Lucid Dreams

image-2

“Aku… dimana?” Rusdi tiba-tiba terbangun di tempat antah-berantah.

Tempat itu begitu menyeramkan, suasananya pun hening. Disana tidak ada

satu pun makhluk hidup, termasuk tumbuhan tidak hidup disana.

“Apa aku di Neraka?” ia perlahan berdiri, menatap sekitar tempat itu

yang mulai dipenuhi kabut tebal.

Tiba-tiba sesuatu mendekat padanya. Suaranya seperti deru mesin yang

berdesing. Rusdi kemudian menoleh kearah sumber suara.

 

“Apa itu?” ia melihat seseorang tengah terbang mengendarai mesin aneh,

itu terlihat seperti orang yang sedang berselancar di udara.

 

Sekilas ia mengira itu adalah Silver Surfer atau Goblin, tapi

dugaannya salah. Orang itu mendekat padanya dengan cepat. Saat orang

itu mendarat di hadapannya, Rusdi kemudian mundur secara perlahan.

 

“Siapa kau? Kenapa kau ada ditempat ini?” tanya orang itu, kemudian

kaca yang menutupi wajah orang itu terbuka secara perlahan.

 

“Kau seorang wanita?” Rusdi balik bertanya, tapi wanita itu hanya diam.

 

Kemudian wanita itu menatap Rusdi dengan tatapan aneh. Ia menatap

Rusdi dari ujung kaki sampai ujung rambut.

 

“Scan selesai, ternyata kau tidak tahu apa-apa tentang dunia ini.

Dari mana kau berasal?” wanita itu kembali bertanya.

 

“Aku tidak tahu, tiba-tiba aku terbangun di tempat ini. Dimana ini?

Kenapa tidak ada kehidupan sama sekali.” tanya Rusdi.

 

“Aku bisa merasakan reaksi tubuh seseorang jika berbohong. Tapi

nampaknya kau tidak sedang berbohong, apa kau dicuci otak?” wanita itu

kembali bertanya.

 

“Tidak! Aku sama sekali tidak dicuci otak.” bantah Rusdi.

 

“Kalau begitu, kau ikut aku. Nanti akan kujelaskan bagaimana dunia

bisa seperti sekarang ini.” wanita itu kemudian berlalu meninggalkan

Rusdi, tapi kemudian ia menengok ke belakang.

 

“Namaku Kinal.” wanita yang bernama Kinal itu kemudian kembali

melangkah ke depan.

 

“Namaku…”

 

“Rusdi! Aku sudah scene semua tentang dirimu. Database dirimu sudah

ada padaku.” potong Kinal, Rusdi hanya menatapnya bingung.

 

Setelah itu Kinal mengikat papan seluncur itu dipunggungnya. Rusdi

kemudian melangkah mengikuti Kinal.

 

“Jadi, bagaimana dunia bisa seperti ini?” tanyanya.

 

“Semua ini terjadi karena ulah robot raksasa bernama Bonzai.” Kinal

kemudian menggigit bibir bagian bawahnya.

 

“Dahulu kala, seorang ilmuwan cerdas penemu hukum robot menciptakan

berbagai macam robot canggih. Ia disegani, dihormati, bahkan ditakuti

oleh semua orang. Namun, itulah awal dari malapetaka.” Kinal sejenak

diam.

 

“Sang ilmuwan tidak puas dengan robot canggih ciptaanya. Ia kemudian

menciptakan sebuah robot besar super canggih menyerupai laba-laba yang

ia sebut Bonzai. Butuh waktu lama untuk menyempurnakan mahakarya itu.”

Kinal kemudian menatap kearah Rusdi yang berada di sebelahnya.

 

“Ilmuwan itu sangat puas dengan hasil kerja kerasnya selama

berbulan-bulan. Tapi saat robot Bonzai dipamerkan, robot itu lepas

kendali. Dengan kecerdasannya robot itu mengupgrade dirinya sendiri.

Kemudian menjadi sesuatu yang mengerikan. Cahaya menyilaukan memenuhi

gedung pameran itu. Kemudian robot Bonzai membinasakan makhluk hidup

yang ia temui, termasuk manusia.” Kinal diam sejenak.

 

“Dan beberapa bulan setelah kejadian itu, manusia yang selamat

berlomba-lomba menciptakan robot super canggih untuk melawan robot

Bonzai. Tapi semuanya sia-sia. Robot Bonzai menciptakan pasukan yang

terlalu kuat untuk dilawan umat manusia. Cepat atau lambat manusia

akan segera punah.” ucap Kinal, kemudian kembali menatap lurus ke

depan.

