Vepanda part 20

vepanda-cover-2

 

Sebelumnya gue selaku author mau minta maaf kalo part sebelumnya scene romancenya keterlaluan, dan untuk kenyamanan bersama part itu akan diprotect, bagi yang pengen baca part itu bisa kontak gue dulu lewat line.

Gue juga mau minta maaf buat yang oshinya sinka, gue nggak bermaksut ngerendahin ato apa, itu murni cuma hiburan. Gue juga oshinya sinka dan ya gue tau mungkin imajinasi gue pas bikin part itu terlalu berlebihan, next time kalo gue mau bikin scene romance gue bakalan gue protect dan passwordnya bisa kontak gue dulu lewat line.

Sekali lagi gue minta maaf atas ketidaknyamanan kalian para reader.

 

“Ada apa kak?” tanya Rezza dengan polosnya.

“Kamu lagi mikirin apa sampe bengong kaya gitu?” tanya Melody menghampiri Rezza dan duduk di sebelahnya.

“Ng… nggak, nggak mikirin apa-apa kok, hehe…,” jawab Rezza cengengesan.

“Bener nggak lagi mikirin apa-apa?” Melody menatap Rezza dengan khawatir.

“Kalo ada masalah, cerita sama kakak, siapa tau kakak bisa bantu,” sambung Melody.

“Enggak kok kak, aku gapapa,” Rezza menatap Melody sambil tersenyum dan memegang pipinya.

“Beneran gapapa?” tanya Melody sambil memegang tangan Rezza yang sedang memegang pipinya.

Rezza hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah Melody.

“Yaudah kalo gapapa, kirain kamu lagi ada masalah,” ucap Melody tersenyum dan melepaskan tangan Rezza dari pipinya.

“Oiya, tadi aku denger suara Sinka, kemana orangnya?” sambung Melody.

“Gatau, ke dapur mungkin,” jawab Rezza mengangkat kedua bahunya.

“Hai kak, baru pulang?” tanya Sinka menghampiri Melody dan Rezza sambil membawa segelas jus jambu ditangannya.

“Tuh kan bener dari dapur,” ucap Rezza.

“Kamu nggak sadar tadi aku pergi?” tanya Sinka sambil duduk di depan Rezza dan meletakkan jusnya di atas meja.

“Ehehehe…,” Rezza hanya cengengesan menatap Sinka.

“Kamu bengong sampe segitunya amat sih,” ucap Sinka dengan wajah datar lalu meminum jusnya.

“Hah? Rezza udah bengong dari tadi sin?” tanya Melody mengernyitkan dahinya.

Sinka hanya mengangguk karena ia sedang meminum jus.

“Kamu lagi mikirin apa sih za?” tanya Melody menatap Rezza dengan khawatir.

“Aku gapapa kok kak, beneran,” jawab Rezza tersenyum.

“Yaudah aku mau ke kamar dulu, mau mandi sama ganti perban,” sambung Rezza lalu pergi ke kamarnya.

“Udah lama sin?” tanya Melody menoleh ke arah Sinka.

“Ya lumayan, dari tadi pulang sekolah,” jawab Sinka tersenyum.

“Oiya, aku mau nunjukin sesuatu sama kakak,” sambung Sinka sambil mengeluarkan smartphone-nya dari dalam saku dan memainkannya.

“Apaan?” tanya Melody mengernyitkan dahinya.

“Bentar,” jawab Sinka tanpa menoleh ke arah Melody.

Beberapa saat kemudian Sinka berhenti memainkan smartphone-nya lalu menoleh ke arah Melody.

“Tapi kak Melody harus janji dulu,” ucap Sinka menatap ke arah Melody.

“Janji apa?” tanya Melody dengan heran.

“Kak Melody nggak bakalan marah setelah aku kasih tau.”

“Emang kamu mau kasih tau apaan sih?”

“Ya ada pokoknya, sekarang kak Melody janji dulu nggak bakalan marah, abis itu baru aku kasih tau.”

“Yaudah deh, aku janji nggak bakalan marah.”

“Beneran?”

