Janjiku Untuk Desy Part 8

g

 

Aku duduk terdiam di pinggiran kasur sambil menatap surat dan boneka kelinci pemberian adikku, Nabilah. Setelah aku membaca surat itu, kesimpulan yang aku dapatkan adalah, aku rindu akan keluargaku di Bandung. Ya, kalau dipikir-pikir sudah lama juga aku tidak pulang ke Bandung. Sejak lulus SMP aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah di salah satu SMA di Jakarta. Bukan tanpa alasan, aku memutuskan ke Jakarta karena aku ingin hidup mandiri.

 

Setelah lulus SMA, aku kemudian memutuskan untuk bekerja. Hmmm… Terhitung sudah 5 tahun aku hidup di kota metropolitan ini. Pantas saja aku merindukan kota tempatku lahir. Kira-kira Bandung sekarang seperti apa ya? Apakah masih sejuk seperti dulu, atau jadi panas seperti di kota ini? Entahlah. Yang jelas aku sangat menrindukannya, apalagi keluargaku. Pasti Nabilah sudah semakin besar sekarang. Jadi tidak sabar aku ingin kesana, terlebih lagi bersama Desy.

 

Ngomong-ngomong soal Desy, dia saat ini masih berada di kosanku. Saat ini sedang mandi di kamar mandi kos. Hari ini dia tidak pulang dulu ke kosannya, dia bilang ingin menemaniku satu hari lagi. Aku sih tidak masalah dengan itu, toh aku bisa berduaan lagi dengannya, mumpung jadwal kerjaku hari ini libur.

 

Kemudian seseorang masuk ke dalam kamarku, orang itu ternyata Desy. Dia sudah berpakaian rapih dengan handuk diatas kepalanya guna mengeringkan rambutnya yang basah. Aku tertegun melihatnya saat dia mulai duduk disebelahku. Memang ya, cewek kalau habis mandi itu cantiknya nambah.

 

“Kenapa bengong?” ujar Desy sambil melambai-lambaikan tangannya didepan mukaku. Rupanya aku tengah melamun karena melihat Desy yang tambah cantik.

 

“Kamu cantik, Des.”

 

“Gombal.” Desy mencubit hidungku dan menggkyangkannya. “Kamu mandi dulu sana, kucel gitu lihatnya, hehe.”

 

Aku melihat diriku kearah cermin. Dan ternyata, lebih kucel dari yang aku bayangkan. Sampai-sampai aku jadi lelah melihatnya. Oke, abaikan.

 

“Wah iya, kucel banget. Yasudah deh, aku mandi dulu ya,” kataku seraya mengambil handuk di lemari.

 

“Perlu aku temenin mandinya?”

 

“Boleh aja, tapi jangan salahin aku ya kalau aku sampai khilaf, haha.”

 

“Ishhh…. Dasar mesum!” Desy menjulurkan lidahnya.

 

Aku hanya tertawa saja sambil berjalan ke kamar mandi meninggalkan Desy sendirian di kamarku. Setelah sampai kamar mandi, akupun mandi dan tidak lupa menggosok gigi. Setelah mandi selesai, aku bergegas kembali ke kamarku.

 

“Kenapa melongo gitu?” tanyaku saat Desy terlihat melongo kearahku.

 

Memangnya ada apa dengan diriku? Kuperhatikan seluruh tubuhku tidak ada yang salah dengan tubuhku, hanya dada terlihat bidang, lengan sedikit berotot, perut yang agak buncit sedikit, dan aku hanya memakai celana boxer sambil melingkarkan handuk di leher.

 

“Cakep banget…”

 

“Hah? Apa?” Aku menaikkan sebelah alisku, sedikit heran dengan ucapannya barusan.

 

Desy terlihat sedikit kaget, kemudian memalingkan wajahnya kearah lain.

 

“Eh… Nggak kok, nggak.”

 

“Oh.. Kirain.” Aku berjalan kearah lemari untuk mengambil pakaian.