 

“Begitu ya? Tapi kenapa aku tidak tahu sama sekali?” Rusdi semakin bingung.

 

“Ada kemungkinan kau telah dicuci otak. Tapi jika memang begitu, kau

pasti tidak akan ingat apa-apa.” Kinal juga terlihat bingung.

 

Saat mereka tengah serius mengobrol, tiba-tiba mereka melihat seorang

wanita yang sedang melawan robot berbentuk manusia dengan tubuh bagian

bawahnya berbentuk ular.

 

“Apa itu?” Rusdi terkejut.

 

“Itu salah satu robot yang diciptakan robot Bonzai. Ayo bantu dia!”

Kinal kemudian terbang dengan papan seluncurnya.

 

Kinal terbang kearah wanita itu. Wanita itu nampak kesulitan

menghadapi robot manusia-ular. Kinal dengan sigap menebas kepala robot

itu dengan pedang besar yang ada di balik papan seluncurnya.

 

“Astaga!” wanita itu terkejut dengan kemunculan Kinal yang tiba-tiba

memenggal kepala robot itu.

 

Kinal kemudian mendarat dekat wanita itu. Tak lama Rusdi datang

mendekat pada mereka berdua. Kepala robot itu putus dan menggelinding

entah kemana, sementara tubuhnya ambruk.

 

“Hey, kenapa kau menatapku seperti itu?” wanita itu merasa risih

dengan tatapan Kinal yang seolah menatapnya sebagai musuh.

 

“Scan selesai, ternyata namamu Yona. Kau ahli menggunakan berbagai

jenis senapan, tapi tadi amunisimu sudah habis. Jadi kau kesulitan

menghadapi robot itu. ” ucap Kinal.

 

“Bagaimana mungkin? Kau?” Yona nampak bingung.

 

“Ikut aku, ayo kita hentikan peperangan ini. Bantu aku mengalahkan

robot Bonzai, ayo kembalikan kedamaian dunia ini.” Kinal tersenyum

padanya.

 

“Aku tidak bisa, aku sudah tidak punya senjata lagi.” balas Yona.

 

“Aku punya banyak, ayo ikut aku.” ajak Kinal, setelah itu ia melangkah

mendahului mereka berdua.

 

“Kita akan kemana?” bisik Yona.

 

“Aku tidak tahu, aku baru saja bertemu dengannya tadi.” jawab Rusdi.

 

Tak lama mereka berjalan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah kecil.

Lalu Kinal masuk lebih dulu, diikuti oleh Yona dan Rusdi.

 

“Astaga! Banyak sekali senjata!” Yona terkagum-kagum melihat berbagai

jenis senjata disana.

 

“Silahkan pilih sesukamu.” Kinal kemudian meletakkan papan seluncurnya

diatas meja.

 

Tak lama, seseorang tiba-tiba muncul di dekat Kinal. Orang itu

mengenakan jubah aneh.

 

“Sejak kapan ada orang lain disana?” tanya Rusdi.

 

“Perkenalkan, dia adalah Ve. Dia bisa menggunakan kekuatan petir, dan

dia bisa bergerak cepat melalui gelombang suara.” ucap Kinal, Ve hanya

melambaikan tangan kearah mereka.

 

“Waw, kau bisa teleportasi?” tanya Yona.

 

“Tidak, itu bukan teleportasi. Teleportasi bergerak melewati ruang dan

waktu, sementara aku hanya bergerak cepat.” jawab Ve disertai senyuman

manisnya.

 

“Tapi, bagaimana mungkin… kau?” Rusdi terlihat bingung.

 

“Baiklah, waktunya mencari rekan lain!” potong Kinal.

 

Setelah itu mereka memilih senjata masing-masing. Hanya Kinal yang

tidak memilih senjata, karna ia sudah memiliki papan seluncur dan

sebuah pedang besar dibawahnya. Rusdi memilih sebuah katana yang

tebasannya dapat menghasilkan api. Yona memilih dua buah punisher dan

sebuah shotgun angin berkekuatan tinggi. Sementara Ve hanya membawa

sebuah tongkat yang dapat mengalirkan kekuatannya.

 

“Ayo!” perintah Kinal, lalu mereka kembali melanjutkan perjalanan.

 

Mereka berjalan menyusuri jalanan besar. Tak jarang mereka juga harus

menghadapi beberapa robot dalam perjalanan mereka.

 

“SINKA LARI!!!” teriak seorang wanita.

 

“Kakak?” sementara wanita lain yang berhadapan dengannya hanya menangis.

 

Dua kakak-beradik yang bernama Naomi dan Sinka tengah berusaha

melarikan diri dari robot manusia yang tingginya hampir tiga meter.