“Iya Sinka,” jawab Melody sambil tersenyum dan mengangguk.

“Yaudah kalo gitu,”- Sinka bangkit dari sofa dan menghampiri Melody –“aku mau kasih tau siapa yang mukulin Rezza kemaren.”

Melody tidak berkata apa-apa, ia hanya menatap Sinka dengan rasa penasaran yang biasa saja. Sinka duduk di sebelah Melody dan menunjukkan foto Jo yang babak belur kepada Melody.

“Ini?” tanya Melody setelah melihat foto Jo.

Sinka hanya mengangguk lalu meletakkan smartphone-nya ke atas meja.

“Kamu yakin dia yang mukulin Rezza?” tanya Melody sambil menatap Sinka dan mengernyitkan dahinya.

“Iya kak, aku yakin seratus persen kalo kak Jo yang mukulin Rezza,” jawab Sinka dengan mantab.

“Itu bukannya mantan kamu yang waktu itu kan?” tanya Melody.

“Iya, dia kak Jo mantan aku,” jawab Sinka sedikit menunduk.

“Kak Melody nggak marah?” sambung Sinka menatap Melody sambil mengernyitkan dahinya.

“Enggak, kan tadi udah janji nggak bakalan marah,” jawab Melody tersenyum.

“Lagian juga buat apa marah? Yang udah ya biarin aja lah,” sambung Melody.

Kemudian Melody dan Sinka lanjut mengobrol di ruang keluarga sambil menonton TV.

“Kamu sama Rezza abis ini mau kemana?” tanya Melody sambil mengelus-elus rambut Sinka yang sedang tiduran di pahanya.

“Nggak kemana-mana, mau ngerjain tugas sekolah aja sambil nunggu jemputan kak Naomi,” jawab Sinka sambil mengunyah snack yang tadi di ambilnya dari kulkas.

Kemudian hening, mereka berdua kembali fokus menonton acara yang sedang tayang di TV.

“Ya ampun,” ucap Melody sambil berdiri dan membuat Sinka jatuh ke lantai.

“Aduhhh…,” Sinka meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya.

“Eh! Maaf sin maaf,” ucap Melody sambil membantu Sinka berdiri.

“Ada apa sih kak?” tanya Sinka masih memegangi kepalanya.

“Aku keinget sesuatu,” jawab Melody sambil membersihkan snack Sinka yang berserakan di lantai.

“Inget apa kak?” tanya Sinka dengan penuh penasaran.

“Aku baru inget kalo hari ini aku harus belanja bulanan, kalo nggak besok nggak ada makanan,” jawab Melody sambil membuang snack Sinka yang berserakan ke tempat sampah.

“Yaelah kirain apaan, yaudah yuk aku temenin belanja sekarang,” ajak Sinka sambil menghampiri Melody.

“Yaudah bentar, aku ambil dompet dulu di kamar,” ucap Melody lalu berlari ke kamarnya.

~oOo~

“Za?!”

Tidak terdengar jawab dari siapa pun, hanya terdengar suara TV yang sedang menyala.

“Eh elu yup, tumben kesini malem-malem, ada apa?” tanya Rezza yang melihat Yupi sedang berjalan ke ruang keluarga lalu menghampirinya.

“Gapapa, lagi pengen aja main kesini,” jawab Yupi berjalan ke sofa di depan TV lalu duduk.

“Sendirian aja, nggak sama Najong?” tanya Rezza sambil duduk di sebelah Yupi.

“Nggak,” jawab Yupi sambil menunduk.

“Kenapa yup?” Rezza menoleh dan menatap ke arah Yupi dengan heran.

“Lagi ada masalah sama Najong?” sambung Rezza.

Yupi hanya menoleh ke arah Rezza tanpa menjawab pertanyaannya, ia menatap Rezza dengan ekspresi sedih, air mata yang sudah dari tadi ia tahan akhirnya menetes juga.

“Eh? Yup, kenapa?” tanya Rezza dengan wajah khawatir sambil bergeser ke arah Yupi.

