Sister’s Diary

sister

Sister’s Diary

Suara tangisan bayi menggema di penjuru rumah, bayi itu sepertinya sangat dinantikan kelahirannya oleh anggota keluarganya yang lain, terutama sang kakak. Kakak dari bayi itu sudah beberapa kali berdoa kepada Tuhan agar dirinya bisa mempunyai adik, dan tak lama setelahnya. Doanya benar-benar terkabul. Tuhan memberikannya seorang adik perempuan yang lucu nan menggemaskan.

Hari demi hari keluarga kecil itu menikmati kebahagiaan mereka dengan hadirnya si bayi, terutama si kakak. Ia setiap hari mengajak adik kecilnya bermain walaupun tentunya si adik kecil jelas tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun si bayi tidak merespons, si kakak tetap senang jika ia berada di dekat adik kecilnya itu. Beberapa kali diciuminya pipi dan kening si adik.

“Maaah maaah… aku mau ngegendong adeek yaa ?” rengeknya manja kepada wanita paruhbaya yang merupakan Mamanya

“Jangan sayang, kamu masih kecil, yang ada nanti kamu gakuat dan jatuh” anaknya mengerucutkan bibirnya, ia kecewa karena permintaannya ditolak Mamanya

“Yaaaah”

“Kamu kan masih bisa main sama adek sayang…” usul Mamanya berusaha menghibur

“Iya Maah”

Lama kelamaan si bayi mulai tumbuh, ia berjalan merangkak, berbicara sampai akhirnya belajar berjalan dengan kedua kakinya sendiri. Adik kecil itu betul-betul membawa dampak perubahan yang besar di dalam keluarga tersebut. Mereka semua seakan teralih perhatiannya dan hanya tertuju menatap si adik kecil. Mereka menganggap si adik kecil sebagai anugerah dari Yang Maha Kuasa yang tak boleh disia-siakan.

*17 Years Later

“Kakaaaaaaaak” teriak si adik memanggil kakaknya yang tengah tertidur

Tetapi teriakannya itu, sepertinya tidak cukup untuk membangunkan si Kakak. Ia mengguncang-guncangkan tubuh kakaknya perlahan, sampai akhirnya orang yang diguncang itu mulai bangun membuka mata. Diregangkan tangannya keatas, sebelum melihat wajah adiknya dengan kesal karena dibangunkan dari tidurnya

“Apa sih, Nin ? Kakak tuh masih ngantuk tau ga  ?!” geram si Kakak sedikit kesal

“Ini tuh hari apa ? Bukan tanggal merah atau hari Minggu kan ?” tanya kakaknya lagi, ia masih sedikit belum sadar, selain belum sadar sepenuhnya, ia teringat akan hal konyol waktu itu

“Iiiiih bukan lah Kak, ini tuh Hari Sabtu”

Anin memang pernah mengalami hal yang konyol, pernah suatu kali pada waktu ia berada di bangku SMP, ia masuk ke sekolah. Dan sesampainya di sekolah, ia mendapati pintu pagar sekolahnya tertutup. Tidak ada siapa-siapa disana, sepi. Padahal ia sudah rapi memakai seragam putih birunya. Barulah ia menyadari apa yang terjadi, ternyata hari itu adalah Hari Libur Nasional (Tanggal Merah). Pantas saja sekolah sepi. Ditepuknya pelan dahinya untuk menyadari betapa bodohnya dia

“ Liat ini udah jam berapa ? Aku bisa terlambat sekolah nanti. Emangnya kakak juga gaada kelas apa hari ini ?” si adik yang sudah tidak kecil (?) terus menggerutu kesal

Kakaknya itu melihat kearah jam dinding, dan benar saja, jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Ia baru menyadari bahwa hari itu ada kelas di Kuliahnya. Langsung saja ia terlonjak kaget dan bangun dari ranjangnya sebelum pergi untuk mandi

“Iiih dasar” ia menggeleng-gelengkan kepala selepas Kakaknya masuk ke kamar mandi

Si adik turun kembali ke ruang tamu, menunggu kakaknya yang tengah mandi di meja makan, tak henti-hentinya ia menggerutu kesal terhadap kakaknya itu. Tetapi sama sekali tidak terbersit rasa benci kepada sosok si kakak. Bagaimanapun, kakaknya lah yang merawat dan membesarkannya dengan sabar juga penuh kasih sayang, kedua orang tua mereka selalu sibuk dengan urusan pekerjaan di luar kota bahkan kadang di luar negeri. Jadi, mau tidak mau, ia harus hidup terbiasa berdua dengan kakaknya. Tak bisa dipungkiri, ia sangat menyayangi kakaknya itu, bahkan melebihi rasa kasih sayangnya terhadap kedua orang tuanya.

“Kak Keeelvviiin.. lama amat sih mandinya” teriaknya keras di rumah yang luas itu

“Iya-iya.. ini kakak udahan kok Anin, lagi siap-siap” balas kakaknya tak kalah berteriak

Ya, nama kakaknya adalah Kelvin, nama lengkapnya Kelvin Rama Cahyadi, berumur 20 tahun, berpostur lumayan tinggi, mata yang agak sipit, memiliki paras yang tampan, dan kadang selalu menjadi incaran banyak wanita baik di sekolah dulu maupun di Universitas tempat ia berkuliah sekarang. Kadang si adik merasa cemburu jika kakaknya membawa seorang perempuan ke rumahnya. Seharusnya perasaan itu ia buang jauh-jauh, hubungannya dengan Kelvin tidak dapat ia ubah sampai kapanpun. Mereka adalah saudara kandung.

Sementara si adik sendiri, ia bernama Anin. Orangtua, teman-teman di sekolah maupun kakaknya memanggilnya dengan sebutan itu. Nama lengkapnya adalah Aninditha Rahma Cahyadi, umurnya 17 tahun, nama Anin hampir mirip dengan kakaknya, terdiri dari tiga kata dan akhiran nama mereka sama. Yang mana merupakan nama dari Ayah mereka berdua. Di kata kedua, jika kakaknya “Rama”, dirinya ditambahi huruf “H” di tengah menjadi “Rahma”. Anin mempunyai tubuh mungil, orang bilang dirinya cantik meskipun ia merasa tidak, mempunyai gigi gingsul yang semakin menambah kesan manis dan lucu darinya.

DRAP DRAP DRAP

Tak berapa lama, terdengar derap langkah kaki pada masing-masing anak tangga. Itu adalah Kelvin yang baru saja turun dan menghampiri Anin

“Maaf ya buat kamu nunggu.. kuy berangkat” ucap Kelvin sambil mengelus kepala Anin

“Kuy kay kuy kay kuy..”

“Hehe.. lucu deh adik kakak”

“Emang”

Langsung saja mereka berjalan ke teras rumah, disana sudah terlihat halaman rumah mereka yang sangat luas dengan dihiasi tanaman-tanaman yang berwarna hijau nan indah. Kelvin dan Anin berjalan kearah bagian bagasi untuk mengambil mobil. Mereka menaiki sebuah mobil sport berwarna hitam, ada logo semacam kuda mengangkat kedua kaki depannya di bagian depan mobil. Kelvin naik di sisi kanan bagian kemudi, dan Anin di sebelahnya.

BREEM BREEM

Dipacunya mobil itu dengan kecepatan tinggi, Anin awalnya sedikit takut dengan kakaknya yang ugal-ugalan, namun apa boleh buat, ia sudah terlambat berangkat ke sekolah pada saat itu. Hal tersebut memang wajib dilakukan untuk mempersingkat waktu. Beruntung juga kondisi jalanan saat itu tengah lengang, tidak seperti hari biasanya yang begitu macet dan banyak orang menyebrang kesana-kemari

CKIITT

Sepuluh menit kemudian, akhirnya mereka tiba di sekolahan tempat Anin menimba ilmu, sekolahan tersebut begitu megah dengan beberapa lapangan futsal dan basket yang terlihat dari luar gerbang. Benar-benar sebuah sekolah yang diperuntukkan bagi kalangan elit

“Makasih Kak..”

“Iya sama-sama, yaudah, buruan masuk sana, sebelum pagar sekolahnya ditutup tuh. Dan… belajar yang bener ya” Kelvin mengelus pelan pucuk kepala adiknya

“Yaudah, aku masuk dulu, kakak juga yang bener kuliahnya. Jangan pacaran mulu, dadah” Anin menjulurkan lidahnya sebelum bergegas kabur dari mobil dan masuk ke sekolahnya

“Dasar..” Kelvin menggeleng-gelengkan kepalanya pelan

Mobil sport milik Kelvin kembali melaju meninggalkan sekolah adiknya

“Paak paak paak….” Anin berlari sambil terengah-engah

“Pliis pak bukain pagarnya, kan aku cuma telat beberapa menit doang” mohon Anin, berharap ia diizinkan masuk

“Engga bisa, kamu udah terlambat” balas si Bapak penjaga pagar

“Yaah.. tolooong Pak, hari ini ada Ulangan, nanti kalo aku gaikut gimana ? lalu nilai aku kosong terus ga naik kelas. Bapak mau tanggung jawab ?” Anin mulai mengeluarkan jurus andalannya, tentu saja perihal ada Ulangan itu hanyalah akal-akalannya saja

“Eh.. mhh..” si Bapak penjaga pagar terlihat berpikir-pikir sebelum akhirnya membukakan pagar untuk Anin

“Ya sudah deh, kali ini Bapak bukain”

“Yeaaay.. makasih Pak” Anin langsung lompat kegirangan

“Ingat ! Lain kali jangan telat lagi”

“Siap pak, makasih Pak” akhirnya ia berhasil lewat, Anin dengan terburu-buru langsung berlari kearah kelasnya, berharap guru yang mengajar belum datang. Sehingga dirinya tidak kena omel dan hukuman nantinya.

