“Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 13

Seperti apa yang telah direncanakan oleh Andina kemarin, kini ia dan tentunya juga anak-anaknya tengah bersiap-siap. Hari ini tepat hari sabtu, dan mereka akan melakukan makan malam bersama teman SMA Andina dulu.

“Dek udah belum?” Naomi mengetuk pintu kamar Robby.

“Iya, udah kok.” Robby membuka pintu kamarnya.

“Yaudah, ayo turun. Kamu kelamaan, kayak cewek deh,” cibir Naomi.

Robby hanya bergumam tidak jelas menanggapi cibiran Naomi, dan ia pun menuju ke ruang tengah bersama Naomi. Di ruang tengah sudah terdapat Andina dan Yupi yang menunggu mereka.

“Udah ya?” tanya Andina saat melihat Robby dan Naomi turun.

“Udah Mah,” jawab Robby.

“Yaudah, berangkat yuk. Takut macet nanti di jalan.”

Mereka pun keluar rumah dan mengunci rumah sebelum menaiki mobil, kemudian setelah selesai mereka pun berangkat menuju ke sebuah restoran yang berada di sebuah hotel ternama. Sekitar dua puluh lima menit mereka ke tempat tujuan, karena jalan yang macet akibat banyak yang malam mingguan. Dan mereka pun telah sampai, di hotel tersebut.

Mereka berempat keluar dari mobil, dan berjalan menuju restoran yang sengaja telah dipesan untuk malam ini. Ketika mereka ingin masuk ke dalam restoran di dalam hotel tersebut, Robby terdiam sebentar karena ada telpon yang masuk di handphonenya.

“Mah?” panggil Robby.

Andina menoleh, dan membuat Andina terhenti juga, “Kenapa?”

“Izin bentar ya, mau angkat telpon dulu,” ucap Robby cengengesan.

Andina menggelengkan kepalanya, “Yaudah, sana. Nanti langsung ke dalam aja.”

Robby mengangguk, “Oke Mah.”

Robby pun berjalan menjauh dari restoran tersebut, ia mengangkat telpon yang sedari tadi berdering..

“Halo?”

“Udah sampe ya?”

“Iya nih, udah sampe. Maaf ya Shan, gak bisa nemenin.”

“Iya, gakpapa kok. Lagian kan kamu mau dinner sama keluarga, jadi gakpapa kok.”

“Aku jadi gak enak Shaniaaa.”

“Hh, udah deh. Ini aku udah mau berangkat kok, lagi nunggu taksi.”

“Maaf ya? Jadinya kamu sendiri deh perginya.”

“Gakpapa Robbyyy. Udah ah, gakpapa kok.”

“Tap-.”

“Et. Jangan minta maaf lagi. Gakpapa kok, beneran gakpapa Rob. Kamu mah.”

“Iya-iya, enggak kok.”

“Udah dulu ya? Taksinya udah datang, nanti kabarin lagi ya.”

“Hati-hati ya? Nanti kalau bisa, pulangnya aku jemput deh ya?”

“Enggak usah deh Rob, kamu kan lagi makan malam sama keluarga. Kamu aja gak bawa mobil kan? Nanti aku bisa naik taksi lagi kok pulangnya.”

“Hh, yaudah. Hati-hati ya.”

“Hu’um. Bye sayang.”

“Bye.”

Tuuttt…tuutt…tuuuttt…

Robby memasukkan handphonenya ke dalam saku celana kembali, ia kembali berjalan ke restoran. Dan ketika ia ingin masuk, ia tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan terburu-buru.

Bruk!

“Aw!”

Robby pun membantu orang tersebut untuk berdiri, “Sorry ya.”

Kemudian ia pun terdiam ketika melihat siapa yang barusan ditabraknya. Begitu juga dengan orang tersebut.

“S-Shani?”

“R-Robby?”

“Kamu ngapain?” tanya mereka berdua bersamaan.

Seketika mereka terdiam, dan pelan-pelan terdengar kekehan dari mulut mereka berdua. Robby meneliti Shani dari atas sampai bawah, dia cantik sekali malam ini. Dengan menggunakan dress selutut berwarna putih, ia terlihat sangat anggun mungkin(?).