 

Setelah itu, kami terdiam, tidak ada percakapan lagi diantara kami. Hingga aku selesai berpakaian, kami masih saling terdiam.

 

“Sayang, aku lapar,” Desy memulai percakapan kembali, kali ini sambil mengelus-elus perutnya.

 

Oh iya, pagi ini kan aku dan Desy belum sarapan. Aku sampai lupa akan sarapan. Akupun memeriksa kotak persediaan makanan milikku dekat meja dan ternyata stok makananku sudah mulai habis, hanya tersisa dua mie instan dan sebotol saus. Aku baru sadar kalau belum belanja bulanan.

 

“Yahh, aku cuman punya dua mie instan lagi nih.” Aku menyodorkan dua bungkusan mie instan itu pada Desy.

 

“Yasudah, nggak apa-apa deh. Kita masak bareng, yuk!”

 

“Yuk!”

 

Aku dan Desy pun beranjak dari kamar kosku menuju dapur umum kosan.

 

****

 

Desy terlihat sedang memasukkan dua mie instan ke dalam panci berisi air mendidih. Sedangkan aku memasukkan bumbu-bumbu mie instan itu kedalam mangkuk. Aku senang bisa masak bareng Desy lagi, setelah waktu itu masak di kosan Desy walaupun hasil makanannya gosong. Tapi kali ini tidak akan gosong karena cukup mudah untuk membuatnya.

 

“Kalau kamu yang masak lagi, apa bakal gosong lagi kayak waktu itu ya?” godaku pada Desy saat dia mengaduk-aduk panci berisi mie.

 

“Ishhh… Kamu mah ngeledek mulu,” timpal Desy sembari mencubit hidungku.

 

“Dih, doyan banget nyubit hidung.”

 

“Biarin, weeee.” Desy menjulurkan lidahnya.

 

“Lucu banget sih kamu.”

 

Aku mengelus puncak kepalanya dengan lembut. Kemudian kudekatkan wajahku ke wajahnya. Desy yang melihat itu ikut mendekatkan wajahnya juga ke wajahku. Aku bisa merasakan hembusan nafas keluar dari hidung kami. Wajah kami semakin mendekat, kemudian…

 

“Cieee…. Bang Ar memulai manuvernya.”

 

Sontak aku dan Desy merasa terkejut mendengar suara seseorang yang tiba-tiba muncul. Spontan kami sedikit menjaga jarak. Aku menoleh kearah sumber suara dan kudapati seseorang sedang mengintip dibalik tembok dapur.

 

“Ah, elu, Wil. Ganggu aja,” gerutuku.

 

“Hahaha. Terusin aja, Bang, gue nggak lihat kok,” ucap Willy sambil menutup matanya.

 

“Dasar.”

 

“Iya nih. Willy ganggu aja,” kata Desy mengembungkan pipinya.

 

Willy hanya cengengesan saja. Aku yang sedang berduaan dengan Desy harus terganggu dengan adanya Willy, padahal lagi seru-serunya. Terpaksa deh kami menghentikan aktivitas kami.

 

Setelah melakukan aktivitas memasak mie instan, akhirnya aku dan Desy memakan mie itu di ruang makan kosan. Karena Willy tadi memergoki aku dan Desy berduaan, diapun ikut duduk bersama kami dan meminta jatah sedikit mie instan yang baru saja dimasak.

 

“Bang, gue minta jatah mienya dong, hehe,” ucap Willy menyodorkan mangkuk kosong.

 

Aku menghela nafas. Sebenarnya mie instan ini hanya cukup untuk kami berdua, tapi tidak apalah sedikit berbagi dengannya.

 

“Ambil aja, Wil.”

 

Willy pun mengambil beberapa sendok mie dan memasukkannya kedalam mangkuknya, kemudian dia memakannya.

 

“Bang, itu muka lu kenapa kelihatan kayak ada bekas pukulan gitu?” tanya Willy sesaat dia menyuapkan sesendok mie instan kedalam mulutnya.

