Vepanda part 19

vepanda-cover

“Diem aja ditanya,” ucap orang itu sambil menyenggol tangan Sinka.

“Apaan sih?!” tanya Sinka kesal.

“Galak bener, kan cuma becanda sin,” ucap orang itu dengan wajah memelas.

“Bodo!” Sinka memalingkan wajahnya dan pergi meninggalkan orang itu.

~oOo~

“Ini rumah Rezza sin?” tanya Gasa saat mereka berhenti di depan rumah Rezza.

Sinka hanya mengangguk setelah melepas helm dan turun dari motor Gasa.

“Yakin lu nggak salah rumah?” tanya Behel sambil menatap rumah Rezza dengan mulut menganga.

“Nggak mungkin lah aku salah rumah, aku kan sering kesini,” jawab Sinka lalu mulai berjalan ke arah rumah Rezza.

“Bodo amat lah ini rumah Rezza apa bukan,” ucap Abduh lalu turun dari motor Behel dan berjalan mengikuti Sinka.

Gasa dan Behel kemudian memasukkan motor mereka setelah Abduh membukakan gerbang rumah Rezza.

Tok… tok… tok…

“Zaaaa!!” teriak Behel dari luar rumah.

“Ihh! Ngapain sih pake teriak-teriak segala?!” tanya Sinka dengan kesal.

“Hehehe…,” Behel hanya nyengir sambil menatap Sinka.

“Bego,” ucap Gasa sambil menoyor kepala Behel.

“Aish! Kaya lu yang pinter aja,” celetuk Abduh dengan nada mengejek.

“Emang lu pinter ab?” tanya Behel dengan polosnya.

“Ya kaga lah! Kalo gue pinter, gue nggak bakalan sekolah lagi,” jawab Abduh dengan sombongnya.

“Si anjirr,” ucap Gasa lalu menoyor kepala Abduh.

“Woy! Pada mau masuk kaga?!” tanya Rezza sedikit berteriak.

“Eh?!” Gasa, Abduh dan Behel sedikit terkejut saat melihat Rezza sudah membukakan pintu.

“Sejak kapan lu disitu?” tanya Behel dengan polosnya.

“Terus Sinka mana?” lanjut Behel.

“Sejak lu semua berisik di depan pintu gue,” jawab Rezza menatap Behel dengan sengak.

“Lu kira ikan, bersisik! Ah ada-ada aja lu za, hahaha…,” ucap Gasa tertawa dengan keras.

“Berisik woy! Berisik! Bukan bersisik!” teriak Abduh di depan wajah Gasa.

“Ohh… berisik, gue kirain bersisik, hahaha…,” Gasa hanya memasang muka tak berdosa sambil tertawa.

“Xian ying -,-“ ucap Rezza, Abduh dan Behel bersamaan.

Setelah dua jam lebih mereka berdebat akan menyanyikan lagu apa, akhirnya mereka sepakat untuk menyanyikan lagu Dream Theater – Spirit Carries On untuk tugas sekolah mereka.

Rezza memainkan lead guitar, Gasa memainkan rhythm guitar, Abduh memainkan bass, Behel memainkan drum box dan Sinka yang menyanyi.

“Gimana? Udah?” tanya Rezza kepada Gasa yang sedang meletakkan kamera untuk merekam mereka nanti saat menyanyikan lagu.

“Udah,” ucap Gasa lalu kembali ke tempat duduk dan mengambil gitarnya.

Setelah menarik nafas panjang, Rezza mulai memainkan gitarnya sebagai intro dari lagu yang akan mereka bawakan.

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

They say “Life is too short”
“The here and the now”
And “You’re only given one shot”
But could there be more
Have I lived before
Or could this be all that we’ve got?