“Najong selingkuh,” jawab Yupi sambil terus berusaha menahan air matanya agar tidak menetes terus.

“Hah? Selingkuh?” Rezza sedikit terkejut mendengar jawaban dari Yupi.

“Masa sih Najong selingkuh?” lenjut Rezza sambil menatap Yupi dengan heran.

“Aku tadinya juga nggak percaya, tapi aku liat pake mata aku sendiri kalo dia lagi jalan sama cewek di mall,” jawab Yupi kembali tertunduk.

“Halah… palingan itu adeknya.”

“Enggak za! Aku tau adeknya Najong, itu bukan adeknya Najong!”

“Ng…, mungkin itu sodaranya, positive thinking aja.”

“Aku yakin itu juga bukan sodaranya, mana ada jalan sama sodara pake gandengan tangan sama peluk-pelukan segala.”

“Ya kalo gitu berarti emang bener itu selingkuhannya.”

“Ihhh!! Kamu nggak nolong banget sih za jadi temen!”

“Hah? Kenapa jadi gue yang salah,” ucap Rezza dengan wajah datar.

Yupi tidak menangapi ucapan Rezza, ia terus menangis sambil menunduk.

“Yup,” ucap Rezza menggeser duduknya mendekati Yupi.

“Jangan nangis lagi dong,” sambung Rezza sambil memegang bahu Yupi.

“Hiks… hiks… hiks…,” Yupi masih saja menangis.

“Besok gue coba ngomong sama Najong biar jelas,” ucap Rezza lalu mencoba menghapus air mata Yupi dengan tangannya.

Yupi hanya menoleh ke arah Rezza dan mengangguk.

“Makasih ya za,” ucap Yupi sambil memeluk Rezza dengan tiba-tiba.

“Eh?” Rezza sedikit terkejut mendapat pelukan dari Yupi yang tiba-tiba.

“Iya yup, lu sama Najong kan sahabat gue, jadi udah seharusnya gue bantuin kalian kalo lagi ada masalah,” sambung Yupi sambil membalas pelukan Yupi dan mengelus-elus rambutnya.

Perlahan tangisan Yupi mulai mereda, air matanya juga sudah berhenti menetes, namun ia masih terus memeluk Rezza dengan erat.

“Udah yup, nggak enak ntar kalo ada yang liat,” ucap Rezza sambil melepaskan pelukan Yupi.

“Eh iya, maaf ya,” Yupi menghapus matanya yang masih sedikit berlinang lalu tersenyum.

“Iya gapapa kok,” Rezza juga tersenyum ke arah Yupi.

Kemudian hening, mereka berdua saling diam untuk beberapa menit.

“Pffftt, awkward, hahaha…,” ucap Rezza tertawa dengan keras.

Yupi juga ikut tertawa bersama Rezza.

“Bentar ya, gue bikinin minum,” ucap Rezza bangkit dari sofa.

“Mau minum apa?” sambung Rezza menoleh ke arah Yupi.

“Apa aja deh terserah kamu, yang penting jangan kopi,” jawab Yupi tersenyum.

Kemudian Rezza kembali berjalan ke arah dapur.

Beberapa menit kemudian, Rezza kembali ke ruang keluarga sambil membawa secangkir coklat panas dan secangkir kopi.

“Oiya, tadi lu abis dari mana?” tanya Rezza sambil meletakkan minuman ke meja lalu duduk kembali di sebelah Yupi.

“Dari bioskop sama adek aku,” jawab Yupi tesenyum.

“Terus sekarang adek lu di mana?”

“Udah di rumah kok.”

“Kenapa lu senyum-senyum mulu sih dari tadi?” tanya Rezza menatap Yupi dengan heran.

“Gapapa,” jawab Yupi sambil tersenyum dan memejamkan matanya.

“Oiya za, luka kamu gimana? Udah baikan?” sambung Yupi.

“Lumayan lah, cuma kadang agak ngilu kalo kesenggol,” jawab Rezza lalu meminum kopinya.

“Bagus deh kalo gitu,” ucap Yupi lalu meminum coklat buatan Rezza tadi.