DRAP DRAP DRAP

Ia terus berlari, hingga akhirnya ia sampai di sebuah kelas yang bertuliskan “XI IPA 3”. Anin tengah duduk di bangku kelas 11 Sekolah Menengah Atas jurusan IPA. Sesampainya di kelas, beruntung ia mendapati meja guru masih kosong, pertanda guru yang mengajar belum datang, ia sontak menghela nafas lega sambil sesekali terengah-engah akibat kelelahan berlari. Dilihatnya seluruh bagian kelas, kursi-kursi sudah hampir terisi penuh oleh murid. Anin hanya mendapati satu bangku kosong di bagian belakang

“Nin, sini” panggil teman perempuannya yang berada di belakang, ia sengaja mengosongkan kursi di sampingnya khusus untuk Anin

Anin menghampiri temannya tersebut

“Kosong ?” tanya Anin ragu

“Iya. Sini duduk” perintah temannya, Anin langsung saja duduk dan meletakkan tas punggungnya di meja

“Tumben belum ada gurunya ?” gumam Anin

“Tadi sih gw denger kayaknya guru-guru ada rapat, jadi kita free deh selama sejam kedepan” balas teman Anin

“Wiih,enak dong”

Temannya hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum

“Ohiya, kenapa lu telat ? Ga biasanya” tanya temannya membuka topic baru

“Biasa lah Nad, itu tuh. Kak Kelvin susah banget dibangunin, mana aku juga kesiangan bangunnya, telat deh” jawab Anin

Teman perempuannya itu bernama Nadhifa Salsabila, tetapi orang-orang sekolah entah kenapa memangilnya dengan sebutan Nadse, mungkin itu adalah singkatan. Tetapi jika singkatan, seharusnya adalah Nadsal bukan Nadse (?). Ia memiliki sorot mata yang tajam, tingginya agak sedikit lebih tinggi dari Anin, berambut panjang, cenderung bersikap dingin. Hanya Anin saja teman dekatnya di sekolah, begitu juga sebaliknya.

Anin cenderung dimusuhi teman perempuannya yang lain karena mereka semua iri akan kecantikan yang dimiliki Anin, beberapa kali Anin selalu didekati oleh cowok kakak kelas atau cowok seumurannya, sampai pernah ada kejadian si cowok menyatakan perasaan cintanya terhadap Anin, lalu Anin dengan sopannya menolak cowok tersebut dengan alasan tidak ingin pacaran terlebih dahulu dan fokus dengan pendidikan. Sebuah alasan yang klasik namun ada benarnya juga. Semenjak saat itulah, kebencian teman-temannya semakin menjadi, ada yang bilang bahwa Anin terlalu sombong dan munafik karena menolak seorang cowok, ada yang bilang bahwa Anin tipe cewek aneh yang suka menyendiri, sampai parahnya, ada yang bilang bahwa Anin merupakan seorang penyuka sesama jenis

“Hihi dasar” balas Nadse terkekeh

Beberapa kali Nadse sudah sering berkunjung ke rumah Anin, tak jarang pula Nadse bertemu Kelvin. Menurut Nadse, Anin beruntung bisa memiliki seorang kakak seperti Kelvin. Nadse dapat merasakan sikap Kelvin yang penuh perhatian, selalu sabar menjaga Anin dan menghibur Anin di kala sedih

“Ketawa lagi” gerutu Anin kesal

“Yee.. ketawa masa gaboleh”

“Eh btw, Kak Kelvin apa kabar ? udah lama gw kan gak mampir-mampir ke rumah lu lagi” lanjutnya lagi

“Baik-baik aja kok” jawab Anin singkat

“Oh baguslah, gw kangen sama Kakak lu yang ganteng itu, enak banget lu serumah berdua sama dia doang”

“Kangen kangen.. ada adeknya wooy, enak dong wlee” canda Anin sambil menjulurkan lidahnya

“Haha dasar..” Nadse ikut terlarut dalam tawanya

“Eh, lu ga pernah timbul rasa suka gitu ke Kakak lu ? tanya Anin lagi selepas mereka tertawa

“..M..m..maksud lu?”

“Ya.. rasa suka. Lebih tepatnya cinta ke kakak sendiri, cinta cewek ke cowok bukan adik kakak, apalagi kan lu bertahun-tahun berduaan terus, sorry kalo pertanyaan gw menyinggung” kata Nadse merasa tak enak, ia terpaksa menanyakan hal itu karena penasaran

DEEG

Anin merasa tubuhnya kaku, pertanyaan Nadse benar-benar memukul perasaannya telak, ia merasa memang benar perkataan yang diucapkan Nadse barusan. Entah kenapa, lama-kelamaan rasa suka yang awalnya hanya sebatas hubungan adik kakak kepada Kelvin, kini berubah menjadi rasa cinta. Cinta wanita terhadap pria. Ia tahu itu salah, tetapi hal itu memang tidak bisa dihindari

“Woii Nin.. kok bengong ?” Nadse melambaikan tangannya di depan wajah Anin

“E..e..eh.. ..e..engga kok” balas Anin terbata

“Gimana ?”

“E..ehh.. ya enggalah, gila apa kalo gw suka sama kakak kandung gw sendiri”

“Ya siapa tau gitu, kalo gw jadi lu, mungkin gw udah jatuh cinta sama kakak gw sendiri” ungkap Nadse frontal, ia berbisik pelan di telinga Anin

Ditengah-tengah mereka asik mengobrol dan tertawa, tiba-tiba saja datang segerombolan wanita dari pintu kelas dan menghampiri mereka berdua

“Cieee lihat nih, ada pasangan lesbi yang mau ciuman” ledek seorang wanita yang berpostur tinggi

“Iya Des, hahaha”

“Pantesan aja kemarin ada cowok nembak, eh dia tolak. Ternyata lebih milih cewek toh”

“Sok-sokan alesan pendidikan segala lagi”

“Iiiiuuw.. ogah gw deket-deket, nanti dia suka lagi sama gw… hiih, gw masih normal kali”

“Ga nyangka ya adik dari Kak Kelvin, alumni sekolah kita yang kece dan ganteng itu. Ternyata seorang lesbi. Pasti Kak Kelvin nyesel banget punya adik kaya dia” kata-kata cacian dan hinaan terus dilontarkan tiada henti

Segerombolan wanita tadi memang sudah terkenal sebagai grup yang sering membuly, mereka seperti mempunyai target tersendiri tiap bulannya untuk dibully, target mereka sekarang adalah gadis mungil di depan mereka, yaitu Anin. Mereka semua terdiri dari tujuh orang, yang semuanya adalah wanita, diantaranya ada Desy, Yansen, Stefi, Sisca, Manda, Aurel dan Okta.

“Heeh.. jaga bicara lu semua yaa ?! Anin sama gw itu cuma temen biasa” Nadse mulai tersulut emosi, hanya dialah yang membela Anin disaat si gadis kecil Kelvin tersebut sedang dibully

“Ciee, pasangannya ngebela”

“Dasar cewek aneh lu berdua

“Udah Nad, gausah dilawan. Percuma, biarin aja mereka” tahan Anin menarik lengan Nadse yang tadinya mau menampar Desy

Anin sudah menahan air matanya , hatinya sangat sakit sekali jika mendengar ledekan-ledekan barusan, jika ada pisau di dekatnya, pasti sudah ia tusukkan ke dirinya sendiri. Jika mendengar ledekan-ledekan tadi, ia sudah tidak bersemangat lagi untuk hidup. Ia langsung berpikir, apakah benar bahwa kakaknya menyesal mempunyai adik seperti dirinya. Apakah ia merupakan beban bagi kakaknya. Berbagai pertanyaan terus menerus muncul di benak Anin

“Awas lu, kalo gaada dia, lu pasti udah kita kerjain abis-abisan” ancam Desy kepada Anin yang tertunduk sambil sedikit terisak

“Dan lu Nad ! Kalo lu masih ngotot ngebela dia, kita semua ga akan segan-segan juga buat ngerjain lu”

“Siapa takut, kalian itu tidak lebih dari seorang pengecut yang cuma beraninya keroyokan”

Grup Desy dan kawan-kawan sedikit menggeram kesal, baru saja mereka mau melakukan sesuatu terhadap Nadse sebelum suara pintu kelas yang terbuka membubarkan mereka

BRUK

Perseteruan diantara mereka berakhir ketika terlihat sosok Guru yang baru saja masuk kedalam kelas mereka. Sontak, mereka semua kembali ke tempat duduk mereka masing-masing dan memberi salam kepada pria paruhbaya yang berdiri di depan kelas

“Maaf ya anak-anak, tadi Bapak terlambat masuk kelas, ada rapat sebentar barusan”

~

TING TONG

“Eh.. Kak Kelvin ga ngejemput lu Nin ?” tanya Nadse begitu mereka sampai di pagar sekolah

“Engga Nad, barusan dia BBM gw, katanya ada kelas tambahan.. yaudah deh”

“Terus lu naik apa ?”