Robot itu terus memburu mereka berdua. Jika sampai tertangkap, mereka

akan dimusnahkan.

 

“LARI SINKA!!!” Naomi berusaha melindungi adiknya, dan mengorbankan dirinya.

 

“Kakak?” sementara adiknya hanya menangis, tidak mau membiarkan

kakaknya mati begitu saja.

 

Tiba-tiba, robot manusia itu ditembak oleh seseorang dari belakang. Seketika robot itu marah, lalu ia menengok ke belakang.

 

“Hey jelek!” Yona menyeringai, ia menembak robot itu dengan shotgun

angin miliknya.

 

“Serang dia!” perintah Kinal, lalu mereka menyerang robot itu.

 

Ve dengan kecepatan kilat melewati robot manusia itu dengan mudahnya.

Robot itu berusaha menangkap Ve, tapi Ve terlalu cepat. Saat robot itu

lengah, Kinal terbang melewati robot itu dengan mudahnya.

 

“Dasar robot jelek!” tanpa aba-aba lagi, Rusdi menebas udara dengan katananya.

 

Udara itu seketika berubah menjadi nyala api. Lalu menjalar dan

menyerang robot itu. Robot manusia itu hanya mengerang keras.

 

“Ayo pergi!” Kinal menarik lengan Naomi dengan kasar.

 

“Tunggu! Kau siapa?” tanya Naomi.

 

“Jangan banyak tanya, ayo ikut kami. Jangan khawatir, kami bukan orang

jahat!” balas Ve, lalu mereka menurut begitu saja.

 

Yona terus menembaki robot itu, sementara Rusdi menyerang dari jarak dekat.

 

“Ash sial.” robot itu berhasil menjatuhkan Rusdi, lalu hendak

menembaknya dengan senjata yang ada di tangannya.

 

Saat robot itu hampir melepaskan tembakannya, tiba-tiba ia meledak.

Rusdi terkejut dan berusaha melindungi kepalanya.

 

“Sudah selesai.” Ve tersenyum, ternyata ia yang meledakkan robot itu

dengan tongkatnya.

 

“Ayo kita ke markas!” perintah Kinal, lalu mereka berbalik arah menuju markas.

 

Setelah sampai di markas, Kinal lalu menatap Naomi dan Sinka dengan

tatapan anehnya.

 

“Kenapa? Kenapa dia menatapku begitu?” tanya Naomi panik.

 

“Scan selesai, kau Naomi tidak memiliki keahlian apapun. Kau juga

Sinka tidak memiliki keahlian apapun, lantas apa keahlian kalian?”

Kinal terlihat lesu, nampaknya mereka membawa orang yang salah.

 

“Entahlah, kau yang membawa kami.” jawab Naomi geram.

 

“Selama ini kami hidup berkelana. Pergi dan menghindar dari

robot-robot itu. Orang tua dan kerabat kami sudah mati, hanya kami

yang masih bertahan hidup.” Sinka terlihat sedih menceritakannya.

 

“Baiklah, kalian akan kuberikan masing-masing sebuah senjata. Tapi

ingat, kalian hanya boleh menggunakan senjata itu saat melawan robot.”

ucap Kinal mengingatkan.

 

“Dan kalian harus ikut kami untuk menghentikan perang ini. Ayo kita

kalahkan robot Bonzai.” sambung Ve.

 

“Ini T100, senjata laras panjang untukmu Sinka.” Kinal memberikan

sebuah senjata cukup besar pada Sinka.

 

“Ini Katak Bersiul, untukmu Naomi.” Kinal memberikan Naomi sebuah senjata kecil.

 

Seketika semua orang yang ada disana menahan tawa. Yona bahkan menutup

mulutnya untuk menahan tawa.

 

“Hey kenapa punyaku kecil? Punya Sinka besar!” protes Naomi.

 

“Kakak mau senjata aku? Ambil aja.” Sinka hendak memberikan

senjatanya, tapi Naomi menolak.

 

“Kenapa punyaku Kodok Berisik?” Naomi asal mengarahkan senjatanya.

 

“Hey hati-hati!” Kinal memegangi lengan Naomi.

 

“Senjata itu juga kuat!” Kinal lalu melepaskan lengan Naomi.

 

“Ini sudah malam, kita lanjutkan perjalanan besok. Jangan takut, kita

semua pasti bisa menghentikan perang ini.” ucap Kinal, Ve hanya

mengangguk pelan.

 

Setelah itu mereka tidur. Kinal tidur terlebih dahulu, sementara Yona

tidur di dekat si kembar. Rusdi hendak tidur, tapi ia tidak enak. Ia

seorang laki-laki, masa tidur dekat wanita? Lalu ia memutuskan untuk

tidur di luar markas. Dalam remang-remang malam, ia melihat seseorang

tengah duduk sendirian.