“Aaaahh!”

PYAR!!

“Kenapa yup?”

“Aduhh…,” Yupi tidak menghiraukan Rezza, ia hanya memegangi bibirnya yang masih kesakitan karena coklatnya terlalu panas.

“Kepanasan ya?” tanya Rezza dengan wajah khawatir.

Yupi hanya menoleh dan mengangguk ke arah Rezza.

Sorry ya yup, tadi gue lupa ngasih campuran air dingin,” ucap Rezza sambil bergeser mendekati Yupi.

“Iya gapapa kok,” ucap Yupi tersenyum.

“Yaudah sekarang lu bilas dulu gih ke kamar mandi, ntar gue ambilin bajunya kak Melody,” suruh Rezza sambil bangkit dari sofa.

Yupi hanya mengangguk dan pergi ke kamar mandi yang ada di kamar Rezza.

Saat Yupi membilas badannya yang terkena coklat di kamar mandi, Rezza pergi ke kamar Melody dan mencarikan baju untuk Yupi.

Setelah mendapatkan baju yang pas, Rezza masuk ke kamanya untuk memberikannya kepada Yupi.

“Eh? Lu kok malah pake baju gue? Emang nggak kegedean?” tanya Rezza sedikit heran saat melihat Yupi telah memakai bajunya.

“Kamu sih kelamaan ambil bajunya, yaudah deh aku ambil di lemari kamu aja,” jawab Yupi lalu menghampiri Rezza yang berdiri di ambang pintu.

“Hehe…, yaudah lu ganti pake ini aja sekarang, daripada pake itu, kegedean,” suruh Rezza sambil menyerahkan baju yang dibawanya.

“Ng…, gausah deh, enakan pake ini, anget,” ucap Yupi tersenyum lalu memeluk Rezza tiba-tiba.

“Eh yup?” Rezza sedikit terkejut saat Yupi tiba-tiba memeluknya.

“Makasih ya za,” ucap Yupi sambil terus memeluk Rezza.

“Buat?” tanya Rezza dengan heran.

“Rezza?” terdengar suara dari ujung tangga.

“Hah?” Rezza yang mendengar suara itu langsung menoleh ke sumber suara.

“Eh?! Sin,” Rezza sedikit terkejut saat melihat Sinka tengah berdiri di ujung tangga dengan ekspresi seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Kamu ngapain pelukan sama Yupi?” tanya Sinka dengan wajah heran sambil menghampiri Rezza dengan perlahan.

“Whooaa!” Rezza sedikit berteriak sambil merentangkan tangannya.

Mendengar Rezza berteriak, Yupi pun langsung melepaskan pelukannya.

“Kenapa za?” tanya Yupi dengan wajah heran.

“Eh sin, kamu dari mana?” tanya Yupi tersenyum lalu menghampiri Sinka.

Sinka tak menghiraukan pertanyaan Yupi, ia masih terus berjalan menghampiri Rezza dengan perlahan.

“Jawab pertanyaan aku za!” bentak Sinka dengan mata yang berlinang.

“Ng… a-uh, anu…,” Rezza terlihat panik dan bingung untuk menjawab pertanyaan Sinka.

“Jawab za!” ucap Sinka sambil mempercepat jalannya ke arah Rezza.

“Sin,” Yupi berhenti menghampiri Sinka dan terlihat ketakutan.

“Diam kamu!” bentak Sinka menoleh ke arah Yupi.

“Pergi dari sini!” lanjut Sinka.

Tanpa berkata apa-apa, Yupi langsung berlari ke lantai bawah untuk mengambil tasnya.

“Eh yup? Mau kemana?” tanya Melody yang sedang berjalan ke ruang keluarga dan melihat Yupi sedang terburu-buru.

Yupi tidak menghiraukan Melody, ia langsung pergi keluar dari rumah Rezza.

“Lohh… kenapa Yupi?” batin Melody.

“Yupi kenapa za?” tanya Melody menoleh ke arah Rezza yang sedang berdiri di depan kamarnya.