“Tenang.. gw udah biasa naek angkot kok, untung gw juga bawa ongkos” Anin tersenyum, memunculkan gigi gingsulnya

“Oke-oke, hati-hati ya”

“Siap”

“Sampai ketemu hari Senin”

“Sampai jumpa, semoga kita ketemu lagi Nad” Nadse langsung menghentikan langkah kakinya, ia merasa ada sedikit aneh tentang kata-kata yang keluar dari mulut Anin barusan

“Ah perasaan gw aja kali”

~oOo~

“Kenapa sih adik kakak yang manis cemberut aja ? Gimana sekolahnya ?” Kelvin baru saja pulang dari kuliahnya, ia mendapati Anin yang sedang terduduk lemas di sofa sedang termenung

Tentu saja Anin tidak mungkin bercerita jujur perihal dirinya yang dibully habis-habisan tadi di sekolah. Ia tidak mau membuat repot Kelvin lebih dari ini. Merawat dan menjaganya saja pasti Kelvin sudah repot, terlebih Anin memiliki sifat kekanak-kanakan yang mudah ngambek, cerewet, egois dan sebagainya. Tak terbayang jika ia menceritakan hal di sekolah tadi, pasti kakaknya akan semakin khawatir dan kepikiran tentangnya

“Emmh..baik-baik aja kak” jawab Anin singkat

“Terus kenapa cemberut ?” Kelvin sudah mendekatkan wajahnya ke wajah adiknya, membuat Anin sedikit risih, tanpa sadar pipinya berubah merah, beruntung kakaknya tidak menyadari itu

“E..h..eh.. i..itu ..e.. engga kenapa-napa kok, cuma laper aja. Hehe” ucap Anin beralasan

“Oh lapeer, bilang dong. Yaudah, kakak beliin Ayam goreng kesukaan kamu ya ?” Anin mengangguk perlahan

Kelvin lalu berjalan kearah telepon rumah mereka, dan memesan makanan cepat saji melalui telepon.

“Kaak.. kakaaak” panggil Anin selepas Kelvin menaruh gagang telepon kembali pada tempatnya

“Iya Nin ?” Kelvin menghampiri adik kecilnya,dielus-elusnya pelan pucuk kepala si adik

Ia begitu sayang terhadap adiknya itu. Tidak pernah sekalipun Kelvin memarahi Anin sebagaimanapun kesalahan yang dibuatnya. Apapun yang Anin inginkan, Kelvin akan memenuhinya

“Nanti kan malam minggu, kita jalan-jalan yuk kaaak.. aku bosen dirumah aja” rengek Anin sambil memegang lengan kakaknya

“Iya-iya.. nanti kita jalan-jalan. Kamu mau kemana ?”

“Beneran Kak ? Yeaaay asiiiik” Anin sontak memeluk erat tubuh kakaknya

“Iya, Aninku sayang” balas Kelvin mengelus-elus pelan punggung Anin

“Emmh.. kita ke taman bermain ya Kak.. aku mau naik wahana” kata Anin dengan ekspresi yang menggemaskan

“Iya-iya.. tapi selepas kita ke Mall bentar ya”

“Eh ? kok ke Mall ?” Anin bingung, ia mengernyitkan dahinya

“Iya, soalnya nanti mau nonton bioskop dulu sama Kak Shani, kamu ikut ya”

Sontak, raut wajah Anin berubah tiga ratus enam puluh derajat, ia tahu apa yang dimaksud kakaknya. Kak Shani merupakan kekasih dari Kelvin. Beberapa kali Anin sempat bertemu sosok pacar kakaknya itu di rumah mereka. Kadang Anin mengintip dari kejauhan, ia seakan penasaran aktivitas apa yang dilakukan oleh kakaknya dengan pacarnya. Mereka berdua tertawa ringan, menonton TV bersama, berpegangan tangan, bahkan sampai pemandangan yang begitu membuat Anin terkejut dan hatinya sangat sakit, yaitu disaat kakaknya mencium cukup lama bibir kekasihnya dengan lembut. Sontak selepas itu, Anin menangis seharian, ia merasakan cemburu yang teramat sangat. Meskipun tahu bahwa perasaan itu adalah salah, namun entah kenapa perasaan itu muncul begitu saja. Anin seakan tidak rela jika kakaknya dekat-dekat dengan wanita muda selain dirinya.

“Nin.. ninn.. kok bengong sih dek ?”

“Kenapa harus sama Kak Shani sih Kak ?” Anin sudah menggeram kesal, ia padahal ingin menghabiskan malam minggu berduaan dengan kakaknya seperti sepasang kekasih, namun apa mau dikata, kakaknya itu akan mengajak pacarnya juga. Ia berpikir untuk apa dirinya ikut, pasti hanya akan menjadi obat nyamuk saja

“E..eh.. kan tapi emang Kakak udah janji Nin sama Kak Shani nya, jadi gaenak kalo nanti ngebatalin gitu aja”

“T..tapi kan aku udah selalu ngalah setiap malam minggu ditinggal kakak buat berduaan jalan sama Kak Shani, dan sekarang disaat aku cuma minta sekali doang buat jalan berdua sama kakak, kakak malah tetep ngajak Kak Shani juga. SEKALI loh kak, SEKALI” Anin sudah tidak bisa mengontrol dirinya, air mata sudah deras mengalir dari pipinya.

Hidupnya seakan penuh dengan kesedihan. Baru saja di sekolah terjadi peristiwa kurang mengenakkan baginya, dan sekarang disaat ia ingin melupakan semua itu dengan menghabiskan waktu berduaan dengan kakaknya, ia harus menerima kenyataan pahit kalau pacar kakaknya akan ikut.

“Ma..maaf Nin, kakak engga bisa…”Kelvin ingin menyeka air mata Anin, namun Anin mengibaskan tangannya menolak

“Udah lah, aku gamau pergi.. AKU BENCI KAKAAAAK !!!”  dengan cepat, Anin langsung berlari ke kamarnya diatas.Tidak dipedulikannya Kelvin yang memanggil-manggil namanya berkali-kali

Ia membanting pintu kamarnya dan mengurung diri di kamar, suara tangis sesenggukan seakan tidak berhenti menghiasi kamar yang di depan pintunya terdapat tulisan “Anin’s Room”. Anin sudah tidak dapat berpikir jernih lagi, yang hanya bisa ia lakukan hanyalah menangis dan menangis. Sudah ia jauh dari kasih sayang orangtua, dibully di sekolah, sampai cinta bertepuk sebelah tangannya terhadap kakaknya. Kekayaan dan kemewahan rumahnya seakan tidak berarti sama sekali. Karena apalah gunanya harta jika tidak ada kasih sayang orangtua. Jika ia bisa memilih, Anin lebih memilih untuk menjadi orang miskin saja ketimbang menjadi orang kaya.

“Niiin, Aniiin buka pintunya.. Kakak mau ngomong sama kamu” Anin tetap tidak mempedulikan ketukan-ketukan pintu dari kakaknya, ia terus saja memeluk kedua lututnya, sambil terus menangis sesenggukan

Akhirnya, setelah lama Kelvin mengetuk-ngetuk namun tiada hasil, Kelvin menyerah juga dan membiarkan Anin untuk sendirian terlebih dahulu, bagaimanapun mental Anin sedang terguncang saat ini, Kelvin berpikir mungkin adiknya bisa membuka pintu kamarnya nanti, setelah ia merasa cukup tenang.

Bahkan disaat Kelvin mengajak Anin untuk makan karena ayam pesanannya sudah datang, Anin tidak kunjung membuka pintu kamarnya, ia lebih memilih menahan lapar daripada harus bertemu muka dengan kakaknya. Anin duduk di meja belajarnya, sambil tangannya terlihat menulis sesuatu, air mata kembali mengalir disaat ia menulis.