If I die tomorrow
I’d be alright
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I’m not scared anymore
I know that my soul will transcend

I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try

If I die tomorrow
I’d be alright
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

“Move on, be brave
Don’t weep at my grave
Because I’m no longer here
But please never let
Your memories of me disappear”

Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has help me to find
The meaning in my life again
Victoria’s real
I finally feel
At peace with the girl in my dreams
And now that I’m here
It’s perfectly clear
I found out what all of this means

If I die tomorrow
I’d be alright
Because I believe
That after we’re gone
The spirit carries on

Rezza menutup perform mereka dengan outro yang sangat biasa, standard.

“Cek beh,” suruh Gasa sambil meletakkan gitarnya.

Behel langsung bangkit dari drum box-nya dan mengambil kamera yang tadi diletakkan oleh Gasa di atas meja.

“Lu tadi pencet yang mana gas?” tanya Behel sambil membawa kamera mendekati Rezza, Gasa, Abduh dan Sinka.

“Yang atas itu,” jawab Gasa sambil memainkan smartphone-nya.

“Oi kamvret! Ini buat foto! Yang buat ngrekam yang sebelah layar ini!” teriak Behel dengan kesal.

“Pantesan gue cari di gallery kaga ada,” sambung Behel.

“Jadi barusan nggak kerekam?” tanya Sinka dengan polosnya.

Behel mengangguk pasrah, sedangkan Gasa hanya memasang wajah tak berdosa sambil nyengir.

“Yahhh…, percumah dong tadi kita main bagus-bagus,” ucap Sinka dengan nada kecewa dan wajah sedih.

“Maaf kan aku kawan-kawan, hahaha…,” ucap Gasa sambil menepuk pundak Rezza yang sedang menunduk.

“Maaf pala lu sempak!” sewot Abduh lalu menoyor kepala Gasa.

“Muehehehe…,” Gasa hanya nyengir seolah tak bersalah.

“An yeng lu gas,” ucap Behel lalu kembali duduk di atas drum box sambil terus mengutak-atik kameranya.

“Yaudahlah, kita ulang lagi aja,” ajak Sinka sambil memegang pundak Abduh yang duduk di sebelahnya.

“Eh anjirrr, batrenya abis!” teriak Behel yang membuat semua orang menoleh ke arahnya.

“Lu bawa charger-nya kan?” tanya Rezza menatap Behel dengan penuh harapan.

“Ehehe…,” Behel hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.

“Jangan bilang kalo kamu nggak bawa charger-nya,” ucap Sinka sambil menatap Behel dengan tajam.

“Sungguh hari yang menyenangkan,” ucap Abduh sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.

~oOo~

“Jangan lupa bawa kameranya besok!” teriak Rezza saat Gasa dan Behel mengeluarkan motor mereka.

“Iya, tenang aja, gue nggak bakalan lupa,” ucap lutfi lalu memakai helm dan menyalakan motornya.

“Yaudah gue pulang duluan ya za, sin,” ucap Abduh berpamitan lalu pulang membonceng Behel.

Sedangkan Gasa masih berusaha menyalakan motornya yang dari tadi tidak menyala-nyala.

“Lu bisa bawa motor nggak sih?” tanya Rezza menatap Gasa dengan muka datar.

“Hahaha… anjay, bisa lah,” jawab Gasa sambil terus berusaha menyalakan motornya.

“Lama amat nyalain motornya, bisa nggak?” tanya Sinka mengernyitkan dahinya.

“Bisa lah, cuma kadang suka sakit nih motor,” jawab Gasa sambil mengutak-atik karburtor mesinnya.

“Kalo kaga bisa nyala, lu pake motor gue aja sana, besok gue bawain motor lu ke sekolah,” ucap Rezza menghampiri Gasa.

“Udah gausah, ini palingan bentar lagi nyala,” Gasa mulai mencoba menyalakan motornya lagi.

Sinka dan Rezza hanya menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Gasa bersusah payah menyalakan motornya.

“Woy! Motor sialan! Napa sih lu?!” bentak Gasa sambil memukul tangki bensin motornya.

Brum… Brum…

Tiba-tiba motor Gasa menyala dengan sendirinya.

Gasa, Rezza dan Sinka menatap motor Gasa dengan heran lalu saling bertatapan.

