KATAOMOI, FINALLY, Part 3

1475238897644

 

“yaudah deh yuk, tapi kakak itu juga mau ikut?” Tanya Anin menunjuk ke arah Fajar yang baru tiba, lalu Adi langsung menoleh ke belakang

“loh jar lu ngapain?” Tanya Adi

“gua mau ikut juga hehe mau jagain Shani, emang lu doang yang bisa, iya gak Shan” ujar Fajar sambil melihat ke arah Shani, lalu shani hanya tersenyum ke arah Fajar

Sedangkan Melati, Michelle, Yansen, Feni, dan Yuriva kebingungan melihat tingkah temannya yang aneh. Lalu mereka berangkat menggunakan mobil Michelle dan mobil ayahnya Anin,

“mas lu ngapain sih dari tadi main hp terus?” Tanya Deni yang matanya masih melihat ke layar TV dan memenekan nekan stick PS

“iya lu ada temen juga disini malah asik sendiri, yak yak terus ronaldo menendang daaaannn GOOOOLLLLL!!!” teriak Willy berdiri dari tempat duduknya dan langsung berlarian memutar kamar Dimas

“aaiiiissshh suee pake kalah gua” ujar Deni sambil melempar stick PSnya

Sedangkan dimas melihat Willy langsung mengkerutkan dahinya

“lah lu ngapa wil?” Tanya Dimas heran

“menang gua bro lawan Deni dari tadi susah lawan dia” ucap Willy kembali memainkan PSnya

Lalu dimas kembali memainkan handphnonenya melanjutkan chattingnya dengan Veranda sembari tiduran di kasur

Veranda : kamu lagi ngapain mas?”

Dimas : lagi tiduran aja nih, sambil lihat teman-teman ku main PS

Veranda : teman kamu lagi main di rumah?

Dimas : iya

Veranda : siapa aja?

Dimas : banyak, ada Deni, Willy, Fajar, Adi, Melati, Michelle, Yuriva, Feni, tapi yang cewenya lagi pada jalan-jalan Fajar sama Adi juga ikut

Lalu pesannya hanya di read saja oleh Veranda kemudian Dimas bergabung bermain PS bersama teman-temannya

Sementara itu Melati dan yang lainnya sibuk memilih milih baju di sebuah mall yang cukup terkenal di Jakarta, sedangkan Fajar dan Adi hanya menunggu mereka di luar sambil membawakan belanjaan mereka semua

“iihh cewe cewe itu lama banget sih di dalam, bête gua” ujar Fajar menggerutu

“sabar bro yang penting bisa jalan bareng doi haha” ujar Adi

Setelah puas berbelanja mereka menuju sebuah restoran untuk makan sejenak dan mengistirahatkan tubuh mereka.

Sementara dirumah Dimas…

“Dimas ada teman kamu nih mas” teriak ibunya Dimas dari bawah

Lalu Dimas dan yang lainnya saling menatap satu sama lain bertanya-tanya siapakah yang datang , kemudian Dimas langsung turun ke bawah menghampiri ibunya

“siapa bu..” ucap Dimas terputus setelah melihat seseorang yang datang kerumahnya

Lalu Ve tersenyum ke arah Dimas dan Dimas terdiam..

“hai, kok diam sih?” ucap Veranda mendekatkan diri, sekarang mata mereka berdua saling bertatap membuat jantung Dimas berdebar-debar

“siapa mas..” ucap Willy yang baru sampai langsung terdiam setelah melihat seorang wanita sudah berada di ruang tamu rumah Dimas, lalu Veranda semakin heran kepada 2 orang pria ini yang melihat dia  seketika terdiam dan menatapnya

“hei, kalian kenapa sih? Hello” ucap Veranda menyadarkan Dimas dan Willy

“hah? Gak apa-apa kok” jawab mereka berdua bersamaan

Lalu Willy langsung pergi kembali ke kamar Dimas

“kamu tau darimana rumahku?” Tanya Dimas

“hehe ada deh” jawab Ve tertawa kecil

Dimas hanya membalas dengan senyuman kemudian mereka mengobrol di ruang tamu

“siapa Wil?” Tanya Deni kepada Willy yang baru tiba di kamar dengan raut wajah mengherankan