“Rob?”

“Hm?”

“Kamu ngapain disini?” tanya Shani.

“Aku lagi mau makan malam bareng, kamu ngapain?”

“Sama dong? Aku mau makan malam juga disini, Mamah aku juga ada. Yaudah, masuk yuk.”

Robby mengangguk, dan mereka pun masuk ke dalam. Robby mengitari pandangannya mencari keberadaan Andina. Tak butuh waktu yang lama, ia telah mengetahui keberadaan Andina yang sedang berbicara dengan seseorang entahlah siapa…

“Aku ke sana dulu ya Shan,” pamit Robby.

“Eh, tungguin Rob. Aku mau ke sana juga,” ucap Shani.

Dahi Robby mengernyit, kemudian ia pun mengangguk. Dan berjalan bersama Shani menuju meja yang sudah terdapat Andina dan yang lainnya.

“Eh, udah ya? Sini kenalan dulu sama tante Lina,” ucap Andina yang melihat Robby sudah bergabung bersamanya.

“Robby tante,” ucap Robby sambil mencium tangan Lina.

“Udah gede ya kamu? Dulu perasaan masih kecil banget deh,” ucap Lina cengengesan menatap Robby.

“Mah,” panggil Shani.

Robby, Naomi dan Yupi menatap bingung pada Shani. Apalagi Naomi dan Yupi, yang sedari tadi melihat Shani bersama Robby.

“Mamah kapan ke sini? Kenapa gak bilang sama Shani?” tanya Shani.

“Baru tadi pagi kok, biar kejutan buat kamu gitu. Eh, sini kenalan dulu sama tante Andina, sama anak-anaknya juga,” ucap Lina.

Robby terdiam, ia mencerna ucapan dari Lina tadi. Kalau begitu, Shani ini anaknya tante Lina. Dan sekarang, ada beberapa hal yang memenuhi pikirannya. Kenapa ia bisa makan malam bersama keluarga Shani, apakah ia akan.. dijodohkan?

“Udah kenal Mah,” ucap Shani.

“Wah beneran? Bagus dong, kalau udah kenal. Jadi gak repot lagi, ya kan Din?” ucap Lina.

Andina mengangguk, “Kenapa gak pernah cerita sih kalau kalian udah kenal? Jadinya kita gak perlu gini lah.”

“Hh, Mamah aja gak ada di rumah,” ucap Robby pelan.

“Udah kak, jangan mulai deh,” ucap Yupi yang mengerti kemana arah pembicaraan Robby.

“Jadi kita tinggal nunggu satu orang lagi kan ya?” ucap Lina.

Andina mengangguk, “Iya, lagi kejebak macet kayaknya deh.”

Robby pun duduk di samping Naomi, sedangkan Shani duduk di sebelah Lina. Shani masih belum mengerti apa maksud dari makan malam ini, begitu pula Robby dan kakak juga adiknya. Mereka pun asik dengan kegiatannya masing-masing, dan kadang larut dalam suatu topik pembicaraan.

Tak berapa lama, dua orang kini tengah berjalan menuju meja mereka. Dan kemudian salah seorang tersebut menepuk pundak Andina pelan.

“Maaf lama ya Din, tadi di jalan macet soalnya.”

Andina dan orang tersebut pun melakukan cipika-cipiki, “Iya, gakpapa kok Mel.”

Robby sedang asik berbincang bersama Yupi, entah apa yang mereka bahas. Sedangkan Shani menatap bingung, orang yang sedang berasama Andina dan orang yang ada di belakangnya adalah sepupunya sendiri… Gre.

“Gre, kamu ngapain?” tanya Shani bingung menatap Gre.

“Ini tadi Mamah ngajakin gue dinner, tumben banget kan. Eh tapi kok lo ada di sini juga Shan?”

Gracia menatap sekelilingnya, dan dahinya berkerut menatap Robby.

“Loh, Rob? Lo ngapain deh di sini?” tanya Gre bingung.

“Eh, Gre?” Robby memandang Gre bingung.

“Yaudah, yuk kita pesen makan. Baru deh kita bicarain semuanya,” ucap Andina.