~

Matahari sudah tenggelam, hari sudah malam, Kelvin sudah bersiap-siap untuk bermalam minggu dengan kekasihnya. Ia memakai kaos biru, celana hitam panjang dan tak lupa juga hoodie hitamnya

“Aniiin.. aniiin.. kamu yakin ga mau pergi ?” Kelvin kembali berteriak di depan pintu kamar adiknya, tak lupa ia ketuk-ketuk perlahan pintu berwarna coklat tersebut

“E…e..engga Kak.. kakak aja pergi sama Kak Shani” Anin berusaha menjawab pertanyaan kakaknya, tak lama kemudian, ia membuka pintu kamarnya

CEKLEK

Setelah Anin berhadapan dengan Kelvin

HAP

Kelvin dengan cepat memeluk tubuh mungil adiknya

“Kamu tuh bikin kakak khawatir tau ga ?! kakak ngerasa bersalah banget udah buat kamu sedih kaya gini”

“Enggak kok Kak, kakak ga salah, aku yang salah karena udah terlalu egois maksain kehendak aku” jawab Anin di pelukan kakaknya

Keduanya melepaskan pelukan mereka

“Sana gih, kakak pergi buruan. Have fun ya malam mingguannya” Anin berusaha tegar walau sakit mengatakan itu

“Iiih, kok Kak Kelvin-ku yang ganteng malah nangis siiih ??! cengeng tau ga” Anin menyeka air mata yang berada di pipi Kelvin dengan lembut

“Hehe.. yaudah, kamu makan gih.. daritadi belum makan kamu” perintah Kelvin, Anin lalu bercanda dan berpose hormat kepada sang kakak

“Siap, kak” Kelvin kembali mengelus kepala adiknya. Anin sangat suka sekali diperlakukan seperti itu, ia seperti dapat merasakan kasih sayang dari sosok kakaknya lewat elusan kepala itu. Meskipun ia tahu bahwa itu hanyalah kasih sayang antara kakak kepada adiknya, tidak lebih.

Lalu keduanya berjalan turun, dan menuju kearah teras rumah mereka

“Yaudah, Kakak pamit pergi dulu ya” Kelvin memegang kedua pundak Anin sebelum mengecup lembut kening adiknya itu

“Hehe.. iya kak, hati-hati di jalan. Titip salam ke Kak Shani” balas Anin melambaikan tangannya ketika Kelvin sudah berada di kemudi mobilnya

“Dadaaah.. baik-baik di rumah, kalo ada apa-apa telepon atau BBM kakak” Anin membalas dengan anggukan kecil

Dan disinilah dia. Sendirian di rumah yang besar dan megah, pada saat hari Sabtu atau kebanyakan orang menyebutnya Malam Minggu. Malam dimana seseorang yang seumuran dengan Anin pasti sedang jalan berduaan dengan pria yang mereka cintai, benar-benar malam yang menyenangkan.  Malam dimana semuanya berbahagia, karena esoknya merupakan hari Minggu. Pada Malam Minggu, ada dari mereka yang menghabiskan hari bersama keluarga, jalan bersama orang tercinta, berkumpul dengan tetangga, atau saudara dan lain sebagainya. Namun disini, Anin hanya seorang diri. Sendirian. Tidak ada satupun yang menemani. Satu-satunya sosok yang menemaninya hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya Tuhanlah yang selalu ada kapanpun dan dimanapun, baik disaat hamba-Nya sedang kesusahan maupun dalam keadaan senang. Hanya kepada-Nya lah Anin berkeluh kesah setiap hari, berharap kehidupannya menjadi lebih baik, meskipun belum terkabul, ia tetap tidak membenci Tuhan. Ia percaya jika keinginannya belum terkabul saat ini. Pasti suatu saat, hal itu akan terkabul, entah besok, tahun depan, puluhan tahun mendatang, atau saat di Surga nanti. Dengan Tuhan mengirimkan Kelvin menjadi kakaknya saja, ia sudah sangat bersyukur sekali. Tak henti-hentinya di dalam doa ia mengucap syukur karena sudah diberikan sosok kakak yang baik dan sabar seperti Kelvin

“Uhukk uhukk” Anin segera bergegas kekamar mandi, ia terbatuk berkali-kali sebelum akhirnya mengeluarkan darah kental dari mulutnya

“Ya Tuhan, berikan aku sedikit waktu lagi” pinta Anin pelan

Tanpa diketahui oleh satupun orang disekitarnya, ternyata Anin mengidap penyakit leukemia. Beberapa bulan lalu disaat ia sepulang sekolah, ia merasakan pusing, flu tinggi bahkan mimisan, darah mengalir deras dari hidungnya. Dikarenakan Kelvin tengah sibuk dengan kuliahnya. Ia menolak untuk menyusahkan kakaknya, ia mengeluarkan sedikit uang dari tabungannya sendiri, lalu dengan mandirinya sosok Anin naik angkutan kota untuk menuju ke rumah sakit terdekat, memeriksa keadaannya sendiri.

*Flashback On*

“Pasien Aninditha Rahma Cahyadi” panggil perawat

“Iya Sus” Anin lalu masuk ke ruangan dokter

Setelah dokter memeriksa keadaan Anin sebentar, barulah ia mendapat kabar yang mengejutkan.

“Maaf Dek Anin”

“Iya.. ada apa Dok ?”

“Setelah diperiksa tadi, ternyata dek Anin terdiagnosa memiliki penyakit leukemia atau kanker darah”

DEG

Jantung Anin seakan berhenti berdetak, tubuhnya kaku, yang ada di pikirannya saat itu hanyalah kakaknya, yaitu Kelvin. Tak bisa dibayangkan jika raut wajah kakak tercintanya itu menjadi khawatir dan panik nantinya jika ia sampai tahu adiknya mengidap penyakit seperti ini. Akhirnya, Anin bertekad dalam dirinya untuk merahasiakan penyakitnya ini dari kakaknya.

“Eh ?! Leukimia Dok ?” Anin membelalakkan matanya tak percaya, ia tadinya mengira jika penyakitnya ini mungkin hanyalah pusing dan flu biasa

“I..iya Dek, tubuh adek kekurangan sel darah merah atau anemia, untuk menyembuhkannya, hanya ada satu jalan”

“Apa Dok ?”

“Operasi”

“Dan tentunya operasi itu akan menelan biaya yang tidak sedikit, terlebih lagi, peluang adek untuk sembuh total terbilang tipis” dengan berat hati Sang Dokter terus memberitahu kenyataan pahit yang menimpa gadis mungil di depannya

“E…ehh..” Anin sudah tertunduk kaku, ia sudah tidak tahu harus berbuat apa

“Untuk sementara, saya akan memberikan adek obat untuk menahan penyakit ini agar tidak menyebar terlalu cepat” si Dokter menuliskan beberapa resep di kertas putihnya

“Jangan lupa obatnya diminum secara teratur, 3 kali sehari setelah makan” lanjut Dokter

Anin terus saja terdiam kaku, diterimanya resep obat dari si Dokter.

“D..dok.. jika saya tidak operasi, berapa lama lagi waktu saya ?”

“Satu atau tidak dua bulan lagi” vonis si Dokter dengan berat hati

“E..i.i..iya, m..makasih Dok. Ini” Anin menyerahkan uang dua lembar lima puluh ribuan

Dengan langkah gontai, Anin berjalan ke apotik di sebelah rumah sakit untuk menebus obat yang diberikan Dokter tadi, sepanjang perjalanan, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ia sudah tidak tahu lagi mana yang lebih baik, menangis sejadi-jadinya atau menahannya. Dengan berbekal uang yang tiap hari ia sisihkan dari uang jajannya, ia dapat membeli berbagai macam obat dengan jumlah yang tidak murah. Diam-diam ia memakan obat itu di dalam kamarnya setelah makan di ruang makan bersama Kelvin, pernah suatu hari kakaknya menanyai kebiasaan dirinya yang selalu pergi ke kamar setelah makan. Dan dengan beralasan Anin menjawab bahwa dia hanya ingin mengambil novelnya yang tertinggal di kamar. Dan Kelvin tidak curiga akan hal itu, Anin memang sangat suka sekali membaca. Apalagi novel, terlebih novel fiksi romance ataupun novel komedi. Ia sering membaca novelnya di ruang tamu tepat depan TV. Disaat kakaknya tengah menonton TV, ia dengan khusyuknya membaca novel. Membaca merupakan hobi Anin sedari kecil.

*Flashback Off*

Anin berkumur-kumur sejenak di wastafel kamar mandinya, membersihkan mulutnnya dari anyirnya darah yang terus menerus keluar. Tubuhnya perlahan lemas, bibirnya pucat, matanya berkunang-kunang

“Aku harus bertahan, kumohon Tuhan, berikan aku sedikit waktu lagi, Setelah itu aku janji akan kembali pada-Mu” ucap Anin pelan sambil menghadap keatas, seolah-olah sedang berbicara dengan Sang Pencipta Sendiri

Tak lama kemudian, terdengar bunyi yang berasal dari HP nya, rupanya itu adalah Mamanya yang meneleponnya

“Halo sayang”

“H..halo Maah, akhirnya Mama nelepon juga”

“Mamah sama Papah kapan pulang ? Besok ya ?” tanya Anin memohon, berharap Mama dan Papanya pulang esok hari untuk merayakan ulang tahun Kakaknya, Kelvin.

“Maaf sayang, Mamah sama Papah belum bisa kalo besok, mungkin lusa atau tiga hari lagi” Anin langsung terdengar kecewa

“Yaaah..” Anin sudah mulai menitikkan air matanya ia berharap untuk bertemu SEKALI saja untuk terakhir kali dengan kedua orang tuanya

“Kan masih ada Kakak, sayang. Sampein aja ucapan dari Papah Mamah ke kakak kamu ya” balas Mamanya lembut

“I..iya deh Mah”

“Yaudah ya sayang, Mama lagi ada meeting nih..”