“Muahahaha…,” mereka bertiga tertawa tanpa alasan.

“Motor aneh,” Sinka menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“An yeng bener motor lu, hahaha…,” ucap Rezza sambil tertawa.

“Hahaha… iya nih, xian ying bener motor gue,” Gasa juga ikut tertawa.

“Yaudah, gue pulang dulu kalo gitu,” sambung Gasa sambil memakai helm.

“Yoi!” teriak Rezza sambil mengangkat tangannya.

“Hati-hati gas,” ucap Sinka sebelum Gasa pergi.

Gasa mulai memacu motornya, namun baru beberapa meter ia memacu motornya, ia hampir saja ditabrak oleh mobil.

“Woy! Bisa bawa mobil nggak sih lo!” bentak Gasa berhenti di sebelah mobil yang hampir menabraknya itu.

Rezza dan Sinka yang mendengar teriakan Gasa langsung pergi ke depan rumah Rezza untuk melihat apa yang terjadi.

Terlihat seorang siswi SMA keluar dari mobil itu dan menghampiri Gasa.

“Maaf mas, nggak sengaja tadi, maaf banget,” siswi itu terlihat meminta maaf kepada Gasa dengan sedikit membungkuk.

“Eh? Kak Melody,” ucap Gasa sambil membuka helmnya.

“Temennya sekelasnya Rezza kan?” tanya Melody dengan ragu-ragu.

“Iya kak, hehe…,” jawab Gasa cengengesan.

“Oi kampret! Lu apain kakak gue?!” teriak Rezza dari depan gerbang rumahnya.

“Kaga! Gue tadi hampir nabrak mobil kakak lu doang!” jawab Gasa juga berteriak.

“Eh? Bukannya aku ya yang mau nabrak kamu?” Melody menatap Gasa dengan bingung.

“Udah gapapa kak, lagian aku juga tadi yang salah kok, nggak liatin ke depan, hehe…,” ucap Gasa nyengir.

“Yaudah, aku pulang dulu ya kak,” sambung Gasa lalu memakai helmnya lagi.

“Lohh… nggak mampir dulu?” tanya Melody.

“Ini juga barusan dari rumah kak Melody kok,” jawab Gasa sambil menyalakan motornya.

“Ohh…,” Melody hanya mengangguk paham.

“Duluan ya kak,” ucap Gasa sebelum pergi meninggalkan Melody.

“Iya, hati-hati!” teriak Melody karena Gasa sudah mulai menjauh.

Melody masuk kembali ke mobilnya dan pulang ke rumah yang cuma tinggal beberapa meter saja.

Setelah memasukkan mobilnya ke dalam garasi, Melody langsung pergi ke kamarnya dan tidak sempat bertemu Sinka dan Rezza karena mereka sedang mengobrol di ruang tamu.

Melody langsung turun kembali ke lantai bawah setelah berganti baju, ia berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Sinka dan Rezza.

Saat sampai di ruang tamu, Melody tampak sedikit terkejut melihat apa yang sedang terjadi di sana. Ia pun mematung di ambang pintu melihat kejadian yang ada di depannya.

“Sayang,” Rezza menatap Sinka yang sedang tiduran di pangkuannya sambil memainkan smartphone.

“Apa?” tanya Sinka juga menatap ke arah Rezza.

“….”

“Ada apa?”

“Ng-nggak, hehe….”

“Kirain ada apa,” kemudian Sinka kembali memainkan smartphone-nya.

Kemudian hening, Sinka hanya memainkan game dismartphone-nya, sedangkan Rezza menatap Sinka sambil mengelus-elus rambutnya.

“Kamu cantik banget hari ini,” ucap Rezza tersenyum.

“Masa sih? Perasaan aku nggak dandan hari ini,” tanya Sinka sambil memegang pipinya yang sedikit memerah.

“Kamu nggak dandan aja cantik gini, gimana kalo dandan?” Rezza menatap Sinka sambil tersenyum dan mengelus rambutnya.

