Kota Malam yang Hitam

image-1

Di sebuah sudut kota, nampak 3 orang laki-laki dan seorang perempuan tengah berjalan menyusuri jalanan besar. Kota itu sangat sepi, bahkan mungkin hanya ada mereka berempat yang masih hidup di kota itu. Kota itu kini telah ditinggalkan oleh penduduknya seminggu yang lalu. Kota itu telah terinfeksi oleh virus aneh yang menyebabkan penderitanya berubah menjadi mayat hidup atau yang lebih kita kenal dengan sebutan zombie.

“Malam ini sangat sepi, ya? Tidak seperti malam sebelumnya yang terasa begitu ramai, bukan begitu?” tanya salah seorang laki-laki yang bernama Dipa.

Dipa mengenakan sweater lengan panjang yang berwarna biru muda, serta celana jeans panjang. Dipa membawa sebuah Shotgun dan 2 bom molotov. Bom molotov berfungsi untuk membakar zombie jika ia melemparkannya kearah zombie.

 

“Aku sudah bosan disini, aku ingin cepat pulang!” sahut Agil, dia adalah orang yang paling penakut diantara mereka berempat.

 

Agil mengenakan topi Adidas hitam dan baju hitam lengan panjang, serta celana levis pendek selutut. Agil membawa sebuah Assault Rifle dan 2 bom pipa. Bom pipa berfungsi untuk meledakkan zombie jika ia melemparkannya kearah zombie.

 

“Andai kita semua tidak tertinggal saat di evakuasi seminggu yang lalu, pasti sekarang kita tidak akan mengalami kejadian seperti ini.” balas seorang perempuan yang bernama Naomi.

 

Naomi mengenakan sweater ungu polos tanpa motif dan sebuah jam tangan berwarna ungu, serta celana jeans panjang dengan beberapa robekkan di celananya. Naomi membawa 2 buah Punisher dan menggendong tas berisi amunisi peluru dan beberapa obat P3K yang ia temukan beberapa hari yang lalu.

 

“Rusdi, kau sedang apa?” tanya Agil, ia melihat temannya yang bernama Rusdi sedang berjongkok sambil memperhatikan sesuatu.

 

Rusdi mengenakan jas hitam dan kemeja putih dibalut dasi merah, serta celana panjang berwarna hitam. Ia juga memakai sebuah topi bertuliskan Never Die. Rusdi membawa sebuah punisher dan sebuah TMP.

 

“Ini cairan Bommer, berhati-hatilah!” jawab Rusdi.

 

Bommer adalah perubahan zombie yang berasal dari manusia gemuk. Zombie itu bisa menyemprotkan cairan kental yang berwarna hijau. Dan jika ia mati, ia akan meledakkan dirinya.

 

“Itu menjijikkan, aku tidak suka Bommer!” ucap Agil.

 

Tiba-tiba mereka terkesiap karna mendengar suara isak tangis yang berasal dari sebuah ruangan.

 

“Ada seseorang yang masih hidup!” ucap Naomi.

 

“Ayo periksa!” Rusdi kemudian berdiri, dan masuk ke dalam ruangan itu.

 

Ruangan itu gelap tanpa ada cahaya sama sekali, Naomi perlahan mengikutinya dari belakang. Dipa dan Agil memutuskan untuk berjaga-jaga di luar ruangan itu.

 

“Halo? Apa ada orang?” tanya Naomi, tapi tidak ada jawaban.

 

Suara isak tangis itu makin terdengar jelas. Rusdi berjalan perlahan menuju sumber suara. Naomi kemudian menyorotkan lampu senter. Ia tidak sengaja menyorot seorang wanita sedang duduk di lantai sambil menangis. Rusdi dengan cepat menahan lengan Naomi, lalu mematikan lampu senternya.

 

“Hati-hati! Itu The Witch! Jangan sorot dia!” ucap Rusdi.

 

The Witch adalah perubahan zombie yang berasal dari seorang  wanita yang frustasi. Itu sebabnya The Witch lebih sering menangis. Jika diusik ia akan marah dan mengejar orang yang mengusiknya, lalu mencakar orang itu tanpa ampun dengan kuku-kukunya yang panjang.

 

“Jangan berisik, ayo kita tinggalkan dia.” Rusdi hendak pergi dari ruangan itu, diikuti oleh Naomi.

 

Sementara itu di luar ruangan, Dipa dan Agil sedang berjaga-jaga. Tiba-tiba dari kejauhan nampak puluhan orang sedang berlari kearah mereka. Mereka zombie, lalu Dipa mulai menembaki mereka dengan shotgunnya. Agil panik, lalu ia lari ke dalam ruangan dan meninggalkan Dipa sendirian.

 

“KALIAN BERDUA!!! CEPAT LARI!!!” Agil tidak sengaja menyorot mata The Witch dengan cahaya dari lampu senter yang ada di senjatanya.

 

Seketika itu juga The Witch marah, lalu mulai mengejar mereka bertiga. Naomi berteriak histeris, mereka akhirnya berhasil keluar. Rusdi menutup pintu itu, lalu menendang gagangnya hingga patah dan tidak bisa dibuka lagi. Mereka mulai menembaki puluhan zombie itu yang mulai berdatangan dari segala arah. The Witch berhasil menjebol pintu itu dengan kuku-kukunya yang tajam. Agil sangat panik karna The Witch mengincarnya. Agil kemudian menembakinya hingga The Witch benar-benar mati.

 

“FIRE IN THE HOLD!!!” teriak Agil sambil melemparkan bom pipa, lalu mereka mulai berlari menjauhi ledakan.

 

Mereka keluar dari gang itu, dan berlari menuju jalanan besar. Beberapa detik setelah terjadi ledakan, tiba-tiba Rusdi ditarik oleh sebuah tali aneh.

 

“Tolong aku!” Rusdi panik.

 

“Itu Smoker!” Agil menunjuknya, kemudian Dipa menembak zombie itu hingga mati.