“Bahkan di hari Sabtu Mah ?”

“Iya sayang, kamu kan tahu Mama lagi sibuk-sibuknya”

“E..emmh… y.. ya..yaudah.. eh tunggu bentar maah”

“Apa lagi sayang ?” Mamanya sudah menghela nafas

“Anin cuma mau minta maaf ke Mama Papa yaa.. kalo misalkan Anin ada salah, Anin tau Anin itu cerewet, suka minta ini itu, ngerepotin Mamah Papah bahkan ke Kakak juga.. mungkin keluarga ini akan lebih baik kalo gaada Anin”

“Heeh ?! Kamu ngomong apaan sih Sayang ?” tanya Mamanya bingung di balik teleponnya

“Engga kok Mah.. hehe.. yaudah deh, itu aja.. Dadah Mamah”

“Daah juga sayang, baik-baik disana”

Telepon pun terputus.

Anin menatap nanar sekeliling rumahnya. Hanya ada kekosongan. Tidak ada siapa-siapa. Padahal besok merupakan hari yang special untuk seseorang yang spesial juga baginya. Dipungutnya kardus coklat yang berisi hiasan-hiasan ataupun ornamen-ornamen ulang tahun seperti topi, balon, dan pernak-pernik warna-warni yang sudah ia beli sebelumnya  dari jauh-jauh hari. Dengan rapi dan teliti, Anin mendekorasi rumahnya dengan berbagai peralatan yang ada di kardus coklat tersebut. Tak lupa juga ia mengambil kue tart dari dalam lemari es dengan angka dua puluh satu diatasnya. Semuanya sudah ia rencanakan dengan matang. Bahkan seminggu sebelum hari esok tiba.

Tadinya jika ia jadi bermalam minggu berduaan dengan kakaknya. Ia tidak mendekorasi rumahnya seperti ini, Anin akan mengajak Kelvin pulang pada tepat pukul jam dua belas malam, lalu setelah itu, ia hanya mengambil kue tart dari dalam lemari es dan mengucapkan selamat ulang tahun secara mengejutkan. Namun rencana awal itu tidak berjalan, ia tidak jadi berjalan-jalan di malam ulang tahun kakaknya. Melainkan sendirian di rumah dan mendekorasi rumahnya semeriah dan semenarik mungkin.

~oOo~

“Heei.. kamu kenapa ? Kok bengong ?”

“E..e.eh.. engga kok Shan” Kelvin menggandeng erat tangan Shani

“Yaudah yuk, masuk. Filmnya udah mau mulai” Kelvin mengangguk

Keduanya berjalan menuju studio tempat film yang akan mereka tonton dputar. Sepanjang film berlangsung selama kurang lebih dua jam. Shani fokus memandang layar besar di depannya sambil tangan kirinya berpegangan erat dengan tangan Kelvin. Sementara Kelvin sendiri, ia merasa tidak enak meninggalkan Anin sendirian, terlebih lagi saat itu malam sudah larut. Pikirannya tidak berhenti memikirkan adik kecilnya. Jam sudah menujukkan pukul setengah dua belas malam saat itu. Keduanya memang memutuskan untuk menonton yang jam malam, yaitu yang dimulai pukul sepuluh malam. Sebelum ke bioskop, keduanya hanya berjalan-jalan di mall, kadang berbelanja seperlunya, dan tak juga makan di food court.

Selepas mereka selesai menonton bioskop

“Shan, pulang yuk, aku kepikiran Anin nih”

“Anin ? Adik kamu ?”

“Iya”

“Yaudah, ayo. Kasian juga dia ditinggal sendirian” Shani menggandeng tangan Kelvin ke parkiran,dengan cepat Kelvin memacu mobil sport hitamnya menembus jalan raya yang sepi karena sudah larut malam. Tak lupa Kelvin mengantarkan Shani terlebih dahulu ke rumahnya sebelum akhirnya kembali ke rumahnya

CKIITT

Kelvin memarkirkan mobil sportnya di dalam garasinya. Ada sedikit yang janggal terhadap rumahnya. Setelah ia berpikir-pikir, barulah ia sadar bahwa seluruh lampu di dalam rumahnya itu mati. Membuat rumah besar nan megah itu menjadi gelap gulita.

“Aniiiin.. Aniiinn.. kok rumah gelap Nin ? Emang mati lampu ya ? tetapi rumah tetangga nyala-nyala aja” teriak Kelvin sambil berjalan menuju kearah pintu rumahnya

“Ini kenapa sih ?!” Kelvin mulai panik, ia takut sesuatu yang buruk menimpa adiknya

CEKLEK

Dibukanya pintu lebar rumahnya. Kelvin memberanikan diri berjalan di dalam kegelapan, ia mencari-cari saklar untuk menyalakan lampu, akhirnya ia menemukannya

TREK

“Tidak mati” pikir Kelvin, lampu tersebut menyala.

“Niin kan udah Kakak bilang kalo misal kamu dikamar, lampu dibawah gausah dimatiin” teriak Kelvin, ia pikir Anin sedang berada di kamar atasnya

Kelvin terus berjalan kearah ruang tamu, lalu ia berjalan dan kembali menekan saklar untuk menyalakan lampu

TREK

Lampu nyala dan tak lama kemudian, terdengar suara yang sudah tidak asing lagi. Ia tengah bernyanyi merdu

“SELAMAT ULANG TAHUN ANIN UCAPKAN, SELAMAT PANJANG UMUR ANIN KAN DOAKAN, SELAMAT SEJAHTERA SEHAT SENTOSA, SELAMAT PANJANG UMUR DAN BAHAGIA.. HAPPY BIRTHDAY TO YOU 2x, HAPPY BIRTHDAY 2x, HAPPY BIRTHDAY TO YOU” Anin bernyanyi merdu sambil membawa sebuah kue tart dengan tulisan “21” diatasnya

Kelvin tidak dapat berkata-kata. Ia bahkan tidak menyadari bahwa hari itu merupakan hari ulang tahunnya. Hanya adiknya lah yang ingat dengan ulang tahunnya. Bodohnya dia yang terlalu sibuk berpacaran. Ia melihat kesekeliling, terdapat balon-balon warna-warni bergantungan, dan juga terdapat pernak-pernik ulang tahun lainnya yang sulit disebutkan satu-satu.

“A..e..ee..hh… m..m..makasih ya Nin” Kelvin langsung terharu, tidak dipedulikan statusnya sebagai pria yang jarang menangis. Langsung hari itu juga, momen itu juga, air matanya dengan deras tertumpah. Tidak menyangka bahwa adiknya sebegitu sayang dan ingatnya terhadap dia. Bahkan kekasih ataupun teman-teman kuliahnya tidak ada yang seperti Anin. Dan Kelvin dengan bodohnya tadi siang menolak ajakannya untuk jalan-jalan. Sepanjang malam ia merutuki kebodohannya itu

“Hehe i..iya.. sama-sama Kak” Anin menyalakan lilin angka “21” dengan korek gas di tangannya

“Make a wish dulu dong Kak, abis itu tiup lilinnya” Anin menghampiri sosok Kakaknya yang masih menangis sesenggukan

“Udahan dong nangisnya..” ucap Anin lembut

Kelvin menutup matanya perlahan, ia berdoa membuat permohonan. Entah apa yang ia inginkan, yang pasti doanya tidak jauh-jauh tentang Anin

FUUUUH

Dengan satu tiupan kuat, lilin-lilin itu akhirnya mati

“Yeaaay” ucap Anin dengan riangnya

“POTONG KUENYA 3x, SEKARANG JUGA  3x” Anin kembali bernyanyi

Kelvin lalu mengambil pisau plastik berwarna putih transparan, dan ia gunakan untuk memotong kue tart rasa coklat tersebut

Setelah terpotong, disuapinya potongan pertama kue itu kepada sosok yang ia sangat cintai, yaitu Anin sendiri

AAAMMM

Enak Kak kuenya.. hehehe” Anin tertawa ringan, benar-benar gadis tegar. Tak disangka dibalik keceriaannya, ia menyimpan suatu rahasia yang besar yang tak seorang pun mengetahui kecuali Tuhan semata

Kelvin meletakkan kue tart tersebut di atas meja dan kemudian, ia langsung saja memeluk erat tubuh mungil si adik

HAP

“Maafin Kakak.. maafin kakak.. maafin kakak” hanya kata itu yang terus menerus terulang dari bibir Kelvin, ia kembali menangis di dekapan si adik

“Eh ? kenapa minta maaf Kak ? Kakak ga salah apa-apa” dengan polosnya Anin berkata seperti itu

“Maaf karena Kakak udah nolak permintaan jalan-jalan kamu tadi. Kakak janji.. besok ya.. besok.. besok kita jalan-jalan seharian” ucap Kelvin berjanji