 

“Dia dihajar sama orang, Wil,” serobot Desy.

 

“Dihajar kenapa?”

 

Aku menghela nafas, kemudian mulai menceritakan kejadian malam tadi. Tapi tentunya aku tidak menceritakan kalau aku bersama Rona saat kejadian kemarin, aku hanya menceritakan saat aku tengah dihajar oleh orang tak dikenal itu. Soalnya aku belum siap dengan segala kemungkinannya jika Desy mengetahui tentang Rona.

 

“Begitulah ceritanya, Wil.”

 

Willy manggut-manggut sambil menyeruput mangkuk yang sudah berisi kuah mie instan. “Wah, parah banget tuh orang. Kenapa nggak lu lawan balik aja, Bang?”

 

“Gimana gue bisa balik lawan? Posisi gue saat itu lagi ditindih orang itu dan gue nggak bisa balik melawan dia,” kataku seraya memasukkan sesendok mie kedalam mulutku.

 

“Kalau gitu kita lawan dia lagi aja, Bang. Gue siap membantu.”

 

“Nggak!” timpal Desy tiba-tiba. Dia sedikit menggebrak meja makan. “Aku nggak mau lihat Aryo babak belur lagi.”

 

Willy sedikit terkejut saat Desy menggebrak meja. Aku mengerti dengan apa yang Desy katakan. Dia cukup khawatir dengan kondisiku saat ini. Aku sudah melihat betapa khawatirnya dia saat itu, aku sampai tidak tega melihatnya. Aku juga mengerti kalau dia tidak ingin sampai kehilanganku, maka dari itu semenjak kejadian kemarin aku tidak akan berkelahi lagi.

 

Desy terlihat menunduk sambil menatap mangkuk mie miliknya. Seketika aku melihat air matanya keluar dari matanya. Aku mengerti akan hal itu, kemudian aku mengelus perlahan puncak kepalanya.

 

“Kamu tenang aja, aku kan udah janji nggak akan kelahi lagi.”

 

Mendengar hal itu, Desy sedikit tersenyum kearahku. Akupun menyeka air matanya yang masih keluar.

 

“Ciee… Ciee…” sorak Willy sambil menaik-turunkan kedua alisnya.

 

“Inget, Bang. Ada jomblo disini,” lanjut Willy.

 

Aku dan Desy hanya tertawa saja. Memang sih sampai saat ini Willy belum mendapatkan pacar, makanya dia sedikit agak risih melihat kemesraan kami berdua.

 

“Makanya cari pacar, Wil,” ucapku.

 

“Yaelah, belum nemu yang cocok, Bang,” balas Willy.

 

“Aku ada temen yang masih jomblo juga, nanti aku kenalin ke kamu deh,” potong Desy sambil cekikikan.

 

Willy tampak berpikir sejenak.

 

“Oke deh. Kapan-kapan kenalin ke gue ya.”

 

“Oke.” Aku hanya tertawa saja melihatnya. Ya, semoga saja teman Desy itu cocok dengan Willy.

 

Tanpa terasa jam menunjukkan pukul 10.00. Kami bertiga sudah selesai dengan aktivitas makan kami. Setelah itu aku bingung hari ini mau ngapain lagi. Tadinya setelah makan aku mau lanjut tidur lagi, tapi karena masih ada Desy disini jadinya aku urungkan niatku itu. Aku berpikir sejenak, memikirkan kegiatan apa yang akan dilakukan hari ini.

 

“Des, hari ini kita jalan-jalan yuk.”

 

“Jalan-jalan kemana, Yang?” tanya Desy mengira-ngira maksud perkataanku.

 

“Kemana aja, yang penting jalan-jalan.”

 

“Bang, gue nitip beliin sesuatu ya,” potong Willy tiba-tiba.

 

“Nitip apaan, Wil?” Aku menaikkan sebelah alisku.