 

Smoker adalah perubahan zombie dari orang yang sangat suka merokok, bahkan mungkin tidak bisa hidup tanpa rokok. Smoker bisa menjulurkan sesuatu dari mulutnya, lalu menarik seseorang kearahnya. Setelah itu ia akan membunuh targetnya dari jarak dekat. Jika Smoker mati, ia akan mengeluarkan asap yang sangat banyak berwarna hijau pekat.

 

“HUNTER!!!” teriak Agil, lalu ia menembak tembok.

 

Hunter adalah perubahan zombie dari orang yang sangat jago parkour. Itu sebabnya ia bisa dengan mudah melompati seseorang, memanjat gedung, bahkan melompat dari tembok ke tembok. Ia menyerang dengan cara menjatuhkan targetnya, lalu memukuli dan mencakarnya hingga mati. Hunter sangat ahli menghindari tembakan, membunuhnya akan sangat sulit.

 

“Sial, dia lolos!” ucap Agil kesal.

 

Rusdi perlahan berdiri setelah terlepas dari tali itu. Tiba-tiba Hunter melompatinya, lalu mendorong Dipa hingga jatuh. Dipa dipukuli oleh Hunter, Naomi kemudian mendorong Hunter. Lalu menembakinya dengan 2 Punisher miliknya hingga Hunter benar-benar mati. Tapi malapetaka terjadi, puluhan bahkan mungkin ratusan zombie berdatangan dari segala arah. Mereka berempat terlihat pasarah saat zombie-zombie itu mulai mendekat. Tapi dari arah belakang mereka muncul sesosok zombie besar dengan tubuh kekar berotot, kira-kira tingginya dua meter.

 

“TANK!!!” teriak Naomi.

 

Tank adalah perubahan zombie dari orang yang sudah terlalu parah terinfeksi virus itu. Tank memiliki tubuh besar dan berotot. Tank hanya mengenakan celana pendek seperti Hulk serta sepasang sepatu. Kepala dan kakinya terlihat normal, hanya badannya yang terlihat sangat berotot. Dan larinya seperti seekor Gorila.

 

“Apa yang ini harus kutembak?” tanya Agil panik, tapi mereka hanya diam dan tidak memberikan jawaban.

 

“Aku bilang apa yang ini harus kutembak?” Agil semakin panik, Tank sudah semakin dekat.

 

“Lari, sekarang!” Rusdi dan yang lainnya kemudian berlari menuju gang sebelumnya sambil terus menembaki Tank.

 

Di gang itu terdapat banyak sekali zombie di depan mereka. Agil kemudian menembaki zombie yang ada di depan mereka.

 

“Semuanya! Naik keatas gedung lewat balkon itu!” ucap Rusdi, lalu Naomi mulai naik lebih dulu.

 

Agil kemudian mulai naik keatas balkon lewat tangga. Dipa masih menembaki Tank yang mulai mendekat. Sementara Rusdi menembaki zombie yang ada di depannya. Tank mendorong Dipa dengan keras hingga ia terbentur tembok. Rusdi kemudian mendekat dan mulai menembakinya. Tank marah, lalu memukul Rusdi. Tapi Rusdi menghindarinya, Tank hanya memukul tembok hingga jebol.

 

“CEPAT NAIK!!!” teriak Naomi dari atas balkon sambil terus menembaki Tank dengan 2 Punisher.

 

Dipa kemudian naik ke atas balkon, diikuti oleh Rusdi di belakangnya. Tank mulai memanjat tangga itu dengan cengkeraman tangannya yang kuat. Bahkan tangga itu pun yang terbuat dari besi bisa pengok karna cengkeramannya. Tangga itu patah karna Tank memaksa memanjat dengan tangan-tangannya yang kuat. Rusdi dan Dipa berhasil memanjat keatas gedung. Tangga itu kemudian jatuh ke bawah dan menghantam Tank yang masih berusaha memanjat. Naomi melompat keatas, lalu Rusdi menangkap tangannya.

 

“Aku tidak pernah merasa sehidup ini, mereka menyerang kita bersama-sama.” Agil tertawa, kemudian ikut membantu menarik Naomi.

 

“Yah, lain kali sebaiknya kau ikut membantu. Jangan diam saja, dasar penakut!” ucap Dipa sambil duduk dan menghisap rokoknya.

 

“Jika kau mati mungkin nanti kau akan menjadi Smoker.” balas Agil.

 

Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya. Mereka masuk ke dalam gedung itu. Menuruni tangga karna lift disana sudah rusak. Mereka menyusuri lorong demi lorong, koridor demi koridor, ruangan demi ruangan yang gelap. Di dalam gedung itu hanya ada sedikit cahaya, suasananya begitu gelap dan mencekam.

 

“Aku rasa dulu gedung ini bekas perkantoran.” ucap Naomi.

 

“Sayang sekali gedung sebesar ini terbengkalai begitu saja.” balas Dipa.

 

“Lihat! Disana masih ada komputer yang menyala!” Naomi menunjuk sebuah komputer yang masih menyala.

 

Mereka kemudian menghampiri komputer itu, Naomi lalu memainkan komputer yang masih menyala itu.

 

“Apa kalian memikirkan apa yang aku pikirkan?” tanya Naomi.

 

“Itu artinya disini masih ada listrik.” tebak Agil.

 

“Bukan!” balas Naomi.

 

“Masih ada sinyal?” tebak Agil.

 

“Bukan, itu artinya kita bisa mencari tahu beberapa tempat evakuasi lewat komputer ini.” jawab Naomi.

 

“Untuk apa? Bukankah semua tempat evakuasi telah hancur?” tanya Rusdi.

 

“Iya, seminggu ini kita menemukan puluhan tempat evakuasi yang sudah hancur. Bahkan ada beberapa mayat tentara disana.” sambung Dipa.