“Rezza Okta! Jawab pertanyaan aku! Kenapa kamu tadi pelukan sama dia?!” tanya Sinka berhenti di depan Rezza.

“Tadi itu bukan apa-apa sin,” jawab Rezza sambil memegang tangan Sinka.

“Aku nggak percaya!” bentak Sinka.

“Ada apa sin?” tanya Naomi yang baru saja masuk ke rumah Rezza.

“Kakak,” Sinka langsung berlari ke arah Naomi sambil menangis dan memeluknya.

“Eh? Kamu kenapa sin?” tanya Naomi heran.

Sinka tidak menjawab pertanyaan Naomi, ia hanya menangis sambil terus memeluk Naomi.

“Kamu apain Sinka za?” tanya Melody menghampiri Naomi dan Sinka.

“Nggak aku apa-apain kak,” jawab Rezza lalu berjalan ke lantai bawah.

“Terus kenapa Sinka sampe nangis gini kalo nggak diapa-apain?” tanya Naomi.

“Sumpah kak, aku nggak apa-apain Sinka, tadi cuma salah paham doang,” jawab Rezza berhenti di depan Naomi.

Kemudian hening, yang terdengar hanya suara isak tangis Sinka yang sedang memeluk Naomi.

“Sin,” ucap Rezza sambil memegang pundak Sinka.

“Aku bisa jelasin semuanya, tadi itu cuma salah paham,” sambung Rezza,

“Nggak! Aku nggak butuh penjelasan kamu!” jawab Sinka tanpa menoleh ke arah Rezza.

“Udah za, tunggu Sinka tenang dulu, ntar kalo udah tenang baru kamu jelasin,” ucap malody sambil melepaskan tangan Rezza dari pundak Sinka.

“Huuuffftt,” Rezza menghela nafaas lalu mengangguk kepada Melody.

~oOo~

Setelah dibujuk dengan seloyang pizza, akhirnya Sinka berhenti menangis. Kini ia sedang menikmati pizza-nya di kamar Melody sendirian, sedangkan Rezza, Naomi dan Melody sedang berkumpul di ruang keluarga.

“Coba sekarang kamu jelasin ke Sinka gih, udah nggak nangis lagi kayaknya tuh,” suruh Naomi.

Rezza hanya mengangguk kemudian berjalan ke kamar Melody.

Tok… tok… tok…

Tidak terdengar jawaban dari dalam kamar Melody.

“Ini aku sin, aku mau ngomong sesuatu,” ucap Rezza dari depan pintu.

“Aku udah tidur!” teriak Sinka dari dalam kamar.

Naomi dan Melody yang mendengar itu langsung tertawa kecil, sedangkan Rezza masih berdiri pasrah di depan kamar Melody.

“Dibilangin aku udah tidur kenapa masuk sih?!” tanya Sinka saat melihat Rezza masuk ke kamar.

“Aku mau ngomong sesuatu,” jawab Rezza sambil menghampiri Sinka yang sedang duduk di atas kasur.

“Aku gamau!” bentak Sinka sambil memalingkan wajahnya.

“Tadi itu cuma salah paham sin,” ucap Rezza duduk di sebelah Sinka.

Kemudian Rezza mulai menjelaskan semuanya, namun Sinka masih tidak percaya dengan penjelasan dari Rezza.

“Aku nggak percaya!” ucap Sinka masih memalingkan wajahnya.

“Sumpah sin, aku nggak bohong,” Rezza menarik pundak Sinka sehingga membuat tubuh Sinka berhadapan dengannya.

“Kalo emang cuma mau bilang makasih kenapa harus sampe pelukan segala sih?!” tanya Sinka dengan kesal dan air mata yang mulai menetes.

“Aku juga gatau kalo itu,” jawab Rezza mendekatkan wajahnya.

“Bohong!” bentak Sinka mulai menangis dengan keras.

“Aku nggak percaya!” sambung Sinka.

Rezza langsung memeluk Sinka dengan erat.

“Aku benci sama kamu! Aku benci!” teriak Sinka sambil berusaha melepaskan pelukan Rezza dengan memukul-mukul dadanya.