 

“Nitip beliin gundam, Bang,” jawab Willy cengengesan.

 

“Eh buset! Nggak kira-kira lu mintanya.” Aku terkekeh mendengarnya. Gundam kan mahal, dia malah minta dibelikan gundam. Ada-ada saja dia.

 

“Hahaha.” Willy hanya tertawa cekikikan karenanya. Desy juga tertawa melihat tingkah kami berdua. Setelah itu, aku dan Desy pun bersiap untuk pergi jalan-jalan.

 

****

 

Sekarang disinilah aku dan Desy berada, disebuah mall terkenal di kota Jakarta ini. Sebuah mall yang namanya hanya terdiri dari dua huruf saja. Aku dan Desy memutuskan untuk jalan-jalan di mall ini, karena kami bingung memilih tempat tujuan mana lagi yang ingin didatangi, yang terlintas dipikiran kami adalah mall. Jadinya kami jalan-jalan di mall ini.

 

Suasana di dalam mall cukup ramai. Banyak orang lalu-lalang mengitari mall, ada juga yang keluar masuk ke salah satu toko yang ada di mall ini, mencar sesuatu yang barng yang bisa dibeli atau sekedar melihat-lihat saja.

 

“Yang, kesitu yuk!” ajak Desy sambil menunjuk kearah salah satu toko pakaian.

 

“Ayo!”

 

Aku dan Desy mulai melangkahkan kaki ke dalam toko pakaian itu. Hal yang pertama kulihat saat memasuki toko tersebut adalah sebuah jaket yang terlihat mirip seperti jaket milik tokoh Jhonny Blaze di film Ghost Rider. Aku tercengang melihatnya. Dari dulu aku pingin sekali memiliki jaket ini, tapi belum kesampaian sampai sekarang. Coba kalau aku pakai jaket ini, pasti kelihatan lebih keren atau berubah jadi Ghost Rider seperti di filmnya. Oke, aku mulai ngaco.

 

“Mbak, ini berapa harganya?” tanyaku pada penjaga toko yang berdiri di dekat jaket itu.

 

“Tujuh ratus ribu, mas.”

 

“Buset! Mahal amat, mbak.”

 

“Iya, mas. Soalnya ini produk asli.” Si penjaga toko langsung cengengesan.

 

“Emang kamu mau beli?” tanya Desy tiba-tiba seraya menyenggol bahuku.

 

“Enggak, hehe,” ucapku cengengesan.

 

“Uhh, dasar. Ayo ke dalam, aku mau lihat pakaian yang lain.” Desy menarikku masuk lebih dalam ke toko itu.

 

Desy terlihat sedang memilih-milih baju yang memurutnya bagus, sampai-sampai dia bolak-balik ke ruang ganti hanya untuk mencoba berbagai macam baju. Aku sampai bosan menunggunya di luar ruang ganti.

 

“Des, kok nyobain bajunya lama banget?” Aku mulai kesal menunggunya terlalu lama.

 

“Bentar lagi, Yo,” ucap Desy dari dalam ruang ganti.

 

“Lama ah, aku buka ya.”

 

Aku yang tidak sabar akhirnya membuka penutup ruang ganti itu dengan cepat. Alangkah terkejutnya aku dengan apa yang aku lihat. Kalian tahu sendiri lah, tak perlu dijelaskan lagi.

 

“Dasar mesum!” Suara Desy barusan seketika membuyarkan lamunanku. Dia menyadari kalau aku tengah memperhatikannya.

 

“Eh.. Ma.. Maaf. Aku nggak sengaja lihat, hehe.” Aku balik badan agar tidak merasa malu telah melihat kejadian barusan.

 

“Uhh, dasar!” Desy menoyor kepalaku dari belakang. “Udah ah, lanjut jalan-jalan lagi yuk.”

 

“Eh, nggak jadi beli?” Aku balik badan menghadap kearahnya.

 

“Enggak. Cuma pingin nyoba aja, hehe.”