Mereka pun memesan makanan, setelah itu mereka makan malam bersama diselingi dengan pembicaraan ringan. Dan setelah selesai makan, keadaaan tiba-tiba menjadi serius..

“Robby?” panggil Andina.

“Iya Mah?”

“Mamah sama tante Mely, udah sepakat..”

“Sepakat apa Mah?” potong Robby menatap Andina.

“Kami udah sepakat, kalau kamu bakal dijodohkan sama Gracia anak tante Mely,” ucap Andina.

Hening, semuanya terdiam menatap Andina. Robby, menatap Andina tidak percaya. Ia dijodohkan? Hh, apa yang harus ia lakukan sekarang?

“K-kenapa jadi aku Mah?” tanya Robby.

“Ini sudah janji kami bertiga dulu sewaktu SMA, dari salah satu kami akan menjodohkan anak kami. Dan sekarang, Mamah yang akan menjodohkan kamu dengan anaknya tante Mely.”

“Mah, tapi kan Robby itu-,”

“Naomi, kamu diem ya,” ucap Andina memotong ucapan Naomi.

Shani menundukkan kepalanya, belum selesai masalah yang ia tidak tau kapan selesainya. Kini bertambah satu lagi masalahnya, dan itu dengan sepupunya sendiri. Apa yang harus ia lakukan?

Bahu Shani bergetar, ia menangis pelan. Apakah Tuhan tidak setuju apabila ia bersama dengan Robby? Tetapi mengapa ia mengirimkan perasaan ini kepada dirinya?

Shani merasakan ada yang merengkuh tubuhnya, ia mendongakkan kepalanya. Dan menatap Gre yang sedang mengusap pelan lengannya.

“G-gue gak tau bakalan kayak gini Shan,” lirih Gre.

Shani tersenyum tipis, ia tau satu hal bahwa Gre tidaklah salah pada masalah ini. Gre juga tidak tau apa-apa tentang perjodohan ini sama dengan halnya dirinya.

“Gakpapa kok Gre.” Shani memaksakan senyum terbaiknya.

“Apa aku gak pantas untuk bahagia?” ucap Shani dalam hati sambil menatap Robby.

~

Robby termenung menatap langit malam, ia kini berada di balkon kamarnya. Setelah pulang dari acara makan malam tadi, ia hanya diam. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya seperlunya saja ia keluarkan.

Robby menghela nafasnya, apa lagi sekarang? Andina baru saja datang, dan ia telah memutuskan perjodohan dengan anak temannya. Dan itu adalah temannya sendiri, Gre.

Pintu kamar Robby terbuka, tetapi Robby masih pada tempatnya. Kemudian ada yang menepuk pundaknya.

“Belum tidur?”

Robby menggelengkan kepalanya pelan.

“Kenapa?”

Robby menghela nafasnya, “Kayaknya aku emang gak bisa sama Shania terus ya kak?”

Naomi menatap iba pada adiknya, ia merasakan juga apa yang Robby rasakan saat ini. Entahlah, yang jelas. Melihat Robby seperti ini, ia menjadi sedih juga..

Naomi mengelus lembut tangan Robby, “Bisa kok. Nanti kakak bakalan bicara sama Mamah ya?”

Robby mengangguk menanggapi ucapan Naomi. Setelah itu Naomi pun pamit menuju kamarnya, untuk beristirahat karena ia sudah kelelahan. Dan Robby tetap pada posisinya, menatap langit malam yang seakan mirip dengan perasaannya.

Dengan langkah berat, Robby pun masuk ke dalam dan menutup pintu balkon kamarnya. Ia mengambil handphonenya yang berada di atas meja, ada satu pesan yang masuk di handphonenya. Kemudian ia membuka pesan tersebut..

ShaniIndiraN : Bagaimana sekarang? Kalau memang itu benar-benar akan dilaksanakan, apa salah satu dari kita akan merasakan sakit? Apa yang harus kita lakukan sekarang Robby? 🙂

 

*To be continued*

 

Created by: @RabiurR

Iklan

2 tanggapan untuk ““Saat Cinta Merubah Segalanya2” Part 13

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s