“I..iya-iya Kak… besok” ucap Anin

Lama mereka berpelukan sebelum Anin melepaskan pelukan mereka

“Udah gih, kamu tidur, udah malem” ucap Kelvin menyuruh adiknya tidur

“Iya Kak. Eh ohiya Kak, aku hampir lupa, tadi Mama nelepon, dia bilang kalo dia akan pulang lusa atau engga tiga hari lagi. Mama sama Papa ngirim salam ke kakak dan ngucapin selamat ulang tahun juga ke kakak” terang Anin panjang lebar

“Eh iya kah ? Oh bagus deh” Kelvin tersenyum

“Iya Kak. Ohiya aku sampe lupa ngucapin harapan-harapan aku ke kakak nih, kakak sih, nangis mulu wleee” Anin menjulurkan lidahnya lucu

“Eh.. iya yah ?” Kelvin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal

“Selamat ulang tahun ya Kak, semoga diumur ke dua puluh satu ini, kakak dapat menjadi pribadi yang lebih baik lagi, baik buat keluarga maupun lingkungan sekitar kakak, tetap selalu rendah hati sama siapapun. Langgeng hubungannya dengan Kak Shani. Jangan lupa bersyukur terus sama Tuhan”

“Iya-iya sayang” Kelvin mendengarkan dengan seksama apa-apa saja yang Anin harapkan bagi dirinya sendiri

“M..mh.. mungkin udah segitu aja.. ahahhaha” Anin tertawa dengan lepas. Entah kenapa ada sedikit perasaan aneh dalam diri Kelvin ketika melihat tawa Anin tersebut.

“Yaudah, bobo gih. Besok kita jalan-jalan” Anin mengangguk singkat sambil tersenyum manis

“Dadah Kakak, met bobo. Selamat tinggal” Anin masuk ke kamarnya meninggalkan Kelvin yang terdiam membeku berusaha menelaah apa maksud ‘Selamat Tinggal’ dari Anin

Waktu sudah larut, sudah menunjukkan pukul 1 pagi saat itu. Tak lupa Anin melakukan kegiatan rutinnya sebelum tidur, yaitu menulis. Mungkin ia seperti menulis diary di buku kecil berwarna merah mudanya.

Selepas menulisnya selesai, Anin meletakkan wajah sampingnya di meja belajar dengan lengan kanan sebagai alasnya. Perlahan sambil diiringi deburan angin yang menyejukkan, kedua bola mata Anin menutup dan ia menghembuskan nafas terakhir malam itu juga.

~

Keesokan harinya

“Aniin.. aniinn.. heei bangun deek, kan katanya mau jalan-jalan” Kelvin langsung membuka pintu kamar Anin yang kebetulan tidak terkunci, tak biasanya Anin belum bangun, padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.

“E..eh.. Masih tidur rupanya. Kok ga tidur di kasur sih ?” Kelvin tanpa pikiran apa-apa menghampiri tubuh kaku Anin yang kepalanya tengah terbaring beralaskan lengan di atas meja belajarnya

Diguncang-guncangnya perlahan tubuh mungil Anin, namun sang adik tidak bereaksi

“Heeii.. Ninn Aniinn.. banguuun ! Kamu mau jalan-jalan kan ?” Kelvin sudah panik, ia sudah berteriak-teriak sambil terus menggoyang-goyangkan tubuh mungil adiknya

“Aniinn.. jangan bercanda, ga lucu dek” air mata sudah mengalir membasahi pipinya. Ia berinisiatif untuk melakukan hal yang sebenarnya ia tidak ingin lakukan, namun apa boleh buat. Keadaan yang memaksanya. Diarahkan jari telunjuk dan tengahnya ke depan lubang hidung Anin, dan benar saja. Ia sama sekali tidak merasa adanya hembusan nafas dari si adik, kekhawatiran dan pikiran tidak enaknya semenjak kemarin benar-benar terjadi, Adiknya itu sudah tiada.

“Niiiin Aniiinn ?!? Kenapa kamu ninggalin Kakak secepat ini sih ??! Ini hari spesial kakak, tapi kamu dengan jahatnya ninggalin kakak di hari ini” air mata seakan tidak ada hentinya, ia terus menggoyang-goyangkan tubuh Anin yang sudah tidak bereaksi.

“Kamu kenapa ?! Tuhan !!!! Kenapa Kau dengan cepatnya mengambil adikku ?? Kenapa TUHAN ??!” Kelvin mulai marah dengan Tuhan, ia kesal bahwa adiknya diambil secepat itu. Bahkan jika ada kesempatan, ia rela menggantikan sang adik untuk berpulang lebih dulu kehadapan-Nya.

Disaat Kelvin sedang marah dan hilang kendali, ia melihat sebuah buku kecil berwarna merah muda, di bagian bawah lengan si adik. Dengan perlahan, digendongnya tubuh kaku Anin keatas ranjang. Lalu ia mengambil buku merah muda tersebut.

Dear Diary

4 Mei 2016

Hari ini aku mengawali hari seperti biasa, tidak ada yang begitu spesial. Hanya sosok Kakak-ku lah yang spesial. Di sekolah, seperti biasa, hanya Nadse-lah yang menjadi temanku, sementara yang lain tidak :’) Ohiya, selepas pulang sekolah, aku mengalami pusing, badanku panas dan aku juga mimisan. Memang bukan yang pertama kalinya sih aku mengalami hal ini. Namun aku rasa ini lebih menyakitkan dari hari-hari sebelumnya. Karena Kak Kelvin yang sedang kuliah. Aku berinisiatif untuk pergi ke rumah sakit sendirian, hebat kan aku ? hehe, Anin mandiri loh.. Dan betapa terkejutnya aku ketika dokter menyatakan bahwa aku mengidap penyakit leukemia atau kanker darah. Aku sangat sedih ketika pertama kali mendengarnya. Aku tidak mau memberitahu ini kepada orang tua ataupun Kakakku, sudah cukup aku merepotkan mereka. Yang jelas hari ini penuh warna, meskipun ada kabar buruk. Aku tetap semangat. Terimakasih 4 Mei

Aninditha Rahma C

Kelvin membolak-balikkan halaman-halaman diary tersebut, air matanya tak berhenti mengalir ketika membaca diary Anin. Bulan Mei dari tanggal 4 itu, sampai ke akhir bulan, semuanya hampir sama. Tidak begitu menarik perhatian, Anin hanya menceritakan pengalaman di sekolahnya, acara-acara TV yang ia sukai. Sampai beberapa series novel yang ia ingin baca. Barulah Kelvin mengetahui bahwa selama ini di sekolah, Anin sering dibully dan dikucilkan oleh teman-temannya.

Barulah pada akhir Mei, ada tulisan Anin yang menarik perhatian Kelvin.

(*Catatan : tanggal dan hari tidak sama dengan kehidupan nyata, maksudnya nanti disini 6 Juni diceritakan jatuh hari Minggu, padahal di kehidupan asli, 6 Juni 2016 itu hari Senin*)

Dear Diary

31 Mei 2016

Apakah perasaanku ini salah ? Aku perlahan mencintai kakak kandungku sendiri. Oh tidaaak.. Aku berharap bahwa Kak Kelvin bukanlah kakak kandungku, sehingga aku bisa menjalin hubungan dengannya. Tapi apadaya, menjadi adik kecilnya saja pun aku sudah bahagia. Aku menyayanginya. Lebih dari apapun. Saat malam hari, aku belajar Matematika, tak biasanya memang, karena besok ada ulangan Matematika di sekolah, semoga apa yang kupelajari hari ini bisa bermanfaat esok hari. Aku sangat suka hari ini. Terimakasih 31 Mei

Aninditha Rahma C

____________________________________________________________________________

Dear Diary

01 Juni 2016

Yeaay.. Welcome June, ini bulan favoritku, karena ada ulang tahun Kakakku juga pada 6 Juni nanti, tidak sabar >..<  , tetapi di hari ini, selain aku senang, aku juga merasakan sakit. Hatiku sangat hancur, hari ini Kak Shani datang berkunjung kerumah kami. Aku penasaran apa yang orang biasa lakukan jika saat pacaran, soalnya aku belum pernah merasakan hal itu :’). Betapa hancurnya aku ketika melihat Kak Kelvin mencium lembut bibir Kak Shani. Tak bisa dipungkiri, aku cemburu. Meskipun itu salah, aku tidak bisa menyingkirkan perasaan itu. Sudahlah, aku tidak peduli lagi terhadap itu. Hari ini hari Senin, banyak orang yang benci akan hari itu, tetapi aku tidak. Kita harus menghargai hari demi hari yang sudah Tuhan berikan. Pada saat pagi di sekolah, hari ini ada ulangan Matematika 😦 pelajaran yang mungkin sedikit kubenci. Namun tak ada gunanya untuk terus mengeluh, aku belajar dengan giat kemarin malam. Dan ternyata hasilnya cukup memuaskan. Aku merasa bisa mengisi semua pertanyaan dengan lancar. Begitu juga dengan Nadse, sahabatku. Terimakasih 01 Juni

Aninditha Rahma C

____________________________________________________________________________

 

