya, tubuh wanita itu berhenti mengejang sampai akhirnya tewas.

 

“Nah, begini kan lebih baik,” kata Ar sambil mencabut pisaunya dari jantung wanita itu.

 

“Kamu sadis juga, hihihi,” ujar Nju cekikikan. “Seperti kembali ke masa lalu, iya kan?”

 

“Hah… Kau ini.”

 

Ar merobek perut wanita itu dan mengorek-orek isi perutnya. Dia berusaha mengambil salah satu organ dalam tubuh wanita itu. Setelah dia dapat, lantas memberikannya pada Nju.

 

“Nih, buat kamu.”

 

“Wih, organ hati. Terima kasih ya.” Nju tersenyum.

 

“Hmm.”

 

Ar mengeluarkan sebuah kartu As bergambar daun talas hitam yang diatasnya tertulis “AR 22” dari saku jaketnya. Lalu menaruhnya diatas luka tusukan dibagian dada kiri wanita yang baru saja ia bunuh.

 

“Loh, kamu nggak mau jual organ tubuhnya?” tanya Nju heran.

 

“Untuk apa? Dijual juga hanya bisa dapat sedikit karena wanita ini bukan dari kalangan atas. Lebih baik tinggalkan saja dia disini,” jawab Ar.

 

“Ohh. Oke deh.”

 

Nju mengeluarkan sebuah kartu bergambar seorang ratu dengan simbol belah ketupat merah dan huruf Q didekatnya. Diatas gambar ratu tersebut tertulis “NJU 18”. Lantas diapun menaruh kartu itu tepat diatas luka goresan di leher wanita itu.

 

“Ayo, kita pulang.”

 

~oOo~

 

Siang hari disebuah kampus ternama di ibukota, Desy sedang duduk di bangku taman kampus. Desy terlihat sedang melamun, memikirkan sesuatu. Entah apa yang sedang dipikirkannya, yang jelas sudah dua jam lamanya dia berdiam diri disitu. Panas terik matahari tidak menyurutkannya untuk tetap bertahan di taman itu. Sampai akhirnya, datang seorang gadis kearahnya dengan tergesa-gesa.

 

“Desy…. Hosh… Hosh…. Hosh….” Gadis yang baru datang itu mengatur nafasnya.

 

“Ada apa, Shani?” tanya Desy heran.

 

Shani mengatur nafasnya kembali dan mulai berbicara. “Kasus pembunuhan terjadi lagi, kali ini korbannya dua orang.”

 

Desy menghela nafasnya. “Hah…. Basi, kasus pembunuhan mulu. Nggak ada kasus yang lain apa?”

 

“Ishhh…. Dengerin dulu kalau orang lagi ngomong.” Shani menoyor kepala Desy sedikit membuatnya terdorong ke samping.

 

“Hehehe. Maaf.”

 

“Nih, kamu baca deh koran hari ini.” Shani menyerahkan koran edisi hari ini kepada Desy. “Polisi akhirnya mulai menyadari tentang kartu yang ada diatas tubuh korban.”

 

Desy mulai membaca koran itu. Matanya tertuju pada berita utama yang ada di halaman depan. Desy membaca berita itu dengan teliti tanpa ada satu katapun yang terlewat, agar dia dapat menemukan banyak informasi soal berita itu.

 

“Iya, Shan. Polisi akhirnya mulai sadar akan kartu itu, terus korbannya sekarang ada dua orang dan pembunuhan itu terjadi tadi malam disebuah gedung tua,” ucap Desy sambil menutup korannya. Matanya mendelik seakan tidak percaya kalau kasus pembunuhan itu terjadi lagi.

 

“Aku juga lihat beritanya di televisi dan akhirnya, aku bisa melihat dengan jelas tulisan di kartu itu,” kata Shani.

 

“Jadi, tulisan apa itu, shan?”

 

“Kalau tidak salah tulisannya itu…” Shani berfikir sejenak, mencoba mengingat tulisan yang ada di kartu itu.

 

“AR 22 dan NJU 18, itu tulisannya yang ada di kartu itu.”

 

“Apa itu?”

 

“Entahlah. Tulisan itu masing-masing ada di kartu yang berbeda, berarti ada 2 kartu dengan gambar dan tulisan yang berbeda. Anehnya, kartu-kartu itu hanya terdapat di mayat wanita. Sementara di mayat pria yang badannya sudah tidak utuh lagi, tidak ditemukan kartu yang serupa.”

 

Desy menjadi sangat heran dengan apa yang dijelaskan Shani. Dia seakan tidak percaya dengan fakta tersebut.

 

“Aku berfikir kemungkinan pembunuh tadi malam itu berjumlah dua orang.” Shani memdelikkan matanya kearah Desy.

 

“Kenapa kamu berpikiran kayak gitu?” Desy memiringkan kepalanya.

 

“Entahlah, aku cuma mengatakan apa yang terlintas dipikiranku.”