 

“Aku yakin di beberapa tempat evakuasi di kota ini pasti memiliki alat komunikasi, entah itu radio atau semacamnya. Maksudku, dengan adanya komputer ini kita bisa melacak beberapa tempat evakuasi yang memiliki alat komunikasi. Lalu kita pergi ke tempat itu. Setelah itu kita meminta pertolongan kepada tentara di luar kota. Mereka pasti akan datang dan menyelamatkan kita. Lalu kita bisa keluar dari kota ini, dan bisa tidur dengan tenang.” jelas Naomi panjang lebar sambil terus memainkan komputer itu.

 

“Selesai, aku menemukan beberapa tempat evakuasi yang memiliki alat komunikasi. Tapi sebaiknya kita memilih tempat yang luas dan terbuka. Aku sarankan sebaiknya kita memilih bandara, agar jika para tentara itu tiba kita bisa dengan mudah masuk ke dalam pesawatnya tanpa harus berjalan lebih jauh lagi.” sambung Naomi.

 

“Tunggu apa lagi? Ayo kita pergi ke bandara!” Agil berlari meninggalkan mereka.

 

Tiba-tiba terdengar suara erangan seseorang. Agil lalu berbalik, entah dari mana datangnya Hunter tiba-tiba mendorongnya. Lalu mulai memukul dan mencakarnya. Agil berteriak minta tolong, lalu Rusdi berlari mendahului Dipa dan Naomi.

 

“Sial! Mereka memakai baju hitam! Kita jadi kesulitan mencarinya!” Dipa marah-marah, tiba-tiba terdengar suara tembakan.

 

Dipa dan Naomi lalu berlari menuju sumber suara. Naomi lalu menyalakan lampu senternya.

 

“Kau terluka, sini biar aku obati.” Naomi lalu mengobati luka Agil.

 

“Tenanglah, kau tidak akan terinfeksi.” sambung Naomi sambil membalut tangan Agil dengan perban.

 

“Virus itu tidak akan menginfeksi lagi, karna masa saat virus itu menyebar sudah berakhir. Itu artinya kita adalah manusia yang selamat, jadi kita tidak akan terinfeksi virus itu.” balas Rusdi, Agil kemudian kembali berdiri.

 

“Ada saatnya aku akan mengorbankan nyawaku untuk kalian.” Agil memungut senjatanya yang terjatuh.

 

Mereka kemudian kembali melanjutkan perjalanan. Tak lama mereka berjalan, tiba-tiba terdengar suara isak tangis.

 

“Itu The Witch!” bisik Rusdi, Naomi kemudian mematikan lampu senternya.

 

“Pelan-pelan, ikuti aku!” Rusdi memimpin mereka melewati jalan memutar.

 

Mereka perlahan pergi meninggalkan The Witch yang masih menunduk sambil menangis. Mereka berhasil lolos dari The Witch, tapi sebagai gantinya mereka harus menghadapi belasan zombie. Zombie-zombie itu tadinya sedang diam. Ada yang sedang berdiri, melamun, berjalan-jalan, bahkan ada pula yang sedang duduk manis sambil menatap kosong. Tapi saat mereka berempat tiba disana, zombie-zombie itu mendadak mengerang. Lalu zombie-zombie itu menyerang mereka berempat.

 

“Cepat masuk ke dalam lift!” ucap Rusdi, lalu mereka berlari menuju lift.

 

Rusdi menahan zombie-zombie itu, ia menembaki mereka. Naomi kemudian menekan tombol lift. Rusdi kewalahan, mereka bertiga kemudian membantunya. Mereka harus bisa bertahan selama 2 menit sambil mmenunggu pintu lift terbuka. 2 Menit kemudian, mereka masih tetap bertahan dan saling menjaga satu sama lain. Pintu lift akhirnya terbuka, mereka kemudian masuk ke dalam lift itu.

 

“AWAS!!!” Dipa mendorong zombie-zombie itu hingga mereka ada yang terjatuh, lalu Dipa melemparkan bom molotov hingga membakar mereka semua.

 

Pintu lift perlahan hendak menutup, tapi tiba-tiba ada beberapa zombie yang menerobos api lalu menahan pintu lift agar tetap terbuka. Mereka menembaki zombie-zombie itu. Tapi ada salah satu zombie yang tangannya terjepit pintu lift, dan menahan pintu lift. Dipa kemudian menembak tangan zombie itu hingga putus dengan Shotgun nya.

 

“TANK!!!” teriak Naomi.

 

Dari balik api yang sudah mulai padam, nampak Tank berlari kearah mereka. Lalu mereka menembaki Tank yang semakin mendekat. Pintu lift akhirnya tertutup, tepat saat Tank hendak memukul mereka dengan tangannya yang kuat. Mereka terkejut karna pintu lift yang kokoh itu jebol oleh pukulan Tank. Mereka akhirnya selamat untuk sementara waktu.

 

“Tank sangat menyebalkan!” Agil mendesis.

 

“Aku tidak menyangka kalau di gedung ini ada lift yang masih berfungsi.” ucap Naomi.

 

“Aku hampir kehabisan peluru, beri aku amunisi.” Rusdi meminta pada Naomi, lalu Naomi memberikannya beberapa amunisi.

 

“Ini juga untuk kalian.” Naomi memberikan beberapa amunisi pada Agil dan Dipa.

 

Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka. Mereka tiba di parkiran basemen gedung itu. Di parkiran itu banyak sekali mobil-mobil yang ditinggalkan begitu saja. Mereka kemudian berjalan keluar dari basemen yang gelap itu. Tiba-tiba setelah beberapa langkah keluar dari basemen, mereka dikejutkan dengan kehadiran Tank yang berteriak-teriak dari lantai 1.

 

“Dia mengikuti kita!” seru Naomi panik.