 

Aku memasang wajah datar. Terus untuk apa aku menunggunya terlalu lama nyoba banyak baju kalau ternyata tidak ada yang dibeli? Buang-buang waktu saja. Aku jadi gemas dibuatnya. Akupun mulai ngomel-ngomel tidak jelas karenanya, sedangkan Desy hanya tertawa mendengar omelanku.

 

Aku dan Desy terus berjalan mengitari mall yabg besar ini, hingga akhirnya Desy mulai kelelahan karena terus berjalan. Akupun mengajaknya duduk di kursi panjang yang ada di mall tersebut.

 

“Kamu haus nggak?” tanyaku pada Desy yang terlihat kelelahan.

 

Desy menganggukkan kepalanya.

 

“Aku beliin minum ya.”

 

“Iya, jangan lama-lama.”

 

Akupun beranjak dari tempat duduk dan pergi membeli minuman di supermarket yang ada di mall ini. Saat sedang berjalan menuju supermarket, tidak sengaja aku melihat seseorang yang sangat familiar bagiku. Seorang wanita berambut panjang, berparas cantik, perawakan tubuh mungil seperti Melody. Tidak salah lagi wanita itu adalah Rona.

 

Rona terlihat sedang berjalan menuju supermarket diiringi oleh dua orang laki-laki dibelakangnya. Apa dua orang laki-laki itu bodyguard Rona? Sejak kapan Rona punya bodyguard?

 

Tunggu, sepetinya aku merasa tidak asing dengan dua laki-laki itu. Aku mencoba mengingat-ingat siapa mereka. Lima menit aku berfikir, akhirnya aku tahu siapa mereka. Mau apa mereka kesini? Aku harus bertemu mereka, meminta penjelasan maksud dan tujuan mereka menghajarku kemarin.

 

“Hey!!”

 

Kupanggil mereka sambil menghampirinya. Kemudian mereka menoleh kearahku, termasuk Rona. Aku bisa melihat jelas ekspresi terkejut Rona saat melihatku.

 

“Aryo?” Rona tercengang melihatku.

 

“Wah, lihat siapa yang datang?” ujar salah satu dari laki-laki itu yang bertubuh tinggi.

 

“Apa maksud lo ngehajar gue kemarin?!”

 

Laki-laki itu tertawa sinis mendengar ucapanku. Sambil terus tertawa dia merangkul bahu Rona dengan sebelah tangannya.

 

“Lo jangan deket-deket sama cewe gue.”

 

“Jadi dia cewek lo?” Aku menaikkan sebelah alisku sambil menatap sinis. “Sorry sob, bukan gue yang deketin dia, dianya aja yang deketin gue.”

 

Ekspresi laki-laki itu kini berubah. Rasa marah mulai menyelimuti dirinya, terlihat dari sorot matanya yang tajam menatap kearahku, disusul dengan suara nafasnya yang memburu dan telapak tangan dikepal kuat-kuat. Kelihatannya dia mau mengulang kejadian kemarin. Aku harus waspada.

 

“Woy, Adi!! Hajar dia!” suruh laki-laki itu kepada laki-laki bernama Adi yang berada disebelahnya.

 

“Edwin, jangan lakukan itu! Please, aku mohon!” Rona tampak berusaha menghentikan pacarnya itu agar tidak bertindak lebih jauh.

 

Hmm… Edwin?? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi dimana ya? Entahlah, aku tidak begitu ingat, lagipula tidak begitu penting bagiku. Sekarang aku harus fokus pada laki-laki bernama Adi itu, karena dia sudah berancang-ancang hendak menyerangku.

 

“Adi, jangan… Jangan pukul dia lagi…” Rona kembali memohon, kali ini kepada Adi. “Ini di tempat umum loh, nggak enak kalau dilihat orang-orang.”

 

“Kamu diem aja! Orang lucknut kayak dia harus dikasih pelajaran!” timpal Edwin sambil nunjuk-nunjuk kearahku.