 

“Ve?” tebaknya.

 

Lalu Ve menengok, dan ia membiarkan Rusdi untuk duduk menemaninya malam itu.

 

“Kau tahu…”

 

“Tidak aku tidak tahu!” potong Rusdi.

 

“Aku belum selesai bicara.” Ve terlihat kesal.

 

“Selama ini tujuanku bergabung dengan Kinal bukanlah untuk

menghentikan perang, melainkan untuk mendapatkan teman. Ia menjanjikan

kehidupan yang lebih baik.” ucap Ve.

 

“Kinal membuatkanku sebuah tongkat yang dapat mengalirkan kekuatanku.

Tongkat ini aku namakan Flashlight. Kekuatannya tidak diragukan lagi.

Bahkan tadi kau lihat sendiri tongkat ini bisa meledakkan robot itu

hanya dengan sekali serang.” Ve tersenyum puas.

 

“Ada satu pertanyaan yang mengganjal hidupku. Kinal itu sebenarnya

apa? Maksudku kenapa dia bisa scene dan menyimpan database pribadiku?”

tanya Rusdi.

 

“Kinal adalah robot jenis baru, dan satu-satunya yang masih bertahan

hidup. Prinsipnya sama seperti manusia, yaitu berambisi untuk

mengalahkan robot Bonzai.” jawab Ve.

 

“Sudahlah jangan bertanya lagi, selamat malam!” Ve tidur begitu saja

di dekat Rusdi.

 

“Selamat malam juga.” Rusdi pun tidur disana membelakangi Ve,

ujung-ujungnya juga ia tidur dekat wanita.

 

Pagi itu, Rusdi perlahan membuka matanya. Lalu saat ia benar-benar

sadar, ternyata ia tidur sambil memeluk tubuh Ve.

 

“HUUAAA!!!” Rusdi seketika terperanjat, dan tidak sengaja membangunkan Ve.

 

“Ada apa?” Ve mengucek matanya.

 

“Semuanya ayo berkumpul! Siap-siap, dua jam lagi kita berangkat!” ucap

tegas Kinal.

 

Seketika mereka semua bersiap-siap. Mulai dari mandi, makan,

menyiapkan senjata, dan lain-lain.

 

“Ada satu pertanyaan yang mengganjal hidupku, dari mana aku berasal?”

tanya Rusdi, ia sedang melamun di dekat Kinal.

 

“Hmm… cuci otak?” tebak Kinal, seketika Rusdi menatapnya geram.

 

Kinal selalu mengatakan kalau ia pernah dicuci otak. Tapi Rusdi

membantahnya, ia sama sekali tidak pernah dicuci otak. Rusdi kemudian

berlalu meninggalkan Kinal yang masih terdiam disana.

 

Dua jam kemudian, mereka sudah siap dengan segala peralatan canggih.

Mereka benar-benar sudah siap pergi ke medan pertempuran.

 

“Ayo!” ucap Kinal, Ve hanya menyeringai penuh semangat.

 

Mereka benar-benar terlihat keren. Kinal dengan papan seluncurnya yang

ia bawa, Ve dengan Flashlight yang ia selipkan di ikat pinggangnya,

Rusdi dengan katana berapinya yang ia sarungkan, Yona dengan 3 senapan

andalannya, Sinka dengan senjata T100 yang cukup besar, dan Naomi

dengan senjata kecilnya.

 

“Hey ayolah! Kenapa harus senjata ini? Lihat, kalian semua terlihat

keren kecuali aku! Disana kan masih banyak senjata lain.” protes

Naomi, tapi yang lain tidak menggubrisnya.

 

Perjalanan menuju tempat robot Bonzai membutuhkan waktu dua hari,

mungkin lusa mereka baru bisa sampai. Perbekalan mereka sudah cukup,

senjata pun sudah dipersiapkan.

 

“Ayo berangkat!” gumam Ve, ia tersenyum kecil.

 

Mereka terus saja berjalan, sesekali Naomi mengeluh karna cape. Tapi

Kinal dan yang lainnya hendak meninggalkannya jika ia masih seperti

itu. Sorenya, mereka memutuskan untuk beristirahat hingga besok pagi.

Beruntung sekali hari ini tidak ada satu pun robot yang menghalangi

jalan mereka.

 

“Malam ini kita istirahat disini.” ucap Kinal.

 

Setelah itu mereka mendirikan beberapa tenda. Lalu membuat tempat itu

menjadi senyaman mungkin. Malamnya saat mereka tengah bersantai,

tiba-tiba terdengar suara keributan.