 

Tank kemudian melompat dari lantai 1, dan mendarat dengan kaki dan tangannya yang kuat sebagai penopang tubuhnya yang kekar. Tanpa aba-aba lagi, mereka langsung menembaki Tank tanpa ampun. Tank semakin mendekat, mereka lalu berpencar dan menembaki Tank dari segala arah. Tank mengincar Dipa, lalu Tank memukul Dipa dengan keras. Dipa jatuh tersungkur, Naomi kemudian menembaki Tank dari belakang. Tank marah, lalu ia mengincar Naomi. Naomi panik, Tank lalu memukulnya hingga Naomi terpental dan menghantam pohon.

 

“Ahh..” rintih Naomi.

 

Dipa kembali berdiri, lalu kembali menembaki Tank dari belakang. Tank berbalik, lalu ia kembali menginacar Dipa. Peluru Dipa sudah habis, ia lalu mengisinya dan tanpa mempedulikan Tank yang berteriak semakin mendekat. Rusdi berinisiatif melindungi Dipa. Ia berlari ke depan Dipa, lalu menembaki Tank. Tank hendak memukulnya, tapi tiba-tiba Agil melompat dan menendang kepala Tank dari arah samping.

 

“MATI KAU!!!” teriak Agil sambil terus menembaki Tank dari jarak dekat.

 

Tank kemudian mengerang sambil memegangi perutnya yang penuh dengan darah. Lalu Tank tumbang tepat di hadapan Agil.

 

“Ayo bangun!” Rusdi membantu Dipa berdiri, Agil kemudian menghampiri Naomi.

 

“Kau tidak apa-apa?” tanya Agil sambil membantu Naomi berdiri.

 

“Aku tidak apa-apa, terima kasih.” balas Naomi.

 

Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan melewati taman kota. Mereka sangat waspada terhadap para zombie itu. Saat mereka berjalan, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak di semak-semak. Mereka kemudian mengarahkan senjatanya masing-masing kearah semak-semak itu.

 

“Jangan tembak!” seorang laki-laki tiba-tiba keluar dari semak-semak itu sambil mengangkat tangannya.

 

“Dia manusia!” ucap Naomi, mereka kemudian menurunkan senjatanya dan laki-laki itu pun menurunkan tangannya.

 

“Siapa kau?” tanya Rusdi.

 

“Namaku Atew, aku sedang mencari bahan bakar di sekitar sini.” jawab laki-laki yang bernama Atew itu.

 

“Apa kalian sama seperti kami? Tertinggal saat evakuasi?” Atew balas bertanya.

 

“Ya, kami tertinggal saat itu.” jawab Naomi.

 

“Tunggu, kau bilang kami? Apa masih ada yang lain?” tanya Dipa.

 

“Ah iya masih ada 2 orang lagi, ayo ikuti aku.” jawab Atew.

 

Mereka kemudian berjalan mengikuti Atew. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sudut taman. Disana ada sebuah mobil dan 2 orang wanita.

 

“Sinka?” tebak Naomi.

 

“Kakak!” perempuan yang bernama Sinka itu kemudian menghampiri Naomi, lalu memeluk kakaknya itu.

 

“Perkenalkan, dia adalah Sinka. Dia ingin sekali bertemu dengan kakaknya yang juga tertinggal saat evakuasi. Mereka terpisah karna kakaknya ingin mencari orang lain yang juga tertinggal saat evakuasi, dan bersama

-sama mencari pertolongan. Sinka memutuskan untuk menunggu kakaknya di rumah sendirian. Namun sayang, kakaknya tidak pernah kembali untuk menemuinya. Kakaknya seperti hilang begitu saja. Sinka berpikir kakaknya mungkin sudah mati terinfeksi virus, seperti kedua orang tua mereka. Sinka memutuskan untuk pergi dari rumahnya setelah menunggu kakaknya selama 3 hari.” jelas Atew panjang lebar, Sinka kemudian melepaskan pelukannya.

 

“2 hari lalu Sinka bertemu dengan kami, lalu kami bersama-sama mencari pertolongan. Selama seminggu ini kami harus bertahan, kelaparan, bahkan harus menghindar dan bersembunyi dari zombie-zombie itu. Aku beruntung bisa bertemu dengan kalian, dan mempersatukan kembali Sinka dan kakaknya.” jelas Atew.

 

“Terima kasih, Atew.” Sinka tersenyum, lalu Naomi mengusap air matanya.

 

“Sama-sama, Sinka.” Atew balas tersenyum.

 

“Oh iya, perkenalkan dia adalah sepupuku. Namanya Yona, dia juga tertinggal saat evakuasi.” ucap Atew.

 

Mereka kemudian berkenalan satu per satu. Setelah itu mereka duduk di dekat mobil. Naomi mengeluarkan beberapa makanan ringan dari dalam tas nya, sementara Sinka dan Yona memasak makanan untuk mereka semua. Lalu mereka makan bersama.

 

“Dari mana kalian mendapatkan makanan sebanyak ini?” tanya Yona.

 

“Kami mengambilnya dari beberapa toko.” jawab Naomi.

 

“Seandainya saja kami berani melakukan hal seperti kalian, mencari jalan keluar bersama-sama dan melawan para zombie itu. Tapi sayangnya kami sama sekali tidak punya senjata, kami tidak bisa apa-apa selain bersembunyi dari zombie-zombie itu.” ucap Atew.

 

“Kalian harus berani, jika kalian beruntung mungkin kalian akan menemukan beberapa tempat evakuasi yang sudah ditinggalkan. Dan disana ada banyak senjata serta amunisinya.” balas Rusdi.

 

“Dan juga beberapa peralatan P3K.” sambung Agil.

 

“Dan di luar sana masih ada banyak makanan untuk kalian. Ini hanya sedikit saja yang bisa kubawa dengan tas ini.” ucap Naomi.

 

Setelah selesai makan, mereka kemudian berdiam untuk sesaat. Agil dan Rusdi sedang mengobrol bersama Atew. Sementara Naomi sedang bersama adiknya, Sinka. Dipa menyalakan rokoknya, kemudian menghampiri Yona yang sedang duduk sendirian diatas kap mobil.