Dear Diary

02 Juni 2016

Tidak ada yang menyenangkan dari sekolah hari ini, hanya Nadse saja yang bercerita riang tentang dirinya yang kemarin berkumpul bersama keluarganya. Aku turut senang jika dia senang. Dan saat dirumah, aku melihat kakakku, entah kenapa disaat aku melihatnya, rasa sayangku kepadanya semakin menjadi 😦 aku tidak tahu harus melakukan apa untuk menyingkirkan perasaan itu. Aku berharap kepada Tuhan bahwa rasa cinta ini bisa segera dihapuskan. Kita hanyalah saudara kandung. Tidak lebih, aku menyayanginya sebagai kakak. Dan kakak menyayangiku sebagai adik. Terimakasih 02 Juni

Aninditha Rahma C

____________________________________________________________________________

 

Dear Diary

03 Juni 2016

Waaah.. H-3 >..< Aku sudah tidak sabar dengan ulang tahun kakakku. Akhirnya hari ini aku tidak diledek seperti biasanya di sekolah. Desy cs ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Aku dapat belajar dengan tenang sambil sesekali mengobrol dengan Nadse. Ohiya, aku sudah selesai membaca novel favoritku, Aku tidak sabar untuk menunggu series selanjutnya ^^ Terimakasih 03 Juni

Aninditha Rahma C

____________________________________________________________________________

 

Dear Diary

04 Juni 2016

Semakin dekat. H-2 >..<, Aku mencari-cari peralatan ulang tahun kakakku yang tahun lalu digunakan. Aku ke gudang dan menemukannya, isinya ada balon berwarna-warni dan juga beberapa ornament-ornamen lucu ulang tahun. Aku berniat untuk mendekorasi ruang tamu dan akan mengejutkan kakakku pada saat jam 12 malam, Ohiya, Nadse juga hari ini menemaniku ke toko kue. Dengan uang tabunganku, aku membelikan kue tart rasa coklat kesukaannya. Tak lupa juga dengan ucapan “Selamat Ulang Tahun Kak Kelvin” beserta angka 21 diatasnya. Sepertinya penyakitku sudah mulai sembuh, aku tidak muntah darah dan terbatuk-batuk lagi. Terimakasih 04 Juni

Aninditha Rahma C

____________________________________________________________________________

Dear Diary

05 Juni 2016

Yeaay H-1 >…<. Ga sabar buat besok. Mungkin ini akan menjadi cerita yang terpanjang. Hari ini sangat bercampur aduk, ada rasa sedih juga rasa senang. Mulai dari pertama aku kesal terhadap kakakku yang bangun kesiangan, jadinya aku terlambat deh sampai ke sekolah. Beruntung Bapak si penjaga gerbang mengizinkan aku masuk pada akhirnya. Saat berada di kelas, kukira Desy cs sudah tidak meledekku lagi, namun hari ini dia kembali mengejekku lagi. Bahkan ledekan-ledekannya betul-betul membuatku terpukul. Nadse seperti biasa membelaku, namun kutahan tangannya, karena tidak ada gunanya juga meladeni mereka. Selepas sekolah, entah kenapa aku ingin menghabiskan waktu berduaan bersama dengan kakakku, terlebih hari itu hari Sabtu atau Malam Minggu. Biasanya banyak orang yang pergi berpacaran di Malam Minggu, namun karena aku tidak punya, aku menganggap Kak Kelvin lah sebagai pacarku, walaupun tentunya dia tidak menganggapku begitu. Aku mengajaknya setelahnya, dan hal yang membuatku sakit adalah ketika Kak Kelvin ternyata sudah mempunyai janji dengan Kak Shani pada hari ini. Padahal aku sudah membujuknya untuk membatalkan janji itu dengan Kak Shani. Aku meminta hanya untuk SEKALI saja. Karena sudah beberapa tahun yang lalu ketika terakhir kalinya kami berjalan-jalan berdua. Namun, Kak Kelvin tetap menolak 😦  Ya sudahlah, toh mungkin bisa lain hari..  Walaupun  Kak Kelvin sudah mengajakku untuk pergi bertiga dengan Kak Shani. Aku memilih untuk menolak. Aku tidak mau mengganggu keduanya. Yang ada malah aku tambah cemburu melihat kemesraan mereka 😥 Aku sempat ngambek dengan Kak Kelvin. Sampai mengunci diri di kamar dan terus menangis di kasur, Hihi betapa kekanak-kanakannya aku. Saat malam tiba, Kak Kelvin pergi dengan Kak Shani. Selepas Kak Kelvin pergi, entah kenapa penyakit itu kembali kambuh. Aku kembali muntah darah, dan kepalaku sangat pusing sekali. Rasanya lebih sakit dari gejala-gejala sebelumnya. Aku rasa waktuku tinggal sedikit 🙂

Dan ohiya, Mama juga meneleponku tadi. Aku membujuknya untuk pulang, namun ia berkata masih sibuk dan baru bisa pulang 2-3 hari lagi. Aku sangat merindukannya. Entah apa aku masih bisa bertahan sampai hari kedatangan Mama Papa. Aku tidak tau. Setelah telepon dari Mama selesai, aku memutuskan mendekorasi rumah dengan pernak-pernik ulang tahun, ohiya lalu aku juga mengambil kue tart yang sudah kubeli kemarin dengan Nadse dari lemari es. Aku ingin membuat semuanya spesial. Sampai rencana untuk mengejutkan kakakku pun kupersiapkan matang-matang. Sampai akhirnya Kak Kelvin pulang ke rumah tepat pada pukul 12 malam. Disaat pergantian hari dari tanggal 5 ke tanggal 6. Aku berhasil mengerjainya hihi. Ia sangat lucu jika sedang menangis. Dan terakhir, dia bilang padaku akan mengajakku jalan-jalan esok hari. BERDUA. Yeay.. aku sudah tidak sabar akan hari itu ^^ Terimakasih 05 Juni

Aninditha Rahma C

____________________________________________________________________________

Kelvin terus terisak dalam tangisnya. Ia tidak menyadari bahwa adik kecilnya itu ternyata jatuh cinta pada dirinya. Ia merutuki ketidakpekaannya itu. Beberapa kali ia memukul-mukul kepalanya sendiri, sambil melihat kearah tubuh kaku Anin yang terpejam. Dan baru saat itu juga Kelvin tahu apa penyebab kematian adiknya. Ternyata penyakit leukemia yang dideritanya kembali menyerang, sehingga Anin tidak kuat lagi akibat rasa sakit tersebut dan akhirnya meninggal dengan tenang.

“Bodoh !! bodoooh.. gw kakak yang bodoh dan berguna” ia terus sesenggukan sambil mengutuk dirinya sendiri. Terbayang kembali dalam benaknya ketika tadi siang ia menolak ajakan si adik untuk berjalan berduaan bersama. Ia lebih memilih kekasihnya dibandingkan di adik. Ia benar-benar sangat menyesal, memang benar kata orang jika penyesalan itu selalu datang belakangan.

Di tengah Kelvin merutuki kebodohannya, ia melihat ada sedikit tulisan kecil di bawah diary 05 Juni milik adiknya. Ia membacanya perlahan

“Kak.. kalo kakak baca ini, mungkin aku udah ga ada lagi deket Kakak. Tapi Kakak gausah sedih, aku selalu ada bersama kakak. Hanya tubuh Anin yang mati, tetapi jiwa Anin tetap abadi. Sang jiwa tidak bisa dibunuh, dibakar, dikeringkan, dipotong, atau apapun itu, karena jiwa itu diciptakan Tuhan untuk abadi. Tidak pernah berubah dari awal penciptaan, bahkan sampai akhir dunia nanti. Itu aja yang mau Anin sampein ke Kakak. Titip pesen aku ke Mamah Papah ya Kak, tak lupa juga dengan Nadse. Kita pasti akan bertemu lagi. Segera !”

Kelvin membalikkan kertasnya kebelakang, samar-samar terlihat tulisan yang tiba-tiba muncul sendiri dengan mistisnya

Dear Diary

6 Juni 2016

Aku sudah berada di Surga ^^

Aninditha Rahma C

~oOo~

Keesokan harinya, tepat pada tanggal 07 Juni 2016

Semuanya sudah berkumpul di pemakaman Anin, terlihat Nadse, Desy cs dan teman-teman sekolahnya yang lain disana, ada juga kedua orang tua Anin yang menyempatkan datang. Itu juga karena mengetahui anaknya sudah meninggal, coba jika tidak, tentu saja urusan pekerjaan nomor satu. Kelvin berdoa di depan makam Anin, tak henti-hentinya ia mengirimkan doa agar Anin tenang disisi Tuhan.

“Amin” ucap Kelvin

Selepas acara pemakaman selesai, mereka semua kembali pulang. Kedua orangtua Kelvin dan Kelvin sendiri, berada di mobil yang berbeda. Sepanjang ia mengemudi, pikirannya tidak bisa lepas sedetikpun dari sosok Anin. Bagi Kelvin memiliki Anin adalah sesuatu yang langka, sangat sulit menemukan sosok adik yang seperti dia. Dia benar-benar adik impian.