 

Desy menghela nafasnya, lalu dia bangkit berdiri dari tempat duduknya. “Sebaiknya kita masuk kelas saja, daripada terus memikirkan soal kasus itu.”

 

“Oh iya ya.” Shani bangkit berdiri dan mulai mengikuti Desy yang sudah berjalan duluan ke kelasnya.

 

Matahari sudah terbenam di ufuk barat, kini Desy baru saja keluar dari lingkungan kampusnya, bersiap untuk pulang ke rumahnya. Dia duduk di halte depan kampusnya menunggu bus datang yang akan mengantarnya pulang.

 

Sambil menunggu bus datang, dia memainkan smartphone-nya sambil menenggak sekaleng kopi dingin kedalam mulutnya.

 

“Apa yang diucapkan Shani tadi siang itu benar? Aku masih tidak percaya, tapi dia mengatakan itu berdasarkan fakta,” pikir Desy yang masih tidak percaya dengan yang dikatakan Shani.

 

Tak lama, bus yang ditunggunya pun datang dan berhenti tepat di depannya. Desy pun masuk ke dalam bus dan bus pun berangkat.

 

Desy langsung mengambil posisi duduk di bagian tengah. Suasana di dalam bus sangat sepi, hanya ada tiga orang selain Desy dan supir bus. Dua orang diantaranya duduk di bangku depan dekat supir, sedangkan satu orang lagi duduk di bangku paling belakang.

 

Desy tak terlalu memperdulikan keadaan disekitarnya, hingga akhirnya dua orang yang duduk di bangku depan datang menghampirinya. Desy merasa sedikit khawatir karena dua orang itu bertampang seperti preman, banyak luka codetan di mukanya.

 

“Ini dua orang kenapa kesini? Sial, perasaanku tidak enak,” batin Desy.

 

Dua orang itu kini sudah berdiri disamping tempat duduknya. Salah seorang dari mereka langsung duduk disamping Desy.

 

“Malam, neng. Sendirian aja, nggak takut apa?” ucap seseorang disebelahnya.

 

“Permisi, saya mau turun disini.” Desy berusaha beranjak dari tempat duduknya, namun tiba-tiba lengan Desy dicengkram secara kasar oleh orang itu dan menahannya agar tidak beranjak dari tempat duduknya. Akibat cengkraman orang itu, Desy sedikit merasa kesakitan.

 

“Hahaha, mau kemana cantik? Jangan buru-buru dong,” ucap orang yang mencengkram lengan Desy.

 

“UGHHH!!! LEPASIN!!” teriak Desy.

 

“Wow wow wow.. Dia galak juga cuy,” kata seorang lagi yang berambut gondrong yang berdiri disebelahnya.

 

“Hahaha. Iya cuy, cantik tapi kok galak.”

 

“Gimana kalau kita bersenang-senang sebentar.”

 

Orang disebelah Desy menempelkan telapak tangannya ke pipi Desy. Desy meronta agar tangan orang itu tidak menjalar ke bagian tubuhnya yang lain. Cengkraman orang itu di lengannya semakin kuat. Jika Desy terus meronta, cengkraman pada lengannya semakin kuat.

 

“TOLONG!!!! LEPASIN!!! TOLONG!!!” teriak Desy meminta pertolongan.

 

Sayang, di dalam bus ini tidak ada orang yang bisa menolongnya. Orang yang duduk di bangku belakang hanya diam saja, mungkin dia tertidur. Sedangkan si supir bus tampak tidak memperdulikan dengan kejadian dibelakangnya.

 

PLAK!! PLAK!! PLAK!!

 

Orang itu menampar Desy sebanyak 3 kali. Desy mengerang kesakitan akibat tamparan tadi. Air matanya mulai mengalir deras keluar.

 

“JANGAN BERISIK!!” bentak orang itu. “Percuma kau teriak, tak akan ada yang bisa menolongmu!!”

 

“To.. To.. Tolong… Lepasin aku.. Jangan ganggu aku…”

 

“Hahaha.. Oke, gue lepasin. Tapi setelah kita bersenang-senang terlebih dahulu.” Orang itu mulai menjulurkan tangannya kembali, kali ini tangannya mengarah kebagian dada Desy. Desy tak bisa berbuat apa-apa lagi, dia pasrah dengan apa yang akan terjadi setelahnya.

 

JLEB!!!

 

Orang itu tiba-tiba tergeletak dipangkuan Desy. Desy sangat terkejut melihatnya, terlebih lagi di kepala orang itu sudah menancap sebuah pisau yang membuat orang itu tewas seketika dengan darah yang mengalir deras keluar dari kepalanya. Teman orang yang tewas tadi hanya melotot tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia tidak menyadari akan kejadian itu karena terjadi begitu cepat.

 

“Hahaha. Kelihatannya kau bingung kenapa temanmu bisa mati, ya, preman laknat?” ucap seseorang yang duduk di bangku paling belakang.

 

Preman itu menoleh kearah orang yang berbicara tadi. Desy juga menoleh kearah orang itu yang kini sudah berjalan menghampiri preman itu.