 

“Beberapa jam lalu kami menemukan mobil ini. Mobil ini masih bisa berfungsi, tapi sayangnya tangki bensin mobil ini kosong.” Yona membuka percakapan.

 

“Tadi saat kami bertemu dengan Atew, dia berkata sedang mencari bahan bakar. Apa itu untuk mobil ini?” tanya Dipa, ia menghisap rokoknya.

 

“Iya.” Yona kemudian turun dari kap mobil itu.

 

“Saat perjalanan kami melihat banyak sekali mobil di basemen gedung. Kenapa kalian lebih memilih mobil ini yang tidak memiliki bahan bakar dari pada mobil lain di kota ini?” tanya Dipa, ia kembali menghisap rokoknya.

 

“Kami tidak punya cukup keberanian untuk berpergian seperti kalian.” Yona kemudian meninggalkan Dipa.

 

“Semuanya berkumpul!” ucap Rusdi, mereka kemudian merapat.

 

“Di mall dekat taman ini ada banyak sekali bahan bakar, aku yakin itu. Kita harus pergi kesana untuk mengambil bahan bakar. Lalu kita kembali kesini untuk menghidupkan mobil itu. Setelah itu kita pergi ke bandara, disana ada alat komunikasi untuk meminta pertolongan. Ingat, Kita semua harus selamat!” jelas Rusdi.

 

Mereka kemudian mempersiapkan senjatanya. Atew diberi sebuah Punisher oleh Rusdi. Yona pun diberi sebuah Punisher oleh Naomi. Setelah bersiap-siap, mereka kemudian berangkat menuju mall itu. Dalam perjalanan menuju mall mereka harus berhadapan dengan zombie. Tapi sejauh ini tidak ada zombie yang berbahaya hingga mereka berhasil sampai di pintu depan mall itu.

 

“Kita bagi 2 kelompok untuk mencari bahan bakar itu. Kelompok pertama aku, Naomi, dan Sinka. Kelompok kedua Dipa, Agil, Atew, dan Yona. Kita berpencar dan berkumpul kembali disini 1 jam kemudian.” jelas Rusdi, mereka kemudian masuk ke dalam mall itu dan berpencar dalam 2 kelompok.

 

“Sudah tengah malam, kita mulai dari mana?” Naomi melihat jam tangannya.

 

“Kelompok kedua mencari di lantai 1, kita cari di lantai 2.” jawab Rusdi, mereka kemudian berjalan menuju lantai 2.

 

Mereka melewati tangga dengan waspada. Tidak ada tanda-tanda dari para zombie. Sinka berjalan di belakang Naomi. Karna ia satu-satunya orang yang tidak mendapatkan senjata. Kelompok pertama harus berhadapan dengan beberapa zombie dalam perjalanan mereka. Hingga 1 jam kemudian mereka tak kunjung menemukan bahan bakar itu. Mereka memutuskan untuk kembali berkumpul. Namun saat mereka hendak menuruni tangga, tiba-tiba sekumpulan zombie berlarian menuju mereka.

 

“LARI!!!” teriak Rusdi.

 

Mereka berlari melewati tangga lain. Di lantai 1 nampak puluhan zombie sudah menunggu mereka. Rusdi dan Naomi menembaki zombie-zombie itu untuk membuka jalan. Mereka berhasil sampai di pintu depan mall. Kelompok kedua sudah ada disana, dan mereka berhasil menemukan 2 tangki bahan bakar.

 

“Menunduk!” ucap Dipa, kelompok 1 kemudian menunduk.

 

Dipa dan Agil menembaki zombie-zombie itu. Mereka kemudian berlari melewati jalanan besar. Di jalanan itu ada banyak sekali zombie yang sudah menungu mereka. Mereka terkepung, Sinka terlihat sangat ketakutan.

 

“Pegang ini.” Atew memberikan Sinka sebuah tangki bahan bakar yang ia bawa sejak tadi.

 

“Lewat sini!” Dipa menendang 3 zombie sekaligus hingga zombie-zombie itu tersungkur.

 

Agil kemudian menembaki zombie-zombie yang ada di hadapan mereka untuk membuka jalan. Agil dan Dipa menembaki zombie-zombie itu dari depan, Rusdi dan Naomi menembaki zombie-zombie yang mengejar mereka di belakang, Yona dan Sinka membawa tangki bahan bakar sambil berlari, sementara Atew hanya diam di antara mereka.

 

“Itu mobilnya!” tunjuk Agil.

 

“Cepat isi, biar aku yang menahan mereka!” Rusdi kembali menembaki zombie-zombie itu.

 

Dipa dan Agil ikut menembaki zombie-zombie itu sementara Yona dan Naomi mengisi bahan bakar untuk mobil. Naomi memasukkan sisa 1 tangki lagi ke dalam mobil untuk bahan bakar cadangan. Yona dan Sinka kemudian masuk ke dalam mobil itu, dan duduk di kursi tengah. Sementara Atew membuka pintu belakang mobil itu.

 

“CEPAT NAIK!!!” teriak Naomi.

 

Mereka bertiga kemudian berlari hendak masuk ke dalam mobil. Tapi tiba-tiba dari kerumunan zombie itu Smoker menarik Rusdi dengan benda aneh yang ia keluarkan dari mulutnya. Rusdi berteriak minta tolong, topinya terjatuh. Dipa dan Agil hendak masuk ke dalam mobil, tapi kemudian mereka berbalik dan menolong Rusdi. Mereka berdua menembaki zombie-zombie itu, Rusdi berhasil diselamatkan. Dipa dan Rusdi kemudian masuk ke dalam mobil itu, dan duduk di kursi depan. Sementara Agil masuk ke dalam mobil itu, dan duduk di dekat Atew dan Naomi di belakang mobil. Rusdi kemudian menghidupkan mobil itu, ia yang mengemudikan mobilnya.

 

“Tutup pintunya!” perintah Rusdi, Atew kemudian hendak menutup pintu belakang.