 

“Hey, Bung! Siapa yang kau bilang lucknut?!” ucapku dengan sedikit keras. Aku mulai terpancing emosi. Aku tidak terima dengan yang diucapkannya barusan, kenal saja tidak, bisa-bisanya dia berkata seperti itu.

 

“Kalau gue emang lucknut, udah gue pacarin pacar lo itu kali.”

 

Edwin terlihat berang mendengar apa yang aku katakan barusan. Lalu, dia melangkah maju ke depan, namun dicegah oleh cengkeraman Rona pada tangannya. Edwin yang merasakan itu langsung melepas cengkeraman Rona dengan kasar. Rona hanya bisa diam saja sambil menatap pasrah.

 

“Kemarin lo udah ngerasain sakitnya, sekarang lo harus ngerasain yang lebih sakit dari kemarin. Kita hajar dia, Di!!” Adi menjawabnya dengan anggukan kepala.

 

Oke, sepertinya aku terpaksa berkelahi lagi. Sebenarnya aku tidak mau melakukan ini lagi, tapi karena situasiku saat ini terdesak, terpaksa aku harus meladeni mereka. Tak peduli nantinya banyak orang di mall ini yang menyaksikan perkelahian kami, yang penting masalah ini harus dituntaskan. Maafkan aku, Desy, kalau nantinya aku babak belur lagi seperti waktu itu.

 

Edwin dan Adi langsung berlari kearahku, bersiap untuk menyenrang. Aku tidak tinggal diam, akupun ikut berlari kearah mereka. Dengan sekali lompatan aku langsung menendang Edwin tepat dibagian dadanya. Edwin pun jatuh tersungkur ke tanah. Mendadak punggungku merasa sakit. Rupanya Adi tengah menendang punggungku. Lumayan juga tendangannya, punggungku terasa seperti tersetrum. Aku berbalik badan, kemudian menangkap kakinya yang hendak menendangku kembali. Lalu menariknya ke belakang hingga dia terjatuh. Setelah itu, aku hendak memukulnya.

 

“Aryo, hentikan…” Suara seseorang menghentikan aksiku, ditambah lagi tanganku yang hendak memukul dicengkeram oleh orang itu. Aku menoleh kearah orang itu, rupanya Rona. Dia mencengkeram lenganku sambil menangis.

 

Aku tersadar akan tindakanku tadi, karena sudah banyak orang yang memperhatikan aksi perkelahian kami. Akupun melepas cengkeraman Rona dan berjalan mundur secara perlahan.

 

Sial! Apa yang telah aku perbuat? Emosiku saat berkelahi tidak terkontrol lagi, kalau dibiarkan kejadian waktu itu bisa terulang lagi. Lebih baik aku pergi saja dan menemui Desy yang sedari tadi menunggu aku.

 

BUAGHHH!

 

Saat aku hendak pergi meninggalkan mereka, secara tiba-tiba Edwin langsung memukulku tepat dibagian pipi yang spontan membuatku melangkah semakin mundur.

 

“Sini lo, maju!” bentak Edwin. Rona yang ada didekatnya mencova melerainya sambil terus menangis. Sedangkan Adi bangkit berdiri dan bersiap untuk menyerangku lagi.

 

“Sebenarnya gue bisa aja selesain perkelahian ini, tapi gue udah janji sama seseorang kalau gue ga akan kelahi lagi. Mungkin urusan kita cukup sampai disini aja, sorry,” kataku sambil berjalan meninggalkan mereka.

 

“Pengecut!!”

 

Aku mengabaikan perkataannya itu. Aku tidak mau berurusan dengan orang yang tidak jelas asal-usulnya. Lebih baik aku fokus akan janjiku dulu pada Desy. Ya, itu jauh lebih baik dibanding mengurusi orang lucknut seperti dia.

 

“Di, tangkap dia!” perintah Edwin.

 

Aku yang mendengar itu beberapa meter dari tempat mereka berdiri, langsung mengambil langkah seribu. Bukan apa-apa, aku ingin cari aman supaya bisa selamat.