TIIIIIIIN

Bunyi klakson yang memekakkan telinga terdengar dari truk yang berada di depan mobil Kelvin. Kelvin langsung membanting setirnya dan menabrak pembatas jalan, karena ia tadi lupa memasang sabuk pengaman, alhasil Kelvin terlempar seketika ke tengah jalan dengan kerasnya.

TIIIN TTIINNN

Ada mobil dengan kecepatan tinggi yang sedang melaju kearahnya..

“Anin.. kakak datang”

BUUGGH

Semuanya menjadi gelap, Kelvin menyusul Anin sehari setelah kepergiannya

*THE END

 

 

Author’s Note :

(gw ngetik cerita ini bahkan sampai nangis sendiri *fakta)

Halo-halo hai ^^, cerpen ini akhirnya selesai juga, maaf jika masih ada kekurangan dalam cerita ini, kritik dan saran sangat diperlukan. Pertama-tama, mohon maaf buat Aninlicious/Anin Oshi, taulah alasannya apa, ini cuma cerita kok. Ga ada maksud tertentu atau apa membuat Anin meninggal di dalam cerita. Murni hanya fiksi.

Itu aja kalo note untuk diluar cerpen

Dan untuk note dari kesimpulan cerpen diatas. Gw dapat menyimpulkan beberapa diantaranya :

  1. STOP BULLYING

Terkadang gw sedikit muak dengan sekelompok pria ataupun wanita baik di sekolah, ataipun kampus, ataupun tempat lain yang dengan pengecutnya meledek-ledek satu orang. SATU lho SATU. Bisa dibayangkan betapa pengecutnya mereka. Hanya untuk melawan satu, mereka butuh banyak teman di sampingnya. Mereka kadang tidak hanya meledek. TIDAK. Ada beberapa dari mereka yang melakukan kekerasan fisik kepada si malang yang terberkati kesabaran Tuhan itu. Ia walau sangat sedih dan terpukul, terpaksa mengalami hal itu. Apa sih alasannya si malang ini dibully ? Dia culun ? jelek ? bodoh ? nggak punya temen ? Toh dia juga manusia, sama-sama makan nasi, sama dengan si pembully. Derajat kita semua sama di mata Tuhan, gaada yang rendah dan gaada yang lebih tinggi. Jadi, dengan sangat berharap. Jangan ada yang merasa keren, kaya, kece atau apapun itu. Karena dengan timbulnya perasaan itu, mereka menjadi semena-mena dan dengan mudahnya meledek orang yang tidak seberuntung dia. Stop yang namanya bully di Indonesia. Let’s make our country clear from bullying, for you, me and for the better future

 

  1. Seorang Anak tidak meminta apa-apa selain rasa perhatian dari Kedua Orang Tuanya

Tahukah kalian para orangtua bahwa seorang anak sebenarnya hanya meminta satu hal saja. Kesampingkanlah istilah surga ditelapak kaki ibu atau apalah, tidak selamanya hanya anak yang kurangajar dan durhaka terhadap orang tuanya, melainkan bisa pula sebaliknya. Ini mungkin ditujukan untuk mereka, orangtua yang sibuk bekerja sehingga lupa akan anaknya. Dengan mudahnya kalian memilih untuk GILA bekerja mencari DUIT, DUIT dan DUIT, dan melupakan anak kalian yang butuh kasih sayang dari kalian. HARTA tidak dibawa MATI, kita datang ke Bumi tidak membawa apa-apa, dan akan meninggalkan planet ini juga tanpa membawa apa-apa. Hanya AMAL dan PERBUATAN kalian lah yang dibawa. Seorang anak hanya meminta sedikit saja waktu kalian, kalian kan tidak akan MATI atau MELARAT karena sedikitnya waktu itu. Setidaknya berikan perhatian kalian kepada anak kalian, sekedar untuk memeluknya, mengelusnya dengan penuh kasih sayang, mengajaknya bermain, berjalan-jalan. Turuti apa yang mereka mau. Kita kan tidak mengetahui apa yang akan terjadi, bisa saja anak kalian tertimpa musibah ataupun sakit. Dan disaat seperti itu. Hanya kalianlah para orangtua yang menjadi obatnya. Cepatlah temui anak kalian, sayangi mereka, berikan rasa perhatian yang besar kepada mereka, sebelum akhirnya menyesal di kemudian hari.

 

  1. Kenali penyakit sejak awal. Segera periksa seringan apapun penyakitmu

Meskipun ciri-ciri penyakit ‘membahayakan’ seperti kanker, leukemia, dan lain sebagainya tidak memiliki ciri-ciri yang jelas, namun sebaiknya kalian sebagai masyarakat tetap berusaha mengenal penyakit lebih dini. Karena jika sudah mengenal si penyakit lebih dini. Peluang kemungkinan dapat diobati juga sangat besar. Pengobatan dini dapat dapat meningkatkan harapan hidup. Pengetahuan tentang penyakit-penyakit keras sebenarnya sangat bermanfaat jika diketahui oleh masyarakat awam. Pasalnya penyakit bukanlah suatu hal yang bisa diprediksi datangnya. Bahkan orang yang di hari sebelumnya terlihat sehat sekalipun bisa langsung jatuh sakit di hari selanjutnya dan akan memburuk dengan cepat. Jangan lupa berdoalah kepada Tuhan untuk diberikan KESEHATAN, bukan REJEKI yang berlimpah. SEHAT ITU MAHAL, Ikutilah slogan “Mencegah Lebih Baik daripada Mengobati”

 

  1. Omong Kosong dengan “Enak ya menjadi anak bungsu”

Barangkali banyak beberapa yang setuju ataupun tidak setuju dengan ini. Ini memang tergantung perilaku orang tua masing-masing. Ini gw rasain sendiri, gw adalah anak bungsu atau anak bontot atau anak terakhir atau.. *cukup

Memang mungkin enak disaat si bungsu masih kecil atau masa kanak-kanak, semua perhatian tertuju kepada si bungsu, merawat si bungsu dan lain sebagainya. Tetapi TIDAK dengan saat menginjak masa-masa dewasa (18-20an tahun). Si Bungsu otomatis langsung terpinggirkan dari kasih sayang orang tuanya dengan satu alasan sederhana : “SI SULUNG atau anak diatas si bungsu sudah menghasilkan DUIT”.. LAGI-LAGI DUIT, kadang gw pernah berpikir, untuk apa pake ada duit segala, bikin segalanya jadi buta, terkadang yang sudah mabuk DUIT, Lupa kepada SANG PENCIPTA. Ya, si bungsu yang mungkin masih sekolah atau kuliah, atau pun tidak bekerja (PENGANGGURAN) dinilai tidak berguna karena belum menjadi ‘orang’. Lalu selama ini GW APA ? GW LAHIR KAN BERBENTUK ORANG. Si sulung yang sudah berpenghasilan untuk mereka, dengan gampangnya mendapat perhatian dari orangtua, sementara si bungsu, ditelantarkan begitu saja. Mau makan syukur ga makan bodo amat. Kadang ada yang dengan kejamnya berkata “tadi mah mending gw punya anak satu aja” (berlaku jika hanya sulung dan bungsu). Jelas maksud “gw punya anak satu aja” itu maksudnya si sulung. Sementara si Bungsu ? mungkin ia menyesal melahirkannya. Maaf ya jadi emosi gini, abaikan aja poin ketiga ini, hanya sedikit dari kalian yang mungkin mengalaminya. Itu cuma sedikit curhatan gw, bukan berarti gw benci sama mereka. BUKAN. Gw tetep cinta sama kedua orang tua gw, terutama PAPA. Jelas dia jauh lebih baik dan mengerti apa yang gw mau dibandingkan MAMA.

 

  1. Aku bukan tubuh ini, aku hanyalah jiwa

Persepsi inilah yang harus dimiliki setiap manusia, agar tidak perlu takut dengan yang namanya kematian, atau juga terlarut dalam kesedihan ketika sanak saudara, orangtua dll meninggal. Ibarat pakaian, tubuh ini adalah pakaian itu sendiri, sementara jiwa/roh adalah di pemakai baju. Jadi proses kematian hanyalah proses menanggalkan baju yang lama dan memakai baju yang baru. As simple as that. Ir Soekarno juga pernah berkata seperti ini dalam pidatonya, ia menyatakan bahwa jiwa tidak bisa dibakar, dibunuh, dikeringkan, dipotong, atau apapin. Jiwa itu abadi, bersifat kekal, dari awal peniptaan, sampai akhir zaman. Begitu terus berulang-ulang sampai sang jiwa mencapai keinsafan Tuhan Yang Maha Esa, dan pada akhirnya sang jiwa itu tidak kembali menempati tubuh yang baru, melainkan bersatu dengan Yang Maha Jiwa, Tuhan itu sendiri…

 

Dah itu aja yang mau gw sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua

 

Thank you ^^

Iklan

12 tanggapan untuk “Sister’s Diary

  1. Salut sama Kelvin, hasil cerita bikin gue nangis…. ada pesan-pesan khusus juga di ceritanya. 😢😂

    Di nanti karyamu selanjutnya👏👏👏👏

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s