 

Namun, saat Atew hendak menutup pintu itu tiba-tiba Naomi ditarik keluar oleh Smoker.Tanpa aba-aba lagi Agil turun dari mobil dan hendak menolong Naomi. Zombie-zombie itu kemudian hendak memukuli Naomi. Tapi Agil kembali menembaki zombie-zombie itu, lalu membunuh Smoker dan menyelamatkan Naomi. Agil melindungi Naomi, tanpa di duga amunisi senjatanya habis. Agil kemudian ditarik ke tengah kerumunan oleh zombie-zombie itu.

 

“Agil!” Naomi hendak menolong Agil

 

Atew turun dari mobil, kemudian menembak beberapa zombie yang hendak melukai Naomi. Atew menarik paksa Naomi masuk ke dalam mobil.

 

“AGIL!!!” teriak Naomi, Atew kemudian menutup pintu mobil belakang.

 

“Cepat jalan!” ucap Atew, kemudian Rusdi menjalankan mobil itu.

 

Naomi menangis sejadi-jadinya melihat Agil yang sudah tak terlihat lagi apakah masih hidup atau tidak. Beberapa zombie nampak mengejar mobil itu, Dipa kemudian melemparkan tangki bahan bakar keluar jendela mobil. Dipa lalu menembak tangki itu, dan terjadilah ledakan besar hingga zombie-zombie yang mengejar mereka mati terkena ledakan. Mereka berhasil selamat untuk sementara waktu.

 

“Berhasil!” Dipa nampak senang, kini mobil itu sudah semakin menjauh dan berhasil lolos.

 

2 jam kemudian, mereka kini sedang beristirahat di halaman depan sebuah rumah yang sudah tak berpenghuni lagi. Naomi terlihat murung, bahkan Sinka tidak berani mendekatinya untuk saat ini. Naomi sedang menyendiri, ia duduk di sebuah batu besar. Naomi sudah tidak menangis lagi sejak sejam yang lalu. Rusdi memberanikan diri untuk mendekati Naomi.

 

“Masih sedih?” tanya Rusdi, tidak ada jawaban.

 

Rusdi kemudian duduk di sebelah Naomi, tidak ada respon sama sekali. Rusdi bersandar di sebuah pohon di sebelah Naomi.

 

“Kadang kita harus kehilangan seorang teman. Tapi aku yakin Agil tidak akan menyesali apapun walaupun kini ia telah tiada.” Rusdi kembali membuka percakapan.

 

“Apa kau ingat apa yang Agil katakan sebelumnya?” tanya Rusdi, masih tidak ada jawaban.

 

Naomi menatap kosong jauh ke depannya, Rusdi kemudian berdiri sambil tertawa kecil.

 

“Ada saatnya aku akan mengorbankan nyawaku untuk kalian, itu yang ia katakan.” ucap Rusdi, Naomi kemudian menatapnya tajam.

 

“Apa kau tidak dengar apa yang aku katakan tadi? Oh baiklah biar kuulangi. Aku bilang kadang kita harus kehilangan seorang teman. Tapi aku yakin Agil tidak akan menyesali apapun walaupun kini ia telah tiada. Itu sudah direncanakanya, tidak ada yang perlu disesali lagi. Agil rela mati demi kau Naomi. Bahkan saat kematiannya pun ia sama sekali tidak berteriak, apalagi minta tolong.” jelas Rusdi.

“Yang dimaksud Agil akan mengorbankan nyawa itu untukmu karna kau sudah baik padanya, bahkan kau tidak takut terinfeksi virus dan lebih memilih mengobati Agil. Virus itu mungkin saja bisa menginfeksi kembali, kita tidak ada yang tahu. Saat keluar gedung kau dipukul oleh Tank, tapi kemudian Agil marah dan membunuh Tank. Itulah pengorbananya yang tak kau sadari sebelumnya.” Rusdi menatap wajah Naomi.

 

“Pikirkan itu Naomi!” Rusdi kemudian meninggalkan Naomi yang masih terdiam, kini ia sudah tertunduk memikirkan kata-kata Rusdi.

 

10 menit kemudian, Rusdi dan yang lainnya sudah bersiap hendak melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba Naomi menghampiri mereka dengan tatapan sayu. Mereka hanya terdiam menatap Naomi yang sedang berdiri, Dipa bahkan tidak menghisap rokoknya.

 

“Aku ikut!” Naomi masuk ke dalam mobil, Sinka tersenyum.

 

Mereka kemudian masuk ke dalam mobil itu. Posisi duduknya pun masih sama seperti sebelumnya. Rusdi menghidupkan mobil itu, kemudian menjalankannya menuju bandara. 1 jam kemudian, masih tidak ada percakapan diantara mereka. Naomi masih terlihat sedih karna baru saja kehilangan temannya.

 

“Aku tidak tahu apakah bahan bakar mobil ini cukup untuk menuju bandara.” Dipa membuka percakapan.

 

“Itu salahmu sendiri membuang bahan bakar kita.” Naomi akhirnya berbicara.

 

“Hey kalau tidak kuledakkan zombie-zombie itu mungkin akan ada beberapa orang yang mati diantara kita. Lagi pula aku yang mendapatkan bahan bakar itu.” balas Dipa.

 

“Kalau kita terus melanjutkan perjalanan bersama-sama dengan berjalan kaki dan tidak mencari bahan bakar, mungkin sekarang Agil masih bersama kita.” Naomi sangat cerewet.

 

“Apa kau bisa diam? Agil sudah mati, jangan bicarakan orang yang sudah mati!” Dipa sedikit emosi.

 

“Sialan kau!” Naomi sedikit berteriak.

 

“Hey sudahlah, sekarang kita sudah sampai di bandara.” Rusdi melerai mereka, Dipa hanya diam.

 

Setelah itu mereka turun dari mobil. Naomi terlihat tidak memegang senjata apapun. Ia menjatuhkannya saat ditarik oleh Smoker. Tepatnya beberapa detik sebelum Agil meregang nyawa.