Namun usaha Sinka gagal karena tenaga Rezza lebih kuat darinya, akhirnya perlaha pukulan Sinka mulai melemah dan ia tidak lagi berusaha melepaskan pelukan Rezza.

“Aku benci sama kamu,” Sinka menyandarkan kepalanya di dada Rezza sambil terus menangis.

Rezza tidak berkata apa-apa, ia hanya memeluk Sinka sambil berusaha menenangkannya dengan mengelus-elus kepalanya.

Setelah satu jam lebih Rezza berada di dalam kamar Melody, akhirnya Rezza kembali lagi ke ruang keluarga.

“Gimana? Tadi aku denger Sinka sempet nangis lagi,” tanya Naomi.

“Iya emang tadi Sinka sempet nangis, tapi gapapa kok, udah beres masalahnya, sekarang dia udah tidur,” jawab Rezza lalu duduk di sebelah Melody yang sudah tertidur di sofa.

“Lohh…, kak Melody juga udah tidur? Jam berapa sih kak sekarang?” tanya Rezza menoleh ke arah Naomi yang duduk di sebelahnya.

“Jam sebelas,” jawab Naomi setelah melihat jam di smartphone-nya.

“Pantesan kak Melody udah tidur, ternyata udah malem banget,” ucap Rezza lalu mengangkat tubuh Melody.

“Kak Naomi nginep aja, ntar tidur di kamar aku, biar aku tidur di sini,” sambung Rezza.

“Yaudah deh kalo gitu, bentar aku mau kasih tau mama dulu sama masukin mobil.”

“Mobilnya biar aku aja yang masukin ntar, kak Naomi ke kamar aja sekarang ato ganti baju dulu.”

Setelah membawa Melody ke kamarnya, Rezza kembali lagi ke ruang tamu.

“Kak Naomi kemana? Kok nggak ada,” batin Rezza saat menuruni tangga.

“Kak?” ucap Rezza sedikit berteriak.

“Apa?!”

“Kak Naomi di mana?”

“Di dapur, lagi bikin minum.”

Kemudian Rezza menghampiri Naomi ke dapur.

“Lagi bikin apa kak?” tanya Rezza sambil membuka kulkas.

“Kopi, kamu mau?” tanya Naomi menoleh ke arah Rezza.

“Gausah deh,” jawab Rezza sambil meraih sekaleng minuman ringan yang ada di kulkas.

“Malem-malem gini kok malah bikin kopi sih, ntar nggak bisa tidur loh kak,” sambung Rezza.

“Gapapa, lagian aku belom pengen tidur juga,” ucap Naomi tersenyum ke arah Rezza.

Kemudian Rezza kembali lagi ke ruang keluarga dan menonton TV.

“Kamu nggak tidur?” tanya Naomi menghampiri Rezza sambil membawa secangkir kopi yan baru saja dibuatya.

“Bentar lagi aja deh, belom ngantuk,” jawab Rezza tersenyum.

Saat Rezza dan Naomi asik menonton TV, tiba-tiba ada yang membuka pintu depan rumah Rezza dengan keras.

Rezza dan Naomi yang menderngar itu langsung menoleh.

“Gausah keras-keras bisa lah jong, kaget gue,” ucap Rezza setelah melihat Najong berjalan ke arahnya dengan cepat.

“Lu liat Yupi nggak?” tanya Najong dengan nafas yang tidak teratur.

“Tadi sih kesini, tapi gatau sekarang, pulang kali,” jawab Rezza lalu kembali menoleh ke arah TV.

“Aku tadi juga sempet ketemu sama Yupi di depan, pas mau naik mobil,” ucap Naomi lalu kembali menonton TV.

“Yupi belom pulang! Barusan gue disuruh mamanya buat nyariin dia,”

Rezza dan Naomi langsung menoleh ke arah Najong setelah mendengar ucapannya.

“Serius lu?!” tanya Rezza berdiri dari sofa dan menghampiri Najong.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

Iklan

20 tanggapan untuk “Vepanda part 20

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s