“si Veranda datang” jawab Willy yang duduk lalu terdiam menatap kedepan

“terus kenapa muka lu begitu?” Tanya Deni dengan menatap muka Willy

“dia cantik banget bro, kok bisa ya Dimas dapet cewe yang kayak gitu, ‘badai’” ucap Willy langsung mencengkram kerah baju Deni dengan mata melotot, lalu Deni kaget berusaha melepaskan tangan Willy

“iya tapi tangan lu gak usah kayak gini, gak bisa napas gua anjir” ucap Deni

Lu harus liat den kebawah” ucap Willy

“gak ah males gua, udah pernah liat di kampus” ucap Deni cuek lalu kembali memainkan PSnya

“tapi dia kali ini bener-bener cantik den” ucap Willy meyakinkan Deni

“gak ah, lagian itu gebetan Dimas awas lu ya naksir juga kebangetan lu” ucap Deni

“mungkin aja sih gua naksir” ucap Willy sambil mengambil stick PS yang di depannya

Deni yang mendegar ucapan Willy langsung menatap sinis ke arah Willy

“awas aja lu beneran, gua cekek leher lu, udah ada Yuriva lu bego ngapain deketin cewe orang” ucap Deni kesal

“hahah ya gak lah den haha bercanda gua” ucap Willy cengengesan

Mereka berdua melanjutkan bermain PSnya

Tak terasa hari sudah sore yang habis berbelanja dan jalan-jalan pulang dengan membawa belanjaan yang begitu banyak

“eh ada Ve, kapan datang Ve?” Tanya Melati setelah masuk kedalam melihat Veranda yang sudah ada di ruang tamu bersama Dimas

“tadi siang me, abis dari mana? Wah abis belanja ya, banyak banget belanjaannya” ucap Ve sambil melihat belanjaan yang di pegang Melatih

“iya nih, Ve aku masuk kedalam dulu ya. Ciee haha” ucap Melati meledek Ve lalu Ve hanya tertawa kecil

Di dalam mereka langsung membongkar belanjaan mereka, memilah milah belanjaan milik mereka sendiri yang sudah tercampur dengan yang lainnya

“waahh belanja besar nih kayaknya” ucap ibu sambil duduk di antara mereka

“hehe iya bu, kapan lagi belanja kayak gini haha” ucap Anin

Setelah itu mereka langsung bersiap siap untuk makan malam..

*****

Waktu menunjukkan pukul 07.15 aku masih tertidur di kasur kamarku, terdengar bunyi handphone yang terus menerus berbunyi, dengan mata masih tertutup aku mencari-cari suara handphone itu dan akhirnya kudapatkan langsung ku angkat teleponnya

“halo, siapa?” ucapku dalam telepon yang masih setengah sadar

“halo Dimas lu dimana? Kaga kuliah lu, sekarang kelasnya pak Komar buruan” ucap seseorang dibalik telepon

“HAH? Demi apa lu? Ok ok gua otw” ucapku langsung mematikan telepon dan melihat ke arah jam dinding di kamarku

Mampus gua udah jam 7, telat dah ini ucapku dalam hati sambil buru-buru berganti pakaian dan pergi ke kampus

“Dimas sarapan dulu nak” ucap ibu berteriak ke arahku yang buru-buru ke bagasi

“gak usah bu di kampus aja, udah telat nih, Dimas berangkat ya bu, assalamualaikum” balasku dengan teriak juga dan langsung menyalakan mesin motorku tancap gas ke kampus

Di perjalanan aku terus menerus melihat berulang kali ke arah jam tangan ku dan mempercepat jalannya sepeda motorku. Sampai di kampus aku langsung memarkirkan motorku dan langsung berlari ke kelas, setelah sampai depan kelas kulihat sudah ada pak Komar yang sedang mengawasi siswa yang sedang persentasi, dengan menghela napas panjang kemudian aku mengetuk pintu

TOK..TOK…TOK….