 

Aku terus berlari menembus kerumunan orang yang semakin memadati mall ini. Hingga akhirnya aku sampai di tempat Desy berada. Dia terlihat masih duduk di kursi panjang menungguku datang.

 

“Des… Hosh… Hosh… Hosh…” Akupun langsung duduk disebelahnya.

 

Desy yang kaget langsung menatapku dengan heran. “Kamu kenapa ngos-ngosan gitu? Terus minumnya mana?”

 

Aku mengatur nafas perlahan dan mulai berbicara. “Kita pergi dari sini. Orang yang kemarin membuatku babak belur, sekarang lagi ngejar aku.”

 

“Hah?! Kok bisa?!”

 

“Udah ayo, kita pergi!” Akupun langsung menarik lengan Desy dan kemudian berlari karena sosok Adi sudah semakin dekat.

 

****

 

“Siapa sih yang ngejar kamu itu?” tanya Desy.

 

“Sssttttt.” Aku mengarahkan jari telunjukku ke bibir Desy.

 

“Jangan berisik. Kalau ketahuan bisa gawat,” ucapku dengan pelan.

 

Aku dan Desy sedang bersembunyi dibelakang deretan mobil yang terparkir di basement mall ini. Adi masih terus mengejarku sampai ke basement ini. Untungnya aku dan Desy langsung dengan cepat bersembunyi dan aman dari kejaran Adi. Aku terus memperhatikannya dari balik mobil. Kini dia kelihatan sedikit kesal, mungkin karena tidak berhasil menemukanku. Diapun menendang salah satu mobil yang terparkir sampai alarm mobil berbunyi. Kemudian dia kembali masuk ke dalam mall.

 

“Fiuhh… Akhirnya dia pergi juga.”

 

“Siapa sih orang itu?” tanya Desy sambil menaikkan sebelah alisnya.

 

“Dia yang ngehajar aku kemarin.”

 

“Terus kenapa dia sekarang ngejar kamu?”

 

“Eh.. Eh.. Itu..” Seketika aku gagap berbicara. Aku bingung mau jawab apa ke Desy.

 

Desy menyipitkan kedua matanya. “Jangan-jangan kamu berkelahi lagi ya?”

 

“Eh.. Eh.. Itu.. Nggak..”

 

“Ih udah aku bilang jangan kelahi lagi. Bandel banget sih kamu!” ucap Desy sambil menjewer kupingku.

 

“Aduduh. Maaf, Des.”

 

“Kalau kamu kenapa-napa lagi gimana, hah?! Mau kamu masuk rumah sakit lagi?! Aku tuh nggak mau kamu kenapa-napa…” Desy melepaskan jewerannya dari kupingku.

 

“Iya iya, aku minta maaf. Tapi dia yang mulai duluan.”

 

“Hihhh… Tetep aja kamu kelahi lagi..” ucap Desy menggembungkan pipinya.

 

“Udah ah, mending sekarang kita pulang aja,” lanjut Desy seraya beranjak dari tempatnya.

 

Aku cemberut dibuatnya. Memang sih ini kesalahanku juga, tapi mereka yang mulai duluan sampai aku terpancing untuk kelahi lagi. Yasudahlah, mending pergi saja dari sini karena situasi sedang tidak aman kali ini. Setelah itu aku dan Desy langsung meninggalkan mall ini dan kembali ke kosanku.

 

~To be continued~

 

Created by Martinus Aryo

Twitter: @martinus_aryo

 

Note:

Hai^^ balik lagi sama gue disini. Akhirnya part 8 ini update juga, maaf ya, minggu kemarin nggak update. Soalnya ada kendala mengenai part ini sebelumnya, makanya nggak update, hehehe. Oke, mungkin itu saja dari gue. Terimakasih sudah membaca ^^

Iklan

4 tanggapan untuk “Janjiku Untuk Desy Part 8

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s