 

“Apa itu?” tanya Ve, ia sangat terkejut.

 

“Ayo periksa!” Kinal kemudian membawa papan seluncurnya dan hendak

memeriksa sumber suara.

 

Dan ternyata suara keributan itu berasal dari seseorang yang tengah

melawan beberapa robot yang jauh lebih besar, kira-kira tingginya

hampir 5 meter. Orang itu sangat gesit menyerang dengan senjatanya. Ia

memegang dua buah senjata seperti katana mini bercahaya, mungkin

laser.

 

“Wow… dia hebat sekali.” semuanya dibuat kagum oleh orang itu.

 

Orang itu terus menyerang dan memotong robot-robot itu dengan

senjatanya. Salah satu robot berhasil menangkapnya, orang itu terkejut

hingga menjatuhkan senjatanya. Orang itu kemudian mengambil pisau

belati yang ada di dadanya, lalu memotong jari robot yang

menangkapnya. Orang itu berhasil lepas, lalu kembali mengambil

senjatanya. Setelah itu ia kembali melancarkan serangan-serangan

mematikan.

“Dia hebat!” bahkan Kinal pun kagum pada kemampuan orang itu.

 

Orang itu berhasil mengalahkan beberapa robot yang jauh lebih besar

darinya hanya dalam waktu kurang dari 5 menit. Luar biasa, ia sangat

lincah. Mereka kemudian mendekat pada orang itu. Orang itu berpakaian

seperti agent rahasia. Ia mengenakan baju karet berwarna hitam dibalut

dahrim dan mengenakan sebuah celana PDL panjang.

 

“Kalian siapa?” tanya orang itu.

 

“Perkenalkan namaku Kinal, pemimpin kelompok ini.” ucap Kinal, ia

tidak berani scene orang itu.

 

“Hey kau tidak pantas menjadi pemimpin, seharusnya itu aku!” Rusdi

bergaya konyol layaknya seorang pemimpin.

 

“Dan dia Rusdi, itu Ve, Sinka, Yona, dan Naomi.” Kinal memperkenalkan semuanya.

 

“Namaku Boim, agent rahasia nomor X-L2.” ucap orang itu yang bernama Boim.

 

“Maukah kau bergabung bersama kami? Menghentikan perang ini, dan

mengalahkan robot Bonzai.” ajak Kinal.

 

“Itu memang misiku, aku ikut!” balas Boim.

 

Setelah itu mereka kembali ke tenda untuk makan. Setelah makan mereka

kemudian tidur. Rusdi tidur dengan Boim, Naomi dengan Sinka, Yona

dengan Ve. Sementara Kinal tidur sendirian di tendanya. Tengah malam,

Kinal tiba-tiba terbangun. Kemudian ia memutuskan untuk keluar tenda

mencari udara segar.

 

“Boim? Kau kah itu?” Kinal melihat Boim sedang melakukan hal aneh.

 

“Sedang apa kau malam-malam begini sendirian?” tanyanya.

 

“Aku sedang mencari sinyal radio teman-temanku. Jika aku berhasil

menemukannya, aku bisa minta bantuan mereka untuk mengalahkan robot

Bonzai!” jawabnya.

 

“Permisi!” sebelum Kinal bertanya lagi, Boim lebih dulu meninggalkannya.

 

“Kinal!” panggil Rusdi.

 

“Kau belum tidur?” tanya Kinal, Rusdi hanya menggeleng pelan.

 

“Ada satu pertanyaan yang mengganjal hidupku.” Rusdi kemudian duduk di

sebelah Kinal.

 

“Cuci otak?” tebak Kinal.

 

“Bukan! Maksudku Ve itu apa? Maksudku kenapa dia bisa memiliki

kekuatan mengendalikan petir?” Rusdi terlihat gugup bertanya.

 

“Baiklah, karna kau sudah bertanya maka akan kujelaskan.” Kinal

menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan.

 

“Sebenarnya Ve itu Mutant. Dia adalah kelinci percobaan seseorang.

Manusia hasil uji coba yang sempurna.” Kinal mengerutkan dahinya.

 

“Aku tidak mengerti.” Rusdi terlihat bingung.

 

“Ve sejak kecil tidak pernah memiliki teman. Saat awal aku bertemu

dengannya, ia bahkan selalu sendiri. Setelah ia bergabung denganku,

aku membuatkannya sebuah senjata khusus agar ia bisa mengontrol

kekuatan petir miliknya.” ucap Kinal.