“permisi pak, maaf saya telat” ucapku saat memasuki kelas, seketika kelas hening begitu melihat aku masuk kelas dengan rambut acak-acakkan, masih muka bantal, baju alakadarnya, lalu pak Komar yang melihatku langsung berdiri melipat tangannya

“dari mana saja kamu Dimas? Jam segini baru datang?” Tanya pak Komar

“maaf pak, saya ketiduran” jawabku menunduk

“ketiduran? Di kelas juga kamu sering ketiduran, kalau kasih alasan tuh yang masuk akal Dimas” ucap pak Komar sambil menarik rambut jambang ku, seketika aku berjinjit menahan sakitnya rambutku di tarik

“adadadadadadadahh pak sakit pak” ucap ku berjerit kesakitan

“sekarang kamu lari lapangan” ucap pak Komar

“sekarang pak?” Tanya ku

“gak tunggu saya jadi presiden!” ucap pak Komar dan seisi kelas tertawa semua

“oh gitu berarti nanti ya pak” ucapku dengan polosnya

“SEKARANG DIMAS” bentak pak Komar

Seketika aku langsung berlari keluar menuju lapangan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun karna saking kagetnya di bentak oleh pak Komar

“berapa  putaran ya tadi?” ucapku lalu aku langsung berbalik badan kembali ke kelas

“maaf pak berapa putaran ya pak?” ucap ku yang tiba-tiba membuka pintu kelas lalu seisi kelas kembali tertawa saat melihatku balik lagi ke kelas

“makanya saya belum selesai bicara jangan main lari aja kamu, 5 putaran sekarang” ucap pak Komar

“maaf pak, makasih ya pak” ucapku langsung menutup pintu dan menuju lapangan

Sampai di lapangan aku berhenti di pinggir lapangan dan berbicara dalam hati buset lapangan kampus apa GBK gede banget, 5 putaran lagi, tambah kurus dah gua ucapku kemudian menghela napas panjang dan mulai berlari memutari lapangan itu

“Ve ve itu bukannya Dimas ya? Dia lagi di hukum?” jawab seseorang wanita yang berjalan bersama Ve

“gak tau mel, iya kali tadi pagi aku chat gak di balas sama dia” jawab Ve kepada temannya yang bernama Melody sambil melihat Dimas berlari memutari lapangan

“DIMAS” teriak Ve memanggil dimas yang sedang focus berlari, lalu Dimas menoleh ke arah sumber suara

Mampus gua ve liat lagi batinku dalam hati, lalu ku membalasnya dengan senyuman lalu berhenti  di depan ve

“hah..hah..ada apa ve?” jawabku ngos ngosan

“kamu ngapain lari lapangan?” Tanya Ve

“aku telat, jadinya di hukum deh sama dosen aku” jawabku

“hhmm pantes pesanku gak di balas-balas sama kamu” ujar Ve

“hehe maaf ya. Udah ya aku mau lari lagi ntar di marahin” ucapku dan langsung kembali berlari

“DIMAS, SEMANGAT YA” teriak Ve memberikan ku semangat lalu aku membalas mengacungkan jempol sambil berlari

Ve dan temannya pun pergi meninggalkan lapangan. Sudah satu jam aku berlari akhirnya selesai langsung saja aku tiduran di pinggir lapangan mengistirahatkan badan ku dan memejamkan mataku sebentar

Setelah memejamkan mata di cahaya matahari tiba-tiba langit terlihat gelap tidak ada cahaya matahari di atas mataku kemudian aku membuka mataku

“lho Ve kamu ngapain?” ucapku kaget setelah membuka mata terlihat Ve sudah berada di depanku aku langsung bangun dari tidurku

“kamu yang ngapain disini? Tidur kok di lapangan” ucap Ve yang langsung duduk di depanku

“hehe istirahat lah sebentar cape abis lari” ucapku

“nih aku bawain minum, aku lihat tadi kamu abis lari gak minum” ucap Ve menyodorkan minuman botol kearah ku

“iya, makasih ya” aku langusng saja menerimannya dan langsung meminumnya

Ve pun tersenyum melihat aku meminum minuman darinya, aku yang sadar dari tadi di tatap oleh Ve langsung menghentikan minumku

“kenapa Ve ngeliatnya begitu banget?” ucapku

“hhmm gak apa-apa kok” jawab Ve sambil tersenyum

Lalu kami berdua bercakap-cakap di pinggir lapangan itu, tertawa bersama, terlihat semakin dekat dengan Ve.