 

“Ini bandaranya?” tanya Rusdi.

 

Bandara itu terlihat sangat kacau. Tumpukan koper berserakan, tas bekas dimana-mana, koran-koran bekas berterbangan mengotori lantai bandara. Mereka perlahan meninggalkan mobil, berjalan menuju lapangan lepas landas pesawat. Tanpa di duga, ada zombie yang memukul Atew dari samping.

 

“BOMMER!!!” teriak Naomi, Atew kemudian menembak zombie itu hingga meledak.

 

Atew jatuh ke bawah lantai bandara. Disana ada jauh lebih banyak koper. Atew perlahan berdiri, ia menatap sekeliling.

 

“Bertahanlah!” Rusdi kemudian mencari jalan masuk menuju tempat Atew.

 

“Pasti ada jalan lain!” Dipa pergi ke arah lain, diikuti oleh Naomi dibelakangnya.

 

“Atew bertahanlah!” Yona mengintip dari tempat Atew jatuh sebelumnya, sementara Sinka hanya diam di belakang Yona.

 

Rusdi berhasil tiba di lorong menuju tempat Atew, tapi jalannya terhalang oleh tumpukan koper. Sementara Dipa dan Naomi berhasil menemukan jalan menuju tempat Atew, tapi jalannya terhalang oleh jeruji besi. Dipa berusaha membuka juruji besi itu dengan menggoyang-goyangkannya.

 

“Tidak bisa dibuka! Sepertinya Atew jatuh di tempat yang jalannya telah diblokir, tidak ada jalan masuk ataupun keluar.  Satu-satunya jalan masuk kesana mungkin Rusdi harus menyingkirkan koper-koper itu, tapi butuh waktu lama untuk melakukan itu.” Dipa tiba-tiba terdiam.

 

“Kenapa?” tanya Naomi.

 

“Kau dengar itu?” Dipa mendengar suara seseorang sedang menangis.

 

“The Witch!” Rusdi mengintip dari balik celah yang terhalang koper-koper.

 

“Siapa itu!” Atew menyorot mata The Witch dengan lampu senter yang ada di Punisher nya.

 

“JANGAN!!!” teriak Rusdi, The Witch kemudian mencabik-cabik Atew dengan kuku-kukunya yang tajam.

 

“Astaga, cepat tolong dia!” Naomi panik, kemudian Dipa menggoyang-goyangkan jeruji besi itu dengan sekuat tenaga.

 

Atew berteriak gelagapan, ia sudah tidak berdaya. Yona dan Sinka yang berada diatas tidak sanggup melihat pemandangan itu, mereka menutup matanya. The Witch berhasil membunuh Atew. Bersamaan dengan tewas nya Atew, Dipa berhasil mematahkan jeruji besi itu dengan Shotgun nya. The Witch berbalik, kemudian mengejar Dipa dan Naomi. Mereka hendak menyelamatkan Atew, tapi malah membuka jalan untuk The Witch. Mereka kemudian hendak berlari, tapi tas Naomi tersangkut jeruji besi. Naomi dengan cepat melepaskan tas itu, kemudian berlari di depan Dipa.

 

“Oh tidak!” Rusdi yang melihat itu langsung berlari ke tempat awal.

 

Naomi berlari lebih dulu, sementara Dipa dihadang oleh Bommer. Dipa dengan mudah melewatinya, lalu menembak Bommer hingga meledak mengenai The Witch yang berlari kearahnya. The Witch berhasil tertahan untuk sementara.

 

“Dimana Dipa?” tanya Rusdi, Naomi baru saja tiba.

 

“Dia masih ada disana, ah itu dia!” Naomi menunjuk Dipa yang sedang berlari kearahnya.

 

Mereka kemudian berlari bersama menghindari The Witch. Mereka berhasil keluar bandara, tepatnya mereka berhasil sampai di lapangan lepas landas. Dipa kemudian melemparkan bom molotov kearah The Witch yang masih mengejar mereka. The Witch terbakar, kemudian tumbang tepat di hadapan Dipa.

 

“Dia sudah mati, sekarang apa rencana kita?” tanya Dipa.

 

“Teman-teman, aku menemukan sebuah radio disini!” Naomi sedikit berteriak, mereka kemudian berlari menuju tempat Naomi.

 

“Sesuai dengan database itu, di bandara ini memang ada alat komunikasi.” Naomi kemudian mencoba radio itu.

 

Mereka tiba di salah satu tempat evakuasi yang ada di bandara. Radio itu masih berfungsi, Naomi kemudian memberikannya pada Rusdi. Rusdi menjawab panggilan yang ada di radio itu. Dipa kemudian mengisi amunisi senjatanya. Naomi mengisi amunisi senjata milik Rusdi. Sementara itu Yona duduk sambil menangisi kematian Atew, Sinka memeluknya lembut.

 

“Halo, ini Rusdi M Wahid! Kami tertinggal saat evakuasi seminggu yang lalu! Sekarang kami masih disini, di kota yang dipenuhi oleh mayat hidup! 5 orang yang masih hidup di kota ini! Tolong kami, disini ada begitu banyak masalah!” Rusdi panik.

 

“Hey hey hey tenanglah sedikit!” tanpa diduga ada seseorang yang menjawab radio itu.

 

“BAGAIMANA AKU BISA TENANG JIKA AKU HARUS BERJUANG ANTARA HIDUP DAN MATI UNTUK KELUAR DARI KOTA INI!!!” Rusdi berteriak emosi.

 

“Baiklah, dimana posisi kalian?” tanya orang yang ada di radio itu.

 

“Bandara internasional!” Rusdi sedikit berteriak.

 

“Baiklah, 5 menit lagi kami akan menjemput kalian disana.” ucap orang itu, Rusdi hanya mengangguk pelan tanpa perlu menjawab orang yang ada di radio.