 

“Ve belajar dengan baik cara mengendalikan senjata itu. Ia namakan

senjatanya, Flashlight! Sebuah senjata yang…”

 

“Bukan itu yang kumaksud, maksudku bagaimana cara dia mendapatkan

kekuatan petir?” Rusdi memotong.

 

“Dia pernah bercerita padaku asal-usul ia mendapatkan kekuatan petir.

Sejak bayi ia sudah menjadi kelinci percobaan. Ia selalu menahan rasa

sakit setiap kali eksperimen itu dieksekusi. Dan saat usianya mencapai

10 tahun, eksperimen itu akhirnya berhasil. Ve mendapatkan kekuatan

petir, 2 tahun ia belajar mengendalikan kekuatan itu.” jelas Kinal.

 

“Selama 12 tahun ia selalu menderita, ia harus menahan rasa sakit

karna efek kekuatan petir itu. Dan saat ada kesempatan, Ve akhirnya

melarikan diri. 5 tahun ia mengembara seorang diri, tanpa memiliki

satu pun teman. Berpindah tempat dari desa ke desa, dari kota ke kota.

Dan akhirnya ia bertemu denganku, lalu kami jadi rekan sejak saat

itu.” sambung Kinal.

 

“Ve salalu mematuhi perkataanku. Bahkan suatu ketika ia rela

mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanku dari robot Bonzai.” ucap

Kinal.

 

“Robot Bonzai? Apa kau pernah bertemu dengannya?” tanya Rusdi.

 

“Dulu aku dan Ve pernah melawannya, tapi kekuatan kami masih kurang.

Aku mungkin sudah mati jika saat itu Ve tidak menyelamatkanku, aku

beruntung memiliki rekan seperti dia. Dan aku masih ingat jelas tempat

itu, tempat dimana aku bertemu dengan robot Bonzai.” jawab Kinal.

 

“Baiklah, waktunya tidur! Besok persiapkan dirimu untuk melawan robot

terkuat di dunia ini!” Kinal beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi

berlalu meninggalkan Rusdi.

 

Saat Rusdi hendak tidur, tiba-tiba terdengar suara aneh memekikkan

telinga. Rusdi langsung terkesiap membuka matanya lebar-lebar.

 

“Ada apa?” tanyanya, tiba-tiba dari semak belukar Boim berlari kearah tenda.

 

“Awas!” Boim memperingati Rusdi.

 

“Ada apa?” Rusdi semakin panik, tiba-tiba ada robot besar menyerangnya.

 

Rusdi terkena serangan itu, ia terpental beberapa meter. Kemudian

orang-orang berkumpul, termasuk Kinal yang baru saja masuk tenda.

 

“Siapa robot itu?” tanya Rusdi, Kinal hanya menatap robot itu.

 

Tatapan Kinal seperti penuh dengan ketakutan. Rusdi tidak banyak

tanya, ia kemudian menatap robot besar yang berbentuk seperti

laba-laba itu.

 

“Aku tidak mengerti, bagaimana mungkin dia bisa sampai kemari?” Kinal

terlihat takut.

 

“Aku tidak sengaja memancingnya dengan sinyal radio.” balas Boim.

 

“Itulah robot Bonzai!” sambung Kinal.

 

“Jadi itu yang namanya robot Bonzai, baiklah ayo serang dia!” Yona

antusias bersiap menyerang.

 

“Serang!” perintah Kinal, mereka kemudian mulai menyerang robot Bonzai.

 

Yona menembaki dari jarak jauh, Kinal terbang menuju kepala robot

Bonzai, Ve berlari menuju puncak bukit di dekat sana, Sinka, Naomi,

Rusdi dan Boim berlari menuju robot Bonzai.

 

“Ahh…” Kinal tertembak, ia jatuh dari ketinggian.

 

“Sambaran api!” Rusdi menebas salah satu kaki robot Bonzai.

 

Sinka mulai menembaki robot Bonzai dengan senjata T100 miliknya. Robot

Bonzai balik menembaki Sinka tanpa ampun. Sinka berusaha lari,

kemudian Boim membantu Sinka. Boim melompat, kemudian memanjat menuju

kepala robot Bonzai. Boim menyerang bertubi-tubi, tapi ia terkena

tembakan.

 

“ASTAGA, MAAF!!!” teriak Yona.

 

Senjata Boim terpental karna tembakan itu. Boim hendak menusuk mata

robot Bonzai dengan katana mini miliknya, tapi ia lebih dulu terkena

serangan robot Bonzai. Boim jatuh secara perlahan, ia terlalu lincah

untuk dijatuhkan dengan keras. Sementara Rusdi terus menebas kaki itu,

tak lama katananya patah.

 

“Pa… tah…” Rusdi kemudian tertebas oleh pedang kecil yang ada di

kaki robot Bonzai.