“kenapa me, kok berhenti sih?” Tanya Yuriva menghampiri Melati yang berhenti berdiam menatap lapangan,

Kemudian Melati masih memandang lapangan itu tidak menjawab pertanyaan Yuriva, lalu Yuriva ikut melihat ke lapangan itu

“lho itu kan Dimas kan sama si Veranda, ngapain dia berdua disana?” Tanya Yuriva, lalu Melati masih terdiam

Akhirnya air mata jatuh ke pipi Melati membuat Yuriva tambah bingung disaat seperti ini apa yang harus dia lakukannya,  Melati menjatuhkan botol minum yang ia pegang kemudian pergi berlari meninggalkan Yuriva

“Me.. Meme lu kenapa” teriak Yuriva menyusul Melati dari belakang,

Terikan Yuriva terdengar oleh Dimas dan Veranda membuat mereka berdua menoleh ke samping, lalu Dimas melihat Melati berlari sambil menangis langsung saja Dimas berdiri mengejar Melati meninggalkan Veranda disana, namun kejaran Dimas itu terlambat Melati sudah berlari menjauh darinya, lalu ia lihat botol minum yang Melati bawa terjatuh di pinggiran lapangan Dimas pun mengambilnya dan melihat kedepan kearah Melati berlari

“ada apa mas?” Tanya Ve menghampiri Dimas

“kayaknya Melati tadi lihat kita deh” ucap Dimas cemas sambil memegang botol minuman

“lah terus kenapa kalau Melati lihat kita?” Tanya Ve lagi

“aku juga gak tau, sebentar ya aku ke kelas dulu” ucap ku langsung berlari meninggalkan Ve di pinggir lapangan

“DIMAS” teriak Ve memanggilku yang berlari meninggalkannya

 

“me lu kenapa?” Tanya Yuriva saat sampai di taman belakang terlihat Melati sedang menangis

“Yuri” panggil Melati langsung memeluk Yuriva, tentu saja itu membuat Yuriva tambah bingung

“Me lu kenapa? Cerita sama gua” ucap Yuriva menenangkan Melati namun Melati tetap terus menangis di pelukan Yuriva

Lalu datanglah Christi, Yansen, dan Acha menghampiri mereka berdua dain langsung bergabung

“Meme kenapa Yuri?” Tanya Christi

“gak tau, abis lihat Dimas berdua sama Ve langsung kayak gini” ucap Yuriva masih memeluk Melati yang sedang menangis

“apa? Meme liat Dimas sama Ve berduaan?” ucap Acha kaget setelah mendengar jawaban dari Yuriva

“iya cha, emang kenapa sih?” Tanya Yuriva kebingungan

“kan Meme suka sama Dimas va” sambung Yansen berbisik kepada Yuriva saat itu Yuriva langsung kaget karna baru mengetahui kalau selama ini Melati suka sama Dimas

“lu serius?” balas bisik Yuriva

“iya va gua emang suka sama Dimas” jawab Melati sambil melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya

“sejak kapan tapi me?” Tanya Yuriva menatap Melati

“udah lama va, pas masih semester 1” ucap Melati

“semester 1? sekarang kita sudah semester 4 berarti udah 2 tahun yang lalu me?” Tanya Yuriva kaget saat mendengar jawaban dari Melati, lalu Melati hanya mengangguk

“coba lu certain dulu dari awal gimana? Kok lu kaga pernah cerita sama gua” ucap Yuriva

Lalu Melati pun mulai bercerita..

 

=====00====

Pertama masuk semester 1…

Setelah berakhirnya ospek semua mahasiswa baru masuk untuk mengetahui kelas mereka dan mendengarkan pengarahan dari senior-senior beserta mengenalkan berbagai ekskul yang ada di kampus itu.