 

Rusdi kembali meletakkan radio itu. Ia sejenak termenung sambil memejamkan matanya. Tiba-tiba mereka terkesiap karena mendengar suara teriakan. Beberapa saat kemudian, zombie-zombie berdatangan dari segala arah. Jumlah mereka kini jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah mereka saat di sudut kota ataupun di taman kota. Rusdi dan Dipa langsung menembaki mereka secara brutal. Mereka harus bisa bertahan selama 5 menit sambil menunggu pesawat datang menjemput mereka.

 

“Berikan padaku!” Naomi merebut Punisher Yona, lalu ikut menembaki zombie-zombie itu.

 

“Berpencar!” perintah Rusdi, mereka kemudian berpencar.

 

Rusdi bersama Sinka, Naomi bersama Yona, sisanya Dipa sendirian. Untuk kedua kalinya Bommer menghalangi jalan Dipa, Bommer menyemburkan cairan berwarna hijau kearah Dipa. Dipa menghindarinya, tapi ia terkena percikan cairan bau itu. Dipa menembak Bommer hingga meledak. Dipa masuk ke dalam sebuah gudang yang ada di bandara itu, lalu mengunci pintu gudang. Untuk sementara ini ia bersembunyi disana.

 

“Lewat sini!” Rusdi menembaki puluhan zombie yang ada di hadapannya, Sinka berlari di belakang Rusdi.

 

Rusdi menerobos kumpulahn zombie-zombie itu. Di belakangnya, Sinka berteriak karna ditarik oleh Smoker. Rusdi kemudian menghentikan langkahnya, lalu menengok kearah Sinka. Smoker, tali aneh itu, puluhan zombie, seorang teman yang ditarik. Itu sama seperti waktu itu! Saat Agil meregang nyawa.

 

“Tidak lagi!” Rusdi menembak tali itu, Sinka berhasil diselamatkan.

 

Saat Rusdi hendak mengejar Smoker, zombie-zombie itu menghalangi jalannya. Smoker berhasil melarikan diri. Rusdi kemudian berlari menuntun Sinka menuju tempat Naomi dan Yona. Mereka berada di atap sebuah rumah, zombie-zombie itu berusaha naik. Rusdi kemudian menembaki zombie-zombie itu. Naomi dan Yona kemudian turun dari atap, senjatanya sudah kehabisan amunisi. Naomi kemudian membuang senjatanya.

 

“Sekarang apa lagi?” Dipa mendengar sesuatu.

 

Koper-koper itu kemudian terlemparkan ke udara. Ternyata yang melempar koper-koper itu adalah Tank. Dipa panik, amunisi pelurunya tinggal sedikit. Itu tidak akan cukup untuk membunuh Tank. Dipa kemudian keluar dari gudang, lalu kembali menutup pintu gudang dan menahan pintu itu dengan sebatang kayu agar tidak bisa dibuka. Dipa kemudian menuju tempat teman-temannya.

 

“Teman-teman! Itu pesawatnya!” teriak Naomi, mereka kemudian berlari menuju tempat pesawat itu mendarat.

 

Pesawat itu mendarat di landasan, pintu pesawat itu kemudian terbuka. Mereka masuk ke dalam pesawat. Saat Yona hendak masuk, ia ditarik oleh Smoker. Yona berteriak minta tolong. Rusdi hendak menolongnya, tapi Naomi menahannya. Yona kemudian ditindih dan dicakar-cakar oleh Hunter yang tiba-tiba datang.

 

“Teman-teman, kita tidak punya waktu lagi!” ucap salah seorang tentara di sebelah Rusdi.

 

Dari kejauhan, nampak Dipa berlari dengan kencang kearah mereka. Dipa lalu menembak Hunter hingga mati. Smoker hendak melarikan diri, dari pesawat Rusdi menembaki Smoker hingga mati. Rusdi kemudian membuang senjatanya yang sudah kehabisan amunisi. Yona dengan cepat berdiri, lalu berlari menuju mereka dengan tangan kirinya yang sudah terluka parah.

 

“Dipa!” Rusdi menarik tangan Dipa agar naik ke dalam pesawat yang sudah mulai berjalan di landasan hendak terbang.

 

Yona berlari sambil menangis, Tank mengejarnya dari belakang. Tank kemudian memukul punggung Yona yang tengah berlari terseok-seok. Yona terjatuh, lalu berteriak dengan keras. Tank dan zombie-zombie lainnya memukuli Yona tanpa ampun. Salah seorang tentara mengarahkan rocket kearah Tank dan zombie-zombie lain yangs sedang memukuli Yona.

 

“Tank itu mengikutiku?” Dipa baru sadar kalau sejak tadi Tank itu sedang mengejarnya.

 

“Siap? Bidik! Tembak!” tentara itu langsung menembakkan senjatanya kearah Yona, lalu Tank dan zombie-zombie itu meledak.

 

“YONA!!!” teriak Sinka, ia menangis histeris.

 

Naomi kemudian membekapnya, lalu memeluk lembut adiknya itu. Pesawat itu diikuti oleh beberapa zombie yang mengejar di landasan. Beberapa tentara kemudian mengambil senjatanya masing-masing.

 

“Biar kami yang urus ini!” ucap salah seorang tentara, lalu mereka berempat mundur dan membiarkan beberapa tentara itu menghabisi zombie-zombie yang mengejar mereka.

 

Beberapa saat kemudian pesawat itu berhasil terbang dengan mulus. Mereka kemudian duduk dan membiarkan tentara- tentara itu mengobati luka-luka mereka. Mereka berempat akhirnya berhasil selamat. Yap, mereka kembali berempat. Sinka menggantikan Agil yang telah tiada. Kota itu menjadi saksi betapa bengisnya zombie-zombie disana. Kota yang tak pernah mendapatkan cahaya, kota yang selalu gelap. Kota yang dipenuhi oleh mayat hidup, Kota Malam Yang Hitam!

 

TAMAT

Iklan

2 tanggapan untuk “Kota Malam yang Hitam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s