 

Rusdi menjauh dari kaki itu, darah menetes dari pipinya. Kinal

kemudian berdiri, tak lama ia tertembak kembali. Kali ini Kinal

ditembak bertubi-tubi tanpa ampun.

 

“KINAL!!!” teriak Ve, Kinal kemudian tumbang.

 

Ve mulai marah, ia mengacungkan Flashlight ke atas. Ia memegang

kuat-kuat senjata itu dengan kedua tangannya. Ia hendak menyerang

robot Bonzai dengan satu serangan besar. Kinal sudah mati, robot versi

baru terakhir itu telah rusak. Boim dengan lincahnya menyerang

walaupun hanya menggunakan katana mini. Sinka mendekat, ia hendak

menembakkan senjatanya. Boim terjatuh, Sinka dengan cepat menembakkan

senjatanya. Tidak ada efek, robot Bonzai kemudian menangkap Sinka.

 

“Tolong…” Sinka berusaha melepaskan diri.

 

“Arrg… lenganku!” Boim memegangi lengannya yang terluka.

 

“HEY, LEPASKAN ADIKKU!!!” teriak Naomi, lalu ia mengarahkan senjatanya

pada robot Bonzai.

 

“Baiklah, kau yang memaksaku menembak!” Naomi hendak menembak.

 

Naomi kemudian menembak, ia terpental cukup jauh karna kekuatan

senjatanya yang jauh lebih besar dari pada milik Sinka. Dari

senjatanya terdengar suara mendesing seperti suara katak. Naomi

berhasil merusak salah satu mata robot Bonzai, Sinka akhirnya

dilepaskan. Sinka kemudian berlari menjauh meninggalkan senjatanya.

 

“Wow… Kodok Teriak!” Naomi sangat terkejut, ternyata senjatanya amat kuat.

 

Robot Bonzai tertunduk, asap mengepul dari matanya. Boim kemudian

menyerang robot Bonzai yang masih terkulai lemah. Boim tertembak oleh

senapan robot Bonzai, tapi ia terus menyerang mata robot Bonzai.

 

“Ini untuk semuanya!” Boim berhasil merusak dua mata robot Bonzai.

 

Mata itu meledak, Boim terpental dan jatuh. Saat Boim hendak kembali

berdiri, tiba-tiba sebuah tali karet melilit tubuhnya. Tali karet itu

sebelumnya ditembakkan oleh robot Bonzai. Boim tumbang, darah

bercucuran membasahi tubuhnya. Boim sudah tidak bisa berbuat apa-apa

lagi, ia sudah menyerah.

 

“SIALAN KAU!!!” Rusdi menyerang dengan tangan kosong.

 

Saat Rusdi hendak ditembak oleh senapan robot Bonzai, tiba-tiba Yona

menembak senapan itu dengan shotgun angin miliknya. Senapan itu

meledak, Rusdi terkesiap.

 

“Yona?” Rusdi melihat Yona yang mendekat sambil terus menembaki

senapan lain dengan shotgun angin miliknya.

 

“SEMUANYA!!! MENJAUHLAH!!!” teriak Ve.

 

Naomi kemudian berdiri, lalu menjauh dari tempat itu. Sementara Sinka

sejak tadi sudah menjauh.

 

“Rusdi, aku akan menghancurkan semua senapan itu. Kau pergilah,

selamatkan dirimu!” Yona mendorong Rusdi dengan kasar, kemudian

kembali menembaki senapan robot Bonzai yang lain.

 

“Yona?” Rusdi perlahan menjauh meninggalkan Yona.

 

“HAAAAAAAAAA…!!!” Ve menembakkan petir berkekuatan besar dari tongkatnya.

 

Robot Bonzai membuat sebuah pertahanan berupa perisai yang tak kasat

mata. Seketika terdengar ledakan besar. Angin menghembus dengan kuat.

Rusdi hanya bisa bertahan. Sinka bersembunyi di balik batu besar, dan

Naomi bersembunyi di balik pohon. Sementara Yona sudah tak terlihat

lagi karna ledakan besar itu.

 

“VE!!!” teriak Rusdi.

 

Setelah ledakan, asap mengepul dari tempat robot Bonzai berpijak.

Tiba-tiba dari balik asap sebuah tali karet terlemparkan, kemudian

melilit tubuh Ve. Ve yang sudah terkulai lemah hanya bisa pasrah, ia

kemudian tumbang. Ternyata robot Bonzai masih bertahan, perisai itu

cukup kuat untuk menahan ledakan besar. Dari atas, dua buah pedang

terlemparkan. Tiba-tiba dua pedang itu menancap di kedua mata robot

Bonzai. Pedang itu adalah senjata Boim, dan Rusdi yang melemparkan

kedua pedang itu.