Saat itu Melati masih canggung dan belum mendapatkan teman di kampus, kemana-mana sendiri, saat dia lagi sendiri di kantin terlihat sesosok pria menghampirinya karna terlihat hanya kursi  yang sebelah Melati yang kosong

“hai, boleh gabung gak?” Tanya seorang pria itu

“boleh kok” jawab Melati langsung menggeser duduknya lalu pria itu langsung duduk di samping Melati

“siapa namanya?”Tanya pria itu menjulurkan tangannya

“Melati Putri rahel sesilia, kamu siapa namanya?” ucap Melati membalas menjabat tangan

“gua Dimas Nugraha Cahyadi” jawab Dimas tersenyum

“dari jurusan apa?” Tanya Melati lagi

“jurusan ekonomi” ucap Dimas

“oh sama dong berarti kita”ucap Melati tersenyum

“oh iya, sendiri aja nih?”Tanya Dimas basa basi

“iya belum dapat temen juga hehe” jawab Melati

Lalu mereka berdua berbincang bincang membicarakan tentang ospek kemarin.

 “Dimas , disini lu rupanya, gua cariin juga” ucap seorang pria menghampiri Dimas dan Melati

“lah lu lagi main ngilang aja” jawab Dimas

“siapa tuh mas? Cewe lu? Baru juga masuk mas udah dapet aja” ucap pria itu

“cewe gua pale lu, nih kenalin Melati dari jurusan yang sama kayak kita”ucap Dimas memperkenalkan Melati ke teman prianya

“oh gua Willy Debian” ucap pria itu bernama Willy menjulurkan tangannya

“iya aku Melati, salam kenal ya” ucap Melati membalas berjabat tangan

Lalu mereka bertiga mengobrol dengan asiknya tanpa mengingat waktu, hari sudah semakin sore kampus pun sudah mulai sepi hanya ada beberapa mahasiswa saja, kemudian mereka bertiga pergi meninggalkan kantin itu menuju pintu gerbang kampus

“rumah lu dimana?” Tanya Dimas

“rumah gua mas? Kan lu udah tau rumah gua di prapatan sana” ucap Willy sambil menunjuk arah sebaliknya

“bukan lu pea, noh si Melati maksud gua” ucap Dimas menoyol kepala Willy, lalu Melati tertawa kecil melihat teman Dimas dengan polosnya menjawab pertanyaan Dimas jelas-jelas bukan untuk dia

“rumah ku di rawamangun” ucap Melati menjawab pertanyaan Dimas

“oh ya? Gua juga di daerah rawamangun rumahnya, gimana kalau kita bareng aja?” Tanya Dimas menawarkan tumpangan kepada Melati

“aahh bilang aja lu mau modus mas” sahut Willy sambil memanyunkan bibirnya

“apaan sih lu, diem aja deh” ucap Dimas

“hhmm boleh kalau gak ngerepotin” ucap Melati

“gak ngerepotin kok malah seneng dapat teman baru yang rumahnya searah” jawab Dimas

Lalu mereka berjalan menuju parkiran motor dan Dimas pergi mengantar pulang Melati. Pada saat itu Melati dan Dimas mulai dekat karna rumahnya yang searah, juga mereka satu kelas, bahkan sampai di gosipkan kalau mereka berdua pacaran

Seiring berjalannya waktu Melati sampai menaruh hatinya untuk Dimas tapi Melati memilih merahasiakan ini dari siapapun termasuk Dimas karna ia tidak ingin Dimas mengetahuinya kalau dirinya suka kepada Dimas karna nantinya akan membuat hubungan pertemanan dia akan berjalan tidak baik, seperti itu pikir Melati

Dan sampai sekarang pun Dimas belum mengetahui kalau Melati suka sama dia

=====00=====

“gitu va, makanya gua sakit banget pas liat Dimas sama Ve berudaan” ucap Melati yang menangisnya sedikit mereda

“oh gitu, terus Ve tau kalau lu suka sama Dimas?” Tanya Yuriva

“itu masalahnya va, Ve gak tau sama sekali, gua juga gak tau kalau jadi begini setelah gua memperkenalkan Ve sama Dimas” ujar Melati menunduk sedih

“yang sabar ya Me, apa perlu gua bilang sama dimasnya?” ucap Acha

“jangan cha, udah biarin aja kayak gini gak apa-apa kok gua” jawab Melati

“tapi kalau lu terus-terusan kayak gini, kita kasian liat lu begini me” ucap Yansen diikuti anggukan kepala yang lainnya

“jadi cerita cinta lo ini, cinta tak berbalas me?” ucap Yuriva menepuk pundak Melati

-BERSAMBUNG-

Iklan

Satu tanggapan untuk “KATAOMOI, FINALLY, Part 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s