“Ahhh… kamu bisa aja,” ucap Sinka sambil mencubit pipi Rezza.

Rezza mulai mendekatkan kepalanya ke arah Sinka, sedangkan Sinka perlahan menggeser kepalanya ke arah lutut Rezza.

Kepala mereka semakin dekat, bahkan mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain. Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa cm saja, hidung mereka bahkan hampir menempel.

Sinka memejamkan matanya, dan saat hidung mereka saling bersentuhan, ia mengangkat kepalanya dan mereka pun saling berciuman.

Kedua tangan Sinka langsung melingkar ke leher Rezza agar ciuman mereka tidak terlepas. Tangan Rezza pun tidak tinggal diam, dengan satu tangan di punggung dan satunya lagi di belakang kepala Sinka, ia sedikit mengangkat tubuh Sinka agar ia tidak terlalu menunduk.

Sudah cukup lama mereka berciuman, akhirnya Sinka pun melepaskan ciumannya. Dengan bantuan tangan Rezza, tubuh Sinka kini berubah posisi, ia kini duduk di pangkuan Rezza dan saling berhadapan.

Mereka saling menatap satu sama lain sambil tersenyum.

CUPS!!

Rezza mengecup bibir Sinka secara tiba-tiba, Sinka yang sedikit terkejut hanya bisa tertawa kecil.

Berkali-kali Rezza mengecup bibir Sinka, kadang Sinka juga yang mengecup bibir Rezza secara tiba-tiba. Lama-kelamaan, kecupan Rezza mulai ke arah telinga dan leher Sinka.

Tangan Sinka yang tadinya hanya melingkar di leher Rezza kini mulai mencengkram punggung Rezza dan mengacak-acak rambut Rezza. Tangan Rezza pun juga mulai bergerak menyentuh semua tubuh Sinka bagian belakang.

Kecupan Rezza kini sudah mulai bergerak lebih ke bawah leher, perlahan Sinka juga mulai memajukan badannya, kepala Sinka yang bergerak mendongak dan menunduk dan ditambah deruan nafas mereka yang kasar tak beraturan membuat suasana di ruangan itu menjadi sangat eksotis.

“Za?”

Kecupan Rezza bergerak lebih menurun.

“REZZA!!”

“Eh? iya?” Rezza menoleh ke arah sumber suara.

“Ada apa kak?” tanya Rezza dengan polosnya.

*to be continue*

Author : Luki Himawan

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

admin numpang bikin note, thor…

Btw… ada sedikit pengumuman, bisa klik disini

Iklan

26 tanggapan untuk “Vepanda part 19

      1. gue udah bingung mau nulis gimana, kalo kaga gue tulis kaya gitu jadi pendek banget part ini, kurang greget 😂
        lagian ini part cuma buat hiburan doang kok bang

        Suka

      2. whatever lah,
        lupain aja kata” gue yg td, sorry.
        nulis aja apa yg lu mau, gue jg ga mau ngebatesin kreatifitas orang lain, asal bisa dipertanggung jawabkan, it’s okay ga masalah

        Suka

  1. Santai santai santai… 🙂
    .
    .
    Sekadar saran buat penulis, kalo bisa adegan “itunya” nggak usah terlalu panas. Soalnya kita nggak tau kan kalo pengunjung disini berumur 18 ke atas semua. Jadi kalo bisa adegan tersebut dihilangkan 😀 . Anyway, agan kayaknya berbakat didunia cerpan , mending agan buat cerita baru, terus di publish ke forum yg itu tu (agan pasti tau kan maksud ane?) . Ane yakin, pasti banyak yg mengapresiasi karya agan 😀 . Bukan niat mau menghasut loh gan :v

    Suka

    1. iye iye maap, ini lagi mau gue omongin sama bang ical
      kalo soal bikin cerita baru kayaknya nggak deh, ini aja gue udah bingung, anyway thanks buat kritik sama sarannya semua 🙏

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s