 

“HAAA!!!” Naomi kembali menembak, dan ia kembali terpental.

 

Tembakan itu dibelokkan oleh robot Bonzai dengan mudahnya. Naomi

kembali menembak, kali ini Naomi terpental menghantam batu. Naomi

seketika pingsan.

 

“KAKAK!!!” Sinka terkena serangan dari senjata Naomi yang dibelokkan

kearahnya oleh robot Bonzai.

 

Suasana seketika sepi, senyap tak ada lagi suara. Rusdi berdiri

sendirian menghadap robot yang selama ini ditakuti orang-orang.

 

“Mungkin inilah akhirnya…” Rusdi nampak pasrah.

 

Kinal sudah mati, Boim entah hidup atau mati, Yona menghilang entah

kemana. Dan sekarang ia tidak tahu bagaimana nasib ketiga temannya itu

setelah terkena ledakan besar dari kekuatan Ve.

 

“Naomi… Sinka…” Rusdi meneteskan air mata, kemudian ia mengusap matanya.

 

“Kau pasti akan kukalahkan! Robot sialan!” Rusdi mendekat, tapi robot

Bonzai menyerangnya.

 

Rusdi terpental hingga menghantam sebuah pohon. Rusdi jatuh

tersungkur, ia sangat kesakitan hingga tidak bisa berdiri lagi.

Tulangnya ada yang patah, rahangnya berdarah. Rusdi menatap

teman-temannya yang sudah tidak sadarkan diri. Tiba-tiba robot Bonzai

mendekat padanya.

 

“Inilah akhirnya…” Rusdi menutup matanya.

 

Robot Bonzai berjalan cepat menuju Rusdi. Dengan sisa 4 mata, ia masih

bisa melihat dengan baik. Robot Bonzai hendak menembak Rusdi dengan

lasernya dari jarak dekat. Semua senjata robot Bonzai sudah

dihancurkan oleh Yona, hanya tersisa laser dari matanya. Ve yang masih

sadar berusaha menolong Rusdi. Tapi apa daya, ia masih terikat oleh

tali karet. Tembakan itu hampir dilepaskan. Rusdi terlihat pasrah, ia

sudah sekarat

 

“Semoga masih sempat!” Ve bergerak cepat kearah Rusdi, ia masih terikat.

 

Ve melindunginya, ia bergerak cepat dan tiba-tiba ada di depan Rusdi.

Ve berdiri di depannya, dan mengorbankan nyawanya untuk Rusdi.

 

“AAARRRRRGGGG!!!” Ve tertembak, laser milik robot Bonzai menembus tubuhnya.

 

Rusdi hanya diam, ia tidak sanggup berkata apapun lagi. Napasnya

sesak, ia sesenggukan saat melihat Ve jatuh tersungkur di hadapannya.

 

“Ve…” Rusdi mendengus.

 

Robot Bonzai kemudian menembak Rusdi yang sedang sekarat.

 

* “HUAAAA!!!” tiba-tiba Rusdi terbangun di kasurnya.

 

“Kau kenapa?” tanya temannya, yang bernama Ulung.

 

“Aku mimpi!” jawab Rusdi spontan.

 

“Mimpi basah?” tebaknya.

 

“Bukan! Maksudku, aku mimpi aneh. Mimpi itu seperti nyata!” Rusdi

membuka matanya lebar-lebar.

 

“Mungkin kau mengalami Lucid Dream.” balas Ulung.

 

“Apa itu?” tanya Rusdi.

 

“Lucid Dream adalah sebuah mimpi dimana kau merasa mimpi itu sangat

nyata. Dan kau bisa mengontrol mimpi itu sesukamu.” Ulung duduk di

kasurnya.

 

“Bagaimana kau tahu?” tanya Rusdi.

 

“Aku sering baca buku. Sudahlah! Ayo berangkat kuliah.” balas Ulung,

kemudian ia berdiri.

 

“Tunggu! Aku belum siap-siap!” Rusdi berlari ke kamar mandi.

 

“Sejak ngekost disini kau selalu seperti itu. Apa kau tidak bisa lebih

gesit lagi?”

 

“Maaf!” Rusdi menutup pintu kamar mandi, Ulung hanya menggeleng pelan.

 

“Pertama kali mengalami Lucid Dream, kau sangat terkejut.” Ulung menyeringai.

 

TAMAT

 

Author Note : Saran, kritik dan pertanyaan silahkan mention ke twitter

@RusdiMWahid atau add FB Rusdi M Wahid

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s