 

“Si.. Siapa kau?!” tanya preman itu bersiap untuk melawan orang itu.

 

“Aku?” Orang itu sudah berada di depan preman itu. Orang itu melirik Desy yang terlihat masih terisak dan ketakutan. Lalu dia tersenyum dan mengambil pisau yang menancap di kepala preman tadi. Kemudian orang itu kembali menghampiri preman yang tadi.

 

“Kau tidak perlu tahu siapa aku.”

 

Orang itu langsung menancapkan pisaunya ke leher preman itu. Pisau di lehernya itu dia gerakan kearah samping membuat banyak darah terciprat keluar mengenai tangan dan sedikit wajahnya.

 

“ARGHHHHH!!!”

 

Preman itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari orang itu. Sayang sudah terlambat, orang itu menekan semakin dalam pisaunya ke leher preman itu, sehingga pisau itu menembus sampai ke bagian belakang lehernya. Tak puas sampai disitu, orang itu kembali menggerakan pisaunya kearah samping, sehingga kepala preman itu terputus dari badannya. Kepala preman itu jatuh menggelinding ke lantai bus. Darah menyemprot keluar dari dalam tubuh preman itu, lalu tubuh preman itu jatuh ke lantai bus. Desy yang masih duduk di bangkunya, hanya bisa melongo dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahwa orang itu membunuh dua preman tadi.

 

“Hah…. Dasar preman amatir.”

 

Orang itu menginjak kepala preman yang tadi dia potong, lalu memainkannya seperti bola. Kemudian dengan satu tendangan, kepala preman tadi meluncur dan menabrak kaca depan bus. Supir bus merasa terkejut dengan adanya kepala yang menggelinding didepannya. Lalu supir bus itu menepikan busnya ke tepi jalan.

 

“Hah?! Kenapa ada kepala manusia disini?!” ucap supir bus.

 

“Aku yang melakukannya.”

 

Si supir bus terkejut melihat orang itu yang sudah berjalan kearahnya sambil membawa pisau. Si supir bus pun berusaha untuk melarikan diri. Namun, dengan cepat orang itu menjambak rambut si supir dan menyeretnya ke bangku supir.

 

“To.. Tolong…” rintih si supir bus.

 

“Hahaha. Minta tolong katamu?” Orang itu menampar-namparkan pisaunya ke pipi si supir bus. “Kau meminta tolong, tapi kau sendiri tidak memberikan pertolongan pada gadis yang duduk disana. Gadis itu hampir diperkosa oleh dua preman laknat tadi.”

 

“A.. Aku.. Aku tidak tahu kalau mereka akan memperkosa gadis itu. Aku…. UGHHH!!!”

 

Orang itu menancapkan pisaunya ke bahu kiri si supir bus.

 

“Kau jangan bohong.” Si supir bus menggelangkan kepalanya.

 

“Ohh…. Biar kutebak. Kau bersekongkol dengan dua preman tadi ya? Hehehe.” Orang itu kembali menancapkan pisaunya ke bahu kanannya.

 

“ARGGHHHHH!!!”

 

“Jangan harap kau mendapatkan pertolongan. Orang sepertimu lebih baik mati.” Orang itu menancapkan pisaunya ke mata kiri si supir. Darah mengalir deras dari mata kirinya. Si supir berteriak kesakitan. Bagaimana tidak sakit kalau mata kalian ditusuk oleh pisau?

 

“ARGHHHH!!!”

 

Tak puas sampai disitu, kemudian orang itu menancapkan pisaunya ke mata kanan si supir. Si supir meronta-ronta kesakitan berusaha untuk melepaskan diri. Kali ini sudah dipastikan si supir bus tidak bisa melihat lagi. Lalu dengan kasarnya orang itu mengoyak-ngoyak bagian mata kanannya sehingga bagian matanya menjadi tidak utuh lagi. Setelah itu, orang itu menancapkan pisaunya ke atas kepala si supir. Si supir bus pun langsung tewas.

 

“Hah…. Merepotkan saja.”

 

Orang itu mencabut kembali pisaunya dan menghampiri Desy yang masih duduk terpaku melihat kejadian barusan. Matanya masih tertuju kearah depan. Dia shock. Orang itu kini sudah berada di bangku depan Desy. Orang itu tersenyum kearahnya.

 

“Hai.”

 

Desy semakin shock dengan orang yang berada dihadapannya, apalagi orang itu menyapa kepadanya. Desy takut jika dia akan bernasib sama dengan dua preman dan supir bus tadi. Dia terus menangis terisak.

 

“Hei, jangan nangis. Aku tidak akan menyakitimu.”

 

Orang itu berusaha untuk menyeka air mata Desy. Desy semakin ketakutan. Pandangannya mulai menghitam. Kemudian semuanya menjadi gelap.

 

END (?)

Jangan bercanda! :v

 

Created by AR 22

Iklan

5 tanggapan untuk “Psycho Detected

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s